Author's Notes : Just Wanna Say, Selamat Menikmati Minna-chin, jangan lupa tinggalkan review membangun untuk author molor satu ini yaaa.. Terimakasih sebelumnyaaaa ^^


DISCLAIMER : FUJIMAKI TADATOSHI

WARNING : 1] Awas Bosen karena kepanjangan menuju menu utama nya fufu.. [2] Humor LEBIH garing, maksa, absurd dari fanfic sebelumnya

[3] Mungkin agak OOC [4] Typo [5] Romance ga terlalu dapet [6] Sho-ai / BL (?) [7] Dan lain-lain (?)

Rate : T

By : Neutral Kingdom


.

FLASHBACK ON

"Mulai sekarang kau bukan lagi Kuroko Tetsuya. Dan kau akan keluar dari mansion ini esok hari. Jawabanmu Tetsuya?"

"Ha'i."

Di depan gate kedatangan bandara Tokyo terlihat seorang remaja pria bersurai kelabu sedang berjalan mondar-mandir dengan wajah gelisah menunggu kedatangan seseorang. Di belakangnya berdiri lima orang bodyguard yang setia menunggunya.

"Tenanglah, Bocchama." Ujar seorang pria berpakaian serba hitam dengan tubuh sedikit membungkuk ke arah remaja bersurai kelabu tersebut.

"Tch! Aku tidak bisa tenang jika dia belum berada di depanku saat ini Kagetora-san." Jawab remaja tersebut pada butler pribadinya.

"Dan jika aku sudah berada di depanmu, apa kau akan tenang, nii-sama?" Sebuah suara datar terdengar.

1.

2.

3.

"EEEEEHHHHHH!" Baik si remaja bersurai kelabu maupun butler serta bodyguard nya tidak bisa menahan jeritan kekagetan mereka ketika menyadari bila kelompok mereka ketambahan satu orang secara tiba-tiba.

"Ouji-sama." Si butler yang paling cepat dalam menguasai diri langsung menunduk sembilan puluh derajat di depan seorang remaja yang lebih muda dari tuan mudanya, kemudian diikuti oleh para bodyguard yang menyadari kekurangajaran mereka karena tidak menghormati tamu besar dari tuannya.

"Ouji-sama." Nah kalau ini adalah suara dari remaja abu-abu yang paling lama sadar dari kekagetannya. "Maafkan saya." Ujarnya kemudian mengikuti sikap tubuh butler dan bodyguardnya.

"Bangunlah, Chihiro nii-sama. Aku tidak menyukai sikapmu yang seperti ini." Ucapnya dengan suara datar.

"Tapi Ouji-sama sa—"

"Aku adalah adikmu Chihiro nii-sama. Ingat itu." Potong tajam si remaja mungil tersebut. "Sekarang bangunlah. Aku tidak suka menjadi tontonan." Menyadari sikapnya, Chihiro menegakkan tubuhnya diikuti oleh butler dan para bodyguard nya.

"Maafkan saya Ou–" Bola mata sebiru langit mendelik ketika ia merasa akan dipanggil dengan sufix 'Ouji-sama' kembali oleh remaja di depannya.

"Nah Ouji-sama, saya tahu bahwa Anda pasti lelah setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam dari Eropa. Ada baiknya kita langsung menuju Mayuzumi mansion saat ini agar Anda bisa segera berisitirahat." Kagetora mengambil jalan tengah untuk menghentikan pembicaraan yang menurutnya tidak akan berhenti jika ia tidak menghentikannya.

"Ya.. aku sangat lelah. Bisa kita pergi sekarang?" Remaja yang memiliki wajah manis tersebut menatap datar butler yang ada di samping nii-sama nya.

"Bisa Ouji-sama." Kagetora kembali membungkukan tubuhnya. "Lalu di mana barang-barang Anda Ouji-sama?"

"Aku lelah melihatmu membungkukkan tubuh terus-menerus. Aku tidak membawa apapun. Jadi bisa kita pergi saat ini juga?" Ujarnya yang mulai jengah karena ia belum berpindah posisi sama sekali sejak saat mereka menyadari kehadirannya yang sebenarnya sudah lima belas menit bersama mereka tanpa mereka sadari sebelumnya.

