The Awakening of Excalibur
"Dasar Angel rendahan!"
"Pergi kau! Jangan ke sini!"
"Menjauhlah dari kami!"
Teriakan itu terus terngiang di kepalaku. Kenapa semuanya, bersikap begitu padaku? Apa karena keluargaku yang menjadi pelayan kerajaan secara turun temurun? Aku tidak mengerti. Tapi di antara semuanya ada satu orang yang mau berteman denganku.
Namanya Noella. Kami berteman baik. Dia merupakan anak dari salah satu petinggi Valhalla. Orang-orang yang biasa mengejekku pun berdecak heran ketika melihatnya dekat denganku. Aku ingat betul saat kami pertama itu aku sedang dikerjai seperti biasa. Saat seorang anak lelaki ingin melempar batu ke arahku...
"Hentikan!"
"Si-siapa kau?"
"Hey, itu kan putri Noella."
"Iya benar, itu dia."
"Sebaiknya kita pergi dari sini."
"Ya, benar. Ayo pergi."
Beberapa anak lain yang ada dibelakang anak lelaki itu saling berbisik dan akhirnya memutuskan pergi.
"Kamu siapa?" tanyaku yang masih terisak.
"Aku Noella. Kamu Nabilah kan?" aku mengangguk pelan membenarkan pernyataannya.
"Nabilah, maukah kau jadi temanku?" ujarnya seraya mengulurkan tangan.
"Eh? Kenapa?"
"Hm, itu mungkin karena... Kita sama-sama kesepian," ia lalu tersenyum hangat diakhir katanya.
Saat itu aku yang belum tahu apapun mengiyakan saja permintaannya. Beberapa kali aku berpikir kenapa seorang dengan status sosial tinggi seperti Noella mau berteman denganku yang bukan siapa-siapa ini. Tapi aku tak mau ambil pusing mengenai itu karena sejak Noella datang, mereka perlahan mulai berhenti meneriaki hal aneh padaku. Namun untuk berteman, tampaknya tak mungkin.
Aku pergi ke Heaven's Park, tempat semua Angel bermain dan bersenang-senang. Aku biasa bertemu Noella disini, tepat didepan Monumen Pahlawan di tengah taman. Kadang aku jadi teringat cerita nenek tentang Perang Suci di Valhalla ribuan tahun lalu. Jika membayangkan dari apa yang ku dengar, Perang itu pastilah dahsyat juga memakan banyak korban.
Terkadang aku ingin menjadi Pahlawan hebat seperti mereka dan mendapat pangakuan dari semuanya. Tapi sebuah pertanyaan selalu terngiang bersama keinginan itu. Andai aku yang berada di Medan perang, apa aku sanggup mempertahankan Valhalla? Tapi itu tidak mungkin. Memang siapa aku? Hanya Anak dari keluarga pelayan. Menjadi Pahlawan? Mimpiku itu memang tidak masuk akal.
"Nabilah!" sapaan seseorang membuyarkan lamunanku. Noella datang menghampiri sambil berlari kecil.
"Hey, Noel. Sudah selesai dengan pelajaranmu?" tanyaku.
"Eh, kalo itu..." ia memalingkan wajahnya dariku.
"Jangan bilang kalau kau kabur lagi?" ia hanya tersenyum bodoh mendengar pertanyaan itu. Sudah ku duga kalau dia melarikan diri lagi.
"Ayo kita kembali atau aku akan kena marah lagi," kataku sedikit memaksa.
"Bil, ku mohon kali ini saja. Aku sedang malas sekali," balasnya memelas. Sejujurnya Aku malas memenuhi permintaannya, tapi hari ini ada pengecualian.
"Baiklah kalau begitu. Ohya, kau bilang mau menunjukkan sesuatu yang menarik padaku?"
"Tentu. Sekarang ikut aku." ia menarik tanganku begitu saja.
Kami berjalan menuju pinggiran kota. Langkah kaki kami terhenti di sebuah daerah tanpa penghuni. Banyak rumah hancur dan reruntuhan lainnya.
