Fantasy or Reality?
"Ada perlu apa dengan kakak?" aku kembali bertanya.
"Kakak? Oh, jadi kamu yang namanya Satria?" lagi-lagi dia membalikkan pertanyaanku.
"I-iya, betul. Kakak siapa ya?"
"Ohiya, maaf lupa memperkenalkan diri. Aku Jessica Veranda, temannya Melody," ia pun memperkenalkan dirinya.
Mataku secara refleks memperhatikannya, dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dariku dengan rambut panjang terurai. T-shirt putih dengan gambar animasi ditengahnya dan rok berbahan jeans sebatas lutut membalut dirinya. Ia juga membawa tas kecil yang biasa dibawa wanita pada umumnya. Oh, dan satu hal lagi, wajahnya cantik sekali. Kenapa kak Mel tak pernah cerita padaku tentang teman yang satu ini ya?
"Maaf, apa Melody ada?" tanyanya lagi.
"Eh, ah... Iya ada kok," jawabku sedikit kikuk. "Sebentar ya kak."
Aku membuka jendela samping yang sengaja tak ku kunci. Lalu, membuka kunci slot dari dalam. Berbahaya memang, tapi aku tak ungkin mengunci pintu dari luar dan membiarkan kak Melody terkunci didalam atau tak mengunci pintu sama sekali. Itu pilihan yang lebih berbahaya. Setelah pintu terbuka, ku persilahkan teman kak Melody masuk ke dalam.
"Umm, kak ..." ucapanku terhenti.
"Ve, panggil saja Ve," ia langsung menyadari kebingunganku.
"Ohiya, maaf. Kak Ve mau langsung ketemu sama kak Mel?" tanyaku ramah.
"Memangnya Melody ada dimana?" dia menengok ke sekeliling ruangan.
"Ahiya, aku lupa bilang. Kak Melody sedang sakit, jadi seharian ini dia istirahat dikamar," kataku menjelaskan situasi.
"Begitu rupanya. Pantas saja sejak pagi aku tak bisa menghubunginya," kak Ve mengangguk-angguk. "Kalau begitu tolong antar aku ke kamarnya Sat, aku ingin menemuinya hanya jika ia sadar," pinta kak Ve.
"Ba-baik kak," jawabku tergagap karena gugup.
Aku lalu mengantar kak Ve ke kamar kak Mel yang ada dilantai dasar. Kamarnya berada didekat ruang keluarga. Ku ketuk pintu kamarnya begitu sampai.
"Kak Mel... Kak, ini ada temennya datang," kataku sambil mengetuk-ngetuk pintu. Tapi karena tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya ku buka sedikit pintu itu dan mengintip ke dalam. Terlihat kak Mel masih terbaring di tempat tidur.
"Sepertinya kak Mel masih tidur kak," kataku setelah menutup kembali pintunya.
"Oh gitu ya," ia terdengar sedikit kecewa.
"Umm, kakak tunggu dulu aja disini, siapa tau kak Mel bangun nanti," sambil menepuk sofa ruang keluarga yang berada didepan kamar kak Melody. Kak Ve mengangguk sambil tersenyum dan ku anggap itu sebagai persetujuan. "Aku mau ke atas sebentar, ganti baju," ujarku lalu bergegas ke kamarku di lantai atas.
Setelah selesai berganti pakaian, aku segera kembali turun. Di ruang keluarga, kak Ve hanya duduk sambil memainkan ponselnya. "Hmm, sepertinya ada yang ku lupakan," gumamku. Ahiya, meja didepan kak Ve kosong melompong. Bagaimana aku bisa lupa menyuguhkan minum dan beberapa makanan ringan padanya? Kalau kak Mel tahu hal ini, aku pasti kena marah!
Segera saja aku pergi ke dapur untuk mengambil makanan dan minuman. Lalu kembali menuju ruang keluarga.
"Kak Ve, silahkan dicicipi," kataku sambil menaruh nampan berisi makanan dan minuman yang ku bawa ke atas meja.
