Training of The Guardian
Di ujung Smoke Belt yang kumasuki adalah angkasa luas membentang. Aku sedikit terkejut karenanya. Beruntung, otak ku bisa bekerja dengan baik dan tenang untuk mengingat kalau dipunggungku ini ada sepasang sayap.
Seal Open: Angel's Blood
Gerakanku pun terhenti, melayang dilangit. Sejenak, aku diam dan mengamati sekitar. Tak ada apapun sejauh mata memandang. Karena menunggu pun tak ada gunanya, aku berinisiatif untuk mencari tahu daerah ini. Setidaknya menemukan seseorang yang bisa ku tanyai. Arah lurus ku pilih untuk melanjutkan perjalanan ini.
Belum ada 5 menit aku beranjak dari tempat tadi, sebuah titik hitam muncul dikejauhan. Titik itu membesar di tiap detik yang berlalu hingga terlihat jelas apa itu sebenarnya. Sekelompok makhluk bersayap datang dan mengerubungiku. Tombak dalam genggaman mereka sedikit membuatku bersiaga.
"Siapa kau? Mau apa kau disini?" tanya salah seorang dari mereka."Aku Nabilah. Aku ingin mencari Skyman," jawabku.
"Kau sedang melihatnya sekarang, disekelilingmu. Siapa yang menyuruhmu?" salah satu dari mereka kembali bertanya.
Jadi mereka ini Skyman? Fisik yang tak biasa. Tubuh bagian atas seperti manusia, bentuk kaki seperti Cheetah atau Macan, tapi memiliki cakar seperti Elang. Kombinasi yang unik. Aku meneliti mereka dari ujung kepala hingga ujung... Cakar(?)
"Red-Hood Grandma yang menyuruhku datang kesini," ucapku tenang."Hahaha, kau pikir kami akan percaya begitu saja?" tawa mereka seketika terhenti begitu aku menunjukkan jam pemberian Grandma.
"Energi ini... Sekarang tolong ikut kami." sikap mereka berubah sopan. Begitu kuatkah pengaruh Red-Hood Grandma disini? Aku bertanya-tanya akan hal itu. Para Skyman kemudian terbang kembali ke arah mereka datang. Aku mengekor dibelakangnya.
Tak berselang lama, sesuatu mulai terlihat. Daratan di atas langit. Luasnya seperti sebuah pulau, bahkan bisa dibilang kalau ini adalah pulau melayang. Banyak makhluk bersayap terbang disekitarnya. Kami akhirnya berhenti dan menginjakkan kaki didepan pintu gerbang yang amat besar.
"Selamat datang di kota langit, Sanctum City."
Atas komando salah satu Skyman yang bersamaku pada penjaga, gerbang pun dibuka. Aku dan seorang Skyman masuk ke dalam, sementara Skyman lainnya terbang dan berpatroli lagi. Di balik gerbang kehidupan nampak seperti di bumi. Kegiatan berniaga, lalu lalang khalayak ramai (tanpa kendaraan), sekelompok anak kecil yang asik bermain. Semua tampak biasa saja. Yang membedakan hanyalah, kota ini dihuni oleh berbagai ras. Kebanyakan dari mereka justru tidak bersayap. Padahal jika ingin masuk kota harus melewati gerbang tadi. Aku jadi bingung sendiri memikirkannya. Setelah melintasi kota, kami tiba disebuah bangunan megah. Tebakanku, ini adalah istana raja atau tempat tinggal penguasa kota ini.
"Tunggulah disini," ucap Skyman yang menemaniku sedaritadi. Ia lalu masuk ke dalam. Dari belakang, aku merasa sedang diawasi. Bahkan sejak melintas dikota.
