Sasuke terlihat gagah menggunakan kimono-nya. Mereka setuju untuk memakai pakaian tradisional untuk merayakan hanabi.
"Kau datang." Sakura tersenyum hangat pada Sasuke.
Sasuke tidak berkomentar apapun tentang penampilan Sakura malam itu, "Sakura-chan! Kau sangat cantik." Mata Naruto berbinar melihat Sakura dari atas hingga bawah.
"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Sasuke sinis.
Sakura tersenyum melihat Sasuke menyulut perdebatan kecil dengan Naruto.
"Tentu saja Sakura-chan. Aku tidak sudi melihatmu Teme!" Naruto menjulurkan lidahnya, "Nee, Sakura-chan. Apa kau mau aku dapatkan ikan koi? Aku hebat menangkapnya." Sasuke mendengus pelan.
"Kau? Hebat? Cih, yang benar saja. Jika Sasuke-kun yang mengatakannya baru aku akan percaya." Naruto terlihat tidak terima dan bersiap mengeluarkan agrumennya.
Sasuke berjalan lebih dulu, "Terima saja, jika aku lebih hebat darimu Dobe."
"Tidak akan! Aku akan melangkahimu Sasuke!" Naruto berjalan cepat menyusul Sasuke yang berada di depan.
Sekali lagi Sakura tersenyum melihat Sasuke dan Naruto, sering kali Sakura mempunyai pikiran yang begitu egois untuk membuat dua laki-laki itu tetap bersamanya. Pikiran egois itu terus saja memenuhi otaknya. Hingga akhirnya ia berhenti memakai hati dan otaknya bersamaan. Ia tidak ingin menjadi egois untuk kedua laki-laki itu.
Teman Lama
.
.
.
Teman Lama
Disclimer : Om Masashi Kishimoto
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Drama/Friendship
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Mempersembahkan
"Apa ini tentang Sasuke lagi?" mata Sakura menatap Sara dengan datar. "Apa kau tuli? Kau bisa mengambil bajingan itu." Sedari tadi Sara masih bungkam. Hanya melihat Sakura yang terus saja mengoceh.
Sakura duduk dengan kondisi terikat. Sedangkan Sara duduk di depannya dengan pandangan kosong mengarah pada Sakura.
Tatapan Sakura berubah dingin, "Sebenarnya apa yang membuat iri denganku?"
Mereka saling terdiam memandang ke dalam mata masing-masing. Mencari suatu kenyataan di sana.
"Kau tidak ingin menjawabku? Dasar jalang murahan." Sakura menutup matanya, "Aku heran kenapa sahabatku bisa tertarik pada jalang sepertimu." Sakura menghembuskan nafas pelan.
"Aku heran kenapa kekasihku bisa tertarik pada jalang sepertimu." Sebuah senyum sinis tercipta di wajah Sakura. Sara mengambil gelas wine-nya. "Kau tidak ingin menjawabku? Dasar jalang murahan." Suara tawa Sakura meledak.
Sakura menyeringai senang, "Entahlah." Hanya sebuah jawaban singkat.
"Apa kau mencintai Sasuke-kun?" sorat mata Sara menajam.
"Jadi ini benar tentang Sasuke? Sialan kau membuang waktuku yang berharga untuk laki-laki berengsek itu." Sakura bergerak acuh di kursinya.
"Bahkan aku sudah menyerahkan segalanya. Berengsek!" gelas kaca itu bergetar dan setetes air mata jatuh. "Kenapa... kenapa! Aku sudah berkorban sangat banyak. Kenapa dia masih saja memilihmu?!"
Sakura tersenyum hangat. "Karena kau menyerahkan segalanya." Mata Sara membulat terkejut.
Sakura mengetuk-ketukan heels sepatunya. Prang! Gelas di genggaman Sara terjatuh, Sakura tidak begitu terkejut, wajar jika perempuan itu syok.
"Begitu 'kah?"
"Tentu saja Jalang! Ku akui aku mencintai Sasuke, tapi perlu kau tahu aku sejak awal tidak berniat kembali pada Sasuke." Sakura melirik Sara. "Ku pikir kisah kami sudah lama berakhir, meski ketika bertemu nanti kami hanya sebatas teman lama, aku tidak berniat melanjutkan kisahku."
