Power of The Moon

"Yosh, kita sudah sampai," ujar Andre sesaat setelah menginjakkan kakinya ke tanah.

Satria membuka matanya yang ia tutup sedaritadi dan mulai melihat sekeliling. Sejauh mata memandang, ia hanya bisa melihat daerah yang penuh dengan bebatuan. Hawa dingin pegunungan juga mulai dirasakannya. Pertanyaan pun timbul dalam benaknya. Mau apa mereka disini?

"Pakai ini." Melody memberikan jaket yang ia kenakan pada Satria."Ini punyaku sekalian." Andre pun melakukan hal yang sama dengan Melody.

Satria yang mulai kedingingan sontak saja segera menyambar dua jaket yang ditawarkan padanya. Lalu ia melihat Melody dan Andre sudah saling berhadapan dalam jarak beberapa meter.

"Jadi... Apa kau sudah siap ku kalahkan Mel?" tanya Andre dengan nada sedikit sombong.

"Apa aku tidak salah dengar, Dre?" Melody balas meledek.

"Tentu. Ayo segera kita mulai saja."

"Kapan pun kau siap Dre."

Tatapan mata mereka berubah tajam. Satria bahkan merasakan aura yang berbeda dari mereka. Mereka kemudian menjulurkan tangannya ke depan.

'Summon: Straight Sword'

Sebuah pedang pun muncul di genggaman mereka masing-masing. Mereka memasang kuda-kuda, seperti siap menyerang. Dan dalam sekejap mata...

TIINGGG!

Pedang mereka beradu di langit malam.

Satria yang melihatnya hanya bisa terperangah. Pasalnya, benturan dari kedua pedang itu menghasilkan hembusan angin yang cukup kuat. Sampai-sampai Satria harus melindungi matanya dari debu yang beterbangan. Sungguh kekuatan yang menakjubkan.

"Satria!" teriak Melody. Satria menoleh.

"Perhatikan baik-baik pertarungan ini. Ini bisa jadi awal latihan yang bagus untukmu," ujar Melody sambil terus menangkis serangan yang dilancarkan Andre.

Satria diam sejenak. Ia mencoba menelaah kata-kata yang dilontarkan Melody. Ia pun teringat perkataan Jendral Sandalphon pada Melody, "Latihlah dia."

Itulah kenapa Melody memutuskan untuk mengajaknya ke tempat ini. Satria lalu memasang tatapan serius dan mulai memperhatikan baik-baik gerakan dan teknik milik Melody dan Andre.

Dari langit, turun ke bumi, kembali lagi ke langit. Itulah area pertarungan mereka. Seperti tak ada batasan bagi mereka untuk bertarung dan mengadu kemampuannya.

Kali ini Andre melancarkan sebuah tebasan kuat dari atas. Untung saja Melody berhasil menghindari serangan itu. Tebasan Andre pun mengenai batu besar dibalik punggung Melody dan sukses membuat batu itu terbelah dua. Melody sedikit terkejut dengan hal itu.

"Sepertinya Andre mulai menganggap serius pertarungan ini," gumamnya. Ia pun menurunkan pedangnya. "Dre, malam ini ku rasa sudah cukup. Ayo kita kembali." Melody kemudian mendekati Andre perlahan dan menepuk bahunya. Suara helaan nafas Andre yang menahan emosi samar terdengar oleh Melody. Akhirnya Andre juga menurunkan pedangnya dan berbalik menghadap Melody. Namun tiba-tiba saja...

******

"Apa bidikanmu bisa mengenainya?"

"Ya, tentu. Tapi dari jarak sejauh ini, aku hanya bisa menembaknya sekali saja."

"Tak apa. Setelah tembakan mu melesat, kita akan menyerbu mereka dan menghabisi semuanya hahaha."

"Bersiaplah.. Melody!"

"Dia sudah masuk dalam bidikanku."

"TEMBAKK!"

