SENPAI,.. NOTICE ME!
Disclaimer By Masashi Kishimoto's
Namikaze Naruto X Hyuuga Hinata
Genre : Drama|Romance|Friendship
M
WARNING
AU,OCC,TYPOS,MATURE THEM'S,LEMON,REMAKE Etc
(FF ini Remake dari sebuah fic dengan judul serupa milik Author Nyangiku dari Fandom Bleach/screenplays yang belum pernah di bublish dimana pun)
Chapter 4
.
.
.
Hinata POV
.
Entah kenapa hari ini perasaanku dipenuhi oleh kekhawatiran, rasanya seperti sedang dikejar-kejar oleh hantu saja.
Untung saja ada Ino yang selalu berteriak memekik telinga, juga Sakuranee yang selalu menyiksanya tanpa dosa.
"Heiiiiii tunggu Ino si cantik ini dong!" teriakan narsisnya itu terdengar saat aku dan Sakuranee meninggalkannya sendiri dijalanan. Aku hanya bisa tertawa geli mendengarnya, begitu pula dengan Sakuranee yang baru saja mengatainya dengan kata 'orang gila'.
Larinya sangat lambat, dia tertinggal jauh sedangkan aku dan Sakuranee sudah mengganti sepatu lagi didepan loker.
.
"HEI! Siapa yang kau bilang tidak jelas hah?!" teriakannya yang melengking itu membuatku dan Sakuranee menoleh kearah pintu masuk sekolah. Ino sedang mencak-mencak mengeluarkan sumpah serapahnya pada Shion-senpai, yang tentu saja tidak mendapat tanggapan darinya.
—Iya. Lagi-lagi Ino membuat keributan dengan Shion-senpai, entah apa yang di ributkannya kali ini.
Disamping Shion-senpai, ada Naruto-senpai yang hanya diam tanpa berusaha untuk menghentikan pertengkaran gaje itu. Shion-senpai kemudian menggandeng tangan Naruto-senpai dengan erat.
Seketika itu juga Sakuranee berlari menghampirinya lalu menjitak Ino gemas.
Melihatnya barusan digandeng seperti itu.. Kok hatiku rasanya seperti dihujam oleh ribuan jarum berkali-kali ya?
Walaupun Naruto-senpai sudah menyatakan cintanya padaku, tapi kalau melihatnya begitu..
Lebih baik aku pergi ke kelas saja duluan.
.
"Kenapa sih Sakuranee selalu mencegahku untuk ribut dengan si nenek sihir itu. Aaarg.. menyebalkan!" Ino memasuki kelas dengan kesal. Tasnya ia lemparkan begitu saja diatas mejaku. Membuatku terkejut saja.
"Ayolah, ini masih pagi," jawabku sekenanya. Dia malah mengataiku mirip dengan Sakuranee.
"Nee.. Hinata-chan, kancing seragammu terbuka tuh," Ino menunjuk kearah dadaku. Aku kaget sekali. Buru-buru aku mengancingkan sebelum dia curiga dengan tanda kemerahan ini.
"Hinata-chan belum sarapan? Kok pucat? Oh iya— tanda kemerahan tadi itu apa? Kok banyak sekali?" sial. Baru saja aku akan bernafas lega karna dia tidak bertanya tentang itu, dia bertanya juga.
"Ng.. aku—" ayolah aku sedang berpikir mencari alasan yang rasional nih.
"Aku penasaran, coba kulihat!" belum juga aku menjawab pertanyaannya dia sudah menarik kerah seragamku. Matanya mencoba mengintip sedikit.
Habis riwayatku kalau sampai dia berteriak tentang ini.
.
PLAAAK!
.
Tiba-tiba suara tamparan terdengar beriringan dengan suara berat Sakuranee. "Sedang apa kau mengintip ke dalam seragam Hinata begitu hah?!" teriaknya pada Ino yang kini sedang meringis kesakitan karna pipinya ditampar Sakuranee menggunakan buku yang ia bawa.
"Kau sekarang mulai menjadi yuri heh?" ledeknya. Sakuranee menamparnya lagi, kali ini kepalanya yang kena telak tersungkur diatas mejaku. Ino hanya manyun menahan kesal.
"Sembarangan!" jawabnya sambil mengusap kepalanya. Pasti itu sangat sakit. Walaupun tubuh Sakuranee kecil dan kurus, tapi tenaganya itu setara dengan seorang anak laki-laki yang memegang gelar sabuk hitam karate.
Sebelum pertengkaran gaje dimulai lagi, lebih baik akau segera mencegahnya. "Sakuranee, kelas akan dimulai 5 menit lagi," dia melirik jam tangannya sebentar lalu menghela nafasnya berat.
"Istirahat nanti, kita selesaikan ini!" ancamnya pada Ino, membuat Ino yang mendengarnya hanya bisa mendesah. Lalu ia kembali ke tempat duduknya. Menantikan neraka kecil yang akan ia jelang.
.
Aku berjalan menyusuri taman belakang sekolah dengan santai, Naruto-senpai memintaku untuk menemuinya semalam. Entah apa yang mau dia katakan, untung saja Sakuranee sedang diberi tugas oleh wali kelasnya ke perpustakaan. Sedangkan Ino, dia sedang pergi ke toilet jadi aku bisa menemui Naruto-senpai tanpa gangguan dari mereka berdua.