Sara berdiri, "Tapi Sasuke-kun mempunyai pemikiran lain." Dia berjalan ke arah Sakura. Wajahnya terlihat hancur.
"Aku tahu." Sara berhenti berjalan, "Karena itu aku tidak pernah memberitahunya jika aku sudah kembali ke Jepang. Itu adil bukan? Dia yang mencariku dengan sendirinya, aku tidak pernah memintanya mencariku meski terkadang aku juga berharap dia tahu aku selalu berada di dekatnya. Aku tidak ingin munafik di depanmu."
Sakura tertawa pelan, "Karena aku sadar, pasti Sasuke juga memiliki seseorang di sisinya selama aku meninggalkannya. Karena aku tahu perasaan orang itu pasti jauh lebih besar dariku. Karena itu aku menghargainya, apa aku salah Sara-san?"
"Tapi..." Sara kembali berjalan mendekati Sakura, "Tapi kenapa Sasuke-kun masih memilihmu?" Sakura sudah tidak tahu apa lagi yang harus dia katakan.
Diam-diam Sakura berpikir untuk mencari jawaban yang pas. "Yang apa? Jika mereka berdua memang benar-benar mencintainya, mereka tidak akan meninggalkannya. Kenapa kau harus takut bahkan kau belum mencobanya." Hingga ucapan Ino menyadarkannya.
"Karena Sasuke lebih mencintaiku." Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
"Aaaaaa!"
.
.
.
Tolonglah
.
.
.
Tangan Hinata bergetar hebat, "Sa-Sakura-chan... or-orang i-itu mem-mem-membawanya pergi." Hinata menyentuh rambutnya yang mulai kusut, "Sa-Sakura-chan... hiks... orang itu mem-membawanya di de-depan mataku... hiks."
"Tenanglah Hinata... katakan dengan tenang. Apa yang kau lihat tadi hm?" Sora mencoba untuk tidak kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri.
Mendengar adik satu-satunya di culik membuatnya hampir kehilangan akal sehat. Nyatanya ia juga sama seperti Hinata, pikirannya tidak fokus sama sekali.
"Hinata. Aku pasti akan membawa Sakura-chan pulang." Naruto memeluk Hinata erat. Semua orang yang berada di ruangan ini sama. Mereka tengah tidak fokus mencari Sakura.
Hinata menggenggam erat baju Naruto, "Saat itu aku berniat memanggil Sakura-chan tapi aku mengurungkan niatku, aku lihat dia tengah berbicara dengan seseorang, Sakura-chan mengenal orang itu. Mereka terus saja berjalan dengan berbicara... aku hanya mengikuti mereka dari belakang. Tapi... tapi kemudian orang itu su-sudah memasukkan Sakura-chan ke dalam mobilnya dan-dan membawanya pergi." Hinata kembali menangis histeris.
"Apa yang akan kita lakukan Sora?" Itachi melirik Sora yang terdiam. Kelihatannya mereka tidak menemukan jalan terang.
Sora menghembuskan nafas cepat, "Hubungi adikmu Itachi. Dia pasti tahu." Mata Sora menajam. "Dia juga pasti ikut melatarbelakangi semua ini."
Naruto terdiam. Sasuke? Ikut dalam penculikan Sakura...
"Teme. Kenapa dia bis-"
"Entahlah, tapi kali ini aku setuju denganmu Sora." Itachi merogoh sakunya.
Mencari kontak sang adik dengan harap-harap cemas jika adiknya tidak terlibat dalam insiden ini, "Sasuke? Kau ada dimana? Ah! Kau sedang ada pemotretan. Saat pulang tadi aku bermaksud mengambil berkas yang tertinggal,tapi aku tidak sengaja melihat Sora berwajah pucat lari ke dalam rumah, apa kau bisa menebak yang terjadi?" Itachi tertawa hambar, "Saki di culik. Kemarilah." Lanjutnya datar.
.
.
.
Tolonglah
.
.
.
