Sakura berbaring di atas rumput dan menatap langit seperti biasanya.
"Sudah berapa lama aku di padang bunga ini? Ku pikir hampir 1 bulan lebih. Aku merindukan Sora, Ino, Deidara ha... aku merindukan semuanya termasuk Sasuke, aku hanya bisa mendengar mereka berbicara padaku, kenapa sakit sekali ketika mereka mulai putus asa denganku."
Dia memainkan rambutnya yang terus bertambah panjang, "Semua ini karena si bodoh Sasuke. Dia masih terdengar baik-baik saja dengan kondisiku di sana, bahkan belakangan ini aku tidak mendengar suaranya lagi. Apa dia berhenti mengunjungiku? Setelah marah-marah seperti?! Dasar sialan, awas kau ayam."
Sakura berdiri dari tidurnya. Dia bosan setiap hari selalu seperti ini.
"Kau selalu membuatku menunggu. Sampai kapan aku harus seperti ini? Apa kau sedang menghukumku? Jawab aku Sakura!" langkahnya terhenti.
"Sasuke..." dia mendongak ke arah langit.
"Aku tidak bisa selamanya melihatmu seperti ini. Aku tidak bisa terus melihat perempuan yang ku cintai berjuang sendirian, aku hanya seorang laki-laki biasa yang mempunyai rasa takut. Aku... takut kehilanganmu."
Sakura menutup mulutnya, "Kau takut kehilanganku Sasuke?" dia bahagia. Perlahan tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri, ada sosok Sasuke yang transparan tapi sangat jelas di matanya.
"Ku mohon bangunlah. Aku akan menjadi seperti yang kau inginkan, berhenti berjuang sendirian seperti ini. Aku tidak suka." Sakura merasakan seseorang mengecup keningnya. Kali ini bukan Sasori, tapi seseorang yang dirindukannya.
"Aku memang laki-laki berengsek yang hanya bisa menyakitimu, bahkan melihatmu seperti ini aku tidak bisa berbuat apa-apa." Mendengar perkataan Sasuke membuat dada Sakura terasa sangat sesak. Dia tidak bisa bernafas.
Perlahan Sakura mencoba berjalan ke arah sosok transparan Sasuke, "Kena-pa ak-ku?"
Sakura jatuh terduduk di hapadan sosok Sasuke.
"Ad-a apa deng-anku? Ap-pa ak-khu... ak-kan ma-thi..." Sakura memegangi leher dan dadanya yang terasa sakit. Dia masih ingin bertemu orang-orang yang dia rindukan di sana. Dia masih ingin hidup, terutama bersama sosok laki-laki di depannya.
Sakura menangis. Dia tidak bisa bernafas lagi.
"Maafkan aku. Laki-laki tak tahu diri yang masih berani mencintaimu."
Perlahan tubuh Sakura merosot ke tanah. Semuanya gelap.
Sakura tidak lagi merasakan sakit, dengan sedikit ragu ia membuka kedua matanya.
Dia melirik ke samping. Sakura tersenyum lembut.
"He-llo."
Teman Lama
.
.
.
Teman Lama
Disclimer : Om Masashi Kishimoto.
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. – Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Drama/Friendship.
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read.
.
.
.
Mempersembahkan.
Sora berjalan di lorong rumah sakit dengan gontai, kali ini ia hanya mengenakan pakaian seadanya, dalam bulan ini ia sudah mengambil cuti beberapa minggu dan memilih fokus pada kesadaran Sakura. Tidur di rumah justru membuatnya tidak tenang, memikirkan kemungkinan jika Sakura mengalami flat line lagi, dan terburuknya Sakura menghadapi maut sendirian.
"Pagi Haruno-san." Sapa salah seorang suster.
Sora tersenyum tipis. "Selamat pagi Tsunami-san. Selamat bekerja."
Begitu banyak sapaan dari suster-suster yang berpapasan dengannya. Semua orang di rumah sakit ini sudah hafal dengannya, tapi tetap saja hidupnya masih terasa menyedihkan, sebenarnya salah apa dia hingga di takdirkan seperti ini? Hidup penuh kemalangan.
"Haruno-san?"
Sora mengurungkan niatnya menyentuh kenop pintu, "Ya?"
"Berterima kasihlah pada laki-laki tampan itu. Sampai jumpa!" suster yang selalu menengani Sakura itu berlalu, tanpa menjelaskan apa maksud dari ucapannya.
