Destiny of Four Guardians
Di luar rumah, Ayana tengah mengatur nafasnya. Dipo dan Sandy hanya diam dan memperhatikan dibelakangnya, begitu juga Satria, Nabilah, Andela dan Elaine. Sesaat kemudian, Ayana menarik nafas panjang kemudian membuka matanya. Cahaya putih keluar dari matanya dan bersamaan dengan itu, semua orang yang ada disana mulai melayang.
"Ke-kenapa ini? Apa yang terjadi?" Satria sedikit panik karena hal itu.
"Ini adalah kekuatan Master Ayana. Dia seorang Elf," Sandy sedikit memberi penjelasan, tapi itu tak cukup untuk menghilangkan kebingungan Satria.
Mereka terbang perlahan melintasi lembah, bukit terjal dan hutan. Terus seperti itu sampai akhirnya pohon-pohon tinggi menjulang digantikan permukaan air danau nan tenang. Ditengah danau, ada sebuah pondok kecil. Mereka berhenti dan menjejakkan kaki didepan pondok itu.
Tak seperti penampakkan luarnya, pondok yang terlihat sempit itu memiliki ruangan luas didalam. Setelah semuanya masuk, lantai berbentuk lingkaran itu mulai merangkak naik. Satria refleks melihat ke atas mengingat pondok yang ia dan teman-temannya masuki itu sangatlah kecil. Tapi kedua bola matanya tak melihat atap atau semacamnya, hanya setitik cahaya jauh diatas sana. Titik itu semakin lama semakin membesar. Tidak terasa mereka pun menembus sebuah dinding kabut. Tak lama setelahnya Ayana berkedip, lantai pun berhenti. Mereka sampai disebuah altar.
Satria lagi-lagi menahan mulutnya untuk tidak bertanya dan membiarkan waktu menjawab keingintahuannya atas segala kejadian disini seperti ketiga temannya yang lain. Mereka lalu berjalan sebentar dan sampai dirumah sederhana yang terbuat dari kayu. Sedikit mitip dengan rumah milik Dipo, hanya ukuran rumah ini lebih besar.
"Hey, tempat ini?" bisik Nabilah pada Sandy.
"Tidak tahu. Aku juga baru pertama kali kesini," Sandy balas berbisik.
"Baiklah, aku mengerti," Ayana terlihat berbicara sendiri.
"Semuanya ayo masuk, Red-Hood Grandma sudah menunggu kedatangan kita," perintah Ayana pada semuanya. Ayana lebih dulu melangkah masuk diikuti Dipo, Sandy, Satria, Nabilah, Andela dan terakhir Elaine.
Didalam di dalam hanya ada seseorang mengenakan jubah bertudung warna merah. Ia duduk di kursi goyang dekat perapian. Dekorasi ruangan itu tak berbeda jauh dengan rumah Dipo. Tak ada orang lain selain dia. Ayana lalu menghampiri orang itu.
"Selamat datang, Moonlord. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kau kemari," ucap orang itu dengan suara khas orang tua. Dipo seketika mengarahkan pandangannya pada Satria.
"Kau.. Kau titisan Moonlord?" tanya Dipo. Satria mengangguk bingung. 'Bagaimana dia bisa tahu?' batin Satria.
"Tentu saja aku tahu. Dirimu dimasa lalu pernah mendatangiku. Itu membuatku sangat mengenali Magical Power ini," sambar sang nenek.
"Dan kalian berempat pastilah Four Guardians," ia beranjak dari kursi goyangnya menuju kursi kosong ditengah ruangan.
"Four Guardians? Apa maksudnya itu?" suara Nabilah akhirnya keluar juga.
"Four Guardians adalah ksatria yang membantu Moonlord saat perang dahulu kala. Singkat cerita, mereka adalah teman dari Moonlord yang memiliki kekuatan hebat," jelas Grandma singkat.
"Kemarikan tangan kalian satu per satu, aku akan membaca aura dari Magical Power kalian," perintah sang nenek. Mereka terdiam, diselimuti kebingungan yang mendalam.
"Ikuti saja apa yang dikatakannya dan jangan takut," Ayana angkat bicara, coba membujuk Nabilah, Andela, Elaine juga Sandy.
Nabilah memberanikan diri menjadi yang pertama seperti kelinci percobaan. Ya, kelinci pertama. Ia mengulurkan tangannya. Red-Hood Grandma menyambut hangat uluran tangan itu. Ia pun mulai meraba tangan mungil itu.
"Aura yang sangat kuat. Tidak nampak ada ketakutan berarti dalam dirimu. Sepertinya Valhalla mengajarkan banyak hal padamu, tapi tidak satu hal," penjelasan Grandma agak membingungkan diakhir. "Apa kau ingat kapan terakhir kali kau marah dan apa yang terjadi setelahnya?"
