SENPAI,.. NOTICE ME!

Disclaimer By Masashi Kishimoto's

Namikaze Naruto X Hyuuga Hinata

Genre : Drama|Romance|Friendship

M

WARNING

AU,OCC,TYPOS,MATURE THEM'S,LEMON,REMAKE Etc

(FF ini Remake dari sebuah fic dengan judul serupa milik Author Nyangiku dari Fandom Bleach/screenplays yang belum pernah di bublish dimana pun)


Chapter 3

.

.

.

"AKKHH…!." teriakan Hinata tidak dapat ditahan lagi. Ia berteriak cukup keras mungkin sampai menggema di seluruh kamarnya yang luas. Ia lupa tidak mendengarkan apa yang Naruto katakana barusan untuk menggigit pundaknya. Matanya yang sejak tadi terpejam kini membulat sempurna. Air matanya sekarang jatuh perlahan. Walaupun agak telat, kemudian Hinata pun menggigit pundak Naruto. Membuat Naruto meringis. Bagian bawahnya merasakan rasa hangat dan nikmat sedangkan dibagian pundaknya merasakan sakit yang teramat. Bisa dipastikan mungkin pundaknya akan berdarah atau minimal akan memar akibat gigitan Hinata.

Namun itu semua tentu tidak sebanding dengan rasa sakit yang Hinata rasakan disekujur tubuhnya.

Terlambat untuk lari sekarang. Ia sudah memasukinya sekarang. Naruto sudah berada didalam Hinata dengan sempurna. Hinata bisa merasakan dengan jelas benda keras dan tumpul serta besar itu memenuhi lubang miliknya.

Rasanya penuh. Sakit. Perih dan panas. Seperti terkoyak oleh benda tajam yang besar.

"Ugh.. Ini juga pertama bagiku." Naruto mendesah pelan menahan sensasi lubang hangat yang menjepit miliknya begitu erat. Menatap Hinata sambil tersenyum, Ia memeluk Hinata erat dan mengecup kedua matanya yang mengeluarkan air mata kebahagiaan bercampur dengan rasa sakit. Lalu ciumannya itu ia sematkan juga di pipi, kening, hidung bahkan hampir diseluruh wajah Hinata untuk membuatnya tenang dan berhenti menangis.

Sebelah tangannya meremas dada kiri Hinata pelan. miliknya seakan memenuhi lubang milik Hinata dan berkedut didalamnya. Kejantanannya itu terlalu besar memenuhi lubang sempit Hinata yang baru saja ia perawani. Seakan bagian bawahnya terbelah menjadi dua.

Rasa sakit dan panasnya semakin terasa. Hinata juga merasakan keringatnya mengucur deras karna menahan sakit. Lalu kedua mata bulatnya melihat lelehan darah segar yang lumayan banyak mengalir di pahanya. Sudah dipastikan selaput itu, pertahanan terakhirnya sudah sobek oleh Naruto. Kesuciannya hilang dan sudah menjadi milik Naruto. Hinata ingin meronta tapi rasanya lemas sekali. Ia hanya bisa meringis dan diam menahan rasa sakit yang masih menjalar. Kedua tangannya memegang pundak Naruto erat, tanpa ia sadari.

.

"Aku tidak akan bergerak sampai kau menyetujuinya." mengetahui bahwa Hinata sedang menahan sakit dibawah sana. Naruto hanya diam memeluk Hinata seperti ini. Sensasi aneh yang Hinata rasakan. Mereka berpelukan sedekat ini tanpa ada pembatas diantara kulit mereka.

Setelah rasa sakit dan perih itu perlahan hilang, Hinata menggangguk untuk menyetujui pergerakan Naruto selanjutnya. Mau di akhiri pun ini semua sudah terlanjur terjadi, semua tidak akan pernah kembali lagi seperti semula. Hinata juga sudah tidak dapat lagi menahan semua perasaan yang menggebu di dalam dadanya.

"Terima kasih," Naruto berbisik pelan di telinga Hinata membuatnya merinding. Dengan cepat ia menarik miliknya itu keluar lalu memasukannya lagi. Rasanya tidak dapat diungkapkan melalui sebuah kalimat. Ia menggerakkan miliknya itu keluar masuk dengan pelan penuh kesabaran. Ia memompanya lembut agar tidak menyakiti Hinata. Padahal tadinya Hinata pikir Naruto akan mengasarinya mengingat ini adalah sebuah pemerkosaan—awalnya.

Nafas mereka terengah-engah. Sesekali meleguh nikmat dan saling mengeluarkan desahan masing-masing disepanjang gerakan yang perlahan mulai semakin liar itu.

Dengan ini mereka sudah bersatu. Seluruh tubuh mereka sudah menyatu dengan utuh.

Rasa gatal sekali dibawah sana. Geli, dan sakit namun nikmat yang Hinata rasakan benar-benar membuatnya gila.

"Akhh.. ngghh.. le—lebihh cepathh Naru.. hhh.. sen.. pai hh.." tanpa Hinata sadari mulutnya bahkan mengeluarkan kata seperti ini. Kalau dalam kondisi normal mungkin ia akan berpikir dua kali untuk mengatakannya.

