Part 15 : Are You Happy Now?
…
…
"Beib, jadi bapaknya bayi gue ya!"
"Ya, ya, ya, please, please…."
"Malay, loe ngomong apa sih? Jangan dekat-dekat, gue sulit bernapas…"
Malaysia tercekat. Matanya terbelalak. Ia tak percaya kejadian yang dialaminya barusan. Indonesia, kakaknya tercinta, partnernya tersayang, telah menolaknya. Gestur sang pemuda personifikasi negeri Zamrud Khatulistiwa itu seolah-olah terganggu akan kehadiran Malaysia di dekatnya.
Indonesia tak menginginkannya.
Betapa remuk redam hati Malaysia. Dengan hati yang sedih, ia berlari meninggalkan ruangan itu.
…
…
…
-o0o-
Terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka bersamaan dengan suara siulan. Dari arah kamar mandi keluar sosok bertubuh besar dan berotot yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Dari rambutnya yang berwarna pirang orange itu menetes air yang mengalir ke pundak dan terus menuruni dada bidangnya. Tubuh kekarnya masih basah karena belum sempat dikeringkan dengan handuk. Baru saja si pemilik tubuh besar itu akan melangkah ke arah lemari pakaian, ketika ia melihat sesosok mungil pemuda berkulit sawo matang berusaha mengambil segelas air di meja sebelah tempat tidur. Indonesia, sang pemuda yang baru saja siuman itu sedang berusaha menggapai gelas berisi air minum dengan susah payah.
"Honey! Kau sudah sadar!?" seru Neth langsung berlari menghampiri sang pujaan hati. Diambilnya segelas air minum itu lalu diberikannya pada Indonesia yang terduduk lemah di atas tempat tidur. Sang pemuda ikal itu langsung menenggak air sampai habis tak bersisa.
Netherlands mengambil kembali gelas yang sudah kosong itu lalu meletakkannya di meja. Ia begitu senang melihat kekasihnya sudah siuman. Dielusnya wajah dan rambut sang kekasih sambil menatapnya lekat-lekat.
"Are you okay?" tanya Netherlands.
Indonesia tersenyum simpul.
Pemuda Belanda itu langsung memeluk kekasihnya dengan erat, bahkan ia seperti menggelendot di tubuh Indonesia. Maklum, ia senang banget karena yayangnya itu sudah siuman. Namun ia lupa bahwa tubuhnya lebih besar dari Indonesia. Karena tak kuat menahan beban, Indonesiapun ambruk terjatuh di atas kasur ditimpa gorilla, eh salah, Netherlands.
"Ugh, Neth, badanmu basah…" ujar Indonesia sebel.
Namun Netherlands tak memperdulikan complain dari sang yayang. Ia langsung menyerbu bibir mungil sang pemuda Asia Tenggara itu lalu melumatnya dalam-dalam. Indonesia tak melawan. Ia membiarkan kekasih bulenya itu menyalurkan afeksinya yang memang akhir-akhir ini terasa jarang.
KRUYUK
Netherlands yang sedang asyik melancarkan jurus-jurus rate M nya itu langsung berhenti mendadak demi mendengar suara yang berasal dari perut yayangnya itu. Dirinya langsung teringat bahwa yayangnya itu memang belum makan sejak pingsan tadi pagi. Terpaksalah ia menghentikan aktivitasnya yang sedang seru-serunya itu. Handuk yang ada di pinggangnya ia lempar lalu berpose sebentar memamerkan otot besarnya pada Indonesia yang terbengong-bengong di atas kasur menyaksikan pemandangan indah di hadapannya. Sang bule mengedipkan sebelah matanya genit lalu bergegas menuju lemari pakaian untuk memilih sepotong kaos biru tua plus celana pendek berwarna krem kesayangannya. Buru-buru ia mengenakan pakaian santai itu lalu dalam sekejap segera menghilang di balik pintu kamar menuju ke arah dapur untuk memanaskan bubur lalu menghidangkannya spesial untuk kekasihnya.