"Aneh." Gumam Sora.
Pupil matanya melebar. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya sekarang, semuanya menjadi satu. Dia bahagia. Itulah yang ia tahu pertama kali.
Sora melangkah pelan. "Sa-Sakura."
Mata beriris emerald itu terbuka perlahan, meliriknya dengan sebuah senyum tanpa dosa.
"Kau! Apa yang me-" ucapan Sora terpotong ketika tangan Sakura menyuruhnya diam.
Sakura mengibaskan sebelah tangannya untuk menyuruh Sora keluar.
Sora tertawa tanpa suara.
"Baiklah... aku akan menunggu dia bangun." Bisik Sora.
Sakura kembali memeluk Sasuke dan menutup matanya.
Sora menutup pintu ruangan adiknya, "Awas nanti kau Sakura. Dasar gadis sialan, dia sudah membuatku frustasi." Sora berjalan santai menuju ruangan dokter yang merawat Sakura.
.
.
.
Kita.
.
.
.
Sakura mengusap perlahan rambut Sasuke. Dia sangat merindukan laki-laki ini.
"Dia terlihat seperti malaikat jika seperti ini," Sakura memperhatikan wajah tidur Sasuke dalam diam.
"Sebenarnya Kau atau akukah yang sudah berubah. kau atau akukah yang telah berbeda. boleh aku bertanya tentang itu?"
Mata Sasuke terbuka. Pandangannya pada Sakura begitu tajam.
Sakura tersenyum lembut. "Kau sedang tidak bermimpi. Ini aku... perempuan sialan yang kau cintai."
"Aku sudah mulai berhalusinasi." Gumam Sasuke pelan.
Sasuke kembali menutup matanya dan lebih merapat pada Sakura. Memeluk erat tubuh perempuan itu.
Sakura tertawa, "Bangunlah bodoh! Ini sudah pagi."
"Kau benar Sakuraku."
"Kau pikir aku siapa. Bidadari yang turun dari surga?" Sakura terkekeh pelan.
Sasuke kembali membuka matanya, "Terima kasih."
Perasaan ini belum pernah di rasakan Sasuke, melihat Sakura tersenyum padanya itu sudah lebih dari cukup untuknya, dengan semua yang sudah ia lakukan pada perempuan itu. Kini kebahagian Sakura merupakan segalanya.
"Untuk apa? Kau belum menjawab pertanyaanku tadi ayam."
"Berhenti memanggilku seperti itu." Ucap Sasuke kesal. "Kita sama-sama berubah. Mungkin aku yang memaksamu berubah, maaf membuatmu mengalami semua ini... semua salahku yang membiarkanmu menerimanya. Bagaimana pun juga terima kasih karena sampai saat ini masih tetap bersamaku."
"Aku akan selalu bersamamu."
"Kau tidak akan meninggalkan aku lagi 'kan?"
"Hahaha... dimana Sasuke yang dingin dan cuek dulu hm? Kenapa sekarang kau begitu manja padaku, dasar playboy."
Mereka berdua tertawa. "Aku akan menjadi seperti yang kau inginkan Sakura," Sakura membelai pipi Sasuke. "Sasuke Uchiha yang kau inginkan."
.
.
.
Kita.
.
.
.
Sakura tersenyum hangat melihat semua orang-orang dia rindukan, "Lama tidak bertemu."
"Kau!" Deidara berlari dan memeluk Sakura. "Dasar jalang sialan. Kenapa kau membuatku khawatir."
"Jangan menangis, aku sudah baik-baik saja."
Deidara melepaskan pelukannya, Sakura tertawa geli sambil menghapus air mata di wajah Deidara. "Sakura-chan!" suara orang berisik yang begitu ia rindukan.
"Minggir kuning," Deidara melotot pada Naruto. "Aku juga merindukan Sakuraku."
"Kuning?! Kau pikir rambutmu itu merah he?" Deidara berkacak pinggang menghadap Naruto. "Dan lagi... Sakuraku?! Hinata. Beritahu dia, dasar tidak tahu diri."
Naruto mengerucutkan bibirnya, "Tuan bukankah kau juga sudah memiliki tunangan? Sebenarnya siapa yang tidak tahu diri di sini," Naruto menatap tajam Deidara. "Aku sahabat Sakura-chan."
"Aku pat-"
"Berhenti meributkan tunanganku."
Semua mata melihat ke arah pintu. Sasuke berdiri dengan sombong di sana, "Tunangan?!" ucap Naruto, Deidara, Yahiko bersamaan.
