Attention :
Karena ada yang nanya umurnya Ino, nah pas Ino ditemukan oleh Mei Terumi umurnya masih 17 tahun ya!
.
.
.
Dope : 1 sl. obat bius seperti morfin, candu dsb. 2 sl. si tolol.
3 pernis. 4 sl. keterangan. –kkt. 1 mengobati. 2 memberi obat.
(cr: kamuslengkap)
*Anggap aja artinya seperti yang diatas/plakk*
Summary : Aku selalu dinilai sebagai orang yang 'tolol'. Aku selalu diremehkan dalam masalah percintaan. Hingga hari itu, aku dicap oleh temanku kalau aku 'pecandu cinta' yang mengejar pujaan hati. Akhirnya, hatiku seperti terbelah. Perih. Suatu hari, ia datang menghampiriku dengan pesonanya. Membuatku merasakan hal yang janggal, yaitu Cinta dan Kesakitan.
.
.
.
3) Memory
INO POV
3 tahun kemudian…
"Pelayan!"
Ya, disinilah aku. Karena umurku sudah pas untuk mencari pekerjaan, aku bersikeras ingin membantu Kaa-sanku dengan menjadi pelayan cafe. Perekonomian kami terbilang rendah, Kaa-san hanya seorang guru sekolah dasar, dan gajinya tidak seberapa.
Aku yang sedang berbincang dengan Tenten –kerabatku, tiba-tiba suara pelanggan menghentikan acara gosipku. Aku segera mengambil nampan dan daftar menu, kemudian berlari menghampiri pelanggan yang baru datang tersebut.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku ramah. Sudah seharusnya para pelayan harus ramah kepada pelanggan, bukan? Pembeli adalah raja.
Pelanggan tersebut melirikku sekilas, lalu merebut daftar menu dengan paksa. "Hmm, makanan apa yang sering dibeli disini?" tanyanya dengan nada tidak bersahabat.
"Umm," Aku berpikir sejenak. Lalu berkata, "Kebanyakan pelanggan menyukai Hanabiramochi, nona," ujarku ramah, yah… walaupun hatiku terasa panas karena tatapannya yang mirip seperti singa songong yang berhasil memenangkan wilayah kekuasaannya.
Pelanggan itu mengernyit. "Huh? Apa tidak ada yang lain?" cerocosnya kesal. "Ya sudah, aku pesan dua Shabu-shabu, dan Tempura. Oh ya, orange juicenya juga dua ya! Atas nama Sakura Haruno." Ucapnya sembari mengembalikan daftar menu dengan kasar.
Oh, ternyata masih ada ya perempuan bar-bar dikota ini?
Aku mengangguk. "Baik, nona." kataku sebelum pergi ke dapur untuk memberi note berisi pesanan perempuan bar-bar tadi.
Aku menghampiri Tenten yang sedang menghitung uang dimeja kasir, aku langsung menyambar tangannya dan mencubitnya pelan.
"Hei, apa sih?" wajahnya terlihat masam, tetapi lucu.
"Haha, serius banget sih!" candaku.
"Hhh, terserah deh. Oh iya, cewek yang kamu layanin tadi serem juga ya." Jujur saja, yang pertama mengajak bergosip, ya si Tenten.
Aku menghela napas. "Ya begitulah," aku menarik kursi yang berada disebelah Tenten, lalu mendudukinya.
"Hei, kita lanjutkan gosip tadi yuk!" ajaknya. Hh, sudah kuduga. "Tadi sampai mana ya? Eh iya, si Hinata udah jadian lho sama Naruto! Kamu tau gak? Naruto udah melamar Hinata di depan paman Hiashi!"
"Wah? Mental Naruto boleh juga," komentarku. Sebenarnya, aku menduga kalau Naruto yang termasuk 'anak nakal' di kampus kami, ternyata bisa romantis dan serius juga.
Sedikit informasi, aku sekarang kuliah di kampus Konoha International University. Aku mengambil jurusan teknik sipil dari jalur beasiswa. Jika aku dapat menuntaskan kuliahku dengan lancar, dan mendapatkan nilai yang tinggi, aku akan melanjutkan S2 di Jerman.
