3 tahun kemudian.
Dia termenung melihat kakaknya menatap bahagia anak laki-laki berambut merah muda gelap di depannya, mereka berdua terlihat sama-sama bahagia, meski kakaknya sempat terpuruk dua tahun lalu tapi semua kembali seperti semula. Hidupnya dan hidup kakaknya.
"Sakura!" alisnya sedikit berkedut mendengar namanya.
"Panggil aku dengan sopan bocah."
Sora menghampirinya dengan tertawa, "Ichigo jangan seperti itu. Panggil dia dengan benar."
"Sakura ba-chan." Ichigo berkata dengan muka memerah malu, Sakura yang melihatnya menggeram gemas.
"Kemarilah bocah," Ichigo duduk di pangkuan Sakura. "kau sangat manis sekali, rasanya aku ingin memakanmu sekarang."
Ichigo memandang Sakura ngeri, "Tou-chan! Ba-chan ingin memakanku. Dasar wanita jahat."
"Hei... dari mana kau belajar bahasa mengerikan itu."
"Tentu saja darimu bodoh." Sakura menatap Sora kemudian tertawa keras.
"Aku punya penerus yang lucu, melihatmu sudah sebesar ini aku merasa tua. Ternyata aku sudah hidup terlalu lama hahaha," Sakura mengelus kepala Ichigo perlahan. "kau tahu Ino akan menikah dengan Sai musim dingin nanti. Kau baik-baik saja dengan itu?"
Kakaknya tersenyum penuh arti, "Tentu saja. Dia pantas menjemput kebahagiannya sendiri, aku sudah bahagia dengan apa yang ku miliki sekarang, hidupku sudah sangat bahagia."
"Ku pikir perasaan itu masih tersisa untuk Ino. Aku tahu meski kau menutupi semuanya, Ino yang bersalah atas berakhirnya hubungan kalian, dia sangat menyesal karena menyakitimu. Aku tidak bisa menyalahkan siapa pun," Sakura tertawa pelan. "aku adik dan sahabat yang tidak berguna bagi kalian berdua. Yang bisa ku lakukan hanya menghiburmu bahkan tidak seberapa dengan usahamu ketika aku koma dulu, aku bersyukur sekarang kau mempunyai keluargamu sendiri."
Sora memandang anaknya yang berada di dekapan Sakura, "Aku tidak membutuhkanmu berkorban untukku cukup berada di sampingku. Bahkan sebelum mendapatkan Ichigo aku sudah melupakan semua tentang Ino, aku tidak bisa terus membuat Istriku menunggu lebih dari yang dia bisa, aku mencintai mereka berdua begitu juga dirimu Sakura," Sora menyesap tehnya. "dan kau seharusnya juga sudah mempunyai keluargamu sendiri."
Sakura memeluk lebih erat Ichigo, "Keluargaku sendiri?"
Teman Lama
.
.
.
Teman Lama
Disclimer : Om Masashi Kishimoto.
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. – Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Drama/Friendship.
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read.
.
.
.
Mempersembahkan.
"Kita akan pergi ke Sakura 'kan?" Sasuke melirik anak kecil yang duduk di sebelahnya. Ia menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Kenapa kau begitu mirip dengan kami," mata hitam anak kecil itu meliriknya. "ini akan jadi hari yang berat. Sakura kau harus menemaniku."
"Om!"
"Berhenti memanggilku seperti Ichigo. Aku merasa seperti penculik anak." Sasuke memarkirkan mobilnya dan bergegas menggendong anak belum genap berumur tiga tahun itu.
Ichigo memainkan helai rambut Sasuke, "Om Sasuke memang seperti penculik anak, tua dan..." Ichigo membuat wajah sedatar mungkin tapi justru terlihat menggemaskan. "Wajahmu menyeramkan, Om Sasuke tidak pantas bersama Sakura. Nanti aku yang akan menikahi Sakura. Pasti!"
