A HunHan FanFiction

Can't Stand with You Anymore

By

HanRinnie

All casts belong to God, their parents, their agency, and themselves

YAOI | BOYSLOVE | TYPO(s) | Hurt/comfort |Romance | Rate M

OC!Darell Davidson © Navinkaarcher

Happy Reading!

.

.

.

Chapter 3

Sejak kejadian malam itu Sehun sama sekali tak berbicara barang sedikitpun kepada Luhan. Hal itu membuat Luhan merasa bersalah, ia takut Sehun semakin membencinya. Tapi ini juga salahnya, siapa yang mengajak Luhan pergi berkencan dan tak menepati janji? Ingin sekali rasanya Luhan menyapa pemuda yang lebih muda empat tahun darinya itu.

Kemarin, hari ini dan tiga hari kedepan mereka semua mendapat cuti, itu tidak disia-siakan para member untuk beristirahat atau mencari kegiatan yang menurut mereka menyenangkan. Sebagian dari mereka memilih menghabiskan waktu libur dengan pergi ketempat yang mereka ingin singgahi seperti Suho dan Lay yang pergi keperpustakaan kota menikmati ketenangan, Xiumin Chen dan Tao yang pergi ketempat bermain ditaman kota atas paksaan maknae member china mereka. Dan Luhan? Dirinya lebih memilih meringkuk diatas sofa seraya menikmati acara televisi didepannya, ia sedang flu ngomong ngomong dan itu juga membuat dirinya beberapa kali menjejalkan berkotak kotak tissue kedalam hidung mungil bangirnya.

Luhan masih terlena dengan acara televisi didepannya sampai dering ponsel yang ia letakkan disamping tubuhnya itu mengganggu aktivasnya. Ia mengernyit ketika melihat nama Darell yang tertampang pada kontak ponselnya, dengan segera ia mengangakat panggilan itu. "Ya hallo?" terdengar deru suara mobil diseberang sana, Luhan menyimpulkan pemuda itu sedang dalam perjalanan.

"Astaga Luhan apa yang terjadi dengan suaramu?!" uhh… Luhan segera menjauhkan ponselnya dari telinga, ia mengernyit tersadar jika suaranya sekarang dalam mode serak akibat flu.

"Aku baik baik saja Darell." Luhan kembali menempelkan ponselnya pada telinga.

"Uuhh.. Hanya sedang flu saja" sambungnya datar tapi terdengar bindeng ditelinga Darell.

"Kau sedang terkena flu dan kau bilang itu baik baik saja? Hei suaramu terdengar tak baik, kau tahu kau itu seorang penyanyi mana bisa kau tampil dengan suara mirip rusa tercekik begitu?"

Darell mengomel tak jelas diseberang sana membuat Luhan mendengus kesal, ia hanya terkena flu ringan dan lagipula ia dan seluruh member diberi cuti sampai tiga hari kedepan yang memungkinkan flunya akan sembuh dengan cepat karna banyak istirahat pikirnya.

"Darell..."

"Aku akan kesana, menjengukmu."

"Darell... Aku hanya-"

"Jangan kemana-mana sebelum aku datang."

"Darell!"

"A, a, a, tidak ada penolakan. Tetap ditempatmu. Dan tunggu aku disana oke? Aku mencintaimu Luhan." dan pipp! Panggilan diputus sepihak oleh Darell membuat Luhan mendengus sebal. Kenapa sahabat blasterannya itu begitu over terhadapnya. Andai saja Sehun yang perhatian kepadanya.


HanRinnie


Klek!

Bunyi kenop pintu yang dibuka menyadarkan Luhan dari pemikiran konyolnya. Ia menoleh ke arah pintu belakang dan menemukan Sehun yang tengah keluar dari kamarnya menuju dapur, Luhan mengamatinya dalam diam, ingin sekali rasanya dirinya menyapa pemuda itu. Mulut mungilnya gatal ingin memanggil nama pemuda berkulit pucat itu. Tapi Luhan ragu apakah setelah memanggil nama itu sipemilik nama ingin berbicara dengannya atau sebaliknya ia akan semakin dijauhi olehnya. Luhan akui ia adalah lelaki penakut yang pernah ada karna hanya sekedar menyapa seseorang saja ia enggan. Semua pikiran random Luhan buyar setelah ia mendengar debaman langkah kaki menuju ruang televisi dengan tergesa gesa. Itu Darell dengan beberapa kantung plastik ditangannya. Ia mendekati Luhan yang meringkuk lucu diatas sofa.

"Kau membuat ku khawatir Luhan..." Darell datang dengan bebarapa makanan hangat, buah dan juga err... Obat, vitamin itulah yang Luhan lihat ketika pemuda berhazel biru saphire itu menggeledah seluruh isi kantung plastik yang ia bawa.