"Baikhh lahh.. uhh.." Naruto tersenyum lalu mencium bibir ranum itu sebentar menarik sedikit miliknya lalu menusukkannya lagi lebih dalam lagi dari sebelumnya. Mencari-cari titik yang benar-benar akan membuat Hinata mendesah lebih keras. Naruto juga bergerak lebih cepat lagi dari sebelumnya sampai-sampai ranjang berukuran sedang itu bergerak-gerak dan spreinya berantakan. Keluar lalu masuk, terus begitu tidak kenal lelah.

Memang tidak di pungkiri. Rasanya bagaikan terbang ke langit ke tujuh seperti kata orang-orang yang pernah melakukannya. Memang awalnya sakit, namun lama-kelamaan rasa itu hilang begitu saja tergantikan oleh rasa nikmat yang tidak dapat diungkapkan.

Bibir Naruto kini beralih lagi ke dada Hinata, ia mengecup puncaknya lagi bergantian. Sebelah tangannya sambil meremas-remas dada Hinata yang lain. Ia mencium lalu menghisapnya hingga tanda kemerahan yang sama seperti yang tercetak di leher Hinata muncul lagi. Semakin banyak dan terus bertambah seakan ia sedang membuat sebuah lukisan disana.

Hinata benar-benar sudah terbawa masuk ke dalam surga dunia yang Naruto bawa. Ia terbuai oleh permainan Naruto.

"Nggh.. ahh.. Naruu..to.. hhh senpaihh—AKHH!" Hinata mendesah keras saat milik Naruto menyentuh titik paling sensitifnya didalam sana. Naruto yang menyadari itu semakin gencar lagi menghentak-hentakkan miliknya.

"Kenapa? Hmm? Ahh—kau menikmatinya bukan?" Hinata mengangguk malu. Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin ia berbohong? Lihat saja tubuhnya yang tersentak-sentak dan bibir ranumnya yang tidak henti-hentinya mendesah-desah dan menggema dikamarnya yang sunyi. Dibawah lampu redup yang tidak cukup terang menerangi mereka berdua.

"D—disanahh.. akkh..ahh"

Naruto menyeringai setelah mendapat titik g-spot Hinata. Membuatnya terus bergerak kali ini lebih cepat lagi dari sebelumnya. Hingga Hinata merasakan sesuatu didalam dadanya, seperti akan meledak-ledak. Ditambah bibir Naruto yang kini kembali melumat bibir Hinata yang sudah sangat membengkak kemerahan. Sensasi nikmat yang menjalar diseluruh tubuhnya membuatnya sampai lupa diri.

"Akkhh.. akhh.. ngghh.. Naruu ahh. senpaihh aku hh.. mauu—akhh.." Naruto mengusap pipi Hinata pelan sambil bergerak dengan tempo makin cepat.

"Sebut namaku, Hime.. unghh.." sepertinya ia juga merasakan sesuatu hal yang sama seperti Hinata. Miliknya semakin berkedut-kedut didalam Hinata. Lubang itu seperti menghisap-hisap kejantanan Naruto untuk masuk semakin dalam.

"Naru..too.. ahh.. akh.. arrrggh..AHHH.."

"Hinata….. a—ahhh.."

Kepalanya yang sempat merasakan sedikit pusing kini hilang begitu saja terganti oleh rasa lega yang merasuki seluruh tubuh Hinata. Seakan tubuhnya menjadi begitu ringan lalu terbang. Berkedut-kedut dengan cepat lubang sempit itu juga kejantanan didalamnya. Mereka sampai titik tertinggi bersamaan dan selesai bersamaan pula. Hinata merasa seperti mengeluarkan sesuatu yang banyak dan hangat. Juga milik Naruto memuntahkan sesuatu yang hangat berkali-kali, sangat keras dan banyak didalamnya. Rahimnya seakan penuh. Membuat Hinata sedikit berjengit. Cairan yang Naruto keluarkan begitu hangat dan mengeluarkan bau yang khas yang belum pernah Hinata cium sebelumnya.

Tubuh Naruto ambruk diatas Hinata sambil memeluknya begitu erat. Menghirup aroma strawberry yang berkeringat dan hangat itu.

Sedangkan Hinata hanya diam sejenak menikmati sisa-sisa kenikmatan yang telah mereka lalui bersama. Milik Naruto yang perlahan melemas masih berada didalamnya dapat Hinata rasakan, lubangnya juga masih terasa berkedut dan hangat. Tidak lama Naruto melepaskan pelukannya lalu berbaring disampingnya.

"Dengarkan baik-baik. Aku hanya akan mengatakannya sekali," ia berbisik ditelinga Hinata pelan. Hinata hanya diam mendengarkan. Ia sudah siap dengan apa yang akan dikatakan Naruto. Sekalipun itu sesuatu yang akan menyakitkan hatinya.

.