"Aku sedang pemotretan. Apa yang membuatmu menelponku Itachi? Kau tahu aku sedang sibuk." Sasuke berjalan ke arah tempat duduknya. Melihat modelnya tengah tersenyum genit padanya.
Sasuke bergumam tidak jelas saat Itachi terdengar hanya basa-basi padanya, "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan Nii?" terdengar tawa hambar Itachi di sembrang sana.
Tanpa menunggu lima menit Sasuke mengambil kunci mobilnya. Muncul banyak nama dalam pikiranya, dan dia mulai tidak fokus mengenai siapa yang menculik Sakura. Wanitanya.
"Sial!" ia memukul keras kemudinya. "Kenapa dia begitu lemah sampai bisa di culik seperti itu. Cih dasar perempuan." Umpatnya kesal. Dan khawatir.
Sasuke melihat ada tiga mobil yang sudah terparkir tidak beraturan di halaman rumah Sakura. Ia berlari ke dalam.
"Akhirnya kau datang bocah." Mata Sora memandang Sasuke dengan tajam.
Naruto masih terlihat berusaha menenangkan Hinata, "Aku tahu. Aku terlibat dalam semua ini." Ia menunjukkan ponselnya yang tengah menelpon mantan kekasihnya tapi ia rasa itu sia-sia. Nomer itu tidak aktif.
Bugh! Sasuke mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Kau pantas mendapatkannya bocah." Sora melihat Itachi yang tengah memandang adiknya tidak percaya.
Itachi memandang tangannya yang ia gunakan untuk memukul Sasuke, "Aku kecewa padamu." Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Hentikan! Sa-Sakura-chan... jika kita tidak cepat menemukannya dia... dia pasti hiks... hiks..." Naruto memeluk Hinata erat.
"Sara tidak akan berani melakukan apapun pada Sakura." Kata Sasuke tenang. Ia memasukkan ponselnya kembali, "Aku minta maaf Sora sudah membuat adikmu dalam situasi seperti ini."
Sora melirik Sasuke dari ekor matanya, "Sejak beberapa tahun lalu kau selalu saja membuat adikku menderita." Sora tertawa pelan, "Karena dirimu aku melihat adikku menderita dalam diam!"
"Kau pikir aku tidak menderita?!" tanya Sasuke sarkastik. "Aku terpisah dengan orang yang ku cintai, aku berubah menjadi laki-laki berengsek yang sama sekali tidak dikenali oleh perempuan yang berharga untukku. Sekali saja... aku ingin mendapatkan apa yang sulit untuk ku dapatkan." Sasuke mencengkram kerah baju Sora. "Apa kau tidak bisa mengerti perasaanku?"
"Aku tidak ingin mengerti perasaanmu. Aku egois mengenai adikku." Jawab Sora dingin.
Plak! Kedua mata berbeda warna itu membulat saat merasakan panas di pipi mereka.
"Berhenti egois!" Ino mengepalkan tangannya erat, "Keselamatan Sakura lebih penting dari ego kalian berdua."
Sasuke melepaskan cengkramannya. Sora menghela nafas pelan.
"Maaf."
.
.
.
Tolonglah
.
.
.
Ikatan yang menutup matanya terlepas, "Apa ini sudah pagi lagi?" perempuan di depannya hanya diam. Ini pagi keduanya.
Ikatan-ikatan di seluruh tubuhnya mulai terlepas, ia tidak mengerti kenapa perempuan itu melepaskannya, jalan pikiran mereka begitu berbeda.
"Kau melepaskanku?" perempuan itu menyodorkan nampan berisi sarapan padanya.
Perempuan itu kembali duduk di depannya, "Mereka belum menemukanmu padahal mereka sudah tahu sejak awal aku menculikmu." Gumam Sara rendah.
Ia berusaha untuk berdiri. Berjalan perlahan ke arah perempuan rapuh itu.
"Aku akan melindungimu." Ia membawa Sara ke dalam pelukannya. "Mereka tidak sejahat yang kau pikirkan. Jika Sasuke sialan itu berani menyakitimu aku akan menendangnya." Ia terkekeh kecil.
Sara membalas pelukannya, "Kau perempuan yang baik."
