Warning :
R18+
Please do not try this at home
It's very dangerous!
Part 11 : First Kick
Pemuda Asia berwajah oriental itu sedang berdiri di tengah rerimbunan semak di halaman depan rumah Indonesia yang luas. Ia sedang menikmati sejuk dan rindangnya pepohonan di sekelilingnya. Udara siang hari jadi tak begitu terik berkat naungan pepohonan yang tumbuh dengan lebatnya.
Tiba-tiba irish matanya yang berwarna abu-abu gelap itu menangkap sesosok mungil tengah bersembunyi di balik semak. Daun-daunan semak itu bergoyang seolah ada yang menyenggolnya. Penasaran, iapun menghampiri rerimbunan semak hijau itu. Alisnya berkerut. Matanya terpincing.
"Hallo..." tegurnya ramah pada sosok mungil di balik rerimbunan semak.
Ternyata sosok itu adalah seekor kelinci kecil. Telinganya yang panjang bergerak-gerak. Hidung kecilnya yang berwarna pink muda mengendus-endus tanah. Bola matanya berwarna kehijauan. Bulu lembut di sekujur tubuhnya berwarna orange kekuningan.
Kelinci kecil itu melompat mendekati Malaysia. Ia menggesek-gesekkan bulu orangenya ke kaki si pemuda mungil sambil memasang wajah unyu. Malay menatap kelakuan si kelinci yang menggemaskan. Perlahan ia mengangkat si kelinci dan menggendongnya sambil tersenyum lembut. Pemuda Melayu itu menempelkan hidungnya pada hidung si kelinci kecil lalu menggoyangkannya gemas.
CUP
Tiba-tiba pipi Malay dikecup si kelinci kecil. Ia kaget dan menatap sosok binatang mungil itu dengan ekspresi terkejut. Sementara si kelinci hanya memasang wajah innocent setelah memberi kecupan tanpa ijin. Demi melihat ekspresi tanpa dosa dari si hewan berbulu lembut itu, Malay jadi tambah gemas. Dielusnya telinga si kelinci sambil menatapnya lembut. Digenggam dan didekatkannya binatang itu ke pipinya.
"Kamu mengingatkanku pada seseorang..." ujarnya pelan.
CUP
Tiba-tiba si kelinci kembali mengecup Malay. Kali ini bukan pipinya tapi bibirnya. Malay kembali terkejut. Namun karena binatang imut itu kembali mengeluarkan jurus wajah unyu-unyu, Malay hanya bisa tersenyum maklum.
Tak puas hanya dua kali mengecup, si kelinci kembali mengecup sang pemuda ganteng. Kali ini binatang mungil itu melakukannya dengan cepat dan bertubi-tubi. Malay sampai kewalahan karena mendapat kecupan yang membabi buta di pipi dan bibirnya. Lalu entah terkena sihir apa, tiba-tiba saja sosok hewan berbulu lembut itu sim salabim berganti menjadi sosok seorang pemuda bule berambut pirang orange dengan bola mata hijau. Pemuda bule itu memonyongkan bibirnya siap untuk mendaratkan ciumannya yang paling hot ke bibir si pemuda Asia.
"Uwaaaahhhhh...!"
...
...
...
Malaysia terbangun dari mimpi buruknya. Kedua tangannya berusaha mendorong wajah yang tadi tiba-tiba muncul di hadapannya. Namun ternyata itu semua hanya mimpi. Ia berusaha mengejar napasnya yang ngos-ngosan sambil menatap sekeliling. Rupanya ia sedang berada di tempat tidurnya. Ia menatap jam di dinding. Pukul 2 siang. Perasaan tadi ia baru saja selesai sarapan pagi. Berarti ia sudah pingsan beberapa jam lamanya.
"Hah?" Malay terkejut.
Di sisi sebelah kiri tempat tidurnya, sesosok tubuh besar tertidur nyenyak sambil menyilangkan kedua tangannya menopang kepalanya. Poni pirang yang biasanya tertata rapi jabrik ke atas, kini jatuh terurai ke depan hampir menutupi sebagian wajahnya. Di meja nakas yang berada di sebelah sosok yang sedang tertidur itu tergeletak berbagai macam benda. Mulai dari mangkok kotor bekas makan dengan sisa-sisa mie instan di dalamnya, cangkir berisi susu yang tinggal setengah, sebotol minyak kayu putih, wadah berisi air hangat dan beberapa benda lainnya. Malay baru menyadari di pangkuannya tergeletak selembar handuk kecil yang biasa digunakan untuk kompres. Ia memegang keningnya. Terasa agak basah. Rupanya Netherlands, sosok yang tengah tertidur nyenyak di sampingnya itu terus menerus mengkompres keningnya dengan handuk yang dibasahi air hangat.
