Unknown World
Nabilah kembali mendapatkan fokusnya setelah terjatuh tadi. Kemudian ia coba meraih tangan Andela yang tak jauh darinya. Begitu juga Satria, ia coba meraih Elaine yang lebih dekat dengannya. Mereka berdua berhasil meraih sasarannya. Dasar dari lubang pun mulai terlihat. Sekumpulan batuan besar siap menyambut kedatangan mereka. Nabilah dan Satria pun bersiap menghadapi batu-batu itu.
Seal Open: Angel's Blood
Nabilah mengeluarkan sayapnya. Ia coba mengontrol aliran udara dan perlahan-lahan menurunkan kecepatannya. Menghindari tabrakan adalah opsi yang dipilihnya.
Legendary Weapon: Sange
Sementara Satria mengeluarkan pedangnya. Karena tidak memiliki sayap seperti Nabilah, menghantam bebatuan adalah cara satu-satunya. Ia coba meredam kerasnya benturan dengan kekuatan serangan. Sebelah tangannya mendekap Elaine erat, jadi Satria hanya bisa menggunakan sebuah pedang. Ia memegang pedang itu terbalik dengan mata pedang menghadap siku lengannya.
'Spinning Bash'
Satria menghantam batu tertinggi dengan sangat keras, namun batu itu sama sekali tak tergores apalagi patah terkena serangan Satria. Ia dan Elaine pun terpental menjauh dari batu sebagai efek serangan berputar juga tubrukan dengan batu itu. Mereka terguling sejauh beberapa meter sebelum akhirnya dihentikan oleh pohon yang berdiri tegak.
"Sat, kamu gapapa?" ujar Nabilah yang langsung datang menghampiri.
"Aku gapap kok Bil. Cuma terbentur sedikit," jawabnya sambil menahan sakit di punggungnya.
"Makasih ya Sat karena sudah menyelamatkanku dan maaf kamu jadi terluka," sesal Elaine.
"Jangan dipikirkan Len, lagipula ini bukan salah kamu kok," lirih Satria.
'Batu macam apa itu? Seranganku sama sekali tidak berdampak padanya,' gumam Satria dalam hatinya.
"Tempat apa ini sebenarnya?" Andela tengah memperhatikan keadaan sekitar. Disekeliling mereka hanya ada pohon-pohon yang tinggi menjulang dengan puncak lancip. Mempunyai cabang tapi tak berdaun. Penerangan pun tak ada, hanya kumpulan batu-batu bersinar yang jadi sumber cahaya.
"Sebaiknya kita mencari seseorang yang masih hidup disini," Satria menyarankan pada teman-temannya.
"Ide bagus," sambar Nabilah.
"Tapi kita harus kemana? Tak ada tanda-tanda kehidupan disekitar sini," masalah pun mencuat dari mulut Elaine. Semuanya terdiam.
"Aku tidak tahu kalian setuju atau tidak, tapi firasatku mengatakan kalau kita harus berjalan kesana," Andela menunjuk pada sebuah celah antar dua pohon. Jika dibandingkan dengan celah lainnya, celah yang ditunjuk Andela lebih lebar dan mirip seperti sebuah jalan setapak kecil.
"Baiklah, aku setuju. Instingku juga mengatakan demikian," Satria bangkit dari duduknya.
"Aku ikut," timpal Elaine.
"Baiklah kalau begitu," Nabilah pun setuju. "Masing-masing dari kalian ambil lah sebuah batu sebagai alat penerangan," tambahnya. Ia lalu mencabut sebuah batu berbentuk lonjong dari tanah. Batu itu nampak seperti obor sekarang. Semua pun melakukan apa yang dicontohkan Nabilah.
Saat Satria akan mencabut sebuah batu didekatnya, ia melihat sesuatu yang membuatnya mendelik keheranan. Bagaimana tidak? Tas selempang abu-abu miliknya ada didekat gundukan batu-batu itu. Seharusnya barang itu tersimpan rapi dalam lemari dikamarnya, tapi kenapa sekarang malah ada ditempat aneh seperti ini?
Satria mengambil dan mengintip isi tas itu. Buku dengan sampul aneh yang pernah ia lihat digudang saat mencari payung tempo hari dan kunci yang selalu disimpan oleh kakaknya, Melody. Kedua barang itu diberikan Veranda padanya tak lama setelah insiden yang menimpa Melody. Walau berpikir sekeras apapun, Satria tetap tidak bisa mengerti bagaimana benda itu bisa ada disini. Begitu tersadar, teman-temannya sudah lebih dulu pergi. Satria pun bergegas mengejar mereka dengan tas yang baru saja ia temukan.