Kulihat Naruto-senpai sedang bersandar dibawah pohon pinus diujung sana, tangannya sedang asik memainkan ponselnya. Palingan bermain game.
"Maaf, aku terlambat." Aku membungkukkan badanku sambil mengatur nafasku. Walaupun untuk datang kesini aku tidak berlari, tapi entah kenapa nafasku rasanya tersengal-sengal.
"Oh. Sudah datang? Tidak apa-apa kok." ucapnya sambil tersenyum ramah. Ia menarik tanganku untuk masuk ke dalam pelukan hangatnya. Aku hanya pasrah saja menerimanya.
Tidak lama, ia mengeluarkan sebuah bungkusan plastik dari saku celananya. Bungkusan berisi beberapa buah kapsul berwarna biru.
"Oh iya, pulang sekolah nanti jangan lupa minum ini," ucapnya kemudian. Ekspresi wajahnya sulit untuk ditebak.
"Ini apa?" tanyaku keheranan. Sebelah alisku sampai naik tidak sengaja. Tanganku agak ragu untuk mengambilnya. Tapi Naruto-senpai tetap memaksaku untuk menerimanya.
"Nanti saja pulang sekolah kujelaskan. Tidak enak kalau disini," katanya lagi matanya melirik ke sekitar, takut-takut ada yang melihat keberadaan kami berdua disini. Aku hanya mengangguk saja. Walau agak ragu, lalu aku masukan obat itu ke dalam saku seragamku cepat-cepat.
"Jangan dipikirkan terus, kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku." Ia mengusap kepalaku pelan penuh kasih sayang. Sebelum ada yang melihatku dalam posisi seperti ini lebih baik aku pergi saja.
"Iya." Aku melepaskan pelukannya dengan ragu lalu meninggalkannya sendirian disini.
.
.
.
"Nghh.. ahh.. uhh.." suara desahan memenuhi ruang kamarnya yang ia buat gelap dengan sengaja, menutupi semua celah cahaya yang bisa menyinarinya. Karna saat ini matahari masih bersinar dengan terang.
Hinata Hyuuga, sedang berusaha menahan desahan sekaligus menikmati permainan orang yang saat ini sedang berada di atasnya. Tubuh bagian atasnya masih melekat seragam yang ia gunakan tadi pagi untuk belajar. Hanya kancingnya saja yang kini terbuka semua tanpa sisa, menampilkan dua buah bukit kembar yang juga setengah keluar dari tempatnya. Sedangkan bagian bawahnya masih menggunakan rok pendek kotak-kotak yang kini agak bergeser keatas perutnya sehingga menampilkan bagian bawahnya yang sudah tidak terhalang oleh selembar kain pun. Orang diatasnya itu sedang berusaha membuat perempuan yang ia cintai ini merasakan seluruh kasih sayang yang ia salurkan lewat miliknya yang sejak tadi sudah memasukinya.
"Tidak usah ditahan seperti itu, kau akan tersiksa kalau tidak melepaskannya," ucapnya sambil bergerak maju mundur memasuki lubang sempit itu dengan susah payah. Walaupun lubang itu sudah basah sekali, tapi masih agak susah untuk memasukinya karna lubang itu terlalu sempit untuk ukuran miliknya yang lumayan besar. Tangannya tidak tinggal diam, ia gunakan untuk menyusuri setiap centi tubuh mungil dibawahnya ini.
"N-Naru sen—akhh.. nghh… pai hh.. akuhh mm..mauu akh—" Hinata bergerak gelisah. Desahan penuh nikmat yang ia keluarkan itu hanya sebuah pengalihan rasa gatal dan sedikit sakit yang terbendung dibawah sana akibat gesekan Naruto yang teratur.
'Drrrt drrt drrt'
Hinata tersentak seketika. Ponsel yang ia simpan di meja nakas tiba-tiba bergetar, sehingga membuatnya yang sedikit lagi akan mencapai puncak seketika terdiam menoleh kearah ponselnya itu berada. Layar di ponsel itu menyala sambil terus bergetar. Rasa nikmat yang sebentar lagi akan selesai ia rasakan seketika menghilang.
"Ck! Sial— Padahal sedikit lagi sampai," desah Naruto agak kesal. Ia menghentikan sebentar gerakannya untuk mempermudah Hinata agak bangun dan bergeser untuk mengambil ponselnya itu.
'Memanggil— Kaa-san'
Mata Hinata mendadak berubah menjadi terkejut saat ia lihat layar ponselnya itu. Posisinya yang tadi setengah tidur berubah cepat menjadi duduk. Sedangkan Naruto yang berada didepannya hanya bisa menaikan alisnya bingung.
"Hai, Kaa-san!" sapa Hinata pada orang diseberang telepon sana setelah menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.
"Hime-chan, sudah pulang sekolah?" tanya suara itu. Gerakan Naruto yang tadi sempat terhenti ia lanjutkan kembali dengan perlahan. Miliknya masih tertancap tegak dilubang sempit dan hangat itu. Mengeluarkan sampai setengahnya lalu memasukkannya lagi sampai tertanam seutuhnya.
