SENPAI,.. NOTICE ME!
Disclaimer By Masashi Kishimoto's
Namikaze Naruto X Hyuuga Hinata
Genre : Drama|Romance|Friendship
M
WARNING
AU,OCC,TYPOS,MATURE THEM'S,LEMON,REMAKE Etc
(FF ini Remake dari sebuah fic dengan judul serupa milik Author Nyangiku dari Fandom Bleach/screenplays yang belum pernah di bublish dimana pun)
Chapter 2
Menyadari rentetan kebodohannya, sosok itu segera menarik tangan Hinata dari belakang sebelum Hinata menyadari kehadirannya hingga Hinata terjatuh ke dalam pelukannya, ia memukul pundak Hinata tepat dititik kelemahannya untuk membuatnya tidak sadarkan diri sementara.
"Maafkan aku, Hinata-chan.." gumam sosok itu pelan sambil membawa tubuh Hinata yang terkulai lemah ala bridal style ke atas kasurnya perlahan.
Ia membuka jaketnya melemparkannya ke sembarang arah. Kemudian melepaskan topi hitam yang dari tadi membuat penampilannya misterius, hingga kini wajah tampan sosok itu terlihat jelas. Rambut blonde yang ditata berantakan melawan gravitasi, wajah datar yang berkesan keren itu kini telihat jelas walau lampu yang berada diatas kepalanya tidak cukup terang menyinari seluruh ruangan itu.
Ia mengeluarkan segulung tali tambang berwarna putih dari saku celananya kemudian mengikatkannya ke pergelangan tangan Hinata pelan-pelan. Seakan takut lengan kurus itu akan tergores oleh kukunya yang nyatanya tidak panjang. Tali itu ia ikat juga pada tiang ranjang Hinata. Bukan hanya tangan yang ia ikat, kedua pergelangan kaki Hinata pun ia ikat untuk menghindari sesuatu yang tidak ia inginkan.
Setelah ia selesai dengan tali tambangnya, ia menatap sebentar wajah Hinata yang tak sadarkan diri itu. Wajah yang tenang, pipi yang chubby, bibirnya yang ranum dan merah membuatnya tersenyum tenang. Lalu ia membelai lembut pipi Hinata. Sentuhan lembut itu seakan menyalurkan kasih sayang yang kasat mata pada Hinata. Ia membelai Hinata dengan hati-hati, seakan wajahnya itu adalah gumpalan awan di langit yang akan hancur jika di sentuh dengan kasar.
"Aku tau ini salah, tapi.. hanya dengan cara ini aku akan memilikimu seutuhnya.." ia mengakhiri kalimatnya seiringan dengan bibir tipisnya yang mendarat tepat diatas permukaan kulit leher mulus Hinata. Ia sudah menerima konsekuensi kalau-kalau Hinata akan membencinya karna perbuatan ini.
.
.
Hinata mengerjapkan kedua matanya perlahan. Berusaha mengingat-ingat yang telah terjadi padanya.
"Ng.. kepalaku pusing, apa yang terjadi? Kenapa nnghh—" belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Hinata mendesah pelan ketika merasakan sensasi geli dilehernya, benda lunak dan basah itu menari-nari dipermukaan kulit lehernya. Sesekali ada nafas hangat yang berhembus juga disekitarnya.
"Nggh.." lagi dan lagi. Hinata merasakan sensasi aneh di titik sensitifnya itu. Hingga satugerakan membuatnya memekik keras.
"NARUTO-SENPAI?! GYAAAAA!"
"Oh? Sudah sadar?" Naruto si sosok misterius itu menghentikan aktivtasnya sejenak setelah berhasil mencetak sebuah tanda kepemilikan di ceruk leher Hinata. Ia lalu duduk disamping Hinata, menyadari kalau Hinata sudah sepenuhnya sadar.
"Pundakmu pasti sakit ya? Maaf ya aku terpaksa melakukannya tadi," Hinata menghiraukan kata-kata Naruto, dan hanya menatapnya menyelidik dari atas hingga bawah. Ia kemudian melirik kedua tangannya yang entah kenapa terasa begitu sulit untuk digerakan.