"Tentu saja Jalang." Ia melepaskan pelukannya. Melihat wajah Sara yang tidak terpoles make up.
"Mulutmu kotor sekali sialan." Kekeh Sara pelan.
Mereka berdua memutuskan untuk sarapan bersama. Menikmati pagi mereka hanya berdua, Sakura menodong Sara untuk mengajaknya berjalan-jalan keluar, tempat tinggal model itu menurutnya lumayan.
"Tempat ini jauh dari keramaian. Damai." Mereka tengah berjalan ke arah sebuah jembatan penghubung.
Sara mencepol rambutnya tinggi, "Tempat ini warisan dari kakekku." Sara melirik Sakura yang tengah sibuk terpesona oleh pohon-pohon tinggi di sekitar rumahnya.
"Apa dulu kau sering bermain di bawah sana?" ia menunjuk tepian sungai. "Bermain air! Kau pasti tahu maksudku. Dulu aku dan Sora selalu bermain di sungai, melompat dari atas jembatan... tapi kau tahu jembatan di sini terlalu tinggi untuk bermain. Bisa-bisa kau mati jika melompat dari sini." Ia menoleh pada Sara yang tengah termenung memandang dasar sungai.
Ia memegang bahu Sara, "Jangan pernah berpikir untuk melompat dari sini." Perempuan itu menoleh dengan wajah datar padanya.
Sara memegang tangan Sakura yang berada di bahunya. Sara tersenyum memandang perempuan itu.
"Aku tidak pernah tahu rasanya kehilangan sesakit ini." Wajah Sara tersenyum hingga kedua matanya tertutup. Air mata juga ikut turun dari matanya.
Sakura mengacak rambut Sara, "Kau hanya belum terbiasa berengsek." Sakura memandang ke dasar sungai, "Kau hanya belum menemukan apa yang bisa membuatmu berjuang untuk hidup." Sakura tersenyum lebar. "Tenanglah ini tidak akan lama anak nakal."
"Apa kau akan kembali pada Sasuke-kun setelah ini?" Sara memandang datar ke arah Sakura.
"Entahlah. Hanya saja kelihatannya itu sulit," Sakura menopangkan tubuhnya di pembatas jembatan. "Aku tidak ingin menyakiti orang lebih dari ini, karena aku tahu rasa ingin mati itu seperti apa." Rambut panjangnya bergoyang tertiup angin.
Sara masih setia memandangi Sakura.
"Lalu sekarang rencanamu apa?"
Sakura melirik Sara dari ekor matanya, "Aku tidak berniat kembali ke New York. Aku tidak berniat pindah rumah. Aku tidak berniat mengganti profesiku. Aku tidak begitu berniat membuat perubahan di hidupku sekarang. Aku membiarkan perasaanku pada Sasuke mati secara alami, mungkin aku bisa mengikuti kencan buta seperti yang selalu kakakku lakukan, ku pikir itu tidak buruk." Sakura tersenyum. "Tidak akan ada yang berubah, hanya saja aku melepaskan apa yang tidak di buat untukku."
Sara memegang pundak Sakura, "Kau terlalu naif." Sakura terkekeh mendengarnya.
"Kenapa kau terlalu jahat pada dirimu sendiri sialan!" teriakkan Sara mengkagetkan Sakura. "Di sini... di sini akulah yang menjadi antagonis-nya apa kau tidak mengerti?! Yang jahat hanya boleh aku. Apa kau masih tidak mengerti? Apa seorang reporter tidak mengerti akan seni peran?" tangan Sara bergetar.
Sakura memeluk Sara.
"Ini hanya pendapatku. Setiap orang jahat pada diri mereka sendiri, rasa sakit yang mereka rasakan terkadang meluap hingga mereka tidak bisa menahannya. Karena itu mereka melibatkan orang lain." Sakura mengusap punggung Sara pelan.
Sara melepaskan pelukan Sakura, "Bukan itu. Rasa sakit itu membunuh."