"Iya aku sudah pulang. Kaa-san dan Tou-san sudah sampai? Aku sudah ada dirumah, nghh—sendirianhh." jawab Hinata sambil menatap tajam ke arah Naruto yang baru saja membuatnya kelepasan mendesah akibat gerakan lambat Naruto. Untung saja ia bisa menahannya sedikit dengan menutup mulutnya.
"Kenapa dengan suaramu? Apa terjadi sesuatu?" tanya suara itu—yang diketahui adalah suara Kaa-sannya. Nada suara Ibunya sedikit cemas. Takut sesuatu yang buruk terjadi pada putri kecil kesayangannya ini.
"Nghh.. a—aku hanya menghela nafas saja kok," tangan Hinata mencubit pinggang Naruto kesal. Sambil menatapnya tajam. Saat bibirnya tadi dengan sengaja mencium dan menggigit kecil leher Hinata. Ditambah dengan bagian bawahnya yang terus dimasukinya semakin dalam. Susah payah Hinata menahan desahan nikmat itu agar Ibunya tidak bertanya macam-macam.
"Begitu. Baiklah. Kami sudah tiba dibandara, sekitar 40 menit lagi kaa-san dan tou-saan akan sampai dirumah. Kami akan makan siang dulu dengan beberapa kenalan." ucapnya lagi lalu mengakhiri pembicaraan telepon itu sepihak tanpa dijawab lagi oleh Hinata. Hinata menggenggam ponselnya erat. Hampir saja ia ketahuan karena desahannya itu.
"Naruto-senpai!" panggil Hinata gemas. Ia memanyunkan bibirnya kesal. Sedangkan Naruto yang ia panggil tidak peduli, malah makin asik dengan gerakannya. Ia lalu mencium sebentar bibir manyun itu. Lalu menjilatnya.
"Kenapa?" Naruto menatapnya datar tanpa dosa. Tangannya mengambil ponsel yang Hinata genggam lalu melemparkannya ke lantai berlapis karpet tebal yang tergelar dibawahnya.
Hinata hanya merengut kesal. "Ayolah, waktu 40 menit cukup kok untuk kita mengakhiri ini semua," rayu Naruto kemudian mempercepat gerakannya ditambah tangannya yang meremas gemas salah satu dada Hinata, membuat Hinata mendesah keenakan. Tubuhnya yang sempat menegang karna telepon tadi, sekarang berubah menjadi bergetar karena rangsangan yang Naruto berikan. Suhu tubuhnya kembali panas dan bergejolak.
"Aku hh—nghh…" kekesalannya yang tadi sempat terjadi, kini kembali menjadi sebuah desahan erotis akibat perbuatan Naruto. Mereka berdua saling berlomba menuju kenikmatan yang menggambarkan surga diatas awan itu. Tanpa gangguan siapapun bahkan seekor nyamuk pun.
.
.
.
"Aku ingin terbawa terbahak-bahak tadi sebenarnya, saat wajahmu itu berubah menjadi tegang waktu tau yang menelepon itu Kaa-sanmu," ejek Naruto sambil merapihkan seragam sekolah yang sudah ia pakai kembali. Ia menghampiri Hinata yang sedang mengganti seragamnya menjadi pakaian biasa didepan wastafel. Naruto melingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang ramping itu dari belakang.
Ada sekitar sepuluh menit lagi sisa waktu dari 40 menit perjalanan orang tua Hinata sebelum mereka tiba.
Hinata mendengus kesal. Terlihat dari pantulan wajahnya dicermin wastafel yang cukup besar itu. "Bergegaslah sebelum mereka sampai," Hinata lalu berbalik membalas pelukan Naruto. Walaupun mereka baru menjalin hubungan sekitar 3 hari, tapi rasanya kemesraan itu seperti sudah terjalin sejak lama. Walaupun Hinata masih agak canggung untuk bersikap layaknya sepasang kekasih pada Naruto, tapi ia terus berusaha agar ia mulai terbiasa. Berada didalam pelukan Naruto begini membuatnya merasa aman dan nyaman.
"Kau mengusirku?" goda Naruto. Ia tersenyum jahil. Tangan nakalnya kembali meremas gemas dada Hinata lalu disambut dengan tepisan tangannya.
"Iya aku mengusirmu!" ejek Hinata lalu mendorong tubuh tinggi Naruto perlahan untuk keluar dari kamarnya.
Naruto mendesah kecewa. Dengan berat hati ia harus pulang sekarang juga. "Baiklah aku pulang. Jangan coba merindukanku karna besok kita pasti akan melakukannya lagi," ucap Naruto yang kini sudah berada diluar pintu utama rumah Hinata. Ia menenteng tas sekolahnya dengan malas. Ia masih merindukan saat-saat berdua dengan gadis yang selama ini ia cintai diam-diam. Hinata hanya tersenyum menanggapinya. Ia menatap punggung Naruto yang perlahan menjauh menuruni anak tangga yang berjajar didepan rumahnya hingga sosoknya kini menghilang dari balik pagar tidak lama juga mobil sedan berwarna hitam milik Naruto yang terparkir cukup jauh dari rumahnya itu pergi meninggalkannya sendirian.
