Silent Enemy
Entah sudah berapa lama Satria memandangi langit dari jendela kamarnya. Setelah sebelumnya Melody menyuruhnya ke kamar. Kepalanya masih dipenuhi berbagai macam hal. Ia tak bisa tidur selagi pikirannya. Awan yang sejak tadi menghiasi langit kini beranjak pergi. Di sela lamunannya, Satria merasa ada yang mengawasinya dari balik pepohonan.
"Siapa disana?!" teriaknya lantang.
Dedaunan semak pun bergerak, lalu seekor kelinci keluar dari semak itu.
"Huh ku kira apa, ternyata hanya kelinci," ujar Satria. Ia lalu pergi menjauhi jendela. Kemudian dari balik pohon, keluar seseorang berjubah yang mengawasi Satria sejak tadi. Setelah itu dia berbalik dan beranjak pergi.
"Sepertinya kau sudah ingin pergi ya?" tanya Satria yang ternyata sudah berisi dibelakang orang itu.
"Siapa kau? Dan apa mau mu?!"
"Sebelum itu bisa kau jelaskan bagaimana kau bisa ada dibelakangku, Satria?" orang itu lalu membuka penutup kepalanya.
"NA-NABILAH?!"
"Ini Nab airnya, silahkan." Satria menaruh segelas air lalu duduk berhadapan dengan Nabilah. Kini mereka berada di ruang tamu dirumah Satria.
"Makasih Sat. Dan maaf ya untuk yang tadi," ujar Nabilah.
"Iya gapapa kok Nab, tapi kamu ngapain ngintai aku kayak gitu?" tanya Satria langsung ke inti, Nabilah bingung.
"Aku.. Ah sebelum itu.. Bisa kamu jelaskan bagaimana kau bisa berada dibelakangku?" Nabilah balik bertanya. Kini Satria lah yang kebingungan untuk menjawabnya.
"Anu.. Bagaimana ya?" Satria bimbang. Ia bingung apakah harus menceritakan yang sebenarnya pada Nabilah atau mengarang sebuah kebohongan yang bisa dipercaya. Pilihan kedua jelas saja tak mungkin, apalagi dalam waktu sesingkat mungkin.
"Tapi janji ya jangan cerita pada siapapun?" pilihan pertama lah yang akhirnya dipilih Satria.
"Baiklah Sat, aku janji. Setelah nanti kamu cerita, gantian aku yang cerita," jawab Nabilah.
"Jadi sebenarnya aku... Adalah Moonlord," ujar Satria perlahan. Ia mengira Nabilah akan terkejut saat mendengarnya, namun sikap Nabilah justri sebaliknya. Ia hanya diam mendengarkan dengan ekspresi penasaran. Satria lalu melanjutkan perkataannya.
"Aku bisa berada dibelakangmu tadi karena aku menggunakan kekuatan Moonlord itu. Teknik 'Without Shadow' dapat membuatku bergerak begitu cepatnya seperti tanpa bayangan. Tapi teknik ini hanya bisa digunakan saat aku melihat targetku," jelas Satria.
"Tunggu dulu! Memang tadi kau melihatku? Dan juga kapan kau mempelajari teknik semacam itu?" tanya Nabilah meminta penjelasan.
"Aku tak pernah mempelajarinya. Teknik itu seperti datang bersama dengan kekuatanku ini. Pada awalnya aku memang tak tau ada kau disana tapi setelah terkena sinar bulan yang menyebabkan kekuatanku bangkit, aku merasa sedang diawasi, makanya aku berteriak seperti tadi."
"Tapi saat itu kau belum melihatku kan?" Nabilah kembali bertanya.
"Memang, tapi kecurigaanku menguat setelah melihat kelinci yang keluar itu. Sepengetahuanku tak satu pun orang disekitar sini memelihara kelinci. Karena curiga, aku pura-pura pergi dari jendela padahal dalam kegelapan kamar aku terus memperhatikan tempat kelinci itu keluar. Tak lama kau pun muncul lengkap dengan jubah penutupmu itu. Kemudian aku langsung melakukan teknik tadi dan pergi kebelakangmu." Satria menjelaskan selengkap-lengkapnya.
