The Truth
Selesai berganti pakaian, aku langsung turun untuk menemui kak Melody. Terlihat di ruang tamu kak Melody sudah menungguku. Sesampainya disana, tanpa berbasa basi kak Melody langsung mengajakku ke suatu tempat. Setelah mengunci semua pintu dan jendela, kami pun pergi.
Sepanjang perjalanan aku terus berfikir, kemanakah kak Melody akan membawaku pergi? Belum lagi tentang rahasia keluarga yang ia katakan dan akan memberitahukannya padaku. Aaaa... aku sungguh tidak mengerti dengan semua kejadian aneh yang belakangan ini terjadi dalam hidupku. Aku berharap semoga saja semua ini akan menjadi jelas dengan segera. Ya, semoga.
Empat puluh menit sudah kami melangkahkan kaki dan belum juga sampai. Ku alihkan pandanganku yang sedari tadi hanya menatap punggung kak Melody ke sekeliling untuk menghilangkan kejenuhan. Aku terkejut saat menoleh ke samping. Kami berjalan ditengah kabut? Padahal seingatku tadi kak Melody hanya mengambil rute jalan yang biasa ku lewati setiap harinya. Huh, lagi-lagi aku mengalami hal aneh!
"Tetaplah berjalan lurus. Jangan sentuh kabut itu apalagi masuk ke dalamnya," perintah kak Melody yang seperti mengetahui isi kepalaku.
Langsung saja ku tarik kembali tangan ku yang memang ingin menyentuh kabut itu karena penasaran.
"Nah, kita sudah sampai," ujar kak Melody. Setelah mendengar itu, aku menoleh ke arah depan.
Aku melihat sebuah cahaya yang sangat terang dan... Kami pun sampai di taman yang begitu indah.
"Selamat datang putri Melody," sapa dua orang wanita bersayap yang sepertinya penjaga taman ini pada kak Melody. Namun, ia hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Dan anda pasti tuan Satria?" tanya salah seorang dari mereka padaku.
Apa?! Dia memanggilku tuan? Dan lagi mereka tadi memanggil kak Melody dengan sebutan putri. Hal aneh apalagi yang sedang terjadi disini? Umpat ku dalam hati karena kebingungan dengan keadaan yang ku alami.
"I-iya" balasku pelan.
Ku lanjutkan langkah kakiku untuk mengejar kak Melody yang berada beberapa langkah di depanku. Kak Melody berjalan menuju gerbang yang ada disisi lain taman. Dibalik gerbang itu aku melihat sebuah gedung berwarna putih besar. Bangunan ini sangat menawan bahkan bisa disebut sebuah istana atau ini memang sebuah istana? Pikirku. Kak Melody berjalan masuk ke dalam bangunan itu dan aku pun mengikutinya.
"Selamat datang di Edge of World"
Terdengar sebuah suara yang entah darimana asalnya.
Aku terperangah. Didalam bangunan itu terlihat banyak manusia bersayap seperti Yupi waktu itu. Kak Melody berjalan menuju ke sebuah ruangan yang cukup besar. Mungkin ini adalah ruang tengah dari bangunan ini. Aku pun berjalan mengekorinya. Ruangan besar ini terlihat seperti sebuah ruang latihan bagi para knight karena sejauh mata memandang hanya terlihat orang-orang yang sedang beradu pedang dan saling mengadu skill mereka. Kak Melody kemudian menghampiri salah seorang dari mereka. Mungkin ia adalah pimpinan ditempat ini karena ia terlihat lebih tangguh dari yang lainnya. Setidaknya begitu yang ku pikirkan.
Kak Melody lalu membisikkan sesuatu pada orang itu. Raut wajah orang itu tiba-tiba saja berubah pucat. Sepertinya apa yang dikatakan kak Melody barusan adalah sesuatu hal yang mengerikan sehingga orang itu sangat terkejut dan ekspresinya juga berubah drastis. Mengerti dengan apa yang harus dilakukan, orang itu pun kemudian segera pergi.
"Sekarang ayo ikut kakak, waktunya menceritakan semuanya," ujar kak Mel.
Aku mengangguk. Ku ikuti langkah kaki kak Mel menuju sebuah ruangan sederhana. Di ruangan itu hanya ada 2 buah sofa yang saling berhadapan dengan meja persegi panjang di antara keduanya, juga ada sebuah meja yang mirip seperti meja kerja ayahku dirumah. Kami pun duduk di sofa dan kak Mel pun mulai bercerita.
"Baiklah, kakak akan mulai bercerita," ujarnya.
