EXTRAORDINARY SCHOOL
I JUST OWN THE STORY
.
.
Yeaaaahhh.. FFN ku terbuka~~
.
.
.
...
"Aku dengar setiap 3 bulan sekali akan di adakan pertandingan antara masing-masing angkatan, bulan ini angkatan ke tiga dan angkatan enam, ada beberapa orang di angkatan pertama yang boleh absen dari pertandingan, karena belum bisa menguasai kekuatannya sendiri"
"Kita tidak akan ikut pertandingan itu" putus Chanyeol final. Tanpa melirik dua pemuda lebih muda di sampingnya.
"Itu sebenarnya sayang sekali"
"Mereka akan langsung curiga jika tau apa yang bisa kau lakukan" Jongin berkomentar pelan, pemuda itu sebenarnya adalah yang paling takjub dengan kekuatan Chanyeol yang sebenarnya.
"Aku tau, kepala sekolah jelek itu pasti akan menahanku karena takut mati"
"Sebenarnya jika kau di tahan kau tetap bisa membunuhnya" Jongin dan Sehun kemudian terkikik karena pernyataan bodoh itu.
Chanyeol masih berkonsentrasi pada benda elektronik di tangannya. Ia penasaran. Mencoba mencari tau apa isi benda yang bentuknya seperti ponsel itu.
Sekolah mereka langsung menyita seluruh ponsel dari bumi (Karena percuma saja, di tempat ini tidak sinyal untuk provider apapun).
Dan sebagai gantinya, setiap siswa mendapat benda asing itu sebagai alat komunikasi. Bodohnya, Park Chanyeol yang jenius ini baru merasa penasaran setelah satu bulan menggunakan benda tersebut.
"Ada sesuatu pada ponsel ini yang bisa mempengaruhi otak kita, menjadikan jiwa bersaing kita semakin besar dan akhirnya haus kemenangan, ingin menjadi paling kuat dan kemudian menghancurkan"
Gumaman Chanyeol itu membuat Jongin dan Sehun seketika menghentikan guyonan mereka, menatap Chanyeol dan ponsel yang sudah tak berbentuk lagi tersebut. Mulai tertarik melihat hasil karya calon professor baru.
Ada 5 ponsel disana, milik mereka bertiga, juga milik Baekhyun dan Kyungsoo (Chanyeol menarik benda itu secara paksa dari mereka berdua).
"Apa tidak akan mencolok jika hyung membongkarnya?"
"Tenang saja, aku akan membuat modelnya sama, hanya membuang beberapa perangkat tak berguna"
Jongin serta Sehun dengan kompak duduk bersebelahan dan mengamati yang di lakukan pemuda paling tua, wajah mereka seperti anak anjing yang penasaran dan itu membuat Chanyeol tidak bisa berkonsentrasi.
"Aku merusaknya bagaimana ini?" Kedua anak anjing di depan Chanyeol saling pandang, kemudian mengangguk. Dalam hitungan Jongin pergi kemudian kembali dengan membawa Baekhyun bersamanya.
"Kau sudah pandai mengendalikan kekuatanmu Jongin?" Baekhyun berkomentar setelah tangannya di lepaskan pemilik kekuatan teleport itu. Tanpa menunggu jawaban, pemuda bertubuh kecil itu langsung memasang wajah antusias dan berlari menghampiri si jenius yang gagal meneliti ponsel-ponsel mereka.
"Sunbae, Chanyeol hyung merusak ponsel sunbae"
Anak anjing kecil berbulu putih yang biasa Chanyeol panggil dengan nama Sehun itu mengadu dengan wajah polosnya, mengabaikan mata Chanyeol yang terbakar karena mengirim tatapan membunuh padanya.
"Darimana kau mendapat alat untuk membongkarnya? Guru Noh selalu marah jika tau aku membawa alat apapun kedalam kamar"
"Itulah kenapa aku berteman dengan Kim Jongin, walaupun beberapa kali salah alamat paling tidak dia bisa kabur dengan cepat"
Baekhyun sepertinya tidak peduli dengan alasan itu, ia mengamati ponsel yang baru saja di bongkar juniornya lantas membandingkannya dengan lain. Dan dalam hitungan detik kedua jenius sudah berkutat dengan benda elektronik tersebut.
"Kau pikir Chanyeol akan lebih kompak dengan kita atau dengan sunbae itu?"
.
.
.
Penelitian mereka berakhir di pagi hari sebelum sekolah di mulai, Jongin yang masih mengantuk mengotak-atik ponsel barunya kemudian melemparkannya kembali ke atas meja karena merasa tidak ada yang berubah dari benda itu.