DEG! Detak jantung Nabilah meningkat drastis. Kilasan masa lalunya datang dan pergi begitu cepat. Ia hanya ingat dirinya yang menangis dan sekitarnya porak-poranda. Nafas Nabilah yang semula tenang kini berubah memburu, seperti habis melihat mimpi buruk. Teman yang lain merasa cemas melihatnya.
"Tak apa. Kau tak perlu mengingat atau membicarakannya jika tak ingin. Kurasa sudah cukup." Ayana lalu menuntun tubuh Nabilah yang bergetar hebat. Menggigil layaknya orang kedingingan. Detak jantungnya masih belum kembali normal begitu pula tarikan nafasnya. Kemudian Ayana memunculkan selimut dan menyelimuti Nabilah. Ia juga menyuruh Nabilah duduk bersender disisi ruangan untuk menenangkan diri.
"Siapa selanjutnya?" pertanyaan Grandma mengalihkan pandangan semuanya dari Nabilah. Sandy coba beranikan diri maju dan menjadi yang kedua.
"Hmm, kegelapan yang sangat pekat. Cahaya hangat dari masa lalu sirna begitu mereka yang kau sayangi mati dihadapanmu. Yang tersisa dari kejadian kelam itu hanya api kecil yang menunggu untuk padam. Kau masih bisa menyalakannya meski didalam kegelapan ini dan kau akan menemukan tujuan hidupmu kembali." Sandy terlihat mengepalkan tangannya yang bebas. Ia geram. Bukan pada Grandma, tapi pada dirinya sendiri. Masih terbesit sedikit penyesalan dalam dirinya karena tak mampu menolong siapapun saat itu.
Sandy berlalu, menyisakan duo Andela-Elaine. Tak satu pun dari mereka yang mau bergerak dari tempatnya. Dilihat dari gelagat tubuh dan gimik wajah, Elaine terlihat jauh lebih siap dari Andela. Menyadari hal itu, Elaine memberanikan dirinya menghampiri Red-Hood Grandma.
"Hohoho, aura dingin yang menyejukkan. Kekuatan yang tak pernah ku rasakan. Tapi sepertinya kau belum bisa mengendalikannya, apa aku benar?" Elaine mengangguk pelan. "Potensi dalam dirimu sangatlah besar. Bukan tidak mungkin jika kekuatanmu ini bisa menyaingi atau bahkan melebihi anak lelaki dengan tas yang menggantung ditubuhnya itu. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah belajar dari ahlinya dan kau akan lebih hebat dari siapapun juga."
Elaine berlalu dengan wajah polos. Ia sedikit tidak mengerti dengan perkataan Grandma baru saja. Kini tiba giliran Andela. Ia berjalan perlahan. Tubuhnya gemetar seperti takut sesuatu akan terbongkar. Lima detik pertama tangan Andela ia raba, tapi Grandma belum mengeluarkan sepatah kata pun.
'Anak ini... Dia mempunyai sesuatu yang bisa membuatnya jadi sekuat ini. Dan sesuatu itu...' batin Grandma.
"Tenanglah. Aku tidak akan mengatakannya," Andela seperti mendengar Grandma berbisik langsung padanya. Dia juga melihat senyum tipis dari nenek tua renta dihadapannya. Gemetar pada tubuhnya seketika itu juga berhenti. Ia lalu menghembuskan nafas lega.
"Kau kuat, sangat kuat. Kemampuanmu sudah tak diragukan lagi. Diantara teman-temanmu, mungkin dirimu lah yang paling siap menghadapi perang yang akan datang. Tapi apakah kau akan tetap sekuat ini jika alasanmu untuk bertarung lenyap?" Andela tertunduk, berpikir. "Kau harus mempersiapkan dirimu untuk kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, maka kau akan menjadi yang terkuat," Grandma mengakhiri perkataannya. Selesai sudah dengan mereka berempat, Satria lalu bersuara setelah Andela menyingkir dari hadapan Red-Hood Grandma.
"Bisakah kau membaca aura milikku juga, Grandma?"
"Aura milikmu tetap sama seperti yang dulu. Jadi, aku tak bisa mengatakan apapu. Kau akan menemukan jawabannya sendiri nanti, persis seperti pendahulumu," jawab Grandma.
"Dipo, Ayana," panggil Grandma. Kedua pemilik nama pun langsung menghadap Grandma dengan posisi setengah membungkuk. "Bantulah dia, kurasa kau tahu apa yang harus dilakukan," lanjutnya.
"Baik, kami mengerti," jawab mereka serempak.
