A HunHan FanFiction

Can't Stand with You Anymore

By

HanRinnie

All casts belong to God, their parents, their agency, and theirselves

YAOI | BOYSLOVE | TYPO(s) | Hurt/comfort |Romance | Rate M

OC!Darell Davidson © Navinkaarcher

Happy Reading!

.

.

.

Chapter 2

"Da-darell..." Luhan menganga melihat para pria tersebut jatuh tak sadar diri.

"Ayo ikut aku!" seseorang itu menggeret Luhan menjauh, Luhan meringis, ia masih syok dengan kejadian barusan.

"Nah sudah aman.." pemuda itu tersenyum setelah membawa Luhan pergi dari para pria brengsek tadi.

"Darell..." Luhan tau pemuda itu.

"Ya, ini aku Lu." ia mengusap sudut bibir Luhan yang sedikit memar.

"Apa yang kau lakukan dengan wujud seperti ini malam malam?" pemuda itu, Darell menatap lembut Luhan.

"A-aku..." Luhan tergagap, bagaimana menjelaskan pada Darell.

"Darell..." Luhan semakin menunduk membuat pemuda tinggi dihadapannya ini kalang kabut.

"Hei.. Hei! Kenapa menangis?" ia bisa melihat beberapa bulir air mata mengalir dipipi tirus pucat Luhan. "Hei tenanglah..." ia merengkuh tubuh Luhan yang bergetar karna tangisan.

"Darell..." Luhan memanggil pemuda itu disela sela tangisannya.

"Ya Lu.. Aku disini, tenanglah." mengusap punggung Luhan, memberi ketenangngan pada pria mungil yang tengah ia rengkuh.

"Sebaiknya kita pulang." Luhan mendongak menatap hazel biru saphire milik Darell, ia mencengkram erat jaket yang pemuda itu kenakan.

"Aku tahu, kau tak mungkin pulang kedorm dalam keadaan seperti ini." Darell terkekeh pelan seakan mengerti apa yang tengah Luhan pikirkan jika ia membawa pemuda manis itu pulang ke dormnya. Ia melepas jaket miliknya dan memasangkannya dibahu sempit Luhan membuat pemuda dengan binar mirip rusa itu mengernyit.

"Tak baik malam malam yang dingin begini seorang gadis hanya memakai mini dress kau tahu?" Luhan mendelik lucu membuat pemuda tinggi itu terkekeh lebih renyah.

"Aku hanya bercanda. Jadi, ayo kita pulang ke apartementku" merangkul bahu Luhan, membawa pemuda manis itu menuju mobil miliknya. Hening.. Hanya suara deru mesin mobil yang terdengar sampai suara lirih memecahkannya.

"Darell…"

"Ya?" "Bagaimana kau bisa ada disana saat aku-"

"Aku baru pulang dari pub, dan menemukan seorang gadis tengah dikerumuni beberapa pria besar disebuah gang sempit dan ternyata gadis itu adalah kau." Darell menyela kalem. Luhan mengkerutkan alisnya mendengar jawaban pemuda itu.

"Hei aku hanya minum disana."

"Ya aku tahu.. Kau tak mungkin meniduri wanita disana." Darell terkekeh pelan mendengar ucapan Luhan.

"Nah, nah.. Kau tahu sendiri jika aku tak doyan dengan mereka." ucapnya membuat Luhan mendengus ditempat. Darell mendekatkan bibirnya ke telinga Luhan.

"Asal kau tahu aku hanya suka kepadamu Luhan." Luhan mendelik ia ingin memukul pemuda disebelahnya yang sedang tertawa renyah tapi suara rem mobil membuatnya diam.

"Nah sudah sampai, silahkan keluar Tuan putri Lu…" Luhan kembali mendelik, ia mendorong dada bidang Darell.

