Anger and Memory

Suasana Sanctum City dikala siang begitu ramai. Tak berbeda jauh dengan Bumi, makhluk dari berbagai ras saling berniaga satu dengan yang lainnya. Aku sedang menyusuri jalan yang lumayan padat itu. Sambil melihat-lihat keadaan kota hari itu, aku mencari tempat yang disebutkan oleh Ryuu. Ya, Colloseum.

Bangunan itu berdiri kokoh ditengah kota. Luasnya mungkin setara lapangan sepak bola dengan standar internasional. Tembok melingkar nan tinggi dengan 2 gerbang besar yang saling berseberangan memberi kesan megah bagi siapapun yang melihat. Di dalamnya hanya tanah landai tanpa apapun, benar-benar dirancang sebagai tempat duel.

Lama sudah aku berjalan disekitar Colloseum dan akhirnya kutemukan juga benda itu. Selembar poster tertempel didekat pintu masuk... Penonton, kurasa. Disana tertulis bahwa kompetisi selanjutnya akan diadakan dalam waktu 3 bulan. Tak ada peraturan khusus bagi peserta. Tak ada batasan Ras, penggunaan jenis senjata atau kemampuan lainnya. Di poster itu hanya tertulis "Mati berarti kalah." Setelah merekam baik-baik isi poster itu dalam kepala, aku segera kembali ke istana.

"Ryuu, apa kau tidak salah menyuruhku ikut turnamen?" tanyaku pada Ryuu di ruang makan istana. Tapi ia tak menghiraukanku dan terus menikmati santap siangnya.

"Ryuu! Aku sedang bicara denganmu-"

"Dan aku sedang menikmati makan siangku. Tak bisakah kau diam sebentar dan membiarkanku menyelesaikannya?" sambarnya cepat. Aku pun terdiam dan membiarkan dia menghabiskan semua yang terhidang di meja.

"Jadi kau keberatan ikut turnamen karena masalah waktu?" tanyanya begitu mendengar cerita singkatku. Aku mengangguk membenarkan.

"Sayang sekali. Ku kira kau bisa menyelesaikan semua rangkaian latihan ini dalam turnamen itu, tapi jika itu maumu seperti... Apa boleh buat."

"Tunggu dulu! Apa maksud perkataanmu itu?"

"Maaf sekali, aku tak bisa menjelaskannya. Kau harus merasakannya sendiri jika ingin mengerti. Permisi, aku masih banyak urusan," dia pun pergi, meninggalkanku dalam kebingungan.

Sepanjang sisa hari itu, aku terus memikirkan ucapan Ryuu. Waktu sampai turnamen itu dimulai memang masih panjang, tapi kalau bisa menyelesaikan seluruh latihan hanya dengan memenangkan turnamen... Itu adalah hal yang sangat bagus. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya kuputuskan untuk mengikuti turnamen itu.

Keesokan harinya...

"Jadi kau sudah menetapkan pilihan?"

"Ya. Setelah mendengar perkataanmu kemarin, aku sedikit termotivasi," jawabku yakin.

"Baiklah. Untuk latihannya... Pakailah itu." Ryuu menunjuk pada satu set baju besi yang terpajang di ruang tahtanya.

"Apa itu?"

"Havel's Armor, baju zirah terkeras dan terberat se-antero Sanctum City."

"Havel's Armor?" gumamku pelan.

"Armor ini dibuat dari batu mineral terkeras yang pernah ditemukan. Sejak seribu tahun lalu saat benda ini pertama kali muncul di medan perang, ia tak rusak sama sekali. Tapi sisi buruknya yaitu armor ini hanya bisa dipakai oleh orang tertentu saja karena beratnya yang tidak wajar bagi makhluk seukuran dirimu," jelas Ryuu singkat.