"Dengar, perang yang sebentar lagi akan terjadi bukanlah sekedar perang antara Demon dan Angel. Jika Raja Demon Lucifer berhasil mendapatkan kekuatan yang diincarnya dari Angel, seluruh dunia akan jatuh dalam kehancuran, termasuk dunia manusia yang kalian tinggali. Demon mungkin sudah menaklukan berbagai ras dan makhluk untuk dijadikan prajurit perang, jadi bisa dipastikan kekuatan tempur mereka sudah semakin meningkat. Kalian yang sekarang bukanlah tandingan mereka. Kalian yang sekarang hanyalah serangga kecil yang bisa dengan mudah dihancurkan. Tapi dari aura kalian, aku bisa menyarankan tempat kalian berlatih dan mempersiapkan diri untuk perang ini, hanya jika kalian siap. Apa kalian siap untuk ini?" tanya Grandma diakhir penjelasannya.
Nabilah yang sejak tadi meringkuk, kini kembali bangkit dan berdiri. "Aku siap!" jawabnya lantang. "Demi mempertahankan tanah kelahiranku Valhalla dan tempat tinggalku Bumi, aku siap melakukan apapun!"
Sekilas, Sandy teringat kata-kata terakhir sang kakaknya yang mengatakan kalau dia akan menjadi harapan banyak orang suatu saat nanti. Sandy merasa inilah saatnya. Ia mengepalkan kedua tangannya dan memantapkan hatinya. "Aku siap! Demi mereka yang telah rela mati untukku dan juga demi menepati janji pada kakak ku, aku siap!"
Elaine menyenggol lengan Andela. Ia pun menoleh dengan tatapan takut. Elaine coba meyakinkan Andela lewat tatapan matanya yang seolah berkata, "Kita pasti bisa melakukannya." Mengerti pesan tersirat dari tatapan Elaine, Andela mengangguk mantap dan menyambut tangan sahabatnya itu. Mereka bergandengan erat dan berteriak, "Kami siap!"
"Baiklah kalau begitu. Ayana, tolong ya," pinta Grandma.
"Aku mengerti." Bola mata Ayana kembali bercahaya. Lantai persegi yang mereka pijak mulai bergerak turun selama beberapa saat kemudian berhenti. Smoke Belt terpampang disetiap sisi ruangan itu dengan sebuah huruf diatasnya.
"Nabilah. Kau pergilah ke Utara. Temui Skyman dan penguasa Sanctumn City. Belajarlah mengendalikan kekuatan amarahmu disana."
"Sandy. Kau ke Selatan menuju Shaded Woods hingga Shadow Forest. Carilah para Assasins dan menyatulah dengan mereka. Kau bisa belajar banyak dari Assasins."
"Andela. Kau menuju Asylumn Island di Barat. Amati dan pelajari semua kemampuan dari seorang Beastmaster disana. Aku jamin kemampuanmu akan meningkat tajam setelahnya."
"Dan yang terakhir, Elaine. Eloyce, negeri beku nan jauh di Timur telah menantimu. Disana kau akan bertemu seseorang yang sangat kau kenal. Dia akan mengajarimu segalanya."
"Kalau kalian sudah mengerti silahkan bersiap didepan Smoke Belt dengan simbol mata angin yang sama dengan tujuan kalian." Jelas Grandma panjang lebar.
Satu per satu mereka mulai bersiap pada keempat sisi ruangan. Nabilah dengan simbol N, Sandy dengan simbol S, Andela dengan simbol W dan Elaine dengan simbol E. Red-Hood Grandma kemudian menjentikkan jarinya. Sebuah jam tangan merah bercampur hitam melingkar di pergelangan tangan kiri mereka masing-masing.
"Jam itu adalah batas waktu yang kuberikan mengingat waktu kalian tidak banyak. Dan juga untuk meyakinkan orang yang kalian temui kalau kalian datang atas suruhanku. Beberapa orang sangat tidak bisa percaya pada pendatang," tambah Grandma. Melihat jam tangan yang dikenakan teman-temannya, Satria teringat akan sesuatu.
'Ah iya, dimana aku menaruh jam tangan yang mengandung serpihan jiwa Yupi ya? Juga kalung pedang miliknya?' batin Satria bersuara sambil memandangi lengannya yang kosong. 'Aku harus mengingat dan menemukannya. Firasatku mengatakan kalau kedua benda itu akan sangat kubutuhkan di medan pertempuran.' Ia lalu mengepalkan tangannya. 'Yupi, tunggulah. Aku pasti akan menyelamatkanmu dari Iblis itu. Pasti.'
"Waktu kalian 6 bulan dari sekarang. Saat waktu kalian habis, jam itu akan bertransformasi menjadi portal dimensi yang akan membawa kalian kembali. Namun, kalian tidak harus kembali saat waktu kalian habis jika merasa masih perlu berlatih lagi. Tapi sebagai ganti atau konsekuensinya, kalian harus menemukan jalan untuk kembali dengan cara kalian sendiri. Paham?" Semua menggangguk.
"Sekali kalian melewati Smoke Belt, kalian tidak bisa kembali melalui jalan kalian datang. Semoga berhasil."
Serempak mereka melangkah masuk ke dalam Smoke Belt di hadapannya. Petualangan baru pun dimulai!
-To be continue
