Bad Omen

Chapter 2

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Warning : AU! Typo(s), Yaoi, BL

Pair : AkaKi, Kami!AkaKid!Kise, Slight!KagaKuro

Genre : Angst, Hurt/Comfort, Romance

Rating : T

Summary: Langit itu jahat, lihatlah mereka mulai bermain akan nasib sekarang. Dosa apa yang telah dia perbuat? Dosa apa yang telah mereka lakukan? Kenapa cincin nasib hanya membawanya pada kesedihan? Apakah kebahagiaan memang tidak pernah ada? Ilusi apa yang bahkan sanggup mempermainkan seorang Dewa?


oOo

"Di sini kau rupanya!"

Baru saja Ryouta ingin memanggil kembali paman merah yang telah menjauh, sebuah suara sukses mengejutkannya. Dengan gerakan pelan dan penuh ketakutan dia memutar kepala dan menemukan penampakan penuh kemarahan milik sang Uncle.

"U—uncle… i—ini…"

Ryouta memejamkan mata. Itu mengerikan, melihat mata menyala milik paman Taiga-nya benar-benar mengerikan. Tubuh kecil si pirang mulai gemetar ketakutan, kalau saja tidak ada sepasang tangan lembut memeluknya, mungkin Ryouta kecil tidak akan pernah berani untuk membuka mata sampai saat ini.

Tepat ketika ia membuka mata, helaian biru mudalah yang menyambutnya. Pelukan hangat penuh sayang dari Tetsuya Oji-san membuat Ryouta kecil berani untuk menyampaikan permintaan maaf. Terlebih dengan bisikan pelan dari paman birunya.

"Syukurlah kau baik-baik saja, Ryouta-kun."

"Go—gomenee ssu…"

"Ucapkan itu pada Uncle, dia sangat mengkhawatirkanmu."

Tetsuya melepaskan pelukannya pada Ryouta, dia bergeser beberapa langlah, memberi ruang pada sang suami untuk melihat penuh keponakan tersayang mereka.

Kedua iris gelap Taiga sedkit melembut, dia mendekat pada keponakan kecilnya, Taiga berjongkok dan mengambil kedua tangan si pirang kecil, menatapnya tepat pada dua keping keemasan milik Ryouta. Menunggu.

"I'm sorry… uncle…"

Ryouta tahu dia bersalah, dia telah membuat kedua pamannya khawatir, dengan wajah bersalahnya Ryouta kembali mengucapkan kata maaf. Dan walaupun Uncle Taiga melakukan semua hal ini, Ryouta kecil yakin akan ada agenda lain nantinya.

"Apa kau bermain di dalam sana, Ryouta?"

Ryouta mengangguk, Taiga mendengus. Bagus. Memang bukan sungai, tapi hutan tetaplah berbahaya. Taiga mengambil napas dalam dan menghembusnya perlahan, baiklah, sepertinya keponakan tercinta harus mendapat kedisiplinan.

"Mulai sekarang, kau tidak boleh bermain di dalam sana lagi."

Itulah yang dikatakan sang Uncle, dan Ryouta jelas tidak terima. Tepat setelah sang paman bangkit berdiri dan mulai mengambil kembali langkah-langkahnya, Ryouta mengekor, melayangkan protes dengan suara manja yang khas.

"Ehhhh? Uncle kenapa?"

"Terlalu berbahaya untuk bermain di hutan, Ryouta."

"Aku janji akan pulang tepat waktu!"

"Tidak."

"UNCLE!"

Selagi suami dan keponakannya tengah meributkan hal itu, Tetsuya hanya bisa tersenyum simpul, mungkin dia harus membantu keponakannya lain kali. Saat ini Tetsuya tidak segera mengambil langkah, ada perasaan aneh yang menghentikannya ketika dia berniat untuk melangkahkan kaki—demi menyusul suami dan si keponakan kecil.

Kedua iris biru milik Tetsuya bergulir, menatap awas pada beberapa pepohonan di belakang. Entah bagaimana dia bisa merasakan sepasang mata tengah mengawasi mereka. Apa itu hanya perasaannya?

"Tetsuya Oji-san!"

Ryouta berteriak, Tetsuya mengerjap, tersadar dari pikirannya sendiri. Dari kejauhan dia dapat melihat pipi berisi milik si pirang kecil tengah membengkak, apa yang baru saja Taiga lakukan pada keponakan mereka?

