"Sora-nii! Kenapa kau menyuruh membersihkan atap! Aku membencinya." Suara Sakura terdengar hingga belakang rumahnya. Setelah perjalanannya ke Hokkaido dan sekarang ia mendapat hari liburnya kenapa kakak bodohnya itu justru menyuruhnya membersihkan atap rumah mereka.

Terlihat kepala kakaknya yang menyumbul dari balik pintu, "Ini sebagai ganti karena memintaku tinggal di rumah tidak layak huni seperti ini." Kepala kakaknya menghilang. Sakura menghela nafas di balik maskernya.

"Seharusnya aku membunuhmu saja." Ia melihat beberapa laba-laba yang menggantung. Matanya mengerling bosan menyadari rambutnya yang penuh sarang laba-laba, "Sora Haruno! Kemari kau dan bantu aku!" akhirnya ia sudah tidak tahan.

"Kerjakan saja. Aku pasti akan membantu Sa-ku-ra-chan." Ia membenci kakaknya. Sangat. Sangat.

Buk.

"Apa itu?!" sekilas Sakura pikir itu hantu, "Oh! Sora? Ah~ manisnya." Ia melihat album yang fotonya sudah berhamburan. Kakaknya terlihat belepotan dengan lumpur memenuhi wajahnya.

"Apa yang kau temukan Saki? Sial! Jangan melihatnya!" dengan cepat Sora berlari ke arah Sakura meraih album foto tersebut. "Dimana kau menemukannya?!" Sakura tersenyum seperti keledai melihat pipi kakaknya memerah.

Sakura menjauh dan mengambil lagi kemucingnya, "Em... aku tidak menyangka tempat menyebalkan ini mempunyai banyak kejutan." Ia kembali membersihkan sarang laba-laba yang menempel di dinding.

Teman Lama

.

.

.

Teman Lama

Disclimer : Om Masashi Kishimoto

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Drama/Friendship

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Mempersembahkan

Sakura melilitkan syalnya lebih rapat, "Haa~ kenapa hari ini sangat dingin. Aku benci." Demi menjaga tubuhnya ia harus lari pagi, menjadi reporter membuat waktu makannya tidak beraturan.

"Kenapa kau lari pagi dengan suhu seperti ini?" alis Sakura naik ke atas satu. Perempuan itu tertawa tiba-tiba, membuat orang yang juga berlari di sebelahnya kaget.

"Hee... kau menghinaku? Lalu dirimu apa Stalker-san." laki-laki itu tertawa pelan, "Kau selalu menertawakanku. Cih, menyebalkan."

Sasuke menggeleng pelan, "Kau pantas di tertawakan." Ia menikmati waktu bersama Sasuke meski laki-laki itu entah sudah mengenalinya atau tidak. Sebentar lagi rambutnya juga akan kembali normal, dengan itu mereka pasti mengenalinya.

"Aku bukan badut Stalker-san." Sakura tahu Sasuke sudah mempunyai kekasih tapi setidaknya sebelum rambutnya berubah warna ia masih boleh berharap 'kan? Pikiran bodoh macam apa itu.

Sasuke memegang tangan Sakura kemudian memasukkan ke dalam saku jaketnya, "Kau tinggal di rumah lama Haruno bukan?" Sakura mengangguk pelan, "Apa ada hal menarik tentangku yang kau temukan di sana?"

"Tidak ada. Aw!" Sasuke berhenti berlari membuat Sakura tertarik untuk berhenti, "Bodoh! Apa yang kau pikirkan berhenti tiba-tiba? Setidaknya kau bisa melepaskan tanganku." Gerutu Sakura kesal.

"Aku tidak tahu kau mempunyai sifat mengerikan seperti itu." Sasuke kembali berlari. Sakura tidak begitu tahu Sasuke yang sekarang, laki-laki itu sudah berubah mungkin dengan sifat baru yang menurut Sakura mengesankan. Palyboy.

