Sakura sedang berusaha membuat rambut panjangnya tergelung tinggi, "Sakura-chan kau terlihat kesusahan." Naruto perlahan mendekat ke arah Sakura.

"Terima kasih Naruto, tidak buruk." Sakura melilitkan syal kesayangannya.

Naruto tertawa, "Apa aku memang tidak mempunyai kesempatan Sakura-chan?" mereka berdua tengah berada di dalam kamar Sakura, sejak saat itu Naruto sering mengunjungi Sakura, hampir setiap saat.

"Apa?" tanya Sakura polos.

"Aku menyukaimu." Wajah Naruto bersemu merah, bahkan laki-laki itu tidak berani menatap wajah Sakura.

"Kau yakin?" Naruto mengangguk, "Dasar bodoh! Seharusnya kau lebih sadar pada perasaanmu Naruto, bukankah perempuan pada kencan butamu itu selalu sama?" Sakura melirik note yang tertempel pada kaca riasnya.

"Dari mana kau mengetahuinya?" Sakura mengecup pipi Naruto.

Wajah Naruto bertambah merah, "Aku menulis semua hal tentang kalian berdua," Sakura menunjuk note-note kecil yang tertempel di kaca riasnya, "Aku selalu memperhatikan semua tentang kalian berdua, sekecil apa pun."

"kau yang terbaik, terima kasih Sakura-chan." Sakura menggeleng pelan.

Sakura memeluk Naruto, "Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Terima kasih karena mau menyukai perempuan sepertiku, mungkin lebih baik aku menunggumu menikah dulu dan setelahnya aku akan mencari kekasih hahaha. Kau membuat hidupku susah sialan." Naruto tertawa keras.

"Sakura-chan." Naruto mengeratkan pelukannya.

"Hm?"

Naruto mencium aroma tubuh Sakura, "Jangan seperti itu kau akan membuatku lebih menyukaimu."

Teman Lama

.

.

.

Teman Lama

Disclimer : Om Masashi Kishimoto

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Drama/Friendship

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Mempersembahkan

Sara menarik kerah baju milik kekasihnya dan langsung menempelkan bibir mereka berdua, itu sebuah hal yang buruk mereka melakukan itu di depan pintu apartemen Sasuke. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang tidak pernah bertemu, dan lihat Sasuke! Laki-laki itu terlihat menikmatinya, tapi itu wajar Sara adalah kekasihnya.

"Kita lanjutkan di dalam Sara." Sebenarnya Sara menemui Sasuke untuk membahas hal lain tapi kegiatan seperti ini juga tidak bisa dia tolak.

Setelah pergumulan panas mereka berdua, "Sasuke-kun ada yang ingin aku bicarakan denganmu?" Sara melirik Sasuke yang baru saja keluar dari kamar mandi.

"Kau ingin kita putus?" tanya Sasuke dengan wajah datar. Laki-laki itu pikir Sara sudah gila mau mengakhir hubungan mereka setelah semua usaha yang telah perempuan itu lakukan, yang benar saja.

"Tidak." Sara menyamankan posisinya di ranjang, "Hanya beberapa hari lalu aku bertemu Sakura." Kata tidak! Yang benar adalah nama itu saja sudah bisa langsung menyedot semua perhatian Sasuke.

"Siapa?" tanya Sasuke acuh tapi Sara tahu itu hanya pura-pura, Sasuke adalah master pura-pura.

"Sakura Haruno siapa lagi? Jangan-jangan kau melupakan dia Sasuke-kun." Tapi nyatanya Sasuke mengacuhkannya, seakan-akan laki-laki itu enggan membahas Sakura di antara mereka. Seistimewa itukah Sakura Haruno?

Tapi Sara tidak akan menyerah, "Dia berkata tidak akan mengambilmu dariku." Lanjut Sara, tapi Sara tidak ingat semua kendali berada di tangan Sasuke dan sewaktu-waktu laki-laki itu pasti akan menggunakannya.

