Journey
Teriknya sinar matahari siang itu membuat pakaian yang dicuci Melody dan dijemur Veranda cepat sekali kering. Setelah Satria pergi sekolah pagi tadi, kedua gadis itu sibuk mengerjakan pekerjaan rumah. Beruntung hari ini Veranda sedang tidak ada kelas dikampusnya, jadi ia bisa menemani dan membantu Melody yang masih belum pulih sepenuhnya.
Tapi sejak siang, Veranda merasakan gerak-gerik yang aneh dari Melody. Setelah mereka membersihkan gudang tempat Satria mencari payung pagi tadi. Ia bersikap seperti menemukan sesuatu yang harusnya tidak ada. Veranda pun coba menanyainya.
"Mel, kamu kenapa? Kok kelihatan gelisah gitu?"
"Oh, ah, itu... Ti-tidak ada apa-apa kok, hehe," Melody menjawab dengan kikuk.
"Melody," Ve sedikit meninggikan suaranya. Ia memasang pose berkacak pinggang.
"Baiklah, baiklah." Melody lalu membuka laci meja disamping tempat tidurnya. Didalamnya terdapat sebuah buku dengan sampul yang aneh. Di bagian depan buku itu terlihat gambar bulan dengan pedang ditengahnya. Disisinya juga terdapat garis-garis yang membuat bentuk-bentuk aneh.
"Buku apa itu?" tanya Veranda.
"Legenda di Valhalla mengatakan kalau buku ini adalah buku milik Moonlord, sang ksatria bulan. Didalamnya terdapat berbagai teknik hebat yang melebihi kemampuan kami para Angel."
"Coba lihat," Veranda kemudian mengambil buku itu dan membukanya. Tapi ia tak menemukan sepatah kata atau bahkan segores tinta didalamnya. Hanya lembaran kosong yang ia lihat. "Kenapa tak ada apapun dibuku ini?"
"Menurut Legenda, hanya pewaris kekuatan Moonlord-lah yang dapat melihat apa yang tertulis disini," jelas Melody. Veranda mengangguk-angguk sambil terus memandangi lembaran kosong dalam buku itu.
"Jika terjadi sesuatu padaku... Tolong berikan buku dan kunci ini pada Satria ya," pinta Melody tibatiba.
"Hah?! Apa maksud perkataanmu itu?" Mata Veranda terbuka lebar.
"Tidak ada. Hanya saja..." ucapan Melody terhenti. "Pokoknya berikan saja benda ini padanya."
"Baiklah Mel." Veranda tak lagi membantah.
Hari pun beranjak sore. Di ufuk barat, mentari mulai menghilang dari pandangan. Meski hari sudah mulai gelap, namun Satria belum juga pulang. Otomatis Melody jadi mengkhawatirkan adiknya itu. Awalnya ia masih bisa diam di ruang keluarga sambil menonton tv bersama Ve. Akan tetapi, walau malam semakin larut, tak ada satu tanda pun dari Satria. Melody pun memutuskan untuk menunggui adiknya di teras rumah. Veranda yang juga khawatir akan keadaan Satria tak bisa mencegah Melody. Entah kenapa, ia bisa mengerti perasaan sahabatnya itu. Veranda berinisiatif membuatkan segelas minuman hangat untuk Melody. Tapi saat sampai diteras, Melody mendorongnya.
"AWAS VE!" teriaknya. Veranda pun terjatuh bersama gelas yang dibawanya.
Seiring dengan bunyi gelas yang pecah, sebuah anak panah menembus tubuh Melody. Veranda yang melihat itu tepat didepan matanya langsung berteriak histeris.
"MELODYYYY!"
Flashback Off
"Begitulah Sat," Veranda mengakhiri ceritanya.
Setelah membaringkan Melody dikamarnya, Satria dan Veranda pindah ke ruang depan dan mulai membahas apa yang terjadi. Sebenarnya Veranda telah menyarankan untuk membawa Melody ke rumah sakit, tapi Satria menolaknya. Ia menghargai bantuan yang ditawarkan oleh sahabat kakaknya itu, tapi akan berbahaya jika Melody dirawat oleh orang yang tidak mengetahui masalah ini. Kemungkinan terburuk yang terlintas dalam pikiran Satria yaitu Melody menjadi sorotan publik karena "penyakit langka" yang tak bisa disembuhkan. Padahal itu bukanlah sesuatu yang bisa dianalisa oleh manusia biasa. Ketakutan semacam inilah yang meyakinkan Satria agar tetap merawat Melody sendiri.
