SENPAI,.. NOTICE ME!
Disclaimer By Masashi Kishimoto's
Namikaze Naruto X Hyuuga Hinata
Genre : Drama|Romance|Friendship
M
WARNING
AU,OCC,TYPOS,MATURE THEM'S,LEMON,REMAKE Etc
(FF ini Remake dari sebuah fic dengan judul serupa milih Author Nyangiku dari Fandom Bleach/screenplays yang belum pernah di bublish dimana pun)
Chapter 5
.
.
.
Sudah sejak malam Hinata mengunci dirinya dikamar. Dia terus meringkuk menggigil diatas kasurnya dengan selimut tebal yang menutupi sekujur tubuhnya. Sesekali ia akan berlari menuju wastafel yang menyatu dengan kamar mandinya untuk memuntahkan isi perutnya. Wajahnya lesu dan pucat. Ia bahkan tidak ingin makan apapun sekalipun itu permen.
Mulutnya terlalu pahit. Perutnya terlalu mual.
Ia terdiam menatap reflek wajahnya dicermin. Ia terlalu takut untuk keluar dari kamarnya, ia takut Kaa-sannya yang overprotektif itu membawanya ke rumah sakit. Sejak tadi Kaa-sannya terus berteriak dari depan pintu kamarnya. memastikannya baik-baik saja sekaligus membujuknya untuk pergi ke dokter. Tapi Hinata selalu berusaha menyakinkan kaa-sannya itu bahwa dia baik-baik saja.
"Apa aku salah makan?" Hinata berbicara sendiri dengan bayangannya didepan cermin. Sambil mengingat-ingat takutnya ia salah makan sampai ia tidak enak badan seperti itu. Atau mungkin dia masuk angin?
Tiba-tiba bayangan dia bersama Naruto saat mencapai puncak kenikmatan terlintas. Saat Naruto mengeluarkan cairannya yang kental dan banyak itu didalam rahimnya.
Mata Hinata berubah menatap horror bayangannya.
"Apa mungkin.. —aku hamil?!" Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Tapi tanda-tanda ini mirip dengan tanda-tanda wanita hamilan.
Ia mengingat-ingat kalau ia yakin sudah meminum obat anti kehamilan yang Naruto berikan kepadanya kemarin. Tapi kenapa?
Hinata menolehkan kepalanya kearah kasurnya. Nada panggilan masuk terdengar dari ponselnya yang tergeletak disana. Ia berjalan dengan lunglai untuk meraihnya.
.
'Memanggil Naruto-senpai'
Ia menatap layar ponselnya malas. Ini dia orang yang telah membuatnya begini. Akhirnya menghubunginya juga.
Ia menggeser tombol berwarna hijau yang tercetak dilayar ponselnya. Kemudian meletakkannya di kupingnya pelan.
"Akhirnya kau mengangkat teleponku juga," suara diseberang sana terdengar mengawali percakapan.
"Hee? Memangnya sejak tadi Naruto-senpai menghubungiku?" tanya Hinata bingung. Perasaan baru kali ini ponselnya berbunyi dan baru sekarang ia menyentuh ponselnya ini. Ia terlalu sibuk dengan rasa tidak enak diperutnya yang ia rasakan sejak semalam.
"Kau sakit?" tanya Naruto lagi. Nada bicaranya cemas. "Aku kesana sekarang ya?"
"E—eh, jangan. Ada Kaa-sanku, lagi pula sekarang sudah siang, mungkin Sakuranee dan Ino juga akan datang menengokku sebentar lagi," tolak Hinata halus. Ia tidak mau hubungannya dengan Naruto ketahuan oleh orang-orang secepat ini. Ia terlalu mengkhawatirkan dirinya sendiri. Terutama nasibnya didepan Shion kalau sampai Shion tau dia menjalin hubungan dengan Naruto. Mungkin hari-harinya disekolah yang sudah dihantui dengan terror-teror dari Shion akan bertambah menjadi siksaan seperti di neraka.
"Apa kau sampai muntah-muntah?" tanyanya lagi. Bagaimana dia bisa tau? Padahal kan Hinata tidak bilang kalau dirinya sedang sakit apa.
