Klik!

Wanita itu menurunkan tangannya, "Sasuke-kun bisa kita berhenti sekarang aku ada urusan." Wanita cantik yang berprofesi sebagai model itu menampilkan wajah datar, itu hanya tipu daya.

"Baiklah Karin. Kau bisa pergi." Sasuke meletakkan kameranya, dan meninggalkan modelnya hari ini sendirian di studio.

"Sasuke-kun!" teriakkan Karin terdengar hingga keluar membuat seringaian Sasuke mengembang.

Sasuke berhenti melangkah, "Yo! Teme." Ah bukankah itu saingannya, mungkin saja Naruto membawa berita besar seperti kekalahan mungkin.

"Apa yang kau lakukan di sekitar sini Dobe?" Sasuke menyentuh ujung cangkirnya, matanya tetap melihat ke arah Naruto.

Setelah lepas kuliah Sasuke mau pun Naruto sudah jarang untuk bertemu, kesibukan menelan mereka masing-masing hingga menjadikan mereka sekilas seperti orang asing.

Naruto mengedipkan matanya beberapa kali, "Kau sudah menemukannya?" Naruto meminum kopinya, "Sakura-chan." Nama itu selalu berhasil membuat Sasuke tertawa.

"Sakura? Aku tidak tertarik dengannya." Naruto melirik Sasuke tajam. "Apa?"

"Brengsek."

Sasuke tertawa pelan, "Beberapa bulan belakangan ini aku sibuk dengan perempuan ini." Sasuke melemparkan satu foto ke arah Naruto.

Sebuah foto dengan potret pemandangan sebuah gedung yang menjulang tinggi, seorang perempuan yang memegang mic dengan senyum lebar, "Sakura-chan."

Teman Lama

.

.

.

Teman Lama

Disclimer : Om Masashi Kishimoto

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Drama/Friendship

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Mempersembahkan

"Bisa kau menjaga Sakura hari ini Hyuga-san? aku ada rapat penting." Pipi Hinata sedikit merona saat melihat wajah kakak Sakura, "Apa kau sakit? Pipimu memerah."

Sora menempelkan dahinya ke dahi Hinata, "Ak—aku tid—tidak sakit So—Sora-nii." Hinata menghela nafas ketika Sora memundurkan wajahnya, Hinata merasa Sakura adalah orang yang beruntung.

"Ah~ kau terpesona padaku?" Sora mengedipkan satu matanya, "Gadis kecil aku bukan pria baik." Sora meletakkan tangannya di kepala Hinata, "Jaga adikku ya, aku pergi!" yang Hinata tahu Sakura selalu di kelilingi pria-pria tampan yang begitu mencintainya.

Hinata mengingat senyuman kakak Sakura, "Dia terlihat seperti Naruto-kun." Kemudian kekehan kecil keluar dari mulutnya.

"Siapa? Sora?" Hinata tersenyum melihat Sakura yang membuka matanya perlahan.

"Aku sekarang mengerti kenapa Sakura-chan tidak bisa menyukai Naruto-kun." Hinata menggapai tangan Sakura, "Kau sudah mempunyai satu Naruto-kun untuk dirimu sendiri."

Sakura melirik kaki kirinya yang di gantung, "Aku tidak membutuhkan satu orang bodoh lagi di hidupku. Satu Sora saja sudah menyusahkan." Sakura memandang Hinata dengan senyum lebar, "Jadi aku memberikannya untukmu. Hadiah."

"Kau selalu penuh kejutan tidak heran banyak yang menyukaimu." Kamar Sakura sangat luas, memang hampir sama dengan kamar Hinata dengan gaya yang berbeda tentunya, "Deidara-san sampai rela mengambil penerbangan pertama dari Osaka ke Tokyo kemarin karena mendengarmu masuk rumah sakit."

"Apa? Jadi saat aku tidak sadar di rumah sakit laki-laki jalang itu ada di sana?" Hinata menggeleng pelan. "Lalu siapa?"

"Dia di seret ke kantor oleh Anko-san sebelum melihatmu tapi saat itu ada laki-laki tampan yang berdiri di depan ruang rawatmu." Hinata nampak menerawang jauh, "Kau tahu... kekasih Sara. Fotografer itu, Sasuke Uchiha."

Sakura melepaskan genggaman tangannya, "Berhenti membicarakannya Hinata."

"Kenapa? Kau mencintainya." Sakura menghela nafas pelan.