Sakura mendecih pelan, "Kau hanya belum mengenalku saja tuan." Sasuke berdehem pelan.

"Apa kau menemukan Hal menarik lain di rumah itu?" Sakura tertawa pelan. "Misalnya Sakura Haruno?"

"Tidak. Hanya ada sarang laba-laba di sana, itu menjijikan." Sasuke ikut tertawa pelan.

Wajah Sakura melembut melihat senyum Sasuke, "Bernar 'kah? Lagi pula tidak mungkin ada, dia belum kembali." Tapi bagi Sakura kalimat Sasuke memang sedikit aneh.

.

.

.

Rasanya seperti musim panas

.

.

.

"Sakura-chan! Eh? Panggilan itu terlihat menggelikan untukmu Sakura." Sasori menghela nafas pelan melihat Deidara datang, "Halo Old baby." Sapa Deidara pada Sasori.

"Ganti panggilanmu untukku Pria jalang." Deidara menaruh kopi di samping tangan Sakura. "Kau tidak membelikanku kopi?" tanya Sasori heran.

Sakura mulai meninggalkan pekerjaannya, "Dia tidak membelikanmu kopi untuk membuatmu tertarik padanya Sasori. Dia menyukaimu Old baby hihihi." Sakura terkikik geli menyebut nama panggilan Sasori yang diberikan Deidara.

"Tutup mulutmu Sakura atau aku akan memanggilmu Sakura-chan. Jangan dengarkan dia Old baby." Deidara mendengus pelan. Sakura melihat jam ternyata hampir larut malam tapi berita mereka belum menemukan titik terang, tidak ada petunjuk yang berarti.

"Kali ini aku setuju denganmu Pria jalang, mulutnya bahkan lebih mengerikan dari pada Anko-san. apa itu kebiasaan reporter New York?" tubuh Sasori berputar menghadapnya.

"Mungkin ya mungkin tidak. Aku bukan pengamat yang baik." Sakura meminum kopinya, "Seperti halnya aku lebih suka memecahkan sebuah kasus pembunuhan dari pada sebuah gosip murahan."

Deidara mengangguk pelan, "Masuk akal. Saat Anko menyuruhmu meliput hubungan seorang model bernama Sara dengan seorang fotografer kau menolak keras, kau pantas menyaingi Anko." Deidara juga meneguk kopinya. Sakura tersenyum lembut.

"Sara? Model itu selalu mempunyai skandal di mana-mana, aku bosan saat Anko-san menyuruhku untuk meliputnya." Sasori menghela nafas, "Yang kupikirkan hanya dia lagi dia lagi. Dasar merepotkan." Sakura tertawa keras.

Telepon kantor yang berada di samping Deidara berbunyi, "Halo. Aku Deidara kau kira aku Sakura! Dasar resepsionis sialan." Setelah menutup telepon dengan cara membantingnya seringaian Deidara muncul. Kebiasaan buruk Deidara yang selalu menjahili resepsionis baru kantor mereka.

"Terkutuk kau Deidara. Apa ada orang yang mencariku?" Sakura membuang gelas kopinya ke tempat sampah.

"Ya... Anehnya Saya mengatakan jika orang itu sudah berada di depan kantor dari tadi siang." Deidara memiringkan sedikit kepalanya, "Apa kau tidak merasa orang itu sedikit gila Old baby? Dengan cuaca menjelang natal yang begitu dingin. Dia sudah berjam-jam di luar?!" Deidara terlihat mulai melebih-lebihkan. "Sakura kurasa kau tidak usah menemuinya, bisa kupastikan dia orang gila!" Lanjut Deidara.

Sakura beranjak, "Bisa kupastikan juga saat ini kau gila karena orang gila." Sakura berlalu dari sana. Deidara masih saja meyakinkan Sasori untuk percaya intuisinya.

