EXTRAORDINARY SCHOOL

Disclaimer: Chanyeol is Sehuns (:P)


.

.

.

Saya lagi Badmood, butuh mood booster

(Kind of warning : sy ini selain pecinta Bottom Chanyeol, juga penganut Manly Luhan, dia emang cantik dan agak kayak bocah, tapi dari semua member (And form member) EXO, bagi sy dia adalah yang paling manly)

jadi buat yang ga sependapat, sy ga maksa buat baca.

.

.

"Ya Huang Zitao bangun! Berapa lama kau berniat mencuri waktu?"

Zitao mengerung pelan sebelum membuka mata, ia manatap tak suka pada perempuan yang membangunkannya tadi, kemudian bangkit terduduk.

"Mencuri waktu seperti ini juga melelahkan guru! Aku harus tidur untuk menjaga stamina"

"Jika tidak ingin kelelahan, tidak perlu menghentikan waktu selama ini"

"Ini baru 2 jam!"

Pemuda berkulit kecoklatan itu memijit pelipisnya lantas semua hal di sekitar mereka bergerak kembali, Yixing tak terlihat terpengaruh dengan waktu yang sudah berjalan dan justru menyamankan posisi tidurnya.

"Aku bahkan belum menguasai kekuatanku" keluh Zitao "Jika aku tidak di perbolehkan mencuri waktu lalu bagaimana caraku latihan?"

"Kepala sekolah memberikan seluruh malam untukmu, biarkan yang lain berlatih juga, siang hari milik mereka!"

Yixing menggeliat setelah mendengar suara sang guru yang lumayan keras, ia mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian mencoba bangun setelah melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.

"Guru Song" Sapanya, bersiap untuk bangun dan membungkuk memberi hormat, namun tubuh kurusnya di tahan oleh tangan kanan Huang Zitao.

"Jangan terlalu cepat bangun ge, gege akan pusing"

Hal mengejutkan yang di perlihatkan Huang Zitao 'yang sombong' adalah dia akan bersikap sangat manis dan hormat pada Yixing.

Sang guru muda dengan rambut hitam panjang tersebut tersenyum mengamati keduanya, Zitao tampak semakin terganggu, dan itu bukan pertanda yang bagus, jadi, dengan cepat Song Qian keluar dari ruangan tuan healing yang ajaib.

"Tak usah pedulikan wanita itu ge, Gege tidurlah lagi"

Bocah itu.

Jika kekuatannya tidak semenakutkan mengendalikan waktu, Song Qian bersumpah akan menempeleng kepalanya keras-keras.

.

.

.

.

"Sunbae?"

"Oh? Kyungsoo"

"Sedang apa disini?"

"Hanya bernostalgia, dulu kelas ini pernah digunakan untuk melatih para pengendali cahaya"

Kyungsoo berkedip, ia baru ingat senior di hadapannya ini pernah menjadi anak ajaib.

Walaupun sebenarnya Kyungsoo tidak pernah melihat pemuda ini secara terang-terangan mengeluarkan kekuatannya. Hanya sekali.

Ketika Sehun dengan sangat mengganggu merengek untuk melihat cahayanya.

Kyungsoo menduga senior dengan tangan indah ini sakit hati. Bagaimana pun juga seluruh sekolah mengatakan ia adalah anak buangan. Masuk ke dalam kelompok jenius karena ia tidak cukup kuat untuk menjadi anak ajaib. Dan bisa jadi ia juga mengutuk kekuatannya sendiri yang tidak bisa menghancurkan.

Padahal Kyungsoo juga mengutuk kekuatan pengancurnya.

"Sunbae menyesal karena memiliki kekuatan cahaya?"

"Tidak" pemuda itu menggeleng, melirik Kyungsoo kemudian tersenyum tipis "Aku hanya menyayangkan kenapa kekuatanku tidak bisa mengalahkan apapun"

Kali ini giliran Kyungsoo yang melirik seniornya, pemuda itu terlihat murung, mungkin Kyungsoo salah menilai. Pemuda ini ternyata sama saja dengan pada pemilik kekuatan yang lain.

