SENPAI,.. NOTICE ME!

Disclaimer By Masashi Kishimoto's

Namikaze Naruto X Hyuuga Hinata

Genre : Drama|Romance|Friendship

M

WARNING

AU,OCC,TYPOS,MATURE THEM'S,LEMON,REMAKE Etc

(FF ini Remake dari sebuah fic dengan judul serupa milik Author Nyangiku dari Fandom Bleach/screenplays yang belum pernah di bublish dimana pun)


Chapter 6

.

.

.

"Sakuranee, apa kau merasa kalau akhir-akhir ini Hinata-chan sering sekali sakit ya? Wajahnya juga selalu terlihat pucat. Apa dia mengidap suatu penyakit atau hal lain?"

"Setahuku dia tidak mengidap penyakit apapun."

"Aku juga merasa aneh dengannya. Pintu kamarnya sering ia kunci dari dalam, padahal dulu ia tidak pernah menguncinya. Lampu kamarnya juga sering ia matikan atau ia buat redup, padahal ia tidak bisa tidur kalau lampu kamarnya tidak menyala terang."

"Hee.. Sakuranee tau sampai sedetail itu ya? Sakuranee menyelidikinya diam-diam?"

"kaa-sannya yang memberitahuku, bodoh. Walaupun rumahku bersebelahan dengan rumahnya aku tidak tau detail kalau tidak mendatanginya langsung."

"Oh ya, kemarin dia berlari keluar dari kelas Chiinatsu-Sensei, ia memegangi perut dan mulutnya seperti mau muntah,"

"Lalu kau mengikutinya?"

"Mana bisa! Aku sedang dihukum karena lupa mengerjakan tugas."

"Ino bodoh."

"Sakuranee aku serius."

"Mungkin dia salah makan. Atau tanya saja langsung padanya. —Tuh." Sakura menunjuk ke arah Hinata yang sedang berjalan menuju mereka dengan nampan yang berisi cemilan untuk menemani mereka bertiga.

.

.

"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?"

"Hinata.."

"Ya Sakuranee?"

"Kau akhir-akhir ini sering sakit, bagaimana kalau kuantar untuk check up ke rumah sakit?"

"Eh? Aku tidak sakit kok."

"Tapi wajahmu selalu terlihat pucat. —Kau yakin?" Sakura mendekatkan wajahnya ke depan wajah Hinata. Matanya menatap dalam wajah polos itu sampai si pemilik wajah merasakan kedua pipinya memanas. Jarak Sakura dengannya terlalu dekat kalau begini.

.

.

.

"Aku ingin mengajakmu datang kerumahku,"

"Eh? Tapi aku—"

"Kaa-san dan Tou-sanku sedang tidak ada dirumah beberapa hari ini."

"Jadi mau terima ajakanku?"

Hinata menoleh terkejut. "Sekarang?" tanyanya untuk memastikan.

"Iya." Naruto menarik tangan Hinata untuk memasuki mobilnya. Saat ini mereka baru saja pulang sekolah, tapi mereka tidak berada di area sekolah. Melainkan di jalanan yang cukup jauh dari area sekolah. Mereka tidak ingin ada orang lain melihat mereka pergi bersama berduaan.

Hinata memegangi ujung roknya sejak ia memasuki mobil Naruto. Wajahnya agak menunduk malu. Naruto yang serius memacu kendaraannya sesekali melirik kearah Hinata. Tersenyum melihat tingkah gugup kekasihnya ini.

Mereka tidak saling berbicara sejak mobil ini mulai melaju. Baik Hinata ataupun Naruto tidak ada yang memulai pembicaraan. Lagipula Hinata tidak ingin mengganggu konsentrasi Naruto saat menyetir. Hanya saja, terkadang saat mereka terjebak lampu merah sebelah tangan Naruto mengusap pipi chubby Hinata atau menggenggam tangannya yang ia letakkan diatas pahanya. Membuat Hinata menoleh sebentar dengan pipi yang merah merona. —Ia malu.

Baru kali ini ia diajak pergi menggunakan mobil pribadi Naruto. Biasanya mereka pergi kencan menggunakan kereta atau bus umum diam-diam.