"Ohh ternyata begitu, aku mengerti sekarang." Nabilah mengangguk-angguk.
"Nah sekarang giliranmu. Cepat ceritakan kenapa kamu mengawasiku?" tanya Satria menggebu-gebu.
"Santai aja dong Sat, aku pasti cerita kok." Kini Nabilah menceritakan alasannya.
Pernyataan pertama Nabilah yang mengatakan bahwa ia adalah Angel sudah cukup untuk membuat Satria tercengang. Nabilah juga mengatakan bahwa ia ada di Edge of World saat Satria dan Melody ke sana. Satria pun bertanya dimana Nabilah saat itu. Ia hanya menjawab bahwa ia adalah salah satu prajurit yang sedang berlatih saat itu.
Tak hanya itu, percakapan antara Satria dan Jendral Sandalphon pun tak sengata didengarnya. Sejak saat itulah Nabilah diam-diam mengamati Satria karena penasaran dengan kekuatan yang dikatakan Sandalphon. Dan malam ini adalah puncak rasa penasarannya. Itulah mengapa Nabilah sampai mengawasi Satria malam ini.
Satria tertegun setelah mendengar cerita Nabilah. Ia tak habis pikir kenapa ia harus mendapat kejutan seperti ini berkali-kali. Setelah semuanya jelas, Nabilah pun bermaksud pulang karena malam sudah terlalu larut. Satria menawarkan diri untuk mengantar, tapi Nabilah menolaknya.
"Kamu gak usah khawatir Sat, aku bisa jaga diri kok." Itulah perkataan terakhir Nabilah sebelum akhirnya mereka berpisah.
Nabilah berjalan melewati taman yang berada cukup jauh dari rumah Satria. Saat itu ia seperti melihat bayangan seseorang dari balik pohon. Namun saat ia memeriksanya, tak ada seorang pun disana. Kemudian ia berbalik dan bermaksud meneruskan perjalanan.
"Mencariku?" Suara itu datang dari balik punggung Nabilah dan saat ia menoleh, seseorang sudah berdiri disana. Padahal ketika memeriksa tadi, ia tak menemukan apapun. Orang itu lalu berjalan mendekat. Cahaya dari lampu taman kini mengenainya dan membuatnya terlihat jelas. Pakaian serba hitam yang dikenakan orang itu, membuat dirinya menyatu dengan kegelapan.
"Oh ternyata kau, ada apa?" Nabilah bertanya pada orang yang ternyata ia kenal itu.
"Kerjamu cukup bagus malam ini," ujar orang itu.
"Kerja? Apa maksudmu? Aku sama sekali tak mengerti," Nabilah membalasnya dengan wajah bingung.
"Mungkin kau bisa menipu dia atau siapapun diluar sana, tapi kau tak bisa menipuku, Nabilah. Ahh tidak, maksudku Queen of Imitator, Cleopatra." Bola mata berwarna merah milik orang itu menatap Nabilah. Tatapannya begitu tajam, seakan-akan menusuk orang yang ditatapnya.
nabilah tersenyum. Ia lalu menjentikkan jarinya dan tubuhnya kembali seperti semula, yakni Cleopatra, tepat seperti apa yang dikatakan orang tadi. Gadis berambut panjang dengan tubuh tinggi semampai itu kini berbalik menatap mata orang yang telah membongkar penyamarannya.
"Kau memang hebat. Berita yang ku dengar tentangmu ternyata benar, Red Lunar, Hanif." Kini Cleo balik membuka identitas orang bernama Hanif itu.
"Sekarang apa rencanamu? Dan mau kau apakan anak itu?" tanya Hanif. Ia menunjuk ke balik semak-semak dengan ekor matanya. Disana ada Nabilah yang sedang pingsan. Tangan dan kakinya terikat, mata dan mulutnya juga tertutup rapat.
