Part 12 : Tubby
Malaysia menatap pantulan dirinya di cermin. Completely naked. Ia menyentuh perutnya yang tampak menyembul keluar, tak rata seperti dulu lagi. Begitu juga pinggulnya yang mulai melebar ke samping, tak lagi slim and slender seperti dulu jua. Pipinya tampak semakin chubby dan berisi. Apalagi pangkal lengan dan pahanya yang makin melar dan membesar. Dua benda kenyal berwarna kemerahan di wilayah dadanya tampak meruncing. Entah kenapa akhir-akhir ini benda itu semakin sensitif jika terkena sentuhan.
Pemuda Asia itu menarik napas putus asa. Sudah baju ke-3 yang dipakainya tapi semuanya hasilnya sama, sempit! Terutama di bagian perut dan pinggang. Baju pertama yang dijajalnya adalah kaos biru bertuliskan i heart KL kesayangannya. Muat sih, tapi press body. Serasa jadi anak junkist! Baju kedua yang dipakainya adalah kaos polo berwarna merah yang sama persis dengan milik kakak tercintanya, Indonesia-maklum doi punya hobby nyama-nyamain bajunya Indonesia-juga sama. Bahkan lebih parah lagi. Ketika dipakai duduk, kaos yang pernah menyebabkan sengketa benci-tapi-rindu dirinya vs sang kakak itu akan terlipat ke atas karena tak sanggup menutupi kegendutan perutnya. Baju yang ketiga adalah kaos tangan buntung warna putih yang dipakainya kalau sedang membantu kakaknya berkebun. Hasilnya kembali nihil. Belum lagi celana-celana yang dijajalnya itu semuanya tak ada yang bisa diresleting! Malaysia pundung di pojokan putus asa.
"Terus gue mesti pakai baju apa...!?" tangisnya sambil cakar-cakar tembok.
Malaysia langsung introspeksi diri. Memang sih semenjak kehamilannya memasuki usia 16 minggu tiba-tiba saja nafsu makannya meningkat. Mual dan muntah yang dideritanya di awal-awal kehamilan hilang sudah berganti dengan keinginan untuk makan yang tak tertahankan. Rasanya selalu ingin makan lagi dan lagi. Makan sehari tiga kali saja tidak cukup. Setiap ada tukang jualan yang lewat di depan rumah yayangnya langsung dipanggilnya. Alhasil mulai dari tukang bakso, bakmi, gorengan, es cendol, cimol, otak-otak, es doger, semua langsung mangkal di depan pagar, menunggu dipanggil oleh sang preggy boy tersayang. Maklum karena kesibukannya Indonesia hanya bisa menyiapkan makanan sehari tiga kali saja. Selebihnya jika lapar, maka tukang-tukang jualan tersebutlah yang akan memuaskan rasa laparnya.
"Ya, kan gue harus makan buat dua orang, buat gue sama bayi gue..." kilahnya.
Hasilnya ya, seperti ini. Tubuhnya mekar luar biasa sampai koleksi pakaiannya tak ada yang muat. Malaysia jadi pingin nangis karena baju-baju kesayangannya ngga ada yang bisa dipakai lagi. Apakah ia harus pakai sarung? Ataukah ia harus pakai sprai? Lebih parah lagi, apakah ia harus pakai kain kafan motif polkadot!?
Tiba-tiba ia teringat akan baju-baju yang beberapa minggu lalu diberikan oleh France. Sepertinya ia terpaksa memakai baju-baju aneh itu karena tak ada satupun koleksi pakaiannya yang muat.
"Begini?"
Malaysia mengernyitkan dahinya di depan cermin. Tubuhnya berbalut celana jeans khusus bagi orang hamil dan atasan berwarna merah. Tampilannya jadi seperti orang aneh. Namun baju panjang selutut berwarna merah menyala itu ternyata muat di badannya. Bahannya juga nyaman dikenakan. Apalagi celana jeansnya. Melar dan fleksibel di bagian perut sehingga ia tak kesulitan bernapas dan tidak sakit sewaktu duduk. Ah ternyata walaupun seleranya aneh, baju buatan si kodok brewok itu bermanfaat juga untuk dirinya.