Rumah Naruto yang kebetulan agak jauh dari sekolah membuat Hinata merasa bahwa perjalanan yang mereka lalui cukup lama. Padahal biasanya untuk pulang atau pergi ke sekolah Hinata hanya memerlukan waktu 20 menit karena jarak sekolah dan kompleks perumahannya dekat.

.

.

Mobil Naruto memasuki gerbang kompleks perumahan yang agak asing bagi Hinata. Walaupun sering melewati area depannya, tapi untuk masuk ke dalamnya —jujur ia belum pernah.

"Rumah Naruto-senpai dan Shion-senpai itu berdekatan. Katanya sih bersebrangan."

Tiba-tiba kata-kata Ino terlintas diotaknya. Ia baru ingat, kalau Naruto dan Shion kan sahabat sejak kecil. Pastinya rumah mereka juga berdekatan seperti rumahnya dengan rumah Sakura yang bersebelahan.

Hinata yang tadinya gugup berubah menjadi gelisah. Ia takut Shion mengetahui kalau dia datang kerumah Naruto. Entah apa yang akan terjadi nanti.

"Bahkan katanya Shion-senpai suka memasuki rumah Naruto-senpai seenaknya seperti rumahnya sendiri."

Kata-kata Ino kembali terlintas. Sampai tanpa Hinata sadari kalau mobil Naruto sudah memasuki gerbang sebuah rumah bergaya minimalis. Lalu terparkir tepat didepan pintu utamanya.

"Kenapa..? kelihatannya kau cemas sekali?" Naruto yang menyadari perubahan sikap Hinata pun bertanya. Ia menyadari kalau sejak tadi Hinata terlalu hanyut dalam pikirannya sendiri.

"A..aku sebaiknya… aku pulang saja ya, senpai?" Hinata menatap Naruto yang sedang sibuk melepas sabuk pengamannya dengan tatapan takut.

"Kau takut Shion melihat kita sedang bersama?"

Hinata tertunduk dan mengangguk pelan. Naruto tersenyum. Tangannya menepuk pelan kepala Hinata lalu mengusapnya. Membuat Hinata mengangkat kepalanya untuk sekedar melihat ekspresi wajah Naruto.

"Rumah Shion memang berada didepan rumahku, tapi saat ini Shion sedang pergi. Setiap hari jumat dia tidak pulang kerumahnya,"

Benar juga. Hari ini hari jumat, dan besok dia ada janji untuk pergi ke butik Ino bersama Sakura.

"Kalau kau memang sangat takut Shion melihat kita, kita masuk lewat halaman belakang saja." Naruto menyalakan mesin mobilnya kembali. Memacu mobilnya menyusuri jalanan berbatu yang di tata memang khusus untuk jalur mobil.

"Rumah senpai bagus." akhirnya Hinata mengeluarkan suaranya juga. Setelah selama perjalanan hingga sampai kesini ia hanya mengangguk dan menunduk malu.

Naruto tersenyum hangat. "Ayo masuk," ajak Naruto. Ia sengaja keluar duluan dari mobilnya untuk membukakan pintu mobilnya agar Hinata bisa keluar dengan mudah. Wajah Hinata kembali memerah. Baru kali ini ia diperlakukan seperti ini oleh laki-laki yang juga adalah kekasihnya.

"Kau langsung naik ke atas saja ya? Kamarku yang pintunya terbuka sedikit." Naruto menunjuk tangga menuju lantai 2 sedangkan ia sedang sibuk mengotak-atik tombol yang ada didekat pintu yang tadi mereka masuki. Sepertinya Naruto sedang mengatur penguncian otomatis rumahnya.

Tanpa menjawabnya, Hinata menurut saja berjalan menaiki anak tangga satu persatu sambil memperhatikan sekelilingnya. Mengagumi rumah yang sedikit lebih besar dari rumahnya. Rumah yang tertata rapi, suasananya juga tenang dan damai.

Mata Hinata menangkap pintu yang Naruto maksud tadi. Ia mengintipnya sebentar, agak ragu juga memasuki kamar orang lain selain kamarnya, kamar Sakura dan tentunya kamar Ino. Apalagi ini adalah kamar seorang laki-laki, kamar Senpai sekaligus kekasihnya lebih tepatnya.