"I-iya.. Apa aku.. —Hamil?" ucap Hinata sedikit berbisik. Tangannya bergetar sedikit ketakutan. Ia tidak mau percakapan seriusnya ini terdengar oleh yang lain. Iya khawatir Kaa-sannya yang dari tadi terus bolak-balik didepan pintunya mendengar percakapan ini lalu menjadi histeris.
"Hamil? Tidak—"
.
"Hinata? Boleh aku masuk?" belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya, suara dari balik pintu kamarnya mengalihkan pandangan Hinata. Ia mengenali suara dibalik pintu itu. Suara yang rendahnya hampir sama dengan suara laki-laki dewasa. suara itu terdengar tidak sendirian karna ada suara lain walaupun agak samar tapi tetap terdengar olehnya.
"Sa-Sakuranee?" tanya Hinata mengacuhkan percakapannya ditelepon dengan Naruto. Tidak biasanya Hinata memastikan pemilik suara yang ia kenali itu. Biasanya ia akan langsung bilang 'Masuk saja tidak dikunci,' atau ia akan berlari membuka pintu kamarnya itu dengan senang. Tapi kali ini situasinya berbeda, disaat yang sama ia sedang dalam percakapan serius dengan Naruto. Lagi pula pintu kamarnya itu ia kunci dari dalam. Ia tidak bisa membuka pintu itu begitu saja, Ino yang notabene ceplas-ceplos pasti akan bertanya macam-macam kalau melihatnya dengan posisi memegang ponsel ditelinga begini. Ino pasti akan langsung merebut ponselnya karna terlalu penasaran.
Dan seolah seperti Sakura mengetahuinya, ia dan Ino yang biasanya langsung masuk tanpa permisi pun kali ini malah menunggu Hinata membukakan pintunya, bahkan menunggunya menjawab panggilannya tadi.
"Iya. Ini aku Ino yang baik hati, cantik, dan imut ini bolehkah mas—DUAKK!" suara germuruh terdengar didepan pintunya. Ino pasti baru saja dipukul oleh Sakuranee karna tingkah gajenya—lagi.
"Kalau begitu temui dulu mereka." ucap Naruto setelah agak lama terdiam menunggu suara Hinata terdengar. Sekaligus mendengarkan suara ribut-ribut dari luar kamarnya yang sampai terdengar olehnya.
.
"Sebentar, aku buka dulu kuncinya," Hinata berjalan menghampiri pintu kamarnya setelah memutuskan telponnya dengan Naruto. Setelah ponselnya ia letakkan didalam laci mejanya —tentu, karna ia tidak mau Ino mengotak-atik ponselnya sembarangan. Sementara itu dua sosok dibalik pintu sana saling memandang dengan tampang kesal satu sama lain. Menunggu Hinata yang —menurut mereka sangat lama membuka pintunya.
"Sudah selesai ributnya?" suara Hinata mengakhiri perang dingin diantara mereka berdua. Sambil mempersilahkan mereka masuk, ia berbalik duluan lalu berbaring lagi ke atas kasurnya yang empuk.
"Aku benci Sakuranee. Lihat nih wajahku yang limited edition ini ia rusak begitu saja!" Ino menunjuk-nunjuk pipinya yang kemerahan dan tercetak gambar tangan Sakura didepan cermin wastafel. Lalu mengusapnya pelan dengan air.
Sakura menghela nafasnya. "Kalau dibandingkan dengan wajah okama, bahkan wajah mereka lebih cantik darimu." Sakura menjulurkan lidahnya kesal pada Ino.
"Hinata-chan lihat tuh Sakurane!" kali ini Ino merajuk pada Hinata. Tangannya menarik-narik tangan Hinata agar ia mau membelanya. Hinata yang masih merasakan lemas ditubuhnya pun hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu.
"Aku saat ini sedang lemas sekali Ino,"
Sakura duduk disamping Hinata. Tangannya memegang kening Hinata sebentar lalu membandingkan dengan keningnya. "Sebenarnya kau sakit apa?" tanya sakura khawatir saat ia ketahui suhu tubuh Hinata normal sama sepertinya.