"Lihat. Ada pendatang baru," ucap seseorang. Aku menoleh karena merasa terpanggil, atau lebih tepatnya tersindir. Dihadapanku berdiri.. Banteng? Tapi ia berdiri dengan dua kaki seperti manusia. Disebelahnya juga ada dua ekor buaya yang berdiri hanya dengan dua kaki, sedang kaki sisanya berfungsi sebagai tangan. Orang-orang yang melihat mereka langsung menyingkir dan menjauh pergi.
"Sepasang sayap tapi bertubuh manusia. Aku belum pernah melihat makhluk sepertimu sebelumnya. Katakan, apa ras-mu?" tanya banteng itu padaku. Dia bisa bicara juga rupanya.
"Bukankah lebih baik memperkenalkan diri sendiri dulu sebelum meminta orang lain memperkenalkan dirinya?" jawabku sinis. Aku tak begitu suka cara bicaranya. Ia terlihat sedikit kesal karenanya.
"Namaku Drag dari ras Taurus, dan mereka adalah Croco dan Dile dari ras Alligator. Kami adalah kelompok terkuat dikota ini," ucap banteng itu begitu sombong.
"Terkuat? Jangan membual dihadapanku," responku dingin. Mereka pun tertawa mendengar perkataan gadis mungil ini. Ya, dibanding Drag, tubuhku memang hanya sepertiganya.
"Kita buktikan saja kalau begitu," tantang Drag setelah tawanya berakhir.
"Majulah," aku tetap sinis menanggapinya.
Dengan penuh kekesalan, kurasa, Drag maju dan mengarahkan tinju dari tangan besarnya lurus kearahku. Aku melompat mundur untuk menghindar. Dari arah atas Croco, melancarkan tendangan. Ku silangkan kedua tangan dan bersiap menahan tapi.. BUKK! Dile datang dari bawah dan memukul keras perutku terlebih dahulu.
Akibatnya, pertahananku melemah dan tendangan Croco pun mendarat tepat diwajahku. Tubuh ini terhempas cukup keras. Salah satu pilar yang menopang bagian depan bangunan megah itu pun retak setelah ku tabrak. Ku seka bibir ini dan mendapati setitik darah menempel disana.
"Bagaimana? Aku tidak membual bukan?" Drag dengan sombongnya berucap. Orang sekitar hanya bisa memperhatikan tanpa bisa berbuat apapun.
"Tidak buruk. Untuk pertarungan 3 lawan 1 kalian boleh juga," balasku masih dengan nada dingin.
"Apa kau bermaksud mengatakan kalau aku lemah jika hanya sendiri? Hah?!" raut wajah Drag berubah kesal.
"Mungkin saja," balasku enteng.
"Dasar bedebah kecil!"
'Iron Fist'
Drag melesat maju dengan pukulan.. Andalannya kurasa. Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Ku rentangkan sayap dan memusatkan tenaga pada satu titik dan... Pukulan Taurus itu ku tahan dengan sebelah tangan.
"Inikah pukulan terbaikmu? Mengecewakan."
Sepintas kulihat semua orang tercengang, termasuk Croco dan Dile, bahkan Drag sendiri. Sepertinya pukulan ini sangat kuat dan ampuh dalam menumbangkan lawan, tapi kali ini musuhnya sama sekali tak bergeming.
Sementara itu didalam bangunan, Skyman yang datang bersama Nabilah menghadap penguasa Sanctum City.
"Lapor baginda. Ada pendatang yang ingin bertemu dengan anda," Skyman itu berlutut dihadapan tahta sang penguasa.
"Pendatang? Siapa dia?"
"Maafkan hamba paduka, hamba tidak tahu dia siapa dan darimana dia berasal. Tapi dia mengatakan bahwa dia diutus oleh Red-Hood Grandma," ucapan sang pembawa kabar sontak membuat penguasa dan beberapa pengawal disekitarnya terkejut.
"Apa katamu?!"
BRAKK! Terdengar suara benturan dari luar istana.
"Suara apa itu?" tanya penguasa. Tak lama seorang Skyman lain datang.