Manik Ametyst itu melebar. Saat mendapati kedua pergelangan tangan hingga kakinya sudah terikat oleh tali tambang putih yang diikatkan pada tiang tempat tidurnya.
"Sstt.. tenang, jangan berontak seperti itu nanti tanganmu sakit." Naruto berbisik pelan saat ia tau Hinata hendak memberontak sesuai dengan perkiraannya. Hinata panik dan terus berusaha untuk melepaskan ikatan tangannya walaupun sia-sia yang ada malah pergelangan tangannya yang memerah. Bagaimana tidak panik saat ada seorang laki-laki didepannya dengan kedua tangan dan kakinya diikat seperti ini. Bagaimana Hinata tidak panik?!
Tangan Naruto membelai pipi Hinata pelan. Mungkin rasanya Hinata seperti mimpi diperlakukan seperti ini olehnya.
"Naruto-senpai,.. kenapa?" Hinata menatap kedua bola mata Naruto penuh tanda tanya. Ia hanya tersenyum. Senyuman yang tidak dapat ditebak apa artinya. Ia mendekatkan wajahnya yang tenang itu ke wajah Hinata kemudian.
Jarak yang sangat dekat itu seakan tidak ada penghalang. Deru nafas mereka berhembus menerpa wajah mereka masing-masing. Matanya tepat menatap kedua mata bulat Hinata. Lurus dan serius.
"Nanti kau akan tau jawabannya." pandangan Naruto kemudian beralih menatap Hinata dari atas sampai ke bawah. Matanya seperti seorang kucing yang kelaparan. Sedikit ngeri juga melihatnya begitu. Apa yang akan dia lakukan padanya pun sudah dapat Hinata tebak.
CUP!
Untuk kedua kalinya Hinata membulatkan kedua matanya yang sudah bulat sejak lahir ini, Naruto—senpainya disekolah itu baru saja—
—MENCIUMNYA?!
Dapat dilihat sorot ketidakpercayaan pada manik Ametyst Hinata. Senpai yang selama ini selalu ia amati setiap hari disekolah baru saja menempelkan bibir tipisnya yang basah itu pada bibir ranumnya.
Naruto mencium Hinata bukan hanya sekali, tapi mengecupnya berkali-kali seakan tidak mau melepaskan bibir ranum Hinata yang kemerahan dan menggodanya. Lidahnya menjilat bibir ranum itu sambil mendorong mencoba menerobos masuk ke dalam mulut Hinata, namun Hinata berusaha sekuat mungkin untuk menahannya. Menghisap bibir bawah serta atasnyanya lalu menjilat dan mengecupnya lagi. Naruto tidak menyerah, malah tangannya sekarang beralih memegangi tengkuk Hinata dan menekannya agar ciumannya menjadi semakin dalam.
"Akh!" Naruto menggigit bibir bawah Hinata cukup keras sampai tak disadari membuat mulut Hinata terbuka sedikit karna meringis. Perih sekali pastinya. Celah ini tentu saja membuat lidahnya dengan mudah memasuki mulut Hinata. Kesempatan bagi lidahnya untuk menelusuri setiap deretan gigi Hinata, lalu tak lupa ia menghisap lidah tanpa tulang itu dengan penuh nafsu.
Mungkin didalam hati Hinata tidak akan pernah menyangka kalau ciuman pertamanya ini akan 'sepanas' itu. Bahkan tahu pun tidak mengenai cara berciuman seperti ini, yang ia tau berciuman itu hanya menempelkan bibir dengan bibir lagi. Itu saja.
Seakan tidak mau kalah sekarang, dan mendapat sedikit pembelajaran dari apa yang Naruto lakukan, walaupun awalnya agak ragu, Hinata pun mencoba membalas ciumannya dan sepertinya Naruto senang dengan yang Hinata lakukan ini. Bisa dilihat disela ciuman itu bibir Naruto menyeringai tipis. Jadilah mereka saling berperang lidah dan saling balas mencium. Dengan nafsu ingin saling mendominasi. Menghiraukan wajah yang mulai memerah karna pasokan oksigen yang semakin minim juga lelehan saliva mulai menetes dan bau besi yang menyeruak dari sedikit luka gigitan yang Naruto berikan pada Hinata.