"Oba-san sampai khawatir tuh. Katanya Hinata-chan tidak keluar kamar sejak malam ya?" Ino menimpali. Ia menatap Hinata kasihan. Sekali lagi, walaupun Ino itu tipe orang yang tingkat kewarasannya diragukan, ia sebenarnya adalah seorang yang serius dan sangat peduli dengan sekitarnya. Hanya karna tingkahnya yang miring itu ia terlihat remeh didepan orang-orang yang tidak memahaminya.
"Aku hanya lemas saja. Besok juga aku akan masuk sekolah. —Tidak usah mengkhawatirku seperti itu." Hinata bangun lalu menarik pipi Sakura dan pipi Ino bersamaan dengan gemas.
"Aku hanya cemas." Sakura melipat kedua tangannya kesal. Sakura memang selalu mencemaskan Hinata setiap detik hidupnya. Bahkan sejak dirinya mengenal sosok Hinata yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Ia menatap wajah Hinata yang begitu pucat dan lesu. "Benar tidak apa-apa? —Kau pucat," tanya nya lagi masih dengan cemas.
Hinata meraba-raba wajahnya. "Eh? Begitukah?" ujarnya panik. Ino disebelahnya hanya menggeleng pasrah. Hinata masih saja polos disaat sekelilingnya mencemaskan dirinya, ia masih saja bisa sesantai itu.
"Sejak kemarin wajahmu sudah memucat Hinata-chan. Ayolah, apa ada yang sudah terjadi denganmu?" Ino menatap Hinata menyelidik. Matanya ia sipitkan sampai hanya terlihat segaris saja. Entah bagaimana bisa ia menatap dengan mata yang hanya segaris seperti itu.
"Etto.. mungkin aku lupa makan. Hehe." menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hinata berusaha menghindari pertanyaan Ino yang lagi-lagi tepat dan menusuk itu.
Walaupun dia adalah orang gaje sedunia, tapi dia itu sangat peka mengenai orang-orang terdekatnya.
.
.
.
"Naru-kun! Kau melihat tabung obatku yang satunya tidak? Sudah beberapa hari ini aku mencarinya tapi tidak ada," suara lengkingan Shion menggema di kamar Naruto. Ia yang baru saja mengakhiri percakapannya dengan Hinata ditelpon pun terkejut. Untung saja ponselnya tidak sampai jatuh.
"Oh itu? Aku menemukannya tergeletak dikasurku lalu aku menyimpannya —disitu," Naruto menunjuk lemari buku kecil disudut ruangannya. Obat itu tersimpan rapi didepan jejeran koleksi buku komiknya.
Shion menghembuskan nafasnya lega. "Hoo.. syukurlah. Aku selamat," ia meraih obat itu dengan senang lalu menghampiri Naruto yang sedang asik menggambar di meja belajarnya.
"Hei, stop disitu. Jangan memelukku dengan tubuh yang masih menempel bau cairan itu," Shion yang baru saja mau membuka tangannya untuk memeluk Naruto pun mengurungkan niatnya. Naruto selalu saja tau kalau dia habis melakukan hal 'itu' bersama Gaara sekalipun ia tidak mengatakannya. Hidungnya terlalu peka seperti kucing. Padahal tadi Shion yakin kalau dia sudah mandi di apartemen Gaara, tapi kenapa Naruto masih saja mencium bau itu?
Dasar manusia setengah kucing.
Dengan muka yang ditekuk kesal dan bibir yang dimanyunkan, Shion pun keluar dari kamar Naruto untuk pulang kerumahnya yang berada diseberang rumah Naruto.
.
.
.
"Shion, aku ingin bertanya suatu hal kepadamu," Shion yang baru saja mau memasuki kamar Naruto dengan menenteng majalah di tangannya pun tersentak. Urat kekesalan muncul dijidatnya. Tidak bisakah ia menunggu sampai Shion memasuki ruangan itu baru bertanya?
"Aku baru saja akan masuk, malah disambut pertanyaan seperti itu. —Menyebalkan." Shion memukul kepala Naruto dengan majalahnya kesal. Membuat Naruto yang asik menggambar manga tersentak. Gambar yang ia buat jadi tercoret karna kaget.