"Sat, bagaimana keadaan Mel..." Andre tibatiba saja datang. Perkataannya terhenti ketika melihat Veranda. Wajah cantik gadis itu memang bisa membius laki-laki yang melihatnya, misalnya saja Andre.
"Oh, kak Andre. Akhirnya datang juga," sapa Satria. Ia memang sengaja menghubungi Andre untuk melihat keadaan Melody. Bagaimana pun juga, Andre juga seorang Angel. Terlebih lagi, dia adalah teman latihan Melody. Namun pandangan Andre masih terfokus pada gadis manis dihadapannya.
"Kak! Kak Andre!" Satria coba memanggilnya, namun tak ada respon sama sekali. "Nanti kalo kak Mel sembuh, aku aduin deh," gertaknya. Dan itu berhasil.
"Jangan dong, Sat. Aku kan cuma terpesona hehe," pinta Andre memelas. Satria mendengus malas mendengarnya. "Jadi, Melody bagaimana?"
"Hm, ini bukan luka biasa," ujar Andre setelah melihat bekas luka Melody. "Sejauh yang ku tahu, luka semacam ini akan menyerap tenaga korbannya perlahan-lahan," tambahnya.
"Maksudmu?" tanya Veranda.
"Dengan kata lain, jika terus dibiarkan Melody akan mati," jelasnya.
"APA?!" Satria setengah berteriak. "Apakah ada cara untuk mengobatinya?" Satria menggenggam tangan kakaknya yang tak sadarkan diri.
"Entahlah. Akan ku coba cari mengenai hal ini di pusat pengetahuan yang ada di Valhalla," balas Andre.
"Dan saat kau kembali, dia sudah mati." Tanpa ada yang menyadari, seseorang sudah bersandar pada daun pintu yang terbuka.
"Kau! Bukankah kau orang yang tadi menolongku dan Nabilah? Sang Fallen Angel." kata-kata terakhir dari Satria sedikit menarik perhatian Andre.
"Apa katamu? Fallen Angel?" mata Andre lalu menatap tajam sosok misterius itu. "Jadi memang benar kalau kau masih hidup. Itu artinya..."
"Orb of Life aman bersamaku." Perempuan itu melanjutkan kata-kata Andre yang belum rampung.
"Syukurlah kalau begitu."
"Aku bisa menyembuhkannya," Fallen Angel bersuara lagi.
"Ben-"
"Benarkah itu?" Veranda langsung saja menyambar sebelum Satria sempat menyelesaikan kalimatnya. Fallen Angel mengalihkan pandangannya pada Veranda. Ia menatapnya lekat. 'Gadis ini... Apakah dia...' ucapnya dalam hati.
"Ya, tapi tak disini. Kita harus membawanya ke tempat Orb of Life berada."
"Dimana itu?"
"Lost Eden."
"Apa? Lost Eden? Bagaimana cara kita membawa kakak kesana?" Satria angkat bicara.
"Kau tak bisa kesana. Hanya Angel dari Valhalla yang bisa menginjakkan kakinya di Eden," Andre menyambar pertanyaan Satria. "Bukan begitu?" ia kembali menatap Fallen Angel.
"Ya, kau benar. Tak sia-sia rupanya kau menjadi salah satu keturunan penjaga gerbang suci."
"Aku sudah hidup cukup lama untuk mengetahui banyak hal."
"Cukup basa-basinya. Lebih baik kalian segera membawa Melody kesana," Veranda angkat bicara.
"Baiklah. Bawa dia dan ikuti aku," perintah Fallen Angel pada Andre.
"Tunggu sebentar," Satria menghentikan langkah mereka. "Kau sudah banyak membantuku, tapi aku bahkan tak tahu namamu," Satria memperjelas maksudnya.
"Hmm, benar juga. Dahulu aku dikenal dengan nama Holy-Angel Maria, tapi setelah mendapat sayap hitam ini... Aku menggantinya menjadi Desy. Ya, Desy si Fallen Angel," jawabnya. Ia dan Andre kembali melangkah menuju halaman belakang.
Seal Open: Angel's Blood
Veranda yang baru pertama kali melihat hal ini secara langsung, merasa takjub. "Jadi ini Angel yang sebenarnya? Berbeda sekali dengan mimpi yang kulihat," gumamnya membatin. Desy lalu mengangkat kedua tangannya hingga atas kepala.