"Apa kau percaya dengan Angel and Demon?" tanyanya padaku. Aku menggeleng. Bukan karena tidak percaya tapi lebih karena aku tak tahu harus menjawab apa setelah beberapa hal yang ku lalui belakangan ini.
"Kau sudah melihatnya sendiri bukan?" ia kembali bertanya. Kali ini aku mengangguk.
"Seperti yang sudah kau lihat, Yupi adalah seorang Angel dan makhluk menakutkan yang kau ceritakan itu adalah Lucifer, King of Demon."
"Kau tahu, kakak juga merupakan seorang Angel begitu juga dirimu karena orang tua kita sebenarnya adalah Angel. Ya, Angel yang tinggal di bumi. Bukan di tempat asal para Angel yaitu Valhalla."
"Kenapa Ayah dan Ibu memilih tinggal di bumi dan bukan di Valhalla, tanah kelahiran para Angel? Itu karena kau." Aku kebingungan dengan kata-kata kak Mel yang satu ini.
"Kakak bukan ingin menyalahkanmu. Keputusan ini dibuat oleh Ayah dan Ibu karena kau yang keturunan Angel seharusnya memiliki ciri khas layaknya seorang Angel yaitu sepasang sayap. Tapi kau sama sekali tak memiliki ciri itu." Jelas kak Melody sambil memperlihatkan 2 pasang sayapnya.
"Ayah, Ibu dan kakak sangat khawatir saat itu karena tanpa sayap kau tak mungkin bisa tinggal di Valhalla. Kami juga tak bisa terus-menerus menemanimu sepanjang waktu. Akhirnya kami memutuskan untuk tinggal dibumi agar kita semua bisa hidup dengan nyaman dan tenang. Tapi resiko dari keputusan ini adalah kekuatan Angel kami akan berkurang."
"Semuanya berjalan dengan baik sampai hari itu tiba. Hari dimana kecelakaan itu terjadi, kecelakaan yang merenggut orang tua kita. Kau ingat itu?" Raut wajah kak Mel pun berubah sedih.
"Sebenarnya pada kecelakaan itu ayah dan ibu tidak tewas dalam kecelakaan. Setelah kecelakaan itu ada sesuatu yang menyerang mereka. Sesuatu yang membuat mereka terluka parah. Kakak yang menyadari kekuatan ayah dan ibu yang makin melemah, segera pergi dan mencari mereka. Tapi sepertinya kakak terlambat. Tempat itu sudah seperti bekas medan pertempuran sesampainya kakak disana. Ayah dan ibu hampir tak bisa bergerak lagi karenanya." Mata kak Melody mulai berkaca-kaca.
"Kakak ingin menyelamatkan mereka dengan membawa mereka ke Valhalla, tapi ayah menyadari bahwa itu akan sia-sia saja. Sebelum ajal datang menjemput, ayah menitipkan sebuah kunci juga sepucuk surat dan meminta kakak menyerahkannya padamu jika saatnya tiba. Ayah juga mengatakan kau adalah harapan terakhir yang dimiliki dunia ini jika perkiraan terburuknya menjadi kenyataan." Jelas kak Melody panjang lebar. Air mata pun mengalir seiring kak Mel bercerita.
Aku tak bisa berkata apapun. Tubuhku seperti terpaku dan membisu. Semua ucapan kak Mel tak bisa kuterima begitu saja, walaupun dia itu kakak ku. Pikiranku berkecamuk. Kebingungan dengan semua ini. Belum selesai aku mencerna apa yang baru saja dikatakan, kak Mel kemudian melanjutkan kata-katanya.
"Mungkin kau tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang kakak katakan, tapi inilah kenyataannya. Kau akan menemukan kebenaran itu nantinya," ujar kak Mel datar. Ia kemudian menyeka air matanya.
*tok tok tok*
Terdengar seseorang mengetuk pintu.
"Putri Melody, beliau sudah datang," ujar seseorang dari balik pintu.
"Baiklah, tunggu sebentar," balas kak Mel cepat.
"Tunggulah disini, aku akan segera kembali," ia berpesan padaku. Lalu pergi meninggalkan ruangan ini.
Sunguh ini sebuah kenyataan paling tidak nyata yang pernah ku alami. Bagaimana mungkin aku yang hanya murid SMA biasa bisa jadi penentu nasib dunia?! Yang benar saja! Walaupun ayahku sendiri yang mengatakannya. Aku hanya berjalan mengitari ruangan seperti kereta api mainan yang relnya dipasang mengelilingi ruangan ini. Sambil menunggu kak Melody kembali aku terus saja berpikir tentang semua yang dikatakannya. Ingin aku menyusulnya keluar tapi ia memintaku untuk tetap tinggal. Lagipula aku tau tahu ia pergi kemana. Baru saja aku berpikir untuk pergi saat kak Mel kembali. Tapi raut wajahnya tak setenang saat ia pergi tadi.