Pemuda Asia itu mendekati sosok pemuda yang sedang tertidur di sampingnya. Untaian berwarna orange kekuningan milik si pemuda Belanda itu terjuntai ke bawah. Bola mata hijaunya terbenam di balik pelupuk matanya yang terkatup. Yang lucu, bibir milik Nether jadi terlihat agak monyong karena terhimpit dengan tangannya yang tersilang di atas kasur. Tambah lucu lagi ketika di ujung bibir yang agak monyong itu menetes air liur. Malaysia menahan tawa. Ia belum pernah melihat ekspresi Netherlands yang seperti ini.
Tangan kecilnya terjulur menjumput sehelai rambut pirang yang terjuntai. Malaysia merabanya dan terkejut. Ternyata ia baru mengetahui bahwa rambut pirang milik Netherlands terasa agak kasar. Mungkin itu sebabnya si pemuda bule itu selalu memakai hair gel kapanpun dan dimanapun untuk menyembunyikan tekstur rambutnya. Penasaran, disentuhnya lagi kumpulan rambut yang lebih tebal di atas kepala Netherlands sambil menatap wajah inosen si bule Belanda. Malaysia tersenyum. Aneh, kenapa hanya menyentuh rambut pirang milik si bule seperti ini, dadanya terasa berdebar-debar?
Tiba-tiba tubuh besar itu bergerak. Malaysia langsung gelagapan. Ia takut kepergok sedang "grepe-grepe" kepala rivalnya yang sedang tidur. Buru-buru ia mengambil posisi pura-pura pingsan lagi sambil berlindung di balik selimut. Sedetik. Dua detik. Tak ada suara. Ia mengintip perlahan dari balik selimut. Rupanya si badan besar itu hanya merubah posisi sedikit lalu kembali tidur. Malay menarik napas lega.
Kembali ia mendekati wajah si pemuda bule. Ditatapnya lekat-lekat wajah yang masih tertidur lelap itu. Malaysia bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang membuat tidur si pemuda Belanda itu lelap sekali? Apakah karena terlalu lelah menjaga dirinya sewaktu pingsan tadi? Pemuda mungil itu menatap mangkok kotor yang tergeletak di meja nakas di samping tempat tidur. Apakah karena terlalu mengkhawatirkan dirinya yang pingsan sampai-sampai si pemuda bule itu bela-belain makan siang hanya dengan mie instan di kamar?
Tiba-tiba kepala berambut orange itu perlahan mendongak ke atas. Malay terkejut saat pandangan mata si rambut orange itu saling bertautan dengan matanya. Si pemilik rambut orange terurai itu mengucek matanya masih setengah sadar. Namun begitu menyadari di hadapannya terpampang wajah sang preggy boy tersayang yang sudah siuman, buru-buru ia bangun dan duduk di kasur, bersebelahan dengan si pemuda mungil.
"L-loe dah sadar!?" ujarnya setengah menjerit.
Wajah Malay direngkuh oleh dua tangan besar milik Netherlands. Sang pemuda personifikasi negeri kincir angin itu tersenyum lega. Cepat-cepat ia merangkul tubuh mungil itu.
"Maafin gue ya..gue ngagetin loe.." ujar Neth. Suaranya terdengar bergetar.
Malaysia hanya diam ketika berada di dalam dekapan tubuh besar itu. Ia dapat merasakan sentuhan rambut kasar milik Netherlands di lehernya. Lalu aroma tubuh khas dari pemuda penggila susu itu terasa menari-nari mengelilingi tubuhnya. Malay seolah tenggelam dalam aroma tubuh yang tak bisa dilupakannya itu. Tanpa sadar ia memejamkan matanya seolah menikmati aroma tubuh milik rivalnya itu. Dan ketika dekapan itu berakhir, semuanya terasa sangat awkward.
"Hmm...jadi?" tanya Netherlands sambil menatap Malay.
"Jadi apanya?" balas Malay bingung.
"Jadi, ngga apa-apa kan kalau gue suka loe?" tanya Neth meminta ketegasan.
"A-aa..gu-gue..mmm..anu..ee-ah.." Malay menjawab terbata-bata, entah karena grogi, ge-er atau faktor loading lama.
Netherlands masih terus menatap wajah Malay lekat-lekat seolah menanti jawaban dari sang kekasih. Tatapan bola mata hijau itu makin membuat Malay tak bisa menjawab. Wajahnya makin memerah dan jantungnya makin berdebar kencang. Suasana awkward makin menjadi-jadi.
"Ashkjgplllmnffppt..." Malay makin meracau tak jelas.
"Pffffttt..!"
Netherlands menahan tawa sambil memegangi perutnya.
"Loe tambah imut kalo lagi grogi gitu!" ujarnya senang.