"Lapor paduka. Drag si Taurus membuat ulah lagi didepan istana. Kali ini lawannya seorang wanita bertubuh manusia dengan sayap dipunggungnya," ujar Skyman itu.
"Manusia dengan sayap?"
Penguasa dan pengawalnya bergegas keluar istana untuk melihat apa yang terjadi.
"Akan ku perlihatkan padamu bagaimana pukulan yang sebenarnya," ucap Nabilah yakin.
'Strength Fist'
Nabilah mengepal keras tangan kanannya yang bebas dan menghajar perut Drag keras. Alhasil, Taurus itu terpental jauh. Croco dan Dile segera menghampiri bos mereka yang terkapar.
"Se-sebenarnya siapa kau?" ringkih Drag. Bersamaan dengan itu, penguasa dan para pengawalnya keluar istana.
"Namaku Nabilah, Angel dari Valhalla."
Pernyataan Nabilah itu membuat setiap telinga yang mendengar terdiam. Begitu pula sang penguasa dan Drag sendiri. Semua mata tertuju pada Nabilah yang sedikit melayang.
"Jadi, Red-Hood Grandma mengirim kau kesini untuk berlatih dan mempersiapkan diri sebelum menghadapi perang besar?" ucap sang penguasa setelah mendengar keseluruhan ceritaku.
"Ya. Grandma juga mengatakan kalau aku adalah salah satu dari Four Guardians, tapi aku tak terlalu mengerti." Tak disangka, kata-kataku barusan membuat para prajurit disekitar melihat kearah raja secara serentak. Melihat reaksi itu, aku kembali bertanya, "Apa kau tahu sesuatu tentang itu?"
"Ya, tentu saja. Sekarang bisakah kau ikut denganku?" ia pun bangkit dari kursi kekuasaannya.
"Tunggu," ucapanku menghentikan langkahnya. Ia pun menatapku bingung. "Boleh aku tahu siapa namamu?"
Dia pun tersenyum tipis dan berkata, "Namaku Ryuu Kizuna, penguasa kota langit Sanctum City."
Pilar-pilar tinggi nan kokoh berjejer lurus disepanjang lorong, menopang beratnya atap istana yang megah itu. Tak ada lagi benda lain yang terlihat di lorong beralaskan permadani merah itu. Skyman mengawal kami dengan baju zirah dan persenjataan lengkap. Mungkin mereka masih khawatir akan kekuatanku yang bisa saja mencelakai sang raja.
"Kita sampai," ucap Ryuu didepan pintu yang teramat besar.
"Tempat apa ini?" Aku terus memperhatikan pintu itu, juga dinding kokoh disekitarnya.
"Ruangan ini disebut Anechoic Chamber. Sebenarnya, ini adalah tempat latihan salah satu dari Four Guardians yang kau singgung tadi, tapi karena latihan yang terlampau berat, terkadang aku gunakan sebagai tempat penyiksaan bagi penjahat," jelas Ryuu. "Apa kau ingin coba masuk ke dalam?" tambahnya.
"Jika memang ini tempatnya... Aku akan masuk. Untuk itulah aku datang kesini," ucapku yakin.
"Baiklah, tapi aku akan menarikmu keluar jika merasa ada yang ganjil, mengerti?" Aku pun mengangguk sebagai jawabannya.
Pintu terbuka, aku menjejakkan kaki perlahan dan masuk. Begitu pintu tertutup kembali, ruangan gelap itu sedikit demi sedikit mulai terang. Jalan kecil yang tadi ku lalui pun menghilang. Hawa panas mulai terasa. Lava pijar mengalir pada dinding-dinding ruangan dan meluncur deras ke bawah. Lantai berbentuk lingkaran yang ku pijak dan dinding berlava itu memang memiliki jarak. Cukup jauh untuk membuat siapapun tercebur ke dalam danau lava dibawah.