"Jadi dia tahu kau kekasihku?" Sasuke mengenakan pakaiannya.

"Sepertinya begitu. Dia tidak cemburu melihatmu sudah menjadi milikku." Gumam Sara, "Ku pikir dia sudah merasa kalah telak denganku."

Sasuke menampilkan seringaiannya, "Kau bercanda? Sakura berkata seperti itu karena dia sudah tahu jika dia sudah dipastikan menang." Sara terdiam mendengar ucapan Sasuke.

"Apakah Sakura Haruno semengerikan itu?" Sasuke hanya mengendikkan bahunya acuh.

.

.

.

Perempuan bertawa sederhana

.

.

.

"Sayang rambutmu kelihatan aneh." Sakura memperhatikan rambutnya yang sudah banyak berwarna merah muda.

"Lihat sebentar lagi aku akan menjadi seekor kupu-kupu yang cantik." Ia memandang Deidara sengit.

Deidara tertawa keras, "Kau bercanda? Kau tetap seperti beruang bagiku." Sakura melempar pulpen yang berada di tangannya.

"Brengsek! Dasar laki-laki jalang, aku tidak akan menerima ajakan kencanmu." Sakura memamerkan seringaiannya, "Apa aku juga perlu merubah warna rambutmu laki-laki jalang?" Deidara memundurkan dirinya selangkah ke belakang.

"Tidak." Deidara melihat Hinata yang baru datang, "Kupikir aku tidak segila dirimu Sakura sialan. Pagi Hinata."

"Sakura-chan."

"Hm?" jawab Sakura kalem, wajah Hinata terlihat begitu syok dan pandangan mata Hinata padanya begitu sayu.

"Brengsek kenapa kau menjawab Hinata selembut itu sedangkan aku kau perlakukan seperti binatang." Deidara terlihat kesal. Sakura memandang tajam ke arah Deidara, dasar tukang tidak tahu situasi pikir Sakura.

Sakura sengaja menyibakkan rambutnya ke belakang, "Kau cemburu he?" dengan menekuk wajahnya Deidara menjulurkan lidahnya pada Sakura, "Jadi diamlah sialan." Sakura menatap Hinata lembut, "Katakan Hinata?"

Melihat Sakura seperti itu Deidara justru berpikir jika Sakura bisa menjadi seorang malaikat.

"Na—Naruto-kun menyukaimu bukan Sakura-chan?" mata Hinata melebar mendengar tawa Sakura.

"Jadi sekarang itu menjadi masalah? Ayolah Hinata."

"Tapi Sakura-chan itu berarti—"

Sakura tersenyum lebar dan menaruh tangannya di atas kepala Hinata, "Apa yang kau pikirkan perempuan bodoh?! Kau hanya tinggal membawa si bodoh itu ke ranjang dan semua selesai." Pipi Hinata perlahan memerah.

"Sakura-chan!" teriak Hinata tertahan.

"Apa?" Sakura melirik Deidara, "Aku benar bukan laki-laki jalang?" dengan sebuah seringaian menawan Deidara mengangguk.

"Saran Nenek sihir ini pantas dicoba Hinata." Deidara berdiri di samping Sakura.

Sakura membenturkan kepalanya pada Deidara, "Siapa yang kau sebut Nenek sihir laki-laki jalang?!"

.

.

.

Perempuan bertawa sederhana

.

.

.

Kek!

Sebenarnya itu suara Sakura yang syalnya tengah di tarik dari belakang, "K—kau pe—mbunuh?" dengan mata waspada kepala Sakura berusaha menoleh ke belakang.

Cup. Sesuatu yang lembut mengecup bibir Sakura, "Bukan. Aku idolamu." Sakura memandang tajam laki-laki di depannya. Hanya satu laki-laki yang berani seperti ini. Sasuke.

