Mata hazel kecil itu memandang datar pada nisan di depannya. Lain lagi dengan mata emerald di belakangnya.

"Onii-chan."

Sora melirik tangan kecil yang menarik lengan bajunya, "Apa yang kau ingin 'kan?" dari sudut matanya ia dapat melihat adik kecilnya melihatnya dengan ragu.

"Kaa-chan. Apa dia benar seperti yang selalu Tou-chan tunjuk 'kan?" Sora tersenyum remeh.

"Hn."

Sakura kembali menarik lengan baju kakaknya, "Onii-chan. Apa kau membenciku?" Sora terdiam. "Kau selalu dingin kepadaku. Apa kau membenciku?" tanya Sakura lagi.

Anak kecil sepertinya tidak bisa berbohong terhadap perasaannya sendiri. Ia membenci adiknya. Sangat. Apa ia tidak menginginkan adiknya lahir? Iya. Jika bisa ia akan menukarkan nyawa adiknya pada Tuhan dengan nyawa Ibunya, gadis kecil itu sudah membunuh Ibunya. Mebuki Haruno.

"Menurutmu?" ia menghentakkan tangannya hingga genggaman Sakura pada lengan bajunya terlepas.

Gadis kecil itu tertunduk kemudian tersenyum samar, "Aku tahu Onii-chan menyayangiku lebih dari apapun yang kau miliki." Gadis kecil itu mendongakkan wajahnya, "Karena Tou-san pernah mengatakan padaku, semua orang memiliki caranya sendiri untuk menyayangi dan melindungi seseorang yang berarti di hidupnya."

"Begitu pula Kaa-chan." Sakura maju dan menggenggam tangan kakaknya, "Sakura tidak akan marah pada Sora." Adik kecilnya tersenyum lebar padanya.

"Kau hanya berusaha mendapatkan maaf dariku, hm?"

"Tidak." Sora melirik adiknya. "Aku tidak memiliki salah padamu. Kenapa juga harus mendapatkan maaf." Adiknya terkikik geli.

Sora menyentuh kepala adiknya, "Kau akan sepertiku saat tahu rasanya kehilangan." Mata bulat adiknya menatapnya lekat.

"Kalau begitu Sora harus selalu ada di samping Sakura untuk menghibur Sakura." Ucap Sakura enteng. Ia memberi pelukan pada kakaknya.

"Tou-chan kembali!" mereka melihat ayahnya tengah berlari ke arah mereka dengan wajah konyol.

Sora membalas pelukan Sakura, "Hn. Aku berjanji."

Teman Lama

.

.

.

Teman Lama

Disclimer : Om Masashi Kishimoto

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. – Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Drama/Friendship

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Mempersembahkan

"Sara!"

Mata Sara terbuka, "Apa yang kau?!" melihat Sakura ada di depannya membuatnya marah.

Grep! Sakura membawa dirinya ke dalam pelukan perempuan itu, "Aku akan melindungimu." Byur!

"Sakura!"

Sakura tersenyum mendengar suara Sasuke sebelum warna merah menutupi semua penglihatannya dan menjadi hitam.

.

.

.

Permohonan.

.

.

.

Byur!

Itachi terdiam melihat tubuh adiknya masuk ke dalam sungai, "Itachi kita harus cepat turun ke sana dan menunggu bantuan datang."

"Hn." Wajah Sora begitu suram.

Warna merah darah mulai menyatu dengan warna air sungai, ke tiga tubuh itu mengambang. Sebelum tubuh-tubuh itu terbawa arus sungai, Sora dan Itachi masuk ke dalam sungai, Sora menggapai Sakura, ia melihat sekujur tubuh adiknya yang penuh luka dan semoga adiknya tidak mengalami luka yang serius.

Sora menutup mulutnya, "Sakura, kau harus bertahan." Sora menggendong adiknya menuju tepian, "Aku akan mengutuk Tuhan jika dia merebutmu dariku."

"Kau butuh bantuan dengan Sasuke, Itachi?" Sora meletakkan Sakura.