"Tenten, aku galau…"
"Kenapa?" Tenten yang tadinya menulis sesuatu dikertas, menghentikan aktifitasnya. Asal kalian tahu, ia termasuk orang yang sangat suka mendengarkan orang yang menceritakan kesedihannya.
"Skripsiku belum selesai, padahal ini sudah termasuk tahun ajaran terakhir." Aku mengerucutkan bibirku.
"Hello? Dikira cuman kamu doang? Aku juga belum rampung, Ino sayang!"
"Please deh, Ten. Jangan manggil aku sayang dong, nanti dikirain LGBT gimana?" Bulan ini sedang marak-maraknya kasus LGBT yang mendunia.
"Aku masih normal, Ino. Aku masih setia kok sama yayang Neji, hihi."
"Ten, geli."
Pasti saja ujung-ujungnya Neji, apa dia tidak mengerti perasaan jomblo gimana? Aku melihat-lihat ke semua penjuru ruangan, lalu tidak sengaja aku mendapatkan pemandangan yang wow.
Perempuan bar-bar yang kuketahui bernama Sakura Haruno tadi sedang berbincang-bincang dengan seorang lelaki tampan. Oh ayolah, kenapa didunia ini perempuan galak lebih menang dibanding perempuan feminim? Dunia memang tidak adil.
Aku lumayan dapat mendengar percakapan mereka, dan lihatlah mereka sedang membicarakan tema pernikahan mereka. Sungguh, dunia memang tidak adil. Tapi apa boleh buat, itu sudah takdirnya.
"Ino-chan!"
Aku menoleh, mendapati Chef Yamato menjulurkan nampan berisi pesanan perempuan bar-bar.
"Ah iya," lantas aku berlari kecil, dan mengambil nampan tersebut. Aku berjalan dengan sangat hati-hati, karena ini memang berat.
Sesampainya dimeja perempuan bar-bar, aku menata mangkuk dan gelasnya. "Silahkan," ucapku setelah selesai menata.
Sakura –perempuan bar-bar itu hanya melirikku, dan lelaki tampan berambut biru malam itu tidak menoleh sekalipun.
Aku segera kembali ke meja kasir menemui Tenten, dengan tujuan mengosip tentunya. "Tenten, kamu lihat aku tadi nggak?"
Tenten menggeleng.
"Cowok yang bersama cewek galak tadi nggak noleh sedikitpun, huaaa!" aku mengeluarkan air mata buayaku.
"Lebay banget sih, namanya juga pacar orang masih aja mau kamu embat,"
"Bukan gitu Ten, kan nanti aku kelihatan kayak orang tengsin!" aku tetap berakting menangis bombai di depan wajah Tenten. Sebenarnya, aku jijik dengan aktingku.
"Asdfghjkl! Aku tanya, kamu tadi ada senyum atau apalah itu ke cowok itu nggak? Nggak kan? Ya udah sih, gitu aja ribet."
Aku membulatkan mataku, ternyata Tenten bisa mengucapkan alphabet yang tidak beraturan dengan sangat cepat. "Ten," panggilku.
"Apalagi? Mau bicara kamu tengsin lagi?"
"Bukan gitu, kamu ngomong alphabet tadi cepet banget, jangan-jangan kamu cocok nih jadi rapper,"
"Hh, Ino otakmu kemana sih!?"
"Lho, kok gitu? Kalo aku jadi kamu, aku akan memaksa kakakmu yang notabene seorang komposer lagu untuk membuatkan album pre-debutku, haha."
"Ino, kamu yang sok-sokan mau jadi pre-debut gini aja udah jelek, gimana nanti pas debutnya? Udah macam plastic rongsokan mukamu!"
Fakta pertama tentang Tenten, ia kalo ngomong blak-blakan, biasanya membuat lawan bicara sakit hati. Tetapi, tidak bagiku. Aku sudah terbiasa dengan omongan 'jujurnya'.
"Eh, Ten, aku sudah mendengarkan lagu baru Lee Yinyang(OC), katanya yang membuat rhythm lagunya kakakmu ya?"
Tenten mengangguk. "Iya, jelek kan?"