Hinata menyentuh knop pintu itu perlahan. Tidak perlu ia memutar knop pintunya untuk membukanya, karna pintu ini memang sudah terbuka sedikit, ia hanya perlu mendorongnya pelan.

.

Ruangan kamar yang lagi-lagi lebih besar dari kamarnya terpampang jelas didepan matanya. Kamar bernuansa hitam putih dengan langit-langit yang di gambar pemandangan langit. Rak-rak buku berisi jejeran koleksi komik yang lumayan banyak. Sebuah karpet tebal dengan stik playstation yang berserakan dibawahnya.

Meja belajar yang tertata rapi. Juga sebuah kasur berukuran king size yang terletak ditengah-tengah ruangan.

Mata Hinata tertarik pada jendela yang berada didepannya. Jendela yang tepat mengarah ke depan sebuah rumah yang berbeda modelnya dengan rumah Naruto.

"Mungkin itu rumah Shion-senpai." gumamnya pelan sambil memegang erat gorden berwarna putih disampingnya.

"Apa kau merindukanku?" sebuah pelukan hangat dari belakangnya membuatnya tersentak. Sudah dipastikan kalau ini adalah pelukan orang yang ia cintai, yaitu Naruto. Karna hanya ada ia dan Naruto didalam rumah sebesar ini. Bisikan suaranya seakan menggelitik telinganya.

Naruto meletakkan kepalanya pada sebelah pundak Hinata lalu mencium pipi Hinata sekilas.

"Yang diseberang itu adalah rumah Shion."

Hinata hanya mengangguk. Tanpa diberitahu pun ia sudah mengetahuinya. Naruto membalikkan tubuh Hinata untuk berhadapan dengannya setelah ia melepaskan pelukannya.

"Senpai, bisa nyalakan ACnya? Disini terlalu panas."

"Kalau kepanasan tinggal buka saja bajumu, —bukankah biasanya begitu?" Naruto tersenyum jahil. Mungkin dengan menggodanya begitu bisa membuat Hinata tidak gugup lagi. Dan suasana dikamar ini menjadi cair.

"Aku tidak akan melepaskannya." Hinata menjulurkan lidahnya. Meledek Naruto.

"Aku akan melepaskannya dengan paksa," Naruto memegang pinggang Hinata lalu mengangkat tubuh kurus Hinata sampai ada jarak antara kakinya dengan karpet dibawahnya.

Hinata meronta-ronta minta dilepaskan. Ia memukul-mukul tangan Naruto pelan sambil berteriak kecil. Tapi Naruto malah menggelitiki pinggangnya hingga Hinata tertawa-tawa menahan geli. Seragam sekolahnya yang tadi masih rapi jadi agak berantakan.

"Senpai henti—ahahaha—" Hinata tertawa terus sampai kedua matanya berair. Kakinya masih belum menginjak tanah. Dan tubuhnya masih Naruto pegangi.

"Senpai—kyaa!" kaki Naruto tidak sengaja menginjak stik playstationnya yang ia letakkan diatas karpet yang ia injak.

.

BRUUK!

.

"Hahaha.." mereka berdua terjatuh bersamaan ke atas karpet tebal yang tergelar dibawah mereka, bukannya meringis kesakitan, mereka malah tertawa sekaligus geli karna baru saja mengalami hal konyol.

Hinata terjatuh menindih tubuh atletis Naruto. Nafas mereka terengah-engah karna terlalu banyak tertawa. Seragam mereka yang sudah sangat berantakan tidak mereka hiraukan sama sekali.

Masih terdiam dengan posisi yang sama. Tidak ada yang berinisiatif bergeser untuk berganti posisi. Sepertinya mereka nyaman dalam posisi seperti itu. Hinata sampai memejamkan kedua matanya, menikmati suara degupan jantung Naruto yang tepat berada di dekat telinganya.

"Jangan tertidur disini, lama-lama tubuhmu berat juga." suara Naruto membuat Hinata membuka kedua matanya. Ia memang hampir tertidur dalam pelukan hangat ini, kalau saja Naruto tidak bersuara mungkin dia sudah tertidur nyenyak.

