Someone From The Past

"Kau tahu orang ini?" Pak Dony menunjukkan sebuah foto padaku.

"Tentu. Dia Steve Aliganz, ilmuwan terkenal," jawabku yakin.

"Kau benar. Dia adalah orang hebat dan juga teman yang baik."

"Teman? Bapak kenal dengannya?" tanyaku heran.

"Begitulah. Sewaktu SMA dulu hanya bapak lah teman yang ia miliki," ujar pak Dony sambil melihat keluar jendela. Langit yang mulai menguning menarik memori tentang temannya, kurasa.

"Kenapa bisa begitu?" rasa penasaranku semakin meningkat.

"Coba kau lihat foto itu," kini pak Dony menunjuk sebuah foto yang terpajang dimeja kerjanya.

Dalam foto itu terlihat pak Dony yang masih muda bersama dengan seorang yang terlihat seperti... Kutu buku, kurasa. Dengan model rambut bob dan kacamata besar yang dikenakan juga wajahnya yang tanpa ekspresi saat diambil gambarnya. Wajar saja kan jika aku mengira seperti itu.

"Apakah dia..."

"Ya, dia Steve. Siapa yang mengira anak paling tidak pandai dan payah itu bisa jadi ilmuwan hebat yang diakui semua orang," pak Dony tersenyum. Sepertinya dia sedang mengingat kenangannya dulu, sementara aku hanya diam mendengarkan. Pak Dony kemudian melanjutkan ceritanya.

"Pernah sekali waktu bapak bertanya padanya. 'kenapa kau tidak berhenti saja?' tapi ia menjawabnya dengan sebuah senyuman. 'aku mungkin bodoh, payah, ceroboh dan lain sebagainya, tapi aku takkan pernah menyerah. Saat kau menyerah pada apa yang kau percaya, maka saat itu kau sama saja dengan mati.'"

"Wajahmu kenapa Satria?" pak Dony tiba-tiba saja bertanya padaku.

"Ah.. Ti-tidak apa-apa kok pak," jawabku cepat.

"Sepertinya kau tidak terlalu mengerti ya? Baiklah, bapak akan bercerita sedikit lebih banyak."

Langit sudah gelap saat aku berjalan pulang. Malam ini begitu gelap. Hanya cahaya lampu jalamam yang menemani langkahku menuju rumah. Sepanjang jalan aku terus melamun. Memikirkan dan menelaah baik-baik cerita pak Dony tadi. Begitu sadar aku berada di pintu masuk taman dekat rumah.

"Hey Sat," tiba-tiba suara yang terdengar tak asing memanggil namaku. Aku melangkah masuk ke taman, menoleh kesana sini mencari si pemilik suara. Langkah kaki seseorang terdengar semakin mendekat. Sepertinya berasal dari sisi taman yang gelap.

"Nabilah?! Apa yang kau lakukan disini?" dia kini berdiri dibawah lampu taman. Jelas sekali kalau itu adalah Nabilah.

"Tak ada, hanya berjalan-jalan saja," ia menggeleng. Suaranya sangat lembut, tidak seperti Nabilah yang biasanya. "Kau sendiri sedang apa disini?" dia berbalik menanyaiku.

"Jangan dengarkan dia, Satria!" teriak seseorang dari arah belakang. Mataku terbelalak saat mendapati siapa orang itu.

"Na-Nabilah?!"

Aku mengembalikan pandanganku ke bawah lampu taman. Seperti yang kuduga, Nabilah masih berdiri disana. Tak bergerak satu langkah pun. Aku memandangi dua tempat berlawanan itu secara bergantian. Memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi.

Nabilah yang pertama ku temui mengenakan baju lengan panjang dengan bawahan rok sebatas lutut yang juga dilengkapi sepasang sepatu. Sedangkan Nabilah yang baru saja datang dengan nafas terengah-engah mengenakan seragam yang sama denganku, hanya saja sudah tidak utuh. Banyak bekas cabikan dimana-mana dan juga tubuhnya penuh luka. Ia nampak habis selesai bertempur.

"Pergi kau dasar peniru!" teriak Nabilah kedua setelah dia mengatur nafasnya.

"Bicara apa kau? Bukankah kau yang menyamar menjadi diriku!" Nabilah pertama tak mau kalah.