Aku berjalan mendekati baju itu dan mengamatinya dari dekat, sementara Ryuu terus saja mengoceh. "Satu bulan pertama, biasakanlah tubuhmu menggunakan armor itu dan berlatih seperti biasa. Bulan berikutnya pindahlah ke dalam Anechoic Chamber dan lakukan latihan seperti dibulan pertama. 3 minggu setelahnya, kau akan berlatih tanding dengan elite soldier istana didalam Anechoic Chamber secara berkala dan satu minggu terakhir gunakanlah untuk beristirahat. Mengerti?"

"Bagaimana kalau kita mulai saja sekarang?" ku kembangkan senyum tipis setelah mengenakan armor yang sangat berat ini. Ryuu pun melakukan hal yang sama sambil menatapku.

3 bulan yang berat berlalu sudah. Hari ini turnamen akan dimulai. Seluruh petarung dari dalam dan luar Sanctum City telah berdatangan. Semangat membara daru tiap peserta begitu kuat terasa. Tujuan mereka sama, yakni menjadi nomor satu pada turnamen bergengsi daerah pembukaan pertandingan besar pada umumnya, berbagai atraksi dipertontonkan. Banyak partisipan dari ras yang berbeda ikut andil dalam upacara sakral ini. Puncaknya yakni pembukaan oleh penguasa Sanctum City, raja Ryuu Kizuna.

Suara gong dan terompet pertanda turnamen dimulai pun menggema ke seluruh penjuru kota. Bersamaan dengan itu, teriakan semangat dari semua peserta berkumandang. Suara riuh ramai para penonton yang memadati Colloseum pun menambah panas suasana di bawah terik mentari. Api persaingan berkobar hebat untuk memperebutkan gelar juara.

"Rupanya kau ikut turnamen ini juga ya, banteng berdiri?"

"Oh, kau rupanya. Tentu saja aku ikut karena akulah juara bertahan disini," balasnya yakin. "Dan namaku Drag, ingat itu," tambahnya. Matanya menatap tajam ke arahku.

"Akan ku balas kekalahanku waktu itu, Nabilah The Angel." ia pun berlalu pergi setelah mengatakannya. Entah mengapa perkataannya baru saja membuatku sangat bersemangat untuk menghajarnya di final nanti.

Satu per satu lawan ku kalahkan, meski tak udah mengalahkan mereka semua. Lawan tersulit yang ku hadapi adalah Kael si Wizard. Aku hampir saja tersingkir jika serangan pamungkasnya mengenaiku, tapi untunglah aku bisa menghindar dan balik menyerang. Ternyata latihan dari Ryuu ada gunanya juga. Tak terasa aku sudah sampai di final. Seperti dugaanku sebelumnya, lawanku nanti adalah Drag, The Taurus.

Suara riuh ramai penonton kian menggelegar, menyerukan nama kedua petarung yang melaju ke final. Keduanya pun dipertemukan dalam arena luas itu setelah sebelumnya beristirahat. Drag berdiri gagah dengan Taurus Warchief Armor kebanggaannya, sementara Nabilah mengenakan Royal Knight Armor yang diberikan Ryuu. Dia juga tetap mengenakan Anti-Mage's Pedant pemberian Ryuu dilehernya.

"Bisa juga kau sampai ke final," ejek Drag.

"Tentu saja, itu bukanlah hal yang terlalu sulit," balas Nabilah dingin.

"Akan kubalas kekalahan waktu itu disini!"

"Lakukan jika kau bisa."

TIIINGG!

Bel pertanda dimulai pertarungan pun berbunyi. Baik Nabilah maupun Drag membuang senjata ditangan mereka dan maju dengan satu tinju. Pukulan mereka bertemu. Tanah disekitar tempat mereka berpijak pun retak, ditambah gelombang angin yang menyapu sebagian arena adalah dampak yang ditimbulkan.