"Aku tahu." Sakura kembali ke posisi awalnya, "Tapi asal kau tahu rasa sakit karena cinta seperti ini hanya seperti omong kosong. kau bisa menggantinya dengan cinta yang baru, tapi kehilangan cinta tulus kedua orang tuamu merupakan siksaan psikis yang menyakitkan. Karena cinta mereka adalah cinta sejati."
"Apa orang tuamu..." pertanyaan Sara menggantung.
"Jika kau ingin menemui mereka, kau bisa menggali kuburannya." Jawab Sakura enteng.
Sara mencengkram pundak Sakura, "Kenapa kau berbicara seenteng itu tentang kematian?" Sara menangis. Lagi.
"Apa? Mereka berdua sudah mati. Itu kenyataannya. Jika aku tidak merelakan mereka, aku tidak bisa melindungi orang yang ku sayangi. Lagi."
Sara mengendurkan cengkramannya, "Begitu..." ia menghela nafas pelan. "Tolong bantu aku."
"Untuk apa?"
"Hukum Sasuke-kun untukku." Sakura mengangkat satu alisnya ke atas.
"Kenapa harus aku? Kau bisa melakukannya sendiri."
Sara menggenggam tangan Sakura.
"Ku mohon. Tolong aku." Sara melepaskan genggamannya kemudian memandang sungai. "Aku tidak bisa menghukumnya. Aku tidak sanggup melihat Sasuke-kun menderita. Aku sadar aku tidak sekuat dirimu, karena itu hukum dia untukku maka aku merelakannya untukmu." Sara tersenyum.
Tanpa Sakura duga karena dia masih terhipnotis senyuman Sara. Perempuan itu sudah melompat dari atas jembatan.
"Sial. Perempuan berengsek!" teriak Sakura. Ia marah pada dirinya karena tidak bisa mencegah Sara bunuh diri.
Sakura memandang Sara yang terjatuh. Ia bisa menyusul dan menyelamatkan perempuan itu jika sekarang ia ikut melompat.
"Tidak ada pilihan lain."
.
.
.
Tolonglah
.
.
.
Sasuke membanting setir mobilnya, "Apa yang kau lakukan baka Sasuke!" teriak Itachi karena kaget melihat kelakuan adiknya.
Setelah dua hari mengorek informasi dari manager Sara akhirnya Sasuke tahu di mana Sara menyekap Sakura.
"Sial apa yang di lakukan perempuan bodoh itu." Degup jantungnya berdetak cepat. Meski sekilas, ia melihat bayangan Sakura melompat ke dalam sungai.
Tanpa pikir panjang ia melapas jasnya, "Apa yang ingin kau lakukan? Tempat Sara sudah dekat." Itachi memungut jas adiknya.
"Itu Sakuraku. Aku harus menyelamatkannya." Ia melihat Sakura berusaha menggapai seseorang di udara. Perempuan bodoh pikir Sasuke.
Sasuke ikut melompat ke dalam sungai, "Maaf Itachi aku tidak bisa kehilangan wanitaku untuk ke dua kalinya lagi."
"Apa yang kau lakukan Sasuke!" Itachi melihat adiknya melompat, "Sa-Sakura..." nafasnya tercekat melihat rambut merah muda juga ada di sana.
Sora turun dari mobilnya dan memandang heran pada Itachi. "Apa yang sedang kau lakukan?" Sora melihat sekitar, "Di mana Sasuke?"
Itachi memandang Sora dengan raut syok, ia menjatuhkan jas Sasuke di tangannya, "Sa-Sakura melompat ke dalam sungai."
Mata Sora membulat, "Ad-Adikku?!"
.
.
.
To be Continued.
A/N :
Yosh! Update lagi... karena sekarang mau liburan panjang jadi bisa nerusin de hehehe selamat menikmati dan jangan lupa reviewnya ya.
Balasan Review :
AAALovers : weh rupanya ane kalah sama reader nih . aku aja udah lupa nih cerita sampek mana. Terima kasih udah review.
Wowwoh geegee : mungkin dari sini bisa maju! Jalan hahaha. Terima kasih udah review.
Dinda adr : pokoknya ini gak sampek nembus 20 chap. Terima kasih udah review.
Guest : nggak. Ane kagak terlalu suka sad end. Terima kasih udah review.