Sedangkan Chihiro terdiam mendengar bahwa tamunya yang baru datang tidak membawa apapun saat ini. 'Dia' benar-benar keterlaluan! Geramnya. Namun diamnya langsung hilang ketika Kagetora mengajaknya untuk segera kembali ke mansion.

Semua maid dan butler yang ada di dalam mansion Mayuzumi secara serentak membungkukkan tubuhnya saat tuan muda mereka hadir bersama tamunya. Chihiro segera membawa tamunya menuju ruang sang kepala keluarga.

Saat masuk, lagi-lagi semua yang berada di ruang keluarga langsung membungkuk ke arah pintu yang kini menampakkan dua remaja berbeda surai. Bedanya adalah, kini Chihiro ikutan membungkukkan tubuhnya ke arah sang tamu.

Remaja muda yang menjadi tamu kediaman tersebut berjalan dengan anggun menuju sang kepala keluarga dan para tetua yang berdiri di depannya. "Bangunlah." Semua yang berada di ruangan sang kepala keluarga menegakkan tubuhnya menatap remaja laki-laki yang sedang menampakkan wajah datarnya.

"Mulai sekarang namaku adalah Mayuzumi Tetsuya. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada bantahan. Tidak ada perlakuan istimewa atau berlebihan yang diberikan padaku. Dan tidak ada kesalahan yang akan kumaafkan bila ada yang memanggilku selain Tetsuya. Mengerti?" Tajam. Tegas. Berwibawa. Tak ingin dibantah.

"Mengerti Tetsuya-sama."

Kini hanya tersisa sang kepala keluarga Mayuzumi dan Tetsuya di ruangan yang tadinya penuh oleh para anggota keluarga yang lain.

"Tetsuya-sama, saya sudah menyiapkan segala kebutuhan yang sekiranya Anda perlukan. Termasuk menyiapkan keperluan sekolah Anda."

"Terimakasih Chiharu-jii-sama. Maaf merepotkan dirimu dan anggota keluarga yang lain."

"Tentu tidak Tetsuya-sama. Kami selalu siap melayani Anda. Dan mengenai pelayan pribadi untuk Anda, saya akan meminta Chihiro untuk melakukannya."

"Tetapi jika Chihiro nii-sama tidak menginginkan hal tersebut, jangan memaksanya."

"Tentu Tetsuya-sama."

Tetsuya terdiam. Kemudian tersenyum kecil. Sangat kecil. Hingga Chiharu sendiri tidak yakin yang dilihatnya senyuman atau bukan.

"Aku ingin beristirahat."

"Baik Tetsuya-sama."

Tetsuya berbaring di atas tempat tidurnya dengan menumpukan lengan kanannya di atas mata. Ia lelah. Sangat lelah. Lelah dengan darahnya, lelah dengan statusnya, lelah dengan aturan yang membelenggunya, lelah dengan posisinya, dan lelah dengan hidupnya.

"Tuhan.. Aku akan menganggap bahwa yang sedang terjadi denganku saat ini adalah sebagai tindakanmu untuk memberikan kepadaku kesempatan kedua untuk menjalani hidup ini agar menjadi lebih berarti untuk kujalani. Lindungi aku Tuhan. Amien."

Dan Tetsuya akhirnya terlelap. Berharap esok pagi merupakan hari baru yang akan merubah keadaan hidupnya yang monoton.

Tetsuya terbangun ketika ia mendengar pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Matanya memindai setiap inchi kamar yang saat ini ia tempati. Aku bisa! Dan dengan keyakinan baru yang besar Tetsuya bangun dari tempat tidurnya menuju pintu kamar yang menunggu untuk dibuka olehnya.