Mereka pun terlibat dalam adu mulut, saling menuduh satu sama lain. Aku sendiri hanya terperangah. Mendengarkan ocehan mereka yang tak ada habisnya. Dari saling menuduh, kini mereka silih berganti meyakinkanku bahwa dirinya lah Nabilah yang asli. Alhasil, kepalaku semakin pusing karenanya.

"Maaf jika aku mengganggu perdebatan kalian, tapi waktu kalian sudah habis!"

Di langit malam, sepasukan Demon telah siap menyerbu. Seorang Jendral memimpin mereka. Kedua Nabilah itu pun berlari ke arahku, karena terkejut, kurasa.

"Rasakan ini, Moonlord!"

'Great Fireball'

Sebuah bola api yang amat besar mengarah padaku dan Nabilah yang mendekatiku.

"Pergilah Satria! Ini semua adalah jebakan!"

Aku seperti mendengar suara yang entah dari mana. Tapi instingku mengatakan kalau aku harus menuruti apa yang dikatakannya. Ditengah kebingungan seperti ini, hanya instinglah yang bisa kuandalkan. Aku melompat keluat dari daerah itu. Saat di udara, aku bisa melihat ekspresi kesal tersirat diwajah kedua Nabilah itu. Dan aku juga baru menyadari kalau mereka berdua menggenggam pisau dibalik punggungnya.

BOOOOMMM!

Ledakan timbul akibat bola api itu. Nabilah pun hilang ditelan api.

"Pintar juga kau rupanya, tapi disaat bulan baru seperti ini kau bukanlah tandinganku!" teriaknya. "Aku, Jendral Iblis Vermilion akan menghabisimu dengan tangan ini! Dan juga aku akan membalaskan dendam adikku, Andras!"

Legendary Weapon: Sange

Ia lalu mengeluarkan pedangnya. Tak mau kalah, aku mencoba mengeluarkan pedangku. Namun, berapa kali pun dicoba tetap tidak bisa. Apa yang terjadi? Apakah ketika bulan tidak bersinar seperti malam ini kekuatanku juga tak bisa keluar? Tapi kenapa aku bisa melompat sejauh ini jika memang begitu? Aku masih tidak mengerti dengan kekuatanku sendiri!

Memanfaatkan kelengahanku, Vermilion datang menyerang. Untung aku menyadarinya dan sempat menghindar. Tapi pedangnya berhasil menggores wajahku. Jika keadaannya begini, aku hanya bisa lari dan menghindar. Gawat! Aku harus memikirkan suatu cara untuk melawan balik atau menunggu keajaiban datang. Ya, keajaiban.

"Jangan lari kau dasar pengecut!" Vermilion terus meneriakiku selama pengejarannya. Namun, aku tak menggubrisnya.

Beruntung kekuatan fisikku masih tetap meningkat walau tak bisa balas menyerang. Setidaknya aku bisa menjauhkannya dari perkotaan dan membawanya ke tempat yang tidak banyak terdapat kehidupan. Mencegah lebih baik daripada memperbaiki kan?

Tenagaku mulai menipis, tapi untunglah aku berhasil memancing para Demon ke areal hutan. Aku memang belum bisa bernafas lega, lagipula nafasku saja tersengal-sengal karena harus berlari sambil menghindari serangan yang mereka lancarkan. Pada akhirnya, mereka berhasil membuatku terpojok.

"Kau tak bisa lari lagi pengecut!" Vermilion makin bernafsu memburuku.

Cih. Sial. Andai saja kekuatanku ada, pasti... Aku menggerutu sejadi-jadinya.

Vermilion datang mendekat, tapi aku sudah tak bisa kabur lagi. Hanya menunggu kematian atau keajaiban datang. Ya, keajaiban. Aku menutup mata, pasrah.

"MATIII KAUUU!"

TINNGGG!

Suara benturan itu membuat rasa penasaran menggelitikku. Ku buka mata untuk melihat apa yang terjadi. Sepasang sayap putih bersih terpampang jelas didepan mataku. Dia menahan serangan dari Vermilion dan menjauhkannya dariku.

"Kau tidak apa-apa Sat?" dia bertanya. Suaranya sangat familiar, bahkan rasanya aku mendengarnya baru-baru ini.

