"Sakura-chan! Ayo ke kuil." Ia membuka matanya saat mendengar suara berisik yang sangat familiar di telinganya. Ah! Hanabi. "Ayo membuat permohonan."

"Sasuke-kun kau baik-baik saja?" sebuah tangan hampir menyentuh wajahnya.

Ia menatapnya tajam, "Hn."

Perempuan di depannya urung menyentuh wajahnya, sebuah senyum tipis melekat di wajah ayunya. "Syukurlah," kini ia merasa bersalah. "Naruto! Tunggu aku!" perempuan itu berjalan cepat, meninggalkannya.

"Sasuke-chan. Benar?" ia menatap datar wanita di depannya.

"Apa yang anda ingin 'kan?"

Wanita itu tertawa keras, "Kau sangat berbeda dengan Itachi-kun." Wanita yang tidak ia kenal itu berdehem pelan. "Aku tahu kau sering ke tempatku beberapa kali, dasar tidak sopan. Kau mencium putriku di depan kami."

"Putri anda?"

"Sakura-chan. Putriku." Ia terdiam. Berarti orang di depannya ini adalah. "Haruno Mebuki, Ibu Sakura. Aku tahu kalian sekarang dalam kesulitan, aku akan membantumu mengatasi keras kepalanya anakku. Ayo kita bicara sambil berjalan."

Ia ingat sekarang. Sekarang dia masih koma di rumah sakit.

"Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan pada orang yang menyukai putriku, aku bukan seorang Ibu yang profesional hahaha. Sakura sama sepertiku, sangat keras kepala, egois, dan pemarah. Aku ingin dia bahagia untuk dirinya sendiri," ia hanya diam mendengarkan wanita itu bercerita.

Wanita itu tersenyum, "Perasaan Sakura belum berubah padamu, kau hanya tinggal berusaha sedikit lagi Sasuke-chan, aku tidak berharap bertemu denganmu lagi." Wanita itu mengelus pipinya, "Jadi bangunlah dan bahagiakan putriku, anak nakal."

Ia menyeringai, "As you wish Haruno-sama."

Semuanya mengabur dan berganti hitam, "Nah, Teme sampai kapan kau akan bermalas-malasan di tempat tidur seperti ini?" perlahan telinganya mendengar sebuah suara, "Kau tahu... Sakura-chan yang sekarang mustahil akan menunggumu sadar." Suara Naruto. Lagi. Dan apa-apaan dia itu mengatakan Sakura tidak akan menunggunya bangun. Rubah sialan.

"Sebaiknya kita semua pulang dan membiarkan Uchiha-san beristirahat dengan tenang." Sebaiknya dia tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Lebih baik menunggu mereka pulang.

"Sasuke-kun besok aku akan menjengukmu lagi." Sara? Jadi wanita jalang itu sudah sadar. Mungkinkah Sakura juga sudah sadar.

Setelah mendengar pintu ruangannya tertutup perlahan bibir pucatnya bergerak pelan, menghembuskan sedikit udara dari dalam mulutnya, matanya juga perlahan membuka.

"Dasar berisik."

Teman Lama

.

.

.

Teman Lama

Disclimer : Om Masashi Kishimoto.

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. – Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Drama/Friendship.

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read.

.

.

.

Mempersembahkan.

Sara menyelipkan beberapa poninya ke telinga, "Mikoto-san saya harus pamit undur diri. Pekerjaan saya sudah menanti."

"Oh benarkah Sara-chan," wajah Mikoto berubah lesu, "Aku senang kau menjaga putraku belakangan ini."

Ternyata nyonya keluarga Uchiha tidak semenakutkan yang Sara bayangkan, "Aku harap Sasuke-kun lekas sembuh dan menjemput calon istrinya." Sara tersenyum.

"Calon istri... siapa?!" tanya Mikoto dengan histeris.

Sara terkekeh pelan, "Anda pasti akan tahu jika Sasuke-kun sudah sadar Mikoto-san."

Wajah Mikoto kembali merengut tidak senang, "Hee~ itu tidak adil." Mata Mikoto kembal berbinar saat Itachi masuk ke dalam ruangan, "Nee! Sayang apa kau tahu calon adik iparmu?"

"Adik ipar?" tanya Itachi tidak mengerti. "Maksud Kaa-san kekasih Sasuke? Aku masih belum yakin he he."

"Aku berharap dia perempuan yang ku temui beberapa bulan lalu." Mikoto mengingat ke dua perempuan berambut hitam yang berpapasan dengannya. "Itachi-kun apa Sara-chan kekasih Sasuke-chan?"

Itachi melirik Sasuke yang masih belum sadarkan diri, "Dia mantan kekasih Sasuke."

"Benar 'kah? Kenapa Sasuke-chan mengakhiri hubungan mereka? Dia gadis yang baik." Itachi memandang Ibunya dengan tersenyum geli.