"Aku mencintaimu Hinata Hyuuga. Dan sekarang kau sudah menjadi milikku untuk selamanya. Jadi tidak perlu lagi memperhatikanku dari kejauhan." Hinata tersentak oleh kalimat yang baru saja meluncur dari bibir tipis Naruto. Air matanya rasanya seperti mau jatuh lagi. Hinata kemudian bangun dan meletakkan kedua tangannya diantara kepala Naruto. Membuat Naruto yang sedetik lagi akan memejamkan kedua matanya tersentak kaget. Hinata menatap kedua mata biru Naruto dalam, membuat Naruto seakan tersedot masuk ke dalamnya.

"Aku juga mencintaimu senpai — sangat mencintaimu." Hinata mendekatkan bibir merahnya lalu mencium bibir Naruto dengan ragu-ragu namun kemudian Naruto menarik kepala Hinata hingga ciuman itu semakin dalam. Dan berakhir dengan ciuman panas.

Sedangkan di sisi lain, didalam tubuh Hinata, ia merasakan cairan Naruto yang berada didalamnya meleleh keluar melewati pahanya. Cairan putih dan kental dengan bau yang khas. Ada pula yang bercampur dengan darahnya yang ternyata masih tersisa. Hinata memperhatikan cairan dipahanya.

Hingga akal sehatnya yang yang mulai pulih menyadarkannya kalau Naruto-senpainya tadi itu—

"TIDAAAAAK!" Hinata berteriak histeris setelah menyadarinya. Naruto mengeluarkan cairan miliknya didalam rahimnya!

.

.

Naruto memeluk tubuh polos Hinata dari belakang dengan erat. Kali ini Hinata benar-benar merasakan sakit yang mendalam. Hatinya rasanya hancur berkeping-keping seperti kaca yang dipecahkan lalu diinjak sampai remuk.

Kenapa Naruto-senpainya begitu tega kepadanya?

Kenapa dia melakukan ini padanya?

Kenapa ia merebutnya? Apa yang selama ini Hinata jaga baik-baik dan hati-hati.

Yang Hinata lakukan sekarang hanya menangis terisak. Semua sudah terjadi. Sekali lagi— semua tidak akan pernah kembali seperti semula selamanya. Sedangkan Naruto hanya bisa terdiam memeluk Hinata. Mencoba menenangkan tubuh kurus Hinata yang bergetar. Ia mencoba untuk mencium Hinata. tapi disambut dengan Hinata yang membuang mukanya kesamping. Yang ada Hinata malah semakin menangis. Hei— sebenarnya Naruto juga merasa bersalah dan frustasi. Bagaimana tidak, Hinata sudah menangis sesegukan tanpa henti selama 3 jam! Sedangkan Naruto sudah sangat lelah akibat aktivitas panas mereka tadi dan ia hanya ingin tidur sekarang juga.

Lagipula, apa yang dapat dia lakukan sekarang? Tidak ada kan?

Mungkin dia juga sedang merasa bersalah sekarang atas perbuatannya— Mungkin.

"Aku akan pastikan kalau kau tidak akan hamil seperti yang kau takutkan," Hinata menghentikan tangisnya. Lalu terdiam. Bagaimana dia bisa tau kalau yang Hinata takutkan itu adalah hamil? Padahal bukan itu yang ia takutkan—Sebenarnya.

"Aku berjanji." Naruto berkata lagi dengan yakin. Hinata masih belum meresponnya. Bahkan ia malah mau menangis lagi ditandai dengan nafasnya yang sesegukan.

"Ayolah Hinata, jangan takut padaku. Sejak awal aku melakukan ini padamu, kau terus saja diam. Padahal biasanya kan kau itu berisik sekali," Hinata melepaskan pelukan Naruto lalu berbalik dan menatap wajahnya sebal.

"Aku tidak berisik tau!" ia memanyunkan bibir nya kesal. Bisa-bisanya Naruto bergurau disaat seperti ini. Disaat menyakitkan begini.

"Kau itu selalu berisik setiap melewati kelasku bersama temanmu si Inah atau siapapun itu namanya," Naruto mencubit hidung Hinata gemas. Hinata mendengus kesal.

"Ino," jawabnya singkat. Lalu menepis tangan Naruto dari hidungnya. Ia kesal karena nama sahabat baiknya diganti seenaknya.

"Iya itu lah. Jadi, percaya lah padaku mulai dari sekarang. Aku akan selalu menjagamu, aku tidak akan menyakitimu." mata birunya menatap Hinata lekat. Ia bersungguh-sungguh.

Hinata tersenyum lega lalu memeluknya.

.

"Aku percaya." jawabnya singkat. Naruto kemudian membalas pelukan Hinata dengan erat seakan tidak ingin berpisah dengan gadis yang ia cintai ini walau hanya sekejap. Entahlah apa lagi yang membuat Hinata percaya padanya.

'Malam ini seperti mimpi. Dia datang lalu menyatakan cintanya kepadaku. Bahkan sampai berani melakukan hal terlarang itu. Kalau ini mimpi aku tidak ingin bangun. Karna ini bukan mimpi, aku tidak ingin tidur. Aku ingin terus bersamanya seperti ini.' Hinata memejamkan kedua matanya dengan tenang dalam pelukan hangat Naruto.