"Na-Nabilah? K-kau kah itu?" aku memberanikan diri bertanya, walaupun sedikit tergagap.

"Memang siapa lagi menurutmu? Apakah ada orang lain yang cukup bodoh yang dengan sengaja masuk ke dalam area berbahaya padahal ia sendiri baru saja keluar dari area berbahaya itu demi menyelamatkan temannya?" jelasnya panjang lebar. Lalu ia berbalik badan dan tersenyum ke arahku.

"Ya, tak ada lagi orang sepertimu, Nabilah." aku membalas senyumannya.

Dia mengulurkan tangan dan membantuku berdiri. Kami bersiap melawan walau aku tak menggunakan senjata. Vermilion yang sempat terpental jauh pun sudah berdiri kembali. Dari raut wajahnya, kurasa dia kesal karena serangan mendadak itu. Kini ia bersiap melancarkan serangan berikutnya.

"SIALAN! AKAN KUBALAS KAU!" amarahnya meluap-luap.

"PASUKAN! SERAAANNNGG!"

Sesuai dengan komando Vermilion, pasukan Demon datang menyerbu. Kami tak tinggal diam menghadapinya. Nabilah mengayunkan pedangnya dan mulai menebas Demon yang datang satu per satu. Tak mau kalah dengannya, aku pun menghajar mereka dengan tangan kosong. Bermodalkan teknik bela diri yang ku kuasai, setidaknya aku jadi bisa menghabisi beberapa kutu busuk itu. Tapi pertarungan tak berhenti sampai disana.

Kami berhasil menghabisi separuh dari pasukan yang ada, namun stamina kami sudah tak banyak tersisa. Didepan kami, Vermilion dan pasukan elite-nya masih berdiri tegak dilangit. Aku bingung harus berbuat apa, tapi sepertinya Nabilah tak berpikiran sama sepertiku. Ia berdiri tegak, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.

"Satria," ucapnya tenang. "Berjanjilah untuk terus hidup dan lindungi semuanya," lanjutnya. Kata-kata itu tentu saja membuatku bingung. Sesaat kemudian aku baru tersadar akan niatnya.

"Nabilah.. Apa mungkin kau..." aku tak sanggup mengatakan lanjutannya. Dia hanya membalasku dengan senyuman kecil.

"Hey Demon! Aku akan menghabisimu sekarang juga!" Nabilah berteriak lantang. "Aku bersumpah dengan Crucial Blade-ku ini, aku akan membunuhmu!" lalu menghunuskan pedangnya pada Vermilion, tanda menantang.

"Hahaha. Membunuhku? Menarik juga. Majulah bocah kecil!" balas Vermilion diselingi tawa sombongnya.

Nabilah menggenggam pedangnya erat dengan kedua tangan, kemudian meletakkannya didepan dada. Ia lalu memejamkan , pedang miliknya itu mulai memancarkan aura putih. Ia pun membuka mata setelahnya dan meletakkan pedang disisi kanan bawah, disamping kakinya. Sekarang Nabilah siap untuk menyerang.

Sedikit banyak, aku melirik kearah Vermilion. Nampaknya ia juga sedang bersiap melancarkan serangannya. Pedang ia letakkan dibahu kanannya dengan aura gelap yang menyelimutinya. Walaupun mereka saling mempersiapkan diri, tapi aku melihat keanehan pada Vermilion. Wajahnya saja seperti mengisyaratkan kalau ia yang akan menang. Mungkin dia terlalu percaya diri dengan kekuatannya tapi aku yakin kalau Nabilah pasti akan menang.

Nabilah melesat maju, tak ada sedikitpun keraguan dari dirinya. Sementara Vermilion hanya diam dan menunggu serangan datang.

"Majulah... Serangga!"

Kira-kira beberapa meter sebelum mencapai Vermilion, sesuatu datang dari arah samping Nabilah. Aku bisa merasakannya. Sangat cepat. Sangat kuat. Perhatianku kemudian teralihkan pada sesuatu itu.

"MATI KAUU!"

Demon's Hyper Bash

Ultima Angel: Death Hack

Vermilion dan Nabilah melancarkan serangannya bersamaan.