Ketika Malay sedang asyik mematut dirinya dengan baju merah itu, tercium aroma lezat dari luar kamar. Oh, sedapnya. Aroma yang khas ini sepertinya aroma sambal terasi favoritnya. Hidungnya langsung bereaksi mengendus-endus asal aroma itu. Tubuhnya terasa terbang melayang mengikuti arah asal muasal aroma tersebut. Ternyata aroma itu berasal dari arah dapur. Malaysia langsung meluncur ke TKP.
Di ruangan dapur yang cukup lega itu Malaysia melihat Indonesial sedang sibuk mengulek cabe dan rekan-rekannya di dalam cobek yang terbuat dari batu. Di meja makan sudah ada beberapa masakan tersaji nikmat. Asap putih mengepul hangat dari bakul nasi. Ada sayur asam, petai bakar, aneka lalapan dan ayam goreng. Yang paling penting, nomor satu dan favorit baginya adalah sambal terasi! Belum selesai Indonesia mengulek sambal di cobek berwarna hitam itu, sang preggy boy kemaruk sudah meluncur ke arahnya dan dengan sekali colekan, sambal nikmat itu langsung mampir ke lidah pemuda mungil itu.
"Hmmm...yummy! Ini kesukaankyuu!" ujarnya lebay sambil merangkul tubuh kakaknya dari samping.
Malaysia yang sudah ngga sabar menikmati masakan lezat yayangnya langsung menyambar sepotong tempe goreng, mencocolnya ke cobek berisi sambal lalu melahapnya. Tak puas hanya sepotong, pemuda beralis tebal itu kembali mengambil potongan tempe yang kedua. Makanan yang terbuat dari kedelai itu dikunyahnya dengan penuh nafsu. Belum habis potongan tempe yang kedua dikunyahnya, potongan tempe yang ketiga sudah dilahapnya lagi. Pipinya tampak menggembung karena mulutnya terisi penuh oleh tempe goreng. Dasar rakus!
Indonesia tertawa melihat kelakuan Malaysia. Pemuda berkulit sawo matang itu sangat paham dengan kondisi adiknya yang nafsu makannya sedang di puncak-puncaknya. Makanya mumpung ini adalah hari libur, ia menyempatkan diri memasak makanan yang agak banyak daripada biasanya. Rencananya ia juga mau membuat es pisang hijau, kolak pisang, bubur kacang hijau dan ketan hitam. Adiknya pasti senang.
"Oya, beib, ngomong-ngomong ini kan hari libur, kita kelonan di kamar seharian, yuk!" ujar Malaysia manja sambil gelayutan di tubuh yayangnya.
"Aku kan kangeeennn..." tambah Malay makin manja.
Indonesia memonyongkan bibirnya lalu mentoyor jidat Malaysia dengan panci. Wong lagi sibuk masak kok, malah diajak kelonan!
"Lagian kamu ngga capek, beib? Semalam kan kamu baru pulang dini hari dari tempat bosmu." tanya Malay.
Indonesia tersenyum simpul. Ia memang sangat sibuk akhir-akhir ini. Maklum sebentar lagi ia akan punya bos baru yang akan menggantikan bos lamanya untuk 5 tahun ke depan. Menjelang Hari-H pemilihan bos barunya itu ia harus bolak balik menyiapkan segala sesuatunya. Terkadang ia harus pulang larut malam bahkan dini hari. Ketika tiba di rumah, kedua suaminya itu sudah tertidur lelap. Beberapa kali, Netherlands kerap menunggunya di ruang keluarga sampai ia pulang sambil menonton pertandingan sepak bola di TV. Beberapa kali pula pria bule itu akhirnya jatuh tertidur di sofa karena tak kuat menahan kantuk menunggu dirinya yang tak kunjung pulang.
"Kalau capek jangan memaksakan diri, honey." ujar Netherlands yang tiba-tiba muncul.