"Hey, Noel. Tempat apa ini?" tanyaku penasaran.
"Ini adalah daerah yang hancur akibat Perang Suci dulu," jawabku
"Bagaimana kau bisa tau ini?" Aku terus memperhatikan sekitar.
"Berkat ini." ia menunjukkan selembar kertas yang terlihat tua.
"Apa itu?"
"Tak tau, tapi yang jelas aku menemukan kertas ini diperpustakaan milik kakek. Tulisan di dalamnya Mengarahkan kita ke tempat ini," jelasnya. Ia menutup kertas di genggamannya dan menatap ke arahku.
"Tunggu sampai Kau melihat kejutan akhirnya hihihi," lalu berlari pergi meninggalkanku.
"Hey Noel. Tunggu!"
Setelah berlari mengejar, akhirnya ku dapatkan juga Noella. Dia masuk kedalam rumah yang hancur separuhnya. Dari jendela ruang makan, Noella terus memperhatikan luar.
"Kau sedang melihat apa?"
"Kau bisa lihat kumpulan asap yang seperti dinding disana itu?" dia balik menanyaiku.
"Ya, kenapa?"
"Asap disebut Smoke Belt. Dalam kertas ini disebutkan kalau. Melewatinya, maka kau akan sampai di tempat bernama Edge Of World. Aku tidak tau pasti tapi kabarnya di istana juga ada kumpulan asap itu." jelasnya singkat.
Mendengar sesuatu yang baru membuat rasa penasaraanku melonjak naik. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berlari menuju kumpulan asap itu. Noella sepertinya coba menghentikanku, tapi dia gagal.
"Nabilah kembali ! Dalam kertas disebutkan bahwa ada Ogre di sekitar Smoke Belt," teriak Noella lantang. Namun sayang, ia terlambat. Ogre muncul dihadapanku sesaat setelah langkah kaki ini berhenti.
Aku memutar badan dan berlari kembali. Sialnya aku tersandung dan jatuh. Saat ku putar kepala menghadap Ogre itu, gada besarnya mengarah padaku. Pasrah, hanya itu yang bisa ku lakukan. Akan tetapi...
BRAKK!
Dengan sekuat tenaga, Noella menghajar kepala Ogre itu. Hingga terdorong mundur. Sepasang sayap putih di punggung Noella benar-benar membuatku terpana. Sepintas aku berkhayal, akan kah aku bisa menjadi seperti dia?
"GRAAAWWWLLL!" suara Ogre itu mengembalikan fokus ku dan Noella padanya. Ia coba membalas perlakuan Noella tapi tak satupun percobaannya yang berhasil. Aku yang mendapat isyarat dari Noella agar segera menyingkir, tapi Ogre itu menutup jalanku untuk kembali. Sekaligus membuatku terlalu dekat padanya.
Ogre itu menyadari keberadaanku. Tanpa ragu, ia kembali mengarahkan gada besarnya padaku. Lagi, Noella menyelamatkanku. Sebuah senyuman tipis dibentuk oleh bibirnya sesaat setelah ia menyelamatkanku.
Flashback OFF
"Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi," ujarku mengakhiri cerita kelam itu.
"Kau benar-benar tak ingat apapun setelahnya?"
"Ya, hanya... Aku bisa mengingat saat seseorang pasti membawaku ke sebuah panti asuhan dan menitipkan aku disana."
"Hmm," Ryuu terlihat berfikir.
"Jadi kau tak ingat apapun tentang pertarungan dengan Ogre yang telah mencelakai Noella?" lanjutnya.
"A-apa maksudmu?"
"Sudah ku katakan sebelumnya, aku ada disana saat kalian coba mendekati Smoke Belt."
"Kalau memang kau disana.."
Aku yang geram maju menyerangnya. "Kalau Kau memang disana, Kenapa Kau tak menolong kami?! Kenapa Kau tidak menolong Noella?! Jawab Aku Ryuu!"