"Kau masih menyebalkan seperti dulu Darell, aku membencimu!" Luhan berjalan mendahului pemuda blasteran tersebut, "Aku juga mencintai mu Lu, Hei! Ya! Tunggu aku Tuan putri!" ia terkekeh melihat Luhan yang menghentak hentakan kakinya memasuki apartementnya dengan langkah besar besar seraya menjijing dress mini sialan miliknya. Luhan sudah membersihkan dirinya dari make up sialan yang melekat diwajahnya. Ia duduk ditepian ranjang milik darell dengan menggunakan kemeja kebesaran punya pemuda blasteran itu juga. Darell datang dengan dua gelas coklat hangat di tangannya, memberikannya segelas kepada Luhan yang menerima dengan senang hati.

"Nah sekarang aku yang bertanya kenapa kau bisa ada disana dengan pakaian ala perempuan Lu?" Darell menyesap coklatnya hangatnya sekilas, ia memandangi Luhan, sementara Luhan hampir tersedak karna mendengar pertanyaan Darell barusan.

"Hei... Hati hati, kau tersedak." Darell mengusap sudut bibir Luhan sekilas membuat pemuda mungil itu membulatkan matanya.

"Nah, kau belum menjawabnya Luhan sayang.." Darell kembali menatap serius kearah Luhan, Luhan mencengkram gelas coklatnya erat.

"Luhan.." Luhan mendongak menatap hazel biru saphire pemuda blasteran itu.

"Jawab dengan jujur." ucapan Darell membuat Luhan menelan ludahnya gugup.

"A-aku sedang berken-can.." jawabnya lirih membuat Darell mengangkat sebelah alisnya. "Dengan... Se-sehun.." imbuhnya seraya menubruk tubuh Darell, memeluknya, menumpahkan air mata di dada pemuda blasteran itu.

"Shit!" Darell mengumpat ketika mendengar tangisan Luhan semakin terdengar, ia sungguh membenci pemuda manis ini menangis.

"Lalu?" ia kembali bertanya.

"Se-sehun tak datang.." Luhan menjawab disela tangisannya. Wajah Darell mengeras mendengar penjelasan pemuda manis didekapannya ini. Saat dipub tadi ia melihat Sehun tengah dikerumuni oleh beberapa wanita disana, itulah yang membuat ia segera beranjak dari sana segera. Mungkin jika ia tak segera pergi dari pub itu entah bagaimana nasib Luhan sekarang, pemuda manis itu terlihat begitu rapuh didekapannya.

Darell Davidson pemuda blasteran, tampan, tinggi, penyabar, dan humoris. Ia mengenal Luhan sudah lama, dia juga mantan trainee diagensi yang menaungi Luhan sekarang, Darell menyukai Luhan sejak mereka berteman, Ia masih mencintai Luhan walau kenyataannya ia pernah ditolak pemuda mungil itu dengan alasan ia tak ingin merusak pertemanannya dengan Darell, Luhan pernah memberitahunya jika dirinya menyukai teman se-groupnya, Darell tahu siapa dia, kali ini biarlah dia berusaha mengambil hati si mungil itu, ia takan membiar Luhan terlarut dalam kesedihannya.

"Darell.." Luhan memangilnya lirih membuat jemarinya refleks mengusap lembut punggung pemuda manis itu untuk memberinya ketenangan.

"Tidurlah.. Kau pasti lelah.." Darell membaringkan tubuh mungil Luhan diranjangnya.

"Besok pagi akan kuantar kau pulang ke dorm." mengecup kening si manis membuatnya membulatkan matanya lucu.

"Aku akan tidur disofa saja, selamat malam Lu..." Darell mematikan lampu dan mulai menutup pintu kamarnya meninggalkan Luhan dalam keheningan kamarnya dengan rona merah mulai merambat di pipi pemuda manis itu.

Keping rusa milik Luhan belum juga tertutup, pipinya masih merona akibat ulah sahabat blasterannya itu. Ia tahu Darell masih mencintai nya, walau beberapa kali dirinya menolak perasaan tulus dari pemuda berhazel biru saphire itu. Pemuda itu tipe pemuda yang gigih, ia akan melakukan apapun untuk mendapat apa yang ia mau.