Sasuke menyeringai, "Mana ada penculik anak setampan diriku he! Umurku bahkan baru kepala tiga," Sasuke mencubit pipi Ichigo gemas. "Sakura milikku. Kau harus melewati mayatku dulu jika ingin menikahinya bocah."
"He~ dasar pelit." Gerutuan Ichigo membuat Sasuke terkikik pelan.
Ichigo memeluk lehernya dengan pipi menggembung sebal, "Selamat datang..."
"Bisa kau panggilkan Sa-"
"Sakura!" teriak Ichigo keras menghentikan ucapan Sasuke. "Ne~ Onee-chan panggil Sakura. Katakan padanya ada Om-om yang ingin menculikku."
Sasuke sweatdrop seketika. Anak ini tidak jauh beda menjengkelkannya dengan Sora jika menyangkut Sakura, dan jangan lupa kata-kata pedas yang sering terlontar dari mulutnya, itu pasti turunan dari Sakura. Setahunya Ibu Ichigo meski sedikit seram jika marah tapi dia wanita yang lembut, setidaknya hanya fisik yang menjadi turunan Ibunya oh! Selebihnya lebih menjurus pada Sora dan Sakura.
Dia seperti melihat Sakura kecil versi laki-laki.
Sasuke melirik resepsionis. "Apa anda mendengar permintaannya Nona... Saya?"
Resepsionis itu terkesiap mendengar teguran Sasuke padanya, dia terpesona rupanya. Sudah hal wajar.
"A-ah! Tunggu sebentar tuan," gadis memegang telepon dengan gemetar. "Ha-halo? Sakura-san. Suami dan anakmu sedang menunggumu di Lobi."
.
.
.
Epilog.
.
.
.
"Sakura! Sasuke akan membunuhku."
Sudah kesekian kalinya ia mendengar teriakan Ichigo melapor tentang Sasuke padanya, beruntung kini perkejaannya tidak sesibuk dulu, Sora sialan meninggalkan anaknya di sini. Ia meletakkan ponselnya.
Pipi Ichigo mengembung begitu besar, "Sakura~ Sasuke ingin mengambilmu dariku." Ichigo terlihat akan menangis.
"Berhenti menggodanya Sasuke. Uh! Kenapa kau begitu lucu sekali anak nakal," Sakura mencium kedua pipi Ichigo. "sepertinya Saya salah paham tentang kita. Dia mengira kau adalah suamiku, mungkin karena Ichigo yang begitu mirip dengan kita. He~ kenapa Tayuya melahirkan anak begitu mirip dengan kita seperti ini."
Sasuke menusuk-nusuk pipi Ichigo dengan jarinya. "Aku seperti melihat Sakura kecil versi laki-laki."
"Aku seperti Sakura?" mata Ichigo berbinar-binar. "Aku tidak suka dibilang mirip Tou-chan. Dia norak."
"Dia memang benar-benar mirip denganmu," Sasuke mencium pipi Sakura. "terutama ucapan pedasnya itu."
Sakura tertawa keras.
"Ichigo kau akan menjadi penerusku." Ucap Sakura bersemangat.
"Un! Ichigo menyukai Sakura!" teriak anak kecil itu girang.
"Kapan mereka berdua kembali dari Amerika? Berani-beraninya si berengsek itu menitipkan anaknya padaku."
Sasuke menyentil dahi Sakura, "Jangan mulut. Dia masih anak-anak Sakura," Sasuke melirik ke arah Ichigo yang memainkan rambut Sakura. "mereka akan pulang lusa, Ibunya tiba-tiba menelponku dan menitipkan anaknya pada kita. Mereka beralasan tidak bisa membawanya, bersama kita itu lebih aman katanya."
"Dasar wanita ja-" Sasuke menempelkan satu jarinya di mulut Sakura. "haha maaf itu kebiasaan yang sulit di hilangkan Sasuke."