Aku terus menyerangnya sambil mengatakan hal itu. Dia pun tampak tidak kesulitan untuk menangkis seranganku. Di akhir, dia mengambil jarak yang cukup jauh dariku.
"Itu semua karena Noella yang memintanya."
Kepalan tanganku berhenti tepat 1 cm di depan wajahnya saat kata-kata itu keluar dari mulut lelaki yang disebut sebagai penguasa kota langit Sanctum City itu.
"Apa katamu?!"
"Semua yang terjadi pada hari itu adalah bagian dari rencana Noella!"
Flashback ON
"Nona memanggil saya?" ucap seseorang yang baru datang.
"Ohh, kau sudah datang rupanya. Ryuu, apa kau ingat kejadian beberapa tahun lalu?"
"Kejadian?"
"Tentang seorang anak yang menangis seorang diri di daerah pinggiran Kota, akan tetapi lingkungan disekeliling anak itu porak poranda beserta beberapa mayat disana. Hal itu membuat gadis malang tadi di asingkan karena di duga memiliki kekuatan aneh yang membahayakan."
"Sekarang coba kau lihat ini," orang yang dipanggil 'Nona' itupun menyerahkan sebuah buku usang pada Ryuu.
"The Dark Time Of Whiteland?"
"Itupun adalah tulisan leluhurku. Isinya tentang Perang Suci pada Zaman dahulu. Disana juga terdapat informasi mengenai para Guardian, Pahlawan saat Perang Suci. Perasaanku mengatakan kalau gadis itu adalah titisan dari salah satu Guardian."
"Kenapa Nona bisa menyakini hal itu?" ucap Ryuu setelah sebelumnya ia menelisik sedikit buku tua yang diberikan padanya.
"Dalam dirinya ada.. Ah Sudahlah. Nanti juga kau akan tahu dengan sendirinya kalau hal itu memang benar. Dan untuk itu aku ingin melakukan sedikit eksperimen."
"Eksperimen?"
"Besok Aku akan mengajak anak itu ke suatu tempat dalam peta yang ditinggalkan leluhurnya. Besar kemungkinan tempat itu berbahaya. Tugasmu hanyalah mengamati kejauhan. Melihat hal yang tidak bisa ku lihat jika kemungkinan terburuk terjadi. Lalu, jika perkiraanku benar, Aku mohon dengan sangat agar kau melatihnya saat waktunya tiba."
"Apa maksud Nona?"
"Lakukan saja apa yang aku minta, paham?"
Flashback OFF
"Itulah yang dikatakannya saat itu," ucap Ryuu lirih.
"Tak ku sangka dia berani mengorbankan nyawanya hanya demi dirimu." Nabilah terdiam sesaat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ryuu.
"Sekarang kekuatanmu telah bangkit dan apa yang di cita-citakan. Noella saat itu telah tercapai. Walaupun aku tak bisa melihatnya lagi tapi dengan membuat harapannya menjadi kenyataan, kurasa dia akan senang," senyum masam diwajahnya mengakhiri segalanya.
Beberapa hari kemudian Nabilah terlihat gelisah dikamarnya. Pikirannya sedang tak menentu. Setelah perkataan Ryuu kala itu, ia teringat sesuatu yang penting. Ia bingung apakah harus mengatakannya pada Ryuu atau tidak. Di saat sedang melamun, Nabilah di kejutkan oleh suara ketukan pintu.
*Tok tok tok*
"Masuk," ujar Nabilah.
"Apa kau sedang sibuk?" tanya orang yang datang.
"R-Ryuu?!"
Tumbuhan dengan daun nan hijau menjadi pemandangan alami dijalan yang sedang di jejaki Ryuu dan Nabilah. Mereka sekarang berasa di gunung satu-satunya di Sanctum City. Mereka pun berhenti di mulut kawah gunung itu.
"Mau apa kita ke sini?" tanya Nabilah yang sudah bingung sejak tadi.