Dimensional Gate: Skyline
Lubang dimensi muncul beberapa meter diatas kepalanya. Baik Desy maupun Andre saling mengembangkan sayapnya, mereka lalu masuk ke dalam lubang itu dengan Melody dalam pelukan Andre. Selang sesaat setelah mereka masuk, lubang itu menghilang. Menyisakan Satria dan Veranda disana.
'Sepertinya ada yang kulupakan, tapi apa ya?' Satria coba mengingat-ingat sesuatu sambil menuju kamarnya.
Nyamannya tempat tidur sudah dirasakan tapi Satria masih belum bisa mengingatnya juga. Dia lalu memutuskan untuk memikirkannya lagi besok. Sekarang ia ingin beristirahat. Saat Satria membuang muka pada sisi lain ranjangnya, kantuknya pergi seketika.
"Na-Nabilah?!"
Bagaimana ia bisa lupa? Ia baru saja kembali dari pertarungan melawan Jendral Demon Vermilion dihutan bersama Nabilah. Mungkin ia terlalu fokus dengan kondisi sang kakak sehingga melupakan penyelamat jiwanya.
Tak tega membangunkan Nabilah dari tidurnya, Satria pindah ke ruang keluarga untuk beristirahat. Tapi kemudian niatnya untuk memejamkan mata dengan beralaskan sofa terhalang lagi. Veranda sedang duduk disofa ditemani secangkir teh hangat yang ia buat sendiri. Sepertinya Veranda masih shock akibat musibah yang menimpa Melody. Satria coba mengajaknya bicara.
"Kak Ve?" panggilnya pelan. Namun, Ve tetap diam. "Kak.. Kakak..." Satria melambaikan tangan kanannya tepat dihadapan bola mata hitam kecoklatan itu dan dia masih terdiam. Tak habis akal, Satria coba menjentikkan jarinya beberapa kali dan akhirnya ia berhasil.
"Eh, Satria," ucap Ve seolah baru menyadari kehadiran Satria disisinya.
"Kakak kenapa? Kok melamun?" Satria lalu mengambil tempat disofa didepan Veranda.
"Ah, itu karena..."
"Kalau tentang kak Mel, kakak tak perlu merasa bersalah," potong Satria cepat. "Mungkin kak Mel sudah menceritakan semuanya pada kakak, jadi aku harap kakak bisa mengerti. Itu sudah resiko baginya, bagi kami. Apalagi setelah semua ini keadaan mungkin akan jadi lebih buruk," Satria membuang muka diakhir perkataannya.
Mendengar penuturan adik sahabatnya, Veranda mencengkram kuat cangkir berisi teh yang sedang digenggamnya. Ia kesal. Kesal karena semua perkataan Satria adalah benar. Hidup yang dijalani Satria dan Melody memang penuh resiko. Dan yang lebih membuatnya kesal, Veranda tak mampu menolong sahabatnya itu. Tidak! Veranda bukan tidak bisa menolong, hanya saja belum waktunya. Perkataan Rica kala itu terlintas begitu saja dikepalanya. Secercah harapan pun muncul dalam hati Veranda.
"Baiklah Sat, kakak mengerti," ia lalu bangkit dari sofa. "Tidurlah. Kau pasti lelah seharian ini," ucapnya sambil membawa cangkir ditangannya pergi.
"Iya kak."
Satria merebahkan tubuhnya dikumpulan busa itu dan dalam hitungan detik, ia sudah pergi ke alam mimpi.
"Kita sampai," ucap Desy sesaat setelah keluar dari Skyline. Andre mengikuti dibelakangnya dengan nafas tersenggal.
'Lubang macam apa itu tadi? Kekuatanku seperti dikuras habis saat melewatinya,' Andre menggerutu dalam hatinya.
"Ini... Tempat apa?" Andre tak melihat apapun disekelilingnya. Hanya warna putih bersih sejauh mata memandang.
"Ikuti aku dan jangan banyak bicara," perindah Desy. Andre pun dibuat mendengus kesal akibat perkataannya.
'Dia itu kenapa sih? Menyebalkan sekali. Tapi kalau dia memang bisa menyembuhkan Melody, akan kuturuti semua perkataannya.' Andre terus mengoceh dalam hatinya sambil membututi Desy.
"Berhenti." Desy kembali bersuara setelah cukup lama mereka berjalan. Andre melihat tempat yang mirip Oase, tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. "Mulai dari sini biar biar aku yang mengurus dia. Kau tunggu saja disini atau mungkin sebaiknya kau pulang. Tak ada gunanya kau disini," nada bicara Desy terkesan meremehkan. "Dan jangan coba-coba melewati dinding energi ini atau kau akan merasakan akibatnya."