'Hell Fire'

Anak panah berapi itu melaju secepat angin menuju ke arah Melody.

*****

"Dre, malam ini ku rasa sudah cukup. Ayo kita kembali." Melody kemudian mendekati Andre perlahan dan menepuk bahunya. Andre menuruti Melody dan menurunkan pedangnya. Kemudian ia berbalik menghadap Melody.

Dari balik punggung Melody, Andre melihat ada setitik cahaya yang semakin lama semakin membesar dan terasa semakin dekat. Begitu sadar akan keanehan itu, Andre langsung memeluk Melody erat. Sontak itu membuat Melody sangat terkejut. Satria yang melihatnya juga tak kalah terkejutnya. "Berpeganglah padaku," bisik Andre. Walau Melody masih belum mengerti alasan dibalik perbuatan Andre ini, tapi ia tetap menuruti apa yang diminta Andre. Sesaat kemudian Andre melompat ke jurang yang berada disebelahnya bersama Melody dalam dekapannya.

"KAKAAAKK!" teriak Satria setelah melihat apa yang dilakukan Andre pada kakaknya. Ia kemudian berdiri dengan maksud ingin mengejar.

Sedetik kemudian anak panah berapi itu datang dan menghantam tanah tempat Melody berpijak tadi dan menimbulkan ledakan. Ledakan itu cukup kuat sampai-sampai menghempaskan Satria ke semak-semak. Ia pun pingsan karenanya.

Sementara itu, Melody yang melihat ledakan akibat serangan mendadak itu langsung mengkhawatirkan keadaan Satria. Tapi Andre mencoba menenangkan Melody dengan mengatakan bahwa Satria akan baik-baik saja. Andre mengembangkan sayapnya tepat sebelum mereka menyentuh tanah. Kekhawatiran Melody pun kini berpindah pada Andre yang mulai terlihat lelah.

"Dre, kamu gak apa-apa?" tanya Melody gelisah

"Tenang aja Mel, aku gak apa-apa kok," balasnya dengan nafas tersengal-sengal.

"Aku hanya lupa kembali ke Valhalla dan mengisi kekuatanku," tambahnya.

"APA?!" Lagi, Melody dibuat terkejut.

"Hanya kau bilang? Bagaimana mungkin kau bisa lupa? Kau tahu kan kalau berada dibumi kita tak bisa mengisi kekuatan Angel kita?"

"Iya Mel, aku tahu. Maafkan aku. Tapi sebaiknya kita kesampingkan saja hal ini. Siapapun yang menyerang kita tadi pasti sedang menuju ke sini untuk mencari kita."

"Ya, kau ada benarnya." Melody kemudian melihat sekeliling. Di langit, ia mendapati sepasukan Demon datang mendekat.

"Sepertinya kita kedatangan tamu Dre. Tamu yang sangat banyak dan tidak ramah." Melody menunjuk dengan dagunya ke arah pada Demon.

Andre dan Melody saling menempelkan punggung mereka, bersiap menghadapi musuh yang datang. Pasukan Demon itu dipimpin oleh seorang Jendral. Sang Jendral lalu memerintahkan pasukannya untuk mengepung Melody dan Andre. Membuat kepanikan timbul dalam diri mereka.

"Salam Holy-Angel Melody." Sapa sang Jendal dengan senyum liciknya.

"Siapa kau?" balas Melody dengan tidak ramah.

"Aku adalah Andras, salah satu dari 7 Jendral Neraka."

"Apa mau mu?" Melody kembali bertanya dengan nada sama.

"Mauku? Tentu saja Sacred Armor yang kau miliki." Sang Jendral pun tertawa.

"Cih. Jangan harap aku akan menyerahkannya padamu!"

"Jika kau menyerahkannya sekarang, akan ku biarkan kalian pergi tanpa luka sedikitpun."

"Kalau kau memang menginginkannya, langkahi dulu mayatku!"