Ini bukan sekedar ciuman biasa, ini ciuman panas yang berisikan nafsu dua anak remaja.
Menyesakkan. Panas.. —Manis.
Beginikah rasanya dicium oleh orang yang kita cintai?
—Orang yang Hinata cintai lebih tepatnya.
Merasakan hembusan nafas mereka yang mulai melemah, akhirnya Naruto pun menghentikan ciumannya. Ia mengusap lelehan saliva yang berada di dagu Hinata menggunakan lidahnya sambil sedikit terengah-engah mengambil oksigen yang berterbangan diudara, begitu juga dengan Hinata.
Hinata membuang wajahnya yang sudah memerah seperti buah strawberry yang baru matang kesamping karna malu.
Awalnya Hinata pikir kalau ciuman ini akan berakhir begitu saja, namun kedua matanya kembali terperanjat saat ia lihat Naruto membuka kaos yang ia pakai hingga ini tubuh bagian atasnya terlihat jelas di mata Hinata. Perut tan kotak-kotak yang mengagumkan hasil latihan kerasnya itu kini ia perlihatkan jelas didepan Hinata tanpa penghalang.
Hinata kembali membuang mukanya malu. Ia malu melihat wajah Naruto yang tampan itu, menatapnya tanpa berkedip. Wajah yang selama ini selalu Hinata amati dengan diam-diam dari kejauhan.
Pandangan matanya kini beralih pada tubuh Naruto, tepatnya pada bagian atas tubuhnya. Hingga tanpa Hinata sadari tangan Naruto kini sudah berada di kancing paling atas baju kemeja tipis tanpa lengan yang ia pakai.
Seakan Hinata tau arahnya akan kemana, jangan bilang kalau—
"Jangan memasang wajah tegang seperti itu, aku tidak akan menyakitimu kok." Naruto berbicara dengan tenangnya tapi tatapan kedua matanya jelas tidak berisi ketenangan. Walaupun wajahnya berubah menjadi agak hangat sekarang.
Ia membuka kancing kemeja transparan tanpa lengan yang Hinata kenakan satu persatu. Dengan mudah tanpa perlawanan tentu saja karna kedua tangan Hinata yang terikat. Hinata terlihat sangat malu, amat sangat malu dan takut. Seperti terhipnotis oleh tatapan matanya, Hinata hanya diam saja tidak menolak atau minimal sedikit bergerak untuk mempersulit gerakannya Naruto.
Mulutnya bisa saja berteriak tapi entah kenapa otak dan tubuhnya tidak mendukungnya. Bahkan ia tidak memberontak untuk melepaskan ikatan di tangannya lagi. Entah karena tenaganya yang mulai terkuras oleh ciuman tadi atau mungkin karena pasrah.
Tubuh bagian atas Hinata kini sudah terlihat oleh mata Naruto. Hanya sepotong bra berwarna biru muda dengan hiasan renda dan pita yang masih melekat menutupi kedua dadanya. Perut rata nan mulus tanpa noda. Rasa malu Hinata semakin bertambah saja dengan keadaannya yang setengah telanjang begini dan ditatap orang seorang laki-laki.
"Aku tau kau selalu memperhatikanku saat jam istirahat dari bangku taman itu," ucapannya itu membuat mata Hinata melotot. Bagaimana mungkin dia bisa tau?
"Aku juga tau setiap pulang sekolah kau juga suka memperhatikanku dari balik pohon dekat pagar sekolah," bagaimana dia bisa tau lagi? bukankah Hinata sudah sangat berhati-hati. Dia sangat yakin tidak ada seorang pun yang mengetahui kebiasaannya—kecuali Sakura dan Ino tentunya.
Hinata menggelengkan kepalanya berkali-kali kesamping sambil terpejam takut. Saat Naruto menyentuh dagunya lalu mengarahkan wajahnya mendekati Hinata.