"Aku sudah bangun Nii-sama." Ujar Tetsuya datar saat melihat sosok yang mengetuk pintu kamarnya. "Dan tidak ada seorang kakak di belahan dunia manapun yang menyapa adiknya dengan membungkukkan tubuhya Nii-sama." Lanjut Tetsuya sarkas saat melihat sikap Chihiro yang akan memberikan hormat padanya.

"Maafkan saya Tetsuya-sa .."

"Hanya Tetsuya, Chihiro-nii-sama." Tekan Tetsuya. Chihiro hanya mengangguk mengerti.

"Kalau begitu, tolong jangan gunakan suffix 'sama' saat memanggilku, Tetsuya. Itu terdengar kurang sopan saat aku hanya memanggilmu dengan nama depanmu."

"Un, baiklah jika itu yang kau mau, Chihiro-nii." Tetsuya tersenyum tipis

"Sarapan akan dimulai 20 menit lagi. Bersiap-siaplah."

"Terimakasih sudah mengingatkan Nii-san. Aku akan bergabung sebelum 20 menit lagi." Chihiro kembali mengangguk dan mengundurkan diri dari hadapan Tetsuya. Tetsuya menarik napas pelan sebelum menutup pintu kamarnya untuk bersiap-siap.

Lima belas menit kemudian Tetsuya sudah siap dan berjalan menuju ruang makan dibimbing oleh seorang maid dan butler yang menunggunya di luar kamar dan duduk di samping Chihiro. Tetsuya sebenarnya tidak asing dengan keheningan yang menyelimuti selama acara makan pagi, tapi entahlah, rasanya Tetsuya mengharapkan sesuatu yang baru untuk menjadi pembuka kehidupan barunya di keluarga Mayuzumi.

"Tetsuya, aku mengharapkan hal terbaik darimu sebagai bungsu keluarga Mayuzumi. Kau mengerti?"

"Mengerti Otou-sama." Jawab Tetsuya tegas.

"Bagus." Walau hanya satu kata, tapi tak bisa dipungkiri bahwa terselip rasa bangga saat Chiharu mengucapkannya. "Dan kau Chihiro, bimbing adikmu selama di sekolah. Dia berada di bawah tanggung jawabmu. Kau mengerti?"

"Tentu Otou-sama."

Dan makan pagi hari ini berakhir dengan kedua orangtua Mayuzumi bersaudara yang melihat keberangkatan dua anaknya dengan sebuah mobil yang mengantarnya.

"Kuharap mereka tidak menyesal dengan apa yang mereka lepaskan Anata." Ujar istri Chiharu lirih.

"Sekalipun mereka menyesalinya, aku tidak akan melepaskan Tetsuya sayang. Kau tenang saja." Janji Chiharu.

"Kita sudah sampai Chihiro-sama, Tetsuya-sama." Ucap sang supir sambil membukakan pintu yang ditumpangi oleh dua tuan mudanya.

"Terimakasih Andou-san." Ucap Chihiro pelan kemudian berjalan keluar dari mobilnya diikuti oleh sang adik.

"Di kelas mana Tetsuya akan belajar Kagetora-san?" Tanya Chihiro setelah melihat butler pribadinya sudah keluar dari mobil lain dan mengikuti dirinya maupun Tetsuya memasuki gedung sekolah.

"Tetsuya-sama harus menghadap ke ruang kepala sekolah dahulu sebelum masuk ke dalam kelas Chihiro-sama." Jawab Kagetora sambil membungkukan tubuhnya sedikit. Langkah Chihiro pun terhenti dan memandang adik barunya datar yang dibalas dengan tatapan yang tak kalah datarnya pula oleh Tetsuya.

"Temani Tetsuya menuju ruang kepala sekolah. Aku akan ke kelasku sendiri." Chihiro pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kelasnya yang berada di lantai 3.

"Baik Chihiro-sama." Jawab Kagetora dengan lagi-lagi membungkukkan tubuhnya. "Mari Tetsuya-sama, ruang kepala sekolah berada tepat di ujung koridor ini." Kagetora memersilakan Tetsuya untuk berjalan terlebih dahulu. Tetsuya dan Kagetora pun melanjutkan jalan mereka dalam keheningan hingga. . .