Berbeda dengan Sehun yang sangat mengagumi ponselnya yang kini utuh kembali. Bocah itu membandingnya empat ponsel di hadapannya secara bersamaan kemudian menatap Chanyeol dan Baekhyun secara bergantian.
"Bagaimana hyung menyatukan ini lagi?"
"Dengan kekuatan 'jika kita terlambat Kyungsoo akan marah, sunbae' darinya" Baekhyun mencibir, menunjuk Chanyeol yang sedang tersenyum konyol. Pemuda berpostur kecil itu masih saja mendumal ketika merebut ponsel dari tangan Sehun dan keluar dari kamar mereka.
"Ada apa dengan senior cerewet itu?" Kyungsoo bertanya seraya berjalan masuk ke dalam kamar Chanyeol dan Sehun. Pemuda itu mengambil ponsel nya tanpa mendengar jawaban si pemilik kamar, hanya mengamati tampilan benda kotak itu kemudian melangkah keluar kembali.
"Kim Jongin, setidaknya bawa kuncimu jika keluar dari kamar" Suara tinggi Kyungsoo membuat tiga orang disana saling lirik. Memaksa pemuda yang namanya di sebut bangun dari tidurnya.
Dengan malas Jongin menyambar ponsel di atas nakas lantas berjalan lunglai keluar kamar.
"Ia bilang Baekhyun sunbae cerewat, padahal ia sama cerewetnya, mengantarkan kunci ke kamar yang hanya berbeda 2 ruang tidak akan membunuhnya kan?"
.
.
.
.
Normal.
Kyungsoo tau itu adalah kata yang tidak akan pernah ada di extraordinary school. Ia hanya tidak berpikir jika kebanyakan orang di sekolah ini akan menghilangkan kebiasaan normalnya dan berhenti membahas apapun tentang keluarga dan sahabat lagi.
Atau bahkan tidak ada satupun dari orang-orang di kelasnya bersahabat satu sama lain. Kecuali 3 orang aneh yang selalu mengacau kamarnya itu (tentu saja).
Dan rasanya semakin aneh karena perasaan Kyungsoo juga sama, ia tidak merasa sudah berpisah lama dengan orang tua dan keluarganya, ia tidak merasa kesepian karena tidak ada sahabatnya di sini. Ia hanya berpikir ini adalah sekolah dan sore nanti ia akan tetap bertemu ayah dan ibunya. Begitu terulang setiap hari jadi tidak ada kerinduan.
"Aku merindukan ibuku" Ini keluhan tentang ibu pertama yang pernah Kyungsoo dengar setelah satu bulan berada disini. Biasanya ia hanya mendengar murd-murid yang mengeluh karena tenaganya terkuras setelah latihan atau hal semacam itu.
Chanyeol meletakkan ponsel di atas ranjang Jongin kemudian menghampiri magnae yang sedang berdiri di ambang pintu, ia pernah mendengar perjanjian konyol tiga orang itu tentang berpelukan ketika merindukan rumah. Dan di tepati dengan baik.
"Mungkin kau hanya merindukan masakannya tukang makan"
Kim Jongin ikut merangkul si magnae walaupun tetap dengan mendumal, jika di lihat pemuda itu memang selalu begitu, berkomentar tentang hal yang tidak penting, mengeluhkan hal paling tidak penting dan tetap saja mau melakukannya lagi jika diminta. "Apa otak jeniusmu tidak bisa digunakan untuk membuat alat penghubung dengan orang bumi Chanyeol?"
Ia harus terus mengingat orangtuanya untuk membawa rasa rindu itu kembali, ia harus menjaga rasa rindunya agar mempunyai tujuan, dan ia harus menjaga rasa rindunya untuk tetap memanusiakan hatinya "Kim Jongin"
Dia bukan alat, lagipula Kim Jongin belum sehebat itu sampai bisa keluar masuk sekolah dan kembali ke tanah normal untuk bertemu orang tua mereka.
"Jongin hyung bisa membuat Kyungsoo hyung masuk jurang dengan kekuatannya sekarang hyung"
"Aku bahkan masuk ke asrama wanita ketika mencurikan perkakas laboratium untukmu"
Chanyeol terdiam, melirik tiga orang di hadapannya secara bergantian kemudian menopang dagunya. Beberapa detik ia memutar matanya (mungkin berpikir)
"Mungkin aku bisa membuat sesuatu, tapi kau tau, menghubungi mereka berarti menghidupkan rasa rindumu yang sudah mati, Orang tuamu bisa saja menangis karena rindu dan selama bertahun-tahun kau tidak akan pernah bisa pulang pada mereka"
Bayangan ibunya yang menangis ketika melepaskan kepergiannya beberapa minggu lalu memenuhi otak Kyungsoo, dan Kyungsoo sudah berjanji tidak akan ada lagi air mata itu, ia akan kembali setelah berhasil disini.