Desy mengambil Melody dari dekapan Andre, lalu berjalan menuju Oase. Andre masih terperangah dengan ucapan Desy yang menggetarkan gendang telinganya. Pendengarannya terasa terganggu seketika itu juga. Tanpa pikir panjang, Andre coba mengejar Desy. Akan tetapi ia terhenti pada langkah pertama. Andre merasa ada yang menarik tubuhnya kebawah, membuatnya jatuh tersungkur.
"Apa ini? Kenapa tubuhku terasa berat sekali?" gumamnya. Sementara Desy tak menghiraukannya meski ia tahu kalau Andre coba mengikutinya. Ia kini fokus pada Melody. Keadaannya makin memburuk.
Desy membaringkan tubuh sang Holy-Angel itu dipinggir danau. Kemudian membilas bekas luka hitam diperutnya dengan air danau itu. Perlahan tapi pasti, bekam hitam itu mulai berhenti menyebar. Namun keseluruhan luka tak lantas menghilang begitu saja. "Hmph, curse yang sangat kuat. Bahkan air yang dialiri kekuatan Orb of Life tak mampu menghilangkannya dalam sekali basuhan. Ini akan memakan waktu lebih lama dari perkiraanku."
Setelahnya, Desy merobek sebagian rok panjang yang dikenakan Melody dan merubahnya menjadi perban untuk menutup luka diperutnya. "Untuk sekarang sudah cukup. Selanjutnya mengurusi si bodoh itu," gumamnya sebal. Desy berjalan kembali menghampiri Andre yang tersungkur.
"Apa yang ku katakan mengenai dinding energi tadi?" Desy memasang ekspresi marah. Andre terkulai lemas, ia tak bisa apa-apa. Bahkan untuk sekedar membalas ucapan Fallen Angel dihadapannya itu. "To-long," pinta Andre lirih.
Desy menghela nafas malas. Ia tak bisa terus memasang tatapan kejam pada pria dihadapannya. Ia pun membantu Andre bangkit dan langsung mendorongnya keluar area dinding. Andre menarik nafas sebanyak yang ia bisa. Dadanya terasa sesak saat didalam sana. Tubuhnya serasa tertekan dari segala arah. Jika saja Desy tak menolongnya, ia pasti mati. "Pulanglah. Kau tak cukup kuat untuk berada disini."
"Tunggu," Andre menghentikan Desy yang baru saja berbalik darinya. Sambil bersujud, Andre memohon pada Desy, "Latihlah.. Latihlah aku supaya menjadi lebih kuat. Aku ingin melindunginya. Aku ingin melindungi Melody, orang yang aku sayangi."
Pintu hati Desy sedikit terketuk oleh kata-kata yang terlontar dari mulut Andre. Meski ia belum bergeming sedikit pun. Andre kembali memohon dengan nada memelas.
'Orang ini.. Dia mampu bertahan cukup lama dalam tekanan dinding. Kurasa dia memiliki potensi menjadi Angel dalam legenda itu,' Desy membatin.
Tanpa berbalik, Desy berkata, "Baiklah, tapi ku peringatkan padamu kalau ini bukanlah latihan yang mudah."
Ekspresi diwajah Andre berubah senang sekaligus antusias. "Baik, aku mengerti," jawabnya cepat.
Belasan hari berlalu sudah setelah Desy si Fallen Angel dan Andre membawa Melody pergi ke Lost Eden. Veranda juga sudah meninggalkan rumah sahabatnya itu sejak beberapa hari yang lalu. Itupun atas permintaan Satria. Ia sudah tak enak hati karena Veranda terus menerus membantu dirinya dan juga kakaknya. Satria mengerti kalau Veranda juga punya kehidupan lain diluar sana. Dan lagi jalan hidup mereka berbeda. Ya, sangat berbeda menurut Satria.
Hari sabtu pun tiba, banyak murid disekolah Satria hari ini sebab Summer Camp akan dimulai. Antusiasme untuk acara ini sangat besar, bahkan ada yang rela mempersiapkan dari jauh-jauh hari. Mulai dari cemilan ala alam liar sampai peralatan berkemah profesional. Kocek yang dikeluarkan pun tidak sedikit.
