Part 13 : Biological Father
PRAAANNNNGGGG
Piring dan gelas kotor yang semula ada dalam genggaman pemuda personifikasi Nusantara itu kini jatuh pecah berserakan di lantai meninggalkan suara gemerincing yang membahana ke seluruh ruangan. Serpihan kaca berukuran besar dan kecil itu ada beberapa yang bergesekan dan menimbulkan luka di tangan sang pemuda manis itu.
Kedua suami terkejut bukan main. Netherlands langsung berlari menghampiri tubuh mungil itu lalu memangkunya. Sementara Malaysia yang masih kekenyangan, berusaha bangun dari duduk dengan susah payah, lalu berjalan tergesa-gesa menghampiri sang kekeasih yang tak sadarkan diri di dalam pangkuan Netherlands.
"Beib, loe kenapa!?" jerit Malay khawatir sembari memegangi tangan Indonesia yang terasa dingin.
Sang pemuda Melayu itu semakin khawatir sewaktu ia melihat setetes cairan berwarna merah mengalir di lengan pemuda yang pingsan itu.
"Berdarah!" teriaknya panik.
-o0o-
Untaian hitam ikal itu terjuntai jatuh menutupi dahi. Sebagian ada yang jatuh menutupi kelopak mata yang terpejam. Rona pucat tergurat di wajah berkulit sawo matang itu. Suara napas lemah terdengar di antara kesunyian yang penuh kecemasan.
"Ja-Jangan-jangan Indon kena serangan jantung mendadak!? Jangan-jangan Indon..! " ujar Malay penuh kekhawatiran.
"Ssssstt...jangan berisik!" ujar Netherlands setengah membentak sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Indo ngga apa-apa, dia cuma butuh istirahat..." tambahnya pelan berusaha menenangkan kepanikan sang preggy boy.
Malaysia yang duduk di sisi tempat tidur berseberangan dengan Netherlands hanya bisa menatap cemas sambil tak henti-hentinya berdoa.
Ya, Indonesia hanya butuh istirahat sejenak.
Netherlands sibuk membalut lengan Indonesia yang berdarah akibat terkena serpihan kaca. Perlahan dan telaten ia melakukannya. Selesai membalut, tubuh besar itu masih tak mau beranjak dari sisi sang pemuda Nusantara. Irish hijaunya menatap lekat wajah pucat yang tengah tertidur lelap. Ia paham, Indonesia lelah lahir batin. Pemuda itu menanggung doa dan harapan dari dua ratus juta rakyatnya yang mengharapkan pemimpin baru yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya. Untuk itulah ia berikhtiar siang dan malam, mengusahakan segala cara, mempersiapkan segala hal agar proses pemilihan pemimpin negerinya yang tinggal menghitung hari ke depan ini bisa berjalan dengan baik. Pun, pemuda manis itu juga berharap bahwa proses itu akan membuahkan pemimpin yang sesuai dengan pengharapan rakyatnya. Seorang pemimpin yang mumpuni untuk memimpin bangsa yang telah lama terseok-seok dalam kesemerawutan. Seorang pimpinan yang lemah lembut tapi tegas, merakyat tapi mendunia. Seorang satria piningit yang memanusiakan manusia. Untuk itulah ia berusaha keras agar tak mengecewakan rakyatnya. Namun Indonesia lupa bahwa ia juga memiliki keterbatasan. Ia bukanlah personifikasi nation super power. Ia hanyalah seorang personifikasi nation biasa.
Tangan besar Netherlands membelai untaian hitam ikal yang berjatuhan di dahi sang pemuda manis, lalu bergeser ke pipi yang tampak tirus itu sembari menarik napas panjang.
"Istirahatlah, Honey..." bisiknya.
Tubuh besar lagi berotot itu beranjak dari sisi tempat tidur lalu merangkul lengan Malay mengajaknya untuk keluar ruangan supaya Indonesia bisa beristirahat.
"Indon ngga apa-apa kan?" tanya Malay lagi seolah meminta kepastian.
Bocah Melayu itu menghentikan langkahnya sementara kedua tangannya menggenggam ujung bawah kaos orange yang dikenakan Netherlands. Wajahnya terlihat sangat cemas.