.
.
.
"Loh? Sakuranee kok sendirian? Hinata-chan mana?" mata Ino mencari ke sekitar loker sepatu, mencari sosok Hinata yang tidak ia temui. Bahkan sampai ia penasaran mencari dibalik tubuh mungil Sakura. Juga didalam lokernya sampai ke kantung seragamnya.
Sakura menampar jidat Ino menggunakan sepatunya kesal. Tingkah gajenya itu mengganggu sekali moodnya yang selalu tidak stabil. "Tadi Kaa-sannya menelponku, Hinata tidak enak badan."
Ino mengusap jidatnya yang tercetak tato buatan sepatu Sakura, "Heee gawat!... Aku belum membuat PR bahasa inggris. Hinata-chan kau tega sekali!" kali ini Ino malah duduk bersimpuh sambil menangis bombay. Membuat beberapa siswa yang lain menatapnya aneh.
Dengan mengendap-endap Sakura pun berjalan meninggalkan Ino sendirian. Ia tidak mau membuat dirinya malu pagi hari begini gara-gara tingkah miring Ino yang semakin hari semakin aneh saja.
.
.
.
Naruto POV
.
Sudah 4 hari berlalu sejak malam itu aku mendatanginya dan menjadikannya milikku seutuhnya. Rasanya tidak rela walaupun hanya sebentar melepaskan tubuhnya yang mungil itu. Setelah sekian lama aku memperhatikannya diam-diam tanpa sepengetahuan orang lain kecuali Shion.
Kalau dipikir-pikir perbuatanku yang kelewat nekat itu sangat bahaya sekali kalau tidak diperhitungkan dengan tepat. Bisa saja dia berteriak, memberontak atau bahkan mengamuk.
Tapi kenapa saat itu dia hanya diam saja menerima setiap rangsangan yang aku berikan? Aku tau tangan dan kakinya ku ikat, tapi minimal dia akan memberontak terus kan?
Dia hanya terkejut saat diawal dia sadar dari pingsannya, dia melihatku seperti melihat hantu saja. Kalau dilihat dari jarak sedekat ini wajahnya sangat manis. Apalagi saat pertama kali aku melakukan itu padanya.
.
.
Flashback
.
Malam yang selama ini aku nanti akhirnya tiba. Berdasarkan penyelidikanku beberapa hari, malam ini Hinata akan berada dirumahnya sendirian. Kedua orang tuanya lepas landas tadi pagi menuju Luar kota untuk suatu hal. Biasanya jika ia ditinggal sendirian dirumah seperti itu, Sakura pasti ada dirumahnya menemaninya.
Tapi dari percakapan mereka 2 hari yang lalu, Sakura akan menengok Hideto adiknya yang bersekolah sepak bola di kota sebelah. Sedangkan temannya yang bernama Ino anak si pemilik butik langganan Shion entah kemana tidak ada kabarnya.
Ini adalah malam yang tepat untuk menyatakan perasaanku selama ini. Aku tidak tahan kalau harus terus menyukainya diam-diam seperti ini. Kalau harus menunggunya menyatakan cinta kepadaku, mungkin akan semakin lama lagi.
Dia terlalu pemalu untuk mengungkapkannya. Bahkan saat memperhatikanku dari kejauhan pun, wajahnya polos itu selalu terlihat tersipu malu.
Kalau Sakura atau Ino menganggunya pasti dia akan mengomel lalu manyun. Menggemaskan.
Sudah satu jam aku menunggu disini. Tidak ada tanda-tanda kalau dia akan tidur. Entah apa yang sedang dia lakukan diatas sana. Yang penting jangan sampai dia melihatku sekarang.
"Oh iya! Aku harus mengecek alarm. Semua pintu dan jendela harus terkunci seperti pesan Kaa-san dan Tou-san," ia berbicara pada dirinya sendiri kemudian masuk kembali ke kamarnya setelah beberapa saat ia melamun sambil menatap ke langit.
Ini adalah saat yang tepat sebelum jendela itu terkunci.
TAP!
Sekali lompat lalu masuk beberapa detik sebelum jendela itu akhirnya tertutup otomatis. Aku menghela nafasku lega. Hampir saja. Untung saja kamarnya tidak terlalu tinggi walau ada dilantai 2.
Aku melihat ke sekelilingku. Ini kali pertama aku memasuki kamar seorang gadis—selain Shion. Kamar yang lumayan luas. Sederhana, rapi dan tidak terlalu ramai dengan pernak-pernik perempuan seperti dikamar Shion yang bernuansa pink merusak mata.
TAP
TAP
TAP
Aku mendengar derap langkah Hinata menaiki anak tangga. Sepertinya ia sudah akan pergi tidur. Aku harus segera bersembunyi, untung lampunya agak redup jadi aku bisa bersembunyi dengan tenang.
"Sekarang saatnya untuk tidur!" teriaknya girang. Tiba-tiba ia terdiam. Matanya melihat kearah gorden pink yang menghiasi jendela balkonnya. Aku menepuk jidatku. Bodoh.