"Menurutmu, kemana arah jalan ini?" tanya Elaine pada Andela.
"Mana kutahu. Ikuti saja dulu, nanti juga kita tahu," balasnya sambil terus memperhatikan sekitar.
Mereka pun berjalan dan terus berjalan. Menanjak dan menurun, serta jalan yang berliku-liku dilewati sudah. Selepas melewati sekumpulan semak-semak, mereka akhirnya keluar dari hutan. Suara derasnya air terjun membuat mereka tersenyum senang, entah kenapa.
Dan yang lebih membuat mereka senang yaitu, kepulan asap dari sebuah cerobong asap. Bagi mereka, itu pertanda adanya manusia didekat sini. Meski sudah lelah berjalan selama berjam-jam, keempat anak muda itu berlari menuju tempat asap itu keluar.
Rumah sederhana berbahan kayu berdiri tegak dihadapan mereka. Tapi anehnya, mereka tak menemukan seorang pun disekitar rumah itu, meski asap terus keluar. Suasana didalam rumah juga nampak gelap.
"Permisi, apa ada orang didalam?" Nabilah coba memanggil pemilik rumah, namun tak ada jawaban. Andela dan Elaine mencoba hal yang sama dan hasil yang sama pula mereka dapatkan.
"Sudahlah pasti ada orang didalam, lihat saja cerobong asapnya," cerobong itu terus mengeluarkan asap pertanda ada nyala api didalam. Jika ada asap pasti ada api dan jika ada api pasti ada seseorang didalam. Tidak mungkin pemilik rumah meninggalkan perapiannya menyala begitu saja tanpa menjaganya.
Satria kemudian berjalan menuju pintu rumah itu dan dengan seenaknya membukanya. Ternyata pintu itu tidak terkunci dan kalau diperhatikan lagi, memang tak ada lubang kunci pada pintu itu. Saat terbuka, hunusan sebilah pedang langsung menyambut leher Satria.
"Siapa kau dan mau apa kau kemari?" tanya sebuah suara dari arah pedang itu. Karena gelap, wajah pemilik suara tak bisa terlihat.
"Satria!" ketiga temannya serempak berteriak.
"Tenanglah dulu, kami hanya orang-orang yang tersesat." Satria mundur perlahan tapi ujung pedang tetap mengikuti. Wajah keduanya kini terkena cahaya obor yang terpasang didekat pintu.
"Kau?!"
Mereka kini duduk dibangku-bangku kayu dekat perapian. Diterangi lampu pijar yang menggantung di langit-langit. Seluruh perabotan dirumah itu terbuat dari kayu. Mulai dari lemari, meja, bangku hingga cangkir minuman yang disuguhkan pada Satria dan teman-temannya. Hanya perapian dan cerobong asap yang terbuat dari batu.
"Kalian... Kenapa kalian bisa ada disini?" sang penghuni rumah akhirnya membunuh kesunyian yang ada.
"Seharusnya kami yang bertanya begitu," sambar Andela.
"Kenapa kau bisa ada disini?" Elaine menimpali.
"Bukankah kau dan keluargamu sudah tewas 2 tahun yang lalu? Kejadian itu bukannya merenggut nyawa kalian, Sandy?" Nabilah melengkapi hujan pertanyaan dan luapan keingintahuan dari kedua temannya yang ditujukan pada Sandy. Sementara Satria hanya diam dan mendengarkan.
"Ya, kau benar. Para pembunuh itu memang merenggut nyawa keluargaku tapi tidak denganku. Aku berhasil selamat berkat kakak ku," tutur Sandy.
"2 tahun lalu, ada segelintir orang yang iri dengan kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki ayahku. Mereka kemudian mengirim sekelompok pembunuh bayaran untuk membunuh kami. Saat itu kami sedang berlibur dipedesaan. Setibanya kami dirumah setelah berjalan-jalan, kami disambut bercak darah dimana-mana. Semua pekerja dirumah itu dibunuh dengan sadis. Ayah menyadari kalau bahaya masih mengintai, jadi ia memerintahkan kami untuk berlindung sementara ia mengambil beberapa senapan miliknya. Firasat ayahku ternyata benar, sebutir peluru langsung menembus bahu kiri ayahku sesaat setelah ia keluar dari ruang persenjataan. Aku, kakak dan ibu tak tinggal diam, bermodalkan meja keramik sebagai tameng, kami menghampiri ayah. Masing-masing dari kami lalu mengambil sebuah senjata dari tas ayah dan menembaki para pembunuh itu. Untung saja kami sekeluarga sering ikut ayah latihan di lapangan tembak, jadi kemampuan menembak kami tak terlalu buruk. Baku tembak pun terjadi. Kami berhasil menembak mati 2 orang dari mereka tapi sebagai gantinya amunisi kami sedikit tersisa. Dalam keadaan genting itu, ayah menyuruh aku dan kakak pergi meminta bantuan. Dan bodohnya aku menurut begitu saja. Sebuah granat jatuh disamping orang tuaku hanya beberapa detik setelah kepergianku. Kakak menarik paksa aku menjauh sebelum granat itu meledak. Begitulah aku kehilangan mereka, hanya dalam sekejap mata orang tuaku pergi selamanya." mata Sandy memerah mengingat kejadian pahit itu.