Netherlands menjawab pertanyaan itu hanya dengan senyuman simpul. Sebenarnya ia juga sangat khawatir tapi ia berusaha menutupi kekhawatirannya itu di hadapan Malay. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang keluarga.
"Kak Indo kenapa!?" terdengar suara cempreng dari arah ruang keluarga.
"Kak Indo ngga kenapa-kenapa kan!?" sambar suara cempreng yang lainnya.
"Aku khawatir dengan keadaan kak Indo!" tambah suara cempreng yang satu lagi.
Netherlands dan Malaysia sudah hapal betul siapa pemilik ketiga suara cempreng itu. Siapa lagi kalau bukan Laos, Myanmar dan Cambodia.
"Hadeeeuuuhh, kenapa si setan cempreng bisa datang kesini sih?" batin Neth sambil tepok jidat.
Padahal ia berusaha agar Indonesia bisa istirahat dengan maksimal tanpa gangguan. Eh, tiba-tiba nongol si trio tuyul ini. Kalau ada mereka, yang ada rumah malah tambah heboh dan rame.
"Heh, tuyul-tuyul, ngapain pada kesini!? Mau minta duit jajan sama Indon!? Ngga ada! Hari ini ngga ada duit jajan! Indon lagi bobok, jangan diganggu! Hayo sana pergi, hush hush!" bentak Malay galak sambil tolak pinggang.
"Kak Malay kalau lagi hamil ngga boleh marah-marah, nanti ngga baik buat babynya lho!" ujar Laos sok menasihati sambil elus-elus perut gendut Malay.
Kedua saudara yang lain ikut manggut-manggut mengiyakan, saling mendukung.
"Tadinya kita kesini mau minta duit jajan, tapi waktu tadi kami mampir ke kandang si Komo, dia bilang Kak Indo lagi sakit, gitu." ujar Myanmar.
Malay dan Nether mengerutkan dahi, busyet nih bocah hebat bener bisa paham bahasa Komodo!
"Akhirnya kami putuskan ngga jadi minta duit jajan sama Kak Indo, kita kesini mau menjenguk kak Indo yang sakit aja, setelah menjenguk, siapa tahu kecipratan duit jajan dari om Nether yang dermawan, hehehe..." cerocos Cambodia.
Netherlands nyengir. Terpaksalah ia merogoh kantong celananya supaya tiga bocah setan neraka ini cepat pergi dan tidak membuat kekacauan di rumah. Demi. Demi yayang.
"Salam buat Kak Indo!"
"Semoga Kak Indo cepat sembuh!"
"Kami akan selalu mendoakan Kak Indo!"
"Yeah...whatever..." ujar Nether dan Malay tersenyum terpaksa sambil melambaikan tangan pada tiga tuyul.
Akhirnya dengan mengorbankan beberapa lembar uang ribuan, nyamuk pengganggu itu bisa disingkirkan dari rumah. Nether dan Malay menutup pintu dan kembali ke arah ruang keluarga. Mereka berdua berniat memasak bubur untuk Indonesia makan ketika siuman nanti. Baru saja kedua suami itu menarik napas lega karena tuyul pengacau sudah angkat kaki dari rumah, tiba-tiba terdengar suara-suara berisik dari luar rumah. Tiba-tiba pula Netherlands punya firasat buruk.
"Apa yang terjadi dengan Indonesia!?" tiba-tiba Egypt yang mengenakan sorban putih muncul di balik pintu yang dibuka Netherlands. Dengan mata tajam ia menatap bule berambut jabrik itu seoleh menuduh Netherlands lah yang penyebab sakitnya Indonesia. Maklumlah Indonesia dan Egypt memiliki hubungan emosional yang sangat dekat, mengingat waktu zaman kemerdekaan Indonesia dulu, Egyptlah yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia di forum internasional.
Begitu juga dengan Palestine yang mengenakan pakaian khasnya, sorban putih hitam, itu langsung menarik kaos orange yang dikenakan Netherlands dan bertanya dengan pertanyaan beraroma tendensius, "Apa yang kau lakukan pada Indonesia!?"
Netherlands langsung gelagapan begitu sahabat-sahabat karib Indonesia mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan ajaib barusan. Baru saja ia akan menjelaskan duduk perkara yang terjadi, tiba-tiba America muncul dengan toa di tangan kiri dan burger di tangan kanannya, berusaha menengahi konflik. Tapi yang ada bukannya menyelesaikan konflik, malah memperpanas konflik dengan kicauan-kicauannya yang ngaco.