"Nabilah! Awas disampingmu!" aku berteriak sekeras mungkin, berharap ia mendengarnya. Namun pandangannya tetap fokus pada Vermilion.

"Tidak... TIDAAAKK!" aku menutup mata. Tak sanggup melihat kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

TIIINNGGG!

Tepat sebelum serangan Nabilah dan Vermilion bertemu, serangan kejutan dari samping datang. Akan tetapi, seseorang menghentikan serangan itu. Tameng putih yang berbentuk seperti tameng ksatria zaman dulu menghentikan laju serangan dadakan itu. Pedang yang menghunus tameng itu pun patah menjadi dua.

BOOOMMMM!

Benturan energi antara Nabilah dan Vermilion menimbulkan ledakan yang hebat diangkasa. Setelah ledakan, aura disekitar pedang Vermilion menghilang, tapi Crucial Blade milik Nabilah masih memancarkan sinar terang. Keduanya pun terlibat pertempuran dilangit. Vermilion dibantu sisa pasukannya menyerang Nabilah yang hanya seorang diri. Menyerang, menangkis dan menghindari serangan silih berganti mereka lakukan.

Sementara itu, si pembuat serangan kejutan dan orang misterius yang menangkisnya saling berhadapan. Mereka berdiri dipuncak pohon yang tak berdaun. Jubah yang mereka kenakan membuatku tak bisa mengenali kedua orang itu.

"Siapa kau?" tanya si penyerang.

"Bukankah aku yang seharusnya bertanya begitu? Kalian pada Demon memang licik," balas lawan bicaranya.

"Sebenanrnya apa hubunganmu dengan anak itu?" ia mengarahkan dagunya pada Nabilah yang sedang bertarung.

"Siapa? Angel itu?" menunjuk kebelakang dengan ibu jarinya. Ia tak melepaskan pandangan dari lawan didepannya. "Aku tak punya hubungan apapun dengannya."

"Lalu kenapa kau mengganggu?"

"Aku hanya tak suka kecurangan. Itu saja."

"Cih. Dasar bedebah! Akan ku bunuh kau!"

"Coba saja kalau bisa."

Legendary Weapon: Shadow Blade

penyerang mengeluarkan pedangnya.

Legendary Weapon: Silver Edge

Lawannya juga tak mau kalah, ia pun mengeluarkan pedangnya. Ditambah, ia juga menyimpan tamengnya.

"Kau meremehkanku rupanya!"

"Aku menyimpan tameng ini bukan untuk merendahkanmu, tapi agar pertarungan satu lawan satu kita adil. Lagipula tanpa tameng pun kau takkan bisa melukaiku."

"Sombong sekali kau! Kita buktikan saja!" pengguna Shadow Blade maju.

"Terserah." pengguna Silver Edge pun tak mau kalah.

Slasshhh...

Tebasan mereka berhasil merobek jubah lawannya.

"Tak buruk juga kau, Cleo." ucap si pengguna Silver Edge.

'Apa? Dia tahu namaku?' gumam Cleo.

"Kau... Sebenarnya siapa kau?" Cleo berteriak. Matanya terbelalak saat melihat apa yang keluar dari balik jubah musuhnya. Dua pasang sayang, namun warna dari sayap itu berbeda.

"Sayap itu?! Jangan-jangan..." dada Cleo berdebar tanpa henti. Pikirannya tertuju pada legenda saat perang suci ribuan tahun lalu.

Flashback On

Zaman perang suci ribuan tahun silam, zaman ketika para Angel yang coba mempertahankan Valhalla dari serangan besar-besaran yang dilancarkan Demon. Ada satu kejadian mencengangkan di medan pertempuran. Seorang Angel menyelamatkan Demon dari serangan Angel lainnya. Setelah kejadian itu, sang Angel pun diusir karena dianggap telah berkhianat. Meskipun sudah menolong temannya yang merupakan Demon, ia tak mungkin pergi ke wilayah mereka. Itu sama saja dengan menyerahkan nyawa. Demon yang ditolong pun tak bisa berbuat banyak.