Hanya ada satu orang yang suka melakukan kegiatan itu yang ia tahu, tapi ia tidak pernah tahu jika Sasuke sangat ahli menjadi seorang stalker tapi lagi mungkin pemikirannya sedikit keliru. Bukan Sasuke, ya memang Sakura sedikit kecewa mengenai itu, "Naruto Uzumaki bukan? Kau pasti mencari Hinata."

"A-ah~ ini sedikit aneh. Aku tidak terbiasa." Ucap Naruto. Wajah berseri Naruto tergantikan dengan raut kecewa yang begitu kentara. "Aku mencarimu." Lanjut Naruto.

"Hahaha. Apa kau mempunyai masalah denganku tampan?" Sakura melempar senyum pada Saya, resepsionis favorit Deidara. Sakura duduk di depan Naruto.

Naruto mengangguk, "Beruntung, kupikir aku lebih dulu mengenalimu Sakura-chan." Sakura tersenyum lembut. Ini bukan saat-saat yang membuat Sakura terkejut karena cepat atau lambat Sasuke atau Naruto akan mengenalinya, dia hanya akan menantinya datang.

"Lama tidak bertemu Naruto," laki-laki itu mempamerkan cengiran khasnya.

Naruto tertawa, "Ah~ rupanya seperti ini berbicara langsung denganmu Sakura-chan. Aku sudah melupakannya. Jadi apa aku yang pertama?" Sakura tertawa keras mendengar pertanyaan polos Naruto, jadi rupanya mereka berlomba menemukannya.

"Selamat tampan kau lebih dulu jadi sssttt." Sakura mengedipkan satu mata pada Naruto dengan menaruh satu tangannya di atas bibir.

.

.

.

Rasanya seperti musim panas

.

.

.

Sial. Satu kata yang tepat untuk kondisinya saat ini, "Hachi!" flu menyerangnya saat natal. Lebih buruknya lagi Sora meninggalkannya untuk menghabiskan malam bersama Ino. Jadi intinya ia sendirian dengan kondisi mengenaskan.

Ponselnya bergetar, "Moshi-moshi." Nada terdengar begitu memaksa tidak lama terdengar suara bersin yang cukup keras.

"Saki kau baik-baik saja di sana? Kuharap kau baik-baik saja. Aku tidak mempunyai banyak waktu setidaknya aku hanya mempunyai waktu kurang dari lima menit untuk menelponmu, tadi aku mendengar pembicaraan Sasuke di telepon katanya dia akan menculik-" sepertinya kesialannya bertambah. Karena flunya Sakura tidak sadar menjatuhkan ponselnya saat Itachi tengah menelpon.

Ia mengacak rambutnya kesal, "Sial! Sambungannya sudah terputus hachi! Sebaiknya aku tidur. Aku berharap hachi! Santa memberiku obat demam." Sakura memejamkan matanya. Sebelum mantap di tempat tidur Sakura sudah memastikan semuanya telah terkunci rapat jadi ia bisa langsung terlelap.

Klek-klek... klek-klek... Sakura membuka setengah matanya. Ia begitu malas untuk bangun tapi perasaanya begitu tidak enak, bisa saja ia di perkosa dalam keadaan mengenaskan seperti ini, dan besok Deidara akan memasukkannya dalam berita. Perempuan lajang yang tengah sakit pada malam natal di perkosa oleh seseorang tak di kenal, cih yang benar saja.

"Kau terlihat menyedihkan." Kali ini Sakura memaksa kedua matanya untuk terbuka.

Sakura tersenyum remeh, "Kau beralih profesi menjadi penyusup?" Sakura mencoba untuk tidak memperdulikan Sasuke. Ia menyembunyikan dirinya di bawah selimut tebal, tentang bagaimana Sasuke masuk ke rumahnya ia tidak begitu peduli, laki-laki itu pasti sudah mengawasi keadaan rumahnya sedari tadi hingga dapat masuk ke dalam.

"Kau tidak heran kenapa aku bisa masuk?" Sasuke menyingkap selimutnya membuat Sakura mengerang karena ada hawa dingin yang menyetuh kulitnya.