"Aku menyayangimu Darell"-menyayangi sebagai sahabat tentu-


HanRinnie


Pagi harinya Luhan terbangun tepat pukul enam pagi, berterimakasih kepada Darell yang mengatur jam weker sialan itu, agar kita tak siangan- jawab pemuda blasteran itu saat mereka sed sajaang menikmati makan pagi nya. Cih, alasan kuno- pikir Luhan, ia mendengus geli melihat Darell-nya, ah maksudnya sahabat nya yang masih perhatian terhadap dirinya sama seperti dulu.

"Nah kita sudah sampai." ucapan Darell menghentikan pikiran random Luhan. Mereka berdua memasuki dorm. Dan baru sampai didepan pintu dorm yang terbuka, mereka sudah dihadiahi teriakan melengking dari Baekhyun.

"Ahhh! Luhan hyung datang!" Tao yang mendengar teriakan memekan dari Baekhyun segera berlari keruang tengah dan langsung berhambur memeluk Luhan.

"Huwaa...Gege dari mana saja? Kami khawatir melihatmu tak pulang semalam. Gege darimana saja?" Tao memeluk erat Luhan, pemuda panda itu menangis sesegukan sambil memeluknya.

"Aku menginap di apartement Darell semalam.. Aku tak apa apa." Luhan menjawab membuat semua member mengusap dadanya lega, terkecuali Baekhyun yang menatap hyung manis itu dengan sendu, seharusnya ia tak menyanggupi permintaan tolong Luhan semalam.

"Syukurlah kau tak apa bersama Darell." Lay tersenyum kearah Darell yang berdiri didekat Luhan.

"Seharusnya tadi malam kau memberitahu kami agar tak khawatir." Jongdae berdecak, "Kenapa semalam ponselmu tak aktif hyung?" imbuhnya membuat Luhan menepuk dahinya pelan. Astaga ia mematikan ponselnya semalam, pantas saja mereka khawatir.

"Maaf.. Aku lupa mengaktifkannya semalam" memberikan senyum simpulnya.

"Nah, aku harus pulang dulu. Luhan juga masih butuh istirahat." semua tersenyum pada Darell.

"Terimakasih sudah mengantar Luhan hyung Darell." Suho menepuk pundak pemuda tinggi itu sekilas.

"Nah aku pulang dulu princess." Luhan mendelik mendengar Darell memanggilnya dengan sebutan putri. Ia mendengus setelah melihat tubuh tinggi Darell menghilang dari balik pintu.

"Woah! Semalam kau berkencan dengannya hyung?" Luhan kembali mendelik mendengar pertanyaan Jongin. Baru saja ia akan menjawab Kyungsoo sudah menginterupsinya.

"Sarapan sudah siap, nah siapa saja panggilkan Sehun yang masih tertidur agar bergabung." Tao melepaskan pelupakannya dari Luhan ia tersenyum sekilas pada hyung manisnya, setelah itu mendekati Jongin dan mendorong bahu pemuda berkulit tan itu pelan.

"Panggilkan Sehun maknae hitam. Kau tahu bukan jika seluruh member tak boleh makan sebelum semuanya lengkap" suruh Tao sadis. Ingin sekali Jongin membakar semua koleksi tas milik pemuda bermata panda itu.

Sehun keluar dari kamarnya dengan diekori Jongin yang berjalan menggerutu dibelakangnya. Ia menarik kursi, dan duduk disamping Chanyeol. Semua menikmati sarapannya dengan tenang, termasuk Minseok yang sedari tadi menambah nasi dimangkuknya serta mengambili lauk milik Tao, Chanyeol yang selalu gaduh dikursinya, Jongin yang merengek minta menambah potongan ayamnya untuknya kepada Kyungsoo. Dan Luhan yang hanya memegangi sumpitnya, mata rusanya berkali kali mencuri pandang dengan wajah dingin Sehun.

"Lu.. Kau tak apa?" Minseok melihat Luhan yang tak menyentuh makanannya.

"Eh-eh, Aku tak apa..." Baekhyun memandang Luhan, ia bisa melihat hyungnya itu tampat pucat.

"Benarkah?" Minseok kembali bertanya membuat pemuda yang ditanyai nya tergugup.