"Kau bisa membawa Sasuke ketepian sendiri? Aku akan membawa Sara." Ucap Itachi kalem.

"Tentu."

Itachi terdiam melihat tatapan Sora pada Sakura, "Ku mohon jangan membenci Sasuke." Sora menatap Itachi.

"Aku tidak akan membenci orang yang bisa membuat adikku bahagia."

Sora tersenyum menatap Itachi.

"Sora-kun! Ambulance-nya datang." Itachi melambaikan tangannya pada Ino yang berada di atas.

"Terima kasih Sora."

.

.

.

Permohonan.

.

.

.

Sora terdiam memandang pemandangan kota dari dalam kantornya, ia menangkup wajahnya.

"Haruno-san. Adik anda sempat mengalami pendarahan di kepala, tapi beruntung kami dapat menghentikannya, kini kita hanya tinggal menunggunya melewati masa kritis." Sora termenung ketika ucapan Dokter kembali terputar dalam ingatannya.

Drrrt... drrrt...

Sora melirik ponselnya, "Apa ada masalah serius?" terdengar tawa renyah di seberang telepon, "Baiklah. Aku akan ke sana sekarang."

Sora menggapai cardigan-nya, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah cafe, dalam perjalanan ia masih saja memikirkan perkataan Dokter yang belum bisa hilang.

"Apa aku telat?" pria beriris hitam itu tersenyum padanya.

"Kau membuatku menunggu hampir sepuluh menit Tuan Haruno." Itachi menyesap kopinya.

Sora menggapai kursinya, "Jadi apa yang ingin kau diskusikan padaku Tuan Uchiha?" Sora mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. "Bisa kau beri aku kopi yang sama dengan dia."

Pelayan itu mengangguk lalu pergi, "Apa kau akan terus menyembunyikan Saki dari kami?"

"Aku tidak menyembunyikannya. Aku hanya menunggunya sadar dulu."

"Berapa angka kesadaran Saki yang dikatakan Dokter?"

"Dia tidak mengatakan apa pun tentang itu, Dokter hanya berkata gadis sialan itu harus melewati masa kritisnya dulu."

Sora mengangguk saat seorang pelayan datang mengantar pesanannya.

Itachi kembali menyesap kopinya, "Apa kau sadar jika maksud Dokter itu adalah Saki tidak mempunyai harapan hidup."

"Aku hanya mencoba tidak memikirkan itu." Sora tersenyum. "Aku percaya Sakura pasti bisa melewatinya." Sora memandang kopinya dalam diam.

Itachi meletakkan gelasnya, "Aku juga percaya itu. Tapi berapa lama kau akan menunggunya sadar Sora?"

"Jika aku bisa, aku akan menunggunya seumur hidupku." Sora menggaruk rambut belakangnya, "Aku tidak bisa melakukan apa pun lagi selain menunggunya sadar."

"Bagaimana jika aku bisa membantumu membuat Saki sadar?"

"Kau tahu bagaimana caranya?" tanya Sora sumringah.

"Tentu saja." Jawab Itachi mantap, "Tapi aku tidak memberikannya secara cuma-cuma. Ada harga yang harus kau bayar untuk itu."

Sora tersenyum meremehkan.

"Berapa uang yang kau inginkan Itachi? Apa keluarga Uchiha sedang mengalami krisis keuangan?"

Itachi mendengus pelan, "Kami tidak semiskin itu Sora. Aku hanya ingin tahu di mana Saki di rawat."

Sora menghentikan gerakannya untuk meminum kopi, "Hanya itu?"

Itachi mengangguk.

"Baiklah." Sora menaruh gelas kopinya, "Gadis sialan itu ada di lantai paling atas di kamar paling ujung."

"VVIP?"

"Tentu saja. Aku tidak ingin kehilangan keluargaku lagi." Sora melihat jam tangannya, "Aku menunggu bukti dari ucapanmu Itachi. Sekarang aku harus menghadari rapat."