Tetsuya menghela napas, sebelum senyum sedikit terkembang dia segera mengambil langkah—setengah berlari— untuk menyusul dua orang berharganya.

.

.

"Tetsuya Oji-san… tolong beritahu Uncle, aku—aku tidak akan pulang terlambat lagi…."

Ryouta merengek.

"Tetsuya, katakan padanya, bahwa dia tidak akan bisa pergi ke manapun setelah ini."

"Akan lebih baik jika kita membicarakanya di rumah, Ryouta-kun, Taiga-kun."

Satu garis lengkung ke atas terukir pada wajah Seijuurou ketika bagimana berisiknya Ryouta menanggapi kedua paman yang telah ia dengar. Dari balik pepohonan dia terus melihat ke mana mereka pergi, dan satu bisikan kecil kembali terlepas darinya.

"Kita akan bertemu lagi, Ryouta."

oOo

"Ryouta-kun, boleh Oji-san masuk?"

"Hum."

Jawaban singkat dari Ryouta sukses membuat Tetsuya menghela napas pelan, tangannya terulur, meraih knop pintu kemudian memutarnya. Kedua azure-nya menatap penuh pada sosok pirang mungil yang tengah menggembungkan pipi. Merajuk.

Setelah makan malam beberapa saat lalu Ryouta benar-benar tidak bisa membuang wajah kesalnya, tidak ada senyum, tidak juga tertawa, bahkan jika boleh dikatakan Ryouta sama sekali tidak berniat untuk ikut makan malam bersama Uncle Tagai-nya.

Karena itulah Tetsuya hanya bisa tersenyum kecil, sementara kedua kaki kini berjalan mendekat, mempersempit jarak antara dirinya dan tempat tidur kecil milik Ryouta.

Ryouta memalingkan wajah.

Tetsuya menghela nafas pelan.

"Ryouta-kun marah pada Oji-san?"

Kali ini Tetsuya berhasil, setidaknya keponakan tersayang melirik padanya, membuat raut wajah bersalah lucu yang segera mendapat usapan hangat pada puncak kepalanya. Ryouta tidak memberontak, hanya menunduk penuh perasaan bersalah.

"Ryouta-kun tahu? Oji-san, punya satu cerita untuknya…"

Tetsuya sengaja menggantungkan kalimatnya, membuat Ryouta menatapnya penuh tanya dengan ekspresi yang benar-benar menggemaskan, tapi sebelum Ryouta membuka mulut, si biru segera melanjutkan kalimatnya, membuat rasa penasaran bertambah untuk si pirang kecil.

"… cerita yang membuat Uncle sangat khawatir."

Usaha itu sepenuhnya berhasil, walau tanpa mengucapkan sepatah katapun, Tetsuya tahu jika sang keponakan kecil tengah dipenuhi oleh rasa penasaran. Si biru semakin mendekat pada keponakan kecilnya, memeluk tubuh mungil itu dan mulai mengelus puncak si pirang.

"Ryouta-kun, ini disebut dengan tujuh warna kehidupan...

oOo

... orang-orang di sini percaya, jika setiap makhluk memiliki tujuh warna kehidupan.

Jauh kembali pada masa lalu, ketika semua dilakukan tidak dengan kemudahan, penduduk desa itu percaya, jika semua makhluk memiliki tujuh warna kehidupan. Tujuh warna yang mewakili sifat dasar dari para makhluk tersebut, terutama para manusia. Warna-warna itu akan menghilang seiringnya dengan batas usia mereka.

Warna pertama adalah Aka, orang-orang percaya warna merah melambangkan keberanian, ketegasan dan segala hal yang mengesankan. Pada dasarnya seorang pemimpin memiliki warna merah yang kuat.

"Tetsuya Oji-san, Sei Oji-san memiliki warna merah pada rambutnya, apa dia seorang pemimpin yang baik?"

Itu mungkin saja, Ryouta-kun. Boleh Oji-san lanjutkan?

"Hu'um!"

Warna kedua adalah Ki, warna ini melambangkan keceriaan, Ryouta-kun salah satunya. Hanya dengan melihat saja semua orang akan tahu jika Ryouta-kun memiliki warna kuning yang kuat.

"Oji-san, me—memangnya aku seperti itu ssu?"