Naruto bodoh. Tadi kan gorden itu terbuka, aku malah menutupnya. Pantas saja ia curiga. Tangannya memegangi pundaknya, mungkin ia menyadari kalau dia tidak sendirian sekarang.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh celah didepannya.
"Huachii!" tepat setelah ia bersin.
"EH?"
DUK!
Aku memukul pundaknya untuk membuatnya pingsan sementara. Tubuhnya terkulai lemas dipelukanku dan segera ku bawa ke atas kasurnya yang tertata rapi.
Walaupun pingsan tapi wajahnya seperti sedang terlelap tidur. —Tenang.
Membuat jantungku berdesir melihatnya. Tanganku sampai gemetar mengusap pipinya yang chubby itu. Takut-takut kalau dia akan bangun.
Aku meraih tali tambang berwarna putih dari saku celanaku. Untung saja ranjangnya ini terdapat tiang disudutnya, jadi aku tidak sia-sia membawa tali ini. Tali itu aku ikat ke pergelangan tangannya hati-hati, aku takut tangannya yang kurus itu terluka oleh kuku tajamku. Tidak lupa juga pergelangan kakinya ku ikat, takut-takut dia berontak lalu menendangku. Bisa gawat.
Aku memandang leher putihnya yang jenjang itu. Lalu turun sampai ke ujung kakinya. Aku menelan ludahku susah payah. Putih dan bersih bak porselen—juga menggoda.
Dia sangat seksi berada diposisi seperti ini. Kemeja putih tanpa lengan yang transparan juga celana jins pendek yang ia pakai, membuatku semakin terangsang saja. Bagian dadanya yang tertutup bra bahkan terlihat samar.
Aku mengarahkan bibirku untuk menyentuh kulit lehernya yang mulus itu lalu menciumnya. Aroma strawberry kesukaannya merebak dihidungku. Segar.
Cium. Hisap lalu gigit. Aku tidak tahan untuk merasakan leher manis ini.
"Nghh.. NARUTO-SENPAI? GYAA!" aku menengadahkan kepalaku suara teriakannya terdengar ditelingaku. Dia sudah sadar rupanya. Matanya menatapku terkejut dan tidak percaya.
Dia menatapku dari atas sampai bawah. Lalu matanya berubah kebingungan. Ia berusaha bangun, tapi tertahan oleh ikatanku. Matanya menyadari kalau kedua tangannya dan kakinya sudah ku ikat. Dia mulai panik.
"Stt.. jangan berontak, nanti tanganmu sakit." ucapku berusaha menenangkannya. Tanganku membelai pipinya yang halus. Matanya setengah terpejam menikmati tanganku.
"Naruto-senpai.. kenapa?" tanya nya bingung. Wajah manisnya penuh tanda tanya.
Aku terdiam. Tidak menjawabnya. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya lalu tersenyum. Menatapnya dari bawah sampai atas tubuhnya.
"Nanti kau akan tau jawabannya,"
Aku menghapus jaraknya dariku.
Aku menciumnya.
Mata lavendernya itu membelalak. Dia pasti terkejut.
Bibir ranum itu terasa manis. Membuatku ketagihan untuk menciumnya. Lidahku menjilat bibirnya sambil mendorong mencoba menerobos masuk ke dalam mulutnya. Tapi ia berusaha menahannya, kucium lagi, ku hisap bibir bawahnya. Tidak akan menyerah sampai dia membuka mulutnya untuk kumasuki, kepalanya kupegangi dan kutekan agar dia semakin terdesak.
"Akh!" ia meringis kesakitan akibat gigitanku dibibir bawahnya. Celah ini kesempatanku, lidahku memasukinya menelusuri setiap deretan giginya, lidahnya ku hisap penuh nafsu. Rasanya asam dan segar. Mungkin dia habis memakan buah strawberry kesukaannya.
Walaupun agak ragu, aku tau dia ingin membalas ciumanku. Nafsunya mungkin sudah mulai menyala. Aku memperlonggar ciumanku memberinya kesempatan untuk membalas, dan akhirnya dia membalas ciumanku. Walau masih agak kaku. Aku tau ini pasti kali pertamanya ia berciuman.
Kami saling membalas mencium. Dia tidak mau kalah sepertinya. Walaupun nafasnya seakan mau habis, dia tetap membalas ciumanku hingga saliva menetes-netes dari celah bibirnya.
Aku melepaskan ciuman panas itu untuk memberikannya waktu sejenak menghirup oksigen. Sementara itu aku membuka kaus yang kugunakan. Ia membuang mukanya kesamping agar tidak menatapku yang sekarang sudah bertelanjang dada. Wajahnya memerah seperti strawberry. Sungguh manis.
"Jangan memasang wajah tegang seperti itu, aku tidak akan menyakitimu kok." Aku menatapnya lekat. Terlihat sekali wajahnya itu gugup. Dia pasti sangat malu diperlakukan seperti ini.
Tanganku beralih menyusuri bagian atasnya. Ke bagian kancing kemejanya yang kemudian kubuka satu persatu, menampilkan dua buah benda bulat yang dibungkus oleh bra berwarna biru muda. Bagian atasnya menyembul keluar tidak tertampung semua.