Tinju ditahan dengan tinju, tendangan ditahan dengan tendangan. Mereka saling mengadu kekuatan serangan masing-masing. Terkadang Nabilah melompat atau menunduk untuk menghindari serangan yang dilancarkan Drag. Kekuatan mereka setara sampai Nabilah kehilangan keseimbangannya. Drag yang melihat celah tanpa ragu menghajar lawannya hingga terpental ke sisi arena.

Nabilah bangkit kembali, lalu menyeka darah yang keluar dari bibirnya. Tanpa bicara, dia maju menerjang Drag. Namun pukulannya sama sekali tak berpengaruh padanya. Drag tertawa geli melihat lawannya kebingungan. Nabilah mengambil jarak setelah berkali-kali mencoba menghajar banteng berdiri itu.

"Hahaha, kau heran?" Drag tertawa lepas melihat wajah kesal Nabilah.

"Tidak perlu kesal begitu. Armor ku ini memang sangat keras. Jadi wajar saja jika kau tak bisa menembus pertahananku. Dengan begitu tamatlah riwayatmu hahaha!" tawa sombong Drag makin menjadi. Nabilah hanya bisa menahan kesal melihatnya.

"Cih. Sial. Andai saja aku tidak mengenakan liontin ini, pasti aku bisa dengan mudah mengalahkan banteng jelek itu. Tapi itu hanya akan membuat latihanku sia-sia saja. Aku harus berjuang! Harus!" Nabilah coba meyakinkan dirinya sendiri.

Ia kemudian berlari kencang menuju Drag, sementara Taurus itu bersiap dengan tinjunya. Saat merasa cukup dekat, Drag melepas tinjunya, tapi dengan mudah nabilah menghindarinya. Ia lalu melepaskan pukulan sekuat tenaga ke arah dagu Drag dari bawah. Taurus itu pun tersungkur.

Seluruh mata yang menyaksikan tercengang kembali berdiri, tepat sesaat setelahnya, Nabilah datang menghantam kepalanya dari atas dengan tendangan berputar. Amarah Drag semakin menjadi. Ia lalu menyerang membabi buta. Nabilah terus menghindarinya sampai dinding Colloseum menghentikan langkahnya. Ia menoleh kanan dan kiri, mencari celah untuk kabur. Tapi yang terjadi justru kelengahan yang di manfaatkan oleh Drag. Ia menangkap sebelah kaki Nabilah yang berusaha lari, lalu melemparnya ke udara.

"Rasakan ini! Taurus Power Kick!"

Tendangan Drag mampu membuat Nabilah terlempar hingga ke sisi yang berseberangan. Bahkan dinding Colloseum yang terkenal keras sampai retak di terjang tubuh Nabilah. Ia pun jatuh tersungkur. Drag berjalan santai menghampirinya.

"Pertarungan ini berakhir sudah," ucap Drag tenang dihadapan Nabilah. Sambil berjalan pergi, Taurus itu kembali mengoceh. "Angel dari Valhalla? Huh, yang benar saja! Ku kira itu ras kuat karena tempatnya yang tak terjangkau. Ternyata hanya sebuah ras lemah yang tak berarti. Aku lebih suka menyebutnya sebagai ras sampah! Gahahaha."

DEG!

Mata Nabilah membuka lebar mendengarnya. Ia pun perlahan bangkit dengan wajah menunduk ke bawah.

"Hey, banteng jelek. Coba ulangi perkataanmu tadi," ucapnya.

"Hah? Apa yang baru saja kau katakan?! Dasar ras sampah!"

"Katakan sekali lagi dan aku akan membunuhmu!"

"Kau pikir aku takut? Hah?! RAS SAMPAH!"

Nabilah mengangkat wajahnya cepat. Seketika itu pula aura membunuh merangkak keluar dari tubuhnya. Bola matanya yang berubah kuning menatap tajam Drag, membuatnya tak berkutik. Bagai predator yang siap menerkam mangsanya.