"Aku tidak mau semua anakku mirip denganmu setidaknya satu harus menurun dariku," Sakura menatap tajam Sasuke. "Pendiam, begitu misterius, tampan atau cantik tidak masalah, dingin, pintar, dan begitu menyayangi Ayahnya."
Sakura mendengus sombong, "Lihat saja nanti. Anak-anak yang kau banggakan itu akan merebutku darimu haha."
.
.
.
Epilog.
.
.
.
Sakura mengeratkan coatnya, kini dia sudah tidak muda lagi seperti dulu, dia akui hidupnya yang sekarang sudah jauh lebih dari apa yang dia harapkan, kata bahagia saja tidak cukup untuk menggambarkan hidupnya sekarang. Kembalinya Sasuke dan hadirnya Ichigo menambah daftar panjang kelanjutan hidupnya.
Musim gugur datang lebih cepat.
Ketukan heelsnya berhenti, mata emeraldnya melembut melihat Taman yang menjadi saksi bisu hidupnya, jika di ingat semua berawal dari sini. Mungkin Taman ini juga sangat berarti bagi Sasuke, pria yang dicintainya.
"Sa-Sakura-san!"
"Oh! Apa yang sedang kau lakukan di sini?" dia menghentikan langkahnya ke arah Taman. "apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?"
Laki-laki itu menghela nafas panjang, "Ada yang ingin aku tanyakan."
"Bicaralah Kouji-san."
Angin musim gugur menghembuskan helai rambut mereka berdua.
"Kau tidak akan bisa membalas perasaanku bukan?" senyum pahit bertengger rapi di wajah Kouji. Karena laki-laki itu sudah tahu persis jawaban dari pertanyaannya.
Sakura tersenyum lembut. "Priaku sangat egois, dia tidak mungkin mau membagi miliknya dengan orang lain dan berengseknya lagi aku begitu mencintainya. Maaf sudah menyakitimu, jika saja... jika saja kau datang lebih dulu dari Sasuke mungkin aku lebih memilih jatuh cinta padamu, mencintai Sasuke tidak semudah yang ku pikirkan dulu."
"Sekarang mencintaimu juga terasa sangat sulit bagiku."
Sakura menyentuh pipi Kouji.
"Di kehidupanku yang lain, datanglah lebih dulu dan biarkan aku menjadi milikmu. Tapi tidak di kehidupanku saat ini," Sakura memeluk Kouji. "Sekarang Sasuke adalah porosku, pria yang sudah tidak bisa lagi ku tinggalkan. Maaf mengatakan ini tapi percayalah Kouji-san, aku bukan yang terbaik bagimu."
Kouji melepas pelukan Sakura. "Ini menyakitkan."
"Setelah ini jangan pernah mencariku dalam diri perempuan lain. Karena aku hanya aku bukan dia adalah aku, jangan pernah mencintainya sama dengan kau mencintaiku, cintailah dia sama dengan caranya mencintaimu."
Kouji tertawa pelan. "Tidak bisakah kau meninggalkannya untukku?"
Sakura menggeleng pelan. "Rasaku pada Sasuke tidak sebercanda itu."
"Maaf aku tidak bisa melupakanmu begitu saja."
Senyum palsu Kouji tertangkap oleh Sakura, sekarang dia benar-benar menjadi wanita jahat, tidak seharusnya ia menyakiti hati laki-laki tampan itu.
"Tidak masalah. Aku tidak bisa memaksa hati siapa pun," Sakura menghela nafas cepat. "Aku harus pergi. Ada seseorang yang menungguku pulang di rumah."
Kouji mengangguk pelan, "Sayonara... Sakura-san."
Sakura melanjutkan langkahnya melewati Taman, dia tertawa pelan. "Wanita jalang."
.
.
.
Epilog.
.
.
.