"Dengan senang hati, Melody."

"SERAAAANNGG!"

Andras lantas memerintahkan pasukannya untuk menyerang.

"Andre, ayo lakukan," bisik Melody.

"Seal Open: Angel's Blood"

Melody dan Andre mengeluarkan kekuatan Angel mereka.

"Summon Weapon: Abbysal Blade"

Melody mengeluarkan pedangnya.

"Summon Weapon: Tidebringer Sword"

Andre juga melakukan hal yang sama.

Pertempuran pun dimulai!

Melody dan Andre maju bersamaan. Mereka silih berganti menyerang dan bertahan. Tak satu pun dari pada Demon itu yang bisa menyentuh mereka. Sayangnya keadaan itu tak bertahan lama. Seiring berjalannya waktu dan pertempuran yang terjadi, mereka mulai kehabisan stamina dan kekuatannya pun semakin lama semakin melemah.

Walaupun Melody seorang Holy-Angel dan dibantu Andre yang merupakan salah satu Angel terkuat di Valhalla, tapi tetap saja dengan sisa tenaga mereka sehabis bertarung satu sama lain, juga jumlah Demon yang begitu banyak, mereka tak mampu berbuat banyak. Mereka hanya bisa membasmi separuh dari jumlah pasukan yang ada. Itupun karena Andras, sang Jendral belum ikut turun dalam pertarungan. Untuk menghindari serangan yang datang bertubi-tubi, Melody dan Andre terbang ke langit. Berharap bisa mendapat celah untuk menyerang balik.

"Hey Melody, kenapa kau tak menggunakan Sacred Armor-mu itu? Kalau kau menggunakannya, aku yang tak memiliki Sacred Weapon akan sangat sulit untuk melukaimu, apalagi pasukanku. Atau jangan-jangan kau tak mampu menggunakannya? Hahaha." Andras coba memanas-manasi Melody.

"Sial. Andai saja ini bukan dibumi. Andai saja kekuatanku masih ada, pasti sudah ku kenakan Sacred Armor itu dan menghabisi mereka semua. Sekarang kekuatanku tak banyak tersisa, kalaupun ku gunakan armor itu, tak banyak yang akan berubah. Kekuatanku hanya akan semakin terkuras karenanya. Andre juga kelihatannya tak bisa bertahan lebih lama lagi." Keluh Melody dalam hatinya.

"Aku terpaksa menggunakan teknik itu, walau nyawaku taruhannya."

Setelah menetapkan pilihan, Melody menarik nafas dalam-dalam lalu memasang kuda-kuda. Ia memposisikan pedang digenggaman tangan kanannya tepat disebelah kanan wajahnya. Kaki kanannya sedikit bergeser ke belakang. Mata pedang yang diarahkan menuju Andras. Ia pun menutup mata, lalu tangan kirinya mulai bergerak menyentuh gagang hingga mata pedang. Kini ia mulai berkonsentrasi, mengumpulkan semua sisa tenaganya untuk melancarkan serangan. Serangan yang seperti pisau bermata dua.

Andre yang berada tak jauh dari Melody melihat kuda-kuda itu dengan tatapan tak percaya. Ia tahu betul apa resiko dari teknik itu jika Melody menggunakannya dengan tenaganya yang sekarang. Andre pun berusaha menghentikan Melody.

"Mel! Apa kau berniat bunuh diri?!"

"Tenanglah, Dre. Aku akan mengakhiri ini sekarang."

"Tapi Mel..."

"Tak apa, Dre. Percayakan saja padaku." Senyuman terlihat diwajah Melody. Ia lalu membuka matanya.

"Kalau begitu aku yang tak akan membiarkannya!" Andras mencampuri percakapan mereka. Ia lalu bergerak maju menyerang Melody.