Sora melenggang pergi dari cafe, Itachi hanya melihatnya dengan sebuah senyum.

"Aku hanya tinggal menunggu adik bodohku sadar." Itachi kembali menyesap kopinya.

.

.

.

Permohonan.

.

.

.

Perempuan itu berjalan dengan menenteng selang infusnya, setelah sadar satu hari yang lalu ia memulihkan dirinya untuk melihat orang yang sempat ikut terjun bersamanya, ia menatap pintu kamar bercat biru muda itu.

"Kau ingin bertemu Sasuke?"

Ia menoleh mendapati wajah yang sangat bersahabat, "Apa aku boleh melihatnya?"

"Tentu saja." Itachi membukakan pintu kamar rawat adiknya, "Kau boleh melihatnya sesukamu, Sara." Pria itu menatap adiknya yang masih menggunakan alat bantu bernafas untuk membuatnya hidup.

Sara mendekati Sasuke dengan menutup mulutnya, "Sasuke... –kun." Gumamnya pelan. Perempuan itu menangis.

"Sara kau bisa menjaga Sasuke sebentar untukku?" wanita itu mengangguk setuju, "Aku hanya sebentar. Aku harus memastikan sesuatu." Itachi menghilang di balik pintu.

Sara mengambil kursi di dekatnya.

"Kau pasti marah padaku." Tangannya menggenggam erat celana rumah sakitnya.

"Aku tidak bermaksud membuat Sakura ikut terjun bersamaku. Aku tidak mengira wanita itu senekat itu." Genggaman tangannya mengendur, "Aku hanya berpikir, jika aku jatuh ke sana mungkin aku bisa beristirahat di rumah sakit dengan tenang untuk beberapa saat, kau tahu... aku mencoba lari dari kenyataan."

Sara tersenyum samar, "Aku hanya ingin minta maaf. Maaf karena aku menyebabkan semua kekacauan ini, maaf karena membuat kalian semua berada di rumah sakit, dan maaf karena aku masih mencintaimu."

Sara menggenggam tangan Sasuke. "Aku tidak akan minta maaf karena sudah menculik Sakura." Tangan Sara satunya lebih memilih untuk membelai rambut Sasuke yang tampak sedikit kusut.

"Seandainya Sakura adalah temanku, dan aku bertemu denganmu lebih dulu mungkin kisah kita tidak akan seperti ini. Mungkin juga aku tidak akan terlihat begitu jalang di matamu, aku pasti akan terlihat menjadi seseorang yang lebih baik misalnya seperti Sakura, mungkin." Sara tertawa pelan.

Perempuan itu menghentikan tawanya, "Apa yang aku katakan dengan seandainya ini." Gumamnya pelan.

"Aku akan menjenggukmu setiap hari sampai kau sadar. Managerku memberiku cuti dua minggu." Perempuan itu memandang Sasuke dengan tatapan lega, "Maaf karena aku hanya berani mengatakan ini semua saat kau tidak sadar."

.

.

.

Permohonan.

.

.

.

"Hinata!"

Deidara berlari ke arah Hinata yang baru saja masuk kerja, "Kau masuk hari ini?" perempuan Hyuuga itu hanya mengangguk sebagai jawabannya. Membuat Deidara kembali duduk dengan tenang di bangkunya.

"Senang melihatmu hari ini Hinata." Sapa Anko, anak buahnya itu mengambil cuti sehari setelah Sakura mengajukan cuti. "Hinata bisa kau memberi tahu alasan Sakura tidak masuk setelah permintaan cutinya habis? Anak itu berkata akan mengurusi urusan keluarganya di Amerika," Anko memutar kursi menghadap Hinata.

Anko melihat Hinata berdiri tegak di depannya, "Anak itu meminta cuti tiga hari, tapi hingga saat ini dia masih belum menampakkan wajahnya di depanku. Apa yang perempuan sialan itu lakukan. Ini sudah lima hari dari terakhir dia menghubungiku, setelah itu aku tidak bisa menghubunginya. Apa kau tahu kabarnya?"