"Ini adalah ujian terakhirmu," balas Ryii datar. Nabilah pun menoleh dengan tatapan heran.
"Jauh di dalam perut gunung ini bersemayam sebuah pedang milik Guardian. Konon pedang itu tak bisa dicabut dari dasar gunung karena ia akan lebih dulu menyerap seluruh energi siapapun yang memegangnya, termasuk nyawa. Nama pedang itu adalah Excalibur." Nabilah menelan ludah mendengarnya.
"Pedang yang bisa membunuh siapapun yang menyentuhnya? Pedang macam apa itu?" Rasa takut sedikit muncul dalam hati Nabilah.
"Masalahnya tak hanya disitu saja," lanjut Ryuu. Nabilah pun kembali memperhatikan dengan seksama.
"Kabarnya dulu pernah ada sekelompok bandit tangguh yang mampu mencoba Excalibur dari tempatnya. Tapi kemudian... Kawanan bandit yang diakui terkuat pada masanya itu dihabisi hanya dalam hitungan menit oleh penjaga pedang Excalibur. Dia kenal dengan nama Knight of Heide.
Banyak makhluk kuat dari berbagai penjuru datang dan ingin mencoba mencabut Excalibur, tapi sia-sia saja. Semua berakhir begitu Heide bangkit. Jadi apa kau ingin coba mencabut Excalibur?"
Lagi, Nabilah menelan ludahnya sendiri, sebelah tangannya gemetar tanpa ia sadari. Kemudian...
"Kalau kau memang titisan sang Pahlawan, Seharusnya kau sanggup mengambil pedang legenda itu dan menghabisi Knight of Heide."
"Dia benar. Aku mewarisi kekuatan sang legenda dan darah dari Angel. Bisa! Aku pasti bisa! Karena aku... Adalah... Nabilah, Angel dari Valhalla."
Melihat Nabilah yang sudah membulatkan tekad, Ryuu menyunggingkan senyumnya. Ia pun menyuruh Angel itu melepas Anti-Mage Pedant sebelum pergi.
Seal Open : Angel's Blood
Sepasang sayap pun muncul menghiasi punggung Nabilah. Dia pun menjatuhkan diri ke dalam gunung. Menuju takdirnya.
Kesunyian di perut gunung pecah seketika begitu Nabilah datang. Ia langsung melihat sekitar. Tak ada benda lain selain batuan magma beku yang menjadi dinding, juga sebuah pedang. Sekilas Nabilah teringat dengan Arechoic Chamber. Jika dilihat baik-baik, tempat ini memang mirip dengan tempatnya berlatih selama ini. Tanpa buang waktu, gadis itu mendekati Excalibur yang tak jauh darinya.
"Untuk inilah aku datang kesini," gumamnya pelan dihadapan Excalibur.
Saat kedua tangan Nabilah menyentuh pedang legenda itu, seketika itu juga tenaganya serasa dihisap. Namun begitu, ia tetap berusaha mencabut pedang dari tempatnya.
Sshhing!
Segera setelah tercabut, Excalibur berubah warna menjadi kuning-emas ditambah aura dengan warna senada yang menyelimutinya. Senang, sudah pasti itu yang ia rasakan. Akan tetapi gadis itu harus menahannya dulu karena ini belum berakhir.
Lava menjulang tinggi bak air mancur di sekeliling tempat itu. Dari balik lava pijar itu, Knight of Heide pun muncul. Light Armor serba putih lengkap dengan sebilah pedang ditangan kirinya. Nabilah bisa merasakan kalau Heide menatapnya dari balik pelindung kepalanya.
Tanpa aba-aba atau isyarat apapun keduanya langsung maju menyerang. Benturan pedang mereka pun menimbulkan pedang yang cukup kuat. Tapi karena sebelah tangan Heide bebas, ia pun berhasil meninju Nabilah tepat diperut. Dilanjutkan dengan tendangan berputar yang sukses membuat Nabilah terpental.
"Hebat juga kau, tapii... Aku baru saja mulai." Nabilah berdiri dan kembali menerjang Heide.