"Aku.. Hanya tak enak badan saja. Eung, lagi pula sebelum kemari aku juga sudah makan di apartement Darell." jawabnya gugup. Suho menghela nafasnya, ia menatap prihatin kearah Luhan, akhir-akhir ini ia sering mendengar kata tak enak badan keluar dari mulut pemuda berdarah China itu.

"Istirahatlah dulu.. Jika nanti kau lapar, beri tahu kami hyung." Luhan mengangguk, ia mulai berdiri dan beranjak dari meja makan masih mempertahankan posisi kepalanya yang menunduk. Sungguh. Luhan tak ingin bertatap dengan mata tajam milik Sehun.

"Porsi makan Luhan untukku." Minseok mengambil mangkuk milik Luhan dan memakan isinya. Jongdae berdecak melihat kekasihnya terlalu banyak makan, "Kapan kau akan diet Hyung?" tanyanya seraya mencubit pipi Minseok yang masih penuh dengan nasi dikunyahannya.

"Aku akan diet jika aku sudah gendut!" ujarnya membuat seluruh member mendengus sebal.


HanRinnie


Setelah selesai dengan acara sarapannya Baekhyun ingin sekali bertanya apa yang terjadi tadi malam pada Luhan. Ia menaiki tangga untuk menuju kamar milik hyung manisnya itu.

"Hyung…" Baekhyun memanggil Luhan seraya mengetukan tangannya dipintu kamar milik Luhan.

"Apa kau didalam? Ini aku Baekhyun, boleh aku masuk?" tambahnya.

"Masuklah, Pintunya tidak terkunci." Baekhyun bisa mendengar sayup-sayup suara Luhan dari dalam, dengan segera ia meraih kenop pintu dan mendorongnya pelan. Gelap. Baekhyun meraih saklar lampu dan menghidupkannya, pemandangan yang ia lihat pertama kali saat terang adalah tubuh mungil Luhan yang meringkuk di ranjangnya, ia tampak rapuh. Baekhyun berjalan mendekat dan duduk ditepian ranjang membuat suara seperti kriet terdengar.

Luhan menyibak selimut, "Ada apa Baek?" tanya nya dengan suara serak.

"Aku hanya ingin tahu apa semalam kau memang berkencan dengan Sehun atau tidak, kau tidur diapartement milik Darell hyung.. Dan aku tahu pasti kau tidak pergi dengannya. Kenapa?" Luhan gugup mendengar pertanyaan beruntun dari Baekhyun.

"Aku ti-tidak jadi.. Dia tak datang Baek..." Luhan kembali menunduk, ia bisa melihat tangan Baekhyun yang mengepal erat. Dia mendongak dan mendengar Baekhyun mengumpat kecil.

"Shit! Seharusnya kau tidak menerima ajakannya hyung!" Baekhyun mulai tersulut emosinya.

"Tapi aku menginginkan kencan ini Baek-"

"Tapi dia mempermainkan dirimu hyung! Oh astaga.. Bukankah kau tahu sendiri jika dia itu normal tidak seperti kita?!"

"A-aku mencintainya Baek.." Luhan mulai terisak di tempatnya.

"Hyu- hyung.. Ma-af tapi seharusnya kau tahu jika dia takan membalas perasanmu.."

"Kau tak mengerti Baek! Biarlah aku yang mencintainya sendiri..." Baekhyun terdiam menyisakan isakan Luhan yang terdengar disana.

Darell memandangi sebuah foto ditangannya, ia tersenyum simpul melihatnya. Itu sebuah foto yang berisi dirinya dengan orang yang sangat ia cintai sedang merayakannya ulang tahunnya.

"Luhan.." gumamnya, ibu jarinya mengusap lembut permukaan foto. "Aku akan memilikimu segera sayang.. Membuat dirimu menyatakan cinta dengan sendirinya di hadapanku." Darell memasukan kembali foto itu disaku jas nya, berjalan meraih kunci mobil sport miliknya. "Dan tak akan membiarkanmu terlepas dan tersakit lagi."


to be continue