"Hahaha... dia hanya bercanda. Dasar berengsek." Sakura tertawa melihat wajah kaget ketiga laki-laki itu.
Sasuke sibuk memasang bunga ke dalam vas. Meski begitu matanya masih jeli mengamati Sakura dan ketiga laki-laki yang berada di dekatnya, harus Sasuke akui ia benci melihat Sakura di kelilingi hewan-hewan buas seperti itu. Itu berbahaya pikirnya. Pikiran konyol Sasuke.
"Kalau begitu sebentar lagi kau bisa mulai kerja?" Yahiko bertanya dengan antusias.
"Aku harus memulihkan tubuhku dulu, setelah itu... kita akan mencari berita sebanyak-banyaknya!"
Sakura tampak begitu bersemangat. "Jangan melakukan hal gila lagi, kau membuatku takut setengah mati Sakura-chan."
"Kenapa kalian begitu menyayangiku? Aku jadi tidak bisa meninggalkan kalian." Naruto mengacak rambut Sakura.
"Aku pasti akan kehilangan adik kecilku jika kau pergi." Deidara bergumam pelan membuat Sakura tertawa.
Sakura sangat mengerti di antara orang-orang ini, dia begitu berarti bagi mereka, di dalam hati mereka juga dia sudah mempunyai tempat tersendiri. Sebagai seorang teman, sahabat, adik, kakak, bahkan orang yang mereka cintai. Dia beruntung mempunyai mereka semua, orang-orang yang begitu mencintainya.
Sasuke masih sibuk dengan bunganya, "Ku dengar Uchiha-san ada bersama Sakura-chan saat dia sadar,"
Hinata menutup laptopnya, "Kau sadar akan sesuatu bukan?" lanjutnya.
"Sesuatu..." Sasuke berhenti memasukkan bunga ke dalam vas. "Dia menghukumku."
"Seandainya Uchiha-san sadar lebih cepat, mungkin tidak akan seterlambat ini. Sakura-chan selalu menunggumu. Itu yang ku tahu."
Hinata menyesap tehnya.
"Bisa kau ceritakan tentang itu Hyuuga-san." Ia melirik perempuan anggun di depannya.
Hinata melirik Sakura yang masih sibuk tertawa bersama kekasihnya. "Aku mengenal Sakura-chan belum lama jadi aku tidak bisa bercerita banyak," perempuan itu tersenyum hangat. "Terkadang dia begitu kuat dan rapuh di saat bersamaan, aku benci saat Sakura-chan mulai menutup dirinya, Sakura-chan berpikir dia bisa mengatasi semuanya sendirian."
"Apa kau tahu tentang taruhan itu Hyuuga-san?"
"Tidak. Yang ku tahu hanya sebatas, Sakura-chan bersedia merelakanmu bersama Sara-san, dia bahkan ingin mencari laki-laki yang lebih baik darimu. Sakura-chan juga menyadarkan Naruto-kun bahwa perasaanya pada Sakura-chan hanyalah sebatas kagum, dia membuatku dan Naruto-kun bersama," Hinata kembali menyesap tehnya. "Sakura-chan sadar jika kalian berdua, Uchiha-san dan Naruto-kun pasti memiliki seseorang yang berharga selama dia pergi. Ku akui Sakura-chan seorang yang munafik, tapi... yang ku lihat dia hanyalah perempuan biasa."
Sasuke memandang Sakura.
"Sakura yang ku kenal dulu bukan orang seperti itu."
"Uchiha-san yang di kenal Sakura-chan dulu juga bukan seperti ini."
Sasuke menghembuskan nafas pelan. "Kau benar. Kami memang sama-sama berubah."
.
.
.
Kita.
.
.
.
Sora mendorong pelan kursi roda Sakura, sudah seminggu sejak Sakura sadar, dia begitu berterima kasih pada Tuhan untuk itu. Sakura harus berada di kursi roda dalam beberapa waktu, tubuhnya masih belum mampu untuk beraktivitas normal, Sakura juga di perbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit dengan syarat chek up seminggu sekali selama tubuhnya belum di nyatakan normal sepenuhnya.
"Kau yakin mereka tidak marah padaku?"
Sakura tertawa pelan. "Tentu. Kau anak kebanggaan mereka berdua."
"Aku tidak menyukai itu, aku ingin sepertimu menjadi anak kesayangan mereka berdua."
