Part 19 : Lonesome

Warning : R-18

It's just an ordinary morning when Indonesia makes breakfast for his beloved partners. Cie-elah, kenapa author jadi sok-sok an pake bahasa English? Baiklah, akan author terjemahkan. Itu hanyalah pagi yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya sewaktu Indonesia membuatkan sarapan bagi kedua partnernya. Hari ini ia membuatkan sarapan lezat seperti omelet dan roti panggang untuk Netherlands, juga nasi uduk, semur jengkol, sup ikan patin, tempe tahu bacem, pindang telur, ayam kecap dan sambal goreng terasi untuk sang preggy boy. Wuih, jatah sarapan Malay banyak bener! Maklum, semenjak usia kehamilannya memasuki usia 6 bulan, si cowok Melayu berponi lempar itu nafsu makannya makin menggila. Jika Indonesia masak dengan porsi biasa untuk mereka bertiga, dapat dipastikan dirinya dan Netherlands tidak akan kebagian makan dan berakhir dengan gigit jari, perut keroncongan serta rasa gondok di dada. Bagaimana tidak gondok, si bocah Melayu yang perutnya makin buncit itu sudah menghabiskan makanannya dengan secepat kilat saat orang-orang baru saja mulai makan. Alhasil karena makanannya sudah habis maka ia akan mengambil makanan yang masih ada di meja makan. Setelah menghabiskan makanan ronde kedua itu, ia sepertinya belum puas. Lalu dengan tatapan sangat memelas ia akan menghampiri Indonesia dan Netherlands seraya meminta jatah makanan mereka. Sebenarnya duo partnernya itu kelaparan hanya saja mereka berdua tak tega dengan tatapan yang sama mengenaskannya dengan tatapan mata Canada itu. Lalu akhirnya mereka berdua merelakan jatah makanannya dihabiskan oleh sang preggy boy tercinta. Yah, begitulah cintaaaah~….

Seperti juga saat ini. Malaysia yang sudah menghabiskan jatah makanan miliknya mulai melirik-lirik ke arah piring berisi roti panggang dan omelet milik sang bule. Padahal makanan di meja masih tersisa banyak tapi bola mata hitam legam milik si poni lempar itu masih saja jelalatan menelusuri makanan khas Eropa milik partner di sebelahnya. Menyadari piring miliknya jadi sasaran jelalatan partner Asia di sebelahnya, Netherlands langsung sigap berusaha mengamankan aset berharganya itu. Kedua tangan besarnya menutupi piring miliknya seraya menyeretnya jauh-jauh dari sang preggy boy kemaruk.

"Apa lihat-lihat?" tanyanya curiga pada partner mungil di sebelahnya.

"Mmm..kayanya omeletnya enak.." ujar Malay dengan tatapan mata tak lepas dari sepotong omelet yang masih panas itu. Lidahnya mulai berkecap-kecap dengan suara becek yang khas.

"Enak aja! Ini jatah gue! Itu di meja masih banyak semur jengkol jatah loe!" jerit Netherlands panik sambil memegang piringnya erat-erat.

"Tapi gue lagi kepingin makan omelet…" ujar Malay lirih. Matanya yang agak sipit oriental itu mulai mengeluarkan jurus puppy eyes. Tatapannya mulai berubah jadi sendu dan memelas. Wajah yang biasanya super jutek en menyebalkan itu kini berangsur-angsur berubah menjadi uhuk-seduktif-uhuk.

"Please,..." ujarnya makin memelas.

"Ugh..!" Netherlands menelan ludah.

Entah kenapa Malaysia dengan mata puppy eyes itu jadi terlihat uhuk-menggoda-uhuk. Siapa yang tidak meleleh hatinya ditatap dengan tatapan yang sangat miris dan memelas oleh seorang cowok Asia Tenggara manis dengan wajah Melayu oriental dengan pipi chubby yang merona! Akhirnya dengan berat hati, sang personifikasi negeri kincir angin itu menyerahkan hartanya yang sangat berharga pagi itu yaitu sepiring roti panggang dengan omelet lezat nan hangat hanya untuk sang preggy boy tersayang.