"Aahh.." suara berat mengalun di tengah koridor yang sepi tersebut. Melihat warna hitam menodai seragam yang dipakaian tuan mudanya, Kagetora berjalan cepat dan menghampiri Tetsuya.

"Maafkan keteledoran saya Tetsuya-sama." Dengan cekatan Kagetora mengeluarkan sapu tangannya dan memberikannya kepada Tetsuya.

Sebuah seringaian indah(ngeri) nampak di wajah seseorang yang tadi mengeluarkan suara beratnya.

"Bukankah seharusnya kau meminta maaf padaku Kagetora? Dia yang menabrakku dan kau hanya memedulikannya?" Kagetora kemudian mengalihkan atensinya pada suara familiar yang dimiliki orang di depan tuan mudanya.

"Akashi-sama." Kagetora membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat untuk menyapa pria dengan manik mata merah.

"Dan mana permohonan maafmu hm?" pria yang juga memiliki rambut berwarna merah itu berujar dengan nada angkuh.

"Jika kau sebegitu menginginkannya permintaan maaf dari Kagetora-san, ambil saja permohonan maaf yang tadi Kagetora-san ucapkan untukku." Tetsuya menatap Akashi yang kini menaikkan salah satu alis matanya dengan datar.

"Dan siapa kau berani-beraninya memerintahku?" – Lagi, Akashi dan suara angkuhnya.

"Mayuzumi Tetsuya. Salam kenal." Tetsuya memerkenalkan dirinya dengan membungkukkan tubuhnya sedikit. "Kurasa pembicaraan kita berakhir di sini Akashi-san. Aku sedang memiliki urusan penting dan begitu juga dengan dirimu bukan? Kami permisi. Ayo Kagetora-san." Tetsuya mengakhiri pembicaraannya dengan Akashi secara sepihak.

"Menarik." Akashi kembali menyeringai ketika melihat Tetsuya dan Kagetora berjalan mengabaikannya. Akashi memang tahu jika Kagetora hanya patuh pada keluarga Mayuzumi saja tidak peduli seberapa lebih kuatnya keluargamu dibanding keluarga yang dilayaninya, tapi bagaimana dengan wajah baru yang tadi membuat kopinya tumpah sedikit dan mengabaikan Akashi seakan-akan ia tidak tahu siapa Akashi dan apa yang akan terjadi jika berhadapan dengan dirinya.

Atau memang pria kecil itu tidak tahu seberapa besar pengaruh nama Akashi yang dimilikinya?

"Will see you soon Tetsuya."

FLASHBACK OFF

"Papa mengapa diam saja?" Sosok kecil yang berada di pangkuan Kuroko terlihat begitu khawatir. Pasalnya semenjak terakhir paman hitamnya datang dan membuat papanya menangis, Kuroko menjadi terlihat lebih pendiam. Seperti saat ini, biasanya saat dirinya terbangun dari tidurnya dan berada di dekapan sang papa, papanya pasti akan memeluknya erat dan mengucapkan betapa papanya sangat mencintai dirinya. Tapi sekarang? Papanya malah memandang hamparan bunga yang berada di pekarangan rumahnya dengan tatapan kosong.

"Apa papa merindukan mama?" Tanya bocah kecil itu lagi saat ia tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan sebelumnya. Kuroko memandang anaknya sebentar dan kemudian tersenyum lalu memeluk sang Kuroko junior dengan lembut.

"Kau tahu Seiya, Papa begitu mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu. Sampai papa tidak tahu bagaimana cara mencintai hal lain karena seluruh rasa cinta yang papa miliki sudah papa berikan padamu. Jadi, apa Seiya juga mencintai papa?" Seiya mengangguk antusias dalam pelukan papanya. Oh.. hanya Tuhan yang tahu bagaimana sang bocah merah sangat mencintai berada di dalam pelukan sang papa yang mengalahkan pelukan sang mama yang terkadang Seiya rasakan hambar.