Semilir angin menerbangkan helai rambut mereka berdua.
"Kau sudah terlalu tua untuk itu Sora."
Sora mendecih pelan, "Kau pikir berapa umurmu sekarang gadis sialan."
"Setidaknya mereka berdua masih menganggapku anak perempuan kecilnya yang manis." Sakura menatap kedua nisan orang tuanya. "Lain kali aku pasti akan menemani kalian berdua di sana."
Sora menaruh sepasang buket bunga lili di makam kedua orang tuanya.
"Terima kasih tidak membawa Sakura bersama kalian," Sora mengelus kepala Sakura. "Maafkan aku tidak bisa menjaga gadis kecil kalian, aku begitu buruk menjadi ayah dan ibu bagi Sakura, bahkan saat melihat Sakura koma aku tidak bisa melakukan apa pun untuk gadis kecil kalian."
Sakura menggeleng pelan. "Jangan merasa buruk sendirian Onii-chan."
"Karena aku tidak bisa menjagamu kau mengalami ini semua. Aku memang pantas disalahkan." Sora menundukkan wajahnya.
"Semua yang ku alami merupakan pilihanku sendiri," Sakura memegang tangan Sora yang berada di pundaknya. "Ketika aku mengerti apa itu membenci seseorang. Aku tahu. Seseorang pasti mempunyai alasan untuk melakukannya, seperti yang kau lakukan dulu padaku,"
Air mata Sakura mengalir, "Dulu aku juga tidak tahu kenapa kau begitu membenciku, ternyata aku merebut Ibu yang kau sayangi, sejak saat itu... aku merasa berdosa padamu. Aku tidak akan menyalahkanmu tentang apa yang sudah terjadi padaku."
"Hentikan..." tangan Sora bergetar, "Persetan dengan dosa. Lupakan itu semua Sakura, aku tidak bisa menerima jika dulu aku begitu jahat padamu."
"Itu bukan apa-apa. Sekarang kau begitu menyayangiku itu sudah lebih cukup untukku."
Sora merunduk, mensejajarkan kepalanya dengan kepala Sakura. "Aku bahagia."
Tangan Sakura menyentuh pipi Sora. Mereka berdua tersenyum hangat.
"Kami bahagia Kaa-san, Tou-san."
.
.
.
Kita.
.
.
.
Sasuke mengamati Sakura yang tengah menjalani terapinya, kedua kaki Sakura masih belum cukup kuat untuk berdiri, tubuhnya masih membutuhkan terapi setelah hampir 2 bulan tidak terpakai. Menghabiskan waktu bersama Sakura menjadi agenda wajib di sela jam kerjanya nanti, dia tidak akan membuang waktunya hanya untuk bekerja, bersama Sakura sekarang lebih penting.
"Terima kasih," lagi-lagi suster itu tersipu malu ketika bertemu dengannya saat ia mengantar Sakura terapi. "Apa semua berjalan lancar?"
Sakura tertawa sarkastik.
"Seperti yang kau lihat. Kenapa kau harus mengantarku, aku bisa berangkat sendirian."
"Tidak." Sasuke mulai mendorong kursi roda Sakura, "Aku ingin menikmati waktu lebih banyak bersamamu. Apa yang akan kau lakukan dengan Sara?" Sasuke melihat rambut Sakura yang tengah di cepol. Tidak biasanya.
Mereka berdua berjalan pelan menuju parkiran.
"Wanita jalang itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya pada polisi, setidaknya karena dia sudah menculikku." Sakura tertawa pelan. "Aku tidak ingin dunia tahu jika artis kesayangan mereka melakukan percobaan bunuh diri karena putus cinta. Berita itu pasti menjadi besar dan memperngaruhi karirnya, setidaknya kasus penculikan masih bisa di tutup rapat."
"Kau sudah memikirkannya matang-matang."
"Ya..." Sakura menatap langit, "Aku sudah tidak sabar tertawa di atas penderitaan wanita jalang itu hahaha."
Sasuke menghentikan dorongan kursi rodanya, berjalan ke depan Sakura. Ia menyeringai jahil pada Sakura.
Tuk. Sasuke menyentil dahi Sakura.
"Inilah Sakura yang ku kenal sekarang. Kau berubah menjadi semakin menarik, ini membuatku semakin mencintamu." Cup.
Sasuke kembali mendorong kursi roda Sakura sebelum mendapat amukan. "Sialan kau Uchiha!"
