EXTRAORDINARY SCHOOL

.

.

.

A/N below

.

.

.

Otak Chanyeol berhenti, dan dengan pelan ia mensugesti dirinya sendiri untuk tetap tenang.

'Sunbae ini tidak berbahaya' gumamnya pada diri sendiri 'berpikirlah'

Baekhyun masih menatapnya, menagih jawaban dan Chanyeol meneguk salivanya dengan berat. Terus berpikir jawaban apa yang harus di ucapkannya dan mencoba mengendalikan emosinya sendiri.

"Lihat kedalam dirimu, matikan kekuatan yang tidak berguna dan kendalikan" Suara pengajar Sehun dari dalam kelas terdengar di telinganya dan Chanyeol membagi dirinya untuk melakukan itu.

Mungkin itu berhasil karena pemuda dengan marga Park itu tidak merasakan hawa panas sama sekali.

"Chanyeol?" Baekhyun semakin tidak sabar, menatapnya dengan mata yang memicing.

"Sepertinya alat para sunbae tadi mengacaukan kekuatan jamnya! jika guru Seo menemukan itu kita bisa mati" komentarnya. Seharusnya actingnya ini tergolong bagus, karena Park Chanyeol merasa ia lebih hebat dari Won bin sekalipun.

Dan jawabannya itu menyisakan Baekhyun untuk berpikir. Sepertinya menimang akan menerima alasan itu atau tidak.

"Untunglah kita tidak tertangkap basah tadi, kita bisa semakin di permalukan jika nenek sihir itu tahu"

Benarkan Park Chanyeol memang lebih hebat dari Wonbin.

"Hyung?"

Suara cempreng Sehun akhirnya membuat dua pemuda itu mengalihkan pandang. Menatap Sehun dan Jongin yang baru keluar dari kelas. Kemudian menjatuhkan pandangannya pada pemuda lain yang juga berdiri di ambang pintu.

Chanyeol membungkuk hormat kemudian tersenyum ketika matanya bertemu sunbae yang pendeknya lebih dari Baekhyun itu. Pemuda itu terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.

Matanya mengamati Chanyeol lekat-lekat, seperti sedang menguliti pemuda tinggi itu, membuat di bocah api merasa tidak nyaman dan langsung meminta diri seraya menarik kedua sahabatnya menjauh.

"Junmyeon sunbae sepertinya ingin mendekatimu"

Itu komentar Baekhyun, Chanyeol tidak mengerti kata mendekati disini mengandung konotasi apa.

.

.

.

.

Wu Yifan tidak biasanya memikirkan orang lain. Ia bahkan tidak akan peduli jika seseorang terbunuh setelah kalah bertanding melawannya.

Ini aneh, karena beberapa hari ini ia tidak bisa menghilangkan bayangan seorang anak dari angkatan pertama yang tempo hari di temuinya.

Awalnya ia hanya merasa penasaran (mungkin) karena pemuda itu tampak menyembunyikan sesuatu, atau sepertinya Yifan masih marah karena pemuda itu pernah mempermalukannya. Dan mungkin, ada hal lain yang membuat otaknya tidak mau menuruti perintahnya untuk berhenti memikirkan pemuda yang hampir setinggi dirinya itu.

Sepertinya menjadi roommate pemuda tidak waras selama bertahun-tahun berpengaruh buruk bagi kesehatan otaknya.

Terlebih ketika matanya tiba-tiba menangkap siluet pemuda yang tidak terlalu asing baginya.

Membuatnya mengumpat.

Otaknya sepertinya benar-benar bermasalah, mungkin ia harus meminta Zang Yixing untuk menyembuhkannya.

Siluet tersebut terlihat semakin jelas ketika Yifan berjalan mendekat, mata bulat dan telinga lebar itu terlihat lebih jelas di matanya dan Wu Yifan berani bersumpah, wajah kekanakan si junior tampak benar-benar lebih indah.

Mata mereka bertemu.

Mata lebar bocah berambut coklat caramel itu terlihat berbinar ketika tersenyum padanya, semakin memperindah wajah imut itu. Yifan puluhan kali mengumpat karena tubuhnya membeku dan ia sama sekali tidak bisa membalas senyum manis pemuda itu.