Mengetahui sang partner telah merelakan hartanya dengan (setengah) ikhlas, Malaysia langsung bersorak gembira. Ditatapnya sang bule bermata hijau itu dengan tatapan bahagia nan berbinar-binar, direbutnya piring yang tadi dipegang erat-erat oleh sang pemilik, lalu dengan sigap disikatnya roti dan omelet itu selagi hangat, meninggalkan rasa duka cita yang mendalam di hati sang mantan pemilik piring tersebut. Lagi laper berat begini, pas mau makan, eh makanannya malah direbut sama yayang, disitu kadang saya merasa sedih, batin Netherlands.

Netherlands yang perutnya sedang dangdutan dan hanya bisa menatap sedih saat piringnya dibajak sang partner lumayan mendapat hiburan gratisan sewaktu melihat sang preggy boy belepotan omelet. Cowok Melayu yang badannya melar itu sedang asyik menikmati omelet hasil bajakan dengan khusyuk. Sangking serunya mengunyah, ia tak sadar sisa-sisa potongan omelet menempel di pipinya. Netherlands tertawa terkikik. Perutnya jadi mules-mules. Subjek yang jadi bahan tertawaan itu akhirnya sadar dan menoleh.

"Ngetawain gue?" tanyanya berusaha memastikan.

Netherlands menatap sang partner dengan tatapan lembut, "Ada sisa omelet di pipi loe!" ujarnya sambil tersenyum.

"Hah!? Dimana!?" Malay langsung memegang pipinya, meraba-raba mencoba menemukan sisa-sisa omelet kurang ajar itu.

"Disni.." bisik Netherlands.

Tubuh besar lagi berotot yang pagi hari itu mengenakan kaos dalam berwarna putih dan celana pendek selutut itu mendekati wajah Malay. Cowok Asia mungil itu terkejut sewaktu Nether dengan tiba-tiba menjilat pipinya yang belepotan omelet. Bule Belanda itu melakukannya dengan sangat lembut. Ia menjilati lalu memakan sisa-sisa omelet itu sambil menatap wajah partner mungilnya yang bersemu merah.

"Hmm,..you're damn so delicious.." bisiknya pelan dengan tatapan sok seksi.

Malaysia menatap bola mata hijau itu tak berkedip. Pipinya merona kemerahan. Ia membiarkan sang bule menjilati pipi dan telinganya sambil membisikkan kata-kata mesra.

"Neth,.hhnn… …" ujar Malay pelan.

"Hmm..?" Netherlands berusaha menangkap ucapan sang partner.

"Te-ternyata-ternyata…LOE BAU KETEK!" jerit Malay sambil mendorong tubuh besar yang sedang asyik merayunya itu.

"Heh!?" Netherlands terbengong-bengong.

Sialan, udah susah payah mengeluarkan jurus rayuan gombal, malah dikatain bau ketek!

"Loe belom mandi ya!? Dafuq, bau banget!" ujar Malay setengah teriak sambil bergidik ngeri.

"Ya iyalah gue belom mandi, kan bangun tidur ku terus sarapan!" balas Nether membela diri.

"Dasar jorok!" ujar Malay lagi.

"Ngga apa-apa lah sekali-sekali gue mandinya kesiangan. Yang penting bisa sarapan romantis bareng loe.." ujar Netherlands sambil mendekati sang cowok Melayu mencoba merayunya sekali lagi.

"Ogah, mandi duli sana!" Malay kembali mendorong badan besar itu supaya menjauh.

Netherlands yang iseng, merangkul tubuh Malay dan mendekatkan wajah sang preggy boy yang sedang ngedumel itu ke arah ketiaknya. Aksi nekadnya itu membuat sang preggy boy makin ngamuk. Sarapan pagi itu akhirnya berlanjut dengan peristiwa kejarlah daku kau kutonjok. Netherlands sambil tertawa berulangkali berusaha memeluk dan mendekap Malay namun Malay melawan dan berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari sang gorilla bau.