"Legendary Weapon: Yasha"

Melihat pedang yang dikeluarkan Andras, Melody memilih untuk langsung menyerang walaupun kekuatan serangannya belum sepenuhnya terisi. Namun, Andras terlampau cepat. Saat Melody baru akan mengayunkan Abbysal Blade-nya, Andras langsung menyambarnya dengan tebasan dari samping.

TIINGG!

Abbysal Blade pun terlempar dari tangan Melody. Andras lalu berputar dan melancarkan tendangan. Untunglah Melody sempat menangkisnya, namun begitu kuatnya tendangan Andras membuat tubuhnya terhempas jauh. Andre yang terbengong melihat Melody mendapat serangan kejutan dari samping. Empat Demon melancarkan tendangan beruntu ke arahnya. Andre yang sedaritadi sibuk memperhatikan Melody tak sempat menangkis, apalagi menghindarinya. Alhasil, para Demon itu sukses membuat Andre tersungkur ke tanah. Tepat disamping Melody.

"Bagaimana? Apa kalian sudah selesai?" Andras berkata dengan sombongnya.

"Ku kira kalian lebih hebat apalagi kau, Melody. Tapi ternyata kemampuan kalian hanya sampai disini." Nada bicaranya terdengar meremehkan.

Melody dan Andre tak membalasnya. Mereka hanya bisa terbaring dan meringis menahan sakit.

"Kalau begitu akan ku akhiri semua ini."

****

"Satria! Satria!" seseorang seperti sedang memanggilku.

"Bukalah matamu Satria!"

Aku membuka mata perlahan. Samar-samar didepanku terlihat seseorang. Lama kelamaan bayangan samar itu semakin jelas terlihat. Betapa terkejutnya aku begitu mendapati siapa sosok didepanku itu.

"Yu-Yupi?! Ba-bagaimana bisa kau..." Aku tergagap. Bahkan rasanya tak bisa berkata apapun. Aku mengucek mata beberapa kali, memastikan bahwa yang ku lihat sekarang ini bukanlah ilusi.

"Iya Satria, ini aku Yupi," katanya meyakinkanku.

"Apa aku sudah mati?" tanyaku yang masih kebingungan.

"Hahaha, tentu tidak." Suara tawanya membuatku sedikit tenang.

"Lalu dimana kita?" Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sejauh mata memandang hanya warna putih bersih yang terlihat.

"Entahlah, aku juga tak tahu kita dimana," ujarnya datar.

"Apa kau masih hidup?" tanyaku sedikit menjurus.

"Entah, aku juga tak begitu mengerti. Tapi yang jelas dalam jam tanganmu itu terdapat jiwaku," jelasnya. Ia kini berjalan menjauh.

"Hah? Bagaimana mungkin?" Aku bertanya-tanya.

"Saat aku melakukan teknik Exorcism, ada seseorang yang menyelamatkanku dari cengkraman Lucifer dan mengubah jiwaku menjadi jam itu," jelasnya.

"Dengan kata lain, seseorang telah menitipkan hidupmu padaku?" Tanyaku memperjelas keadaan.

"Ya, seperti itulah." Dia kembali berjalan mendekat.

"Saat jarum jam itu berhenti berputar, artinya tubuhku sudah tak ada lagi dan aku hanya akan jadi jiwa yang hilang," tambahnya lagi.

"Lalu dimana tubuhmu sekarang?"

"Entahlah. Mungkin ada di kuil tempat kita bertemu Lucifer. Aku bisa merasakan kekuatan dan tubuhku terus dihisap oleh kegelapan."

"Sudahlah, bukan itu yang terpenting sekarang," katanya mengalihkan pembicaraan.

"Apa maksudmu itu bukan yang terpenting?" Lagi-lagi aku dibuat bingung olehnya.

"Dia benar Satria, saat ini hal itu tidaklah penting." Tiba-tiba muncul seseorang dari belakangku. Pria itu terlihat seperti prajurit yang baru saja selesai berperang. Tubuhnya mengenakan pakaian perang yang-bisa dibilang sudah hancur.