"Makasih ya, Satria. Maaf nih jadi ngerepotin," balasnya dibarengi senyuman.
"Ohiya, Melody sakit apa Sat? Sampai-sampai dia harus istirahat selama itu?" pertanyaan dari kak Ve membuka obrolan diantara kami. Sekaligus membuatku mati kutu.
GAWAT! Apa yang harus ku katakan? Tak mungkin aku bilang kalau kak Mel terluka akibat bertarung dengan para Demon itu kan? Panik. Itu yang kurasakan. Aku bingung mencari jawaban atau setidaknya alasan yang masuk akal (akal manusia biasa tentunya).
Melihat sikap gelisahku dan pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban, kak Ve berbicara lagi.
"Kalo kamu gak mau atau gak bisa cerita, yaudah gapapa. Kakak bisa ngerti kok," ucapnya. Dan itu sangat melegakan hatiku.
"Hehe, maaf ya kak Ve," aku tersenyum bodoh. Untung saja kak Ve mengatakan hal itu. Kini aku memikirkan sebuah topik yang seru untuk dibahas.
"Kak Ve, kakak udah berapa lama temenan sama kak Mel?" tanyaku sedikit ragu.
"Berapa lama ya.." ia meletakkan gelas berisi teh yang baru saja diminumnya. "Kalau lama kakak gak begitu inget, tapi yang jelas kami berteman sejak SMA," lalu melanjutkan kata-katanya.
"Kak Mel itu... Menurut kakak orang yang seperti apa?" mulut isengku ini tiba-tiba saja bertanya sendiri.
"Melody ya... Dia itu... Unique. Perkenalan diantara kami saja terbilang aneh." Kak Ve kemudian tersenyum-senyum. Mungkin mengingat kenangannya bersama kak Mel.
"Aneh? Aneh kayak gimana kak?" rasa penasaranku tiba-tiba melonjak tinggi.
"Jadi tuh awalnya..."
*Flashback On*
"Kelompok 4 yaitu Shinta Naomi, Shania Junianatha, Fransisca Saraswati, Jessica Veranda dan Melody Laksani."
Veranda tertunduk lesu saat mengetahui bahwa ia harus satu kelompok dengan orang-yang-bisa-dibilang luar biasa cuek dikelasnya.
Pertama, Shinta Naomi. Ia sangat suka dengan Nail Art. Hampir disetiap waktu senggang, ia selalu mengurusi kuku-kukunya. Benar-benar maniak!
Selanjutnya, Shania Junianatha. Juara kelas yang sangat menyukai buku. Kapanpun dan dimanapun pasti ia selalu membawa buku bacaan. Entah itu buku pelajaran, novel, majalah, ensiklopedi, dan berbagai macam jenis buku lainnya. Yang jelas buku-buku itu melekat erat padanya.
Orang ketiga yaitu Fransisca Saraswati, atau yang lebih di kenal si ratu eksis. Siapa yang tak mengenalnya? Seisi sekolah tahu tentangnya. Hobinya yaitu berselancar didunia maya dan diberbagai sosial media. Jelas saja kalau ia dikenal banyak orang kan?
Yang terakhir, Melody Laksani. Umm.. Aku tak tau banyak tentangnya. Dia pribadi yang tertutup. Tak banyak orang yang bergaul dan dekat dengannya, begitu juga aku.
Veranda mendeskripsikan satu per satu teman satu kelompoknya. Menurutnya ini adalah kelompok terburuk yang pernah ada. Kini ia harus berkutat dengan mereka sepulang sekolah.
"Baiklah, pertama kita tentukan dulu siapa ketuanya. Siapa diantara kalian yang mau jadi ketua?" pertanyaan Melody yang langsung ke inti masalah pertama menjadi pembuka diskusi mereka.
Namun, tak ada satupun dari mereka yang menanggapi Melody. Naomi sibuk merapikan kukunya. Shania tak melepaskan pandangannya sedetik pun dan novel yang sedang ia baca. Sedangkan Sisca begitu asyik dengan gadgetnya. Benar-benar buruk!