Ingin menjadi yang terbaik dan ingin menghancurkan

"Pada dasarnya setiap siswa di sekolah ini sama saja, ya kan sunbae? Mereka ingin menang sendiri, sama seperti sunbae"

"Ak-"

"Sunbae tau, dulu aku menangis berhari-hari karena kekuatan ini, aku bahkan beberapa kali secara tidak sengaja membuat sahabatku di rawat di rumah sakit. Memiliki kekuatan penghancur tidak pernah menyenangkan"

Mata bulat Kyungsoo secara sempurna bertemu mata sipit itu. Ia mengerjap beberapa kali kemudian menghela nafas ketika pemuda di hadapannya terlihat menyadari sesuatu.

"Aku tidak pernah menggunakan kekuatanku sekalipun disini, walaupun para guru terus memberiku metode memperkuat kaki dan tanganku. Aku mengancam akan menghancurkan tanah ajaib jika mereka memaksa menggunakan kakiku"

"Kyungsoo"

"Jika aku bisa, aku juga ingin menyembunyikan diri dan menjadi jenius. Persetan dengan komentar semua orang. Mereka berkomentar hanya karena ingin aku menjadi seperti mereka"

Setiap hari mendengar Sehun berkomentar tentang sekolah ini membuat pola pikir Kyungsoo berubah juga.

Matanya bertemu milik Sunbaenya beberapa detik. Dan kemudian mata sipit itu melengkung membentuk sebuah senyuman.

Ini pertama kalinya Kyungsoo melihat sunbae dengan kekuatan cahaya tersenyum selebar ini, dan ini juga pertama kalinya Kyungsoo mengakui senyum seseorang mampu mempesonanya.

.

.

.

.

.

Pertandingan musim ini sangat membosankan.

Wu Yifan yang (terpaksa) menyaksikan pertandingan siang ini, menguap beberapa kali lantas berdiri dari kursinya, ia melirik Luhan yang masih serius mengamati kekuatan calon lawan tandingnya di perempat final lusa kemudian menghela nafas berat.

Ia bosan dan pemuda yang menyeretnya menonton pertandingan ini tidak bisa membantu sama sekali.

Dengan menghela nafas Yifan akhirnya duduk kembali, Luhan akan sangat ribut jika ia pergi begitu saja dari arena tanding. Dan telinganya sedang tidak ingin mendengar itu.

"Hai Chanyeol"

Pemuda tinggi itu hampir saja tertidur sebelum roommate nya berteriak heboh. Luhan melambaikan tangannya terlampau semangat, dan senyum lebar sok manisnya membuat Yifan semakin jengah.

Chan-siapa tadi?

"Kalian terlambat, pertandingan sudah hampir selesai! Kenalkan, dia Wu Yifan, seorang pengendali api, kalian menonton pertandingannya kan? Dia sangat angkuh"

Yifan ingin menyumpal mulut Luhan dengan sepatunya, tidak ada untungnya membuat perkenalan dengan bocah-bocah lemah dengan wajah terlalu polos seperti mereka.

"Sunbae juga sama angkuhnya"

Komentar itu membuat si pengendali api hampir tersedak tawanya sendiri, pemuda dengan mata lebar dan tubuh tinggi yang berkomentar.

Wajah sang komentator terlihat imut menggemaskan walaupun suaranya sangat berat. Wajah itu terlihat lebih menggemaskan lagi karena mata besar pemuda itu terlihat berbinar (sepertinya membanggakan komentarnya barusan)

Wu Yifan merasa pernah melihat pemuda ini, dan wajah dua bocah di sampingnya juga terasa tidak asing. Namun bagaimanapun juga otak dangkalnya tidak bisa mengingat kapan dan di mana.

Oh!

Tunggu! Otaknya mungkin memang memiliki sarang laba-laba, tapi api dalam tubuhnya (entah bagaimana) bergejolak mendidihkan darahnya ketika melihat wajah kekanakan pemuda berambut coklat caramel ini.

"Aku hanya melakukan itu untuk memancing emosi lawan! Tidak sungguh-sungguh" Luhan tersenyum kemudian mendekati pemuda berkulit pucat di samping si mata lebar. Membisikkan beberapa kalimat pada pemuda itu —masih dengan senyuman sok manisnya—

"Kita sudah pernah bertemu" Yifan berkomentar, membalas tatapan tak suka dari si wajah mengantuk.