"Habis kau kalau masuk ke kamarku tanpa permisi sih," Naruto masih belum menoleh. Ia kali ini sibuk menghapus gambarnya lalu memperbaikinya.
"Kau kan laki-laki dan ini kamar anak laki-laki, jadi untuk apa aku permisi?" Shion merebahkan tubuhnya dikasur empuk milik Naruto. Sampai spreinya yang baru ia rapihkan menjadi berantakan kembali.
"Kalau ketika kau masuk aku sedang telanjang.—bagaimana?" Naruto masih serius berkutat dengan pensil dan kertas dimejanya. Membuat beberapa coretan yang lama kelamaan menjadi sebuah gambar.
Shion bangun lalu terduduk. "Maka aku akan menyerangmu." jawabnya dengan senyuman menggoda. —Tentu saja senyuman itu tidak terlihat oleh Naruto yang dari tadi membelakanginya.
"Dasar agresif. Aku tidak sudi diserang olehmu,"
"Dasar munafik. Ngomong-ngomong kau sedang menggambar apa sih?" Shion kali ini sudah berada disebelah Naruto. Kedua matanya serius menatap secarik kertas yang Naruto gambar.
"Hanya gambar iseng saja." Naruto mengakhiri satu goresan di kertas berwarna putih itu. Menampilkan gambar tiga orang gadis yang sedang duduk di bangku taman yang sama persis aeperti milik sekolahnya. Salah satu gadis dengan rambut lurus panjang berponi memandangi gedung sekolah didepannya. Sedangkan dua gadis lain seperti sedang bertengkar.
Walaupun gambarnya hanya ia buat menggunakan pensil yang biasa digunakan untuk sekolah bukan untuk khusus menggambar manga, tapi gambarnya tetap terlihat nyata. Seolah-olah gambar itu bercerita dengan sendirinya.
"Gadis ini kan.. —Hinata?" Shion menunjuk gadis berambut panjang berponi digambar itu. Naruto mengangguk lalu tersenyum.
"Tebakanmu tepat." Naruto merapihkan alat tulisnya lalu bangun dari kursinya dan berjalan menuju balkon kamarnya. Ia duduk dilantainya bersandar sambil terpejam menghirup udara malam hari yang menusuk hidung.
"Kau yakin benar-benar menyukai gadis itu?" Shion menghampiri Naruto lalu duduk disebelahnya. Matanya menatap lurus ke langit.
Naruto menghembuskan nafasnya perlahan. "Iya. —Aku jatuh cinta padanya." kata-kata Naruto itu sukses membuat mata Shion seketika membulat. Matanya beralih pada Naruto yang masih terpejam.
Sejak kapan Naruto mulai mencintai gadis polos dan lugu itu? bukankah waktu itu dia bilang dia hanya menyukainya sebagai Kohai saja. Tidak lebih. Walaupun dia pernah bilang kalau dia penasaran dengan gadis chubby itu, tapi bagaimana bisa dia sampai jatuh cinta padanya? Bahkan mereka saling berbicara pun tidak pernah. Hanya saling sapa atau interaksi kecil pun selalu Shion cegah.
Shion tersenyum pahit. Bagaimana mungkin orang terdekat Naruto seperti dia tidak mengetahui hal penting seperti ini?
Mereka terdiam cukup lama. Rasa sakit yang menusuk di hatinya membuat Shion tidak dapat mengucapkan kata-kata lagi.
.
.
"Oh iya, kau ingin bertanya apa tadi?" Shion memulai topik pembicaraan, agar Naruto tidak cemas dan bertanya macam-macam karna keterdiaman ini.
Naruto akhirnya membuka kedua matanya. "Benar juga, aku sampai lupa." Ia menggaruk kepalanya yang tadinya tidak gatal lalu menjadi gatal sungguhan.
"Err.. Naru-kun!" Shion mencubit pipi Naruto gemas. Mungkin kalau dalam suasana dan jarak yang sedekat ini, orang awam akan berpikir kalau mereka menjalin hubungan. Tidak—dalam keadaan biasa pun dengan mereka yang selalu berdua kemanapun pergi tanpa pembatas, orang-orang pasti akan mengira mereka adalah pasangan yang serasi walau nyatanya mereka tidak begitu.