"Satria!" panggilnya.
"Iya kak, ada apa?" tanyaku heran.
"Mereka ingin mendengarnya langsung dari mu," ujarnya.
"Mereka? Siapa ya kak?" tanyaku makin heran.
"Sudah sekarang kau ikut saja dulu, nanti juga kau mengerti," jelasnya.
Tanpa sepatah kata pun kak Melody langsung saja menarik tanganku. Mau tak mau aku mengikutinya berjalan keluar.
Setelah puluhan langkah, kami sampai diruangan yang cukup besar. Mataku langsung tertuju pada sosok seorang Angel. Sepertinya ia adalah pemimpin mereka semua. Auranya terasa sangat berbeda. Wibawa dan kehebatannya bisa terasa hanya dengan melihatnya. Ditambah lagi ia dikawal sepasukan prajurit yang tak bisa dibilang biasa-biasa saja.
"Jendral, inilah adikku Satria yang tadi ku ceritakan," ucap kak Mel sambil berlutut seraya memberi hormat pada orang itu. Jujur saja aku agak heran dengan sikap kak Melody ini. Tak biasanya dia sampai seperti itu pada orang lain. Sebegitu hebatnya kah orang ini?
"Jadi kau melihat semuanya?" Ia pun langsung bertanya padaku.
"Melihat apa?" Aku yang tak paham maksud perkataannya bertanya balik.
"Kebangkitan King of Demon Lucifer dan pertarungan Holy Angel melawan Demon itu?" Dia memperjelas pertanyaannya.
"Jika yang kau maksud itu adalah pertarungan antara Yupi melawan makhluk mengerikan itu jawabannya iya. Masih terekam jelas dalam ingatanku." Jawabku tak kalah tegas. Tapi hal itu malah membuat kak Melody menatapku dengan raut wajah takut.
"Ceritakan semua yang kau lihat, aku ingin mendengarnya langsung darimu." Perintahnya padaku.
"Kenapa harus? Lagipula siapa kau? Lebih baik perkenalkan dirimu dulu sebelum meminta sesuatu dari orang lain." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Memang aku ini si banyak omong tapi kenapa kebiasaanku ini harus keluar disaat yang tidak tepat. Kak Mel sepertinya shock saat mendengar ucapanku. Itu terlihat dari wajahnya yang menjadi semakin pucat. Menandakan ketakutan dan kecemasan. Hal yang tak jauh berbeda juga terlihat dari para pengawal orang yang dipanggil Jendral itu. Mereka seperti takut sesuatu akan terjadi karena ucapanku barusan.
"Hahaha, benar-benar anak yang menarik." Ujarnya seraya tertawa. Lalu, Ia yang sedang berada di langit-langit ruangan pun turun mendekatiku. Kepakan dari ke-6 sayapnya membuat hembusan angin yang dahsyat.
"Namaku Sandalphon, Jendral para Angel. Aku perlu tahu apa yang terjadi agar bisa membuat keputusan yang tepat untuk kedepannya. Jadi, maukah kau menceritakan semua yang kau lihat dan alami padaku, Satria?" pintanya lagi sambil memperkenalkan dirinya.
"Ba-baiklah kalau begitu. Akan ku ceritakan semuanya padamu," aku mengangguk mantap. Kemudian ku ceritakan semua kejadian aneh dan mengerikan itu padanya. Mulai dari pertemuanku dengan Yupi, alasan kami pergi bersama, desa itu hingga pertarungan yang membuat Yupi harus mengorbankan dirinya demi menyelamatkanku. Setelah mendengar semuanya, ekspresi pria itu hampir tak berubah sama sekali. Dia seperti sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Cepat atau lambat.
"Jadi begitu ya.. Aku mengerti sekarang. Wajar saja jika kau mendapat jam dan kalung berbentuk pedang itu." Dia lalu berbalik menghadap pengawalnya.
Jam dan kalung apa? Saat ku periksa hal yang dikatakannya ternyata 2 benda itu benar-benar melekat dibadanku. Bagaimana mungkin jam ini bisa ada ditanganku? Padahal seingatku jam ini ku tinggalkan diatas meja dikamarku. Dan lagi, sejak kapan kalung ini ada dileherku? Aku tak ingat sama sekali.
"Semuanya dengar!" Suara lantangnya membuat semuanya gentar, tak terkecuali aku.
