Friends
"Bersiaplah Melody!"
Andras kemudian mengangkat pedangnya tinggi, bersiap mengakhiri pertempuran ini. Baik Andre ataupun Melody, keduanya tak mampu lagi bertarung. Melody yang sudah benar-benar kehabisan tenaga pun pingsan.
Tiba-tiba dari arah samping, Andras menyadari sebuah tendangan mengarah pada dirinya. Hal itu membuatnya harus membatalkan serangannya dan menangkis tendangan itu. Kuatnya tendangan itu membuat Andras mundur beberapa meter walau sudah menahan tendangan itu.
"Siapa kau?!" tanya Andras pada orang yang menyerang. Namun lelaki itu hanya diam.
"Berani sekali kau menyerangku! Apa kau ingin mati?!" Gertaknya. Tapi lagi-lagi lelaki itu hanya diam.
"Cih. Sombong sekali. Majulah dan hadapi aku!" Kali ini Andras menantang lelaki itu. Akhirnya lelaki itu memberi respon. Ia menjulurkan tangan kirinya yang masih bebas dengan ibu jari berada diatas, lalu membalikannya ke bawah. Seperti meremehkan. Andras pun semakin terbakar amarah melihat dirinya diremehkan seperti itu.
"Jangan meremehkanku!"
"Para Demon! Serang dia!" Pasukan Demon yang berada disekeliling tempat itu pun menyerang dia dari berbagai arah.
Lelaki itu tetap dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Walaupun begitu banyak Demon menyerangnya dalam sekali serang tapi semua Demon itu dapat dihabisi hanya dalam sekali serang. Angin pun berhembus kencang sebagai efek dari serangan lelaki itu. Kali ini giliran lelaki itu yang bergerak menyerang Andras. Dengan kecepatannya, dalam sekejap lelaki itu sudah berada di depan Andras, lalu mengayunkan pedangnya dari pun tidak kalah cepat. Ia segera menangkis serangan yang datang dengan Yasha miliknya. Ia pun terbang ke langit untuk menghindari serangan lainnya. Lelaki itu menatap Andras yang terbang menjauh.
"Kau mungkin cepat dibawah sana. Tapi diatas sini, kau tak bisa apa-apa. Kau yang tak memiliki sayap tak mungkin bisa menyerangku di langit luas ini hahaha!" Andras lagi-lagi meremehkan lelaki itu. Perkataannya terdengar seperti sebuah tantangan. Tapi lelaki itu tak terpengaruh. Wajahnya tetap datar dan tanpa ekspresi. Hanya mata biru yang menatap Andras tajam sebagai sepoi berhembus. Membuat awan yang menghalangi sinar bulan bergerak pergi. Lalu, sedetik kemudian lelaki itu sudah berada dibalik punggung Andras yang sedang terbang tinggi di langit.
"Jangan meremehkanku." Suara yang datang dari balik punggungnya membuat Andras menoleh. Ia pun terkejut saat mendapati siapa yang ada dibelakangnya.
'Without Shadow'
CRRTTT! CRRTT!
Sayap dipunggung Andras lenyap tak berbekas. Tubuh Andras kini meluncur deras menuju bumi. Tapi Andras tak tinggal diam, ia bersiap meredam tabrakan dengan kaki besarnya. Suara keras pun timbul akibat hantaman tubuh Andras. Kini lelaki itu sudah berada didepannya, bersiap menyerang. Andras pun tak tinggal diam, ia juga langsung bersiap menyerang.
Karena sama-sama mengandalkan kecepatan, pertarungan antara keduanya bisa dibilang setara, namun Andras yang sudah terluka tak bisa terlalu lama mengimbangi lelaki itu. Serangannya sama sekali tak mengenai lelaki itu, sementara dirinya mati-matian menangkis tebasan demi tebasan yang dilancarkan lelaki itu.
Terlalu lelahnya Andras sampai-sampai lelaki itu berhasil menebas putus lengan kanan Andras. Ia pun meringkih kesakitan.
"Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Andras sambil memegangi sisa lengannya yang putus.
"Aku... Satria, The Moonlord," jawab Satria datar.
"Mo-moonlord?!" Andras dibuat terkejut oleh jawaban lelaki itu. Dan ia semakin terkejut karena Abbysal Blade telah menembus jantungnya.
"AAAAAARRRRGGGHH!"
Tubuh Andras seperti terbakar api, lalu menghilang, lenyap tak bersisa. Menyisakan pedangnya, Yasha yang kemudian diambil oleh Satria. Abbysal Blade dan Yasha dalam genggaman Satria pun ikut menghilang setelah pertarungan itu. Setelah itu Satria kembali, menghampiri Melody yang pingsan dan Andre yang terbaring lemah tak berdaya. Andre yang masih memiliki sedikit kekuatan mencoba bangkit, tapi Satria menghentikannya.
"Apa itu kau Satria?" tanya Andre yang hanya bisa melihat samar-samar.
"Istirahatlah dulu, luka mu cukup parah," ujarnya. Ia sama sekali tak menanggapi pertanyaan Andre.
Tak lama kemudian Andre pun jatuh pingsan, seperti Melody. Satria lalu menggendong tubuh keduanya kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Hari yang berat.
*****
Hari yang berat, aneh dan melelahkan telah berlalu. Kini Satria kembali ke kehidupan normalnya. Berangkat sekolah dengan motor, bertemu orang yang berjalan, mempelajari hal-hal yang membosankan dan sebagainya. Ia sebenarnya tak terlalu suka kehidupan disekolah, tapi mengingat apa yang baru saja terjadi padanya, Satria jadi merindukan hal-hal semacam itu.
Namun hari ini perasaan Satria sedikit tak tenang saat pergi ke sekolah. Itu karena ia harus meninggalkan kakaknya, Melody sendiri dirumah. Walau sudah sadar tapi kondisinya sama sekali belum membaik akibat pertarungan malam itu. Sebenarnya kalau bisa, Satria ingin tetap berada dirumah. Bukan karena malas sekolah, tetapi ia lebih ingin merawat kakaknya yang masih terbaring lemah. Melody jelas saja menolak keinginan adiknya itu. Ia ingin kehidupan Satria tetap sama seperti sebelum semua kejadian aneh ini menimpa dirinya.
"Sat! Oi, Satria!" Kinal yang duduk didepan Satria terus saja memanggilnya. Akan tetapi Satria masih tenggelam dalam lamunannya. Kinal akhirnya mengambil penghapus di mejanya dan melemparnya tepat ke wajah Satria. Membuatnya tersadar dari lamunan.
"Aduh, apaan sih Nal?" Satria sedikit kesal.
"Ngelamun mulu, liat tuh didepan." Kinal balas mengomeli sambil menunjuk dengan ekor matanya.
Satria lalu melongok ke arah yang ditunjuk Kinal. Terlihat pak guru sudah berada didepan kelas. Namun ada yang tak biasa hari ini. Ada seorang anak lelaki berdiri disebelah pak guru.
"Pagi anak-anak!"
"Pagi pak!"
"Hari ini kita kedatangan teman baru."
"Nah, silahkan perkenalkan dirimu pada yang lain," ujar pak guru pada anak itu.
"Halo teman-teman semua. Perkenalkan, namaku Hanif. Mulai hari ini aku bersekolah disini. Senang berkenalan dengan kalian."
Anak itu memperkenalkan dirinya dengan begitu semangat. Sebagian dari siswi dikelas terkagum-kagum pada Hanif. Wajahnya yang terbilang lumayan dan tubuhnya yang cukup ideal membuat beberapa siswi terpikat pada pandangan pertama.
"Nah Hanif, silahkan kamu duduk disana," kata pak guru sambil menunjuk sebuah bangku kosong disebelah Satria. Setelah mengerti, Hanif segera menuju ke tempatnya.