Dan akhirnya Mereka pun dapat tertidur dengan tenang dan nyenyak.

.

.

.

Sudah dua hari berlalu sejak kejadian yang di alami Hinata malam itu. Ia masih gelisah memikirkan nasibnya sekarang bagaimana. Naruto baru saja pulang kerumahnya, sejak kejadian itu Naruto menginap dirumah Hinata dan tentu saja selama dua hari itu mereka melakukan hal terlarang itu lagi berkali-kali.

Besok hari senin dan saatnya ia masuk sekolah dan melakukan kegiatan seperti biasanya, dan besok malam juga kedua orang tuanya akan pulang dari kediaman utama keluarga Hyuuga.

Hinata mengusap tanda kemerahan yang tercetak di atas dadanya. Ia menatap refleksi dirinya dicermin. Ia menutup keran wastafelnya yang masih menyala sejak tadi. Mau dicuci berapa kalipun tidak akan hilang kalau cuma dengan air.

"Bagaimana aku menutupi ini semua?" untung saja tanda kemerahan yang ada dilehernya hanya beberapa dan sudah hilang. Naruto-senpainya lebih menyukai mencium dadanya dibanding lehernya. Hinata menghela nafasnya lega.

.

Tiba-tiba layar ponsel yang ia letakkan disamping wastafel menyala, menunjukkan sebuah pesan telah diterimanya.

From : Naruto-senpai

'Besok temui aku di taman belakang sekolah di jam istirahat.'

.

.

.

Esoknya

"Hinata-chan! Mau berangkat sama-sama tidak?" suara dengan nada tinggi terdengar berisik didepan rumahnya membuat Hinata yang sedang memakai sepatu di tangga terpeleset karna kaget. Untung saja ia tidak sampai jatuh berguling-guling dianak tangga yang berjejer mulai dari pintu rumahnya sampai ke bawah—pintu gerbang rumahnya.

Setelah selesai mengunci pintunya, sosok gadis dengan model rambut diikat Pointail pun terlihat didepan pagar rumah Hinata. Gadis itu tersenyum lebar pada Hinata. Senyumnya yang seperti biasa, kalau ia tersenyum begini itu tandanya ia masih waras.

"Sakuranee mana? Kok tidak bersamamu?" tanya Hinata saat dilihatnya sosok Sakura yang biasanya berada disebelah Ino sambil memasang wajah kesal tidak ada. Hinata melirik ke arah bangunan disebelah rumahnya tepat ke arah jendela kamar Sakura. Keliatannya disana sepi.

"Hoo.. Si jidat jalan tol itu tadi—"

DUAAK!

Belum juga menyelesaikan perkataannya, Ino kini sudah jatuh tersungkur di atas aspal akibat pukulan dari tas milik Sakura. Hinata hanya bisa mengusap dada karna kaget oleh serangan Sakura yang tiba-tiba itu.

"Ohayou Hinata-Chan!" sapa Sakura sambil tersenyum manis seperti biasa.

"Dasar kejam! Bisa-bisanya tersenyum manis seperti itu sedangkan aku sedang menderita seperti ini," ucap Ino dengan nada lebaynya. Ia sedang berusaha bangkit mengusap bibirnya yang baru saja mencium aspal pagi hari.

"Ah! Hinata-chan, sebaiknya kita bergegas saja firasatku mengatakan bahwa hari ini ada orang gila yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa," dengan wajah datarnya, Sakura menarik tangan Hinata untuk meninggalkan Ino sendirian.

"He? Memangnya ada orang gila yang keluar dari rumah sakit di pagi hari?" tanya Ino kebingungan. Tanda tanya besar keluar dari dalam kepalanya.

Sakura dan Hinata menoleh bersamaan sebentar, "Ada. — Kau!" ucap mereka bersamaan lalu berlari meninggalkan Ino dengan loading prosesnya yang lama.

Sakura dan Hinata tertawa terbahak-bahak sambil berlari. Sedangkan Ino yang baru sadar kalau dirinya sudah dikatai hanya bisa mencak-mencak.

"Heiiiiii tunggu Ino si cantik ini dong!" Ia kemudian berlari dengan kencang mengejar Sakura dan Hinata yang sudah berada jauh didepannya.

.

.

JDUUK!

"Aduh.. Sakit. Maaf maaf Ino yang cantik ini tidak sengaja," Ino berlari terlalu cepat tanpa melihat didepannya ada seseorang yang sedang berjalan searah dengannya. Ia tidak sengaja menabrak orang itu dari belakang. Tidak terlalu keras sih, cuma itu cukup membuat orang yang ditabrak itu menoleh kepadanya.

"Eh? Inah?.. Tidak apa-apa kok," orang itu menoleh lalu melihat Ino yang sedang membungkukkan badannya meminta maaf.