"Aku tidak sudi mengidolakanmu brengsek!" dengan paksa Sakura menarik syalnya, "Menyingkir dari jalanku! Aku sedang buru-buru." Sakura baru saja bangun tidur di tengah malam setelah mendengar dering ponselnya berbunyi nyaring.

"Kau mau kemana malam-malam seperti ini?" sebenarnya Sakura sedikit terkejut menemukan Sasuke di depan rumahnya malam-malam seperti ini, "Apa kau ingin menemui kekasihmu?" Sasuke bertambah membuat Sakura kesal.

"Menyingkirlah sialan! Atau aku akan mati." Sakura berteriak di depan Sasuke, "Cih laki-laki jalang itu pasti sudah menungguku." Ia melihat ponselnya yang sudah mempunyai lima puluh panggilan tak terjawab.

"Siapa laki-laki itu?" suara Sasuke berubah berat dan sangat sangat datar membuat Sakura merinding.

Sakura tertawa pelan, "Apa tawaku sudah menjawab pertanyaanmu jadi sekarang biarkan aku pergi." Ia berusaha lolos dari cengkraman Sasuke sekarang.

"Tawa jelek seperti itu tidak pantas didengar. Aw!" Sakura menginjak kaki Sasuke.

Sakura tertawa lebih keras, "Kau bilang suara tawaku jelek?! Dengar! Dengar! Sederhana dan anggun. Dasar bajingan." Sakura berjalan dengan tergesa di dalam pikirannya sekarang adalah membuat alasan yang tepat untuk Deidara. Patnernya untuk meliput berita di Osaka.

Sasuke memegang lengan Sakura, "Tunggu!" dengan wajah polos, "Aku ikut." Sasuke berkata seenaknya.

"Apa?!"

"Ayo kita temui laki-laki itu." Sasuke berjalan angkuh di depan.

Sakura melipat tangannya di depan dada, "Hahaha kau menjemput ajalmu sendiri Sasuke Uchiha." Dengan berlari cepat Sakura berniat membuat Sasuke tertinggal di belakang.

.

.

.

Perempuan bertawa sederhana

.

.

.

Dua hari sudah mereka berempat berada di Osaka, ya mereka berempat hitung saja dari Sasuke, Sakura, Deidara, dan Yahiko.

"Salju terasa semakin tebal saja. Hei! Sasuke apa tubuh Sara sangat bagus?" Yahiko tetap Yahiko, mulutnya sama kotornya dengan Sakura tapi dalam artian yang berbeda.

"Tutup mulutmu Orange." Deidara melirik Yahiko tajam, "Kau menganggu konsentrasi makanku dan Sakuraku." Dan perang dingin selalu di mulai antara Yahiko dan Deidara.

Hanya sebuah hal kecil, "Sejak kapan perempuan gila itu milikmu?" tanya Sasuke sinis, akhirnya perang itu di mainkan oleh mereka bertiga dan Sakura sudah menjadi bagiannya selama dua hari.

"Kau tidak tahu?! Dia Nenek sihir kesayanganku." Sakura menghela nafas, Deidara memang selalu menjadi kompor panas bagi Yahiko dan Sasuke. Sejujurnya ia sudah muak.

"Psssff Nene—"

"Berhenti. Dan. Makan. Dengan. Tenang." Aura Sakura begitu suram membuat Deidara yang duduk di sampingnya merinding. Sejak saat itu meja mereka beransur tenang.

Sakura memilih tidur bersama Deidara dari pada Sasuke atau pun Yahiko karena dua orang itu terlihat seperti serigala buas yang siap memakannya kapan saja, Deidara terlihat seperti seorang Ibu suri yang sangat anggun, "Aku berharap besok kita bisa pulang." Deidara mengangguk pelan dan menguap lebar. "Kau sudah mengunci pintunya Dei?" mata Sakura sudah setengah terbuka tanpa mendengar lagi jawaban Deidara ia langsung saja tidur.