"Sekarang buka buku matematika halaman 168." Perintah pak guru barusan sukses membuat seisi kelas menghela nafas, malas.
"Hai, aku Hanif. Siapa namamu?" sapanya hangat sambil mengajak bersalaman pada Satria. Tapi karena suasana hatinya sedang tak baik, Satria hanya bersikap cuek padanya. Justru Kinal yang berada didepan Satria lah yang menyambar tangan Hanif.
"Hai, aku Kinal dan si cuek yang satu ini namanya Satria," ujar Kinal sambil melempar tatapan meledek pada Satria. Ia hanya mendengus, malas menanggapi Kinal.
"Ohiya Kinal, salam kenal ya," sambil mengembangkan senyumnya, Hanif membalas sapaan Kinal. Hal itu sukses membuat Kinal tersipu malu dan akhirnya dimarahi pak guru karena terus menerus menoleh kebelakang dan tidak memperhatikan pelajaran.
Sementara itu, didalam kelas ada yang terus memperhatikan Hanif dengan tatapan tidak senang.
Akhirnya setelah beberapa jam dikelas, waktu yang dinanti pun tiba yakni waktu istirahat. Saat seperti ini jelas saja tak akan dilewatkan para gadis yang sudah sedaritadi memperhatikan murid baru itu, hanya untuk sekedar berkenalan secara lebih personal. Sementara, Satria dan teman-temannya (yang sebenarnya adalah teman-teman Yupi) bergegas pergi menuju kantin untuk mengisi perut mereka.
Setelah masing-masing dari mereka memesan makanan dan minuman, semua berkumpul dimeja kosong disudut kantin. Mereka lalu berbincang-bincang sambil menyantap makanannya.
"Loh Kinal mana?" tanya Nabilah yang baru mendapati tak ada ditempat.
"Ohiya mana ya?" timpal Elaine yang baru menyadarinya.
"Sat, liat gak Kinal kemana? Kan dia duduk deket kamu tuh," Nabilah mengalihkan pertanyaannya pada Satria.
"Dia ke mejanya Hanif, bareng cewe-cewe lain. Katanya sih mau kenalan," jawab Satria setelah menelan makanannya.
"Hah? Hanif? Siapa tuh?" Nabilah tampak bingung.
"Itu loh Bil, murid baru dikelas kita," Andela menjelaskan.
"Hah? Kelas kita punya murid baru? Sejak kapan? Kok aku gatau sih," tanya Nabilah dengan wajah bingungnya. Ketiga temannya hanya bisa menggeleng.
"Baru juga tadi pagi dia dateng. Makanya Bil, kamu kalo dikelas jangan cuma tidur aja bisanya," celetuk Elaine.
"Wah bener tuh Len. Dengerin Bil apa kata Ilen," Andela menimpali sambil tertawa.
"Iyaiyaa," balas Nabilah. Ia sedang malas berdebat, apalagi soal ini karena pasti pada akhirnya ia yang akan kalah dan diceramahi oleh duo ini.
"Hei guys!" Kinal datang menyapa para sahabatnya.
"Ahh kamu Nal, darimana aja jam segini baru ke kantin?" Nabilah langsung menodong Kinal yang baru datang.
"Hehe, maaf Bil. Tadi aku abis ngobrol sedikit sama anak itu tuh," ujar Kinal sambil menunjuk seorang anak laki-laki yang sedang memesan nasi goreng.
"Itu... Siapa?" Nabilah menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan jelas orang yang dimaksud.
"Dia Hanif," jawab Kinal lembut.
"Oh iyaiya," balas Nabilah cepat.
Hanif menoleh ke sana sini. Dia membawa segelas teh ditangan kiri dan sepiring nasi goreng ditangan kanan. Sepertinya ia sedang mencari tempat kosong untuk menyantap makanannya. Kinal melambaikan kedua tangannya, memberi tanda agar Hanif mendatanginya. Hanif yang melihatnya segera melangkahkan kakinya melewati kerumunan menuju tempat Kinal dan kawan-kawannya berada.