Aku menggigit bibirku menahan nafsu.
"Aku tau kau selalu memperhatikanku saat jam istirahat dari bangku taman itu. Setiap pulang sekolah dari balik pohon dekat pagar sekolah juga," aku berbicara untuk membuatnya sedikit agak tenang. Hei, memangnya dia saja yang gugup? Aku juga gugup melihat tubuh seksi yang tidak berdaya dibawahku ini.
Ia membuang mukanya lagi. "Bagaimana aku bisa tau? Itu kan pertanyaanmu?" aku meraih dagunya untuk mendekat padaku.
"Ayolah jangan buat suasana ini menjadi tegang," tanganku yang sudah gatal ini meremas dadanya perlahan. Membuatnya mendesah tertahan.
"Nghh.." seksi sekali suaranya itu.
"Aku bisa tau, karna aku juga selalu memperhatikanmu tanpa kau ketahui." bisikku ditelinganya, sebelum bibirku menyerang leher putihnya lagi. Menggigitnya pelan lalu menghisapnya membuat beberapa kissmark disana.
Sedangkan tanganku yang lain menyelusup ke punggungnya, mencari sesuatu dibelakang sana agar bra yang membuatnya sesak ini terlepas.
"Ahh.." Ia mendesah lalu menghembuskan nafasnya lega saat tanganku berhasil melepaskan bra itu. Talinya ku tarik paksa hingga putus lalu ku buang entah kemana. Dua buah dada yang sudah membengkak dan menegang puncaknya itu ku rangkuh dan ku lahap habis memenuhi mulutku secara bergantian, tidak lupa juga meremasnya gemas. Menggigit-gigit puncaknya yang mengeras itu. Serta membuat tanda kemerahan disana sebagai tanda kalau benda kenyal ini sudah kunikmati.
Rangsanganku itu membuat tubuhnya menggeliat menahan geli. Kepalanya bergerak-gerak gelisah. Antara sakit atau enak.
Setelah agak lama aku bermain diatas sana, tanganku kini beralih ke bagian bawahnya. Paha mulus itu ku usap-usap perlahan. Aku menatap gundukan yang berada ditengahnya. Resleting celananya ku buka lalu kutarik celana pendek itu dengan sekali tarikan. Menampilkan celana dalam berwarna sama dengan branya tadi.
Aku mengusapnya sebentar. Ia sedang berusaha menahan nafasnya untuk tidak mendesah. Aku tau dia sudah sangat terangsang disana. Celananya ini bahkan sudah agak lembab. Kulepaskan celana itu, gundukan berbentuk segitiga terlihat menantang disana. Bau harum strawberry kembali menyeruak dari sana. Jari-jari nakalku mulai memasukinya kali ini. Menusuk-nusuknya memainkan benda bulat kecil yang berada disana.
"Akhh.. nghh.. ahh" kali ini ia tidak dapat menahan desahannya lagi. Sedikit cairan hangat bahkan sampai keluar dari lubangnya. Ia menikmatinya juga. Nafasnya sampai terengah-engah.
Aku melepaskan jariku dari sana. Lubangnya sudah cukup basah untuk kumasuki. Ia sempat merengut saat jariku kutarik keluar. Sepertinya ia sudah mulai menyukainya.
"Naruto-senpai, ku mohon jangan.." ia menatapku dengan tatapan memohon saat semua ikatannya kulepaskan. Ia berusaha menggeser tubuhnya menjauh dariku lalu menutupi sedikit tubuhnya menggunakan kedua tangannya.
Aku menariknya agak kasar agar dia mendekat lagi kepadaku. Ia menatapku dengan ekspresi yang tidak dapat ditebak. Antara takut dan terangsang hebat.
Aku menatapnya datar. Jari-jariku kembali menusuk-nusuk lubang dibawah sana. Untuk membuatnya semakin terangsang.
"Aku tau pasti kau takut padaku, atau bahkan akan membenciku karna perbuatanku ini. Tapi hanya dengan ini aku akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya, tidak akan pernah kulepaskan."
Ia membulatkan matanya kaget. Mungkin ia berpikir kalau pernyataanku ini adalah jawaban atas semua perjuangannya selama ini.
Aku menciumnya sebentar, ia menyadari aku sudah membuka celana jinsku. Matanya terpejam malu lalu mengintip sedikit kearahku yang sekarang sedang memegang kejantananku yang sudah membesar, tegang dan keras tepat didepan lubangnya.
"Dan dengan ini aku akan mengungkapkannya, aku mencintaimu Hinata. —unghh." tubuhku bergetar saat aku menggesek-gesekkan kejantananku ini didepan lubangnya yang hangat. Menarik nafasku lalu mendorongnya perlahan. Sempat beberapa kali meleset sewaktu memasukinya, maklum saja ini kali pertama untukku. Aku tidak berpengalaman.
"Akhh.. nggh.. sakit.." ia mengerang kesakitan saat ujung kejantananku ini mencoba masuk kedalam lubang sempitnya pelan-pelan. Matanya sampai berkaca-kaca.