Begitulah, salah satu alasan Oji-san menyayanginya adalah karena Ryouta-kun yang ceria. Warna selanjutnya adalah Kuro, warna ini melambangkan kesedihan dan kesepian, seseorang sering terlihat gelap ketika ia bersedih, benar begitu, Ryouta-kun?

"Um... yah... Uncle juga terlihat kuro akhir-akhir ini..."

Begitukah? Sepertinya Ryouta-kun juga memiliki Momo di dalam dirinya.

"Momo?"

Warna kasih sayang dan cinta kasih. Semua orang memilikinya, salah satu warna dasar pembentuk kehidupan, Ryouta-kun tahu jika orang mengerikan sekalipun, dia masih memiliki warna merah muda dalam hidupnya?

Kau terlihat bingung Ryouta-kun, apa ada yang ingin kau tanyakan?

"Um... tidak ada ssu... lalu... yang kelima?"

Ah, yang kelima adalah Ao, teman dari kasih sayang, kelembutan.

"Seperti Tetsuya Oji-san!"

Benarkah?

"Benar ssu! Tetsuya Oji-san adalah orang yang paling lembut! Lebih lembut dari Neecchi!"

Ryouta-kun, kau tidak boleh mengatakan sesuatu seperti itu. Baiklah, selanjutnya adalah Midori, kebijaksanaan. Mungkin Ryouta-kun memang belum memperlihatkannya, tapi Oji-san yakin jika Ryouta-kun juga akan menunjukan kebijaksanaannya suatu nanti.

"Eh... memangnya aku tidak bijaksana, Tetsuya Oji-san?"

Bermain ke tempat yang berbahaya bukanlah tanda dari kebijaksanaan, Ryouta-kun.

"Hufft-!"

Yang terakhir adalah Murasaki, Oji-san rasa untuk yang ini, Ryouta-kun sudah cukup memilikinya.

"Etto, memangnya murasaki itu apa...?"

Kesabaran, Oji-san rasa Ryouta-kun memiliki kesabaran yang cukup baik.

"Kalau begitu, Uncle tidak memiliki murasaki dalam dirinya ssu!"

oOo

... Oji-san rasa, kau benar... Ryouta-kun." Cukup lama untuk Tetusya mengatakan hal itu. Tapi pada akhirnya dia hanya bisa tersenyum dan memberikan cubitan pelan pada pangkal hidung sang keponakan manisnya.

"Tetsuya Oji-san kenapa selalu mencubitku ssu?"

Anak itu memberikan protes, dan kembali Tetsuya mengeratkan pelukan, sepertinya menyenangkan sekali ketika dirinya mulai memeluk tubuh mungil sang keponakan.

"Masih ada satu warna lagi."

"Eh, bukannya... Aka, Ki, Kuro, Momo,Ao... Midori, Murasaki... memang apalagi yang kurang Oji-san? Bukankah semuanya sudah tujuh?"

Si kecil itu memiringkan kepala, menatap bingung pada Tetsuya yang masih memeluknya. Tetsuya sendiri sepertinya tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit gemas pipi keponakan tersayangnya itu.

"Ryouta-kun, masih ada satu warna mutlak, warna yang selalu dimiliki semua orang, walau tidak selalu bisa dipertahankan. Untungnya Ryouta-kun masih dan akan selalu memilikinya."

"Hum?"

Penasaran jelas tergambar pada Ryouta. Kedua iris hazel miliknya menatap penuh pada sang paman, walau hanya gumaman kecil yang diucapkan, rasa penasaran yang amat sudah cukup ditunjukan oleh si pirang kecil.

"Shiro, artinya kepolosan. Itu adalah warna mutlak, semua orang memilikinya namun sayang seiring waktu, warna itu akan memudar."

"Um... polos?"

Tetusya tersenyum, satu kata yang dilontarkan oleh sang keponakan hanya bisa ditanggapi oleh anggukan ringan darinya, sepertinya tidak mudah untuk menjelaskan semua hal pada Ryouta-nya. Paman satu ini harus mencari beberapa kata yang tepat agar bisa dimengerti.

"Hm, Ryouta-kun tahu polos itu berarti adalah jujur atau tidak berlaku jahat?"

Si pirang mengangguk.

"Banyak arti kata polos, salah satunya adalah kejujuran dan hal baik. Ryouta-kun adalah anak yang baik dan jujur, maka dari itu selalu jaga shiro yang ada dalam diri Ryouta-kun, mengerti?"