"Anu-" Veranda mencoba berbicara.
"Kau saja. Lagipula kemampuan memimpinmu yang paling baik diantara kita," ujar Naomi sambil terus merapikan kuku-kukunya.
"Oke, kalau begitu aku yang jadi ketua. Apa ada yang keberatan?" tanya Melody lagi. Semuanya menggeleng, begitu juga Veranda.
"Selanjutnya, mengenai waktu dan tempat untuk kerja kelompok-"
"Rumahku saja. Jl. Futuristic Raya No. 27, pagar warna merah. Hari minggu jam 1 siang." Shania menawarkan dirinya. Matanya tetap memandang buku yang ia pegang.
"Anu, aku..." Veranda lagi-lagi mencoba berbicara.
"Atau bagi yang tidak tahu alamatnya, bisa berangkat bersama denganku. Kita bertemu disekolah jam 12.30 dan tak ada kata terlambat," tambah Shania.
'Dia ini apa? Bagaimana dia bisa tahu apa yang ku pikirkan?' Veranda terheran-heran dengan teman satu kelompoknya.
"Wajahmu tak usah bingung begitu Ve, aku sudah sering mengalami hal seperti ini," lagi-lagi Shania mengeluarkan kata-kata yang membuat Veranda kebingungan.
"Oke, jadi diskusi mendadak ini kita tutup sampai disini," kata Melody, menutup semua diskusi, atau pembicaraan satu arah?
"Huh aku terlambat 20 menit nih buat update status 'on the way home' hhh," gerutu Sisca. Tapi tak ada yang menanggapi ocehannya.
Jam yang melekat ditangan Veranda menunjukkan pukul 6. Ini sudah terlalu sore untuk pulang sendiri, namun teman-teman yang biasa bersamanya tentu sudah tak berada di sekolah. Mau tak mau, suka tak suka, ia harus pulang sendiri.
Veranda memilih berjalan kaki ke rumah daripada harus menunggu angkutan umum. Ia malas menunggu dan angkutan umum hanya lewat 30 menit sekali, bahkan lebih. Lagipula rumahnya juga tak terlalu jauh. Ia pun mengambil rute pendek, yakni melewati gang-gang dan jalan tikus yang jarang dilalui orang. Ia suka ketenangan.
Earphone terpasang dan lagu pun diputar, menemani langkah kaki Veranda menuju rumahnya. Ia begitu asyik sampai tak menyadari kalau dia sedang diikuti. Veranda terus berjalan sambil menatap layar ponselnya, ia pun menabrak seseorang karenanya.
"Aduh, maaf ya..." perkataan Veranda terhenti saat melihat orang yang ia tabrak. Perasaannya seketika berubah cemas.
"Lihat-lihat dong kalo jalan, gadis manis," ujar lelaki berbadan besar yang ditabrak Ve.
Ve lalu menoleh ke kanan. Mencoba mencari celah untuk kabur. Namun, lelaki lain sudah berdiri disana. Ia pun meoleh ke kiri, tetapi hal yang sama terjadi. Saat melangkah mundur, Ve lagi-lagi tertahan oleh badan seseorang. Ve memang pernah mendengar bahwa disekitar tempat itu ada penjahat. Namun, ia tak pernah menyangka kalau ia akan menjadi salah satu korbannya.
"Bos, kayaknya malam ini kita dapat tangkapan yang bagus nih," ujar lelaki yang pertama ditabrak Ve.
"Iya, bos. Selain badan sama wajahnya yang bagus, dia juga sepertinya punya banyak uang," lelaki dikanan Ve menyahuti rekannya.
"Gimana bos?" lelaki di kiri Ve kemudian bertanya.
Lelaki berbadan besar dan mengenakan jaket kulit masih terdiam. Rupanya lelaki yang berdiri dibelakang Ve adalah bos para penjahat itu. Ia lalu memperhatikan Ve dari atas ke bawah, lalu tersenyum.