"Kaa-san tidak akan berkata seperti itu jika tahu yang sebenarnya," Ibunya terlihat akan membalas perkataannya. "Kaa-san pasti tahu. Bersabarlah sebentar. Apa Kaa-san akan terus di sini sampai malam? Apa Tou-san tidak pulang ke rumah?"

Ibunya tersenyum geli, "Aku melupakan Fugaku." Ucapnya riang.

"Ayo ku antar pulang." Ajak Itachi. Mikoto memandang Sasuke sekali lagi.

Mikoto menggeleng, "Sudah ada supir yang menjemputku. Jaga Sasuke-chan, Itachi-kun."

Setelah mengantar Ibunya ke depan, Itachi bersantai di atas sofa. "Bisa kita bicara?" mulut Sasuke bergerak pelan.

"Bicaralah. Aku akan mendengarkanmu," Itachi tidak bergerak sedikit pun dari posisinya. "Aku tahu berakting seharian itu melelahkan. Bukan begitu Sasuke?" Itachi melirik adiknya yang tengah terdiam.

Sasuke membuat badannya bersandar nyaman di kepala ranjang. "Katakan di mana Sakura sekarang?"

"Aku tidak akan memberitahumu."

"Katakan Itachi. Aku tidak sedang ingin bercanda." Sasuke menatap tajam kakaknya yang menutup matanya.

Itachi menyeringai, "Aku tidak sedang bercanda." Ia membuka matanya, "Kau tidak bisa mendapatkan informasi tentang Saki dengan gratis."

"Jadi apa yang kau inginkan berengsek?"

Itachi kembali menutup matanya, "Turuti semua perintahku."

.

.

.

Maaf dan Terima kasih.

.

.

.

Sora membuka sedikit jendela ruangan Sakura, sudah hampir setengah bulan adiknya terus saja tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran, ia hampir gila. Sora tidak ingin memikirkan semua dugaan konyol Itachi terhadap adiknya, ia tidak bisa kehilangan Sakura. Tidak untuk saat ini.

"Sakura apa yang sebenarnya kau rencanakan?" gumam Sora pelan.

Rambut adiknya sedikit tertiup angin. "Angin tidak baik bagi orang sakit." Perlahan Sora menutup jendela.

"Kaa-san dan Tou-san pasti marah besar padaku karena tidak menjagamu dengan baik," Ia menatap Sakura sendu. "Aku bukan Kakak yang baik bukan?" sebelah tangannya menutup mata. Sora tersenyum.

Air mata jatuh dari wajah Sora. "Sakura sampai kapan kau akan seperti ini?"

.

.

.

Maaf dan Terima kasih.

.

.

.

"Berikan apa yang aku inginkan Itachi." Ia keluar dari mobil dengan detak jantung yang menggila.

Tawa Kakaknya masih terngiang jelas di otaknya, "Kau mau Saki 'kan?" kakak sialannya itu membuatnya harus pensiun dari dunia fotografi dan bekerje menjadi wakil direktur, "Aku akan memberitahumu. Dia ada di lantai paling atas di kamar paling ujung, Saki berada di Rumah Sakit yang sama denganmu. Pergilah Sasuke.. berikan dia harapan untuk hidup kembali."

"Sial." Desis Sasuke. Dia tidak akan membiarkan perempuan jelek itu mati. Tidak tanpanya.

Ia menatap pintu bercat coklat di depannya, "Berikan aku kejutan Sakura." Ia memegang kenop pintu, memutarnya secara perlahan.

Sasuke terdiam di ambang pintu.

"Hai."

.

.

.

Maaf dan Terima kasih.

.

.

.

"Kau tahu tempat di mana Sakura di rawatkan Sasuke-kun?" ia memandang jijik wanita di depannya.

Ia kembali berjalan, "Sasuke-kun. Ku mohon beritahu aku, aku hanya ingin minta maaf." Ia berhenti berjalan. Menatap mantan kekasihnya itu dengan tidak suka.

Sasuke tidak mengatakan apa pun, ia kembali berjalan, "Terima kasih Sasuke-kun."

Sauke menggenggam lama kenop pintu itu, ia menghela nafas pelan dan tersenyum kecil.

"Maaf aku terlambat Sakura." Sasuke mengecup dahi Sakura tanpa malu di depan Sara. "Apa hari ini menyenang 'kan?" Sasuke mengganti bunga di dalam vas dengan yang baru.

Tidak ada jawaban.

"Kau pasti selalu tertawa setiap hari karena melihatku seperti ini." Sasuke membuang bunga layu itu ke dalam sampah, "Hari ini kau mempunyai tamu spesial. Sapalah." Sasuke mengisyaratkan Sara untuk mendekat ke arah ranjang Sakura.

Sara menyentuh rambut Sakura yang tidak terurus, "Sakura..." Sara menutup mulutnya untuk menahan isak tangisnya. "Berapa lama dia seperti ini?"

"Satu setengah bulan mungkin." Sasuke memejamkan mata dan bersender di sofa.