Keringat mulai bercucuran disekujur tubuhku seiring lava yang tak henti-hentinya keluar. Sayapku pun terlipat dan menghilang. "Kenapa ini? Tenagaku seperti terkuras saja," keluhku. Nafasku mulai tersenggal. Kedua kaki ini pun tak lagi mampu untuk menopang tubuhku hingga jatuh berlutut.
"Apa kau bisa mendengarku Nabilah?" suara Ryuu tiba-tiba datang entah darimana.
"Aku lupa memberitahukan padamu kalau didalam Anechoic Chamber ini kau tak bisa menggunakan Magical Power," saja. Fisikku memang tak terlalu kuat tanpa Magical Power. Bahkan para Demon itu sempat berhasil menculikku. Cih. Memori itu membuat kepalaku terasa semakin berat. Pandanganku mulai memudar dan akhirnya semua menjadi hitam.
Nabilah membuka matanya perlahan. Jemarinya bergerak pelan menyusuri selimut yang menutupi dirinya. Lampu yang padam di langit-langit ruangan menjadi benda pertama yang ia lihat. Mata bulat yang baru terbuka sepenuhnya itu menoleh ke kanan dan kiri.
Tak menemukan apa yang dicari, ia lali memaksa bangkit dan berjalan meski kepalanya masih berkunang-kunang. Perlahan tapi pasti, ia menyusuri lorong kecil dibalik pintu kamarnya. Sebuah pintu yang sedikit terbuka berada di ujung lorong itu. Nabilah coba mengintip dari celah itu. Hanya meja panjang yang bisa ia lihat.
"Kau sudah sadar rupanya." Suara yang tak asing datang menyapa begitu Nabilah membuka pintu.
"Ryuu? Sedang apa kau disini?"
"Kau bisa melihatnya sendiri kan?" Ryuu membalikkan pertanyaan Nabilah yang terdengar konyol itu. Dengan garpu dan pisau ditangan dan satu piring makanan dihadapannya, apalagi yang bisa Angel itu pikirkan?
"Duduklah. Kau pasti lapar setelah pingsan selama satu minggu," Ryuu menawarkan.
"Apa?! Satu minggu? Selama itukah aku pingsan?" ucap Nabilah dengan nada tinggi, sementara Ryuu melanjutkan makannya. Seorang pelayan dari ras Lizard datang dan membawakan makanan untuk Nabilah. Selesai bersantap, mereka pun pergi ke suatu ruangan yang cukup luas. Tak ada apapun atau siapapun diruangan itu selain mereka.
"Tampaknya fisik dan staminamu sangat lemah ya," Ryuu akhirnya bersuara setelah terdiam selama menuju ruangan itu.
"Sepertinya begitu. Magical Power sangat erat hubungannya dengan kami para Angel. Sejak kecil kami sudah dilatih untuk menggunakan Magical Power dan jarang melatih fisik," Nabilah mendesah malas mengakui kekurangannya.
"Kalau begitu akan ku latih fisik dan staminamu," Ryuu berkata sambil terus memunggungi Nabilah. Ryuu lalu menjentikkan jarinya. Bersamaan dengan itu, dinding disekeliling ruangan berputar dan senjata pun bermunculan. Ryuu berjalan menuju salah satu pedang. Ia ambil pedang itu lalu melemparnya kehadapan Nabilah.
"Itu adalah pedang yang biasa digunakan Skyman berlatih. Ambil dan coba ayunkan pedang itu," ucap Ryuu datar. Tanpa bicara, Nabilah melakukan apa yang diminta Ryuu. Dengan mudahnya Nabilah mengayunkan pedang itu layaknya sebuah mainan.
"Hanya ini?" tanyanya heran. Ryuu lalu melempar sebuah liontin berbentuk sepasang sayap padanya.