"Aku adalah hero, dan hero ini akan menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan ekonomi!"
Tak lama berselang datang beberapa nation allied, para sekutu America seperti England, France, Russia dan China, menambah semarak suasana rumah.
Pemuda bule bermata hijau yang tiba-tiba berada di tengah konflik itu cuma bisa sweatdrop. Mimpi apa dia semalam sampai harus terlibat kekacauan geografis seperti sekarang ini.
"Sodara-sodara mohon tenang! Indonesia sedang sakit dan butuh istirahat. Mohon Anda bubar sekarang juga!" teriak si bule kesal.
Malaysia yang sedari tadi duduk di dalam, akhirnya keluar karena penasaran dengan kericuhan di depan pintu. Ia langsung naik pitam begitu melihat sekian banyak nation yang bergerombol di depan pintu dan membuat kegaduhan.
"Tolong ya, gentlemen, disini ada orang hamil dan orang sakit yang butuh suasana tenang, jadi harap tenang atau angkat kaki sekarang juga!" ujar Malay tegas.
Para hadirin yang sedang rusuh di depan pintu itu entah kenapa langsung diam seketika. Entah karena tunduk pada sikap tegas Malaysia ataukah terpana dengan penampilan Malaysia yang berubah jadi gembrot en chubby.
"Hey, Malay sudah berapa bulan!? Aku belum sempat menengokmu, bagaimana kondisi bayimu, sehat kan?" tanya Egypt yang langsung berubah ramah dan cipika cipiki sama sang preggy boy.
Dan entah kenapa nation lainnya jadi ikut-ikutan latah menanyakan kabar Malay. Suasana yang semula panas dan ricuh seketika berubah hangat dan ramah karena melihat seorang preggy boy. Agenda semula menengok Indonesia yang sedang sakitpun tiba-tiba berubah menjadi acara menjenguk orang hamil! Dan tanpa dikomando, para nation yang tadi berkumpul di depan pintu itu merangsek masuk ke dalam ruang tamu. Netherlands cuma bisa geleng-geleng pasrah. Semoga saja Indonesia tidak terbangun gara-gara suara berisik mereka.
"Ini kami bawakan buah-buahan buat kamu dan Indonesia ya." ujar Egypt dan Palestine.
"Aku juga bawa oleh-oleh, ini ada gingseng, bermanfaat untuk menyehatkan dan menyegarkan badan." ujar South Korea sambil menyerahkan bingkisan yang dimaksud.
Beberapa nation lain ikut menyerahkan oleh-oleh sambil berbincang-bincang santai dengan Malay.
"It's party time!" teriak Spain sambil mengacungkan segelas Sangria.
Netherlands langsung menghampiri dan menjitak kepala mantan penjajahnya itu. Dasar maniak pesta! Wong ada orang sakit, si gemblung itu malah ngajakin pesta!
"Saatnya main Limbo!" teriak Prussia makin kacau sembari mengacungkan batang bambu tinggi-tinggi. Sempat-sempatnya ia membawa sebatang bambu dan mengajak seluruh nation untuk main Limbo. Itu lho permainan tradisional asal Trinidad dimana para pemain akan adu rendah melewati kolong sebilah batang bambu. Semakin lama bilah bambu itu akan diturunkan semakin rendah. Siapa yang berhasil melewati bambu serendah-rendahnya maka ia akan menang.
Netherlands tanpa ampun langsung menyita batang bambu yang dibawa Prussia itu dan tak lupa memberi cowok personifikasi nation yang sudah lenyap dari peta itu sebuah jitakan manis.
"Nah, karena semua nation sudah berkumpul disini, aku akan memasak sesuatu yang enak!" teriak France semangat disambut antusias seluruh hadirin yang memenuhi ruang tamu rumah Indonesia. Dengan langkah mantap ia meluncur menuju dapur sambil melayangkan kissbye genit ke setiap nation yang ia lewati. Bahkan ketika melewati England, ia menyempatkan diri mencolek pantat bahenol si alis enam itu.
"Ah, dasar si kodok brewok itu!" Malay sweatdrop melihat keganjenan France yang sudah dalam level akut.
