Sora tersenyum setelah membuka pintu ruangan adiknya, "Apa harimu menyenangkan Sakura Ojou-sama?"

"Besok hampir dua bulan. Aku pikir lebih baik aku memberitahu Ino tentang kondisimu." Sora melihat ke arah vas bunga yang berada di atas meja. Dia menghela nafas pelan.

Sora melihat bunga di genggamannya, "Dia sepertinya tidak datang lagi ke sini. Bagaimana pun juga aku harus menggantinya," dia melirik Sakura. "Bunga jelek ini merusak pemandangan."

Sora melempar bunga layu itu ke tong sampah. Ia mulai membuka bungkus bunga bawaannya.

Di ruangan itu hanya terdengar bunyi denyut jatung Sakura, "Sebentar lagi musim panas." Gumam Sora pelan.

"Apa kau mau ke Pantai?" Sora masih berkutat dengan pembungkus bunganya.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit, bunyi hampa itu terdengar panjang. Bunga yang di pegang Sora jatuh.

"Huh?"

Teman Lama

.

.

.

Teman Lama

Disclimer : Om Masashi Kishimoto.

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. – Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Drama/Friendship.

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read.

.

.

.

Mempersembahkan.

"Itachi?! Kau... ingin mengujungi Sakura?"

Itachi menaikkan satu alisnya ke atas, "Ada apa dengan penampilanmu?"

Rambut acak-acakan, dua kancing kemeja atasnya terbuka, dasi dan jas yang di lemar begitu saja ke atas sofa, lengan kemeja yang sudah tertekuk hingga siku. Dia terlihat bukan Sora Haruno yang selalu perfeksionis.

"Aku hanya sedikit mengalami guncangan." Jawab Sora singkat.

Itachi mendekat ke arah Sakura.

"Kau putus dengan Ino?" Itachi mengecum sekilas dahi Sakura.

"Lebih buruk dari itu."

"Apa kabar Saki?" Itachi merapikan rambut yang menutupi wajah Sakura, "Lalu apa yang membuatmu seperti itu?"

Sora merebahkan dirinya di atas sofa, "Sakura."

"Sakura terlihat lebih baik saat ini. Apa yang sedang kau permasalah 'kan?" Itachi melirik Sora dengan tajam.

"Dia mengalami flat line dua kali." Desis Sora frustasi.

Itachi menghentikan kegiatan mencium rambut Sakura, "Maksudmu jantungnya berhenti berdetak dua kali?!" Itachi melepas rambut Sakura dari genggamannya.

"Jika jantungnya berhenti berdetak lagi maka semuanya selesai." Sora menutupi wajahnya dengan lengan.

Itachi menyentuh kenop pintu, "Aku pasti tidak akan membiarkan itu terjadi."

.

.

.

Hello.

.

.

.

Itachi tersenyum mendengar pintu ruangannya terbuka.

"Anda memanggil saya Uchiha-sama?" Juugo berjalan mendekat ke arah Itachi.

"Kau masih saja memanggilku begitu? Panggil Itachi saja." Itachi mempersilahkan Juugo duduk. "Apa Sasuke ada di kantornya?"

"Dia bekerja keras beberapa hari belakangan."

"Aku ingin mendengar laporan kegiatan Sasuke beberapa hari belakangan ini." Itachi menutup dokumen di depannya.

Itachi menatap Juugo yang masih tidak berkata apa pun, "Sasuke melarangmu mengatakannya padaku?" Juugo masih terdiam, "Tampaknya begitu. Bicaralah, ini demi kebaikan Sasuke."

"Sasuke-sama hanya bekerja seharian dan hanya pulang untuk mengganti pakaiannya."

"Kau yakin hanya itu saja?"

"Aku yakin."

Itachi mengambil kunci mobilnya, "Terima kasih informasinya. Kembalilah, aku ada sedikit urusan."