"Hai sunbae"

Pemuda itu sedang memilih menu untuk makan malam, mengambil 3 jenis lauk, 3 jenis minuman dan 3 mangkuk nasi. Dia meletakkan nampan itu di atas sebuah meja dan menunjukkan kartu kamarnya pada penjaga kantin yang akan mengantarkan nampan itu ke kamarnya.

Semua pelayan restoran di tanah ajaib memiliki kekuatan teleport. Mereka adalah yang terbuang.

"Ku pikir sunbae tidak suka mencari makan sendiri, biasanya para anak ajaib menjadikan para 'kelinci percobaan untuk menjadi pembantu mereka"

Pemuda indah itu berkomentar lagi. Merapikan rambut panjangnya kemudian melirik Yifan yang tak juga mampu bersuara.

Jika sebelumnya, Yifan akan dengan bangga mengatakan bahwa 'para kelinci percobaan yang lemah itu memang pantas menjadi pembantu para pahlawan, karena mereka (sekali lagi) lemah. Lagipula, itu lebih baik daripada mereka terbunuh.'

Tapi mendengar pernyataan semacam itu dari pemuda bermata cemerlang ini membuat pemikiran macam itu terasa hina.

"Aku sedang ingin berjalan, melemaskan otot"

Bocah di hadapannya tersenyum lagi, kali ini menampilkan seluruh giginya yang rapi.

Ia bersumpah Huang Zitao sedang mengerjainya saat ini. Mungkin pemuda dengan kulit kecoklatan itu sedang menghentikan waktu, atau mungkin bocah itu sedang belajar membuat waktu berjalan lebih lambat.

"Aku pergi dulu sunbae"

Tidak. Tiba-tiba waktu berjalan normal kembali.

Wu Yifan merasa menjadi seperti idiot saja, hanya bisa berkedip, bergumam dan lupa bagaimana caranya berbicara.

.

.

.

.

Ini adalah kali pertama Chanyeol melihat anak-anak ajaib berlatih di sekolah ini.

Taekwoon sunbae dan beberapa temannya yang sedang berlatih, karena itu lah 'jenius' sepertinya di ijinkan masuk.

Mereka memang tak terlihat sekuat Sehun atapun Jongin, namun latihan ini cukup membuat pertahanan Chanyeol berlipat ganda juga.

Chanyeol akan melawan mereka semua jika sampai tertangkap.

Dan ia tau mereka semua tidak masuk kategori lemah.

"Taekwoon sunbae kuat" Sehun berbisik. Jongin hanya berdengung untuk membenarkan komentar itu. dan Chanyeol sama sekali tidak menjawab karena ia merasa semakin terancam ketika melihat Taekwoon mendorong pohon seorang sunbae dengan lesung pipi yang manis.

Tempat duduk mereka bahkan bergetar karena pengendalian tanah sunbae nya tersebut.

"Bagaimana mungkin?" Baekhyun berkomentar.

Hakyeon yang sedang terengah-engah setelah di kalahkan roomatenya (Taekwoon) tersenyum pada mereka.

Pemuda dengan kulit gelap itu mengambil posisi duduk di samping Baekhyun kemudian meneguk air dalam botolnya.

"Kau mungkin tidak akan percaya jika aku mengatakan ini" ucap Hakyeon. Ia melirik Baekhyun yang masih terkesima kemudian menaikkan alisnya.

"Apa?" tanya Sehun dan Jongin antusias.

Hakyeon terlihat berpikir kemudian melirik temannya yang sudah mulai kelelahan dan menghentikan latihan. Ia memanggil sunbae berlesing pipi yang bernama Hongbin kemudian melemparkan dua botol air mineral padanya.

"Kalian tau kami dulu juga hampir dibuang seperti Baekhyun"

Alis Kyungsoo mengerut tidak suka karena kata 'di buang' barusan, namun wajahnya terlihat tenang kembali ketika ia melirik Baekhyun yang justru tampak antusias dengan lanjutan ceritanya.

"Lalu?"

"Sesuatu yang ajaib mengubah kita, kekuatan kami berkembang sangat pesat"

Sehun dan Jongin saling melirik, mungkin mereka berpikir untuk menggunakan cara itu pada Chanyeol juga, akan bisa mengendalikan kekuatannya dengan baik.

"Apa itu sunbae?"