Sekali lagi si pirang hanya mengangguk, entah mengerti atau tidak, penjelasan barusan sudah cukup membuat dirinya meguap kecil. Sepertiya sepasang hazel milik Ryouta mulai berkhianat, padahal ia berniat untuk terjaga lebih lama, mendengar cerita atau hanya mendapat elusan hangat dari sang paman bukanlah hal yang buruk baginya.

"Nah, sudah waktunya tidur."

Tetsuya beranjak dari tempatnya, membantu sang keponakan untuk menyamankan diri, dia juga memberikan ciuman selamat tidur pada si kecil. Setelah mengucapkan selamat tidur, Tetsuya 'pun mematikan lampu, membiarkan keponakan tersayangnya tidur dengan nyaman.

oOo

"Dia sudah tidur?"

Baru saja Tetsuya memasuki kamar tidur, sang 'suami' sudah menyambutnya. Terkadang, suaminya satu itu bertindak tidak jauh berbeda dari karakter yang sering disebut dengan 'tsundere', lucu tapi juga sedikit mengganggu.

"Taiga-kun... apa kau tidak terlalu keras pada Ryouta-kun?"

Alih-alih menjawab, Tetsuya justru memberi protes ringannya. Dia berjalan santai, sebelum berbaring di samping sang suami, meletakkan kepala pada bahu yang memang selalu membuatnya nyaman.

"Aku... hanya tidak ingin sesuatu menimpanya."

"Aku menceritakan tentang 'warna' padanya."

"..."

"Besok... Taiga-kun harus ceritakan tentang Aka no Kami."

"..."

"Oyasuminasai."

"Ouh, Oyasumi."

oOo

Pagi ini, ruang makan hanya diisi oleh denting sendok, wajah masam si kecil Ryouta, dan dengusan kesal oleh si pemilik rumah. Perang dingin Uncle-Nephew ini belumlah berakhir. Melihat kondisi ini, Tetsuya selaku orang yang berada dalam zona netral hanya bisa menghela napas pelan.

"Ryouta-kun, setelah ini mau ikut belanja."

"Benar, Oji-san? Aku mau!"

Riang, cepat-cepat si pirang menghabiskan omurice miliknya. Dibanding tinggal bersama dengan paman singa, menghabiskan waktu di pasar bersama paman Tetsuya jauh lebih baik. Lagipula ada satu hal yang masih membuatnya penasaran.

Perihal warna dan hutan masih mengganggunya, dan sepertinya Ryouta kecil masih kukuh untuk bertemu dengan paman barunya.

Semetara Taiga sendiri, dia hanya diam mendapati percakapan singkat antara istri dan sang keponakan kecilnya. Tidak punya hal penting untuk diucapkan, dia masih marah atas kelakuan Ryouta beberapa hari ini, walau sebenarnya dia tahu Ryouta tidaklah sepenuhnya salah. Mungkin Taiga juga memerlukan waktunya sendiri, berpikir dan mendinginkan kepala.

"Taiga-kun itu... ayah yang baik, ya?"

Seakan tahu, Tetsuya hanya membisikan kalimatnya sambil tersenyum penuh arti.

"Ryouta-kun, kalau sudah selesai tinggalkan saja, Oji-san yang akan membereskannya nanti."

"Wiiiisssu!"

Seperti apa yang dikatakan oleh paman tersayang, selesai menghabiskan satu porsi omurice, Ryouta segera kembali ke kamarnya. Bersiap, dia mengenakan topi, dan mengambil dompet pemberian Nee-chan pada ulang tahunnya yang keenam, setelahnya Ryouta kecil mulai mematut diri untuk memastikan bahwa dia memang sangatlah keren.

"Yosh!"

Ini memang bukan pertama kali Ryouta pergi ke pasar, karena itu dia sangat bersemangat. Bau pasar yang khas, apalagi jalan yang akan mereka lalui, banyak tumbuhan hijau, dan satu yang terpenting adalah sebuah jembatan kecil yang entah bagaimana mirip dengan salah satu jembatan yang ada dalam game favoritnya. Cukup dengan membayangkan saja sudah membuat senang.

Selesai dengan dandannya, Ryouta segera berlari keluar. Dia mulai berputar di sekitar Tetsuya dengan sangat berisik, mau tak mau kedua paman hanya bisa menunjukan tawa kecil (dalam hal ini Taiga berusaha mati-matian menyembunyikannya), lucu memang keponakan satu ini.