"Ku perintahkan kalian untuk melatih dan mempersiapkan semua Angel yang ada di Valhalla untuk sebuah pertarungan. Pertarungan yang mungkin akan menentukan nasib dunia ini. Kalian mengerti?!" Perintahnya pada semua pengawalnya.
"Ya, Jendral!"
"Laksanakan!"
"SIAP!"
Semua prajurit yang datang bersamanya pun segera kembali ke Valhalla. Tapi Sandalphon masih tetap berada ditempatnya berdiri di langit. "Satria, kau juga harus mempersiapkan diri untuk ini karena meskipun bukan seorang Angel, kau juga bukan seorang manusia biasa. Aku bisa merasakan hal itu." Ujarnya tanpa bergerak sedikit pun. "Melody, latihlah dia. Jika perlu gunakan saja itu," tambahnya lagi. Lalu, ia melesat terbang kembali menuju Valhalla.
Aku tak begitu mengerti apa yang dia maksud tapi aku sudah tak lagi terkejut dengan apa yang baru saja dikatakannya.
"Ayo Satria, kita pulang," ajak kak Mel sambil membalikkan badannya dan berjalan pergi meninggalkan tempat ini.
Tanpa berlama-lama lagi aku segera mengikuti kak Melody yang melangkahkan kakinya menuju ke tempat kami datang. Kami memasuki jalan setapak yang dikelilingi kabut itu lagi karena hanya itulah jalan satu-satunya menuju rumah. Tak berapa lama kemudian kami sampai di ujung jalan itu. Tapi ada hal yang mengejutkan, seseorang telah menunggu kami disana. Ia seolah sudah tahu bahwa kami akan melintas.
"Hai Mel" sapa lelaki itu
"Oh kau, Dre. Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya kak Mel padanya.
"Kau lupa ya? Ini sudah 2 minggu," katanya lagi.
"Secepat itukah waktu berlalu? Baiklah ayo kita lakukan ditempat biasa," balas kak Mel
"Okelah kalau begitu. Tunggu sebentar..." ia lalu mengalihkan pandangannya padaku. "Siapa anak dibelakangmu itu?" tanyanya pada kak Mel
"Oh dia Satria, adikku. Sebelumnya aku pernah cerita kan?" Jawab kak Mel singkat
"Perlukah kita mengajaknya? Atau kau ingin mengantarnya pulang lebih dulu?"
Kak Mel terdiam sejenak. Sepertinya dia sedang berpikir untuk mengajakku atau tidak. Aku yang sedaritadi mendengarkan ucapan mereka mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Mungkinkah kak Mel dan pria itu memiliki suatu hubungan? Ah tidak! Kak Mel bukan orang seperti itu. Tapi kalau begitu apa yang akan mereka lakukan? Gumamku dalam hati. Tak lama kemudian kak Mel akhirnya bersuara.
"Kita ajak saja dia. Lagipula aku ingin dia melihatnya dulu sebelum mempelajarinya sendiri nanti," jawab kak Mel.
"Baiklah kalau begitu. Tapi hari ini aku tak bawa mobil" ujar pria itu
"Hah? Yang benar saja Dre. Kalau begitu bagaimana caranya kita kesana?" keluh kak Mel
"Tenang saja, kan kita punya itu," jawabnya enteng sambil memasang senyum meyakinkan
"Itu? Argh, baiklah. Tapi kau yang gendong Satria ya," balas kak Mel
"Hah? Kenapa harus aku?"
"Ayolah, bukankah kau Andre si kuat? Lagipula ini salahmu karena kita harus menggunakan benda yang sangat menguras tenaga itu," ujar kak Melody dengan nada mengejek
"Baiklah, baiklah. Aku mengerti."
Wajahnya terlihat sangat malas jika harus meneruskan perdebatan panjang dengan kak Melody. Ya, aku tau sekali rasanya berdebat panjang lebar dengan kakak. Pada akhirnya aku juga yang akan kalah. Mungkin itu yang dipikirkan pria bernama Andre ini. Ia pun berjalan mendekatiku.
"Naiklah ke punggungku, lalu berpeganganlah yang erat." Aku menuruti apa yang dimintanya. Setelah siap, aku memberi tanda bahwa kita bisa segera pergi.
"Ayo Dre, kita pergi."
"Yosh!"
Sayap pun keluar dari punggung mereka masing-masing dan...
WUUUSSSSHHH!
Mereka terbang dengan sangat cepat. Begitu cepatnya hingga membuat langit malam yang berawan terbelah karenanya. Menuju ke tempat yang entah dimana itu. Tempat kak Melody dan Andre biasa bertemu. Apakah yang kira-kira akan mereka lakukan ya? Entahlah... Aku juga penasaran.
-To be continue