Setelah menahan senyum manis cukup lama Sakura menghembuskan nafasnya pelan, karena kenaikan pangkat menjadi pengawas reporter baru dia menjadi jarang melakukan liputan, mungkin hanya satu dua kali dalam dua bulan. Tapi itu tidak masalah asalkan gajinya tetap naik.
"Apa aku terlihat cantik tadi?" mata Sakura melirik Sasuke yang agak jauh dari tempatnya melakukan liputan.
Pria itu senang mengikutinya kemana-mana, padahal dia juga mempunyai pekerjaan yang tidak kalah penting tapi selalu berdalih jika semuanya sudah selesai, dengan terpaksa Sakura harus mengalah dan membiarkan pria itu mengikutinya. Sasuke terlihat tengah serius berbicara dengan seorang perempuan yang tidak Sakura kenal.
Yahiko mengisyaratkan Sakura untuk mendekat. "Aku suka senyummu di scene. Manis."
"Terima kasih sayang," Sakura menepuk main-main bahu Yahiko. "kau beruntung Sasuke berada jauh dari kita jika tidak kau pasti babak belur sekarang."
"Ku dengar presenter tampan Kouji-san menyatakan cinta padamu."
Sakura mengangguk.
"Itu sudah seminggu yang lalu. Dia laki-laki yang baik."
Yahiko melirik Sasuke dari sudut matanya. "Tapi entah kenapa kau jatuh hati pada pria berengsek sepertinya."
Sasuke sesekali memperhatikan dengan ekspresi tidak suka ke arah Sakura dan Yahiko, menurutnya jarak mereka berdua terlalu dekat, itu membuatnya tidak tahan untuk membawa Sakura menjauh dari pria orange itu.
"Uchiha-san... aku bersungguh-sungguh dengan perasaanku."
Sasuke melirik perempuan yang sudah seminggu bekerja menjadi sekretarisnya untuk menggantikan Juugo yang sedang menikmati cuti pernikahannya. "Aku pria yang sudah tidak mempunyai hati Nohara-san."
"Tidak masalah. Aku bisa menerimanya, aku pasti bisa mengubahmu perlahan."
"Tidak," Sasuke menggeleng pelan. "itu mustahil. Kau lihat wanita berambut panjang warna merah muda itu," Sasuke menunjuk ke arah Sakura menggunakan dagunya. "Hanya dia wanita yang bisa menyaingi Mikoto Uchiha dalam hidupku, namanya Sakura Haruno. Ku harap kau mengerti maksudku."
Perempuan kalem itu mengangguk pelan. "A-aku bisa mengerti Uchiha-san. Ber-berbahagialah dengan Haruno-san."
Sasuke menatap kepergian perempuan itu dalam diam. Tidak beranjak seinchi pun dari tempatnya, "Aku sudah membuang jauh-jauh sikap berengsekku, karena aku tidak akan bisa mencari Sakura yang lain selain dirinya."
"Apa yang sudah kau lakukan padanya?"
Sakura menatap selidik ke arah Sasuke. "dia pergi sambil menangis. Kau pasti menolak mereka dengan kejam lagi, dasar... bagaimana jika aku diperlakukan seperti itu?"
"Aku akan membunuh orang yang memperlakukanmu seperti itu," Sasuke mengandeng tangan Sakura dan memasukkan ke dalam saku coatnya. "lagi pula Sasuke Uchiha tidak akan pernah bisa menolakmu sayang."
"Dasar bajingan."
Mereka berdua berjalan ke arah Taman, kegiatan wajib mereka setiap sore adalah menikmati matahari terbenam bersama, itu usul Sasuke sebenarnya. Dengan senang hati Sakura menyetujuinya, tidak ada salahnya menghabiskan waktu untuk bermanja pada Sasuke, dengan senang hati Sasuke juga akan membiarkan Sakura bermanja padanya.
"Oh! Aku menemukan sesuatu di sakumu sayang." Mata Sakura berkedip beberapa kali.