Ino berhenti seketika, seperti mengenali suara berat yang berucap barusan. "Inah? Siapa Inah? HEE?!" Ia membulatkan matanya ketika didapati sosok Naruto dan Shion dihadapannya.

"Senpai memanggilku apa tadi?" tanya Ino dengan tampang polosnya. Ia mengorek telinga berkali-kali. Tanpa memperdulikan Shion yang sedang melihatnya dengan tatapan dingin. Bisa jadi ia salah dengar barusan, —jujur saja sepertinya ia lupa membersihkan kotoran telinganya kemarin.

"Inah. Namamu Inah kan?" Naruto menggaruk pundaknya yang tidak gatal. Ia sedang berusaha mengingat nama Ino.

"Oh my good! Naruto-senpai yang keren, tidak untuk Shion-senpai yang ada disebelahnya. Namaku adalah Ino, huruf 'I' ditambah huruf 'N' dan 'O', jadi I-n-o." Ino menatap sinis Shion didepannya. Ia memang tidak suka pada Shion karna ia terkenal sebagai Senpai yang angkuh dan sombong diantara para Kouhai.

"Nah itu dia!. Ino. Aku baru ingat—Hinata memberitahuku kemarin," baru pertama kali ini Naruto salah menyebut nama orang didepan orangnya. Wajarlah, baru kali ini juga ia bertegur sapa langsung dengan makhluk langka ini.

"Sudahlah Naruto-Kun, jangan membuang waktumu untuk berbicara dengan Kouhai tidak jelas seperti dia," ucap Shion sinis lalu menggandeng tangan Naruto bermaksud mengajaknya untuk pergi.

Ino yang sadar telah dikatai oleh Shion pun geram, "HEI! Siapa yang kau bilang tidak jelas hah?!" teriaknya kesal. Ia menunjuk-nunjuk Shion berkali-kali. Membuat Sakura dan Hinata yang sedang didepan loker sepatu mengganti sepatunya menoleh kearah suara Ino. Hinata melihat ada sosok Naruto dari belakang, tangannya digandeng oleh Shion— Mesra.

Dadanya seakan ditusuk jarum raksasa.

.

"Dasar nenek sihir!" Ino kembali berteriak lalu menjulurkan lidahnya kesal. Shion hanya menanggapinya dengan menatap Ino tajam. Karna kalau dia melawan manusia aneh didepannya ini, akan membuat pamornya turun seketika— menurutnya. Makanya ia hanya diam dan memberikan tatapan dinginnya. Sakura bergegas menghampiri Ino lalu menarik tangannya—lebih tepatnya menyeretnya. Sedangkan Hinata, dia hanya menatap mereka dari kejauhan lalu pergi duluan menuju kelasnya. Menghiraukan mereka— Tidak peduli.

"Jangan membuat keributan pagi-pagi," ucap Sakura sambil menjitak kepala Ino. Yang dijitak hanya meringis kesal sambil manyun.

.

.

"Kenapa sih Sakuranee selalu mencegahku untuk ribut dengan si nenek sihir itu— Aaargg.. menyebalkan!" Ino memasuki ruangan kelas dengan kesal. Tasnya ia lemparkan begitu saja diatas meja Hinata. Membuat Hinata yang sedang melamun tentu saja terkejut.

"Ayolah, ini masih pagi Ino." jawab Hinata sambil menggelengkan kepalanya. Ino menarik kursi sembarang lalu meletakkan wajahnya diatas meja Hinata.

"Arrgh!.. Kau dan Sakuranee sama saja!" Hinata hanya terkekeh lalu menatap kearah jendela.

Ino bangun lalu menatap Hinata dengan tampang bingung. Dia merasa ada yang aneh dengan Hinata. Tapi apa?

Ia melirik Hinata dari atas sampai kebawah. Yang ditatap tidak menyadarinya masih asik dengan langit biru yang ia tatap dari jendela. Kebiasaannya setiap pagi.

"Nee.. Hinata-chan, kancing seragammu terbuka tuh," Ino menunjuk kearah dada Hinata, membuatnya berlonjak kaget lalu cepat-cepat mengancingkannya.

"Kyaa!... Bagaimana ini bisa terbuka sih," setitik keringat menetes dari dahinya, ia takut kalau tanda kemerahan ini terlihat oleh Ino dan yang lainnya.

"Hinata-chan belum sarapan? Kok pucat? Oh iya— tanda kemerahan tadi itu apa? Kok banyak sekali?" rentetan pertanyaan Ino membuatnya bagaikan dicambuk oleh cambuk yang terbuat dari ular. Baru saja ia akan bernafas lega karna berhasil mengancingkan seragamnya, kini ia malah gugup oleh pertanyaan Ino.

"Ng.. itu.. aku—" Hinata menggaruk pipinya yang tidak gatal. Memutar otak mencari jawaban yang rasional untuk Ino.

"—coba kulihat, aku penasaran!" baru saja mulutnya akan terbuka menjawab pertanyaan itu, tangan Ino sudah menarik kerah bajunya. Ia lalu membuka kancing yang terbuka tadi lalu mengintipnya. Ingin ia tepis tangan temannya itu, tapi kalau ia melakukannya Ino akan semakin mencurigainya.