Hakyeon tidak langsung menjawab, ia melirik wajah para juniornya satu per satu kemudian melirik Taekwoon yang mulai tampak asik berbincang dengan Hongbin.

"Kalian mungkin akan tertawa dan tidak percaya tapi… cinta akan memberi kekuatan lebih besar pada kalian"

Kyungsoo melirik Baekhyun, walaupun dengan cepat mengalihkan pandangannya karena pemuda yang lebih tua itu menangkap matanya.

.

.

.

.

.

"Tidak ada teori yang membenarkan jika kekuatan mendadak kami adalah dari cinta, pada kenyataannya aku mulai di akui sejak jatuh cinta pada Taekwoon"

Sehun memikirkan pengakuan berani sunbaenya itu.

Di tanah ajaib tidak ada yang percaya cinta, dan pemuda dengan warna kulit yang hampir sama dengan Jongin itu, dengan percaya diri mengatakan hal semacam itu, seperti promotor cinta saja.

Dan bukankah mengakui hal semacam itu pada junior yang belum di kenalnya akrab adalah sesuatu yang terlalu tiba-tiba?

"Mungkin Hakyeon sunbae terlalu jatuh cinta, jadi ingin pamer pada semua orang. Kau tau kan dia bahkan cemburu pada Kyungsoo" Chanyeol berkomentar.

Itu ada benarnya juga. Kyungsoo juga sedang menatap Taekwoon terpesona ketika itu.

"Sepertinya semakin dalam cinta ini semakin besar juga kekuatan kami. Kau tau, aku bahkan melompat satu level hanya dalam waktu 2 bulan"

Jika di amati sebenarnya Taekwoon lah yang berkembang paling pesat. Ia sekarang ada di tingkat 4, dulu dia juga naik satu tingkat dalam 2 bulan selama 2 kali.

"Dengan kata lain, sebenarnya cinta Taekwoon sunbae adalah yang lebih besar?"

Sehun tersenyum mengingat sunbaenya merona karena kesimpulan dari Kyungsoo tersebut.

"Hyung percaya dengan kesimpulan Hakyeon sunbae?"

Chanyeol tidak langsung menjawab, pemuda itu menangkup pipi Sehun kemudian menarik kedua pipi putih itu gemas.

"Cinta bisa memberimu kekuatan itu benar, dan cinta bisa membuatmu lemah itu juga benar. Aku percaya keduanya"

"Secara spesifik Chanyeol! Cinta akan membuat kau mengendalikan kekuatanmu dengan lebih baik"

Chanyeol melirik kedua sahabatnya kemudian mendengus. Jongin selalu menuntut untuk mengendalikan kekuatannya dengan benar. Lebih menuntut dari ayahnya yang berada di bumi.

"Apa kalian akan lebih kuat jika jatuh cinta?"

"Coba saja! Luhan sunbae sepertinya menyukaimu" Jongin menyikut pemuda yang paling muda, tersenyum geli saat Sehun merengut, terlebih karena Chanyeol juga tidak menyukai usul itu.

"Jangan konyol Jongin"

"Kemungkinan aku bisa jatuh cinta hanya padamu, dan aku tidak mungkin mengusulkan untuk kita jatuh cinta kan? Kau tidak akan mau"

Diam

Sehun juga tidak bisa mengatakan apapun untuk mencairkan suasana.

Topic percintaan seperti ini adalah hal yang paling mereka hindari. Dan ketika mereka mulai melupakan insiden cinta pertama yang tragis. Hakyeon sunbae datang dan membuat pembicaraan seperti ini menjadi topic hangat kembali.

.

Jongin kecil pernah berkata ia jatuh cinta.

Dan Chanyeol menertawakan pengakuan itu.

.

.

.

.

"Aku akan menjadi kuat, setidaknya aku bisa membawa Chanyeol melarikan diri"

Pengakuan bocah kecil dengan kulit kecoklatan itu masih ada di otak Sehun. Ketika itu, Sehun kecil merasa alasan hyungnya untuk menjadi kuat sangat lemah.

'Hanya untuk membawa Chanyeol hyung kabur tidak akan membuatnya kuat' pikirnya.

Nyatanya, kekuatan Jongin berkembang terlalu pesat.

Sehun bahkan tidak tau apakah Jongin masih bisa lebih kuat dari ini.