"Aku mengantuk Senpai, hoaaam.." bukannya bangun, Hinata malah menggeser tubuhnya kesamping Naruto. Mulutnya menguap lebar. Ia terlalu merasa nyaman sampai mengantuk—tidak dimanapun dan kapanpun Hinata memang selalu merasa nyaman dan mudah tertidur.

"Hei, jangan tertidur disini. Ayo bangun!" Naruto menguncang-guncangkan tubuh Hinata yang sudah terkulai lemas. Mungkin kalau dipresentasikan, saat ini tingkat kesadarannya hanya 20% sisanya sudah pergi ke negeri mimpi.

Naruto menepuk jidatnya. Bagaimana bisa ada orang yang cepat tidur seperti ini, —keterlaluan sekali. Dengan terpaksa akhirnya ia mengangkat tubuh Hinata untuk ia letakkan diatas kasur empuknya. Mana mungkin ia tega membiarkan kekasihnya itu tidur terlelap diatas karpet. —Walaupun nyatanya karpet ini nyamannya menyamai sebuah futon.

.

.

.

"Kaa-san?!" Hinata tersentak, terbangun dari tidurnya. Ia baru ingat kalau ia belum ijin untuk pulang terlambat hari ini. Ia meraba-raba tubuhnya mencari sesuatu.

Naruto meletakkan stik playstationnya refleks karna mendengar teriakan kecil dari Hinata. Ia bangun lalu menghampiri Hinata.

"Ada apa?" tanya nya cemas. Ia menatap wajah polos Hinata yang masih sedikit mengantuk.

"Aku belum bilang pada Kaa-san kalau aku akan pulang terlambat hari ini." Hinata panik mencari-cari ponselnya. Tapi tidak ia temui disekitarnya.

"Kau baru tidur 30 menit kok. —Jangan khawatir." Naruto mengeluarkan ponsel Hinta dari dalam tasnya lalu menyerahkannya pada Kekasihnya itu. Dan langsung di sambar dengan cepat.

Naruto melanjutkan aktivitasnya bermain playstation, sedangkan Hinata sibuk memainkan ponselnya menempelkan ponselnya ke telinganya yang di tindik lalu menghubungi Kaa-sannya. Sedikit terjadi perdebatan dipercakapan teleponnya itu, tapi akhirnya Hinata mengakhiri teleponnya dengan satu tarikan nafas tenang. Dia pasti sudah berhasil meyakinkan Kaa-sannya. Pikir Naruto.

"Game itu lebih seru dibanding aku ya?" suara Hinata terdengar lirih ditelinga Naruto. Konsentrasinya bermain game sepak bola agak terganggu sedikit. Apalagi tanpa diketahuinya, ternyata Hinata memeluknya dari belakang. Kedua tangannya ia lingkarkan ke perut Naruto. Pelukannya cukup erat ditandai dengan dada Hinata yang sampai menekan ke punggungnya. Membuat jantung Naruto berdesir diperlakukan seperti itu.

Baru kali ini Hinata berani melakukan hal yang seperti ini walaupun ia sering dipeluk dari belakang oleh Shion —persis begini, tapi rasanya beda bila dipeluk oleh orang yang dicintai. Hal ini membuat Naruto tersenyum senang tanpa diketahui Hinata tentunya.

"Cemburu?" Naruto melepaskan pelukan Hinata lalu membalikkan badannya agar berhadapan dengannya. Menatap wajah polos Hinata yang baru beberapa menit yang lalu bangun dari tidurnya. Wajahnya lebih cantik saat ia baru bangun tidur seperti ini.

Hinata menggeleng lemah. "Ya sudah, aku lanjutkan main gamenya," bukan karna marah ia mengatakan hal itu, ia hanya bermaksud itu menggoda Hinata saja. Ia ingin tau apa respon Hinata selanjutnya kalau diperlakukan seperti itu. Tangannya pura-pura hendak memegang stik playstation kembali.

"Aku pulang sekarang!" bibirnya ia manyunkan kesal. Game lebih penting dibandingkan dirinya. Jadi untuk apa dia tetap diam disini? Untuk menemaninya bermain game? Lebih baik dia tidur saja dirumahnya. Pikirnya.

Saat Hinata hendak berdiri, Naruto malah menyeringai.