"Kau berlebihan..." celetuk Luhan membuat Darell yang tengah membuka beberapa plastik menatapnya heran.

"Darell..." Luhan menghembuskan nafasnya kasar.

"Aku hanya flu ringan, kau tak usah terlalu khawatir karna mungkin besok aku akan sembuh," imbuhnya.

"Oh ya? Katakan saja pada hidung yang memerah karna menahan ingusmu itu Luhan. Kau sedang sakit, dan aku khawatir itu wajar oke?!" Darell berdecak, "Ck! Aku yakin kau belum minum obat bukan?" Darell bertanya dan mendapat anggukan polos dari pemuda mungil dihadapannya itu.

"Nah sekarang kau makan dulu sebelum meminum obat yang sudah aku berikan" Darell menyendokan bubur hangat didepan mulut Luhan.

"Nah ayo makan..." Luhan menatap bubur yang disodorkan Darell di depannya.

"Aku bisa makan sendiri!" ujar Luhan membuat Darell kembali berdecak. "Tinggal buka mulut kecilmu itu apa susahnya sih? Kau ingin cepat selesai bukan? Biarkan aku menyuapimu." Luhan pasrah ketika Darell menyuapinya dengan bubur hangat yang pemuda itu beli. Telinganya sudah merah karna flu dan jangan sampai bertambah merah karna mendengar ocehan tak jelas dari sahabat blasterannya itu. Darell tersenyum senang melihat pemuda manis dihadapannya itu mau ia suapi.

"Pelan pelan Luhan... Walau hanya bubur kau bisa tersedak." Darell mengusap lembut ujung bibir Luhan, ia kembali tersenyum ketika pemuda manis itu menggumamkan kata terimakasih kepadanya.

"Woah.. Ternyata Darell hyung disini!" Tao dengan tidak sopannya berteriak dari arah pintu mengganggu moment indah yang sedang Darell dambakan.

"Aku kira Luhan hyung berduaan saja dirumah bersama Sehun." ucapan Chanyeol membuat Sehun yang akan kembali kekamarnya berhenti memandanginya, kontan saja sang kekasih Baekhyun yang berada di sampingnya menyikutnya dengan sayang.

"Aduh! Aku kan cuma mengira Baekhyunie..." ujarnya meringis.

"Ya.. Tadi aku kemari karna mengetahui Luhan sedang sakit." jelas Darell sedikit mengurangi kecanggungan disana.

"Aku juga berkunjung karna sudah seminggu tak melihat rusa kecil ini." imbuhnya yang tengah memberikan air putih kepada Luhan.

"Manisnya..." secara tak sadar Kyungsoo menggumam pelan melihat pemandangan didepannya ini.

"Ya, Mereka berdua tampak manis hyung." Kai juga tersenyum mengerti apa yang tengah kekasih bermata bulatnya itu gumamkan.

"Siapa yang kau sebut manis Jong?" Tanya Chen.

"Luhan hyung dan Darell mereka tampak serasi bukan?" Uhukk! Obat berbentuk kapsul itu keluar lagi dari mulut Luhan beserta air putih yang ia gunakannya untuk menelan kapsul itu membuat sebagaian pakaiannya basah.

"Jongin!" Baekhyun dan Xiumin menyentak Kai.

"Apa? Aku hanya berkata jujur. Bukankah Darell dan Luhan hyung itu serasi? Mereka berdua kelihatan manis jika menjadi sepasang kekasih." jawab Kai jujur.

"Uuhh.." Luhan sedikit menggerang karna tenggorokannya yang terasa panas setelah memuntahkan obat berbentuk kapsul itu.

"Mana mungkin aku jadiannya dengan Darell Jongin! Dia sahabatku," ujar Luhan, walau terlihat nada kesal diucapannya tapi pipi gembilnya menyiratkan warna merah muda sampai ketelinganya. Kai menggendikan bahunya acuh

"Aku kan cuma berpendapat hyung, lagipula jika itu benar terjadi bukankah bagus?" Ia menarik turunkan alisnya.

"Terserah kau saja..." Luhan memalingkan mukanya yang merah padam seketika.

"Sudahlah... Jangan ganggu Luhan lagi. Dia sedang sakit dan perlu banyak istirahat jadi biarkan dia sendirian bersama Darell. Ayo Jongdae!" ujar Xiumin seraya menyeret Chen menuju kamarnya di ikuti seluruh member yang tadi baru pergi dari masa liburan mereka dan menyisakan Luhan dan Darell yang terduduk berdua di atas sofa.