"Eh gapapa kan kalo dia ikut gabung sama kita?" tanya Kinal pada yang lain.
"Ya, gapapa sih," Elaine membalas datar kemudian menyeruput jus strawberry didepannya hingga tak bersisa.
"Lagian masih ada satu tempat kosong lagi kok disebelah Satria." Nabilah ikut menimpali setelah menelan makanan dimulutnya.
Satria terdiam sejenak. Mengalihkan pandangannya sesaat, lalu kembali lagi pada ponselnya. "Aku duluan ya," katanya. Ia pun langsung pergi meninggalkan kantin. Semua temannya menatap kepergian Satria dengan wajah bingung.
"Satria kenapa sih?" tanya Nabilah
"Mana ku tahu," jawab Elaine tanpa melepaskan pandangan dari ponselnya.
"Len, temenin ke toilet yuk," pinta Andela.
Elaine lalu melirik jam tangannya. "Ayuk deh, abis itu kita langsung ke kelas aja, udah jam segini," jawabnya.
"Okey."
Mereka pun bangkit dari tempat duduknya. Setelah berpamitan pada Nabilah dan Kinal, mereka lalu beranjak pergi.
"Nal, kamu tahu si Satria kenapa?" tanya Nabilah.
"Enggak sih, cuma daritadi dia emang gitu," jawabnya.
"Gitu gimana maksudnya?" Nabilah bingung.
"Ya, gitu. Sering ngelamun. Kayaknya sih dia lagi ada masalah yang dipikirin atau semacamnya," jelas Kinal. Nabilah hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Hey Nal, mana yang lain?" Mata Nabilah dan Kinal langsung tertuju pada arah datangnya suara.
"Eh Hanif," balas Kinal kikuk.
"Yang lain udah duluan, kayaknya sih tugas mereka masih banyak," ujar Nabilah berbohong.
"Oh gitu." Hanif hanya mengangguk.
"Sini Nif, duduk disini aja," kata Kinal sambil menepuk bangku kosong disebelahnya. Hanif pun mengambil tempat itu. Setelahnya mereka makan sambil berbincang sampai waktu istirahat selesai.
*****
"Lagian masih ada satu tempat kosong kok disebelah Satria."
Kata-kata Nabilah itu terus terngiang dikepalaku. Maksudku apa dia benar-benar tidak ingat? Itu kan tempatnya Yupi! Ya, walaupun sebenarnya ia tak pernah menempatinya, tapi seharusnya itu tetap jadi tempatnya! Tempat kita bersama lagi! Huh, andai saja yang lain bisa mengingatnya. Yupi...
Sesampainya dikelas, langsung saja ku ambil earphone didalam tas dan menyatukannya dengan ponselku. Lalu memutar lagu-lagu kesukaanku. Hal inilah yang membantuku melewati masa-masa kelam saat kehilangan orang tua. Dan kurasa hal ini juga bisa membantuku melewati masa ini. Ya, semoga tanda masuk kelas berbunyi. Para siswa kembali ke kelasnya masing-masing. Begitu juga kelasku yang mulai penuh setelah tadi kosong melompong ditinggal penghuninya. Hari ini aku benar-benar tidak bisa fokus sekolah. Seperti hanya tubuhku yang berada disini, sementara pikiranku melayang jauh. Memikirkan Yupi, juga kak Melody yang sedang terbaring sakit. Aku tahu, seharusnya aku tetap berada dirumah hari ini. Huh.
Tanpa terasa bel pulang berbunyi. Dan aku sama sekali tak merasa mempelajari apapun hari ini. Aku bergegas merapikan semua barang milikku dan segera pulang. Namun didepan pintu kelas seseorang menghalangiku.