Indonesia yang sedang membereskan piring kotor tak jauh dari sana tertawa demi melihat tingkah konyol duo partnernya itu. Ya, hubungan duo mantan rival cinta itu naik turun seperti roller coaster. Kadang keduanya saling ngambek-ngambekan karena rebutan makanan. Lalu di saat lainnya mereka saling bergumul mencurahkan kasih sayangnya. Seperti sekarang ini. Adegan ngambek-ngambekan itu sepertinya sudah selesai. Kini keduanya sedang asyik suap-suapan makanan dengan romantisnya. Melihat keduanya rukun seperti itu merupakan kebahagiaan tersendiri untuk Indonesia. Yeah, walaupun terkadang terbesit sedikit rasa iri di dalam hatinya.

"Hei, ngga kok! Aku ngga merasa iri sama sekali dengan romantisme mereka!" batin Indonesia menginterupsi.

Pemuda personifikasi Nusantara itu jadi teringat saat-saat dulu Netherlands PDKT sama dirinya. Segala cara dicoba oleh bule mantan penjajahnya itu untuk merebut hatinya. Mulai dari mengirimkan berbuket-buket bunga Tulip, SMS, membuatkan puisi romantis, dan aneka rayuan gombal lainnya. Pernah suatu hari Netherlands mampir ke rumahnya dalam keadaan basah kuyup akibat hujan-hujanan. Dirinya menduga hal itu sengaja direncanakan si bule itu supaya ada alasan untuk menginap di rumah besarnya. Waktu Netherlands menginap di rumahnya, pria bule itu tidur di kamarnya dan memakai kimono mandi miliknya. Waktu itu pulalah terjadi kejadian yang Indonesia sendiri tak habis pikir bagaimana bisa hal itu terjadi. Demi melihat ekspresi inosen Netherlands yang sedang tidur, Indonesia tiba-tiba jadi khilaf dan mencium pipi sang bule. Lalu adegan selanjutnya adalah uhuk-sensor-uhuk. Penasaran? Baca aja fict "Ik Hou Van Je, Indonesia"#promosi.

Cowok berambut ikal hitam itu masih ingat sewaktu Netherlands melakukan hal yang sama padanya, waktu di sudut bibirnya ada sisa-sisa scramble egg. Pemuda Belanda itu menjilat sisa makanan itu lalu mencium bibirnya dengan lembut dan menggoda. Ah, sampai saat ini Indonesia tak dapat melupakan lembutnya bibir yang menyentuhnya itu. Namun sekarang, bibir lembut itu tengah mencium orang lain. Indonesia hanya dapat menatap nanar sosok Netherlands dan Malaysia yang sedang bercumbu mesra.

-o0o-

Seharian itu Indonesia merasa lesu. Entah karena sedang kurang enak badan atau karena kurang enak perasaan. Entahlah. Yang pasti seharian di tempat bosnya, cowok berambut hitam ikal itu hanya luntang-luntung ngga jelas. Kebetulan juga sang bos sedang ada kunjungan ke luar negeri didampingi wakil bos plus ajudannya jadi doi agak-agak santai lah. Mumpung sedang santai cowok berkulit sawo matang itu memutuskan untuk browsing yutub. Kalau perasaan lagi ngga jelas begini paling enak nonton video klip lagu dangdut. Tapi lagu dangdut yang bisa bikin goyang, bukan lagu dangdut yang sendu en mendayu-dayu kaya lagunya Evi Tamala. Bukannya hepi malah jadi gegana alias gelisah, galau, merana. Akhirnya Indonesia memutuskan untuk mendengarkan lagu Goyang Dumang nya Cita Citata yang lagi hits itu.