"D-dasar si Neth kebanyakan gaya!" gumam Indonesia garuk-garuk kepala.
Semangkuk bubur dengan sedikit suwir-suwir daging ayam dan segelas teh manis hangat siap tersaji di atas nampan yang dibawa Netherlands. Setengah bergegas ia berjalan menuju kamar dimana sang yayang tengah menantinya dengan perut yang keroncongan. Tiba-tiba sang pemuda bule itu mendengar suara tangisan samar-samar dari arah ruang keluarga yang tak jauh dari kamar tidur utama. Sebenarnya ia penasaran ingin sekali melihat siapa gerangan yang sedang menangis itu tapi ia tak ingin bubur yang dibawanya itu menjadi dingin dan tak enak untuk dinikmati lagi. Kembali ia bergegas menuju ke dalam kamar.
"Buka mulutnya, pesawat terbang mau lewat!" ujar Neth sambil mengangkat sendok berisi bubur dan mengarahkannya ke mulut Indonesia.
Indonesia tersenyum tersipu-sipu lalu membuka mulutnya melahap sesendok bubur lezat itu.
"Enak…" sang pemuda manis tersenyum.
"Siapa dulu dong!" ujar Neth jumawa sambal menepuk dada bidangnya, lalu terbatuk-batuk karena menepuk terlalu kencang.
"Tapi agak asin, kebanyakan garam!" alis Indonesia berkerut meneliti dengan seksama rasa masakan sang yayang, "jangan-jangan kamu mau kawin lagi ya, Neth!?" tuduh Indonesia sadis.
"Hmm, maksudnya mau kawin lagi sama kamu? Ya iyalah, kalau sama kamu, ya mau-mau lagi laaah!" ledek Neth, bisa aja ngelesnya.
Mulut Indonesia manyun termonyong-monyong sambil terus mengunyah suwiran daging ayam. Ada rona kemerahan di pipinya. Walaupun sudah berulang kali mendengar gombalan kekasihnya itu, tapi entah kenapa ia selalu tidak bisa tidak tersipu. "Dasar raja gombal!" batinnya.
Semangkuk bubur ayam dan segelas teh manis hangat sudah habis tak bersisa. Rupanya Indonesia benar-benar kelaparan setelah pingsan hampir seharian.
"Istirahatlah lagi, tubuhmu pasti masih lemas." ujar Neth lembut sambil menyelimuti tubuh Indonesia yang berbaring di kasur. Mata kekasihnya itu masih terlihat sayu.
Sang pemilik tubuh kecil itu tersenyum lalu mengangguk.
Setelah yakin sang kekasih sudah beristirahat dengan nyaman, Netherlands membereskan piring dan gelas kotor dan membawanya ke dapur. Di tengah perjalanan ia kembali mendengar suara tangisan. Kali ini ia langsung mengecek ke TKP tempat suara itu berasal. Piring dan gelas kotor bekas makan yayangnya itu diletakkan di dekat buffet. Perlahan ia mengintip ke arah ruang keluarga. Semakin dekat ke arah ruang keluarga, semakin jelas suara itu. Dengan berjinjit pelan-pelan Neth mendekati sofa. Dan iapun terkejut demi melihat sosok mungil yang amat dikenalnya dari arah belakang.
"Kenapa…kenapa Indon ngga mau jadi bapaknya anak gue?" ujar suara serak di balik sofa yang ternyata adalah sang preggy boy.
Sang pemuda Melayu itu menangis sesunggukan. Wajahnya nampak berantakan dihiasi cucuran air mata yang membanjir. Matanya merah, pertanda betapa sudah lama ia menangis.
"Kalau begini adanya lebih baik gue mati aja!" teriak Malay dengan suara serak.