Respon Hinata sama seperti yang ia bayangkan. Hinata tidak berbuat manja atau merayunya untuk berhenti bermain game, dia malah marah karna rasa cemburu yang tidak dapat diungkapkannya. Itu lah yang Naruto suka dari Hinata. Dia memang sulit untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya, tapi hal itu justru membuatnya unik dan beda. Membuat Naruto tertantang untuk membuatnya luluh ditangannya.

"Bagaimana kalau kita 'bermain' game berdua saja?" Naruto menarik tangan Hinata agar ia tidak pergi dari dekatnya. Hinata yang dari tadi manyun kesal agak tersentak.

Apa bermain yang ia maksud adalah hal yang seperti 'itu'?

Pikiran Hinata yang tadinya polos entah sejak kapan berubah menjadi peka untuk hal-hal seperti ini. Ia seperti sudah hafal betul sinyal-sinyal Naruto kalau ia ingin melakukan hal 'itu'. Salahkan Naruto yang telah membuatnya menjadi seperti ini. Jangankan untuk meminta duluan, untuk menanggapi permintaan Naruto secara langsung pun ia masih malu-malu.

Hinata diam tidak menjawab. Ia terlalu malu untuk menerima ajakan Naruto. Bukan hanya malu, tapi juga gengsi. Walau sebenarnya ia pasti akan mengiyakan ajakan itu. Ia sudah tidak dapat lagi menolak permintaan yang 'menyenangkan' itu. Dia tidak menampik itu.

"Aku tidak akan menunggu persetujuanmu." kedua tangan Naruto cepat-cepat mengangkat Hinata ala bridal style. Hinata yang kaget hanya bisa berteriak kecil. Naruto kemudian membawa tubuh kurus Kekasihnya itu ke atas kasurnya. Ia membuang mukanya malu.

Ia merasa seperti seorang pengantin kalau diperlakukan seperti ini. Apalagi mereka benar-benar hanya berdua dirumah ini—tidak mereka ditemani oleh layar TV yang masih menyala menampilkan game yang tadi dimainkan Naruto.

Tangan Naruto sudah tidak tahan untuk tidak mengelus-elus tubuh yang hampir setiap hari selalu ia nikmati itu. Bergerak dari atas kepalanya lalu terhenti di pipinya. Naruto mengelus bagian itu lembut seperti mengelus seekor anak kucing yang bulunya lebat dan halus.

Tanpa diberi isyarat terlebih dahulu, bibir Naruto sudah menempel diatas bibir ranum Hinata yang selalu terasa manis, asam dan segar. Rasa khas strawberry yang tidak disukai Naruto. Tapi kalau untuk si penyuka strawberry dibawahnya ini adalah sebuah pengecualian.

Hinata diam saja menikmati ciuman lembut yang disertai elusan tangan kekar Naruto diatas dadanya dari luar seragamnya yang kusut. Sesekali ia mengejang akibat remasan tangan Naruto di dadanya yang ia lakukan tiba-tiba.

Walaupun ia sering diperlakukan seperti ini, tapi perasaan aneh yang melandanya ini masih sama rasanya saat pertama kali Naruto lakukan kepadanya waktu itu. Tentu saja karna itu adalah salah satu bagian sensitive ditubuhnya.

Hinata hanya membiarkan tubuhnya merasakan setiap inci rangsangan yang Naruto berikan kepadanya. Membiarkan Naruto menjamah seluruh tubuhnya tanpa satu senti pun terlewat oleh tangan dan bibir lincahnya.

Ia bahkan sudah tidak sadar kalau seragam kusut yang ia pakai sudah dibuka oleh Naruto seutuhnya hingga dadanya yang sudah tegang dan membesar menantang Naruto untuk melahapnya habis.

Kedua tangannya kebingungan mencari sesuatu untuk dipegangnya. Padahal sprei dibawahnya bisa ia genggam kalau ia mau.

Kepala Naruto terbenam di dua buah dadanya itu. Melahapnya, mengisap ujungnya yang mengeras sambil sesekali menggigitnya. Hinata tidak peduli kalau kenyataannya ia seperti sebuah boneka yang dipermainkan sepihak. Ia hanya ingin menikmati sentuhan Naruto, membuat Narutonya puas dan senang.