"Seperti Naruto, ada sesuatu di dunia kecil ini yang tidak bisa seseorang dapatkan untuk dirinya sendiri. Kau tahu maksudku." Sakura tersenyum lebar, "Aku pasti akan menemukan laki-laki yang jauh lebih hebat dari Sasuke."

Hinata melihat foto Sakura dengan kedua sosok yang begitu berarti di hidup perempuan itu, "Kau yakin?" Sakura mengangguk antusias, "Terkadang kau harus lebih jujur pada dirimu sendiri jika tidak rasa sakit yang akan menyadarkanmu Sakura-chan."

"Hn. Karena itu aku takut pada diriku sendiri." Sakura memejamkan matanya dan menikmati buaian tangan Hinata di kepalanya.

.

.

.

Seorang pria

.

.

.

"Terima kasih mau mengajakku di pagi yang begitu hangat ini." Deidara memandang rekan kerjanya dengan pandangan mengejek.

Deidara menghela nafas.

"Ini pukul enam pagi! Dan begitu dingin~ kau memintaku untuk menemanimu jalan-jalan, kau tidak punya orang lain selain aku hm?" dengan wajah imut Sakura mengangguk pelan, "Kau begitu kesepian. Aku tidak tega~ tunggu di sini aku akan membeli kopi, hati-hati taman ini begitu sepi."

Sakura mengangguk dan perlahan senyumnya terangkat melihat Deidara berlari konyol menjauhinya.

"Ini pagi yang indah." Sudah empat hari Sakura tidak bertemu orang di depannya, "Melihatmu tersenyum." Meski Sakura tahu Sasuke selalu ada di dekatnya.

"Rayuan yang indah. Selamat tapi aku bukan wanita jalang yang tergila-gila padamu, tuan Stalker." Duduk di kursi roda dan berhadapan dengan Sasuke sedikit membuatnya risih.

Sasuke tertawa pelan, "Kau terobsesi padaku." Sakura mendecih pelan.

"Kau berganti menjadi peramal?" Sasuke menggeleng pelan, "Kau mengusik pagiku yang indah brengsek." Sasuke mengangguk membenarkan.

"Kau juga."

Sakura melihat Sasuke, "Apa?" dulu Sasuke tidak begitu peduli pada sekitarnya bahkan hanya untuk sekedar tertawa, tapi kini ia berubah.

"Kau mengusik hidupku." Tahun merubah pria yang dulu ia kenal menjadi sosok baru yang bahkan sulit untuk Sakura gapai.

"Kalau begitu satu sama. Jika ku lihat kau lebih sering menemuiku dari pada kekasihmu, oh! Apakah kau fansku?" musim semi nanti dirinya akan kembali menjadi Sakura dengan semua masa lalunya.

"Fans? Yang benar saja. Jangan bercanda." Dan musim semi itu juga ia harus melepaskan pria yang ada di depannya sekarang.

Sakura menyibakkan rambutnya ke belakang, "Nikmati waktumu bersamaku, musim semi mungkin aku sudah harus pergi." Tawa Sasuke berhenti.

"Kau akan pergi?" Sakura mengangguk, raut wajah Sasuke berubah drastis. "Amerika?"

"Apa itu penting bagimu?"

Sasuke menghela nafas, "Kau selalu berhasil membuatku tampak menyedihkan." Sasuke memandang langit, "Kau manusia teregois yang pernah ku temui."

"Itu yang ku harapkan." Sakura tertawa pelan.

.

.

.

Seorang pria

.

.

.

"Apa yang membuatmu menemuiku?" Sakura memakan apel yang berada di tangannya.

Wanita di sebelahnya tertawa, "Aku sengaja menemuimu. Perkataanmu waktu itu membuatku takut." Sakura melirik wanita di sebelahnya dengan heran.

"Aku bukan hantu jalang. Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu, dengan kondisiku sekarang kau menemuiku membuatku takut." Sebuah seringaian tercetak di wajah Sakura, "Kau bisa membunuhku kapan pun kau mau dengan rasa irimu padaku."

"Jaga bicaramu dasar wanita murahan." Beberapa menit lalu Sara mengetuk pintu rumahnya dengan wajah sombong, Sakura tidak terlalu terkejut melihat Sara berada di depan rumahnya, kepribadian Sara memang seperti itu.

"Jangan membuatku marah. Apa yang kau inginkan?" Sejujurnya Sakura sudah lelah bermain-main seperti ini, ia ingin menjadi dirinya sendiri.

Sara berdiri angkuh di depan Sakura, "Jauhi Sasuke-kun." Dan ia juga sangat lelah ketika topik yang di bahas hanya Sasuke.