Sehun sendiri harus berlatih sejak usia 4 tahun, selama sepuluh tahun berlatih terlalu keras agar bisa sekuat sekarang. Dan kekuatannya bisa lebih mudah di asah karena usianya masih sangat muda ketika itu.

"Udara bisa membuat api menjadi lebih besar, juga bisa mematikannya. Kau bisa menjadi kawan yang baik untuk Chanyeol tapi juga bisa menjadi musuh yang berat baginya. Keputusan ada padamu, apa kau cukup menyayangi Chanyeol hyung untuk bisa melindunginya, paman percaya padamu"

Ayah Chanyeol bahkan sudah menitipkan anaknya pada Sehun, dan karena itulah si magnae yang manja selalu merasa cemburu jika hyungnya lebih perhatian pada orang lain.

.

.

.

.

—Jadwalmu mengambil makan malam, aku mau masakan Italy—

Ponsel Sehun bergetar, pesan dari Jongin. Tanpa memberi emoticon atau apapun yang member efek bahwa pemuda yang lebih tua sedang meminta tolong.

Sehun hanya membacanya, tak berniat membalas.

—Sehun ah, kau ingin makan dimana? Hyung ingin buah saja— kali ini Chanyeol yang mengiriminya pesan, pemuda itu pasti ingin mencari alasan untuk tidak berlatih nanti malam jadi memilih melewatkan makan malam.

—Italy, aku akan tetap membawa makanan berat untuk hyung, hyung butuh karbohidrat—

Hanya makan buah adalah salah satu cara Chanyeol untuk menghindari latihan, jika ia tidak punya cukup tenaga hingga tengah malam, Kim Jongin yang lemah dengan mata anak anjing akan meloloskannya dari latihan.

—Kau semakin menyebalkan saja—

Ketika hampir membalas pesan (tidak penting) itu, mata sipitnya menangkap wajah tampan Luhan yang sedang memesan makan malam di restaurant China. Setelah menimang-nimang beberapa kemungkinan buruknya Sehun akhirnya memutuskan mendekati sang senior.

"Sunbae"

"Hai Sehun" wajah tampan sunbaenya terlihat berbinar ketika menyebutkan namanya, pemuda itu tersenyum kemudian mempersilahkannya duduk "Kau ingin pesan makan malam?"

"Tidak juga, Jongin hyung ingin makanan Italy, aku hanya kebetulan melihat sunbae disini jadi menyapa"

Luhan hanya membulatkan mulutnya untuk menjawab itu, ia melirik Sehun sekilas kemudian menunduk seraya menahan senyum.

"Sunbae makan apa?" tanyanya basa-basi. Entah kenapa ia merasa ingin sedikit berlama-lama bersama senior tampan ini.

"Kau mau?" Luhan sudah lebih dulu menyodorkan satu sendok sup ke hadapannya sebelum pertanyaannya terjawab. Pemuda itu tersenyum lebar ketika Sehun memasukkan sendok itu ke dalam mulutnya "Enakkan?"

Sehun hanya menjawab itu dengan sebuah anggukan.

Tiba-tiba ia merasa bersalah karena biasanya ia hanya membiarkan Chanyeol menjadi pengganti ibunya dan kali ini ia bahkan membiarkan orang lain menyuapinya.

"Aku harus pergi sunbae, terimakasih soupnya" ia berdiri dengan cepat dan hampir saja berlalu sebelum tangan Luhan dengan cepat menangkap lengannya menghentikan langkahnya.

"Lain kali, ayo makan bersama"

Luhan tersenyum sangat manis. Dan Sehun hanya mematung di tempatnya, lidahnya kelu dan yang bisa dia lakukan hanya menggangguk.

Kemudian berlari keluar.

.

.

.

.

di lanjutkan. Dan ini super singkat. OTL

Sya bener-bener unmood buat lanjut ini, tapi gimana pun juga sy tetep pengen ngetik.

Dan sy buat fic baru, GS gitu lah..

awalnya memang sy ga suka gs, tiap ada fic yang membernya di rumah jadi cewek sy ga mau baca.. dan sekarang sy kualat.

karena cita-cita sy pengen jadi penulis (gimanapun jeleknya tulisan sy). Jadi ga mungkin dong sy nulis boy x boy untuk umum, so here i am. belajar buat cerita straight lewat fanfiic GS dulu.

Review?