"Tidak. Aku sudah terbiasa dengan sifat anehmu." Sakura mencoba merebut selimutnya, "Kembalikan selimutku. Apa kau tidak mempunyai rencana natal lainnya selain menggangguku?! Misalnya menghabiskan malam di ranjang bersama kekasihmu, jika kau mempunyai kekasih tentunya." Sakura memegang kepalanya yang terasa pusing.

"Aku berniat untuk menculikmu malam ini tapi kondisimu begitu menyedihkan. Kau begitu menyusahkan." Sakura tertawa pelan. Sasuke mengembalikan selimut Sakura.

"Pergilah. Kau tidak akan bisa meniduri kekasihmu lagi karena tertular penyakitku." Sakura memunggungi Sasuke.

Tangan Sasuke memegang ujung rambutnya, "Sepertinya cat rambutmu menghilang. Kau terlihat semakin aneh dengan dua warna rambut seperti ini." Sasuke mencium ujung rambut Sakura yang berwarna merah muda.

"Brengsek. Kau lebih aneh dariku sialan." Sasuke tertawa mendengar ucapannya. Jangan salahkan mulutnya jika mirip dengan seorang pelaut, kehidupannya di New York merubah segela kepribadian dalam hidupnya, itu juga terjadi pada kakaknya.

Sasuke mencium pipinya, "Kau terlihat semakin menarik."

.

.

.

Rasanya seperti musim panas

.

.

.

"Hachi!" Sakura mengeluarkan masker dari dalam saku coatnya, "Aku benci." Penyakitnya memang sudah membaik karena Sasuke mengobatinya, penyakitnya membuat Sakura terjebak bersama Sasuke di sebuah kamar. Catat juga semalaman. Dan laki-laki itu bisa kabur sebelum kakaknya tiba di rumah.

"Anak kecil kau seharusnya tidak menangis. Kau yang menabrak kakak cantik ini." Sakura mendecih keras. Mulut perempuan itu seharusnya menyebut dirinya peralatan make up berjalan dengan semua aksesoris, make up tebal, baju ketat dan tipis yang menempel di badannya dengan udara sedingin ini.

Sakura memegang bahu anak kecil itu, "Siapa namamu bocah?" anak berumur lima tahun itu berhenti menangis. Sakura tersenyum untuk membuat anak itu tidak ketakutan lagi.

"U-Udon." Sakura menepuk kepala Udon pelan.

Sakura memandang remeh pada perempuan di depannya, "Seharusnya kau tidak menangis menabrak seorang model sepertinya. Mungkin saja kau bisa menjadi kekasihnya hahaha." Udon menghapus air matanya.

"Aku pernah melihat wajahmu." Sakura tertawa mendengarnya.

"Hahaha jangan bercanda Sara-san. aku bukan artis atau model, darimana kau bisa mengenaliku. Ini pertemuan kita yang pertama." Wajah Sara terlihat menyangkal pernyataan yang Sakura berikan.

Senyum sinis Sara terangkat, "Tidak. Aku pernah melihat fotomu di buku jurnal kekasihku, cih sial."

"Jaga ucapanmu nona." Sakura memandang sengit ke arah Sara, "Kau sudah minta maaf sudah menabraknya bocah?" Udon menggeleng pelan.

Udon melangkah ke depan, "A-Anu, Onee-san maaf aku sudah menabrakmu." Anak kecil itu tersenyum pada Sakura, "Arigatou ne, nee-chan." Sebuah senyum manis terlihat di wajah Udon.

"Brengsek." Sakura menatap sengit Sara. Beruntung anak kecil polos itu sudah pergi, mulut Sara memang tidak sebagus badan seksinya.

"Berhentilah berkata seperti itu di depan anak kecil. Mereka masih polos." Sara menatap Sakura dengan marah.