Tetsuya pamit, tangannya menggandeng pelan milik Ryouta. Perjalanan mereka kali ini diiringi dengan lantunan lagu penuh suka cita dari si pirang kecil.

Seperti desa kebanyakan, tempat mereka saat ini dipenuhi oleh tumbuhan hijau. Memanjakan diri dengan segarnya suasana, salah satu hal yang sangat di sukai oleh Ryouta, California juga tidak selalu memberikan hal semacam ini untuknya. Riang, Ryouta berlompatan kecil dengan salah satu tangan bertaut bersama sang paman, sesekali dia bertanya beberapa tanaman yang menarik perhatian—cerewet memang dan hanya dibalas dengan senyum simpul dari Tetsuya.

Entah sudah berapa lama mereka berjalan, entah sudah berapa banyak lagu dialunkan oleh si pirang, dan entah sudah berapa banyak pertanyaan yang dijawab oleh Tetsuya. Ryouta kecil kini berlarian, merentangkan kedua tangan; menjadikan diri seperti sebuah pesawat terbang.

"Oji-san! Besar nanti aku akan jadi pilot ssu!"

Berujar dengan riang, Ryouta kini berada di puncak jembatan yang menghubungkan langsung pada pasar yang ada di desa ini. Tangan masih direntangkan, dan senyum penuh warna bertabur pada wajahnya.

Tetsuya sendiri hanya bisa tersenyum simpul dan mengacak pelan helaian pirang milik keponakan kecilnya. Dia sengaja berhenti hanya untuk menatap penuh pada kedua iris hazel milik si pirang kecil dan memberikan senyum lembut untuk meyakinkan cita-cita keponakan tersayangnya.

"Kalau itu Ryouta-kun, dia pasti bisa menjadi seorang pilot."

Senyum cerah itu semakin melebar, betapa Tetsuya bahagia melihatnya dan Ryouta kecil kembali melanjutkan langkah, berlari, memasuki daerah pasar sambil melambai penuh semangat pada Tetsuya—ada banyak hal yang diinginkan Ryouta kecil hari ini.

.

.

Masih dengan penuh semangat si kecil Ryouta menggigit pelan roti melon yang baru saja dirinya dapatkan. Rupanya si pirang kecil benar-benar tidak bisa menahan diri ketika melihat roti manis berbentuk setengah lingkaran tersebut—padahal dia sudah cukup kenyang karena baru sarapan, atau mungkin nafsu makan Ryouta yang tidak begitu jauh dari sang Uncle?

Lupakan tentang nafsu makan, Ryouta kembali menggigit melonpannya serta kembali mengabsen sekitar. Banyak jajanan juga berbagai macam kebutuhan sehari-hari yang menarik perhatian si pirang, mulai dari peralatan dapur, sampai benda-benda yang Ryouta anggap antik dan untuk menghampus rasa penasaran, si pirang kecil menarik ujung kemeja sang paman.

"Hm? Ada apa Ryouta-kun?"

Menurunkan pandangan, Tetsuya menatap penuh pada keponakan kesayangannya. Ada kilat terhibur ketika melihat bagaimana Ryouta kecil masih menarik ujung kemejanya.

"Oji-san, aku mau berkeliling! Bolehkan?"

Dan kini senyum kecil kembali menghiasi wajah sang bluenette, beberapa saat setelahnya Tetsuya hanya mengangguk kecil. Membiarkan si pirang berlari penuh semangat, sebelum memberi peringatan singkat tentunya,

"Jangan terlalu jauh, Oji-san akan tunggu di dekat jembatan nanti."

—dan dibalas anggukan dari Ryouta.

oOo

Si kecil ini sepertinya memang memiliki jiwa petualang, bermula dengan mencari berbagai jenis penganan, berakhir dengan berada di pinggir sungai yang memisahkan tempatnya berada dan hutan. Walaupun Ryouta ingat untuk tidak bermain maupun mendekati sungai—mengingat dirinya yang juga tidak bisa berenang—dan karena itulah Ryouta memilih untuk duduk di tepian sungai sambil menikmati jajanannya.

Jari-jemarinya bergerak ringan, membuka satu bungkus yakisobapan dan mulai menggigit dengan penuh kenikmatan. Raut kesenangan Ryouta semakin mengembang saat bagaimana rasa itu mulai menyebar pada mulut, namun jelas hal itu tidak memakan waktu lama, karena setelah dua sampai tiga gigitan lainnya kedua iris keemasan Ryouta menangkap hal lain. Seseorang tepatnya.