Ia mengacungkan tangan kanannya tinggi-tinggi. Dari genggaman tangan kanannya itu Netherlands melihat sesuatu yang berkilat menyilaukan. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa benda mengkilat itu adalah sebilah pisau. Malaysia sudah kehilangan akal sehat dan memutuskan untuk segera mengakhiri hidupnya dengan pisau itu.
Dan pemandangan yang semula miris menyedihkan itu berganti dengan adegan heroik. Netherlands, sang bule Belanda yang mendapati mantan rivalnya hendak melakukan percobaan bunuh diri itu tanpa pikir panjang langsung melompat menerjang tubuh mungil nan rapuh itu lalu bergulat seru di sofa untuk merebut pisau dari genggaman tangan Malaysia. Pisau mengkilat itu akhirnya berhasil direbut.
"Loe stress apa gila sih!?" hardik Neth spontan.
Malaysia yang dalam posisi jatuh terlentang di lantai hanya bisa menatap Netherlands dengan mata terbelalak. Kedua tangannya dipegangi tangan kekar sang bule.
"Kalau loe mati bayi dalam perut loe juga mati, dodol!" tambahnya dengan nada kesal.
Mendengar omelan yang keluar dari mulut bule yang sudah pernah ia mintai tanggung jawabnya terhadap bayi yang ada dalam kandungannya itu, Malaysia meradang. Didorongnya tubuh besar Netherlands. Namun sungguh itu adalah suatu usaha yang sia-sia karena tubuh di atasnya jauh lebih besar dari tubuhnya. Akhirnya ia hanya sanggup memukul-mukul dada bidang sang pemuda bermata hijau itu dengan pukulan-pukulan lemah yang dipenuhi emosi sambal berurai air mata.
"Ngapain loe sok peduli sama gue dan bayi gue!? Kalo emang ngga ada yang mau tanggung jawab lebih baik gue mati aja!" ujarnya penuh emosi.
Kembali didorongnya dada bidang Netherlands sekuat tenaga walaupun tahu bahwa ia tak kan mungkin sanggup menggeser tubuh besar itu dari atas tubuhnya.
"Minggir, jangan halangi gue!"
Putus asa karena tak berhasil juga, Malaysia mulai menjambak rambut jabrik Netherlands. Sang bule pun mulai kewalahan menghadapi sikap Malay yang menjambaknya dengan membabi buta. Rambut jabrik yang sudah tertata rapi itu pun berantakan. Bahkan ada beberapa lembar yang rontok.
"Jangan halangi gue, gue mau mati!" Malay berteriak putus asa sambil menangis.
PLAK.
Sunyi.
Malay berhenti menjambak rambut Nether. Tangannya memegangi pipi kirinya yang barusan ditampar sang pemuda Belanda.
"Kalau loe mau mati, mati aja sono!" bentak Netherlands dengan nada tinggi.
"Tapi asal loe tahu, kalau loe mati…" imbuh Netherlands kembali, kali ini dengan nada yang melemah, "gue ngga akan bisa hidup lagi…." pungkasnya sedih.
Malaysia terbelalak mendengar ucapan orang yang berada di hadapannya.
"Kalau loe mati, gue sedih…." tambah sang bule lagi.
…
…
…
Tak ada sahutan apapun dari mulut sang pemuda Asia yang biasa mengucap kata-kata jutek. Yang ada hanya kedua bola mata membelalak seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
…
"Neth…a-apa.." ujarnya terbata.
…
Netherlands langsung memeluk tubuh mungil yang tak berdaya itu, merangkulnya dengan lembut lalu mendudukkannya sambil berbisik, "Gue janji akan jadi ayah yang baik buat bayi loe, jadi, jangan pernah melakukan hal yang bodoh lagi ya…"
Kali ini Malaysia kembali menangis tapi bukan tangis nestapa seperti tadi melainkan tangis bahagia karena akhirnya sang bayi dalam perutnya memperoleh orang yang bersedia dipanggil sebagai bapak. Akhirnya ia tak jadi mendapat predikat "the most suffered single parent in Hetalia's world". Akhirnya ketika nanti anaknya sekolah, ia ngga akan diantar oleh tukang ojek.