"Pakailah liontin itu dan coba kau angkat lagi pedang itu," perintah Ryuu. Lagi, Nabilah menurut. Setelah memakai liontin itu, Nabilah mengangkat lagi dihadapannya. Tapi kali ini hasilnya sangat jauh berbeda. Kedua tangan dan kakinya bergetar hebat. Pedang itu berhasil terangkat tapi beberapa detik kemudian terjatuh lagi. Nafas Nabilah berubah memburu, tenaganya serasa terkuras habis hanya untuk mengangkat pedang itu.
"Liontin apa ini?" tanya Nabilah dengan nafas yang masih tak normal.
"Itu adalah Anti-Mage Pedant. Liontin yang dibuat khusus untuk menyegel Magical Power pemakainya. Aku meminta seorang Wizard berkemampuan khusus untuk membuatnya supaya kau bisa berlatih tanpa mengandalkan Magical Power-mu," jelas Ryuu.
"Jadi, aku tak bisa menggunakan Magical Power selama liontin ini ku kenakan?" Nabilah mengulang maksud perkataan Ryuu dengan kata berbeda. Penguasa Sanctum City itu pun mengangguk membenarkan.
"Sekarang kau berlatihlah disini. Kau bebas memilih senjata mana yang ingin kau pakai. Aku masih ada urusan lain." Ryuu lalu berjalan pergi meninggalkan Angel itu.
Sepeninggal Ryuu, Nabilah menghampiri setiap senjata di dinding dan mencobanya. Mulai dari pedang, tombak, halberd dan berbagai senjata lainnya. Ia belum berani mencoba senjata tipe berat seperti Greatsword karena senjata biasa saja sudah cukup menguras tenaga. Ia berlatih hingga kelelahan dan tertidur ditengah senjata yang berserakan di lantai.
Nabilah terus melakukan latihan itu, lagi dan lagi. Ia tak pernah meninggalkan ruangan itu, bahkan selangkah kaki pun. Beberapa pelayang datang silih berganti untuk mengantarkan makanan. Satu, dua, tiga, minggu berlalu sudah. Nabilah tampak sudah terbiasa dengan senjata-senjata diruangan itu.
"Wah, wah, sepertinya kau sudah akrab dengan senjata disini ya," Ryuu tibatiba muncul dengan seorang Skyman dibelakangnya.
"Begitulah. Latihan yang kau berikan cukup berguna juga," Nabilah membalas sapaan Ryuu yang mendadak itu dengan sebuah senyuman tipis.
"Ohya? Bagaimana kalau kita tes kemampuanmu itu?" Ryuu menawarkan."Boleh saja. Lagipula membosankan juga kalau hanya berlatih sendirian," tawa hambar mengakhiri ucapan Nabilah.
Ryuu memberi sinyal pada Skyman dibelakangnya. Mengerti akan maksud sang raja, Skyman itu lalu maju dan mengeluarkan pedangnya. Nabilah mengambil secara acak pedang didekat kakinya dan bersiap bertarung. Mereka berdua pun maju bersamaan.
TING! TINGG!
Bunyi benturan pedang mengawali pertarungan mereka. Skyman mendorong Nabilah karena tenaganya jauh lebih besar. Ia lalu melancarkan tebasan dari samping kiri. Nabilah melompat mundur untuk menghindarinya. Ia lalu balas menyerang dengan dua pedang ditangannya. Meski menyerang tanpa jeda, tapi lawannya mampu menangkis setiap serangan yang dilancarkan.
Walaupun semua serangannya dapat dibendung, Nabilah tak hilang akal. Ia melompat dan menyerang dari atas. Sesuai perkiraan, Skyman menjadikan pedangnya sebagai tameng. Saat pedang mereka berbenturan, Nabilah melancarkan tendangan dengan kedua kakinya yang bebas diudara. Ia mengincar bagian perut Skyman yang tanpa pertahanan itu. Alhasil, lawannya itu terpental dan Nabilah juga jatuh karena hilang keseimbangan. Mereka lalu bangkit dan bersiap kembali.