Sepasang hazel miliknya melebar, helaian-helaian merah itu cukup akrab untuk si kecil Ryouta. Detik-detik selanjutnya si pirang dapat dengan jelas melihat seseorang yang dirinya kenal berjalan mendekat dari seberang sana. Berhenti tepat di sisi seberang, tujuh sampai sepuluh meter darinya. Berdiri, Ryouta kecil melambaikan tangan seraya memanggil nama yang begitu disukainya.

"SEI OJI-SAN!"

Riang, si kecil berteriak. Masih dengan penuh semangat dirinya melambai yang kemudian dibalas oleh lambaian pelan dari seberang sana. Paman baru yang telah menarik perhatiannya itu melemparkan senyum, senyum simpul yang membuat Ryouta melupakan segala peringatan-peringatan yang telah kedua pamannya berikan. Tanpa menunggu waktu lebih lama, Ryouta mengambil langkah, berlari, menelusuri tepian sungai. Bahkan dia tidak sempat memutar pandangan hanya untuk menoleh raut ganjil dari sang paman barunya.

Ada banyak hal yang ingin Ryouta tanyakan, ada berbagai hal yang ingin Ryouta sampaikan, beberapa hal seperti cerita sang Uncle Taiga yang melarangnya untuk bermain di hutan, sampai perihal tujuh warna yang diberitahukan oleh Tetsuya Oji-san sepertinya akan menjadi cerita menarik untuk dia berikan pada Sei Oji-san. Hanya itu yang dia pikirkan—bahkan penganannya 'pun dilupakan.

Dan ketika kedua kaki mungilnya tertaut, tidak sengaja karena langkah yang terlalu dipercepat, Ryouta mulai kehilangan keseimbangan. Kedua iris hazel melebar. Tubuh kecil Ryouta condong ke sisi kanan, membuatnya jatuh pada sisi miring, sedikit terguling dan berakhir dengan sambutan dingin dari air sungai.

Sayangnya tidak ada yang memberi tahu, jika tepian sungai itu memiliki kedalaman lebih dari dua meter.

.

.

oOo

Hari ini cerah, ada sedikit asa dari Seijuurou, teruntuk sang pirang tercinta.

Dia tahu jika paman anak itu tidak akan mengizinkan si kecil untuk bermain di hutan, dengan jadi pendengar yang baik, hal itu sudah cukup untuk diketahui. Namun entah bagaimana perasaannya, hanya saja Seijuurou bisa sedikit bernapas lega. Kenapa?

Jelas karena ia tidak akan bertemu dengan si pirang kecil, tidak akan ada hal baik yang akan dimiliki si kecil jika mereka terus bertemu. Sisi baik lainnya, si pirang tidak akan kehilagan warna lebih jauh—dan bagi dirinya sendiri, Seijuurou tidak perlu menyaksikan kehilangan untuk yang kedua kali.

Kehilangan orang tersayang.

oOo

Tempat ini tenang, terlalu tenang, jelas karena Taiga sedang melakukan meditasi, perenungan. Memang jarang, tapi jika harus mengingat apa yang telah dia ucapkan pada keponakan kecilnya, sepertinya wajar jika Taiga melakukan sedikit perenungan.

Itu benar, dia memang sudah keterlaluan, semarah itu pada si kecil, belum lagi semua itu bukanlah kesalahan Ryouta sepenuhnya, dia juga bersalah karena tidak memberi peringatan yang jelas. Dan mungkin menemani Ryouta bermain setelah dia pulang nanti bukanlah pilihan yang buruk.

"Yosh!"

Senyum penuh keyakinan terpampang pada wajah sang pemilik rumah, nanti, saat Tetsuya dan Ryouta kecil pulang, dia akan mengucap maaf, mengajak mereka untuk piknik, dan jika beruntung mungkin saja dia bisa bertemu dengan 'Sei Oji-san', seorang paman baru yang telah menarik perhatian keponakan tersayangnya.

Berajak, Taiga berniat mencari beberapa referensi untuk menu piknik mereka nantinya—

DRRRRRTT DRRRRRRTTT

—yang terhenti ketika getar keras dari ponsel menyapa kantong celana, cepat Taiga merogoh ponsel tersebut, alisnya berkerut ketika mendapati nama sang istri tertera di layar.