"Sakura... Haruno." Sakura memiringkan sedikit kepalanya, "Itu namamu bukan? Kau adalah cerita kelam Sasuke-kun." Yang bisa Sakura lakukan hanya tersenyum lembut.

Sakura berjalan, "Tenanglah aku tidak berniat merebutnya. Jaa ne." Sakura bersyukur umurnya tergolong masih muda, melupakan perasanya pada Sasuke bisa seiring dengan waktu jika ia mau. Resiko seperti ini memang sudah menjadi nasibnya.

.

.

.

Rasanya seperti musim panas

.

.

.

Naruto keluar dari kursi pengemudi, "Kau yakin akan merayakan tahun baru di sini?"

"Kenapa tidak. Tempat ini tidak menakutkan, lagi pula di sana ada Tou-san dan Kaa-san." mata Sakura mengerling ke arah jalanan sepi yang di terangi sedikit sinar rembulan. Ia menepuk bahu Naruto pelan, "Tidak usah khawatir. Kami-sama akan selalu menjagaku."

"Sora-nii kemana dia? Seharusnya kalian ke sini bersama-sama." Gerutu Naruto kesal. Sakura paham jika Naruto khawatir meninggalkannya di area pemakaman saat tengah malam sendirian, tapi tahun ini Sakura ingin melewati pergantian tahun bersama orang tuanya.

Sakura tersenyum lembut, "Dia sudah menemukan seseorang untuk menikmati pergantian tahun bersama. Aku juga begitu." Naruto tersenyum tiga jari padanya, "Pergilah, datanglah pada seseorang yang sudah menunggumu."

"Jika ada yang mencurigakan kau harus menelponku Sakura-chan, janji?" Sakura tertawa dan mengangguk, "Aku pergi."

Sakura masuk ke dalam pemakaman, meski ayahnya meninggal di New York tapi makamnya berada di Jepang, ia masih ingat ketika jasad Ayahnya di bawa kemari dan di kubur. Seolah ada yang hilang dalam dirinya, memang tidak terlihat tapi ia dan Kakaknya bisa merasakan itu, terutama kematian Ibunya, "Halo Tou-san. halo Kaa-san, senang bisa bertemu dengan kalian." Sakura bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada Ibunya. Menyedihkan.

"Kau menangis?" Sakura menoleh cepat melihat Sasuke berdiri dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

"Kau mengikutiku?!" tanya Sakura sarkastik.

Sasuke mengendikkan bahunya pelan, "Hanya penasaran. Agenda apa yang akan dilakukan perempuan berisik di pergantian tahun." Sasuke mendekat ke arahnya.

"Sialan kau penguntit." Sakura memejamkan matanya untuk berdoa sejenak mengabaikan keberadaan Sasuke di sampingnya.

Sakura merasakan hembusan nafas Sasuke di lehernya, "Sialan." Gumam Sakura pelan. dengan jarak sedekat ini ia bisa mendengar dengusan pelan Sasuke, terdengar bunyi kembang api, rupanya sudah tahun baru.

Sakura belum membuka matanya masih dalam posisi berdoa, ia merasakan jika Sasuke membawanya sedikit mundur hingga laki-laki itu kini berada di depannya, "Selamat tahun baru hm." Sakura tak berani membuka lagi matanya ketika merasakan bibir Sasuke di bibirnya. Laki-laki itu memang gila.

"Sial! Rasanya seperti musim panas." Gumam Sakura sangat pelan.

.

.

.

To be Continued

A/N:

Apa ada yang menantikan cerita ini? Kayaknya nggak ada hahaha, maaf atas keterlambatannya karena ada UKB dan aku lagi sakit juga. Mind to review minna-san?

Balasan Review :

Suket alang-alang : mungkin lagi nunggu momen hehehe, terima kasih udah review

Ikalutfi97 : hahaha namanya juga orang bukan malaikat, terima kasih udah review

Eunike-chan : terima kasih dan salam kenal ya, udah review terima kasih