Ryuu yang menyaksikan dari kejauhan merasakan keganjilan pada Angel itu. 'Aura apa ini? Kuat sekali. Tapi kekuatan ini juga dihinggapi kegelapan hati yang dahsyat. Gawat! Aku harus bersiap,' batin Ryuu. Ia pun segera memerintahkan pengawalnya agar mengambil baju zirahnya dan mempersiapkan Anechoic Chamber.

Secepat kilat Nabilah berpindah tepat ke hadapan Drag, lalu memukulnya. Begitu kerasnya hingga banteng yang 3 kali lebih besar darinya itu terhempas ke udara. Sejurus kemudian, Nabilah sudah berpindah lagi di belakang Drag yang melaju di udara. Ia menedang Taurus itu. Hal itu terus berulang tanpa bisa di tangkis ataupun di cegah Drag.

Penonton pun hanya bisa menyaksikan Drag yeng terlempar kesana kemari tanpa bisa melihat Nabilah. Bertubi-tubi Nabilah melancarkan pukulan dan tendangannya tanpa belas kasih. Sebagai akhir dari serangannya, Nabilah menghempaskan Drag ke arena dengan tendangannya. Badai debu pun timbul, dari balik kabut debu, Drag coba berdiri. Namun armor miliknya sudah hancur berantakan. Luka juga terlihat di sekujur tubuh juara bertahan turnamen itu. Jauh di depannya, Nabilah berdiri tegap. Gadis itu siap melancarkan serangan penghabisan.

"Sial. Aku tak sanggup bergerak lagi. Gadis itu... Sangat kuat sekali. Sebenarnya siapa dia?" batin Drag Nabilah melesat dengan cepat, sementara Drag menutup mata, pasrah.

Buukk!

Tiba-tiba saja dari arah samping sesuatu datang dan menghempaskan Nabilah ke sisi arena. Nabilah kembali berdiri seperti tak terjadi apapun. Ryuu berdiri gagah dengan Sky King's Armor miliknya.

"Tu-tuan Ryuu. Apa Anda serius menggunakan perlengkapan perang? Sebenarnya, siapa gadis itu?" Drag bertanya dengan sisa tenaga yang ada.

"Dia adalah salah satu pewaris kekuatan dari Four Guardians. Ia bukanlah tandinganmu," balas Ryuu datar. Drag tentu saja terperangah mendengarnya. Lawannya adalah titisan dari ksatria legenda? Yang benar saja! Tapi melihat wajah serius Ryuu, Drag tak bisa menampak kalau itu adalah kenyataannya.

Nabilah balik menyerang Ryuu. Ia sudah seperti kehilangan akal. Menyerang siapa saja yang menghalanginya, tak terkecuali Ryuu. Sang raja menghindar dengan mudah. Ia lalu membuat Nabilah mengikutinya menuju Anechoic Chamber.

*ngiiiikk... Bukk!*

Pintu Anechoic Chamber pun tertutup. Lava pijar mulai keluar dari dinding dan mengalir ke dasar ruangan. Ryuu coba meredakan amarah yang meluap-luap.

"Nabilah! Dengarkan aku! Kendalikan emosimu itu! Jangan biarkan ia balik mengendalikanmu!"

Namun sekeras apapun Ryuu berteriak, hal itu tidak berpengaruh pada Nabilah. Ia terus berusaha menyerang Ryuu. Penguasa Sanctum City itu pun terdesak. Posisinya terpojok. Nabilah maju tanpa ragu ke arahnya.

"Kematian Noella bukanlah salahmu!"

Seujung jari lagi dan pukulan Nabilah akan menghantam wajah Ryuu, tapi ia berhenti. Setidaknya setelah mendengar perkataan Ryuu baru saja, Nabilah menjadi lebih tenang.

"Ba-bagaimana kau bisa tahu tentang Noella?"

"Tentu saja karena aku ada disana saat hal itu terjadi."

"Mustahil!"

-to be continue