Apa terjadi sesuatu?

Tidak ingin pikiran buruk menguasai, Taiga segera menekan tombol penerima—dan—

[Ta—Taiga-kun]

—disambut oleh suara penuh kecemasan dari seberang sana.

oOo

Ada perasaan aneh ketika Seijuurou kembali mengingat kenangan masa lalunya. Ada rasa rindu yang membuatnya ingin bertemu, rasa rindu yang tak asing kala ia menatap kedua keping hazel milik si kecil Ryouta. Ada hal yang membuat Seijuurou teringat pada sepasang iris yang dulu selalu berada disampingnya.

Ada sesuatu yang membuatnya terus bergerak, menyusuri hutan, terus dan terus, ada sesuatu yang menariknya. Pepohonan membatasi penglihatan, teduh dan nyaman, nakal, ingatan masa lalu kembali hadir. Helaian pirang yang kala itu berlari kecil, bibir mungil yang selalu menyunggingkan senyum lebar, sepasang iris yang selalu merefleksikan dirinya, satu tangan yang selalu menunjuk entah kemana, sementara tangan lain menarik miliknya, menuntun lebih jauh, membawanya pada ujung dari para pepohonan, tepian sungai yang membatasi dirinya dengan padang rumput luas di seberang sana.

Kedua iris dwiwarna miliknya sedikit menyipit kala cahaya matahari dengan lancang mengganggu fokus, dan melebar saat mendapati sosok yang tak asing berada di seberang sana. Tangan-tangan mungil yang membuka pelan bungkus satu penganan, helaian pirang yang bergerak lambat, wajah penuh kesenangan ketika dia berhasil mendapatkan satu gigitan pertama.

Apa Seijuurou tengah berhalusinasi?

Kondisi di seberang sana memang sudah jauh berubah dari puluhan—atau ratusan—tahun silam. Tempat yang dulu hanya dihiasi hamparan rumput luas kini dipenuhi oleh para manusia yang membangun berbagai macam tempat untuk jual beli, dari yang permanen hingga semi permanen. Tapi jelas bukan itu yang menarik perhatiannya.

Anak yang ada di seberang sana, apa yang tengah dia lakukan? Memakan bekal di tepi sungai?

Bukan hanya itu, kali ini apa yang harus Seijuurou lakukan, haruskah ia berbalik? Haruskah ia mendekat lebih jauh? Atau haruskah ia tetap berada di sana?

Pilihan terakhir, dan sempurna berakhir pada pilihan kedua ketika anak itu melihat kearahnya. Sepasang iris hazel yang menatap penasaran, menarik Seijuurou untuk lebih mendekat.

Kenapa sepasang hazel itu selalu menariknya?

Kenapa senyum dan lambaian itu semakin membuatnya rindu?

Kenapa semangat anak itu selalu berhasil membuatnya tersenyum?

Kenapa respon tubuhnya selalu menjawab apa yang dilakukan si pirang itu?

Seijuurou tidak tahu, namun tanpa sadar dia membalas lambaian si pirang kecil, senyumnya juga masih menggantung, setidaknya sampai kedua iris dwiwarna miliknya mengikuti pergerakan penuh semangat dari si pirang kecil.

Perasaan cemas dan khawatir segera menyelimutinya. Ekspresi Seijuurou mulai sulit diartikan. Ada yang salah, ada yang salah dari ini semua, dan itu benar. Ketika Seijuurou memikirkan akan sebuah kesalahan yang mungkin terjadi, tiba-tiba—

"Eh?"

—kedua irisnya menangkap bagaimana semua itu berjalan, dan tepat setelahnya, sepasang iris milik Seijuurou melebar kala tubuh mungil itu sukses kehilangan keseimbangan, belum sempat ia bergerak, suara riak air sudah memenuhi indra pendengar.

oOo

.

.

Ryouta kecil tidak pernah tahu jika tenggelam itu menyakitkan, sesak, juga membuat telinganya berdenging. Sebisa mungkin Ryouta menahan napas kala kedua tangan serta kaki bergerak ke sana-sini, berpikir bahwa hal itu akan membantunya naik ke permukaan. Yang—menurut Ryouta—anehnya tidak membuat tubuhnya begerak sama sekali, bahkan dengungan semakin membuat telinga sakit.