"Sore musim gugur yang indah," Sasuke terkekeh kecil melihat wajah Sakura yang perlahan memerah. "Sakura apa kau mau menemaniku melihat sore seperti ini selamanya? Dengan keluarga kita sendiri."
"Dasar tidak romantis."
"Aku tidak bisa lagi mendengar orang mengatakan bocah strawberry itu anakku denganmu," Sasuke mencium pucuk kepala Sakura. "Jadi wanita jalang maukah kau menikah dengan pria berengsek tidak tahu diri ini?"
Sakura tertawa, "Inikah yang disebut orang akhir bahagia?"
"Aku tidak ingin memiliki akhir denganmu sayang."
"Apa kau masih membutuhkan jawabanku Sasuke?" Sasuke tertawa. "ayo kita buat cerita bahagia tanpa akhir Sasuke. Bersama anak-anak kita."
.
.
.
End.
A/N :
T.T akhirnya tamat juga. Untuk semua yang udah mendukung terima kasih banyak tunggu karya berikutnya ya
Balasan review :
Uchiha's family : terima kasih udah review.
Hyuugadevit-Chery : saya kurang suka sad end :'( terima kasih udah review.
echaNM : terima kasih udah review.
Diniavivah23 : ini lanjut yang terakhir hahaha, terima kasih udah review.
Ayuua : terima kasih udah review.
Annis874 : gak bisa buat panjang-panjang nih muehehehe, terima kasih udah review.
Hanazono yuri : terima kasih udah review.
Zarachan : terima kasih udah review.
A panda-chan : ini epilognya, terima kasih udah review.
Dewazz : terima kasih udah review.
Terima kasih buat sederet nama yang udah favorite :
Adriana697, Annis874, A panda-chan, ApriliaPutri, ArstellaDom, Bang Kise Ganteng, Devi386, Hafidzah426, Hana Sakurai, Harika-chan ELF, Himenatlyschiffer, Hyuugadevit-Chery, Jade Angel of Death Daniels, JeezyRy, Kodel, Miss Divania Cherry, Neko no Kitsune, Rastafaras uchiha, Rizky717, RizkyUmeda, Ryn Hatake, Sa'adah337, Sindi 'Kucing Pink, Takumidieva, UchiHaruno Sya-Chan, Uftifah437, Yanti Sakura Cherry, ai uchiharunochan, ayuua, azizaanr, chacha icha, cherrytakumi08, citradewipratiewy, devanichi, dianarndraha, diniavivah23, diyahrahayu aquariusduaribu, echaNM, eunike-chan, farhaaha, feyuchiha, hanazono yuri, ikalutfi97, imahkakoeni, kuuderegirl3, metgenevive30, novi indri, nrlhsnayy, pojangmacha, syahidah973, uchiha's family, uchiha sisil, wowwoh geegee, zeedezly clalucindtha.
Terima kasih buat sederet nama yang udah follow :
A panda-chan, ApriliaPutri, ArstellaDom, Bang Kise Ganteng, Cherry480, CherryAsta, Devi386, Hana Sakurai, Harika-chan ELF, Hyuugadevit-Chery, Izu13, Jade Angel of Death Daniels, JeezyRy, Kodel, Lady Etrama Di Raizel, Neko no Kitsune, Rastafaras uchiha, Ryn Hatake, Sa'adah337, Takumidieva, Uftifah437, Yumi UchiHaruno, ayuua, azizaanr, chacha icha, cherrytakumi08, citradewipratiewy, devanichi, dianarndraha, diniavivah23, diyahrahayu aquariusduaribu, echaNM, eunike-chan, farhaaha, feyuchiha, kakikuda, kuuderegirl3, lily-ly, metgenevive30, moydini, novi indri, nrlhsnayy, pojangmacha, ruwettoyo, ryouta sakura, sakurada chan, sayaka haruchan, uchiha's family, yaahaa, zeedezly clalucindtha.