Hatinya tahu seberbeda apa pun Sakura, dulu atau sekarang. Nyatanya rasanya pada perempuan itu tidak hilang, selama ini dia masih menyimpannya dengan rapi. Dalam hidupnya.
.
.
.
Kita.
.
.
.
Tiga bulan kemudian.
Harinya berjalan dengan begitu indah, Sara sedang menjalani masa hukumannya selama 4 bulan, tahun depan Naruto akan menggelar pernikahannya bersama Hinata. Ia menyesap coklat panasnya, sedangkan dirinya juga mulai membenahi kehidupannya, tentunya dengan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.
Ia membenarkan sedikit kacamata hitamnya yang sedikit melorot.
"Hari yang dingin." Ia membenarkan syalnya, sesekali ia juga menahan tawa. Earphone yang tengah bertengger di telinganya tidak mendengungkan apapun, "Musim dingin datang terlalu cepat." Mata yang tertutup kacamata hitam itu memang terfokus pada buku, tapi tidak dengan telinganya yang sibuk menguping.
"Sakura-chan! Setelah berita ini selesai ayo kita minum." Ia melirik tajam pada pria berambut orange yang tidak jauh di depannya.
Ia tersenyum ketika Sakura menampilkan wajah lesu, "Tidak tidak. Jika aku ketahuan minum Sasuke atau Sora lagi hidupku rasanya akan mati, padahal aku ingin sekali minum." Dia terkikik pelan ketika Sakura menjatuhkan kepalanya di meja.
"Mungkin lain kali Sakura-chan." Kepala Sakura kembali terangkat.
"Jam berapa sekarang Yahiko?" Sakura dan Yahiko sama-sama melirik pergelangan tangan Yahiko.
"Jam empat sore. Tidak terasa kita menghabiskan waktu cukup lama di sini." Sakura dan Yahiko melirik ke arah sekitar. "Orang-orang saat kita datang sudah tidak ada lagi." Lanjut Yahiko.
Sakura mengemasi barang-barangnya, "Aku harus pergi. Otakku sudah buntu di sini, aku akan mengabarimu nanti Yahiko daa..."
Ia melihat Sakura keluar dari pintu utama kafe, dengan gerak cepat dirinya juga meninggalkan kafe itu, berjalan di belakang Sakura dengan jarak aman. Ponselnya bergetar, "Bicaralah,"
"Aku sudah mengurus itu kemarin dengan perwakilan grup Shimurai. Mereka akan menemui Itachi besok, ya... kau tenang saja." Ia kembali memasukkan ponselnya.
Dia berhenti melangkah. Taman ini.
Sebuah senyum hangat muncul di wajahnya yang tertutup syal, melihat perempuan itu berwajah serius membuatnya ingin tertawa dan mencubit pipinya keras.
Sakura menghentikan jari-jarinya yang mengetik di keyboard, "Ini seperti de javu,"
Sakura menatap dirinya yang duduk bersebrangan, "Apa kita pernah bertemu tuan?" ini menyenangkan. Mengulik seutuhnya kegiatan Sakura Haruno.
Dia tidak berniat menjawab.
"Terus terang aku tidak nyaman kau terus berada di dekatku." Perempuan itu berbicara seolah-olah tidak peduli.
"Abaikan saja aku." Ia kembali membuka bukunya yang sempat tertutup.
Ia kembali mengukir senyum di balik syalnya. Ia mendongak ketika merasakan hembusan angin pelan di wajahnya, "Laki-laki jalang kau Uchiha."
"Laki-laki jalang yang kau cintai." Ia membuka kacamata hitamnya. "Apa harimu menyenangkan Sakura?"
"Sepertinya kau lebih tahu daripada aku." Sakura menekuk wajahnya.
Sasuke menutup bukunya, "Apa yang kau lakukan di sini? Udara sangat dingin di luar," senyum jahil Sasuke muncul begitu saja. "Apa kau sedang merindukankanku nyonya Uchiha?"
"Uch-Uchiha?!" Sakura melotot ke arah Sasuke. "Berengsek margaku Haruno." Sasuke menarik pinggang Sakura agar mendekat padanya.
"Kau pasti akan dengan suka rela melepas margamu demi aku." Ia menenggelamkan wajahnya di perut Sakura.
Inikah akhir yang Sasuke inginkan bersama Sakura? Tidak, bukan seperti ini. Ia mau sebuah ending bahagia selamanya, membuat Sakura untuknya selama-lamanya, itu akhir yang ia mau bukan yang lain.