Pemuda Belanda itu menatap wajah kekasihnya. Dipagutnya dagu Indonesia sambil menatap bola mata hitam kelam itu dalam-dalam. Ada rona kelelahan di wajah manis nan ganteng itu. Kelopak mata bagian bawah pemuda berambut ikal itu tampak kehitaman.
"S-sarapanmu sudah tersedia di meja makan, Neth." tukas Indonesia.
Entah kenapa ditatap dalam-dalam dan lama seperti itu membuat dirinya grogi.
Tubuh mungil itu kembali menyibukkan diri mempersiapkan minuman untuk dirinya dan juga kedua partnernya. Netherlands mengambil posisi di meja makan. Ia duduk di samping sang preggy boy yang sudah sibuk makan dengan lahapnya.
"Inyi enyag banget yoh." ujar Malaysia ngga jelas karena ngomong sambil mengunyah makanan dengan mulut penuh.
Iseng, Netherlands mencomot sepotong tempe goreng dari piring si bocah. Perbuatan usil itu langsung dibalas galak. Si empunya tempe goreng langsung merebut kembali apa-apa yang menjadi haknya. Matanya mendelik sangar seolah-olah berkata, "This is mine!"
Sang pemuda personifikasi negeri kincir angin itu tertawa geli. Dijawilnya pipi chubby sang preggy boy tersayang.
"Gendut!" ledeknya sambil tersenyum nakal.
Malaysia langsung merasa tertohok dengan ucapan si bule. Rasanya seperti ada pisau yang menancap di dadanya. Mak Jleb Jleb.
"Kali ini aku membuat sarapanmu dari singkong, bukan kentang." ujar Indonesia sambil menuangkan susu cair ke dalam cangkir lalu menghidangkan untuk Netherlands di meja makan.
"Hmm...singkong?" kata Neth terheran-heran sambil menatap sarapannya.
"Sekali-sekali ngga makan kentang ngga apa-apa kan? buat variasi." tambah Indonesia sambil tersenyum.
Tubuh pemuda ikal itu kembali sibuk di balik meja dapur mempersiapkan masakan selanjutnya.
"Beib, hamu ngah makan?" maksudnya kamu ngga makan, tanya Malaysia masih dengan mulut penuh.
"Udah duluan tadi." jawabnya singkat.
"Beib, mau disuapiiinnn..." rengek Malay manja.
Sekali lagi Malay mendapatkan hadiah toyoran di jidat dari Indonesia. Namun toyoran penuh cinta, tentunya. Setelah puas mentoyor dengan penuh cinta, Indonesia kembali sibuk dengan pekerjaan dapurnya.
Netherlands menghampiri piring tempat makanan Malay, mengambil sesendok nasi dan sepotong lauk lalu menyodorkannya ke mulut si bocah. Sang pemilik piring itu terheran-heran dengan kelakuan sang bule. Ia hanya mengangkat alis dan bertanya-tanya dalam hati maksud dari gesture pemuda Belanda itu.
"Katanya minta disuapin." ujar sang bule sambil tetap menyodorkan sendok berisi nasi dan sepotong tempe goreng.
"Aaaa...buka mulutnya!" perintah Neth.
Malay menatap pemuda berbadan besar di hadapannya yang setengah memaksa untuk menyuapinya. Ia membuka mulut ragu-ragu. Tangan besar itu meluncur pelan menghantarkan suapan lezat ke dalam mulut mungilnya. Ketika suapan itu masuk ke dalam mulutnya, sang pemuda berbadan besar itu tersenyum lembut.
"Anak pintar!" seru Nether girang sambil menarik hidung Malay lembut.
Malay tersipu. Mulutnya mengunyah makanan sembari manyun. Sementara pipinya tampak merona kemerahan.
"Gantian!" ujar Malay seraya mengambil sendok dari piring milik Netherlands.