Tiba-tiba Malay teringat sesuatu. Mumpung bertemu dengan si kodok brewok, ia harus menanyakan hal yang penting. Sebuah pertanyaan yang sangat ia nantikan kebenarannya. Apalagi kalau bukan pertanyaan yang menyangkut jabang bayi dalam perutnya. Dengan langkah tertatih karena perutnya yang sudah gendut, ia mengejar France ke arah dapur.
France sedang menyiapkan peralatan masak di dapur Indonesia. Ia kebingungan dengan tempat penyimpanan pisau. Maklum bukan dapurnya sendiri.
"Ada yang ingin aku tanyakan." kata Malay to the point.
"Aha, kebetulan! Dimana Indonesia menyimpan pisau, hmm?" France bertanya.
"Di laci sebelah kanan bawah, ah, jangan mengalihkan pembicaraan!" ujar Malay kesal.
"Baiklah, baiklah, mon petit, apa yang ingin kau tanyakan?" France meletakkan peralatan masak lalu berjalan mendekati Malay.
"Apa, apa benar kau adalah bapak biologis bayiku ini?" tanya Malay penasaran.
France mengangkat alisnya.
"Oh, jadi kau berharap aku yang jadi suamimu, hmm?" tanya France sambil tersenyum nakal.
"Bukan itu, maksudku, kau selalu baik padaku, apakah itu karena kau adalah bapak biologis bayi ini?" tanya Malay sambil mengelus perutnya.
"Memangnya aku tidak boleh berbuat baik padamu, mon cher?" ujar sang personifikasi negeri Menara Eiffel sambil menatap sedih.
"Bukan begitu, aku hanya ingin tahu, apakah kau ayah dari bayi ini atau bukan, itu saja!" Malay kesal.
"Hmm, kasih tahu ngga ya..." France mengusap-usap brewok tipisnya sambil menatap langit-langit.
Malay dongkol menghadapai sikap France yang bertele-tele. Baru saja ia akan menghampiri dan mendamprat si kodok brewok itu, ketika tiba-tiba France berjalan mendekati dirinya.
"Baiklah akan kujawab," ujar France dengan suara yang seduktif. Tubuh tinggi besarnya itu semakin mendekati Malay dan mendesak tubuh sang pemuda Asia ke pojokan. Wajah France mendekati wajah Malay seolah ingin menebarkan pesona.
"Aku bukan bapak biologis bayimu, tapi..." bisik France di telinga Malay, entah kenapa hembusan napasnya terasa begitu menggoda. Belum lagi sentuhan jemari France yang menjelajahi leher si pemuda manis. Malay semakin tersudut di pojokan tembok.
"Kalau dirimu ingin aku menjadi bapak biologis dari bayimu, boleh, setelah dirimu melahirkan aku akan menitipkan benih milikku di perutmu, mon cher." ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Kedua bola mata Malay terbelalak. Ia hanya bisa terpaku sewaktu wajah France semakin mendekati wajahnya. Ia seolah tersihir dan tak bisa melawan sewaktu bibir itu berusaha menyentuh bibirnya.
"Langkahi dulu mayatku!"
Sesosok tangan besar berkulit pucat membekap mulut France dari arah belakang, membuat sang bule Perancis itu gagal mendaratkan ciumannya ke bibir sang pemuda Asia yang sudah tak berdaya di pojokan. Malaysia terkejut. Ternyata itu adalah tangan milik Netherlands.
"Oh, bonjour Ned, wanna try my kiss?" ujar France genit berusaha menggoda Neth.
"Don't you dare touching him!" ujar Neth dengan tatapan mengerikan.
"Roger that!" balas France seraya mengangkat kedua tangannya tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
Netherlands melepaskan cengkeramannya dari tubuh France dan membiarkan bule Perancis itu kembali bergulat dengan masakannya. Tangannya merangkul Malay yang masih terbengong-bengong di pojokan, "Ayo pergi dari sini!" ajaknya.
Ah, entah kenapa ada perasaan aneh yang membuncah di dada Malay. Ada rasa lega karena ternyata France bukanlah bapak biologis bayinya sehingga mimpi buruk yang waktu itu dialami Malay tak perlu terjadi. Namun entah kenapa masih ada tanda tanya yang masih tertinggal di kepalanya. Jika memang France bukan bapak biologis bayinya, lalu siapa?
TBC~