Aku terdiam sejenak. "Sudah kuduga ini pertama kalinya untukmu kan?" ia mengangguk lemah. Tanganku mengusap kepalanya pelan agar ia merasa tenang. Sambil menarik milikku keluar lalu,
.
BLESS!
.
Aku mendorong kejantananku dengan sekali hentakan hingga akhirnya aku memasukinya walaupun tidak sepenuhnya karna lubang ini sangat.. sempit.
"A-AAKKHH.." Ia meringis kesakitan. Pasti sangat sakit dibawah sana. aku bisa merasakan dari getaaran ditubuhnya, juga cengkraman kedua tangannya di pundakku. Setetes air mata bahkan sampai mengalir dari ekor matanya.
Sekarang aku sudah berada didalam Hinata. Rasanya uh.. sangat sempit, ketat dan hangat. Lubangnya berkedut-kedut seakan menghisap milikku untuk masuk lebih dalam.
"Shh.. Ini juga pertama bagiku," Aku mendesah keenakan. Kedua tanganku memeluk tubuh kurusnya erat lalu mengecup matanya bergantian untuk menghapus air matanya.
Sambil berusaha masuk lebih dalam lagi, menusuk-nusuk lubang itu pelan. Ia semakin meringis saja. Melihatnya seperti itu tidak tega juga, apalagi aku melihat darah segar menetes dari celah pahanya. Selaput daranya sudah robek pasti. Sudah tidak dapat mundur lagi, walaupun aku mengurungkan tujuanku ini, semua tidak akan kembali seperti semula.
"Aku tidak akan bergerak sampai kau menyetujuinya." Aku berbisik pelan sambil meremas dadanya. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya tenang. Kemudian mengangguk. Ia menyetujuinya.
"Terima kasih," bisikku lagi lalu tersenyum.
Aku menarik milikku seutuhnya lalu memasukannya lagi dengan cepat. Satu hentakan. Memajukan lalu memundurkannya dengan cepat lalu pelan. Meresapi gesekan milikku dengan dinding lubangnya. Tubuhnya bergetar. Temponya sengaja kubuat tetap agar kehangatan lubangnya ini kurasakan lebih lama.
Nafas kami saling memburu.
"Ngghh.. le-lebihh cepathh Naru.. hhh.. sen.. pai hh.." Aku terkejut saat ia memintaku agar lebih cepat disela desahannya. Aku jadi semakin bersemangat. Aku menyerigai.
"Baiklah." Aku mendorong milikku sampai mentok ke dalam rahimnya. Menusuk-nusuknya sampai tubuhnya tersentak-sentak. Kurasakan sekarang kedua kakinya tanpa ia sadari, ia lingkarkan ke pinggangku. Mengnci tubuhku agar semakin dalam memasukinya dan tidak melepaskannya.
Bibirku juga tidak tinggal diam. Aku mencium puncak dadanya lagi lalu mengigitnya. Ia semakin meracau. Tubuh kami sampai mengucurkan keringat yang cukup deras.
Dinginnya AC diruangan ini tidak membuat panasnya nafsu ini padam.
"Ahh.. ahh.. Naru.. hh senpaihh.." Ia memanggil namaku lagi.
"Kenapa? Kau menikmatinya kan?" Ia mengangguk pelan. Wajahnya kembali memerah malu.
Suara desahan memenuhi seluruh ruangan ini. Bau strawberry yang menyebar dari pengharum ruangan otomatis membuatku semakin terangsang. Aku bergerak semakin cepat sambil mencium kembali bibir ranumnya yang semakin kemerahan akibat ciumanku tadi.
"Akkhh.. akhh.. Naru..to. ahhh. senpaihh aku ahh.. mauu.. aahh.." Aku merasakan lubangnya semakin berkedut-kedut menghisap milikku. Kakinya semakin erat memeluk tubuhku. Sepertinya ia akan selesai sebentar lagi. Aku bergerak lebih cepat lagi agar dapat mencapai puncak bersamaan dengannya.
"Sebut namaku, Hinata.. nghh.." aku juga merasakan hal yang sama dengannya. Sebentar lagi aku akan keluar.
"Naru ahh.. ahh.."
"Hinata.. ahhh.."
Akhirnya kami sampai puncak bersamaan. Semua perasaan menggebu yang memenuhi dadaku kini sudah keluar. Lubangnya mengeluarkan cairan yang hangat melapisi milikku yang juga menyeburkan cairan hangatku berkali-kali ke dalamnya. Aku mengeluarkan cairanku banyak sekali. Ia sampai berjengit. Aku menjatuhkan tubuhku diatasnya lalu memeluknya.
Menikmati sisa-sisa kenikmatan yang telah dilalui bersama. Aku sengaja tidak mengeluarkan milikku dari lubangnya yang hangat ini karna milikku masih menginginkan kehangatan itu. Aku bangun lalu berbaring disebelahnya. Cairanku yang bercampur dengan cairannya juga darah dari selaput daranya keluar melewati pahanya.
"Dengarkan baik-baik. Aku hanya akan mengatakannya sekali," Aku berbisik ditelinganya lirih. Ia diam saja tidak merespon. Nafasnya masih belum stabil sisa kenikmatannya tadi.