Dijawilnya pipi Malay sambil ditarik mendekati wajahnya. Pemuda Belanda itu tertawa lepas sambil masih mencubit pipi sang preggy boy gemas. Malaysia hanya terdiam kesal dengan wajah merona merah menahan tengsin gara-gara grogi ngga bisa jawab pertanyaan Netherlands. Memangnya gue marshmallow pake dicubit dan dijawil segala, batinnya. Ketika tawa lepas itu berhenti dan wajah pemuda mungil yang merona merah itu terpampang sangat dekat dengan wajahnya, Netherlands terdiam. Ditatapnya lekat-lekat wajah mantan rivalnya itu. Tangan besarnya menyentuh lembut pipi Malay sambil sesekali mengelusnya dengan perasaan sayang.
"I love you..." bisiknya tertahan.
Tangan besarnya menarik wajah Malay agar mendekati wajahnya. Tanpa ragu ia mendaratkan bibirnya ke bibir sang pemuda Asia. Malaysia yang terkejut dengan perbuatan Neth berusaha mendorong tubuh besar itu. Namun apa daya, tubuh mungilnya harus mengalah dan pasrah terhadap dominasi sang pemuda yang bertubuh lebih besar.
"Ah, Ne-Neth, ja-jangan!"
Terlambat. Netherlands yang mabuk kepayang itu terlanjur mendaratkan kecupannya bertubi-tubi di pipi dan bibirnya. Entah kenapa sama persis seperti mimpi yang ia alami sewaktu pingsan tadi.
Bibir itu makin menggila. Setelah puas mencium pipi dan bibir korbannya, bibir itu sekarang mencoba mengeksplorasi wilayah leher dan rahang sang pemuda mungil. Kali ini turut melibatkan lidah yang menari-nari naik turun di sepanjang leher jenjang itu. Sementara sang lidah masih sibuk menjelajahi wilayah leher dan rahang, tangan besar berkulit pucat itu juga tak hanya diam. Tangan besar itu bergerilya sepanjang punggung sampai pinggang sang korban. Alhasil sang korban pun mengeluarkan reaksi terkejut. Matanya terbelalak dengan mulut ternganga. Namun ia tak melawan dan seolah menikmati sentuhan sang pemuda bule.
Netherlands makin tak bisa mengendalikan dirinya sewaktu melihat ekspresi Malay yang terbawa 'permainan' panasnya. Bocah malang itu hanya bisa memejamkan matanya sembari mengerang lemah. Tubuhnya gemetar hebat. Tangan mungilnya meremas kaos orange yang dikenakan Netherlands. Demi melihat reaksi sang preggy boy itu Netherlands makin menjadi-jadi. Ia merebahkan tubuh mungil itu di atas kasur. Tangan besar itu menarik kaos yang dikenakan sang korban yang mengakibatkan tereksposnya dua benda kenyal berwarna kemerahan milik sang pemuda Asia. Sang pemilik kaos yang sedari tadi hanya memejamkan matanya menikmati tarian sang lidah basah, tiba-tiba menjerit tertahan. Rupanya benda kenyal lagi sensitif itu menjadi sasaran selanjutnya dari eksplorasi si tangan besar.
"J-jangan!" jeritnya tertahan.
Netherlands tak menggubrisnya. Ia malah semakin berbuat nekad. Sang pemuda negeri Tulip itu mendekatkan wajahnya ke arah dada sang korban. Bibirnya mendarat di wilayah paling sensitif di dada sang pemuda Asia itu dan tanpa penjelasan langsung mengecupnya. Kelakuan nekad sang pemuda bule itu berimbas pada reaksi tubuh sang korban. Tubuh yang tadi sudah gemetaran itu kini bertambah parah. Bibir itu bergerak ke arah bawah menuju perut sang preggy boy yang membuncit. Ketika sudah sampai di ujung perut buncit itu, tanpa peringatan lebih dulu, sang bibir langsung mengecup mesra bagian itu. Netherlands tidak hanya mengecup mesra perut tempat sang jabang bayi tumbuh itu, pemuda bule itu juga membelai dengan penuh kasih sayang sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang pemuda Asia. Untaian kasar berwarna orange miliknya bergesekan dengan kulit sang pemuda mungil sehingga menimbulkan sensasi yang aneh tapi seru.
JDUG
Tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak di dalam perut Malay.
"Hah!?" serunya kaget.
JDUG
Kembali ia merasakan gerakan samar dari dalam perutnya.
"A-apa itu barusan!?"
Tubuh Malay yang sedari tadi dalam kondisi terbaring langsung mengambil posisi duduk. Tubuh Netherlands yang sebelumnya berada di atas tubuhnya dan mendominasi dengan sentuhan-sentuhan erotis itu langsung didorongnya. Alhasil si tubuh besar itu jatuh terjengkang tanpa ampun.