Ini aneh, padahal Ryouta sering melihatnya, ketika seorang perengang melakukan gerakan kaki yang seperti saat ini dia lakukan, mereka bisa muncul kepermukaan dengan muda, lalu kenapa dia tidak bisa?

Oh Kami-sama, apakah Ryouta benar-benar tidak bisa muncul kepermukaan? Apakah Ryouta akan selamanya tenggelam? Apakah Ryouta akan kehilangan nyawanya? Apakah—

Sesak, sesak ini semakin memenuhi dadanya, tuntutan akan oksigen membuat Ryouta kecil yakin jika paru-parunya sudah mengecil seperti yang pernah dialami oleh Sandy Cheeks dalam serial kartun Spongebob Squarepants yang menjadi salah satu favoritnya.

Haruskah Ryouta mengambil toples acar? Di mana dia bisa mendapatkannya?

Dan hal itu benar-benar tidak bisa membantu, Ryouta sudah mulai kehilangan tenaga. Gerakannya semakin pelan, bahkan hampir tidak bergerak sementara kedua matanya mulai memenas. Apakah bisa terlihat jika dia tengah menangis sekarang? Kedua iris hazel itu menutup, bayangan negatif akan kehilangan dan perpisahan menghantui si kecil.

Telinganya sakit, dadanya sesak, dia bahkan tidak bisa berteriak, apakah tidak ada yang menolongnya? Apakah tidak ada yang menyadari? Ke mana Tetsuya Oji-san? Ke mana Se—

Pikirannya terhenti, kedua mata itu refleks membuka ketika ada sepasang tangan menutup kedua telinganya. Tangan besar dengan kedua ibu jari menyentuh kedua pipi miliknya, dan si kecil Ryouta merasakan waktu berhenti. Irisnya membesar. Rasa sesak entah ke mana perginya. Iris dwiwarna itu menatapnya dengan sebuah senyum lembut, menenangkan, namun Ryouta tahu ada kesedihan di dalamnya.

Kenapa?

Kenapa pamannya yang satu ini justru terlihat lebih kesakitan dibanding dirinya sendiri?

oOo

Entah berapa lama si pirang kecil terperangkap dalam iris dwiwarna di depannya. Entah berapa lama Seijuurou memberikan sebuah senyum yang sama sekali tidak dapat menyembunyikan rasa sakit miliknya.

Perlahan kedua tangan mungil milik Ryouta bergerak, tidak ada yang tahu dari mana kekuatan itu datang, Ryouta kini menempatkan kedua telapak tangan pada wajah si merah, mencoba menghibur, berbagi rasa sakit yang tidak pernah dia mengerti sebelum berakhir dengan pemberian sebuah senyum, senyum cerah dengan seluruh sisa tenaga.

Pemandangan menyakitkan bagi keduanya, melihat bagaimana siksaan menghiasi wajah mereka. Dentang waktu berhenti dan rantai bernama siksa semakin mengerat.

Langit menghukumnya. Mereka berdua. Memberi papan permainan bernama takdir.

Memutar semuanya, mempermainkan asa dan rasa.

Hukuman atas cinta yang tak pernah dikecap, apakah semenyakitkan ini?

.

.

.


A/N: Yoshaaaa! saya kembali dengan Bad Omen, dan sepertinya rencana 'kelar-dalam-dua-sampai-tiga-chapter' itu gagal total/menangis dengan dramatis/ditendang/

Tapi saya juga gak bisa mastiin sih, mungkin cerita kali ini bakal kelar dalam empat sampai lima chapter, semoga saja bisa saya tulis secepatnya-mumpung masih gak maruk sama skripsi.

Ngomong-ngomong, chapter depan keluarga kecil Kise bakal nongol, dan scene KagaKuro juga bakal diperbanyak, saya jadi gemes buat nulis mereka :3

Terus terima kasih buat review-nya, jujur, saya semangat buat nulis waktu baca review minnatachi ^^

Semoga chapter kali ini gak mengecewakan, dan saya harap gak bakal ada lagi typo-typo yang mengganggu atau tidak mengganggu. Semoga yang penasaran Sei rasa penasarannya juga sedikit bisa terjawab ^^

Nah, terima kasih buat yang sudah baca fanfic ini, terima kasih juga buat review-nya ^^

Dan kalau berkenan, saya juga nunggu saran atau kritik lainnya ^^ (note: jangan kasih kritik pedas onegaaaaaaiii ...)