"Kau!" ia menunjuk pada lelaki didepan Ve.
"Ya, bos?" ia pun menyahut.
"Ambil semua barang-barangnya," perintah sang bos.
"Siap, bos!"
"Kalian!" kini ia menunjuk 2 orang sisanya.
"Ya, bos?" sahut mereka.
"Pegangi dia," lalu senyuman licik sang bos melebar.
"Baik, bos!"
Kemudian para penjahat itu pun melakukan apa yang diperintahkan bos mereka. Seorang merampas semua barang dibawa Ve dan 2 orang sisanya memegangi dia. Ve mencoba melawan tapi tentu tenaganya tak berarti apa-apa bagi penjahat-penjahat itu.
"Ma-mau apa kalian?" tanya Ve yang sudah sangat ketakutan.
"Kami hanya ingin bersenang-senang denganmu, gadis manis, hahaha," kemudian para penjahat itu tertawa sejadi-jadinya.
Ve tertunduk lesu. Kini dirinya hanya bisa pasrah. Sebenarnya ia ingin berteriak dan meminta pertolongan tapi karena terlalu takutnya sampai-sampai suaranya bahkan tak keluar sedikit pun.
"Hey kalian!" Suara teriakan yang entah darimana membuat para penjahat itu menoleh.
"Beraninya sama perempuan! Sudah begitu keroyokan! Dasar pengecut!" Suara itu semakin membuat para penjahat bingung dan juga geram.
"Siapa kau? Cepat tunjukkan dirimu!" sang bos pun balas berteriak. Lalu, dari balik bayangan muncul seorang gadis.
"Bukan siapa-siapa. Hanya orang yang kebetulan lewat saja," ujarnya.
"Hoo rupanya seorang gadis," senyuman kembali menghiasi wajah sang bos. "Kalian berdua!" ia menunjuk dua orang yang sedang memegangi Ve. "Cepat tangkap dia!" perintahnya.
"Siap bos!"
Mereka pun melepaskan Ve dan berlari mengejar gadis itu. Ia kembali masuk ke dalam kegelapan malam.
'yang tadi itu... Melody kan?' gumam Ve dalam hatinya.
Tak lama setelahnya, salah satu dari lelaki itu kembali. Akan tetapi wajahnya sudah babak belur. Setelah berjalan beberapa langkah, ia pun roboh didepan bosnya. Tak berbeda jauh dengan lelaki tadi, lelaki yang satunya terlempar keluar dari kegelapan. Seperti habis dipukul dengan tenaga yang sangat kuat. Ia pun pingsan seketika.
Gadis itu kemudian muncul lagi sambil menepuk-nepuk tangannya layaknya orang yang selesai membereskan sesuatu. Melihat apa yang terjadi, lelaki yang merampas barang-barang Ve langsung lari tunggang langgang. Tapi si gadis misterius itu tidak membiarkannya. Ia lalu mengambil batu seukuran bola pingpong disebelah kakinya, kemudian melemparnya sekuat tenaga tepat ke kepala penjahat yang lari itu. Penjahat itu pun seketika terkapar karenanya. Melihat anak buahnya dihabisi dengan begitu mudah, sang bos pun panik. Ia lalu menjadikan Ve sebagai sanderanya.
"Jika kau berani mendekat akan ku bunuh dia!" Gertak sang bos sambil menempelkan pisau yang ia bawa ke leher Veranda.
'Melody... Ya, benar dia Melody,' gumam Ve. 'Ku mohon, tolong aku Mel! Tolong!' pinta Ve dalam hatinya.
'Tenanglah Ve, aku pasti menolongmu.' Ve seperti mendengar Melody menjawab permohonannya.
'Lakukan saja apa yang akan ku katakan setelah ini.' Melody lalu mengatakan beberapa hal kepada Veranda.