"CUKUP!" teriakan Ryuu menghentikan kesiagaan keduanya. "Pertarungannya cukup sampai disini," jelasnya. Skyman menurunkan pedangnya lalu menyimpannya kembali, sementara Nabilah membungkuk karena kehabisan nafas. Begitu ia menoleh, Ryuu sudah berbalik dan melangkah pergi bersama Skyman yang jadi lawannya tadi.
"Tunggu! Mau kemana kau?" teriak Nabilah.
Ryuu berhenti sejenak. "Istirahatlah seharian ini. Besok kau akan masuk ke Anechoic Chamber untuk kedua kalinya," ucapnya tanpa berbalik badan.
Nabilah membaringkan tubuhnya di lantai. Mencoba membuat dirinya se-rileks mungkin. Detak jantungnya perlahan kembali normal, begitu juga nafasnya. Keringat disekujur tubuhnya perlahan menghilang. Tak lama kemudian ia pun tertidur dengan senjata disekelilingnya.
Keesokan harinya, Nabilah, Ryuu dan beberapa pengawalnya sudah bersiap didepan pintu Anechoic Chamber. Sama seperti sebelumnya, saat Nabilah masuk, jalan setapak menghilang dan lava mulai membanjiri dinding ruangan. Namun sekarang hasilnya jauh berbeda. Meski keringat terus mengucur, nafas Nabilah masih tenang dan ia mampu berdiri tegap. Ryuu yang melihat dari ruang kontrol dibagian atas pintu masuk pun dibuat terkesan. Padahal prajurit elite miliknya butuh satu tahun penuh latihan berat agar bisa bertahan dalam ruangan itu.
"Sekarang berlatihlah disini dengan pedang yang kau bawa tadi. Stamina dan ketahanan fisikmu akan meningkat tajam jika kau mampu bertarung dibawah tekanan seperti ini," Ryuu berbisik langsung ke hati Nabilah.
Angel itu melakukan semua yang dikatakan Ryuu. Jika diruangan yang biasa dia mampu latihan 3 jam tanpa henti, tapi dalam Anechoic Chamber angka itu menurun drastis. Baru 15 menit melakukan gerakan biasa seperti melompat, berlari, menebas dan kombinasi lainnya, Nabilah sudah kelelahan. Semangatnya boleh saja membara, akan tetapi fisiknya tak mau mendengarkan. Ryuu menariknya keluar saat melihat gerakan Nabilah yang sudah tidak teratur untuk mencegah hal tak diinginkan terjadi, seperti tercebur kedalam lava misalnya. Sesaat sebelum pingsan Nabilah meminta pada Ryuu agar dirinya boleh berlatih didalam Anechoic Chamber untuk seterusnya.
Keesokan harinya, Nabilah kembali ke Anechoic Chamber. Dia terus menerus melakukannya. Dua minggu pun berlalu begitu saja. Waktu yang cukup untuk membuat dirinya terbiasa dengan keadaan dalam Anechoic Chamber.
*prok.. prok.. prok..*
Ryuu berjalan menyambut Nabilah yang baru keluar dari tempatnya berlatih dengan tepuk tangan.
"Sepertinya kau sudah akrab dengan Anechoic Chamber ini ya."
"Begitulah. Rasanya latihanku akan selesai lebih cepat dari jadwal."
"Kau yakin? Ini baru tahap awal, masih ada 2 tahap lagi dan sebuah ujian yang harus kau lewati sebelum mendapat kekuatan sebenarnya dari salah satu Four Guardians," jelas Ryuu. Jawaban itu sontak membuat wajah tenang Nabilah berubah serius.
"Kalau begitu, ayo kita segera mulai tahap selanjutnya," ucap Nabilah tanpa basa basi.
"Hoho, tenang dulu. Kau pasti akan mendapatkannya, tapi sebelum itu..." pandangan mata dan ekspresi Ryuu berubah serius dengan senyum kecil disudur bibirnya. "Bagaimana kalau kita mulai dengan sebuah turnamen di Colloseum?"
-to be continue
