"Apa yang kau lihat sialan!" setelah tidak sadarkan diri selama sehari dan masuk rumah sakit rupanya kebiasaannya belum berubah.

Deidara menatapnya dengan berbunga-bunga, "Aku merindukanmu Sakura." Deidara memeluk Sakura, "Kau tahu ku rasa ada yang berbeda darimu." Deidara memegang rambut Sakura yang sudah berubah warna.

Sakura tertawa pelan, "Apa aku terlihat lebih cantik dari tunanganmu?" Deidara melepaskan pelukannya.

"Apa kau gila? Tidak, kau memang sudah gila." Sakura tertawa keras, "Kau terlihat bukan Sakura yang ku kenal biasanya. Aura menyeramkan masih melekat padamu tapi dengan rambutmu yang sekarang kau berhasil menutupinya. Terlihat seperti malaikat mungkin?"

"Ada apa dengan mungkin yang kau katakan laki-laki jalang! Aku seorang dewi, kau harus mengakuinya." Sakura menampilkan seringaiannya, Deidara mendecih pelan.

"Dewi kematian." Buk! "Akk! Kenapa kau melakukannya Sakura?" akhirnya tinju Sakura berhasil menyentuh perut Deidara.

Suara decakan kagum membuyarkan pertarungan mereka berdua, "Ku rasa musim semi ini akan lebih menarik." Sakura melaimbaikan tangannya melihat Konan memandangnya takjub.

"Jika pujian itu untukku terima kasih. Pernikahanmu akan di laksanakan beberapa minggu lagi bukan Konan-san?" Konan mengangguk dengan wajah sedikit memerah, "Selamat! Berikan laki-laki jalang ini keponakan."

"Berhenti membuatku terlihat seperti badut Sakura." Deidara bersiap untuk merangkul Sakura, tapi dengan cepat Sakura menendang pantat Deidara.

"Jangan macam-macam brengsek. Juga berikan salamku pada Itachi-nii, Konan-san."

Konan tertawa keras, "Tentu saja. Ku rasa Sasuke memang pantas memperjuangkanmu, anak itu pantas menerima pelajaran bukan begitu Sakura?" kali ini giliran Sakura dan Deidara yang tertawa keras.

"Tentu saja!" jawab Sakura dan Deidara bersamaan.

Teman Lama

.

.

.

Teman Lama

Disclimer : Om Masashi Kishimoto

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Drama/Friendship

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Mempersembahkan

Helaan nafas keluar dari mulut Sara, "Kau terlihat menua." Komentar Shion berhembus pelan ke telinga Sara.

"Aku sibuk memikirkan seseorang," Sara mengambil kaca dan menyentuh wajahnya yang tidak terpoles make up. "Aku harus cepat menyingkirkannya dari hidup kekasihku."

"Siapa?" Shion menghentikan gerakan tangannya untuk memotong daging.

"Sakura Haruno. Kau pernah mendengar nama itu?" Shion memasukkan satu potongan daging ke dalam mulutnya, "Dia wanita jalang yang mencoba merayu Sasuke-kun." Sara mengangkat gelas winenya, matanya kembali bergulir pada Shion.

Shion meletakkan garpu dan pisau makannya, "Aku rasa aku kenal nama itu. kau tahu aku bukan pengingat yang baik, apa dia cantik?" Shion mengambil gelas wine miliknya.

Sara tertawa, "Apa matamu buta? Sasuke-kun mengatakan padaku jika aku pasti akan memenangkan dirinya. Jadi cara apa yang harus aku pakai?" Sara meletakkan gelas winenya, matanya memandang tempat makan siang mereka.

"Sasuke seorang Uchiha, ku pikir untuk menipunya akan sedikit sulit." Shion memandang Sara datar, "Sekali saja dia mengetahui kebohonganmu. Semua berakhir di sana."

Sara mengangguk, "Kau benar." Ia memasukkan wortel ke dalam mulutnya, "Menipu Sasuke-kun tidak semudah yang ku pikirkan. Aku lupa dia seorang Uchiha, aku butuh rencana yang lebih dari kata sempurna."

"Ternyata kau lebih bodoh daripada aku." Shion bersendekap dada.

"Apa?! Kau mengataiku bodoh! Dasar sialan." Sara hampir saja melemparkan pisau makan yang di genggamnya sebelum Shion akhirnya menghela nafas.

Shion meminum winenya sekali lagi, "Sakura bukan seorang Uchiha. Menipu wanita itu akan lebih mudah, bagaimana aku pintar bukan?"