'Kau mengerti? Jika iya, mengangguklah.' Ve pun menganggukkan kepalanya. Melody juga menganggukkan kepalanya.
'Lakukan dalam hitungan ketiga. Satu, dua, tiga, sekarang!'
Ve menggigit tangan penjahat itu. Lalu segera merunduk setelahnya. Si bos pun berteriak kesakitan dan lebih kesakitan lagi karena setelahnya tendangan keras Melody menghantam wajahnya. Sang bos pun pingsan. Semua persis seperti rencana Melody.
Ve terduduk lemas. Ia lega semua sudah berakhir. Kejadian ini benar-benar membuatnya shock. Tak lama Ve pun pingsan karena lelah.
*Flashback Off*
"Lalu apa yang terjadi setelah itu kak?" tanya Satria yang menyimak dengan seksama cerita Ve.
"Setelah itu..."
"Sudahlah Sat, tidak baik menanyai orang terus menerus seperti itu. Apalagi tentang kenangannya." Satria dan Ve lalu menoleh ke arah datangnya suara.
"Melody!" "Kakak!"
Melody sudah berdiri didepan pintu kamarnya. Entah sejak kapan dia apa disana, baik Veranda maupun Satria tak ada yang menyadarinya.
"I-iya kak, maaf," balas Satria.
"Satria, tolong tinggalkan kami berdua. Kakak ingin bicara dengan Ve," pinta Melody.
"Baik, kak. Aku mengerti," jawab Satria. Ia pun bangkit dan menuju kamarnya.
*Uhukk! Uhukk!* Melody terbatuk. Ia menutupi mulut dengan tangannya. Dan saat ia melihat telapak tangannya, darah menempel disana. Tak lama berselang tubuh Melody pun roboh. Ve dengan cepat menangkap Melody. Dia pun melihat darah yang menempel ditangan dan bibir sahabatnya itu. Ve kemudian hendak memanggil Satria, namun Melody menghentikannya.
"Jangan beri tahu Satria soal ini. Aku sudah cukup merepotkannya belakangan ini," ujar Melody dengan suara yang teramat pelan sampai hampir tak terdengar oleh Ve.
Walau sebenarnya tak mau tapi Ve menuruti kemauan sahabatnya. Ia lalu memapah Melody masuk ke dalam kamarnya dan membaringkannya di ranjang. Kemudian ia mengambil segelas air dimeja yang terletak disamping ranjang. Ia juga menarik sebuah kursi ke sisi ranjang dan duduk disana. Setelah minum dan merasa sedikit lebih baik, Melody mulai menanyai sahabatnya itu.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Melody.
Pertanyaan itu tentu saja membuat Ve sedikit kesal. 'Apa Melody masih perlu menanyakannya?' pikir Ve. Meski begitu, ekspresi Veranda tetap menunjukkan kekhawatiran yang tinggi.
Obrolan diantara mereka kian memanjang. Mulai dari Ve yang menanyakan penyebab keadaan Melody yang seperti itu (yang tentu saja dijawab oleh Melody dengan sebuah kebohongan), tugas kampus hingga gosip yang sering kali mereka bicarakan dimana saja, tak terkecuali disini, kamar Melody.
Gelak tawa pun terdengar dari kedua gadis muda itu. Melihat senyuman dan tawa sahabatnya, membuat Veranda merasa senang tentunya. Setidaknya hal itu adalah tanda bahwa keadaan Melody mulai membaik. Kini perbincangan tanpa arah itu telah sampai pada akhirnya. Ve pun berpamitan untuk pulang.
"Kamu yakin mau pulang Ve?" tanya Melody.
"Ya iyalah Mel. Kalo engga pulang, besok aku gimana?"
"Coba liat deh," Melody menunjuk ke jam dinding dikamarnya.
"Apa?!" Ve terkejut. Jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. "Apa benar sudah selarut ini? Ya ampun." Ve mendengus.
"Menginap saja disini Ve," Melody menawarkan pilihan.