Sebelum video klipnya dimulai muncul iklan selama beberapa saat. Iklan yang tampil saat itu tentang susu Elemen yang menampilkan seorang cowok yang memiliki tubuh atletis sedang menolong seorang gadis yang antingnya terjatuh di kolam renang. Pada iklan itu diekspos betapa oh-so-very-sexy-very-gay-nya tubuh sang cowok.

Jantung Indonesia berdebar demi menatap tubuh atletis nan macho itu. Bola mata hitam legamnya membelalak. Lalu seketika itu pikirannya terbang melayang lalu hinggap pada sosok Netherlands. Tubuh bule berbadan besar dan berotot itu entah kenapa terlihat menari-nari dalam pikirannya. Tubuh berkulit pucat itu memeluknya, mendekapnya dengan erat sambil membisikkan kata-kata penuh cinta. Indonesia seperti tersihir. Ia terhanyut dalam khayalan penuh erotisme itu.

"Akhhh, what the hell am i thinking about!" jerit Indonesia tersadar dari fantasi erotisnya.

Pemuda ganteng itu menjambak rambutnya lalu membenturkan kepalanya ke meja kerjanya.

"Get outta my head, you idiot!" jerit Indonesia berusaha menghilangkan pikiran kotor yang masih saja menari-nari di otaknya itu.

Indonesia masih ber-headbang-ria di meja kerjanya. Ia tak sadar bahwa rekan-rekan seruangannya memperhatikan dirinya dengan tatapan what the hell are you doing, freak? Begitu ia sadar telah menjadi pusat perhatian segenap rekan kerjanya, cowok berambut ikal itu cuma bisa nyengir sambil mengelus kepalanya yang benjol.

"Hehehehe…."

-0o0-

"I'm home, Neth, Malay…" ujar Indonesia seraya membuka pintu ruang tamu yang dikunci.

Kakinya melangkah masuk ke dalam dan yang didapatkannya hanyalah lampu temaram pertanda duo partnernya sudah tidur di kamar.

"Hhhffftt…" ia menghela napas. Ada nada kekecewaan disana.

Diliriknya plastik yang dijinjingnya di tangan. Sekotak cheese cake istimewa yang ia beli sepulang dari tempat bosnya itu sepertinya harus dimasukkan ke dalam kulkas dan terpaksa dinikmati esok hari saja karena duo partnernya sudah tidur.

Pemuda personifikasi Nusantara itu melangkahkan kakinya ke arah kamar utama. Ia membuka pintu kamar. Tak ada suara. Hanya ada kesunyian. Lampu tidur berwarna kuning temaram yang terletak di kanan dan kiri tempat tidur itu menyala sehingga samar-samar Indonesia dapat melihat dua sosok tubuh yang sedang terbaring di tempat tidur. Tubuh Malaysia yang sedang tertidur lelap dipeluk dari belakang oleh tubuh besar Netherlands. Mereka berdua tampak sangat mesra. Tangan besar milik Netherlands merangkul pinggul Malay seolah berkata, "aku akan melindungimu dan bayimu dari apapun dan siapapun". Melihat pemandangan itu, entah kenapa ada sesuatu yang terasa menusuk dada Indonesia.

Pemuda berkulit sawo matang itu akhirnya keluar dari kamar utama dan berjalan menuju ruang kerjanya. Ia duduk terpekur di kursi yang biasa ia gunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Indonesia kembali gegana; gelisah, galau, merana. Matanya terpejam. Dadanya terasa sakit. Mungkin karena kelelahan. Mungkin juga karena terlalu banyak pikiran. Atau mungkin karena hal lainnya.