"Aku mencintaimu Hinata Hyuuga. Dan sekarang kau sudah menjadi milikku untuk selamanya. Jadi tidak perlu lagi memperhatikanku dari kejauhan."
Ia tidak menjawab. Aku tau sekarang dia pasti sedang terkejut dan tidak mempercayainya. Aku memejamkan kedua mataku yang mulai mengantuk. Sedetik sebelum mataku menutup, aku tersentak, tiba-tiba ia bangun lalu meletakkan kedua tangannya diantara kepalaku. Matanya menatap kedua mataku dalam lalu mulai kembali berkaca-kaca seperti mau menangis.
"Aku juga mencintaimu senpai, sangat mencintamu." Ia berbicara dengan nada suara yang sedikit bergetar. Ia mencium bibirku dengan ragu-ragu, sepertinya dia sudah tidak malu-malu lagi. Aku menekan kepalanya membalas ciumannya.
Setelah selesai ia tersenyum lalu duduk didepanku, ia masih saja berjengit merasakan sesuatu yang lengket dibawahnya. Sampai kemudian matanya melirik kearah pahanya. Melihat cairan putih kental kemerahan yang masih mengalir disana. Ia terdiam. Matanya membulat lalu menatapnya horror.
"TIDAAAAAK!"
.
Flashback end
.
.
Sempat kaget juga saat ia berteriak histeris seperti itu. Untung saja hanya ada kami berdua dirumah itu. Suara cemprengnya hanya menggema dikamar ini.
Aku tau pasti dia sadar kalau aku sudah mengeluarkan cairanku yang berisi milyaran benih yang dapat menghamilinya kapan saja didalam rahimnya.
Hei, aku tidak sebodoh itu. Aku sudah merencanakan hal ini dari jauh-jauh hari. Walaupun aku tidak menggunakan pengaman, tapi aku tau aku tidak akan membuatnya hamil. Lagipula siapa yang rela kalau harus berhubungan seks untuk pertama kalinya tapi harus dihalangi oleh selapis benda elastis yang terbuat dari karet?
.
.
Flashback
.
"Darimana?" tanyaku pada Shion yang sudah seenaknya masuk ke dalam kamarku tanpa permisi. Ia menjatuhkan tubuhnya yang kelewat ramping itu ke atas kasurku.
"Dari tempat Gaara-kun." Ia melemparkan tasnya kesamping tubuhnya hingga seluruh isi tasnya keluar. Menampilkan dua buah tabung plastik bening berisi pil berwarna biru keluar dari dalamnya. Ia meraihnya salah satunya lalu menatapnya malas.
Aku yang dari tadi hanya melirik-lirik sedikit ke arahnya karna sedang asik bermain game pokemon pun menatapnya kaget.
"Kau membelinya sebanyak itu?!" Aku menatapnya tidak percaya. Ia masih memandangi botol berisi 'obat' itu dengan seksama.
"Aku tidak membelinya. Ia memberikannya kepadaku. Kau mau?" tawarnya padaku. Gila. Apa dia mau overdosis karna meminum obat sebanyak itu? Sampai kapan ia akan meminumnya terus? Apa dia sudah kecanduan dengan obat itu?
"Dasar gila." Aku menggeleng pasrah.
"Atau kau mau mencobanya bersamaku?" Aku melemparkan buku yang ada disampingku dengan kesal kearahnya. Ia hanya tertawa-tawa geli.
Oh, yang benar saja aku bisa dibunuh oleh Gaara kalau sampai aku berani menyentuh atau bahkan menikmati tubuh kerempengnya itu. Lagi pula aku tidak pernah tertarik kepadanya. Aku sudah lebih tau tubuh polos kerempeng itu duluan sebelum si sadis Gaara itu.
.
.
Flashback end
.
.
Dan tak lama kemudian akhirnya obatnya itu habis juga ia pakai. Anehnya dia tidak overdosis padahal sering menggunakannya. Ia juga tidak menyadari kalau satu tabung obatnya itu tertinggal diatas kasurku. Hingga aku tertarik untuk mengambilnya beberapa tanpa ia sadari. Ini akan berguna untuk memuluskan rencanaku nanti.
Tapi sialnya, aku tidak membawa obatnya saat itu. Untung saja obat itu dosisnya tinggi jadi aku tidak perlu khawatir.
3 hari bersamanya aku habiskan dengan menikmati kenikmatan surga bersamanya. Ia sudah tidak berteriak histeris lagi saat aku mengeluarkan cairanku didalamnya terus. Entah sudah berapa banyak untuk saat ini benihku aku keluarkan disana. Ia sepertinya juga sudah mempercayaiku seutuhnya.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
.
Apa pertanyaan anda sudah sedikit terjawab?! \(^v^)/
Maaf kalo masih belum memuaskan,
Sepertinya isi chap ini lbh banyak Flashbacknya
Untuk kesekian kalinnya terima kasih banyak buat yang udah nyempetin ngereview^^
#akubacaberkali2lohreviewnya
.
.
.
Sampai jumpa di Chapter berikutnya…^^