Sepi, hanya suara dari dalam televisi yg mendominasi di ruang ini setelah beberapa member masuk kekamar mereka masing masing. Darell lebih menikmati acaranya memperhatikan Luhan yg tengah menonton serial drama ditelevisi, ia tersenyum tatkala tissue dilubang hidung Luhan bergerak gerak karna pemuda mungil itu sibuk memencet mencet remote ditangannya, Luhan tampak begitu menggemaskan dengan hidung bangirnya yg memerah akibat flu juga sebagian tubuh mungilnya yg terbalut selimut tebal demi Tuhan Darell ingin mengecup pipi gembil Luhan yg menggembung lucu karna pemuda manis itu tak menemukan acara yg menarik sama sekali untuk ditontonnya. Sadar dirinya sedang diperhatikan kontan saja membuat Luhan berbalik menatap pemuda yg tengah memperhatikannya dengan senyuman idiot terpasang diwajahnya.

"Uuhh... Darell kau sedang apa?" ia mengibaskan ngibaskan telapak tangannya didepan wajah tampan Darell.

"Sedang mengamati wajah seseorang di masa depanku." ujar Darell santai. Ia kembali tersenyum menatap Luhan.

"Berhenti menatapku seperti itu Darell! Kau terlihat bodoh dengan wajahmu itu astaga!" Luhan memukul lengan Darell tapi dengan cepat ditangkap oleh pemuda berhazel biru saphire itu. Ia mendekatkan wajah tampannya ke cuping telinga Luhan.

"Apa aku selalu terlihat bodoh di matamu Luhan?" tanyanya lirih tepat ditelinga Luhan, itu sontak membuat Luhan bergidik merasakan hembusan nafas Darell menerpa kulit lehernya.

"Ti-tidak! Uhh bukan begitu maksudku... O-ohh Darell!" Luhan memekik kecil ketika Darell menarik semakin dekat tengkuknya membuat ujung hidung mereka bersentuhan.

"Kau tak mengerti perasaanku Luhan..." mereka dapat merasakan nafas mereka masing masing.

"Aku mencintaimu Luhan... Sangat..."

"Darellmphh!" Luhan membelalak ketika tiba tiba Darell menciumnya. Sekujur tubuhnya menegang merasakan bibir Darell yg mengecup lembut bibirnya itu sampai sebuah suara debaman benda terjatuh menyadarkan ciuman dadakan mereka. Dengan segera Luhan mendorong tubuh Darell menjauh, ia memalingkan wajahnya dan menemukan Lay yg menutupi bibirnya dengan kedua telapak tangannya sedankan Suho berdiri kaku disampingnya dengan beberapa buku berserakan disekitar kakinya.

"O-ohh maafkan kami tak sengaja! Lanjutkan saja kegiatan kalian. Anggap kami tak pernah melihatnya... Hehehe kami masuk dulu." dengan segera Lay menarik Suho masuk kedalam meninggalkan Darell dan Luhan yg terduduk kaku diatas sofa. Canggung menyerang setelah Suho dan Lay masuk meninggalkan mereka berdua yg berdiaman didepan televisi yg masih menyala. "Maaf karna tiba tiba saja aku menciummu Luhan..." Darell memecah keheningan diantara mereka.

"Maaf... Tapi aku hanya menyampaikan perasaanku saja. Jika kau ingin marah padaku marahlah, tapi tadi aku melakukannya dengan tulus Luhan..."

"Darell... Maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu. Kau tahu sendiri bukan jika-"

"Ya aku tahu Luhan, maaf telah menciumimu tiba tiba."

"Ahh aku tak apa Darell.. Aku mengerti perasaanmu. Maaf..." Darell menatap Luhan seraya menampilkan senyum simpulnya.

"Terimakasih. Err.. Aku pamit pulang dulu tak apa? Lagipula kau juga perlu beristirahat bukan?"

"Ya aku tak apa, pulanglah..." Luhan tersenyum kepada Darell, dengan segera pemuda blasteran itu bangkit dan segera beranjak dari dorm EXO itu. Luhan belum bisa menutup matanya sejak kejadian Darell yg menciumnya tadi, ia hanya berguling guling di atas tempat tidur miliknya, ia melirik jam diatas nakasnya. Jam sebelas malam. Luhan kembali mendesah, ia bangkit dengan lemas dari kasurnya menuju dapur. Mungkin minum susu dapat membantunya tidur cepat. Luhan menunduk untuk mengambil susu cair didalam lemari pendingin hingga sebuah tangan dengan tiba-tiba mendekap mulutnya dan mendorongnya ke dinding.

"Oohh!" Luhan merintih ketika punggungnya menghantam dinding dengan keras.

"Akhhh..." entah bagaimana tiba tiba Luhan mendesah.


to be continue