Indonesia membuka beberapa lembar arsip pekerjaannya di meja, mencoba mengalihkan perasaan gegana yang dirasakannya. Namun ia terkejut saat yang terlihat di hadapannya bukanlah tulisan pekerjaannya. Bayangan akan Netherlands dan tubuhnya yang besar dan berotot itu kembali terlihat di depannya. Tatapan matanya yang tajam dengan hiasan manik berwarna hijau. Untaian rambut pirang oranye yang jatuh terurai di dahi. Hidung yang mancungnya ngga sopan. Bibir basah kemerahan yang setengah terbuka, memperlihatkan deretan gigi yang berbaris teratur. Bahu besar lagi lebar. Dada bidang dan berotot. Tangan besar yang berkulit pucat. Otot perut yang terukir dengan indah. Semua bayangan erotis itu tak hentinya berputar-putar di hadapan pandangan Indonesia.

"A-ah…"

Bayangan sosok Netherlands itu menghampirinya lalu memeluknya dengan mesra.

What's wrong mith me?

Ah..

Perhaps,..

I'm craving for his touch…

i'm craving for his love..

Tiba-tiba ada sesosok tangan besar menyentuh pundaknya. Ia terkejut sejenak lalu menoleh.

"Hey, honey, are you okay?" terdengar suara bariton yang sangat dikenalnya.

Betapa kagetnya Indonesia ketika mendapati orang yang sejak tadi mondar mandir di dalam pikirannya itu tiba-tiba muncul di depan batang hidungnya. Seketika itu dadanya berdegup kencang.

"Ne-Neth, a-apa, apa yang kau lakukan disini!? Bukannya kau tadi sudah tidur bersama Malay?" ujar Indo memalingkan wajahnya. Rupanya ia tak ingin sang bule menatap matanya.

"Hmmm, kupikir ada yang membutuhkan aku disini…" ujar Neth sambil mengelus-elus dagunya.

"Siapa yang membutuhkanmu, dasar kegeeran!" jawab Indonesia sambil melengos.

"Oh gitu ya? Hmm, siapa ya yang tadi menatap dengan tatapan galau waktu aku menjilat sisa telur dadar di pipi Malay?" ujar Neth seraya memutar bola matanya.

Indonesia terperanjat. Bagaimana si bule itu bisa tahu!?

"Lalu siapa ya yang menatap dengan tatapan merana sewaktu aku memeluk tubuh Malay di atas kasur tadi?" ujar Neth sambil mendekatkan wajahnya ke arah Indonesia yang masih memalingkan wajah.

Indonesia makin tercekat. Jadi, si bule itu belum tidur sewaktu ia masuk kamar tadi!?

"Me-Memangnya siapa!? Kenapa bertanya padaku!?" balas Indonesia pura-pura bego.

"Ah honey, kamu memang ngga pandai berbohong! Lihat, semuanya terbaca jelas di wajahmu! " bisik Neth ke telinga sang yayang.

Netherlands, tanpa peringatan, langsung memeluk tubuh mungil sang pemuda ganteng berkulit eksotis itu, merangkul, lalu menggendongnya ala bridal style. Indonesia yang terkejut akan perbuatan sang partner langsung meronta meminta diturunkan.

"Let go of me!" teriaknya sambil memukul pelan dada Netherlands. Namun sang bule hanya bergeming seraya tersenyum lembut. Tubuh besar itu lalu berjalan memasuki kamar yang letaknya di sebelah kamar utama. Dengan satu hentakan cowok Belanda itu menghempaskan partner mungilnya di atas kasur empuk. Baru saja Indonesia berusaha untuk bangkit dari tempat tidur, sang partner bulenya itu langsung menerjang tubuh mungilnya dan kini bertengger di atasnya.

Indonesia tak sempat memberikan perlawanan sewaktu cowok bule bermata hijau itu mulai melancarkan aksinya. Pemuda berkulit sawo matang itu tak sempat melawan sewaktu bule berambut jabrik itu menciumi bibir dan area sensitif di sekujur tubuhnya. Ia ingin melawan hanya saja entah kenapa sentuhan bibir partnernya itu terasa sangat menyenangkan. Indonesia kehilangan kekuatannya. Ia bertekuk lutut.

Is this the touch that i've been craving for so long?