Bocah bermata lebar mendekatinya kemudian menjulurkan tangannya.

"Aku Park Chanyeol, mungkin kita bisa melupakan hal tidak menyenangkan itu, karena aku tidak yakin sunbae ingin hal memalukan itu terulang"

Tersenyum brengsek dan mengulurkan tangannya lebih jauh menunggu Yifan untuk menjabatnya. Pemuda Kanada itu masih bisa mengendalikan diri kemudian meraih uluran tangan pemuda di hadapannya.

Panas.

Bukan jenis panas biasa. Ia bisa merasakan ada aliran api dalam darah pemuda ini karena ia sendiri memiliki api yang sama.

Matanya melebar memperhatikan pemuda di hadapannya, senyum bocah itu masih sepolos beberapa menit lalu dan tak ada tanda-tanda ia mengeluarkan kekuatan.

Bukankah pemuda ini hanya seorang jenius tanpa kekuatan?

Atau mungkin dialah yang tempo hari mematikan api besarnya?

Ini sedikit mencurigakan.

Dan membuat bulu kuduknya meremang secara bersamaan.

.

.

.

Chanyeol tentu saja merasakan kecurigaan itu, ia mengusap gelang di lengan kirinya pelan untuk menetralkan suhu tubuhnya. Namun sepertinya tidak berhasil.

Ia justru merasa temperatur udara di sana semakin panas.

Oh Sehun yang tanggap langsung mendekati lantas menyentuh lengannya. Mematikan api dalam darahnya lewat celah pori-pori di tangannya kemudian memberi jarak pada tubuh mereka ketika Luhan mengajaknya berbicara kembali.

"Kau selalu seperti ini, belajarlah mengendalikan emosimu Park Chanyeol" Kim Jongin yang juga menyadari itu langsung berkomentar, tak peduli jika ada dua orang sunbae yang seketika menatap mereka bingung.

"Memang ada apa dengan emosinya?"

"Dia selalu marah jika melihat orang angkuh yang sok baik, padahal kita kan ingin berteman"

Kim Jongin yang cerdas dan alasan kekanakannya, apanya yang berteman?

Pemuda berkulit seksi itu meliriknya seraya menyeringai karena merasa menang, sedangkan yang di sindir hanya mencibir tak terlalu peduli.

Pada dasarnya sang pengendali api kan tidak ingin berteman dengan siapapun, dan ia juga tidak peduli pendapat orang lain tentang dirinya.

.

.

Chanyeol harus belajar mengendalikan emosinya

Ia juga tau itu. Tapi bagaimanapun ia mencoba, rasa panic berlebih dan emosi lainnya tak bisa di kendalikan semudah itu.

Itu lah sebabnya ia selalu butuh Oh Sehun di sampingnya. Karena jika tidak ada yang mematikan apinya ketika emosinya berantakan, persembunyian mereka sia-sia.

Meskipun sebenarnya, jika mereka tertangkap Kim Jongin tetap bisa membawa mereka kabur.

"Tidak usah berteman dengannya, kalian bisa berteman denganku saja"

Luhan yang mengeluarkan usulan, bersamaan dengan senyum di wajah tampannya, Chanyeol tidak pernah mengerti pemuda ini, dan kenapa dia bisa punya kepribadian ganda seperti ini.

"Jika kita berteman dan kemudian sunbae melawanku di pertandingan, apa sunbae mau kalah dariku?"

"Tentu saja tidak"

"Sunbae menjawab dengan terlalu cepat" Chanyeol berkomentar, mengamati mata indah seniornya itu seraya tersenyum tipis "terlihat sekali tidak ingin di kalahkan"

"Aku hanya berusaha sportif, apa jika kita berteman kau mau aku bertanding setengah-setengah?"

"Aku tidak ingin bertanding dengan temanku, kami berlatih bersama, tapi kami tidak bersaing" dan Chanyeol memainan actingnya dengan baik, sesuai dengan keinginan (kebohongan) Jongin tadi.

"Sudahlah hyung, Jongin hyung kan sudah memperingatkan untuk menjaga emosi"

Dan Chanyeol bersumpah demi tubuh pendek kepala sekolah Han Seungho acting Sehun benar-benar payah.