Beda orang, beda cerita. Tidak seperti teman-temannya, Satria hanya membawa peralatan kemah sederhana milik mendiang ayahnya. Hujan pertanyaan dari temannya pun tak dihiraukan olehnya. Sebelum berangkat ke lokasi kemah, para siswa berkumpul dilapangan sekolah untuk dibagi kelompok dan mendapat sedikit arahan dari wali kelas masing-masing.
Dikelas Satria, Novinta sekalu ketua kelas mendapat mandat dari wali kelasnya untuk membacakan daftar kelompok titipan pak Dony. Ia tidak bisa hadir karena ada keperluan mendadak. Seperti dugaan Satria, ia kembali satu kelompok dengan sahabat-sahabatnya. Hanya saja kali ini Kinal tidak bersama dengan mereka. Karena terlalu bersemangat dalam menyambut Summer Camp, ia tak sengaja mematahkan tulang kakinya saat latihan memanjat pohon beberapa hari yang lalu. Jadilah ia menggerutu habis-habisan dirumah sambil menahan sakit.
Setibanya di lokasi kemah, para siswa berpencar menuju titik kemag dalam peta yang sebelumnya sudah diberikan. Dalam kelompoknya, Satria lagi-lagi menjadi ketua mengingat sisa anggota kelompoknya adalah perempuan. Novinta pun sempat berpesan pada Satria agar tidak macam-macam pada anggota kelompoknya. Dengan kemalasan yang begitu tinggi, lelaki itu berjalan memimpin. Selagi sang ketua sibuk membaca peta, duo Andela dan Elaine asik mengobrol dan bersenda gurau. Sedangkan seorang lagi yakni Nabilah sibuk melihat keindahan alam sekitar.
Selesai berkeliling hutan karena Satria salah membaca peta, mereka akhirnya tiba dilokasi. Tak jauh dari tempat mereka, terdengar suara ketukan antara palu dan pasak. Ya, teman-teman yang sudah lebih dulu sampai sedang membangun tenda mereka. Setiap kelas mempunyai titik api unggun utama untuk berkumpul dimalam hari, jadi jarak antar kelompok tidak terlalu jauh. Secepat mungkin 4 sekawan itu membangun tenda mereka.
Tak terasa hari beranjak sore. Satria dan kawan-kawan tidak menduga jika memasang tenda akan memakan waktu sangat lama. Mungkin karena kurang ahli atau mereka saja yang asal membangun rumah sementara itu. Belum ada ada 15 menit beristirahat, mereka sudah harus pergi ke api unggun utama. Saatnya untuk menyanyikan lagu kemah, bersuka ria bersama dan momen yang paling ditunggu semua siswa, cerita seram alam liar. Novinta mendapat kesempatan untuk bercerita malam itu.
"Dahulu kala, hiduplah sepasang kekasih dipinggir hutan ini. Dwyan dan Shani, itulah nama sepasang kekasih itu. Suatu malam Dwyan terbangun dari tidurnya dan mendapati sang kekasih tak ada disisinya. Dwyan pun coba mencarinya keseluruh rumah, tapi hasilnya nihil. Di pintu depan, ia menyadari bahwa sandal milik kekasihnya tak ada ditempat dan juga pintu yang sedikit terbuka. Dwyan pun berasumsi bahwa Shani sedang keluar, tapi kemana? Didekat rumah mereka hanya ada hutan. Desa terdekat pun jaraknya cukup jauh. Malas berpikir, Dwyan akhirnya memutuskan untuk mencari Shani kedalam hutan ditemani penerangan seadanya. Pria itu terus meneriaki nama kekasihnya. Berkali-kali ia berteriak, berkali-kali pula ia tak mendapat jawaban. Dwyan pun memutuskan untuk kembali, tapi ia sudah masuk terlalu jauh. Bahkan bagi orang yang sudah familiar, kegelapan hutan saat malam membuatnya begitu berbeda. Alhasil, ia pun tersesat dan berjalan tak tentu arah. Saat itulah dia mendengar suara kekasihnya. "Sayang, apa kau dengar? Kalau kau dengar tolong jawab aku," rintih sang wanita. Tanpa pikir panjang, pria itu mencari sumber suara. Bukan sang kekasih yang ia dapati, tapi pria itu terperosok kedalam lubang yang menganga lebar. Ia tak pernah tau jika ada lubang sebesar itu dihutan. Untunglah ia sempat berpegangan pada tanaman merambat yang tumbuh disekitar mulut lubang. Namun dihadapannya berdiri seseorang. Wajahnya mengerikan bagai setan, tubuhnya tinggi kekar dan kulitnya berwarna merah marun. Dengan segenap keberanian yang ada, Dwyan coba bicara, 'Si-siapa kau?' dan betapa terkejutnya ia saat mendengar suara makhluk itu. 'Aku kekasihmu Dwyan,' balas makhluk itu dengan suara yang persis sama dengan Shani, kekasihnya. 'Hahaha! Sekarang kekasihmu akan menjadi milikku,' dengan suara beratnya ia berkata. Kemudian tubuh makhluk itu berubah menyerupai Dwyan. 'Dan kau.. Pergilah ke neraka!' Makhluk itu menendang Dwyan jatuh. Sejak saat itu sang pria tak pernah terlihat lagi dan Shani, kekasihnya, berakhir ditangan makhluk itu. Tamat."