Entahlah. Ia tak sadar lagi. Ia tak sempat lagi berpikir jernih. Satu hal yang pasti saat kulit pucat milik kekasihnya dan kulit sawo matang miliknya saling bersentuhan terasa sangat hangat dan nyaman. Perasaannya meluap. Semuanya tak terbendung lagi.

"Hold me, Neth, tighter.."

"Honey..."

"Neth, more.."

"Indo..."

"Fill me inside.."

"I will..."

...

...

...

"Aaaahhhh..."

...

...

...

And everythings looks blur...

...

...

...

Keduanya masih terengah. Keringat membasahi sekujur tubuh mereka. Lalu pandangan keduanya terpaut.

"Nyebelin!" jerit Indonesia tertahan sambil memonyongkan bibirnya.

"Iya honey, kamu itu memang nyebelin, tapi ngangenin..." balas Netherlands sok gombal sambil setengah bercanda.

Indonesia masih berusaha menguasai nafasnya. Kedua pipinya digembungkan seraya menatap Netherlands dengan tatapan sebal. Namun tetap saja ia tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya itu.

"I love you..." bisik Netherlands lembut sambil menatap bola mata Indonesia lekat-lekat.

Sang pemuda Nusantara itu terpaku sesaat mendengar bisikan kata-kata lembut dari bibir partnernya itu.

...

...

"I..i love you more..." balasnya tergagap.

Sang partner bule itu tersenyum demi melihat ekspresi wajah kekasihnya yang malu-malu menggemaskan itu.

"I love you most..." bisiknya lembut seraya mencium kening Indonesia.

...

...

"Aaaaaand...please don't bite my tongue," ujar Netherlands sambil mengelus-elus mulutnya, "seriously, it hurts!"

Owalah, rupanya ketika sedang beradegan rate M tadi, sangking serunya, Indonesia tak sadar telah menggigit lidah Netherlands.

"Ahaha, maap, maap, aku ngga sengaja, Neth!" Indonesia garuk-garuk kepala sambil nyengir.

"And honey, if you need me, just call me..." bisik Netherlands seraya membelai untaian hitam kelam milik sang partner sambil menatapnya penuh cinta.

"Anytime, anywhere, i'll be there..." lanjutnya dengan pandangan serius.

Indonesia mengangguk sambil tersenyum manis.

Dan hari itu tiba-tiba saja menjadi indah. Indonesia tak lagi gegana, alias gelisah, galau, merana. Segala keresahan hatinya mendadak sirna. Dan malam itu ia tidur dengan nyenyak dalam pelukan tubuh besar berkulit pucat yang selama ini ternyata sangat dirindukannya.

...

...

...

OMAKE

"Neee~etthhhh...!" teriakan nyaring terdengar dari kamar utama.

Tubuh besar berotot itu langsung tergopoh-gopoh berlari menghampiri.

"Bantalnya jatuh, gue ngga bisa ngambil..." ujar Malay yang semenjak perutnya membuncit jadi susah bergerak.

"Okay, i'll take it, here they are..." ujar Neth.

"Neeee~ttthhh...cepat kesini!" terdengar panggilan dari kamar sebelah.

Cowok Belanda itu kembali berlari-lari ke kamar sebelah.

"Ehmm..temenin dong..." bisik Indonesia malu-malu.

"Neeee~ttthhh...ambilin minum!" teriak Malay dari kamar utama.

Netherlands berlari cepat-cepat mengambilkan air untuk sang preggy boy tersayang.

"Neeee~tttthhhh...sini~" Indonesia kembali memanggil.

"Nee~ttthhh...gulingnya jatuh..!" Malay kali ini menjatuhkan guling.

"Neeeettthhhh...cepetan kesini!" Indonesia ngga sabar minta dikelonin.

"Neth, yuhuuuu..!"

"Neeeeeetthhhhh...!"

...

Siapa bilang punya dua uke itu enak?

...

...

...

TBC~