"Bagaimana aku bisa tau? Itu kan pertanyaan yang ada dipikiranmu?" tanyanya dengan nada suara yang lirih. Hinata mengangguk pelan dengan hati-hati. Jujur, walaunpun Hinata sudah lama menyukai senpainya itu, namun jika dihadapkan pada situasi begini ia pun akan merasa takut dan terancam.
"Ayolah jangan buat suasana ini menjadi tegang," Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kebiasaannya yang selalu tidak sadar sering ia lakukan kalau sedang gugup. Itu lah yang membuatnya sedikit lucu membuat Hinata tersenyum kecil.
Tapi kemudian Naruto menyeringai. Hinata sungguh tidak mengerti kenapa perubahan ekpresi wajahnya Naruto bisa secepat itu. "Aku bisa tau, karna aku juga selalu memperhatikanmu tanpa kau ketahui." Naruto meremas dada Hinata yang masih terbungkus bra perlahan. Membuat nafas Hinata tercekat dan mendesah tertahan.
"Nghh.."
Kini ia menyerang leher Hinata lagi, sama seperti saat pertama kali Hinata sadar dan mendapati Naruto sedang menikmati lehernya. Menghirup aroma segar dari buah strawberry yang menguar dari ceruk lehernya. Menciumnya, menghisapnya lalu menjilatnya hingga tanda kemerahan hingga keunguan muncul disana menyisakan rasa perih dan geli pada tubuh Hinata. Hingga desahan yang tidak pernah terpikirkan oleh Hinata keluar begitu saja tanpa diperintahkan.
Ia melakukannya berkali-kali hampir disemua leher Hinata tak luput dari tanda kepemilikannya itu. Hinata hanya bisa menggelengkan kepalanya berusaha untuk melepaskan diri dan tidak mengeluarkan desahan seksi lagi, yang akan membuat Naruto semakin bernafsu menyerangnya.
Hinata terus berusaha bergerak untuk melepaskan diri, Naruto yang menyadarinya malah meremas dada kiri Hinata cukup keras, "Ahh.." hingga Hinata mendesah lagi dibuatnya. Desahan rasa sakit bercampur geli.
Naruto menatap Hinata tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ia kembali menyerang bibir merah yang membengkak akibat ciuman panasnya tadi. Menciumnya dan menghisapnya, tanpa perlawanan Hinata kali ini. Ia hanya pasrah menerima bibir tipis yang terus mendominasi seakan bibir ranum dan segar beraroma strawberry itu miliknya seorang. Tanpa disadari satu tangannya sedang berusaha mengeluarkan bola bulat kenyal milik Hinata untuk keluar dari sarangnya.
Sedangkan satunya lagi bergerilya didaerah punggung Hinata, mengusap-usapnya seperti mencari sesuatu sampai tangannya itu bergerak dua kali. Saat tangannya berhenti bergerak, Hinata merasakan nafas lega yang dari tadi menjepitnya.
Posisi Hinata sekarang memalukan sekali, ia sudah berhasil melepaskan penghalang yang menutupi dada Hinata. Menarik talinya sampai putus lalu melemparkannya entah kemana. Tangan besar dan lebarnya itu merengkuh dua benda bulat itu gemas. Kini bagian atas Hinata benar-benar sudah tidak ada sehelai benangpun. Polos dan menantang Naruto memaksa tenggorokannya menelan ludah menahan nafsunya yang sedang berusaha ia tahan untuk tidak berbuat ganas.
Tak menyiakan dua benda kenyal didepannya itu, Naruto menekan puncak salah satu dada Hinata yang berwarna kecoklatan itu perlahan dengan jari telunjuknya yang agak kasar itu karna yang Hinata tau, Naruto itu mahir memainkan gitar. Membuat tubuh Hinata menggeliat kegelian. Benar-benar merasa kegelian. Puncak itu mengeras tanda kalau Hinata sudah mulai terangsang.
Tangan yang satunya meremas dada Hinata yang lain. Benar-benar sudah hilang akal.