"Sakura-chan memiliki sedikit masalah." Ucap Hinata lesu.

Sasori menghentikan ketikannya pada keyboard, "Masalah? Jalang itu mempunyai masalah?" tanya Sasori dengan heran.

"Masalah apa yang menimpa perempuan sialan itu?" kini Deidara ikut menyahut dari balik meja kerjanya.

"Dia di culik." Semua orang yang tengah menyimak menghentikan kegiatannya dan beralih menatap Hinata.

Deidara berlari ke arah Hinata dengan cepat, "Kau yakin jika Sakura di culik?" tanyanya dengan tidak percaya.

"Kau yakin dengan informasi itu Hinata?" Anko melipat tangannya di depan dada. Menatap Hinata dengan tajam.

"Aku menjadi saksi matanya." Hinata menghela nafas dalam, "Aku tidak tahu jika Sakura-chan hari itu mengambil cuti, jadi aku berniat untuk ke rumahnya dan membahas masalah tugas meliput di Yokohama dari Anko-san. Dan ya... saat itu aku melihat Sakura-chan yang tidak sadarkan diri di bawa seseorang pergi."

"Kau tahu tentang keadaannya sekarang?" tanya Anko serius.

"Kakaknya berkata jika Sakura-chan masih harus melewati masa kritisnya, kami menemukan Sakura dengan kondisi yang mengenaskan. Itu pun setelah tiga hari penyelidikan." Hinata tersenyum ceria, "Tapi jangan khawatir Sakura-chan pasti bisa melewatinya."

"Kau tahu di mana Sakura di rawat Hinata?"

Hinata bungkam sebentar, "Maaf Deidara-san. Kakak Sakura-chan tidak memberitahukan di mana Sakura-chan di rawat pada siapa pun saat ini, dia hanya berkata saat Sakura-chan sadar kita boleh melihatnya." Wajah Hinata terlihat murung.

"Apa dia gila?! Kenapa kita tidak boleh melihatnya, mungkin saja dengan kehadiran kita di sana Sakura bisa sadar." Ucap Sasori kesal.

Anko menghela nafas pelan, "Kita harus menghormati keputusannya Sasori."

"Dia sama gilanya seperti Sakura." Dengus Deidara pelan. "Kita hanya bisa mendoakan perempuan jalang itu yang terbaik." Ucapnya kembali bersemangat.

Anko tertawa melihat tingkah Deidara, "Tenanglah, sebentar lagi kita akan melihat wajahnya lagi bersama kita."

.

.

.

Permohonan.

.

.

.

Sara menghentikan kegiatannya mengupas apel, melihat sosok yang tengah membuka pintu kamar Sasuke.

"Yosh!" sapa pria itu ramah.

Ia tersenyum ramah, "Ah! Uzumaki-san, Hyuuga-san." Ia berdiri dan memberi hormat pada keduanya, "Ingin menjenguk Sasuke-kun?"

"Ya, kami ingin melihat Teme karena belum bisa melihat Sakura-chan." Sara terdiam mendengar nama Sakura di sebut.

"Sara-san sudah di perbolehkan keluar?"

Sara kembali tersenyum, "Ya, Dokter berkata jika aku sudah pulih setelah sadar seminggu yang lalu. Dan aku sangat berterima kasih pada kalian karena tidak memperumit kejadian ini."

"Kami hanya menunggu Sakura-chan sadar untuk menindak lanjuti perbuatanmu Sara." Timpal Naruto serius.

Sara tertawa hambar, "Kau benar Uzumaki-san."

"Apa yang dokter katakan dengan keadaan Uchiha-san?" Hinata meletakkan parsel buah di meja, perempuan itu tersenyum padanya.

Sara melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, "Dokter berkata jika Sasuke-kun sudah melewati masa kritisnya dan sebentar lagi akan sadar."

Hinata duduk di sampingnya.

"Jadi selama ini Sara-san yang menjaga Uchiha-san?"