Rasanya Hinata ingin pingsan saja, kalau sampai Ino berteriak kencang karna melihat tanda kemerahan ini, habislah lah dia.

.

PLAAK!

.

Ino yang Baru saja akan melihat ke dalam seragam Hinata, wajah Ino sudah tersungkur ke atas meja Hinata.

"Sedang apa kau mengintip ke dalam seragam Hinata begitu hah?!" hawa membunuh tiba-tiba terasa disekitar mereka. Sakura melipat kedua tangannya kesal. Ditangannya ada sebuah buku yang tadi ia gunakan untuk menampar wajah Ino.

Ino mengangkat wajahnya lalu mengusap pipinya yang kemerahan akibat tamparan buku Sakura. Sedangkan Hinata bergegas mengancingkan kembali seragamnya. Ia bisa bernafas lega sekarang. Ia berterima kasih dalam hati pada Sakura yang datang tepat pada waktunya.

"Sakuranee sakit tau! Aku kan hanya mau melihat sedikit," jawabannya itu membuat Sakura menamparnya sekali lagi, kali ini kepalanya yang kena sasaran.

"Apa kau sekarang sudah menjadi yuri heh?" ledek Sakura. Ino mengusap kepalanya kali ini. Ia bangun dari kursinya lalu berdiri berhadapan dengan Sakura, tinggi mereka yang hanya terpaut 5cm membuat mereka seperti dua orang bocah yang sedang memperebutkan sebatang coklat.

"Dasar Jidat jalan tol! Sembarangan saja kalau berkata," Ino menjulurkan lidahnya kesal. Sakura menyiapkan bukunya untuk menampar Ino lagi. Beraninya ia mengatai Sakura dengan semudah itu. Seisi kelas yang sudah biasa melihat pertengkaran gaje antara senpai dan kouhai ini hanya bersikap cuek. Tidak mau ikut campur karena nanti mereka akan terkena imbasnya.

Hinata ikut bangun dari kursinya mencoba melerai pertengkaran tidak penting ini, "Kelas dimulai 5 menit lagi, sebaiknya Sakuranee kembali saja ke kelas ya. — Oke?" ujarnya mencoba merendam emosi Sakura.

Sakura melirik jam dipergelangan tangannya, ia memutar bola matanya. "Baiklah. Istirahat nanti kita selesaikan ini!" ancamnya kemudian berjalan keluar meninggalkan kelas mereka.

"Kenapa Sakuranee selalu luluh olehmu sih? Sebal!" Ino mengambil tasnya lalu duduk di kursinya sambil manyun.

.

.

"Maaf Senpai, aku terlambat." Hinata membungkukkan badannya pada Naruto yang sedang asik memainkan ponselnya sambil bersandar di bawah pohon pinus di taman belakang sekolah.

"Oh? Sudah datang?— Tidak apa-apa kok," jawab Naruto tersenyum hangat ia mematikan ponselnya lalu menyimpannya dalam saku celananya. Hinata menghela nafasnya lega ia tidak terlambat.

"Aku tau pasti sangat sulit untuk lepas dari Sakura dan Ino ya. Mereka sangat menyayangimu," Naruto menarik tangan Hinata untuk mendekat kepelukannya.

"Tidak juga kok." jawab Hinata singkat. Berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Naruto karna takut ada seseorang yang tidak sengaja melihatnya. Ia merasa tidak nyaman.

"Oh iya, pulang sekolah nanti jangan lupa minum ini," tanpa basa-basi lagi Naruto menyodorkan sebuah plastik berisi beberapa butir kapsul berwarna biru tua pada Hinata.

Hinata menaikkan sebelah alisnya, "Ini apa?" tanya Hinata. Bingung. Tangannya ragu untuk mengambil bungkusan plastik kecil yang disodorkan Naruto.

Hinata terpaksa mengambil bungkusan berisi obat yang entah itu obat apa ia tidak tahu. Karna Naruto mengulurkan tangan Hinata lalu menyimpannya di telapak tangannya, "Nanti sepulang sekolah aku akan menjelaskannya, tidak enak kalau disini." Hinata mengangguk lalu berbalik hendak pergi setelah membungkuk berterima kasih, tapi tangannya di cegah oleh Naruto hingga langkahnya terhenti.

"Jangan dipikirkan terus, kau akan baik-baik saja.— Percayalah padaku." ucap Naruto lagi, ia tersenyum hangat.

"Iya." Hinata tersenyum melepaskan tangan Naruto dari tangannya lalu pergi.

"Dasar pemalu," Naruto menggelengkan kepalanya kemudian beranjak dari tempat itu kembali ke kelasnya setelah memastikan kalau Hinata sudah hilang dari pandangannya.

.

.

.

"Ne, Naru-Kun dua hari kemarin kau kemana saja? Aku mencarimu dirumah tetapi tidak ada," tanya Shion pada Naruto yang sedang asik bermain PSP dikursi nya yang ia ubah posisinya menjadi bersandar di tembok kelas.