Semua sentuhan Naruto ini sudah cukup membuat perasaannya meletup-meletup.

Ia mengerang seksi. "Nghhnn… Mmhhm—Aahh—"

"Teruslah mengerang seksi begitu. Aku menyukainya." rayu Naruto disela aktivitasnya membuat wajah Hinata yang sudah memerah akibat rangsangan bertubi-tubi bertambah.

Sekarang tangan Naruto membuka kedua pahanya perlahan, jarinya menyingkap rok kotak-kotak pendek yang sudah kusut dan tidak berbentuk lagi. Jari-jarinya langsung mengarah ke tempat paling sensitive di pangkal paha itu.

Ia menggosok-gosok gundukan itu dari luar celana dalamnya yang sudah basah sejak tadi. Tubuh Hinata hanya bisa menggeliat kegelian.

Satu jarinya bahkan sudah menyelusup ke celah secarik kain putih berenda itu. Mengaduk-aduknya dengan mudah karna sudah licin oleh cairannya yang semakin lama semakin banyak keluar.

Hanya dengan rangsangan begitu pun Hinata sudah cukup merasakan kenikmatan. Tapi tubuhnya tetap meminta lebih lagi. Ia tidak akan puas kalau cuma jari jemari Naruto yang bermain disana.

Naruto merasa kalau Hinata akan mencapai puncaknya yang pertama sebentar lagi. Ia buru-buru membuka celana panjang yang bermotif sama seperti rok Hinata. Mengeluarkan kejantanannya yang sudah mengeras tanpa harus di rangsang lagi, mengarahkannya untuk masuk ke dalam lubang hangat itu melalui celah pinggir celana dalam Hinata yang ia buka sedikit.

"Nghh.." Naruto mendesah tertahan saat miliknya masuk melalui celah sempit celana dalam Hinata. Celah kecil yang menjepitnya ini saja sudah cukup membuat miliknya keenakan.

.

BLESS

.

Milik Naruto sudah tertanam di dalam lubang hangat itu sekarang. Ia mendapat dua sensasi sekaligus, desakan dari pinggiran celana dalam Hinata serta jepitan dari lubang hangatnya yang berkedut-kedut mengisapnya untuk masuk semakin dalam.

Tubuh Naruto bergetar saat ia mencoba menggerakkan miliknya. Sedangkan tubuh Hinata mengejang kuat menahan sensasi dibawah sana.

Naruto tidak boleh menikmati kenikmatan ini sendirian walaupun kenyataannya ia sudah cukup menikmati posisinya sekarang tanpa harus menggerakkan miliknya, tapi ia tidak boleh egois. Ia harus membuat Hinata juga merasakan hal yang ia rasakan.

Sambil menahan nafasnya, Naruto menarik miliknya keluar setengah lalu mendorongnya, menghentak-hentakannya agar masuk semakin dalam. Sebelah tangannya memegangi pinggiran celana dalam Hinata agar semakin terbuka.

"N—Naruu.. Mhhm—aakhh.." baru kali ini Hinata memanggilnya dengan nama kecilnya —tanpa embel-embel 'senpai' dibelakangnya. Naruto yang mendengarnya menjadi semakin semangat mengencarkan serangannya terus menerus. Memaju-mundurnya miliknya dengan tempo yang cepat.

Sampai miliknya merasakan hisapan yang semakin menguat. Lubang hangat itu berkedut cepat. Hinata pasti sudah akan mencapai puncaknya.

Hinata yang tahu sebentar lagi ia akan sampai hanya bisa mengerang dan mengerang menantikan kenikmatan yang akhirnya sampai.

"Aaahh.. Ahh.. A—akhh.." Hinata menjerit panjang. Tubuhnya mengejang kuat. Lubangnya menjepit kuat-kuat milik Naruto dibawah sana.

Kedua tangannya mencengkram erat sprei dibawahnya yang sudah tidak berbentuk lagi. Letupan-letupan dahsyat yang melanda perasaannya akhirnya meletus juga.

"Uhh.." Naruto yang merasakan puncak kenikmatan Hinata pun ikut mendesah. Miliknya menjadi hangat dilapisi oleh cairan Hinata yang cukup banyak.