Sara mengangguk, "Aku memohon pada Itachi-san agar memperbolehkanku untuk menjaga Sasuke-kun. Hingga sampai dia sadar saja."

"Sebenarnya apa yang membuatmu berani menculik Sakura-chan?!" aura di sekitar Naruto menghitam.

"Naruto-kun!" timpal Hinata pelan. Hanya sekedar memberitahu Naruto jika pertanyaannya bisa menyinggu perasaan Sara.

Sara menggenggam tangan Hinata, "Aku akan menjawabnya Hyuuga-san. Aku tidak punya niat lain selain mengancam Sakura untuk menjauhi Sasuke-kun," ia tersenyum. "Tapi Sakura justru melindungiku."

"Sakura-chan tidak pernah mendekati Teme. Dia justru bermaksud untuk menjauhi kami berdua." Naruto tertawa, "Tapi kenyataannya kami justru gencar mencari keberadaan Sakura-chan."

"Aku tahu. Dia juga membuatku sadar kalau aku terlalu terobsesi pada Sasuke-kun."

Naruto menghela nafas pelan, "Kau benar. Aku juga sadar jika aku hanya terobsesi pada Sakura-chan karena sifatnya sama dengan Ibuku, dia menyadarkanku jika aku menyukai Hinata-chan. Bukan dia." Naruto melirik Hinata.

"Dia perempuan yang terlalu baik."

Hinata menggeleng pelan, "Sakura-chan tidak sebaik yang kau pikirkan Sara-san. Dia terkadang terlampau egois hihi, pada dirinya sendiri." Hinata melihat wajah Sara melembut.

"Sakura pantas mendapatkan Sasuke-kun." Hinata menggeleng pelan.

"Ku koreksi, Uchiha-san masih harus berjuang lebih giat untuk meluluhkan Sakura-chan." Hinata kembali tertawa, "Sakura-chan orangnya sedikit keras kepala."

Naruto terkekeh pelan, "Aku ingin melihat ke dua sahabatku bahagia."

"Kalian pasangan yang serasi." Naruto tertawa mendengar pujian Sara.

"Terima kasih."

"Nah, Teme sampai kapan kau akan bermalas-malasan di tempat tidur seperti ini?" ia mengerling pada Sasuke, "Kau tahu... Sakura-chan yang sekarang mustahil akan menunggumu sadar." Canda Naruto.

Hinata menatap jam di dinding, "Sebaiknya kita semua pulang dan membiarkan Uchiha-san beristirahat dengan tenang."

Sara memberesan barang-barangnya. "Sasuke-kun besok aku akan menjengukmu lagi."

Mereka bertiga menghilang di balik pintu. Perlahan bibir pucat Sasuke bergerak pelan, menghembuskan sedikit udara dari dalam mulutnya, matanya juga perlahan membuka.

"Dasar berisik."

.

.

.

To be Continued.

A/N :

Yosha! Saya kebanyakan liburan nih sampek lupa nerusin cerita. Jangan lupa review ya gaes ;D

Balasan Review :

AAAlovers : saya aja nggak pernah mikir cerita unik, maklumlah ide datang di saat saya lagi bengong. Terima kasih udah review.

Mantika mochi : biar aja, mungkin mereka ingin kembali ke masa kecil main seluncuran hahaha. Terima kasih udah review.

Bang kise ganteng : ati-ati kalo ngebut takutnya nabrak :v tentu bakalan balik dong. Terima kasih udah review.

Dianarndhara : yosh! Lanjut. Terima kasih udah review.

Dinda adr : okay lanjut. Terima kasih udah review.

Zarachan : lanjut!. Terima kasih udah review.

Cherry480 : okay bakalan saya jawab. Alasan Sasuke emang masih belum bisa di tayangin dalam cerita karena itu juga berhubungan jalan cerita selanjutnya, jadi harap sabar ya ;D. Terima kasih udah review.

Miuuchi : Panggil Hanna aja, okaay Ganbatte! Miuuchi-san! Terima kasih udah review.