"Benar 'kah?" ternyata Sara hanya terlihat pintar di luar.

Shion menaruh gelas wine yang sudah kosong, "Jika dia percaya kebohonganmu, wanita itu tidak akan mempercayai Sasuke lagi. Tapi itu tidak semudah yang ku katakan sekarang, jika Sasuke memang tertarik pada wanita itu meski dia mengatakan kau akan menang, pria itu akan mencari kebenarannya darimu." Sara tertawa pelan.

"Huh. Kau benar, aku harus bermain dengan bersih." Sara menghabiskan winenya, "Sepertinya aku mempunyai rencana bagus."

Shion tersenyum lembut, "Ku harap kebodohanmu tidak merusak segalanya."

.

.

.

Putri tidur

.

.

.

"Sakura kau terlihat menggelikan menggunakan kacamata hitam. Buang." Deidara mencoba untuk mengambil kacamata dari wajah Sakura.

"Diamlah brengsek." Dengan cepat Sasori dapat mengambil kacamata itu, "Hei! Kau membuatku terlihat jelek Old baby." Wajah Sakura perlahan memerah, rekan-rekan kerjanya terutama pria terdiam begitu saja.

Deidara merogoh saku kimononya, "Dia mahakaryaku yang terindah." Sakura menyentuh tusuk konde yang menancap di rambutnya, "Tenang saja, kau cantik Sakura."

Mereka menjajal satu demi satu stand yang ada di perayaan hanami, "Aku merasa ada seseorang yang sedang mengikuti kita, apa kalian juga?" Sasori memasang mata waspada.

Klik. Kunyahan Sakura pada takoyakinya berhenti, "Bunyi kamera, dia tidak hanya mengikuti kita. Biarkan, anggap saja fans." Deidara menghela nafas kasar.

"Tidak heran Sora tidak begitu khawatir padamu." Sasori mengangguk setuju, "Bisa saja orang itu menculikmu bodoh!" Deidara menusuk tokoyakinya kasar, Sakura tertawa mendengar omelan Deidara.

"Aku tidak terlalu memikirkan Sora mengkhawatirkanku atau tidak, yang ku tahu dia begitu menyayangiku. Itu saja sudah cukup." Sakura melirik Sasori, "Dia tahu mengkhawatirkanku berlebihan itu hanya sia-sia. Kau tahu karena apa?" Sakura melirik Deidara dan Sasori bergantian, "Karena aku bisa dengan mudah membuat orang lain mengkhawatirkanku."

Klik. Sasori memikirkan perkataan Sakura, "Ku rasa itu fakta. Aku juga belakangan ini melihat seseorang berubah menjadi seorang ibu dalam sekejab." Mata Sasori melirik ke arah Deidara.

"Apa maksud lirikanmu Old baby?!" geram Deidara.

Sakura tertawa pelan, klik. "Apa benar begitu Stakler-san?" klik. Semua mata terarah pada pria yang tengah memegang kamera di depan mereka. Sakura menelan takoyakinya.

"Maksudmu aku?" Sasuke mengalungkan kameranya, Sakura mengedipkan matanya beberapa kali.

"Tentu saja." Sakura tersenyum sombong, "Apa kau menemukan objek yang bagus di perayaan ini?" Sasuke tertawa pelan. pria itu berjalan mendekat ke arah Sakura, suara desahan lega keluar dari mulut Sasuke.

"Deidara aku senang bertemu denganmu hari ini."

Deidara menelan takoyakinya, "Aku tidak akan menyerahkan mahakaryaku hari ini padamu Sasuke. Kau tidak boleh menculiknya."

"Apa aku terlihat akan menculiknya?" Sasuke menyetuh helai rambut Sakura yang menjuntai, "Kalau begitu boleh aku memilikinya?" Sakura terdiam memandang wajah Sasuke.

"Sara sudah cukup untukmu Sasuke-san. Aku dan Jalang di sana tidak akan menyerahkannya untukmu." Sasori memandang tajam Sasuke, "Pergilah."

Sakura tertawa, "Pergilah, para lelakiku memintamu pergi." Sasuke melirik Deidara dan Sasori.

"Begitu?" Sasuke mengangguk pelan, "Selamat datang kembali. Sakura Haruno." Klik.

.

.

.

Putri tidur

.

.

.

Sakura merebahkan tubuhnya di bawah pohon sakura, "Sasuke mengenaliku." Matanya tertutup menikmati belaian angin musim semi.