Tidak ingin mentertawakan permainan mereka sendiri, Chanyeol beranjak dari sana, menarik Jongin untuk terkikik besamanya meninggalkan Sehun yang berpamitan pada kedua sunbaenya.

Si magnae selalu bersikap sok sopan.

.

.

.

.

"Perasaanku berkata ada sesuatu yang di sembunyikan bocah tinggi itu" guru muda dengan kacamata berbingkai hitam itu berkomentar, mengamati tiga siswa yang baru saja turun dari bangku penonton kemudian melirik kawan di samping kirinya

"Dia hanya jenius biasa, bekerja sama dengan anak buangan Byun Baekhyun untuk membuat alat yang bisa melindungi orang tanpa kekuatan, tidak berguna!"

"Kau tidak melihat wajahnya merah beberapa menit lalu?"

"Memang kenapa jika wajahnya merah? Wajahku juga merah karena matahari, ayo masuk"

"Kau tidak curiga?

Gadis itu mengibaskan rambut panjangnya kemudian melirik pemuda yang mengajaknya bicara selama beberapa detik. Wajah galaknya menyiratkan ketidak sukaannya dengan pembahasan sia-sia ini.

"Guru Jung yang terhormat, bisakah kita menghentikan pembicaraan ini? tidak ada apa-apa dengan bocah itu"

Jung Yonghwa tidak peduli dengan komentar itu, intuisinya mengatakan ada sesuatu yang salah dengan pemuda itu dan ia harus mencari tahu.

Wajah merah itu tak wajar, lagipula hawa panas mendadak tadi pasti ada sebabnya.

Terlebih pertandingan barusan antara pengendali air dan pengendali kayu.

.

.

.

.

"Wajah yang memerah tidak bisa di jadikan dasar, tapi kemungkinan bocah itu akan menjadi berbahaya bisa saja. yang harus kau lakukan adalah mencari tau seperti apa kekuatannya"

Tanggapan dari kepala sekolah hanya sesantai itu ketika ia melaporkan temuannya, lelaki tambun ini memang tidak pernah percaya pada orang lain jika belum melihatnya sendiri.

Mungkin ketika sekolah ini sudah benar-benar sudah di hancurkan, laki-laki tua ini akan membenarkan intuisinya

Ia tidak peduli jika si kepala sekolah gemuk ini tidak mau menyelidiki ketiga murid itu. ia akan melakukannya sendiri

.

.

.

.

"Kita harus menemui seseorang yang bisa mengajarimu cara mengendalikan emosi, kau terlalu cepat panic"

Chanyeol menghela nafas untuk menjawab usulan Jongin.

Ia melirik Sehun yang sepertinya tidak ingin menyanggah pernyataan yang lebih tua.

"Kau tau semua orang hanya menganggapku jenius biasa kan?"

"Kalau begitu belajarlah mengendalikan diri"

Sehun yang menjadi harapannya akhirnya berdiri. Menepuk pundak pemuda paling tua itu seraya tersenyum.

"Aku akan membantu hyung"

Chanyeol melirik kedua pemuda di hadapannya kemudian menunduk. Sebenarnya ia benci berlatih.

Ia benci panas.

.

.

.

.

Malam semakin tua. Sehun yang sedang tertidur terbangun karena seseorang menendang betisnya dengan cukup keras.

"Bocah manja, bangun"

Kim Jongin yang melakukan itu. Pemuda dengan kulit kecoklatan itu selalu menjadikan Sehun sasaran pertama kakinya ketika masuk ke dalam kamar.

Sudah menjadi kebiasaan. Pemuda teleport itu akan berpindah ke kamar mereka ketika malam datang. Meninggalkan Kyungsoo yang akan mencibir pada keesokan harinya.

Chanyeol sepertinya sudah bangun. Atau sebenarnya ia tidak tidur sejak tadi. Dari yang Sehun lihat pemuda dengan golongan darah A tersebut tidak terlihat mengantuk, namun justru terlihat sangat lelah.

"Hyung ingin istirahat malam ini?"

"Kau gila? Aku sudah memasang pelindung! Dia memang pemalas saja"

Pelindung yang di maksud Jongin hanya sebuah alat yang di pasang di setiap sudut ruangan untuk meredam kekuatan besar Chanyeol agar tidak terdeteksi kepala sekolah. Benda itu bukannya meyamarkan pandangan. Setiap orang yang membuka pintu kamar mereka pasti bisa melihat bagaimana tubuh Chanyeol yang terbakar.