Novinta berhasil membuat sebagian besar temannya, yang kebanyakan wanita, ketakutan. Ia sangat menghayati ceritanya sampai-sampai memasang wajah mengerikan saat bercerita. Dari semua kelompok yang ada, hanya satu kelompok saja yang keseluruhan anggotanya tidak berteriak ketakutan. Ya, kelompok pimpinan Satria. Ia dan Nabilah tak henti-hentinya menguap saat Novinta bercerita karena mereka tahu kalau itu hanyalah tahayul belaka. Dan kalaupun itu nyata, mereka mempunyai kekuatan yang lebih dari cukup untuk melawan balik. Sementara Andela dan Elaine sibuk mengobrol dan tak sedetikpun menyimak cerita Novinta.
Nyala api unggun mulai meredup dan menyisakan bara api yang merah menyala. Suara serangga saling bersahutan diselingi kicauan burung hantu, mewarnai malam diperkemahan. Membuat malam semakin mencekam. Banyak siswa yang meringkuk ketakutan didalam tendanya masing-masing. Andela terbangun ditengah heningnya malam. Dan saat terbangun, ia mendengar sesuatu yang aneh. Seperti suara orang yang minta pertolongan. Elaine yang sedang lelap tertidur pun dibangunkannya. Dengan mata mengantuk, Elaine bertanya, "Ada apa sih, Ndel?"
"Kamu denger suara itu gak? Suara orang minta tolong itu?"
Elaine coba mendengarkan dengan seksama. "Ah, benar juga. Samar-samar sih, tapi aku mendengarnya," tuturnya.
"Kita cek yuk, siapa tau itu salah satu dari temen kita," pinta Andela.
"Tapi kan Nobi melarang kita berkeliaran malam-malam gini, Ndel," Elaine memperingati.
"Tapi kan kasihan mereka kalau memang butuh pertolongan," balas Andela. "Kita cek dulu aja."
Setelah menimbang-nimbang, Elaine menuruti kemauan Andela. Mereka lalu keluar tenda dan mulai memeriksa keadaan sekitar.
Tak lama setelah itu, Satria terbangun karena ingin buang air kecil. Selesai dengan urusannya, Satria berniat tidur kembali tapi kemudian ia mendengar suara teriakan.
"Suara ini... Jangan-jangan..." ia pun bergerak dengan cepat menuju sumber suara.
"Andela! Elaine! Apa yang terjadi?!" Satria sangat terkejut mendapati kedua sahabatnya terperosok ke dalam lubang yang mengaga lebar ditengah hutan. Padahal tadi siang saat mereka berputar-putar disekitar tempat itu, mereka tak melihatnya sama sekali. Ini terlalu mirip dengan tahayul yang diceritakan Novinta tadi. Mereka berpegangan pada tanaman merambat yang tak tahu akan bertahan sampai kapan.
"Satria! Apa yang terjadi?" Nabilah tibatiba saja datang. Sepertinya ia juga terusik dengan suara teriakan Andela dan Elaine.
"Ceritanya nanti saja! Sekarang cepat kamu minta bantuan," perintah Satria.
Nabilah mengangguk mantap. Namun saat ia berbalik, makhluk aneh telah berdiri dihadapannya. Tubuhnya tinggi kekar dengan kulit merah marun. Refleks, Nabilah mundur perlahan hingga tak sengaja tersandung akar pohon dan jatuh kedalam lubang. Detik berikutnya tanaman yang menjadi tumpuan Andela dan Elaine putus bersamaan.
"TIDAAAAAKKK!"
Tanpa pikir panjang, Satria ikut terjun kedalam lubang itu.
Dari kejauhan, seseorang tengah mengamati mereka. "Dengan begini tamat sudah riwayat mereka," Hanif berujar diakhiri tawa jahatnya.
-To be continue