Tak diterima disisi manapun membuat Angel 'pengkhianat' itu pergi ke daerah terpencil. Tempat itu dikenal dengan nama Abandonned Land. Dia terus menyendiri disana. Perang masih berlanjut, pertahanan Angel mulai melemah akibat gempuran Demon yang tiada henti. Jendral kala itu akhirnya mengutus beberapa orang untuk membujuk sang Angel 'pengkhianat' untuk kembali ke Valhalla, tapi ia menolak. Para utusan pun pulang dengan tangan hampa.

Seiring waktu yang terus bergulir, Angel 'pengkhianat' mulai merasa cemas dengan keadaan Valhalla. Bagaimanapun juga, itu adalah tempat kelahirannya. Ia pun memutuskan pergi dan menengok rumahnya. Sungguh ironis, Valhalla sudah porak poranda dihancurkan Demon begitu ia sampai disana.

Saat para Demon sampai digerbang suci, dia sudah disana. Bersiap menghadang dengan seluruh kemampuannya. Demon yang pernah ia selamatkan maju mendekat, mencoba bernegosiasi dengannya. Ia coba membujuk temannya itu agar membiarkan pasukan Demon lewat, tapi sang Angel menolak.

"Kita mungkin sahabat, tapi ini adalah rumahku, tanah kelahiranku. Takkan kubiarkan orang lain menghancurkannya, termasuk sahabatku sendiri!" jawabnya tegas. Raja Demon Lucifer geram dengan perkataan Angel itu. Ia pun turun tangan dan langsung menghadapinya sendiri. Sang Angel mengangkat tamengnya dan bersiap.

Demon's Rage: Dark Destructor

Ia menembakkan bola energi berwarna hitam pekat berhiasi listrik hitam dari tangannya.

Ultima Angel: Immortal Barrier

Sang Angel pun mengeluarkan pertahanan terkuatnya. Teknik itu sanggup menyerap serangan sang raja, bahkan mengembalikannya. Tapi efek lainnya yaitu membuat sang Angel mendapat kekuatan Demon karena energi yang diserapnya. Sebagian tubuh dan sayapnya berubah hitam. Tabrakan energi antara serangan Raja Demon dan serangan yang dikembalikan Angel itu menimbulkan ledakan yang dahsyat. Demon yang tak sanggup menahannya lenyap seketika dan mereka yang berhasil selamat terlempar jauh hingga keluar Valhalla. Jendral Angel dan para pasukan yang tersisa langsung mengejar Raja Demon yang diperkirakan sudah sangat lemah.

Ledakan yang dahsyat itu tidak hanya menyebabkan keuntungan, namun juga kerugian. Salah satu ruangan terdekat dibalik gerbang suci terkena imbasnya. Ruangan itu rusak parah dan Orb suci yang terdapat diruangan itu menggelinding keluar. Angel yang sekarang setengah Demon itu melompat demi menyelamatkan Orb itu. Padahal kekuatannya sudah terkuras habis. Ia berhasil memegang Orb itu, namun ia jatuh ke dalam Ravine of Dimension yang ada dibawah ruangan itu bersama Orb dan reruntuhan Eden. Sejak saat itu ia tak pernah terlihat lagi. Para Angel yang melihat kejadian itu menyebutnya sebagai Fallen Angel.

Flashback Off

"Apa mungkin kau... Fallen Angel?" Cleo bertanya, namun lawannya tak merespon. Ia malah menghadiahkan tebasan pada Cleo. Untung saja Cleo sigap dan sempat menangkisnya. Setelah itu, mereka melompat ke belakang dan bergabung kembali dengan temannya.

"Ayo akhiri ini," ucap Fallen Angel pada Nabilah.

"Baiklah, aku mengerti."

"Ayo pergi dari sini Vermilion. Mereka bukanlah lawan yang sebanding bagimu!" perintah Cleo.

"APA KAU BERCANDA?! Pergi saja jika kau mau! Biar aku sendiri yang menghadapi mereka dan mengakhirinya!" Vermilion menolak keras perintah dari Cleo.

"Cih. Terserah kau saja." Cleo pun pergi dari tempat itu.

Ultima Angel: Death Hack

Nabilah datang menyerang dari depan.

"Kalau cuma itu jangan harap bisa mengalahkanku!"

Special Skill: Copy-cat

Sang Fallen Angel berubah menjadi seperti Nabilah dengan tekniknya. Ia datang dari belakang Vermilion dengan kecepatan tinggi. "APA?!"