Ia menghentikan gerakannya untuk memberi waktu kepada Hinata agar dapat menikmati puncaknya. Miliknya sendiri masih keras menantang didalam sana, belum ada tanda-tanda kalau ia akan selesai juga menyusul Hinata.

Ia mengeluarkan miliknya perlahan dari bawah sana. Bermaksud untuk mengganti posisinya agar lebih nyaman. Hinata masih diam mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat kenikmatan yang baru ia rasakan.

Milik Naruto sudah keluar seutuhnya. Ia menatap miliknya yang terbungkus oleh cairan bening kental Hinata yang tercampur dengan—

.

—darah?

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE

Hehehhehehe .. .. #cengarcengirgaje

Gomen kalo Chapter ini masih kurang memuaskan, Untuk yang ke sekian kalinya Makasih buat yang udah nyempetin Review. ^^

Special kali ini Sesi Tanya jawab^^ .. makasih buat Garachi-san Yang sudah menyadarkan Happy dari kesombongan ini T.T

Sebenernya sih bukannya gak mau bahas, Cuma agak bingung juga mau bales apa!

Salsabilla12 Yoii^^ |ana Oke |yuka emm.. |Baka Vie-chan siap |yadnya mauginama lagi, pastinya ^o^ |Guest mungkin karna NaruShion udah deket dari kecil juga |Byakugan no Hime pasti tau, yang namanya bangkai 'rahasia' pasti suatu saat bakalan kecium |NaruHinaLovers hahaha |Guest wah, Nocoment! |hotaruNHQ sepertinya emang dia punya niat terselubung, Cuma mungkin dia pribadi sendiri jga belum nyadarin itu kenapa, Yos.. semangat kok^^ |kimi no Nahi ah, kaga juga T.T, gak janji yah^.^ |Akarisqnat cie yang gereget, ada lagi kok, pasti ada #Happyotakhentai |seolqana belum tahu, untuk saat ini.. emm.. |hsolenoAkru bisa diatur^^ |NaomNad makasih^^,ngomong-ngomong aku Happy bukan yuyu ToT .. makasih banyak Naomi-chan, yosh Hidup NaruHina \(^o^)/ |dylanNHL siap, kyaknya belum |David997 sepertinya memang begitu, mungkin faktor karna terlalu sering bersama |Anre sengaja, belum saatnya |Akura Vahimu SIAP ^o^ |Garachi berhubung Hinata orangnya pasraha, ya mau gimana lagi—gak ada salahnya kan mencoba mengerti toh dya udah terlanjur percaya sama Naruto, sepertinya begitu, enggak juga, tidak ada tulisan yang sia-sia di sini, dari awal aku baca kok semuanya, ampe berulang" malahan —Cuma bingung juga mau bales apaan ^.^ #makasihudahnyadarin. |Pencinta pair canon mungkin ^^ |Narunata semoga saja^^, akan kuusahakan |Guest hmm, aku gak bisa janji |Yuka em… ano…sepertinya Happy perlu jelaskan,.. mungkin Hinata gak bakalan Hamil di fic ini, Boruto aupun Himawari gak akan ambil bagian disini, lagian karakter Naruto disini masih labih—begitu juga Hinata, jadi gak mungkin kalo dibuat Hinatanya hamil, trus karna kondisi mental mereka yang masih ABG labil akhirnya gak harmonis lah, walaupun nikah juga mungkin gak bertahan lama. Bukankah yang begitu sudah pasaran. Tak ada salahnya kan mercoba hal yang lebih berbeda! | permatadian LOL pasti Happy End kok^^,gak janji yah. | megahinata \(^.^)/ | elzakiyyah Enggak kok, tenang ajah, dific ini mereka gak punya ekor ^.^

Hinata yang sering sakit-sakitan jelas itu efek samping dari obat yang diberikan NarutoNaruto sendiri belum tahu kalo obat yang dya kasih ke Hinata itu punya efek samping sampe kyak gitu.

Oke sekian,^^ maaf atas jawaban Happy yang tidak memuaskan atau salah-salah kata. Kalo ada yang kelewat sekali lagi Happy ucapkan Maaf.

Yosh ^o^

.

.

.

Sampai jumpa di Chapter berikutnya \(^o^)/