"Aku pergi bermain game." jawabnya singkat tanpa menoleh pada Shion yang serius memperhatikannya dari tadi. Jari-jarinya terlalu asik menekan tombol yang ada di PSP kesayangannya itu.

Shion mendesah kesal. "Yang benar saja? Lalu kenapa ponselmu tidak aktif?" tanyanya lagi. Tangannya mengambil paksa PSP Naruto lalu menyembunyikannya dibelakang punggungnya. Si pemilik PSP mendengus kesal berusaha mengambil kembali benda yang tak pernah lepas dari tangannya itu. Namun gagal.

"Aku lupa membawa ponselku. Ayo kembalikan kekasihku itu sekarang!" Naruto masih berusaha mengambil PSPnya itu dengan cara menggelitiki pinggang Shion gemas.

Shion berusaha menahan tawa sampai matanya mengeluarkan air dan Naruto masih gencar menggelitiki Shion, kali ini perutnya yang menjadi sasaran jarinya.

"Hahaha! Baiklah ini ambil saja aku tidak memerlukannya," Shion menjulurkan lidahnya lalu memberikan PSP itu lagi pada Naruto membuatnya tersenyum penuh kemenangan.

.

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang tidak sengaja melihat mereka tertawa bahagia seperti itu. iris ametyst itu menatap sayu kearah mereka sebelum ia mengalihkan matanya lagi ke koridor didepannya.

.

.

.

"Oh ya, bola yang kuberikan untuk Hideto, apa dia menyukainya?" Hinata mempercepat langkahnya agar berada sejajar dengan Sakura yang berjalan duluan didepannya. Mereka saat ini sedang berjalan dijalanan setapak komplek tempat mereka tinggal. Mereka hanya berdua saja karena Ino seperti biasa selalu menghilang tanpa kabar.

Sakura berhenti sebentar lalu menoleh, "Dia sangat menyukainya. Katanya terima kasih." Sakura tersenyum sebentar.

Hinata menarik nafasnya lega, "Syukurlah," ia tersenyum senang. Karna tadi ia sempat khawatir kalau hadiahnya untuk adik kesayangan Sakura itu tidak disukainya.

"Kelihatannya kau senang sekali, ada sesuatu yang terjadi?" kali ini Sakura yang bertanya. Matanya menatap Hinata menyelidik. Karna biasanya Hinata selalu berbagi apapun yang ia rasakan pada Sakura.

Tiba-tiba saja kejadian malam itu terlintas dipikirannya, "Ti-tidak ada apa-apa kok." Hinata menggelengkan kepalanya cepat. Ia lalu bergegas berlari duluan meninggalkan Sakura.

"Aku duluan ya Sakuranee!— Kebelet pipis," teriaknya kemudian. Meninggalkan Sakura berdiri diam ditengah jalanan komplek yang sepi.

.

.

Hinata membantingkan tubuhnya ke sofa empuk berwarna coklat muda diruang tamunya. Tasnya ia lempar disembarang arah. Perasaannya sedang kalut sekarang.

"Aaaaaahhh.. kenapa hari ini aku dipenuhi perasaan khawatir sih!" Ia memejamkan kedua matanya sambil membuka kancing seragam sekolahnya satu persatu. Ia sengaja tidak menyalakan AC diruangan ini karna malas untuk mengambil remote AC yang berada di sofa sebelahnya. Matanya sangat mengantuk sekarang. Tanpa terasa ia terlelap tidur begitu saja sampai suara bel rumahnya berbunyi, membuatnya tersentak dan terbangun.

Dengan matanya yang masih setengah terpejam, Hinata berjalan malas kearah pintu utama rumahnya. "Siapa?" tanyanya di speaker kecil yang berada disamping pintu.

"Naruto." jawab suara diseberang pintu dengan singkat.

"Oh. Masuk saja lah," Hinata menguap malas lalu kembali berjalan sambil terpejam ke sofa tempatnya berbaring tadi. Lalu berbaring lagi.

Suara pintu yang terbuka lalu tertutup lagi tidak ia hiraukan. Matanya terasa terlalu lengket untuk terbuka walaupun hanya sedikit. Sebelah tangannya ia gerakkan didepan wajahnya untuk menghasilkan sedikit angin.

"Sepanas itu kah sampai harus membuka baju seperti itu?" suara punkish yang familiar terdengar ditelinganya. Gerakan tangannya terhenti, mata Hinata terbuka lebar seketika. Dengan reflex ia pun bangun lalu terduduk.

"HEE?! Naruto-senpai?" teriaknya kaget pada sosok Naruto yang kini sedang berdiri didepannya sambil tersenyum. Ia masih menggunakan seragam lengkap seperti dirinya.

"Iya, ini memang aku." jawabnya santai. Lalu duduk disebelah Hinata yang masih melongo. Ia pikir yang datang tadi adalah Sakura, makanya ia suruh masuk begitu saja. Tapi ternyata bukan.

Hinata yang sudah sadar dari lamunannya buru-buru menutupi tubuh bagian atasnya yang ia ketahui terbuka sejak tadi.