"Maaf ya San, kami tak bermaksud..."
"Tak apa Nab. Itu sudah lama berlalu," potong Sandy.
"Tapi kami masih belum mengerti bagaimana caranya kau bisa sampai kemari," Satria mengalihkan kembali pembicaraan pada intinya.
"Sat! Kamu apa-apaan sih? Gak punya perasaan banget!" Nabilah sedikit kesal dengan ucapan Satria.
"Tak apa Nab. Penjelasanku barusan memang tidak menjawab pertanyaan kalian di awal tadi," Sandy coba menenangkan suasana.
"Setelah melihat kematian orang tuaku, kakak dan aku kabur dengan mobil di garasi. Untung saja kakak mengantongi kunci mobil miliknya itu. Kami pun bergegas. Awalnya aku mengira kalau kami sudah aman, tapi nyatanya mereka mengejar. Kakak coba mengemudi sambil menghindari tembakan yang dilepaskan para pembunuh itu. Namun keberuntungan kami berakhir disebuah tikungan jalan. Sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan membuat kakak terkejut hingga membanting kemudinya. Mobil kami terperosok ke tebing curam menuju hutan. Saat aku tersadar hari sudah gelap. Kakak tengah menggendongku, padahal tubuhnya penuh luka. Ia terus berjalan hingga kelelahan dan tak sanggup berdiri lagi. Aku berniat menolong kakak kala itu, tapi lagi-lagi dewi fortuna tidak berpihak pada kami. Kakak menyuruhku lari sementara dia coba menghambat orang yang mengejar kami dengan sebuah pistol ditangannya. Dia tetap meski memaksku meski aku bersikeras menolaknya. Kakak mengatakan kalau aku harus tetap hidup karena suatu saat nanti aku akan menjadi harapan bagi banyak orang. Aku tak mengerti maksud dari ucapannya saat itu tapi aku menuruti permintaan terakhirnya. Dengan kekuatan yang tersisa, aku berlari tak tentu arah ke dalam hutan. Akan tetapi, para pembunuh itu berhasil menyusulku. Entha beruntung atau tidak, saat mereka menembak, kakiku tersandung akar pohon. Peluru mereka pun meleset tapi gantinya aku jatuh ke dalam lubang aneh itu. Dan saat tersadar aku sudah berada disini dengan perban disekujur tubuhku."
"Jadi maksudmu, rumah ini bukan milikmu?" tanya Satria yang menyadari keganjilan diakhir cerita Sandy.
"Tentu saja karena rumah ini adalah milikku." suara itu datang dari arah pintu masuk. Seorang lelaki muda dan gadis yang sedang memegang keranjang berdiri disana.
"Master! Selamat datang!" Sandy langsung berlutut begitu melihat kedua orang itu. "Maaf atas kelancanganku ini," sesalnya sambil menunduk.
"Sudahlah Sandy, tidak apa. Tapi bisakah kau memberi tahuku siapa mereka ini?" suara pria itu terdengar ramah.
"Mereka adalah teman-temanku dari bumi. Mereka jatuh dilubang itu," jelas Sandy.
"Begitu rupanya. Jadi ada manusia yang jatuh ke lubang itu lagi," dia berkata sambil menatap Satria dan kawan-kawannya. Namun pandangannya terhenti pada seberkas cahaya dalam tas Satria.
"Apa itu di tasmu?" tanyanya.
"Oh ini," Satria lalu mengambil barang yang dimaksud. "Ini batu aneh yang mengeluarkan cahaya. Kami mengambilnya disekitar tempat kami jatuh sebagai alat penerangan," jawabnya enteng. Tapi reaksi yang ditunjukkan kedua orang yang baru saja datang itu sangat tak terduga.
Mata keduanya membuka lebar ketika melihat benda itu. Ekspresi orang yang dipanggil 'Master' oleh Sandy berubah serius dalam satu tarikan nafas. "Katakan padaku, siapa kalian sebenarnya?" ia berkata dengan nada datar.