Kesempatan kecil itu sudah memungkinkan seseorang berakal tikus untuk menyusup di antara Sakura dan Deidara.

"Seharusnya kau tidur denganku." Gumam Sasuke pelan. dia tidur di antara Deidara dan Sakura.

Pagi ketiga di Osaka bukan lagi menjadi pagi yang indah bagi Sakura, "Dei apa jadwal kita hari ini?" igau Sakura dalam tidurnya.

"Pemotretan?" mata Sakura dengan cepat terbuka sempurna mendengar suara serak Sasuke bukan suara konyol Deidara.

"Apa yang kau lakukan di sini brengsek!" teriak Sakura, itu cukup untuk membangunkan seisi kamar.

Dan lebih heboh dengan teriakan Deidara, "Aaaa! Tubuhku terlihat Sasuke semalaman." Itu sebuah pagi dengan paket komplit.

.

.

.

Perempuan bertawa sederhana

.

.

.

"Aku benci debu." Sakura menyeret sebuah kotak persegi agak besar keluar dari bawah ranjangnya.

Isi kotak itu adalah surat-surat lama Naruto dan Sasuke yang masih ia simpan hingga sekarang, "Sebentar lagi musim semi." Sakura membawa kotak itu keluar dan menaruhnya dekat pohon sakura.

Sakura kembali masuk ke dalam rumah dan mencari sebuah tangga, bisa di bilang pohon sakura miliknya itu sedikit lebih tinggi.

"Apa yang akan kau lakukan dengan tangga itu Saki." Sakura tersenyum lebar melihat kakaknya tengah bertampang sombong di belakang.

"Apa?" ia mengendikkan bahu acuh, "Membuang surat." Dan itu juga sebuah jawaban aneh, membuat surat memperlukan tangga?

"Kau akan membuang di mana menggunakan tangga?" tanya Sora heran.

Sakura terkikik geli, "Hei bodoh tidak ada membuang surat menggunakan tangga. Apa yang Pig ajari padamu jika sedang di ranjang?"

"Tutup mulutmu sialan."

Sakura menempatkan tangganya di pohon sakura, perempuan itu mulai naik dengan membawa kardus berisi surat-surat laki-laki yang mengisi separuh hidupnya. Sakura duduk di salah satu batang pohon, "Aku harap surat-surat ini ikut mekar bersama bunga sakura." Ia melipat surat-surat itu kemudian mengikatnya di ranting-ranting kecil.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan?! Kau bisa jatuh!" Sora terlihat sangat khawatir melihat adiknya nekat memanjat pohon tapi ini bukan hal gila yang dilakukan adiknya pertama kali.

"Tenanglah."

Sakura masih serius dengan mengikat surat-surat itu ke ranting, "Cepat turunlah!" tapi Sakura tidak memperdulikan seruan kakaknya.

"Selesai!" Sakura tersenyum lebar melihat hasil kerjanya, "Oh! Aaaa!" hal itu terjadi sangat cepat hingga sekarang Sakura sudah mendarat tidak sadarkan diri di tanah.

"Hei bodoh! Sadarlah... kau pasti mengerjaiku." Sora mencoba untuk tidak perduli tapi adiknya masih diam tergeletak di tanah dengan mata tertutup rapat. "Saki? Hei bodoh sadarlah!"

.

.

.

To be Continued

A/N:

Scene yang paling saya suka di sini waktu adu mulut antara Sasuke, Yahiko, dan Deidara. Jadi apa scene yang kalian suka? Mind to review

Balasan Review:

Uzumaki Yuki15 : apa Sasuke semegemaskan itu hahaha. Terima kasih udah review

Zeedezly clalucindtha : maaf ya udah membuat bingung, terima kasih udah review

Rahillah r5 : tarik ulur tarik ulur nih ceritanya, terima kasih udah review

Yeon9 : maklumin aja ya, terima kasih udah review