Hinata hanya bisa bergerak-gerak gelisah karna kegelian. Bibirnya sengaja digigit agar tidak mengeluarkan desahan lagi.
Lalu tiba-tiba wajah datar Naruto mendekati kedua dada yang ukurannya agak membesar dari ukuran normalnya karna terangsang hebat. Bibirnya mendekati yang sebelah kiri, ia mencium puncaknya lalu mengulumnya pelan dengan sengaja seperti seorang bayi yang baru lahir sedang mencari sumber makanan utamanya.
"Shh.. ahh.." tanpa disadari Hinata mendesah karna ulahnya ini. Itu adalah daerah paling sensitifnya, mana mungkin ia bisa menahannya untuk tidak mendesah. Apalagi Naruto mengulum puncak itu lagi sambil memutar-mutar lidahnya dan memakannya, ia mengigit-gigitnya pelan lalu menghisapnya kuat-kuat.
"Akhh.."
Rasa gelinya sampai membuat Hinata seakan merasakan mau pipis.
Naruto terus mencium, mengulum lalu mengisap kedua puncak itu bergantian seolah ia kehausan sampai mereka memerah dibuatnya. Ia juga menggigit-gigit pelan setiap kelilingnya dan meninggalkan tanda merah hampir keunguan disana. Kissmark yang sama seperti yang ada dileher Hinata.
Dari wajahnya bisa dilihat kalau Hinata sudah tidak tahan lagi!
Setelah lama bermain-main dengan kedua dada yang menggoda itu, kini tangannya beralih ke daerah paha Hinata. Telapak tangannya menyentuhnya lalu mengusapnya pelan. Geli. — Sama seperti sentuhan-sentuhan yang sebelumnya.
Hinata tidak bisa memberontak karna kakinya diikat, ingat? Ia hanya bisa menggerakkan kakinya dengan cara menekuk dan seolah menendang sambil menahan rasa geli yang menjalar.
Tangannya perlahan naik kebagian atas, kedua mata tajamnya lurus tertuju pada gundukan yang berada diantara paha Hinata. Tanpa aba-aba ia lalu membuka resleting celana jins pendek yang di pakai Hinata. Menariknya kebawah dengan cepat memperlihatkan celana dalam berenda berwarna senada dengan branya diatas sana.
Naruto menatapnya sebentar, menerka-nerka bagaimana wujud dibalik secarik kain tipis itu lalu mengusapnya perlahan. 'Arrghhh!' Terlihat dari wajah Hinata kalau ia ingin berteriak dengan keras tapi tidak bisa karna seluruh tubuhnya berkata lain. Ia berharap lebih dari sentuhan-sentuhan Naruto.
Habislah sudah Hinata sekarang. Tangan lebar Naruto kini sudah menarik satu-satunya benda yang menutupi bagian paling rahasianya itu yang bahkan selama bertahun-tahun hanya Hinata saja yang boleh melihatnya. Dan sekarang malahan seluruh tubuh polosnya bahkan terlihat jelas oleh kedua mata tajam Naruto.
Rasanya Hinata ingin menangis saja. Rasa malunya benar-benar begitu membuatnya ingin menangis. Ia ingin menolak semua yang dilakukan Naruto karna ia tau ini semua tidak pantas, tapi entah kenapa ia tidak bisa melakukannya.
Naruto mulai lagi, bagian segitiga itu perlahan diusapnya dengan jari-jarinya seakan menggoda bagian sensitive itu. Bahkan kini jari-jarinya itu mencoba membuka celahnya untuk masuk ke dalamnya dan menusuk-nusuknya mencari sesuatu disana.
Hinata benar-benar merasakan kalau ia seperti mau pipis tapi tidak jadi. Rasa sakit dan perih akibat perbuatan jari-jari nakal Naruto membuatnya tersentak menahan sakit.
Jari nakalnya itu sekarang memainkan benda bulat kecil yang berada disana, ia tekan, ia usap, ia tusuk.