"Teme?" Naruto juga ikut merebahkan diri di samping Sakura, "Sebelum kau menyadarinya Teme mengenalimu lebih dulu Sakura-chan." Naruto tertawa lepas.

"Sialan." Sakura menghela nafas, "Jadi kau bukan pemenangnya?" Naruto membuka satu matanya, melirik ke arah Sakura yang memandang langit.

"Kenyataannya seperti itu. ada kalanya aku ingin Teme benar-benar tidak ada di dunia ini, dia selalu mendapatkanmu sebelum aku. Itu membuatku kesal." Kali ini giliran Sakura yang tertawa.

Sakura berbaring menghadap Naruto, "Aku berharap bisa menjadi egois. Aku bisa menyuruhmu melupakanku tanpa khawatir, aku tidak ingin melihat orang yang ku sayangi terluka karenaku, itu membuatku kesal." Sakura kembali ke posisi semula.

"Teme benar-benar beruntung bisa mendapatkanmu dengan mudah." Naruto mengubah posisinya menjadi menghadap ke arah Sakura.

Sakura memejamkan matanya, "Aku tidak mempunyai harapan untuk Sasuke. Dia sudah mempunyai orang lain."

"Sara maksudmu?" Sakura mengangguk pelan, "Wanita itu memegang rekor terlama menjadi kekasih Teme." Naruto melihat surat-surat yang tergantung di ranting pohon. "Tapi dia bukan lawan yang sepadan bagimu Sakura-chan."

"Aku tidak berniat melawan siapa pun. Aku sedang menikmati hidupku, Aku tidak akan menyentuh kehidupan Sasuke." Sakura membuka matanya. "Aku kembali bukan untuk merusak kehidupan seseorang."

"Jadi itu alasanmu tidak memberitahu kami saat kau sudah kembali?" Sakura tersenyum lebar.

Sakura menghela nafas, "Ku lihat kalian sudah benar-benar baik tanpaku, jadi aku membiarkannya. Aku juga tidak ingin wanita seperti Hinata terluka karena ke datanganku, aku hanya masa lalu kalian," Sakura melihat Naruto. "Kalian berdua berhak bahagia."

"Dan kau? Apa kau bahagia?" Sakura mengangguk, "Lebih baik terluka daripada melukai orang lain, omong kosong. Kau terlihat memilih itu sebenarnya kau hanya mengabaikannya, ada kala di mana kau harus menyerah terhadap sesuatu."

"Apa yang sedang kau katakan?" Sakura terdengar begitu malas melakukan berdebatan dengan Naruto. Berbeda dengan Naruto yang terlihat begitu bersemangat. "Aku memang sudah menyerah. Pada Sasuke." Sakura menghela nafas panjang.

Kaki Naruto menendang kaki Sakura, "Bukan menyerah itu yang ku maksud bodoh."

"Kau berani memanggilku bodoh?!"

"Kau biasanya selalu memanggilku bodoh." Naruto mendecih pelan. "Menyerahlah pada prinsip kunomu Sakura. Dunia tidak seindah yang kau bayangkan."

Sakura tertawa, "Aku tahu Sasuke sudah berubah bukan lagi Sasuke-kun. Ku harap kau mengerti Naruto, aku sudah tidak mempunyai alasan untuk berada di samping Sasuke."

"Kau mempunyainya. Kau... mencintainya." Naruto menutup matanya, "Kau bilang Teme sudah berubah bukan. Kau berhenti mencintainya apa kau sedang berharap Teme akan mengejarmu Sakura-chan? Dia bukan lagi anak SMA. Dia pasti akan membiarkanmu pergi."

Sakura tersenyum lembut, "Ku harap dia membiarkanku pergi dengan tenang."

.

.

.

Putri tidur

.

.

.

Ino menggoyangkan gelas winenya, "Nee, Sora-kun." Perhatian Sora berpusat pada kekasihnya, "Kemana Forehead?"

"Saki? Dia baru datang dari Sapporo dua jam yang lalu." Sora meminum winenya, "Aih! Jika kau melihat kantong matanya, dia seperti zombie. Berita berharganya itu tidak mengijinkannya untuk tidur," Sora melihat wajah Itachi yang berseri-seri. "Dia bilang akan datang bersama Deidara." Sora kembali meneguk wine.

Ino menaruh gelasnya yang sudah kosong, "Deidara? Dia datang bersama tunangannya. Lihat dia di sana." Ino menunjuk Deidara yang sedang memberikan selamat pada kedua pengantin. "Deidara pasti mengubah rencananya."