"A-a-ada yang gerak-gerak di perut gue! Ada yang gerak-gerak di perut gue!" seru Malay panik.
Malaysia langsung berdiri dan lari-lari panik demi merasakan sesuatu yang samar-samar bergerak di dalam perutnya. Bocah preggy boy itu berlari kesana kemari sambil memegangi perutnya. Ia menjerit-jerit ketakutan seolah ada alien yang tumbuh dan meliuk-liuk di dalam perutnya.
"Toloong..! Indooon, tolongin gue! Perut gue gerak-gerak!" teriaknya norak.
Sementara si pemuda bule yang tadi jatuh terjengkang cuma bisa melongo sambil mengelus bokongnya yang sakit. Belum sempat Netherlands melakukan sesuatu, si bocah preggy boy itu berlarian ke arah telepon. Ia menelpon Indonesia yang masih berada di tempat bosnya.
"Indooon, cepetan pulang, perut gue-ada yang aneh dengan perut gue!" jeritnya di telepon.
Netherlands cuma bisa sweatdrop mendengar teriakan-teriakan panik si bocah di telepon. Ia juga mendengar sepotong kalimat tentang invasi alien, hilangnya MH370, dan ocehan aneh lainnya. Kasihan si bocah, sangking paniknya doi sampai membayangkan yang bukan-bukan.
"Heh bule, cepat berbuat sesuatu, jangan bengong aja!" Malay mencekik leher Netherlands karena panik dan mengakibatkan sang korban megap-megap kekurangan oksigen.
"A-apa yang terjadi dengan gue! Kenapa perut gue gerak-gerak sendiri!? Jangan-jangan gue bakalan bermutasi jadi alien!" Malay melepaskan cekikannya dari Netherlands dan berlari-lari panik lagi.
"..."
...
...
Netherlands speechless.
-o0o-
"Itu namanya gerakan bayi." ujar Indonesia setelah nanya-nanya sama mbah Google plus baca buku pedoman, majalah "Father and Baby".
"Bayi itu bergerak di dalam perut, bisa berupa tendangan, gerakan memutar, meluncur, dan macam-macam lainnya." jelas Indonesia sambil membaca buku pedoman kehamilan oleh-oleh dari si kodok brewok.
"Tapi gerakan tadi itu terasa samar-samar!" sergah Malay.
"Ya, namanya juga loe masih hamil muda, jadi gerakannya masih samar-samar. Nanti kalau usia kehamilannya sudah masuk 16 minggu ke atas baru lebih terasa jelas, begitu tertulis disini." beber Indonesia sambil terus baca buku panduan.
Malaysia tertegun. Ia mengingat kejadian sebelum peristiwa perutnya bergerak. Apa jangan-jangan perutnya jadi bergerak karena bereaksi dengan perasaan nyaman dan nikmat yang tadi ia rasakan sewaktu dicumbu Netherlands? Jangan-jangan tubuhnya ikut-ikutan bereaksi karena terbawa suasana yang ia rasakan?
Tiba-tiba saja wajah Malay bersemu merah.
"Nah, sekarang loe istirahat ya di kamar." Indonesia membimbing adik sekaligus partnernya itu berjalan menuju kamar.
Kedua sosok itu menghilang di balik pintu.
Sementara itu Netherlands cuma bisa mojok di pojokan sambil manyun.
...
...
...
TBC~
Doctor's Note :
1. Tendangan bayi
Merasakan janin menendang perut adalah salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar ibu hamil. Tendangan bayi adalah salah satu pertanda bahwa janin berkembang dengan baik selama di dalam perut. Pada awal usia kehamilan, ibu hamil akan sulit merasakan seperti apa tendangan bayi tersebut. Pada tri semester kedua dan ketiga, tendangan bayi akan lebih kuat dan ibu hamil dapat merasakan tendangan bayinya. Pada awal kehamilan, jarang sekali terjadi pergerakan janin. Tetapi seiring dengan janin yang terus tumbuh dan berkembang, frekuensi tendangan bayi akan terus meningkat dan lebih kuat. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada tri semester terakhir usia kehamilan, tendangan bayi bisa mencapai 30 kali per jam. Bayi cenderung bergerak di waktu-waktu tertentu, sebagai tanda penunjuk dia sedang bangun atau tertidur. Bayi biasanya aktif bergerak antara pukul 21.00 dan 01.00 dini hari, tepat di saat ibu akan tidur. Seiring bertambahnya usia kehamilan, bayi juga dapat merespon suara atau sentuhan yang didapatnya dengan gerakan. Ketika kehamilan memasuki usia 32 minggu, bayi yang bertambah besar akan tidak terlalu aktif bergerak karena ruang geraknya di dalam rahim semakin sempit.