Ultima Angel: Death Hack

"TIDAK MUNGKIN!"

Serangan dari dua arah berlawanan itu tak dapat ditangkis ataupun dihindari oleh Vermilion. Ia pun mati. Seperti Andras, jasadnya terbakar dan menyisakan Sange, pedang yang ia gunakan. Pedang itu terjun bebas menuju bumi dan jatuh tepat dihadapanku. Aku lalu mencabut pedang itu dari tanah. Saat aku memegangnya benda itu memancarkan cahaya dan secara mengejutkan, Yasha, pedang yang kudapatkan ketika mengalahkan Andras muncul.

"Jadi kau memiliki pedang pasangannya?" sang Fallen Angel tibatiba saja sudah berada disebelahku.

"I-iya," jawabku sedikit gugup.

"Pergunakanlah dengan baik. Legenda mengatakan kalau kedua pedang itu akan menghasilkan kekuatan menakjubkan jika digunakan bersamaan." dia memberiku penjelasan singkat. Sesaat kemudian, Nabilah datang dengan tenaga yang sudah tak tersisa lagi.

Fallen Angel kemudian mengambil kembali jubah miliknya. "Sebaiknya kalian segera pulang. Aku merasakan firasat buruk," ucapnya. Lalu berlari pergi.

Melihat kondisi Nabilah, aku mengurungkan niatku untuk mengejar Fallen Angel itu dan meninggalkannya sendiri disini. Tapi kepalaku masih dipenuhi pertanyaan tentang dirinya. Setidaknya sebuah nama.

Aku menggendong Nabilah yang sudah tak sadarkan diri. Sepertinya pertarungan tadi benar-benar berat baginya. Setelah yakin dia aman dipunggungku, kami pun meninggalkan tempat itu dan segera menuju rumah. Entah kenapa setelah si Fallen Angel itu mengatakan sesuatu tentang firasat buruk, aku juga ikut merasakannya. Kenapa bisa begitu ya?

Perjalanan panjang menuju rumah usai sudah. Kini kami tengah berada tak jauh dari rumahku. Setelah berlari cukup jauh, aku berharap bisa beristirahat sesampainya dirumah, tapi nyatanya tidak. Samar memang, namun rasanya aku mendengar teriakan seseorang. Sepertinya dari arah rumahku. Oh tidak! Apa mungkin... Perasaanku mendadak jadi buruk. Saat ini pikiranku tertuju pada kak Mel yang masih belum pulih seutuhnya.

"MELODYY!" suara teriakan itu semakin jelas. Tidak salah lagi, ini suara kak Ve. Ku percepat langkah kakiku. Di teras rumah, aku menemukan kak Ve terduduk sambil memangku kak Mel. Dan yang lebih mengejutkan lagi, sebuah anah panah menembus perut kak Mel. "Apa ini?!"

Aku melompat ke atap rumah. Dengan insting dan penglihatan tajam, ku cari siapa yang melakukan ini pada kakak. Sesaat kemudian, aku menemukan apa yang kucari. Demon sedang terbang menjauh dari rumahku dan sepertinya dia sendiri. Baru saja aku bermaksud mengejarnya, dari arah samping Demon itu sebuah anak panah melesat kencang, menembus kepala Demon yang ku incar. Demon itupun terbakar dan menghilang. Siapa itu? Aku bertanya-tanya. Sudahlah. Siapapun itu, dia urusan belakangan. Sekarang keadaan kak Mel jauh lebih penting.

Aku kembali lagi ke teras. Kak Ve menangis diatas tubuh kak Mel. Anak panah yang ku lihat tadi sudah menghilang, tapi ia menimbulkan bekas luka hitam yang aneh. Setelah membaringkan Nabilah dari gendonganku, aku coba menanyai kak Ve.

"Kak Ve! Kak!" ku coba menggoyang-goyangkan tubuhnya. Coba menyadarkannya dari rasa shock yang menyerang. "Kak Ve!" akhirnya setelah beberapa kali mencoba, ia menoleh kearahku juga. Dengan tatapan hampa dan linangan air mata.

"Apa yang sebenarnya terjadi kak?"

-To be continue