Jadi ketika mereka melakukan kecerobohan sedikit saja. Tidak akan selamat.

"Perasaanku tidak enak"

"Kau selalu mengatakan itu setiap kali bertambah tingkatan" Kalimat Jongin memang benar. Dan seharusnya Chanyeol tidak terlalu sering mengucapkan kalimat semacam itu.

Karena kali ini perasaannya benar-benar tidak nyaman.

.

.

Chanyeol mengatur nafasnya, ia mengamati pintu kamarnya yang sedikit terbuka kemudian menoleh pada Jongin. Mereka memang tidak pernah mengunci pintu kamar ataupun jendela ketika berlatih.

Jongin dan Sehun masih tidak ingin terbakar hidup-hidup karena berada di ruangan tertutup bersama sumber api.

Jongin sepertinya mengerti arti pandangan Chanyeol, pemuda itu mengalah kemudian menutup dan mengunci benda dari kayu tersebut, sebagai gantinya, kedua jendela di buka lebar dan Jongin duduk di sana.

Si bocah api kemudian menghela nafas lagi. ia memejamkan matanya. Memberikan seluruh fokusnya pada api yang ada dalam tubuhnya dan semakin dalam focus itu, tubuhnya juga terasa semakin panas.

Kedua tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya terasa menyentuh apinya sendiri.

Dalam bayangannya Sehun dan Jongin masih mengamati apa yang di lakukannya dalam diam.

Mereka berdua memang selalu begitu. Sehun hanya akan mematikan apinya ketika sudah tidak terkontrol lagi. Dan sepertinya pemuda itu mulai bisa bersantai karena kemampuan Chanyeol mengendalikan apinya sudah jauh lebih baik.

Jongin yang sedang duduk di bingkai jendela melirik kebawah. Ada seseorang yang sedang berdiri dan diam mengamati ruangan mereka.

Api Chanyeol secara samar menembus pelindung dan warna merahnya terlihat dari bawah.

"Chanyeol ah" gumamnya dan tidak mendapat jawab apapun dari sang empunya nama. Ia mendekati Sehun kemudian memberikan kode pada pemuda dengan kulit pucat itu untuk menutup akses udara di api besar itu.

"Ada apa?"

Tanya mereka berdua secara kompak. Jongin menutup jendela setelah Sehun memastikan seluruh ruangan bebas dari hawa panas.

"Ada seseorang yang mengawasi kita"

.

.

.

.

Setelah kejadian itu tiga serangkai itu melangkah dengan terlalu hati-hati.

Tidak ada yang bisa memastikan jika orang yang mengawasi mereka berbahaya atau tidak, mereka hanya tidak ingin menjadi terlalu gegabah dan membahayakan diri mereka sendiri. terutama Chanyeol yang pasti akan tertangkap jika penyamarannya terbongkar.

Chanyeol ada di kelas saat ini. berdiskusi dengan Baekhyun tentang barang yang akan mereka presentasikan dan merasa bangga dengan temuan tersebut.

Pertandingan masih di selenggarakan di lapangan dan mereka sepertinya tidak ingin menjadi saksi dari kemenangan yang lain.

Mungkin Wu Yifan yang sombong masih belum di kalahkan.

Guru Seo sepertinya tidak tertarik dengan temuan mereka. Wanita cantik itu hanya mendengarkan penjelasan sekenanya kemudian menghentikan presentasi mereka sebelum setengah jalan.

"Alat untuk melindungi diri seperti itu tidak pernah berguna, tidak ada salahnya jika orang-orang lemah itu mati! Dan kalian berdua sepertinya tidak mengerti kenapa para jenius terpilih, para jenius ada di sini untuk membantu pahlawan, agar mereka menjadi lebih kuat! kembali ke tempat kalian!"

Baekhyun membasahi bibirnya dengan gugup, kemudian berjalan dengan pelan menuju kursinya. Dasom yang cantik langsung menyambut mereka dan memuji ciptaan mereka.

Gadis itu memang belum mau menerima tantangan untuk membuat penemuan.