"Kau fansku?"
Ia tertawa mendengar pertanyaan Sakura, "Jawaban apa yang ingin kau dengar dariku?"
"Apa saja." Sakura menangkup kedua pipinya.
Kehangatan tangan Sakura menjalar pada pipinya yang dingin, "Kau mau menjadi idolaku?"
"Wah," Sakura menggosokkan pelan tangannya di pipi Sasuke. "Aku sangat tersanjung menjadi idola seorang Sasuke Uchiha yang terkenal."
"Dengan semuanya yang sudah terjadi aku hanya laki-laki berengsek yang masih berani mengidolakanmu," Sasuke menggenggam tangan Sakura yang berada di pipinya, "Laki-laki bodoh yang tidak tahu cara berhenti mencintaimu."
"Berengsek," Sakura tersenyum hingga kedua matanya menyipit. "Kau juga laki-laki egois. Melarangku untuk berhenti mencintaimu, melarangku meninggalkanmu lagi tapi... kau tidak pernah melarangku mencintaimu selamanya."
"Kau harus mencintaiku selamanya Sakura."
Sakura menggeleng pelan, "Tidak. Aku ingin mencintai dengan sederhana, sekumpulan rasa sederhana yang akan menjadikan rasaku untukmu istimewa, aku ingin mencintaimu sesederhana Tuhan mencintaiku. Memberikan cintaiku padamu tanpa berharap apa pun."
"Tapi sayangnya Sasuke Uchiha juga seorang manusia. Tanpa kau harus berharap dia akan memberikan segalanya hingga... dia tidak sadar jika dia juga memberikanmu rasa yang menyakitkan, maaf aku tidak bisa tampil sempurna untukmu."
"Aku bersyukur kau tidak sempurna agar aku bisa melengkapimu."
"Kau bahkan masih mau bersamaku setelah semua yang terjadi." Mata kelam Sasuke berubah kosong.
"Semua salahku. Karena aku meninggalkanmu begitu lama semuanya menjadi seperti ini, hatiku sakit saat pertama kali melihatmu bukan sebagai sosok yang pernah ku kenal dulu. Maaf."
"Tidak perlu ada yang di maafkan Sakura," Sasuke menyatukan dahi mereka berdua. "Tapi sekarang kau harus tanggung jawab karena membuatku mencintaimu."
Sakura menghela nafas pelan, "Aku tidak punya pilihan selain ya."
.
.
.
To be continued.
A/N.
Akhirnya... akhirnya... sujud syukur ini cerita sampek akhir juga :v chapter depan tinggal epilog doang. See you last chapter ya guys :P jangan lupa tinggalin review kalian buat chapter yang di sengaja agak panjang ini.
Balasan Review :
Mantika mochi : tenang aja nggak kok. Terima kasih udah review.
A panda-chan : beruntung saya punya mood bagus buat ngelanjutin. Terima kasih udah review.
Ayuua : terima kasih udah review.
Rastafaras uchiha : butuh sebuah kesedihan untuk menuju kebahagian well terima kasih udah review ya.
Bang kise ganteng : makasih udah follow yak ini udah up moga berkenan aja de, terima kasih udah review.
Teme-kyun99 : flat line itu garis lurus di alat pendeteksi denyut jantung, biasanya kalo flat berarti jantung udah gak berdetak lagi setahuku gitu. Sama sebenernya ane udah bilang kalo chapter 13 kemaren garing-ring. Terima kasih udah review.
Uchiharuno sya-chan : yosh ending bahagia T.T tinggal sisa epilog aja. Terima kasih udah review.
Diniavivah23 : jangan lupa makan nanti sakit :v ficnya gak bakalan hilang kok hahaha, terima kasih udah review.
Hanazono yuri : oke. Terima kasih udah review.
echaNM : hoho iya, terima kasih udah review.
ApriliaPutri : ya gak dong, jangan sedih ane jadi ikut sedih juga hahaha. Terima kasih udah review.
Zarachan : terima kasih udah review.
Annis874 : ini udah end tinggal epilog doang. Terima kasih udah review.
Uchiha's family : sempet mikir sih laki-laki juga bisa nangis dong wong dia juga manusia, kalo emang beneran sayang juga mereka bakalan sakit hatinya ngeliat orang dia sayang kondisinya kayak gitu jadinya Sasu-chan di buat kayak gitu de. Terima kasih udah review.