Malaysia menggenggam kaos biru tua yang dikenakan Netherlands erat-erat, membenamkan wajahnya di dalam pelukan dada bidang itu lalu menangis sekencang-kencangnya.
Netherlands tersenyum lembut sambil mengelus untaian hitam sang pemuda mungil.
"Sudah, jangan nangis lagi…" bisiknya.
Malaysia menarik napas panjang berusaha tersenyum sambil menyeka air matanya.
"Nah kan kalau senyum jadi lebih manis…" goda Netherlands gombal sambil menyentil hidung Malay, "ya kan mijn baby…" Neth beralih ke perut gendut Malay seolah berbicara pada sang jabang bayi. Lalu perut gendut itupun dikecupnya.
Malaysia tersenyum haru. Netherlands mendekat dan mencium bibir sang pemuda mungil itu dalam-dalam. Malaysia tak melawan. Hatinya sudah tak galau lagi. Begitupun perasaannya. Ia mempererat genggaman tangannya sembari menarik tubuh Neth agar lebih dekat lagi ke arahnya. Netherlandspun seperti terbawa suasana demi melihat Malay yang biasanya galak namun sekarang bertekuk lutut di hadapannya. Serangannya semakin agresif dan bernafsu terhadap si tubuh mungil. Tangan besarnya menyelinap di balik baju panjang selutut warna merah yang dikenakan Malay. Tujuannya satu yaitu membelai lembut sesuatu di balik jeans yang dikenakan sang pemuda mungil. Semua adegan itu terasa begitu cepat sampai akhirnya terdengar suara barang jatuh di lantai.
Dua manusia yang sedang asyik masyuk dengan gairahnya itu langsung terkejut dan menghentikan aktivitasnya sejenak. Malaysia terkejut bukan main dengan penampakan di hadapannya. Begitu juga Netherlands.
Di hadapan mereka berdua berdiri seorang personifikasi Negeri Zamrud Khatulistiwa. Rasa terkejut luar biasa itu tak bisa disembunyikan dari wajah ganteng itu. Tubuhnya terhuyung sejenak lalu berusaha bertahan dengan bersandar pada tembok di belakangnya. Suara gemercing tadi rupanya adalah gelas yang sekarang dalam kondisi pecah berserakan di lantai.
"Ho-honey..!" Netherlands terbata-bata.
"Beib…" Malaysia hanya bisa menatap Indonesia pasrah.
"Honey…a-aku…a-a.." Netherlands speechless tak tahu harus mulai menjelaskan darimana.
Netherlands bingung harus mulai menjelaskan darimana. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan tentang Malaysia yang dalam posisi terlentang pasrah dengan baju panjang merahnya yang tersingkap ke atas dan resleting jeansnya yang terbuka. Masih bingung juga harus menjelaskan apa pada Indonesia tentang tanda kemerahan berlumuran liur di sekujur dada dan perut buncit Malaysia. Pemuda bule itu juga bingung harus menjelaskan apa pada Indonesia tentang kondisi dirinya yang hanya mengenakan celana pendek warna krem sedangkan dada bidangnya itu dibiarkan polos tanpa penutup. Pun bingung harus menjelaskan bagaimana pada Indonesia tentang posisi tubuhnya yang sedang berada di atas tubuh mungil Malay.
Indonesia benar-benar tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Matanya membelalak dan mulutnya ternganga. Kedua tangannya bersandar di tembok berusaha agar tubuhnya tak tersungkur di lantai.
"I-Indo, Ini semua salahku.." Netherlands mengaku salah. Rupanya ia berjiwa ksatria juga.