"Si-siapa kau?" aku tersentak kaget dengan kehadirannya.

"Aku Geraint. Orang-orang mengenalku dengan sebutan Moonlord." Pria itu memperkenalkan dirinya.

"Mo-moonlord?!"

"Ya, Satria. Dia adalah ksatria dalam legenda itu. Dia juga yang telah menyelamatkan jiwaku saat itu." Yupi menjelaskan.

"Kenapa kau ada disini?" aku bertanya-tanya.

"Karena kau mewarisi kekuatanku, kekuatan bulan biru."

"Aku? Mewarisi? Bulan biru?" Entah sudah berapa kali aku dibuat bingung dan terkejut dengan hal-hal semacam ini.

"Ya, tapi tak ada waktu untuk menjelaskan hal itu sekarang. Lihatlah itu." Dia menunjuk kebelakangku. Sebuah layar yang mirip rekayasa 3 dimensi muncul. Dalam layar itu terlihat kak Mel dan kak Andre kewalahan menghadapi pasukan Demon yang datang menyerang.

"Sekarang bangun dan tolong mereka." Perintah Geraint padaku.

"Tapi bagaimana aku bisa? Kak Mel saja tak mampu menghadapinya." aku sedikit pesimis.

"Kau bisa. Kau pasti bisa. Kau mewarisi kekuatan bulan, jadi rasakanlah kekuatannya." Geraint berusaha meyakinkanku.

"Apa benar aku bisa melakukannya?" Rasa bimbang mulai menghantui diriku.

"Tentu kau bisa. Sebaiknya kau cepat atau para Demon akan menghabisi kakak mu temannya itu.

"Aku kembali menatap layar itu. Wajah kak Melody memang sudah terlihat sangan kewalahan. Aku sangat ingin menolongnya jika aku bisa, tapi disisi lain aku meragukan diriku sendiri. Tiba-tiba saja Yupi menggenggam tanganku.

"Kau hanya perlu percaya, Satria."

"Yupi..."

"Percayalah pada dirimu sendiri Satria, karena aku percaya pada dirimu." Yupi mengembangkan senyum manisnya. Aku terdiam sesaat menatap Yupi. Senyuman yang sangat ku rindukan. Senyuman yang bisa membuatku memantapkan hatiku.

"Baiklah, aku mengerti." Lalu semuanya terlihat sangat menyilaukan dan ...

Aku membuka mata perlahan dan mulai mengangkat wajahku dari tanah. Sepertinya aku terlempar ke semak-semak akibat ledakan itu. Setelah melihat sekitar, perlahan aku mulai bangkit lalu mengintip dari celah semak-semak. Di kejauhan aku melihat kak Melody terbaring lemah ditanah dan Demon berdiri tepat dihadapannya.

Seketika aku teringat mimpi yang baru saja ku lihat, walaupun aku sendiri tak yakin bahwa itu adalah mimpi. Jika memang aku mewarisi kekuatan dari bulan, aku ingin menolong kakak dengan kekuatan itu.

"Tolonglah bulan! Berikan aku kekuatan. Aku ingin menolong mereka." Satria mengangkat tangannya tinggi. Mengarah tepat ke bulan purnama. Dia terus mengulang kata-kata itu dalam hati sambil memejamkan matanya.

Rembulan yang bersinar malam itu pun merespon keinginan Satria. Cahaya putih terangnya berubah menjadi kebiruan. Memberi kekuatan pada Satria.

Satria bisa merasakan kekuatan mengalir dalam dirinya. Aura biru menyelimuti dirinya, mata hitamnya juga berubah menjadi biru, menandakan kekuatannya. Ia lalu mengambil Abbysal Blade milik Melody yang tertancap dihadapannya dan bersiap menyerang pada Demon yang telah menyakiti kakaknya.