"Aku berencana menyamar jadi anak itu dan mencari informasi lebih dalam lagi. Dan.. Kita juga bisa menjadikan anak itu sebagai sandera kalau perlu," jelas Cleo dengan berhiaskan senyuman licik. Hanif juga sedikit tersenyum setelah mendengar rencana Cleo.
Dari kejauhan, ada seseorang yang memperhatikan mereka. Orang itu geram setelah mendengar perkataan Cleo. Sesaat kemudian, Hanif dan Cleo menoleh ke arah yang berlawanan.
"Kau merasakannya?" tanya Cleo panik.
"Ya, tapi hanya sesaat." Hanif pun tak kalah panik.
"Benar-benar aura membunuh yang menakutkan. Apakah dia memperhatikan kita sejak tadi?" Cleo semakin bertanya-tanya.
"Aku tidak tahu. Tapi jika memang iya, orang ini sangat pandai bersembunyi sampai-sampai aku tak bisa merasakan hawa keberadaannya." jelas Hanif yang masih sedikit panik.
"Tak mungkin ia berada terlalu jauh kan? Apa dia bisa mendengar pembicaraan kita dari jarak jauh? Karena aku tak merasa hawa yang barusan itu ada dalam jarak dekat."
"Kelihatannya begitu. Jika tidak, dia tak akan mengeluarkan aura seperti tadi. Kau harus berhati-hati! Kita tak tahu sedang berurusan dengan siapa."
"Aku mengerti," Cleo mengangguk.
"Malam ini cukup sampai disini, kita bertemu lagi besok," ujar Hanif. Kemudian mereka pun berpisah. Cleo tak lupa membawa Nabilah bersamanya. Tanpa Cleo dan Hanif sadari, mereka masih diawasi dari kejauhan hingga mereka berpisah.
"Awas saja kalian, Demon!"
"Jadi akhirnya kau memutuskan untuk bolos hari ini?" tanya Melody yang masih terbaring di ranjang.
"Ya, begitulah Mel," jawabnya sambil bersih-bersih dan membereskan kamar Melody. "Selesai! Selanjutnya kamar Satria dan seisi rumah." ujarnya riang. "Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasihku karna dibolehkan menginap," tambahnya.
"Tapi Ve, mengurusiku saja sudah cukup merepotkan, dan sekarang kau ingin bersih-bersih rumah? Itu terlalu berlebihan."
"Kalau begitu anggaplah ini balasan atas kebaikanmu dulu, kau selalu membantuku. Lagipula aku selalu ingin memiliki kakak atau adik, dan sekarang aku memiliki keduanya. Kau tahu betapa sepinya menjadi anak tunggal pengusaha kaya raya, Mel?" matanya berkaca-kaca. Ia lalu memandang keluar jendela.
"Veranda..."
"Baiklah Ve, lakukanlah semaumu. Tapi pastikan ini tidak merepotkanmu," ucap Melody.
"Siap kapten!" balas Veranda seraya memberi hormat dengan tangannya. Keduanya pun tertawa.
"Ohya Ve, pipimu kenapa?" tanya Melody yang baru menyadari goresan di pipi sahabatnya itu.
"Ahh ini..." Ve terdiam sejenak sambil memegangi pipinya. Ia pun teringat dengan kejadian semalam-yang bukanlah sebuah mimpi.
Flashback On
"Bagaimana menurutmu, Jessica Veranda?"
Bulu yang bagai besi itu meluncur deras menuju Veranda.
'Bagaimana ini? Haruskah aku menghindar? Atau tetap diam? Hatiku mengatakan untuk menghindar tapi pikiranku menyuruh hal sebaliknya. Mana yang harus aku ikuti? Hati atau pikiran?' Veranda berdebat dengan dirinya sendiri.
Akhirnya Ve mengikuti apa yang selama ini ia ikuti yakni pikirannya. Ve menatap lurus pada bulu itu setelah menetapkan pilihannya. Rica hanya tersenyum menatap gadis itu. Namun sesaat sebelum bulu itu datang, kepala Ve bergerak menghindar.
WUUSSHH!