"Mungkin seharusnya aku tenang saja disini dan tidak memikirkan apapun tentang daratan"
.
.
.
.
Kyungsoo jadi memikirkan ibunya lagi. Mungkin bergaul dengan tiga orang itu ada baiknya juga, walaupun jika terlalu sering membuat kepalanya pusing.
Kenapa tiga orang itu bisa sekompak itu?
Kim Jongin bahkan tiba-tiba menghilang di malam hari dan di temukan di ranjang Oh Sehun pada pagi hari selanjutnya. Mungkin sebenarnya tiga pemuda itu menyembunyikan sesuatu dan mengatur siasat ketika malam hari.
Itu bisa jadi. Tapi bagaimanapun juga. Kyungsoo tidak peduli.
Hujan tiba-tiba turun dengan matahari yang masih terik.
Membawa hawa malas. Rasa malas itu sebenarnya hanya mendera pada Kyungsoo, ia memang tidak pernah berminat masuk ke dalam kelasnya sendiri. Para sunbae dengan kekuatan sepertinya tidak ada yang bersahabat. Dan ia memilih kabur saja.
Dia sering melakukan ini, menyelinap di kelas orang lain. Ada seorang yang menarik perhatiannya ketika memasuki kelas para pengendali tanah, seseorang yang dulu pernah menjadi seniornya ketika sekolah seni. Jung Taekwoon. Seorang yang pernah menjadi lead vocal untuk paduan suara gereja (tempatnya bergabung) dan tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
"Sunbae?" sapanya, pemuda itu menatapnya, menarik senyum simpul sangat tipis kemudian menggeser duduknya. Mempersilahkan Kyungsoo duduk. Kelas ini akan menjadi sedikit menyenangkan karena ia mengenal seseorang disini.
"Kau masih mengingatku?" pemuda yang cenderung misterius itu bertanya pelan, suara masih semerdu dulu. Dulu Kyungsoo selalu merasa penasaran dengan pemuda ini dan diam-diam ingin menjadi teman bermainnya.
"Tentu saja, aku adalah satu-satunya orang di grup paduan suara yang selalu berharap sunbae tiba-tiba datang dan menyanyi untuk kami lagi, aku bahkan berusaha keras untuk menjadi lead vocal jadi ketika sunbae datang aku bisa menyerahkannya dengan sukarela"
"Tidak" Taekwoon bergumam pelan "mungkin kelak kita bisa berduet"
Kyungsoo tersipu mendengar itu.
Dia bertingkah sangat konyol.
"Sunbae, apa sekolah ini melarang seseorang berteman?" Kyungsoo mengalihkan pembicaraan. Bukannya ia ingin menjadi teman 3 bocah aneh itu, ia hanya ingin membuat pembicaraannya dengan Taekwoon sedikit lebih panjang.
"Sayangnya tidak ada alasan untuk hal semacam itu"
Kyungsoo bersumpah ia mengidolakan Taekwoon bukan hanya karena suaranya. Mungkin juga karena kepribadian mereka hampir sama.
Kedua pemuda itu saling melirik kemudian menyeringai.
Dia menemukan teman.
.
.
.
.
Kelas usai.
Kim Junmyoon hanya mengamati rekan-rekan satu angkatannya berlatih tanpa berkomentar apapun, mereka sebenarnya boleh saja keluar dari kelas dan menikmati hangatnya matahari sore yang menenangkan, tapi mengingat besarnya keinginan orang-orang ini untuk menang ia tidak yakin mereka akan mau melakukan itu.
"Sunbae, aku boleh keluar dari kelas kan?" seorang dari angkatan pertama mendatanginya dan bertanya dengan wajah serba salah, pemuda itu tidak terlihat terlalu kelelahan, mungkin hanya bosan.
Itu mengejutkan.
Junmyoon tau, ada unsur magis di sekolah ini yang bisa membuat setiap siswanya mempunyai jiwa bersaing yang tinggi dan keinginan untuk berlatih agar tidak ingin terkalahkan selalu timbul, dan sepertinya kekuatan itu tidak berlaku pada anak ini.
"Kau lelah?"
Bocah itu menggeleng sebagai jawaban, ia juga menggeleng ketika Junmyoon apakah dia lapar dan bosan. "Aku ada janji dengan temanku, dia sudah menungguku di kedai eskrim"
Itu jawaban paling kekanakan, dan entah kenapa Junmyoon menyukai jawaban jenis ini. itu membuatnya tersenyum senang. Anak itu menunduk terlalu dalam ketika Junmyoon berjalan mendekat, lalu mata dan mulutnya membulat ketika merasakan tangan Junmyoon mendarat di kepalanya dengan lembut.