Sementara itu, Ryuu yang masih berada didekat kawah terdiam dalam lamunannya. Suara gesekan pedang dari dalam kawah sama sekali tak digubrisnya.
"Noella, inikan yang kau ingin wujudkan? Setelah sekian lama, akhirnya tujuanmu tercapai. Karena itu..." setetes airmata pun jatuh.
"Karena itu kembalilah padaku, Noella.!"
Ryuu merasa seperti ada yang memegang tangannya. Dia pun menoleh dan mendapati Noella disana. Gadis itu pun menatap balik Ryuu dengan senyum hangatnya. Hal yang membuat Ryuu jatuh hati padanya. Noella lalu mendekatkan wajahnya pada Ryuu. "TerimaKasih." bisiknya.
Noella terbang ke atas kawah. Lambaian tangan menandakan salam perpisahannya dengan Ryuu. Ia pun sedikit demi sedikit menghilang. Bersamaan dengan menghilangnya Noella, Nabilah melesat keluar dari dalam kawah. Tubuhnya penuh luka akibat pertarungan dengan Heide.
"Ryuu, lihat apa yang ku dapat," ia memamerkan Excalibur yang menyala kuning terang itu. Detik berikutnya. Ia jatuh dalam pelukan Ryuu.
"Kerja Bagus. Ayo kita pulang."
2 hari kemudian...
Hari ini adalah hari terakhir Nabilah di Sanctum City. Jam ditangannya hanya menyisakan beberapa jam sebelum gerbang dimensi terbuka. Nabilah tengah bersiap, saat Ryuu memanggilnya.
"Nabilah, kau sudah membuktikan kalau dirimu adalah berseker Guardian, seperti perkiraaan Noella."
"Aku juga ingin berterimakasih padamu Ryuu karena telah melatihku selama ini."
"Ohya, sebelum kau pergi, aku punya sedikit hadiah untukmu." Ryuu lalu bejalan menuju salah satu koleksinya. "Kemarilah Nabilah."
"Ryuu ini kan..."
"Ya, ku berikan Havel's Armor ini padamu. Hanya kau satu-satunya orang yang bisa menggunakannya dengan baik. Dan..." Ryuu lalu mengeluarkan Anti-Mage Pedant dari sakunya. "Bawalah ini."
"Untuk apa? Bukankah latihanku sudah selesai?" Nabilah sedikit bingung.
"Ketika keadaan menjadi genting dan hidup banyak orang termasuk dirimu terancam, hancurkan liontin ini maka kau akan bisa menyelamatkan semuanya."
"Baiklah, Ryuu. Terima kasih." Nabilah menyimpan Havel's Armor dengan kekuatan Angel-nya dan mengantongi liontin dari Ryuu.
TITIITT!
Jam ditangan Nabilah berbunyi, menandakan waktu yang diberikan oleh Red-Hood Grandma telah berakhir. Jam itu bercahaya terang lalu bertransformasi menjadi portal dimensi. Langkah Nabilah terhenti didepan pintu itu, lalu menengok kembali pada Ryuu.
"Ohya, Ryuu. Aku baru teringat sesuatu yang penting. Saat aku pergi bersama Noella dihari ketika dia terbunuh, Noella sempat berkata padaku. 'Hey, bil. Kalau kau bertemu seseorang bernama Kizuna Ryuu suatu hari nanti, tolong sampaikan permohonan maafku padanya ya. Maaf karena aku tak bisa menerima sesuatu yang berharga itu. Katakan juga, kalau aku merasakan hal yang ia rasakan.' begitulah kira-kira yang dikatakannya."
Air mata lagi-lagi mengalir diwajah Ryuu, tapi ia coba menutupinya. "Terima kasih ya, Bil."
"Um. Kalau begitu selamat tinggal." Nabilah meneruskan langkahnya masuk ke portal dimensi itu. Dalam sekejap mata, portal itu pun menghilang bersama kepergian Nabilah.
-to be continue