Ia merangkak mendekati Indonesia yang masih terpaku kaget. Didongakkannya kepalanya menatap mata sang kekasih berusaha mencari secercah maaf disana.
"Aku yang memulai.." ujarnya menyesal, "punish me…"
Sementara sang yayang masih bergeming diam seribu bahasa. Kepalanya tertunduk. Bahunya bergetar, mungkin menangis. Netherlands tak henti-hentinya menyesali perbuatannya. Begitu juga Malaysia. Ia tak sanggup menatap wajah sang kekasihnya lagi. Memang yang namanya penyesalan pasti datangnya belakangan.
"…ternyata…kalian…"
Terdengar samar-samar suara sang yayang yang masih dalam kondisi tertunduk dan bahu gemetar.
"..selama ini…"
Netherlands dan Malaysia tercekat ketakutan namun pasrah pada apapun yang akan terjadi.
"…akhirnya…"
Netherlands menggigit bibir bawahnya sementara Malaysia menutup matanya dengan kedua tangannya.
"A-akhirnya saat-saat kaya gini datang juga!" jerit Indonesia.
Netherlands dan Malaysia terbengong-bengong dengan reaksi yayangnya. Bukankah seharusnya Indonesia menjerit dengan nada marah atau minimal dengan nada sedih dan kecewa, bukan malah dengan nada bahagia seperti sekarang ini. Aneh bin ajaib.
"Akhirnya berakhir juga tugas gue sebagai uke universal!"
"Ho-honey? Maksudnya?" tanya Netherlands keder.
"Selama ini gue capek banget harus 'melayani' kalian berdua, ngurusin makan, nyuciin baju, bersihin rumah, bahkan 'urusan ranjang' pun harus gue juga." Indonesia curcol.
"Nah, berhubung sekarang kalian berdua udah nemuin chemistry, jadi silakan kalian berdua bersenang-senang, gue mau 'me time' dulu, gue mau happy-happy, gue mau luluran, abis itu gue mau sleeping beauty seharian! Yippie!" Indonesia jingkrak-jingkrak kegirangan. Doi buru-buru mau ngacir dari situ.
"Beib, jadi loe ngga marah kalau kami, emm, gue sama si Neth…ng…" pertanyaan Malaysia terputus. Netherlands melirik Malaysia.
Indonesia menghampiri Malaysia lalu merangkulnya, "We're loving each other, right?"
"Serius ngga marah?" Malaysia mengulangi pertanyaannnya sambil meneliti wajah sang partner.
Indonesia tersenyum tulus. Malaysia membalasnya dengan perasaan lega.
"Selamat ya, Malay, selamat menjadi uke bagi gue dan si Neth! Hahahaha…" Indonesia langsung ngacir sambal tertawa kesenangan meninggalkan Malay yang terbengong-bengong bingung.
"Perasaan gue ngga enak…" batin Malay.
"Andaikan peristiwa ini terjadi sejak dulu, gue akan sangat bahagia sekali, lalalala…" Indonesia bernyanyi sambil tersenyum sumringah.
Lalu ia berbalik badan menghadap kedua partnernya.
"Mengenai bayimu, aku juga akan bertanggung jawab dan menjadi ayah yang baik, jadi jangan khawatirkan hal itu lagi, ok?" raut wajah dan ucapan Indonesia langsung berubah 180 derajat menjadi serius.
Ia lalu tersenyum lembut pada Malay yang mengakibatkan sang bocah preggy boy itu berkaca-kaca bahagia. Akhirnya kedua orang partnernya itu mau bertanggung jawab terhadap bayinya. Sang pemuda Melayu menyeka air mata yang kembali menetes di matanya.
"Are you happy now?" tanya Indonesia.
Malay tak menjawab. Hanya senyuman yang merekah di wajahnya yang menjawabnya.
Indonesia merangkulnya di sisi kanan sementara Netherlands merangkulnya di sisi kiri.
"Together forever…"
…
…
…
TBC~