"Sampai kapan kau akan meminum obat anti kehamilan itu? Apa kau tidak takut overdosis, ha?" pertanyaan yang dari tadi berputar diotak Naruto pun akhirnya keluar. Ia sudah sangat lama penasaran dengan sahabatnya ini, dengan kebiasaannya mengkonsumsi obat anti kehamilan yang dosisnya paling tinggi itu. Ia cukup mengkhawatirkan keadaannya kalau terus-terusan bergantung dengan obat itu.
Wajah Shion yang tadi kesal seketika berubah, ia tertawa terbahak-bahak. Pertanyaan yang tabu itu cukup membuatnya tertawa sampai sakit perut.
Kenapa Naruto begitu ingin tahu tentang itu sih? Atau jangan-jangan ia penasaran dengan obat itu? sejak kapan Naruto menjadi orang yang ingin tahu urusan orang?
Naruto menatap Shion kesal. Ia bermaksud bertanya serius karna ia mengkhawatirkannya, tapi kenapa Shion malah tertawa? Apakah lucu seorang laki-laki bertanya hal tabu seperti itu?
"Sudah selesai tertawanya?"
Shion berdehem. "Baiklah.. Pfftt… Walaupun sebenarnya ini sangat lucu buatku, aku tidak akan bertanya kenapa kau menanyakan hal itu. Yang jelas sudah sejak sebulan yang lalu atas saran Gaara-kun, aku mengganti obat anti kehamilan itu dengan alat kontrasepsi yang biasa digunakan oleh perempuan yang sudah menikah." jelasnya sambil susah payah menahan tawanya. Ia masih tidak percaya ada seorang laki-laki yang bertanya hal itu, —sepolos itu.
"Lalu?"
"Ya.. Aku juga takut overdosis dan juga aku sudah lelah kalau harus selalu meminum obat itu setelah berhubungan, sekali saja lupa meminumnya, maka aku akan hamil. Mengerikan bukan?" jelas Shion lagi. kali ini ia sudah tidak tertawa. Wajahnya kembali serius seperti biasa.
"Jadi untuk apa tadi kau mencari obat itu seolah-olah kau sangat membutuhkannya?" tanya Naruto lagi. wajahnya yang cuek kini ikut serius seperti Shion.
"Aku pikir obat itu sudah habis atau hilang disini, soalnya waktu itu kan Gaara-kun memberiku dua buah tapi nyatanya di tasku hanya ada sebuah saja."
Naruto mengangguk berkali-kali. Ternyata Shion menyadari kalau obat itu memang tertinggal dikamarnya. Untung saja dia hanya mengambil obat itu beberapa buah, kalau sampai dia memberikan obat itu pada Hinata semuanya, entah apa yang akan ia katakan pada Shion saat ini.
.
"Kalau kau mau, aku bisa memberikannya padamu. Mungkin itu bisa kau gunakan pada gadis yang kau temui di jalan." Shion terkekeh sebentar. Ia kalau bicara memang selalu terus terang tanpa disaring terlebih dahulu. Mana mungkin Naruto akan melakukan hal kriminal seperti itu pada orang yang tidak ia kenal? Memangnya dia penjahat.
"Sembarangan saja kalau bicara!" Naruto mencubit kedua pipi Shion gemas.
Dan sore itu pun mereka habiskan dengan bercanda gurau bersama sebagai sepasang sahabat.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
Hehehe #ditabokrame"
Maaf yah kalo masih belum memuaskan —Lagi
Sepertinya mulai dri sini word tiap Chapnya akan sering naik turun #gomen gomen TvT
Dan untuk yang kesekian sekian dan sekian kalinya makasih buat yang udah nyempeti Review, terima kasih atas review dan masukan luarbiasanya.
#akusenang #sangatterharu TvT
Cie y malam mingguannya kaga jadi karna ujan..^^ hehehehe sepertinya cuaca dan suasana saat ini mendukung buat Updated
So —Se you next weeks Minna \(^o^)/
.
.
.
Sampai jumpa lagi di Chapter berikutnya \(^v^)/