"Mau kemana kamu Sat?" tanya gadis itu. Ia menghalangi pintu keluar dengan tubuhnya. Ia juga merentangkan tangan, menutup celah rapat-rapat.
"Aduh Bi, ada apa sih? Aku buru-buru nih."Dia Novinta Dhini. Si ketua kelas yang galak dan sangat cerewet. Teman sekelas memanggilnya Nobi karena sikap tomboinya. Kenapa ketua kelasku seorang gadis tomboi yang galak dan cerewet? Jangan tanya padaku. Eh, tunggu! Sejak kapan aku jadi mengenal dan akrab dengan teman sekelasku?
"Kamu gak lupa sesuatu kan Sat?" tanya Nobi.
Aku berpikir sejenak. "Kayaknya engga deh Bi," kataku. Ia lalu menunjuk pada papan kecil didekat kami. Aku menatap baik-baik tulisan dipapan itu. Aku tertunduk lesu saat mengerti apa yang dimaksud Nobi. Hari ini adalah jadwal piket mingguanku. Sial.
"Oh itu Bi hehe." Aku tersenyum bodoh.
"Bi, hari ini kan aku banyak urusan..." Aku coba merayunya.
"Hmm.." ia terlihat mendengarkan.
"Kakakku juga sedang sakit dirumah dan ia sendiri..." lanjutku
"Lalu?"
"Jadi, boleh kan kalo hari ini aku bo-"
"GAK! Pokoknya kamu harus tetep piket!" Dia langsung memotong omonganku yang belum selesai itu. Apa boleh buat, huft.
Setelah kelas kosong barulah aku, Andela, Elaine, Kinal dan Nabilah memulai tugas piket. Tapi lagi-lagi karena tidak fokus, aku tak mengerjakan tugasku dengan benar. Bukannya membersihkan, aku bahkan membuat kelas tambah kotor. Kinal beberapa kali memarahiku karenanya. Aku juga mengutuk diriku sendiri. Bodoh!
"Sat" Nabilah memanggilku.
"Iya Bil, maaf." Mulutku langsung saja mengatakannya.
"Mending kamu pulang sekarang Sat," katanya pelan.
"Aku tahu, aku salah Bil, tapi-"
"Kamu punya urusan yang jauh lebih penting kan?" tatapannya kini berubah serius.
"I-iya sih Bil, tapi-"
"Pergilah. Urusan disini biar kami yang selesaikan."
Aku menatap balik mata itu. Ia serius dengan perkataannya, kurasa. "Baiklah jika kau memaksa," kataku sambil menyerahkan sapu digenggamanku padanya. Aku pun mengambil tas, lalu beranjak pergi. "Makasih ya Bil."
"Bil, kamu serius?" tanya Elaine yang terheran-heran beberapa saat setelah Satria pergi.
"Dia punya urusan yang lebih penting dari ini, lagipula..." suara Nabilah terdengar sedikit parau.
"Dia hanya akan menyusahkan kita kalau terus berada disini kan?"
Nabilah berbalik dan menatap para sahabatnya dengan senyuman. Seperti mengerti isi pikiran Nabilah, semuanya pun ikut tersenyum.
"Baiklah, sekarang kembali bekerja!" Kinal mengomandoi.
"Ayo!"
*****
15 menit berlalu sejak aku meninggalkan sekolah dan kini aku sudah sampai didepan rumah. Didepan pintu rumah ku lihat seseorang sedang berdiri dan sesekali mengetuk pintu. Aku membuka pagar rumah, bermaksud memarkirkan motor. Tampaknya suara decitan pagar yang memang sudah tua ini membuat orang itu tersadar akan kedatanganku. Ia menoleh ke arahku. Aku pun menghampirinya.
"Maaf, ada perlu apa ya?" tanyaku pada wanita itu.
"Apa benar ini rumahnya Melody?" ia bertanya balik.
"Iya benar. Ada perlu apa dengan kakak?" aku kembali bertanya.
"Kakak? Oh jadi kamu adiknya?"