"Tapi Mel-"
"Atau kau ingin pulang sekarang, mendapat masalah, lalu ku selamatkan lagi seperti waktu itu?" Melody tersenyum, sementara Ve kebingungan. Setelah berpikir sejenak, Ve menghela nafas.
"Baiklah Mel, aku mengerti. Malam ini aku menginap disini.
"Melody kemudian menepuk sisi ranjang yang masih kosong, memberi isyarat pada Ve agar ia tidur disana. Ve menurut. Mereka pun tidur berdampingan. Melody terlebih dulu terlelap sedangkan Veranda masih tetap terjaga. Ia ingat belum mengatakan sesuatu yang penting saat menceritakan kisahnya pada Satria.
Sayap. Ya, itulah yang lupa ia katakan. Saat Melody menyelamatkannya dulu, Ve seperti melihat sayap dibalik punggung Melody. Entah itu hanya ilusinya atau bukan, akan tetapi Veranda sudah menganggap Melody layaknya seorang malaikat yang selalu ada untuk menolongnya. Beberapa kali Veranda ditolong oleh Melody dan tak ada satu kesempatan pun bagi Ve untuk membalasnya. Dia selalu mengharapkan hal itu setiap malam sebelum tidur. Begitu juga malam ini. Kantuk yang semakin mendera dan lelah yang sudah menumpuk pada akhirnya membuat Veranda tertidur dalam lamunannya.
"Veranda bangunlah." Veranda membuka matanya perlahan, lalu berdiri.
"Ini kan..." Ve mengamati sekitar, lalu terdiam.
"Ini kan mimpi yang akhir-akhir ini aku alami. Kenapa? Ada apa dengan mimpi ini?" Veranda bertanya-tanya.
"Kemarilah Veranda." Suara itu datang dari balik kabut yang tersusun layaknya dinding. Rasa penasaran membuat Veranda berjalan menuju arah datangnya suara. Mata Veranda terbelalak saat melihat apa yang ada dibalik dinding kabut itu. Seorang wanita dengan 4 pasang sayap.
"Si-siapa kau?" tanya Veranda yang sedikit ketakutan.
"Perkenalkan, aku adalah Rica, The Arcangel."
"Archangel?!"
"Ya, penyihir terkuat di Valhalla." Rica berkata dengan bangganya, namun Veranda yang menyimak merasa bingung. "Mungkin kau tak mengerti hal itu sekarang tapi kau akan mengetahui semuanya. Karena kau akan mewarisi kekuatanku."
"A-apa katamu?!" Veranda semakin terkejut.
"Kau akan mewarisi kekuatanku. Apa itu kurang jelas untukmu?"
"Ta-tapi kenapa aku?" Veranda kembali bertanya.
"Kau memiliki kebaikan dan kepedulian yang sangat tinggi, Veranda. Sebelumnya aku tak pernah melihat manusia dengan hati setulus ini."
"Benarkah aku seperti itu?" Veranda bertanya pada dirinya sendiri.
"Ohya, kau juga bisa menolong orang-orang yang kau sayangi seperti keluarga, sahabat atau orang lainnya dengan kekuatan ini. Jadi, bersediakah kau menerima kekuatan ini?"
"Aku.. Bisa menolong... Melody..?" Veranda tak percaya dengan apa yang didengarnya. Rasanya bagaikan mimpi. Kemudian ia terdiam, seperti tersadar akan sesuatu.
'Tunggu dulu! Bukankah ini memang didalam mimpi?' gumamnya dalam hati.
"Sebelum itu Rica, aku ingin bertanya sesuatu."
"Dan apa itu Veranda?"
"Apakah ini kenyataan atau hanya sekedar ilusi?" Rica tersenyum. Ia lalu mengambil sebuah bulu dari sayapnya. Setelah dicabut, bulu halus itu mengeras layaknya sepotong besi. "Bagaimana menurutmu, Jessica Veranda?" Rica melempar bulu yang bagaikan besi itu tepat ke arah Veranda.
-To be continue