Entahlah.. dirinya hanya merasa bahwa pelukan papanya sangat hangat seperti pelukan seorang mama. Sedangkan ketika ia memeluk mamanya, ia tidak merasakan perasaan seperti saat ia berada di pelukan papanya. Oke ia merasa nyaman. Tapi hanya sebatas itu. Ia merasa hangat. Tapi tidak lebih dari itu. (Oke abaikan sesi ini! Kasihanlah pada bocah lima tahun untuk menghadapi hal ini Author-san! *Tetsuya ngomel*)

"Aku sangat mencintai papa. Sangat sangat mencintai papa. Aku bahkan bisa memberikan dunia jika papa menginginkannya suatu saat nanti." Jawab bocah polos tersebut sambil melingkarkan kedua tangannya ditubuh sang papa. Kuroko mengelus lembut rambut merah puteranya.

"Seiya mau ikut papa?" Tanya Kuroko lembut setelah hening beberapa saat yang menyelimuti keduanya sambil memandang anaknya yang kini balik menatapnya.

"Kemana?"

"Bertemu sahabat papa saat SMA dulu. Apa Seiya mau?"

"Dai jii-san dan Ryou jii-chan?" kuroko mengangguk kemudian menyatukan keningnya dengan kening puteranya. Menatap mata merah yang melihatnya dengan bingung.

"Dan ada tiga orang lainnya. Apa kau ingin menemani papa untuk bertemu mereka?"

"Tentu." Jawab Seiya riang kemudian memeluk leher Kuroko.

"Ehem.. apa aku dilupakan oleh kalian?" Suara merdu seorang wanita membuat dua entitas yang saat ini sedang berpelukan menoleh dengan refleks ke arah timbulnya suara.

"Mamaaaa..." Seiya menjerit senang dan turun dari pangkuan sang papa kemudian berhambur ke dalam pelukan sang mama. Yeah walau Seiya merasa hambar dengan pelukan mamanya, tetap saja ia akan berhambur pada mamanya karena sudah terbiasa.

"Jadii.. kau akan ke sana Suya?" Wanita berambut merah panjang itu kemudian berjalan ke arah pria biru muda yang masih duduk d bangkunya dengan wajah datar sambil menggendong Seiya.

"Tentu saja Sei.."

TBC.


Oh Mai.. OH MAI.. OH MAI GAAAAATTTTTTTT... Ini sudah tanggal berapaaaa? Sudah bulan apaaaaaa? Kenapa baru apdet Author-bakka?! Ar yu krezi huh? Oke sedikit curhat, sebenernya chapter ini sudah kubuat sejak 22 November 2015 kemarin, cumaaaannn.. karena kurang pede sama chapter ini dan mikir bakal dirombak lagi ditambah sama pikiran negative takut chapter ini tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh para reader dan pikiran negative lainnyaaa.. eh malah kebablasan sampe Maret 2016. Gomeeeennnnn neee Reader-tachi T_T

Lets balas revieeeeewwwwww.. :

Nyanko Kawaii : Su-sungguh keren kaahh? Kuharap chapter ini tidak kalah keren yaaa.. jalan ceritanya tidak akan ku end kan sampai sini kok tenang saja. (Asal ga WB mah selow aja *whisper*). Ra-rate nya na-naikk? Tidak bisa-ssu! Aku ini hanyalah seorang penikmat yang belum bisa membuat orang lain nikmat (?) WHAT THE HELL IT'S MEAN?! Jadi maaf yaa Nyanko-san kalau aku tidak menaikkan rate nya hehe..

Terimakasih sudah membaca dan mereview Faith, semoga dirimu menyukai chapter ini dan chapter selanjutnya yang akan kubuat yaa. Dan semoga tetap review hehe..