Bulu itu melesat melewati Veranda. Tak hanya sekedar lewat, ia juga meninggalkan goresan diwajah cantik Ve dan memotong beberapa helai rambutnya. Ve tercengang. Ia kini terduduk lemas. Kemudian meraba pipi kirinya yang terasa perih. Ia tak percaya ketika melihat apa yang disentuh jarinya.
Darah. Ya, darah mengalir dari pipinya. Rica kemudian datang mendekat dan berdiri tepat didepan Veranda.
"Jadi... Ini bukan ilusi?" tanya Ve sambil terus menatap darah yang ada pada jarinya.
"Ya, ini bukanlah ilusi atau mimpi," jawab Rica datar. "Kuharap kau belajar sesuatu dari kejadian tadi."
"Eh?" Ve menoleh ke atas, menatap Rica.
"Kau tak harus selalu mengikuti akal dan pikiranmu. Terkadang kau harus mendengarkan kata hatimu walau itu terasa tidak mungkin. Percayalah pada dirimu sendiri, Veranda."
Flashback Off
"Ve?" panggil Melody.
"Ahiya Mel, kenapa?" suara Melody menyadarkan Ve dari lamunannya.
"Kau... Baik-baik saja?" tanya Melody khawatir.
"Ya, aku baik. Sangat baik." Ve memegangi lagi bekas lukanya. "Aku hanya mendapat sebuah pengalaman mengejutkan." senyuman terlihat jelas diwajah Veranda.
Walaupun tidak terlalu mengerti apa yang terjadi pada sahabatnya itu, tapi melihat senyuman Ve itu membuat Melody yakin akan satu hal. Veranda akan baik-baik saja. Bahkan Melody mulai berpikir untuk menceritakan hal yang ia sembunyikan selama ini.
"Kemarilah Ve," Melody menepuk-nepuk ranjangnya. "Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu."
Hari-hari disekolah terasa membosankan seperti biasanya. Namun belakangan ini, aku merasakan ada yang aneh dari Nabilah. Sudah beberapa hari berlalu sejak aku memergoki dia yang sedang mengawasiku malam itu. Dan selama itu pula Nabilah bersikap tak biasa.
Kinal memang sejak awal berencana mendekati Hanif, tapi Nabilah? Aku tak mengerti apa yang ia pikirkan. Bahkan sekarang Nabilah terlihat lebih akrab dengan Hanif dibandingkan dengan aku, Elaine, Andela maupun Kinal yang jelas-jelas adalah sahabatnya.
Hujan tak henti-hentinya turun sejak pagi buta. Membuatku sangat malas melangkahkan kaki ke sekolah. Tapi, kak Melody berkata lain tentunya. Hujan yang masih berlanjut membuatku enggan menggunakan motor, bahkan dengan jas hujan. Walaupun itu berarti aku harus berjalan kaki kesana. Omong-omong, keadaan kak Mel mulai membaik, berkat kak Ve tentunya. Dia sudah beberapa hari ini menginap demi kak Mel. Sungguh teman yang baik.
Sebelum berangkat, aku terlebih dulu harus berkutat dengan barang penuh debu digudang bawah tanah untuk sekedar mencari payung yang entah berada dimana. Itu karena aku maupun kak Mel jarang sekali keluar disaat hari hujan. Ditambah daerah tempat kami tinggal memang jarang diserang oleh ribuan tetes air yang jatuh dari awan. Jadi wajar saja jika aku dan kak Mel lupa menaruh-atau bahkan menggunakan payung itu.
Setelah beberapa menit mencari, tumpukan kardus penuh debu sukses membuatku bersin-bersin (dan bodohnya lagi aku lupa menggunakan masker). Akhirnya ku temukan juga benda itu. Saat kutarik gagang payung itu, beberapa kotak yang bertumpuk disekitarnya goyah dan terjatuh. Tentu saja seluruh ruangan dipenuhi oleh kabut debu dan... Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya kan?