"Apa kau tersiksa melihat Sakura seperti ini?" Sara melirik Sasuke yang membuka matanya, "Apa kau merasakan dadamu berdenyut sakit?"

"Hn."

"Wanita bodoh." Air mata Sara kembali keluar. "Saat sadar nanti, kau harus minta maaf padaku karena sudah melibatkanku ke dalam kisah menyedihkanmu, terima kasih sudah menepatinya Sakura." Sasuke hanya diam dan mendengarkan Sara berbicara sendiri.

Sara mengeratkan genggaman pada tasnya, "Ini bukan kondisi dari janji yang ku tawarkan padamu, jadi cepat sadar sialan." Sara mengusap jejak air matanya. "Ayo akhiri permainan kita Sakura. Dulu atau sekarang Sasuke-kun masih milikmu."

"Apa maksudnya itu Sara?"

Sara menoleh pada Sasuke, "Kami hanya sedang bermain dalam sebuah permainan, dan aku selalu kalah." Sara tersenyum. "Sekarang dia sudah membuatku kalah telak."

"Katakan permainan apa yang sedang kalian mainkan?"

Sara tersenyum lebar, "Hanya ini dan itu."

"Katakan dengan jelas Sara!" Sasuke menggeram kesal.

"Lebih baik hanya kami berdua yang tahu permainan itu apa." Sara menghela nafas pelan, "Kau tidak akan senang jika mendengarnya."

"Katakan Sara."

"Sakura mempertaruhkanmu padaku, puas?!" Sara melipat kedua tangannya di depan dada. "Dia menyanggupi janji yang ku tawarkan padanya dan imbalannya adalah mendapatkan dirimu."

Sasuke terdiam.

Sara mengenggam kenop pintu. "Kami membuatmu menjadi permainan."

Sasuke menatap Sara dingin, "Pergi."

"Semuanya tergantung padamu." Pintu tertutup dengan sempurna.

Sasuke bergerak mendekat ke arah Sakura, menatap perempuan itu dalam diam.

Dia sangat kecewa.

"Jadi itu alasanmu?"

Setetes air mata jatuh dari mata yang tertutup saat Sasuke bergerak meninggalkan ruangan itu.

.

.

.

Maaf dan terima kasih.

.

.

.

Sakura tersenyum merasakan angin meniup padanya, dia berbaring di atas pada bunga yang luas.

"Di sini menyenangkan." Sakura menutup kedua matanya.

"Katakan permainan apa yang sedang kalian mainkan?" dengan kaget Sakura membuka lagi kedua matanya.

"Sasuke..." Sakura menatap langit dengan kosong, dia seperti mendengar suara Sasuke.

Ia bangkit dari tidurnya.

"Hanya ini dan itu."

"Sara?" Sakura menggerakkan kepalanya melihat sekitar, "Tidak ada siapa pun di sini." Hanya ada rumput dan bunga. Tidak ada hal lain lagi di sana.

"Katakan dengan jelas Sara!" Sakura mendongak ke langit ketika mendengar suara Sasuke lagi.

"Lebih baik hanya kami berdua yang tahu permainan itu apa." Suara helaan nafas Sara terdengar, "Kau tidak akan senang jika mendengarnya."

Sakura berdiri dengan takut, "Dari mana asalnya suara-suara itu? Aku tidak melihat ada seseorang di sini." Sakura menggigit bibir bawahnya pelan, "Sasuke!" tidak ada sahutan dari panggilannya.

"Katakan Sara."

"Sakura mempertaruhkanmu padaku, puas?! Dia menyanggupi janji yang ku tawarkan padanya dan imbalannya adalah mendapatkan dirimu."

"Janji apa yang sudah ku buat dengan Sara." Sakura memegang kepalanya untuk berpikir.

"Kami membuatmu menjadi permainan."

"Pergi."

"Semuanya tergantung padamu." Terdengar suara pintu tertutup.

Suara pelan langkah kaki mendekat ke arah Sakura, "Jadi itu alasanmu?"

Mata Sakura membulat. Derap kaki itu perlahan menjauh, "Anggap saja begitu."

Sakura kembali menghempaskan tubuhnya ke atas rerumputan penuh bunga itu, "Dasar bodoh." Setetes air mata jatuh.

.

.

.

To be continued.

A/N :

Update ditengah kesibukan kelas 12 :v jangan lupa reviewnya sis, gan :D

Review's :

AAAlovers : akhirnya bisa update. Terima kasih udah review.

Bang Kise Ganteng : tenang aja ane bakalan update pada waktunya kok kwkwkwkw. Terima kasih udah review.

Dyn Adr : terima kasih udah review.

Mantika mochi : terima kasih udah review.

Imakakoeni : panggil Hanna aja de ;D terima kasih udah review.

Zarachan : yosh! Up. Terima kasih udah review.

Name nindy djou : Ini udah update. Terima kasih udah review.