Rumah besar keluarga Uchiha itu tampak sepi, Itachi berjalan menaiki tangga menuju kamar Sasuke. Ceklek. Tidak bisa dibuka, Sasuke menguncinya.

Dengan sedikit bantuan dari klip kertas Itachi berhasil membuka pintu kamar Sasuke.

"Ini menjijikan." Sampah dan baju kotor berserakan dimana-mana, bukan gaya Sasuke sekali.

Itachi mulai membersihkan kamar adiknya, "Jika bukan karena Saki aku tidak akan mau melakukan ini."

"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Itachi berhenti memunguti sampah di lantai. Ia tersenyum melihat Sasuke di ambang pintu.

"Kau sudah datang?" Itachi kembali memunguti sampah dan menghiraukan Sasuke yang terlihat marah. "Bantu aku membersihkan kamarmu."

Beberapa menit kemudian kamar Sasuke sudah bersih dan rapi.

"Kau tahu keadaan Sakura, Sasuke?" Itachi menyesap kopinya. "Jawab pertanyaanku Sasuke." Desis Itachi tajam.

"Aku tidak mau tahu tentang Sakura untuk saat ini."

"Jika bukan saat ini kapan lagi? Belum tentu besok kau dapat menemuinya lagi." Ucap Itachi lirih. "Belum tentu kau bertemu dengan Sakura yang masih bernafas."

Sasuke tertawa pelan, "Kau bercanda? Dia adalah manusia boros oksigen."

"Ini yang terakhir aku memberitahumu, jika terjadi sesuatu itu resiko yang harus kau tanggung."

Itachi meninggalkan kamar Sasuke. Dia menutup pintu dengan senyum kemenangan.

Sasuke duduk di atas kasurnya.

"Sakura mati..."

.

.

.

Hello.

.

.

.

"Sakura..." Deidara menggenggam erat tangan Sakura. "Maaf aku baru mengunjungimu sekarang."

"Apa dia mempunyai harapan?" Anko melirik Sora.

"Tentu... Ku pastikan dia memilikinya." Sora tersenyum pahit kepada semua orang di sana.

Bug.

"Dia perempuan aneh. Dia pasti punya rencana sendiri untuk bangun." Sasori tersenyum menyakinkan.

Deidara tertawa.

"Benar. Sakura bukan perempuan lemah... seharusnya kau lebih tahu dari kami, Sora-san tahu segala cerita hidup Sakura lebih dalam." Deidara mengelus rambut Sakura. "Hei perempuan jalang apa kau tidak merindukanku?"

Sasori mendekat ke arah ranjang.

"Aku sangat sangat merindukanmu perempuan jalang." Dengus Deidara.

Sasori mengangkat tinggi sebelah alisnya, "Kau menangis?!"

"Siapa? Aku?! Tidak! Mungkin di sini ada yang menaruh bawang hingga mataku pedih." Deidara menengok kanan-kiri.

"Mengaku saja. Dasar banci."

Deidara menatap tajam Sasori, "Apa yang kau katakan bayi."

"Berhenti." Anko berdiri dari duduknya. "Kami pamit undur diri Haruno-san. Kami menantikan adikmu kembali bekerja bersama kami."

"Terima kasih. Ku pastikan dia akan kembali."

Sasori mengecup kening Sakura cepat, "Aku menantikanmu."

Deidara dan Sora melotot ke arah Sasori.

"Apa yang kau lakukan berengsek!" teriak keduanya berbarengan.

.

.

.

Hello.

.

.

.

Sasuke termangu di depan pintu ruangan Sakura.

Takut. Dia takut sekali jika Sakura mati.

"Kenapa aku jadi pengecut seperti ini." Desis Sasuke frustasi. Tangannya berkali-kali ingin menggapai kenop pintu.

Ceklek.

Bagian sofa tampak begitu menyedihkan, sampah dan baju berserakan di sekitarnya. Sudah berapa lama dia tidak kemari? Hampir beberapa mingggu, vas bunga kosong memang siapa lagi yang mau mengisi selain dirinya, Sora tidak akan sempat melakukannya dengan semua kesibukkan laki-laki itu.