"Apa maksudmu? Bukankah Sandy sudah mengatakannya padamu?" Satria membalikkan pertanyaan pria itu. Andela dan Elaine langsung menyingkir menuju punggung Satria, sementara Nabilah berdiri sejajar dengannya.
"Biar kuperjelas lagi. Apa kalian manusia?" sekarang giliran mata Nabilah dan kawanannya lah yang terbuka lebar.
"Te-tentu saja kami manusia," jawab Nabilah terbata-bata.
"Aku tidak yakin kalau kalian adalah manusia biasa," balas pria itu cepat.
"Bagaimana kau bisa tidak yakin dengan hal itu?" Satria yang tidak mengerti maksud dari ucapan pria itu coba menggali informasi lebih. Walaupun perkataan pria itu memang benar.
"Batu yang kau pegang itu bernama Brightstone. Itu adalah batu yang hanya akan bersinar jika dipegang oleh makhluk yang memiliki kekuatan yang disebut Magical Power. Tidak banyak yang bisa memegangnya terlalu lama karena batu itu menyerap energi Magical Power siapapun yang menyentuhnya. Kalau benar yang kau katakan, pasti Magical Power yang kalian miliki sangatlah besar sampai bisa membawa benda itu kemari tanpa kelelahan. Itulah sebabnya aku bertanya demikian," jelas pria itu.
"Ayana, coba kau ukur kekuatan mereka," perintah sang pria pada wanita disebelahnya. Wanita itu memejamkan matanya dan beberapa detik kemudian membukanya lagi.
"Kekuatan masing-masing dari mereka memang besar, sepertinya mereka semua sudah terbiasa menggunakan kekuatannya kecuali gadis itu," ia menunjuk pada Elaine.
"Jadi apa kalian akan menjawab pertanyaanku tadi?" sang master kembali menyinggung hal itu.
"Baiklah, tapi sebelum itu," Satria mengendurkan kewaspadaannya. "Bisa kau beritahu kepada kami tempat apa ini? Dan juga identitasmu tentunya." Bola mata kedua lelaki itu saling menatap tajam lawan bicaranya.
"Namaku Dipo dan wanita ini adalah istriku, Ayana. Kalian sekarang berada dirumahku, di Betwixt Valley. Apa itu cukup jelas untukmu?"
"Betwixt Valley?" Satria mengulang perkataan Dipo dengan nada bingung.
"Ya. Ini dimensi yang agak berbeda dengan dunia asal kalian," pungkas Dipo. "Sekarang giliranku, siapa kalian sebenarnya?" ia balik bertanya.
"Aku Nabilah, Angel dari Valhalla," Nabilah menjadi yang pertama mengatakan identitasnya.
"Valhalla ya? Kalau tak salah tempat itu terhubung dengan Edge of World, apa aku benar?" penuturan Dipo tentu saja membuat Nabilah juga Satria tercengang.
"Ka-kau tahu Edge of World?" Nabilah coba mengorek informasi lebih dalam.
"Jadi benar ya? Aku tahu, tapi tempat itu cukup sulit dijangkau," jawabnya. "Jauh ditenggara dari sini ada sebuah jalan bernama Road of No Return dan sesuai namanya, tak ada jalan kembali setelah kau masuk ke sana. Kudengar diujung jalan itu ada sesuatu yang disebut Smoke Belt dan itu terhubung dengan Edge of World."
Penjelasan Dipo membuat Satria senang, tapi tidak dengan Nabilah. "Bil, kita bisa pulang. Kita bisa kembali lewat sana kan?" ujar Satria antusias. Namun Nabilah tidak menunjukkan ekspresi yang sama.
"Kita memang bisa, tapi bagaimana dengan mereka?" ekor mata Nabilah menunjuk Andela dan Elaine. "Kau tahu kan kalau Smoke Belt hanya bisa dilewati keturunan Valhalla? Apa kau mau meninggalkan mereka disini?" matanya kembali menatap Satria.
Checkmate. Satria lupa akan hal itu. Dia melupakan kedua temannya yang lain. Ekspresi senangnya seketika berubah putus asa.
"Red-Hood Grandma ingin bicara dengan kalian semua," wanita disamping Dipo tiba-tiba saja berujar.
"Dia menghubungimu ya? Baiklah," ucap Dipo. "Kalian semua sekarang tolong ikut aku," dia pun langsung keluar rumah.
"Hah? Red-Hood Grandma? Siapa dia?" mereka berempat kebingungan.
"Sudahlah ikut saja. Nanti kalian juga akan tahu," Sandy coba meyakinkan teman-teman lamanya itu.
-To be continue