"Akhh.. nghh.. ahh" walaupun sakit tapi kenyataannya Hinata mendesah lagi. Sial. Dibawah sana gelinya melebihi semua yang Naruto lakukan tadi padanya. Ia bahkan tidak ingin Naruto menghentikan aktivitas yang sakit sekaligus nikmat itu.
Hinata mendesah hingga sesuatu yang basah dan hangat perlahan keluar sedikit dari sana. 'Sepertinya aku pipis' begitulah pikir Hinata, Tapi Naruto menghiraukannya. Ia kembali menusuk-nusuk jarinya itu sampai masuk kedalam lubang kecilnya. Keluar lalu masuk lagi. Begitulah perbuatan jarinya.
Kali ini Hinata hanya bisa terengah-engah mengambil nafasnya. Ia sudah terangsang hebat dan berantakan, akal sehatnya sudah hilang. Setelah berapa lama dan dirasa dibawah sana semakin basah Naruto pun menarik jarinya keluar. Hinata sempat kesal juga karna Naruto melakukannya tiba-tiba, padahal ia sedang menikmatinya.
Apa katanya?
Hinata menikmatinya?
Akal sehatnya sudah hilang total. Sekarang ini cuma ada nafsu.
"Naruto-senpai, ku mohon jangan.." Hinata menatap Naruto dengan tatapan takut dan memelas. Tangan Naruto kini sedang melepaskan ikatan yang mengikat kedua pergelangan tangannya. Ini benar-benar salah, seharusnya Naruto tidak melakukan hal buruk ini pada Hinata. Walaupun Hinata sangat mencintai laki-laki berkepribadian ganda itu. Namun kalau begini caranya itu sama saja ia telah dilecehkan.
Dengan tenaga yang sudah tinggal sedikit akibat ciuman panas yang terjadi berkali-kali juga rangsangan dari tangannya yang terus menggerayangi bagian-bagian sensitive ditubuh ikatan terlepas pada kedua tangan dan kakinya, Hinata mencoba untuk mundur menghindari Naruto agar Naruto tidak menyentuhnya lagi tapi ia akan pergi kemana? Dibelakangnya tidak ada celah lagi ditambah tangan Naruto yang menarik tangan Hinata kasar sehingga membuat Hinata semakin dekat dengannya.
Rasa takut dan bahagia berkecamuk didalam hati Hinata.
Takut karena kesucian yang selama ini sudah ia jaga dengan hati-hati akan diambil.
Tapi tidak dapat dipungkiri, Hinata bahagia karna nyatanya orang yang ia cintai yang kini ada didepannya inilah orang yang akan mengambilnya. Dan ini bukan mimpi, ini nyata. Tanpa Hinata pernah duga sebelumnya. Terpikir pun tidak pernah. Bahkan untuk membayangkan adegan nakal seperti yang sedang terjadi sekarang pun ia tidak berani.
Naruto menatap kedua mata sayu Hinata dalam, sambil kedua tangannya membuka kedua paha Hinata agar semakin lebar. Jari tangan nakalnya kembali menusuk-nusuk lagi bagian sensitive disana, membuat Hinata merasakan lagi sensasi geli yang aneh tadi sempat ia rasakan, walau agak sakit karna ia melakukannya terus menerus tanpa ampun.
"Aku tau pasti kau takut padaku, atau bahkan akan membenciku karna perbuatanku ini. Tapi hanya dengan inilah aku akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya dan tidak akan pernah kulepaskan."
Hinata kaget mendengar kata-katanya itu. Ia mau menjadikan Hinata miliknya seutuhnya? Apa Tuhan sudah mengabulkan doa Hinata selama ini? —
Tidak. Bagaimanapun ini tidak benar, Naruto sedang memperkosanya sekarang walau bagimana pun Hinata mencintainya, ini tetap saja salah. Ini terjadi bukan atas dasar cinta seperti yang selama ini Hinata pegang teguh 'Seks atas dasar cinta' ini jelas harus segera diakhiri. Kalau tidak, bagimana jika Naruto meninggalkannya setelah ini?