Sasuke mendekat ke arah Sakura.

Kepalanya tertunduk.

"Apa kau menungguku ke sini?" tetap sama tidak ada yang menjawab.

"Bicaralah agar aku tahu." Sasuke menggapai tangan Sakura, "Apa kau benar-benar membuatku sebagai taruhan bersama Sara?" tidak ada jawaban.

Sebenarnya apa yang dipikirkan Sakura hingga membuatnya sebagai taruhan.

"Aku penasaran taruhan apa yang kalian mainkan. Jawab aku Sakura!" Sasuke tidak peduli jika dia berteriak di tengah malam. Dia kesal dan kecewa, pada dirinya juga Sakura.

"Cara apa yang bisa membuatmu bangun hn? Perlukah aku mati bersamamu agar kau mau menjawabku?!" Sasuke menatap penuh amarah pada Sakura. "Kau semakin hari semakin terlihat menyedihkan, apa kau takut bertemu denganku? Apa aku terlihat seperti monster bagimu? Apa aku tidak begitu berharga untukmu? Sakura..."

Tubuh Sasuke merosot ke lantai. "Katakan padaku apa yang bisa membuatmu bangun. Aku mulai lelah dengan semua ini, sedikit lagi aku akan berhasil mendapatkanmu. Kita bisa bahagia bersama, hanya kau dan aku."

Sasuke menyadarkan kepalanya di sisi ranjang.

"Kau selalu membuatku menunggu. Sampai kapan aku harus seperti ini? Apa kau sedang menghukumku? Jawab aku Sakura!" setetes air mata keluar.

"Aku tidak bisa selamanya melihatmu seperti ini. Aku tidak bisa terus melihat perempuan yang ku cintai berjuang sendirian, aku hanya seorang laki-laki biasa yang mempunyai rasa takut. Aku... takut kehilanganmu."

Sasuke berdiri. Tersenyum pedih pada Sakura.

Ia mengecup kening Sakura, "Ku mohon bangunlah. Aku akan menjadi seperti yang kau inginkan, berhenti berjuang sendirian seperti ini. Aku tidak suka."

"Aku memang laki-laki berengsek yang hanya bisa menyakitimu." Sasuke menggeser sedikit tubuh Sakura.

"Bahkan melihatmu seperti ini aku tidak bisa berbuat apa-apa." Sasuke naik ke atas ranjang. Berbaring di samping Sakura.

Sasuke memeluk Sakura, "Maafkan aku. Laki-laki tak tahu diri yang masih berani mencintaimu."

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitt. Sasuke jatuh tertidur tanpa mendengar bunyi flat line yang berdengung.

"He-llo."

.

.

.

To be Continued.

A/N :

Lama tidak bertemu! Sebenernya sih ini udah lama tapi belom sempet kena upload maklum saya sibuk belajar buat UNBK sama masuk kuliah. Jadi di perkiraan chapter depan itu udah ending dan di tambahi epilog. Akhirnya tamat juga T-T setelah sekian lama. Meski pun chapter ini terlihat garing.

Balasan review :

Cadis E Raizel : Tentu bakal marah orang dia dibikin jadi bahan taruhan :v terima kasih udah review.

Rastafaras Uchiha : wokeh maaf kelamaan updatenya, terima kasih udah review.

Syahidah973 : panggil seenaknya aja gpp. Terima kasih udah review.

Ai uchiharunochan : yang buat ya juga sama anehnya hahaha :v terima kasih udah review.

A panda-chan : terima kasih udah review.

Mantika mochi : perasaannya bingung itu mah, terima kasih udah review.

Zarachan : ini up, terima kasih udah review.

Moydini : saya pikir juga gitu ha ha terima kasih udah review.

Hyuugadevit-Chery : woo salam kenal! Terima kasih udah review.