Tangan mungilnya memotong singkong panggang yang bertabur saus jamur keju hingga menjadi potongan kecil lalu menyendoknya dan menyuapkan ke arah mulut si bule. Tanpa disuruh, bule Belanda penggila keju itu langsung membuka mulutnya dengan gaya yang dibuat-dibuat sehingga terlihat imut. Potongan singkong itupun sukses masuk ke dalam mulutnya lalu dikunyah sambil tersenyum senang.
"Hmm, lekker! Dank u, mijn geliefde," ujar Neth lembut sambil mengedipkan matanya genit pada sang preggy boy.
Malay membalasnya dengan senyum tersipu malu. Rona kemerahan itu masih tak mau beranjak pergi dari pipi chubbynya.
"Tubby!" ujar Neth gemas.
Ia benar-benar tak bisa menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi gembil itu. Pipi chubby Malay kembali jadi sasaran cubitan gemas sang bule. Alhasil pipi gembil itu lama kelamaan melar seperti marshmallow gara-gara keseringan dicubit.
Malaysia kembali menyendok sepotong singkong saus jamur keju dari piring Netherlands. Kali ini potongannya agak besar. Dengan wajah dan pipi yang masih merona ia menjejalkan potongan besar singkong itu ke dalam mulut sang bule. Alhasil sang bule terbatuk-batuk karena tersedak singkong berukuran besar.
"Uhuk, uhuk, jahat!" Netherlands terbatuk-batuk sembari mengambil segelas susu cair.
Pemuda berambut jabrik itu menenggak minuman itu perlahan, lalu setelah berhasil menguasai batuknya ia menatap Malaysia sambil menyangga dagu dengan sebelah telapak tangannya.
"Gendut kejam...!" ujarnya sambil memonyongkan bibir, "tapi manis..." tutupnya gombal.
Malaysia kembali blushing.
Indonesia memperhatikan kedua partner tercintanya dari balik meja dapur. Ia tersenyum lega. Dirinya bahagia kedua orang yang sangat dicintainya itu bisa berdamai dan menghentikan persaingannya selama ini. Mungkin mereka sudah insyaf dan belajar dari pengalaman fict Äntara Aku, Kamu dan Dia episode 12 ketika mereka diusir oleh Indonesia karena mengacak-acak rumah sampai hancur berantakan hanya gara-gara bersaing memperebutkan perhatian sang pemuda ikal. Maka dari itu sekarang mereka berdua bisa saling rukun sekarang. Indonesia tak tahu, padahal ada benih-benih cinta yang mulai tumbuh diantara dua suami eror itu.
Pemuda ikal itu menarik napas lega. Ia pun melanjutkan kegiatan memasaknya sambil bersiul kecil.
"Ups!"
Tiba-tiba Indonesia merasa pusing. Tubuh slim but sexy itu agak terhuyung ke depan. Untung saja ia berpegangan pada meja sehingga tubuhnya itu tidak jatuh karena kehilangan keseimbangan. Namun sang pemuda manis itu tidak menganggap kejadian barusan sebagai hal serius. Ia mengambil segelas air lalu menenggaknya sampai habis.
"Aku sudah kenyang!" ujar Malaysia sambil mengelus perutnya yang bertambah besar.
"Aku juga! Sarapan hari ini enak sekali!" tambah Neth.
Indonesia menghampiri meja makan. Tangan mungil berkulit sawo matang itu dengan sigap mengambil piring kotor, menumpuknya menjadi satu lalu membawanya ke arah kitchen sink.
"Honey, wajahmu tambah pucat." Neth menarik tangan kanan Indonesia.
Sang pemuda bule meneliti wajah manis berkulit sawo matang itu.
"Eh, aku ngga apa-apa kok!" tepisnya sambil berlalu dengan kedua tangan membawa piring dan gelas kotor.
Belum lama Indonesia berkata bahwa dirinya tidak apa-apa, tiba-tiba tubuh kurus berkulit sawo matang itu terhuyung lalu ambruk. Indonesia pingsan.
Indonesia terlalu lelah.
Indonesia terlalu letih.
Hanya satu yang ia butuhkan.
Yaitu beristirahat sejenak.
TBC~