"Tidak perlu ditutupi pun aku sudah pernah menikmatinya." ucapan Naruto yang to the point itu membuat Hinata menundukkan kepalanya malu. Wajahnya memerah malu.

"Kalau begitu a—aku ganti baju dulu!" baru saja akan beranjak bangun dari duduknya, tangannya keburu dicegah oleh Naruto.

"Nanti saja, kita ganti sama-sama." pintanya. Ia tersenyum hangat pada Hinata, membuat Hinata yang sedikit gugup kembali mendudukkan dirinya disamping Naruto. Mereka terdiam. Tidak ada tanda-tanda akan dimulai pembicaraan. Suasana mendadak jadi kikuk.

Tiba-tiba kejadian tadi pagi saat Shion mengandeng tangan Naruto terlintas dibenaknya, juga kejadian dimana ia melewati kelas Naruto lalu melihat Shion sedang tertawa bahagia bersamanya. Tangan Hinata menggenggam erat ujung roknya. Menahan perasaannya yang mendadak sesak.

"Senpai, aku ke kamar sebentar ya," Hinata kembali bangun, kali ini tidak dicegah oleh Naruto. Ia malah ikut berdiri lalu mengikuti Hinata dari belakang.

"Aku ikut," ucapnya lalu dijawab oleh satu anggukan pelan dari Hinata.

Hinata berjalan didepan Naruto tanpa satu patah kata pun keluar. Ia hanya terdiam, Naruto pun ikut diam. Setelah sampai didalam kamarnya ia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi yang berada sudut ruangan. Sedangkan Naruto langsung berbaring di atas tempat tidur Hinata.

.

"Spreinya sudah diganti ya?" tanya nya ketika Hinata sudah keluar dari kamar mandi. Tangannya memegang handuk kecil yang ia pakai untuk mengeringkan mukanya yang habis dicuci. Yang ia tahu kemarin sprei ini berwarna biru muda, sekarang sudah berganti menjadi warna putih dengan motif polkadot.

Hinata mengangguk, "Iya. Habis di sprei itu ada noda darahku yang bercampur dengan—" Hinata menunduk malu. Naruto hanya tersenyum. Ia tau Hinata pasti malu untuk mengucapkan kata tabu itu.

"Obat yang kuberikan tadi sudah diminum?" tanya Naruto lagi mengganti topik pembicaraan. Hinata mengeluarkan bungkusan plastik kecil dari saku seragamnya lalu menunjukkannya pada Naruto.

"Obat ini? — Belum." Hinata menggeleng pelan.

Naruto menepuk jidatnya pelan lalu duduk, "Kalau begitu cepat minum sekarang," perintahnya. Tangannya memberi instruksi kepada Hinata agar ikut duduk disampingnya.

"Memangnya ini obat apa?" tanyanya. Ia masih penasaran dengan obat berbentuk kapsul berwarna biru yang ada ditangannya ini, tadi disekolah ia belum sempat melihatnya lagi karna takut ketahuan oleh Sakura dan Ino.

"Itu obat anti kehamilan, dosisnya 72 jam setelah terakhir berhubungan tanpa pengaman." jelas Naruto membuat mata Hinata yang dari tadi serius menatap obat itu membulat kaget.

"Yang seperti itu ada?" tanyanya heran. Baru kali ini dia mendengar ada obat yang seperti itu. Yang ia tau hanya obat sakit kepala, obat flu dan obat sakit perut yang sering disiarkan diiklan setiap hari.

Naruto menarik tangan Hinata lalu memeluknya, ia meletakkan dagunya diatas kepala Hinata lalu mengusap punggungnya pelan. "Iya. Ada. Itu obat yang aku ambil diam-diam dari Shion, dia biasa meminum obat itu kalau dia malas berhubungan dengan menggunakan pengaman." jelasnya lagi.

"Be—berhubungan?" tanya Hinata lagi. Naruto mengangguk.

Suasana mendadak hening, tanpa kata-kata Hinata melepaskan pelukan Naruto kasar lalu berdiri dan berlari seketika keluar dari kamarnya, membuat Naruto terkejut keheranan atas sikapnya itu.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE

.

.

Review \^.^/

Special Thanks buat yang udah nyempetin ngeReview \(TvT)/ #kalianluarbiasa #plak

Intinya semuanya pasti akan jelas pada akhirnya—terus nantikan kelanjutannya yah^^

Sok mangga^^…masukan apapun akan Happy terima dengan senang hati #yuhuu^.^

Akan Happy usahain update kilat—itupun kalo stoknya masih ada #Eh

Lanjut?!—pastinya,. Happy bukan tipe orang yang menyukai hal-hal berbau Ambigu #buangmuka

Asyik dibilang keren #nyarikaca

EHHH!..ada sang pencipta! —tpi bukan Yang maha kuasa pastinya

—lumayan kan kalo dicutnya pas bagian-bagian..ehemm—geregetnya.

.

Yo Minna, sampai ketemu dichapter berikutnya