"Saki?! Cih! Dia pasti tidur sekarang. Anak bodoh." Sasuke menghentikan tangannya yang berniat mengambil wine. Matanya melirik ke arah Sora dan Ino.

Ino tertawa, "Biarkan saja. Jika Forehead tidak datang mungkin keluarga Uchiha akan menjadikannya menantu mereka hahaha," Ino melirik Sasuke yang tengah menyeringai. "Ku harap Forehead mempunyai seorang pangeran malam ini." Ino menyelipkan tangannya di pinggang Sora.

Sasuke kembali mengembangkan seringaiannya melihat rumah keluarga Haruno, mudah bagi Sasuke untuk menyusup ke dalam setidaknya dia sudah melakukannya satu kali.

Di dalam benar-benar sepi, "Aku menemukan Putri tidur." Sasuke bergerak maju, menghampiri Sakura yang tengah terlelap. "Ku rasa Itachi pasti cemburu padaku. Aku mendapatkan seorang Putri malam ini." Sasuke melepas jas, rompi, dan dasinya. Menggulung sedikit lengan kemejanya ke atas.

"Dia pasti khawatir jika adik iparnya tidak muncul di pernikahannya." Sasuke duduk di ranjang sambil melepas sepatunya, "Itachi kau dengar aku?"

Suara kakaknya terlihat begitu tidak senang, "Bodoh! Kau ada di mana? Tunggu. Apa kau sedang mengencani wanita? Ini hari pernikahan kakakmu sialan." Itachi terdengar menghela nafas kasar, "Aku bahkan belum bertemu Saki." Sepertinya Sasuke bisa menyombongkan diri kali ini.

"Dengarkan aku. Sakura tidak akan pernah datang ke pernikahanmu." Sasuke menyeringai, "Dia akan menemaniku malam ini. Kau bisa melihat kami besok, dan rahasiakan ini dari Sora." Sasuke membuka selimut Sakura.

Suara Itachi terdengar sangat kaget, "Apa yang akan ka—" dengan sengaja Sasuke memutuskan sambungan telepon mereka. Dia berharap kakaknya menikmati malam pertamanya dengan tenang, karena dia juga akan menikmati malamnya bersama Sakura.

"Dasar wanita licik. Kau kembali tanpa memberitahuku." Tangan Sasuke menyentuh pipi Sakura. "Kau berubah jauh dari dugaanku." Sasuke merapatkan diri pada Sakura. "Hei Putri apa aku juga harus menciummu agar kau bangun?" Sasuke tertawa pelan. "Sepertinya begitu." Sasuke selalu menggunakan kesempatan dalam kesempitan.

Cup. "Kenapa dia belum bangun?" Sasuke melihat ponselnya yang bergetar, "Sakura. Ada satu hal yang ingin ku lakukan bersamamu. Ku pikir ini saat yang tepat." Sasuke mematikan panggilannya. Memeluk Sakura dan sekali lagi menciumnya. Klik.

"Foto ini tidak buruk." Sasuke menciptakan sebuah bom dalam waktu satu detik. "Sekarang aku bisa mengirimnya. Sepertinya aku harus meninggalkan dunia fotografi."

Sebuah pesan singkat yang Sasuke kirimkan, "Sara. Hubungan ini berakhir di sini." Berisi sebuah pemutusan kontrak dan bom yang ia ciptakan beberap detik lalu. Sasuke seorang yang licik.

Sasuke tersenyum lembut, "Terima kasih sudah kembali Sakura."

.

.

.

To be Continued

A/N :

Adakah yang berharap hubungan Sara dan Sasuke hancur? Tapi Sara mungkin masih mau berjuang. Mind to review minna?

Balasan review :

Lady UchihaHaruno : Sakura pergi? Maksudnya ia membiarkan perasaanya pada Sasuke pergi. Terima kasih udah review.

Cherrytakumi08 : Ada tapi pasangan Naruto tetep Hinata. Terima kasih udah review.

CherryAsta : semoga gak semisterius authornya. Terima kasih udah review.

Dianarndraha : Sakura udah nyerahin Naruto ke Hinata, kenapa Naruto marah ke Sasuke itu karena sikap brengseknya Sasuke. Terima kasih udah review.

Ikalutfi97 : semoga nggak mengingatkan masa lalu aja hahaha, terima kasih udah review.

Yeon9 : karena Sakura kagak tega sama Sara kalo di tinggalin Sasuke. Terima kasih udah review.