"Berapa usiamu?" "Seharusnya 15 tahun" jawab anak itu pelan. Jadi dia yang di bicarakan guru Im sebagai pengendali udara sekaligus siswa termuda tahun ini. Bukan hanya angin yang di kendalikannya tapi udara.
"Kau tau, aku bukan guru, aku hanya membantu teman-teman untuk lebih mengontrol kekuatan mereka, kau boleh bergabung dan keluar sesuka hatimu" Mendengar itu mata si anak kecil berbinar, ia tersenyum sangat lebar walaupun pada detik berikutnya senyum itu hilang di gantikan dengan mata mendelik tidak terima.
"Tidak terimakasih, aku akan masuk kelas sesuai jam" bocah itu menggendong tas punggungnya kemudian berlari keluar kelas "Terimakasih sunbae, aku akan membawakan sunbae ice cream lain kali" teriaknya tepat sebelum menghilang di balik pintu.
.
.
.
.
Junmyoon memang bukan guru, ia hanya tidak suka bertarung jadi ia memanfaatkan kemampuannya untuk mengajari rekannya. Tidak terlalu buruk, karena dengan cara itu ia bisa mengetahui cara berpikir para guru dan cara mereka memanfaatkan keadaan para siswa.
Ada banyak hal di sekolah yang perlahan bisa di ketahuinya, dan ada banyak hal yang harus di luruskannya.
Dan salah satu misi yang di buatnya sendiri adalah menemukan tiga anak yang diramalkan akan mengancam sekolah mereka. Tentu saja ia tidak ingin menangkap dan memenjarakan mereka, ia ingin kekuatan 3 anak itu untuk membuat sekolah itu dijalan sebagaimana mestinya.
"Kau sudah bertemu bocah mengendali udara itu? sulit di percaya kan jika kekuatannya bisa sangat besar?" guru Im si pengendali angin datang entah darimana, wanita itu tersenyum sangat lembut dan duduk di hadapan Junmyoon. "dia sangat ceroboh, tapi kadang itu membuatku takut"
"Dia baru satu bulan berada disini, kita belum tau apa yang ada di pikirannya"
"Yang dia tau dia adalah pengendali angin, dan semua orang di kelas juga berpikir demikian"
"Dia masih sangat kekanakan, kadang-kadang berteriak memanggil ibunya ketika seseorang di kelas menakutinya" mata Junmyoon menerawang, membayangkan bocah dengan mata melengkung dan kulit putih pucat itu menggeram marah karena di ganggu salah seorang gadis tomboy di kelasnya "guru, apa aku boleh mendekatinya?"
"Misi apalagi sekarang?"
"Aku hanya penasaran, misi utamaku tetap menemukan 3 anak itu"
Guru Im adalah guru paling tidak licik di sekolah, ia adalah satu-satunya yang tidak memperdulikan perintah kepala sekolah haus kekuasaan itu. Guru Im adalah yang paling manusiawi dari sekian guru di sekolah.
Jadi "Terserah kau saja, oh ya… ngomong-ngomong tentang misi mu, ku dengar mereka sudah ada di sekolah ini, temukan mereka sebelum kepala sekolah"
Mata Junmyoon berbinar, senyum lebarnya terliat antusias dan dengan semangat dia menyamankan posisi duduknya, bersiap menanyakan hal lebih pada sang guru cantik.
.
"Jadi apa kekuatan mereka?"
"Tidak ada yang tau, yang jelas satu kenyataan yang tidak berubah bocah api ada di antara tiga anak itu"
Junmyoon mendesah, ia bahkan tidak tau seperti apa bocah api itu. Apa ia bisa menghilang sampai tidak ada seorang pun di sekolah ini yang pernah melihatnya. Sebenarnya jika dia benar-benar punya kekuatan api sebesar itu, radar pendeteksi kekuatan kepala sekolah pasti akan bereaksi. Tapi radar itu masih tenang-tenang saja.
Ia sendiri tidak melihat ada seorang pun dengan kekuatan api kecuali Wu Yifan yang angkuh itu dan guru Han.
"Apa mereka berteman?" "Jika ingin lebih tau tanyakan saja pada kepada sekolah, aku bahkan tidak tau mereka ada di angkatan berapa"
Apa mungkin dia Wu Yifan?
.
.
.
.
Maaf update lama.
sy tau ga ada yang mau baca fic ini.
tapi sy susah juga pas ffn di blokir provider yg sy pake.. dan sy norak banget baru nemu caranya setelah sebulan lebih ga bisa buka. OTL
.
.
Ga papa kalo ga mau review. :D
Sy suka Unfair~~ eommaya~