Setelah badai debu itu berlalu (oke, itu berlebihan), aku melihat sebuah kotak aneh dibalik tumpukan barang yang jatuh tadi. Kotak itu berisi sebuah buku. Dibagian depan buku itu terlihat gambar bulan dengan pedang ditengahnya. Ditambah beberapa garis yang membuat motif aneh disisinya.
"Satria! Payungnya ketemu?" teriakan kak Mel mengalihkan perhatianku dari buku itu.
"Iya kak." aku pun langsung beranjak pergi dari gudang.
Kak Mel menyuruhku agar segera berangkat atau aku akan terlambat. Jadi, ku ambil tas (yang entah apa isinya) dan mulai menuju sekolah. Hujan turun semakin deras, membuatku harus menggunakan perlindungan extra, terutama untuk tasku.
Gemericik air bagai musik dipagi itu. Menemani langkah malasku menuju sekolah. Dipersimpangan jalan, aku seperti melihat seseorang yang mengenakan jubah hitam sedang bersandar dibalik tiang listrik. Tapi saat aku menolehkan pandangan kesana, tak ada seorangpun. Ya, mungkin itu hanya perasaanku saja.
"Satria."
APA?! Sejak kapan orang ini ada didepanku?! Rasanya jalanan ini kosong. Dan yang lebih mengherankan lagi, dia tahu namaku?
"Si-siapa kau?"
"Kau akan tahu sendiri nanti. Sekarang dengarkan kata-kataku." kini dia berdiri disamping tubuhku. Postur tubuhnya lebih tinggi sedikit dariku membuat posisi mulutnya berada tepat ditelingaku. Suaranya jelas sekali. Aku bertaruh kalau dia wanita.
"Yang matamu lihat tak selalu jadi hal yang benar, tapi yang hatimu lihat dan yakini adalah kebenaran sesungguhnya." setelah mengatakan itu, dia melangkah pergi.
"Apa maksud-" saat aku berbalik, "..mu?" dia sudah tak ada disana.
Aku kembali melanjutkan perjalananku setelahnya. Sepanjang jalan dan selama disekolah, aku terus memikirkan perkataan wanita itu. Sangat fokusnya hingga aku tak sadar bahwa pak Dony sudah berdiri disampingku.
"Satria! Sedang apa kamu?" ia bertanya dengan kerasnya.
Aku menghela nafas, lalu menatapnya malas. "Berpikir pak," jawabku singkat. Seluruh kelas pun tertawa mendengar perkataanku. Tapi kemudian pak Dony membuat kelas kembali hening.
"Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan?" pak Dony kembali bertanya.
"Sesuatu tentang kehidupan yang sulit dijelaskan," jawabku. Pak Dony hanya bisa menggelengkan kepala mendengarnya dan sekali lagi seluruh kelas tertawa karena ucapanku.
"Setelah sekolah selesa, kamu temui bapak diruang guru," perintah pak Dony.
"Baik, pak."
Pelajaran pun kembali dilanjutkan, tapi tentu saja aku tak memperhatikannya, lagi. Pikiranku menerawang jauh entah kemana. Aku sendiri tak mengerti dengan apa yang terjadi. Hanya merenungkan hal-hal yang telah berlalu. Setidaknya itu yang ku tahu.
Dering bel yang menandakan berakhirnya seluruh pelajaran hari itu pun berbunyi. Murid-murid berlarian di koridor. Sepertinya banyak dari mereka yang ingin segera pulang. Beberapa ada yang mengobrol, membaca buku sambil berjalan, sibuk dengan ponselnya dan masih banyak lagi. Setelah berbagai hal yang membosankan itu berlalu, kini aku menghadap pak Dony yang juga adalah wali kelasku. Sungguh hari yang buruk.
*tok tok tok* aku mengetuk pintu.
"Masuk," jawab seseorang dari dalam. Aku lalu membukanya dan masuk.
"Akhirnya kamu datang juga, Satria," ujar pak Dony yang masih sibuk dengan tumpukan pekerjaannya.
"Ada apa ya pak?" tanyaku penasaran.
"Ada yang ingin bapak tunjukkan padamu."
-To be continue