Bona Nano : Err.. Ettoo Bona-san, aku tidak tahu mengapa tapi jalan ceritaku tidak mengindikasi bahwa Kuroko akan membalas Akashi selingkuh. Dia hanya mencari sebuah jalan agar ia mampu membuat Akashi bahagia. Jika kau penasaran, nanti dilanjut baca ke chapter selanjutnya yaaa hehe.. walau sudah SANGAT terlambat, apa dirimu sudah sembuh dari vertigo Bona-san? Kuharap sudah yaa.. Terimakasih atas semangatnya ^^

Terimakasih sudah membaca dan mereview Faith, semoga dirimu menyukai chapter ini dan chapter selanjutnya yang akan kubuat yaa. Dan semoga tetap review hehe..

Flow L : E—Ett—Ettoo nee Flow-san jangan mengancamku menggunakan hal yang berhubungan dengan alam mati-ssu. Aku takut dengan hal yang bergentayangan tidak jelas -_- aku lanjut kok-ssu lanjuutt.. cuman yaa maaf maaf saja kalau lama BANGET apdet nya hehe.. bener ga ya Akashi begituu? Pengennya sih engga, tapi ngga tau deng, yang ngeliat kan Kuroko. Harus tanya sama narasumber terkait dong Flow-san. Jangan tanya diriku yang tidak melihat apapun -_- untuk masalah pendengaran aku juga gatau -_- (Author macam apa lu yang serba gatau? ) kalau melihat sifat Kuroko, harusnya sih dia klarifikasi dulu, tapi kita lihat saja dia klarifikasi apa engga ke Akashi. Maaf gabisa apdet kilaaatttt *cry* tapi saat ini sudah kok hehe.. semoga suka yaaaaa ^^

Terimakasih sudah membaca dan mereview Faith, semoga dirimu menyukai chapter ini dan chapter selanjutnya yang akan kubuat yaa. Dan semoga tetap review hehe..

Haru Aozora : *take a bow* terimakasih atas penghargaannya (?) aku sudah lanjut.. aku sudaahh.. Seiya anak siapa hayooo? Wkwk.. sudah kejawab belum nih di chapter ini? Kalau belum sabar yaaa *plak* (Udah lama, masih ngegantungin orang lagi luh Thor!) untuk pertanyaan lainnya sabar aja, siapa tau nemu nanti di chapter selanjutnya hehe..

Terimakasih sudah membaca dan mereview Faith, semoga dirimu menyukai chapter ini dan chapter selanjutnya yang akan kubuat yaa. Dan semoga tetap review hehe..

Siucchi : Umm.. bukan dirimu yang lamban dalam memahami cerita ini Siucchi-san, tapi mungkin hal ini tejadi karena diriku yang belum bisa membuat cerita yang langsung bisa dipahami orang -_- jangan langsung spekulasi Akashi selingkuh, coba cari spekulasi lain :p (alasan luh Thor, bilang aja lagi minta ide secara implisit!) Seiya anak siapa yaaa? Wkwk.. Momoi-cchi? Bukan –ssu, bukaaann.. nanti kuberitahu yaa kalau dirimu tetap mengikuti jalan cerita Faith ^^

Terimakasih sudah membaca dan mereview Faith, semoga dirimu menyukai chapter ini dan chapter selanjutnya yang akan kubuat yaa. Dan semoga tetap review hehe..

Akashi Sorata : Sudah-ssu ^^

Terimakasih sudah membaca dan mereview Faith, semoga dirimu menyukai chapter ini dan chapter selanjutnya yang akan kubuat yaa. Dan semoga tetap review hehe..

Miku Yun : Sudah dilanjuuuuutttttttttttt... berhentilah memohon padaku Miku-san, tapi memohonlah pada imajinasiku agar mau berjalan dan membuat chapter berikutnya wkwk..

Terimakasih sudah membaca dan mereview Faith, semoga dirimu menyukai chapter ini dan chapter selanjutnya yang akan kubuat yaa. Dan semoga tetap review hehe..

Nat04otakufor : Sudah dilanjut ya Nat-san ^^ untuk jawaban atas pertanyaanmu, monggo diikuti saja jalan cerita Faith ini sampai tamat hehe..

Terimakasih sudah membaca dan mereview Faith, semoga dirimu menyukai chapter ini dan chapter selanjutnya yang akan kubuat yaa. Dan semoga tetap review hehe..