Hei, jangan lupakan sosok Shion-senpai yang selalu lengket dengannya setiap hari. Bisa saja kan Hinata hanya sebagai pelampiasannya sesaat? Atau bisa saja saat ini Naruto sedang dalam pengaruh obat atau mabuk, kan?
Sementara Hinata sedang kalut dengan alam pikirannya, Naruto sedang membuka celana jins selutut yang ia pakai. Hinata memejamkan kedua matanya takut, seharusnya ia bisa memberontak sekarang, seharusnya ia bisa melawan dan kabur. Tapi entah kenapa sisi lainnya berkata 'jangan lari'.
Hinata membuka matanya yang berkaca-kaca dengan pemandangan Naruto yang sedang memegang miliknya yang kini sudah menegang dan keras sempurna, berdiri tegak lurus dengan sedikit cairan yang menetes-netes berada tepat didepan lubangnya. Bersiap untuk memasukinya.
Air matanya tidak dapat ia bendung lagi. Orang yang dia cintai selama ini. Orang yang bahkan tidak pernah meliriknya ini mau menjadikannya miliknya?
Tapi, kenapa?
Rasa takutnya perlahan sedikit hilang mendengar kalimat Naruto tadi.
"Dan dengan ini aku akan mengungkapkannya, aku mencintaimu Hinata —unghh.." Naruto mengesek-gesek miliknya didepan lubang milik Hinata pelan kemudian mendorongnya perlahan. Matanya sedikit terpejam menahan rasa takut yang melandanya. Ia tidak bisa lagi lari sekarang kalimat Naruto barusan yang mengatakan kalau ia mencintainya membuat Hinata seolah pasrah.
"Akhh.. sakit.." Hinata meringis saat benda tumpul milik Naruto itu menusuk dan masuk kedalamnya dengan keras tapi tidak masuk sepenuhnya seperti tertahan oleh sesuatu didalam sana. Ia bahkan tidak habis pikir kalau lubang kecilnya itu bisa dimasuki oleh milik Naruto yang besarnya tidak pernah terbayangkan.
Naruto terdiam menarik nafasnya pelan. "Sudah kuduga ini pasti pertama kalinya bagimu kan? Kau sempit sekali, Hime." ujarnya pada Hinata. Hinata hanya mengangguk pelan sambil menahan rasa perih dan panas dibawah sana. Naruto mengusap surai Hinata penuh kasih sayang membuatnya agak terbuai karenanya.
Naruto menarik keluar lagi miliknya sambil menarik nafasnya perlahan. Membuat Hinata agak sedikit bingung. Mungkin ia tidak jadi melakukannya mungkin karena kesempitan. Sebelah tangannya meraih pinggang ramping Hinata agar lebih mendekat dengan tubuh kekarnya, membawa kedua tangan kurus Hinata agar melingkar di lehernya.
Hinata menarik nafasnya. Tenang. Bersyukurlah karna Naruto tidak jadi melakukannya.
"Gigit pundakku untuk meredam rasa sakitnya." ucap Naruto lirih.
Belum sempat ia menghembuskan nafas leganya, Naruto sudah mendorong miliknya lagi dengan keras satu hentakan tanpa aba-aba ke dalam sana dan—
JLEB
"AKHHHHHH!"
_TO BE CONTINUE_
Special Thanks buat yang udah nyempetin review.^^ |ini Bonus buat pembaca pertama^^
Lumayan banyak y nanya soal inisial 'SH'
SH sendiri bukan singkatan dari karakter y ada di Fic ini kok, SH disini kepanjangan dari 'Scandal Heaven'^^
Pairingnya gak Misteri kok,Cuma akunya y Lupa nyantumin karakternya^^
Narutonya gak letoy kok di sini,… Cuma —agak gemulai ..#plak #abaikan
Nah udah tau kan siapa yang masuk!^^
Pairingnya ttp NaruHina^^ #HappyNaruHinaSEJATI
Narutonya gak cuek kok …Cuma agak Ambigu.. 11,12 lah sama karakter Hinata di sini .
Masalah Update cepet,happy gak janji yah tpi bisa diusahakan^^ y pasti tiap minggu Up kok^^
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya^^