Kelompok selanjutnya adalah para sunbae, mereka ada di tingkat 7 dan menciptakan sebuah benda yang mereka ramalkan bisa melemahkan sang monster api. Sebuah tali pengikat yang akan menyerap seluruh kekuatan monster tersebut.

"Kami akan memberikan testimony" pemuda dengan mata biru yang menjawab sebagai ketua kelompok itu mengakhiri penampilan mereka. Meminta seorang 'terbuang' dengan kekuatan kayu untuk mendekat dan mengikatkan benda itu.

Dari semua kelinci percobaan yang Chanyeol kenal gadis dengan kemampuan mengendalikan kayu adalah yang paling kuat. Dan saat ini gadis itu mulai kesulitan mengendalikan diri, bahkan terlihat kesakitan.

"Baekhyun, apa kau keberatan jika mencobanya?"

Guru cantik itu sepertinya benar-benar tidak menyukai karya mereka tadi, jadi mengorbankan Baekhyun untuk menjadi kelinci percobaan

"Aku akan melepaskannya jika ini membahayakanku" ucap Baekhyun sebelum para sunbae mengikatnya.

Namun ketika benda itu benar-benar terlilit di pergelangan tangannya, Baekhyun bahkan tidak mampu menyentuhnya. Apalagi melepaskannnya.

Chanyeol yang dengan lancang berjalan mendekat dan membebaskan Baekhyun, ia mengikatkan benda itu pada tangannya sendiri kemudian mengikatkan gelang yang tadi di buatnya bersama Baekhyun di tangannya yang lain.

Itu sebenarnya gelang untuk membuat kekuatan air.

Chanyeol hanya ingin mencoba apakah benda buatan sunbaenya itu benar-benar akan menyerap kekuatannya.

.

Dan ia merasa baik-baik saja. semua mata tertuju padanya, menunggu reaksi bocah dengan mata lebar itu, dan di jawab dengan senyuman lebarnya. Bersama api kecil yang menyala di telapak tangannya.

"Jamku masih bisa berfungsi dengan baik" komentarnya.

.

.

.

.

Baekhyun dan Chanyeol tertawa ketika keluar dari laboratorium. Guru Seo sepertinya sangat terganggu dengan kenyataan bahwa karya anak emasnya di kalahkan, sehingga langsung mengusir mereka berdua.

Pemuda yang lebih muda kemudian menyeret Baekhyun untuk menunggu Jongin dan Sehun di depan kelas pengendali. Sehun bilang yang mengajar mereka bukan guru melainkan seorang sunbae yang selalu tersenyum padanya.

Baekhyun tidak ingin berkomentar apapun ketika Chanyeol dengan penasaran melongokkan kepalanya ke dalam kelas, dan melihat yang di lakukan para bocah ajaib dari angkatan pertama berlatih.

Pemuda bermata sipit itu mengamati gelang mereka dan menemukan satu gelang api di sana. Ia mengernyitkan kening kemudian mengamati benda yang melingkar di tangan Chanyeol. Garisnya berwarna biru dan (walaupun tidak terlalu jelas) ia bisa menyimpulkan benda itu bersimbol air.

"Apa mungkin jamnya rusak?" Baekhyun bergumam, kemudian berjalan mendekati Chanyeol. Menarik lengan kanan pemuda itu dan melepaskan gelangnya.

Chanyeol sepertinya tidak menyadari kecurigaannya dan melepaskan benda itu begitu saja, kemudian mengamati kelas kembali. sementara Baekhyun langsung mencoba gelangnya dan berhasil.

Tidak ada yang salah dengan benda itu.

"Chanyeol ah"

"Ya sunbae?"

"Bukankah gelang ini memberi kekuatan air? Lalu dari mana kau mendapatkan apimu tadi?"

-Continued-

.

.

.

.

.

Mungkin chapter depan sy post lebih cepat, atau malah ga saya post sama sekali.

im a bit upset tbh..

i just thought, its whether my writing skill aint good enough or my stories are soooo boring.. or both?

(the Blame is on me)

maybe ill post something if i think my writing skill get better.

dunno..

maybe its just my badmood talking..

Anyway

Mind to review?

.

.

AND... For the couple.. ive wrote on the summary, Hanhun, Baeksoo (Kaiyeol or Krisyeol?)