"Aku sudah menjauhinya kau tahu." Sakura tertawa pelan, "Tapi Sasuke sepertinya tidak mau. Dia bahkan mengikutiku mencari berita ke Osaka, jadi jaga priamu baik-baik nona."

"A—apa?! Dia mengikutimu ke Osaka?" Sakura mengangguk, "Dasar bajingan."

"Bukankah Sasuke memang seperti itu, kenapa kau terlihat sangat terkejut?" ia mlihat Sara sambil menyeringai, "Hahaha." Ia sedari dulu memang senang mempermainkan perasaan orang lain. mungkin ia memang lelah tapi menggoda sedikit tidak apa-apa bukan.

Sara memang sangat cantik, "Kurang ajar kau Sakura Haruno." Tapi wanita itu bukan lawan yang sepadan baginya.

"Berhenti membuatku kesal. Nikmati Uchiha itu untuk dirimu sendiri dan pergi dari hadapanku." Ia memundurkan kursi rodanya, "Jangan ganggu hidupku jalang."

"Ka—kau! Siapa yang kau panggil jalang?!" dengan raut kesal Sakura menoleh ke belakang.

Sebuah seringaian kembali muncul, "Pergi. Dari. Hidupku. Benalu." Sebuah senyum lembut Sakura tunjukan, "Sebelum aku yang menyeretmu pergi."

"Kau... apa kau seorang pembunuh?" ia melihat Sara begitu ketakutan, ia tidak percaya wanita itu percaya pada ucapannya.

"Cukup pikirkan seperti yang terlihat. pergilah." Sakura meninggalkan Sara di halaman belakang rumahnya.

.

.

.

Seorang pria

.

.

.

Sakura meletakkan ponselnya begitu saja, "Apa kau memberitahu Pig tentang keadaanku?" orang di sebelahnya hanya melirik acuh.

"Dia memaksaku."

"Apa?" Sakura kembali menyendok es krim di pelukannya, "Sudah ku bilang jika ini rahasia. Apa kau begitu bodoh he? Dasar."

"Bisakah kau berhenti memanggilku bodoh. Sialan. Aku kakakmu." Ia melirik kakaknya tajam, mungkin Ino sudah mencuci otak kakaknya di ranjang setiap mereka pergi kencan.

Ia memperhatikan Sora yang masih sibuk memperhatikan televisi, "Apa yang dikatakan Pig ketika kalian di ranjang sebenarnya?" ia mencoba untuk duduk lebih dekat dengan kakaknya.

"Kami tidak pernah berada di ranjang berdua." Sakura menghentikan aktivitasnya menyendok es krim rasa coklat itu.

"Aku tidak akan percaya. Berapa kali kau sudah meniduri Pig?" Sakura menggigit sendoknya, matanya terus saja meneliti wajah Sora yang mulai memerah perlahan.

Kakaknya menghela nafas, "Sudah ku bilang kami tidak pernah melakukan hal seperti itu. dia orang yang ku cintai." Mata Sakura berbinar melihat kewarasaan otak kakaknya tentang hubungan asmara. Ini pertama kalinya.

"Kenapa kau tidak menyentuhnya? Dia kekasihmu." Sakura kembali ke posisinya semula, menyedok es krim yang sangat banyak. "Dia tidak akan marah padamu."

"Aku tidak bisa." Kakaknya tertawa, "Dia terlalu berharga."

Sakura mengangguk paham, "Aku mengerti sekarang." Kakaknya menoleh padanya.

"Apa yang kau mengerti?" Sora mencuri es krim Sakura dengan tangan kosong, itu terlihat begitu menjijikan. Tuk! "Aw! Aku hanya memintanya sedikit."

"Itu menjijikan." Sakura tersenyum lembut, "Yang ku mengerti adalah jika seorang pria tidak akan berani menyentuh wanita yang benar-benar mereka cintai, aku benar bukan?"

.

.

.

To be Continued

A/N :

Saya ucapkan begitu banyak maaf karena telat update ToT maaf lagi sibuk ini sama demo. Mind to review minna?

Balasan Review :

Deva ini 5 : terima kasih udah review dan kasih pendapatnya

White apple clock : maaf harus telat, terima kasih udah review

Zeedezly clalucindtha : oke, terima kasih udah review

AAAlovers : Cuma pingsan doang, mana mungkin jatuh dari pohon bisa amnesia. Terima kasih udah review

Yeon9 : sebenarnya sih Sasuke udah menetapkan hati tapi di sini karakternya agak bad boy dikit la hahaha terima kasih udah review