Aku hanya menghembuskan napas kesal.
"Ehem!"
Suara deheman tersebut mengejutkanku, otomatis aku melihat ke belakang. Dan kalian tahu siapa?
PEREMPUAN BAR-BAR DAN PACARNYA!
Sekali lagi,
PEREMPUAN BAR-BAR DAN PACARNYA!
Ok, stop.
"Ah, maaf." Aku langsung bangkit dari kursi, dan menyapa pelanggan yang datang daripada kena deathglare pacarnya cewek galak itu.
Lumayan banyak pelanggan yang datang dibanding kemarin. Aku memancarkan senyumku berusaha tampil ramah. Tetapi, senyumku pudar ketika perempuan bar-bar dan pacarnya lewat di depanku. Aku memandang mereka datar, tidak peduli tatapan aneh para pelanggan yang baru datang.
Hanya satu yang ingin aku tanyakan,
Kenapa 'pacarnya' perempuan bar-bar tadi menatapku dengan pandangan merasa bersalah. Apakah dia baru menyadari kesalahannya karena dia tidak ingin menatapku saat aku mengantarkan makanan? Hei, kenapa aku jadi PD sekali.
Aku memandang kearahnya lagi, ia yang sedang menggandeng tangan perempuan bar-bar tiba-tiba saja menoleh ke belakang, dan…
Memandangku?!
Tatapan merasa bersalah itu terpancar dari wajah maskulinnya.
Aku jadi tidak enak dengan tatapan itu, lebih baik aku menghampiri Tenten.
"Hai, Ino. Ini sudah jam 2 siang, waktunya pergantian pelayan. Kamu boleh pulang, dan ini gaji kamu 4328 Yen*." sebut Tenten sambil memberikan amplop putih.
Aku menerima amplop tersebut. "Wah, terima kasih banyak, Ten!" Tenten adalah orang yang bertugas sebagai penunggu kasir dan keuangan. Aku melihat Tsunade-san, dia owner cafe ini. "Tsunade-san, terima kasih ya!"
Tsunade yang sebelumnya membawa tumpukan berkas, ia sedikit terkejut dengan teriakanku, lalu tersenyum manis kepadaku. "Iya, Ino sayang!"
Aku membereskan barang-barangku dan lekas pergi, tetapi suara Tenten menahanku.
"Ino," aku menoleh. "Tadi Tsunade-san manggil kamu sayang lho, jangan-jangan kalian LGBT?"
"Ten, kamu pecandu berita LGBT." ujarku datar.
Tenten hanya cekikikan.
Aku memutar bola mataku.
.
.
.
Aku membuka pintu rumah sederhanaku, kemudian merebahkan badanku yang pegal ini ke kursi empuk yang ada di ruang keluarga. Aku teringat sesuatu, Kaa-san masih ada di sekolah, karena ada kelas tambahan untuk membimbing para kelas terakhir untuk menghadapi ujian kelulusan.
Aku meraih ponsel kecilku. "Halo?"
"Ah, Ino-chan. Ada apa?" suara Kaa-san terhubung.
"Kaa-san masih di sekolah?"
"Masih Ino, nanti Kaa-san pulang jam empat sore,"
"Oh baiklah, Kaa-san." Aku tersenyum sebelum melanjutkan kalimatku. "Aku mendapatkan gaji hari ini, lumayan untuk bertahan hidup dan membayar tagihan listrik dan air dirumah."
"Ah, Ino-chan. Syukurlah kalau begitu, ya sudah kamu tolong masak untuk makan malam ya! Maaf sudah merepotkanmu Ino-chan."
"Tidak apa-apa Kaa-san, tenang saja. Ino tutup ya, semoga Kaa-san baik-baik saja,"
"Baiklah, Ino-chan,"
Aku menutup sambungan telepon, dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah mandi, aku akan memasak untuk makan malam.
.
.
.
CIP CIP CIP
Suara burung menghiasi suasana pagi yang cerah ini. Kampusku masih sepi, apa aku yang terlalu pagi datang kesini?
Aku menahan senyum akibat satpam kampusku tadi. Kalian ingin tahu?
Di depanku sudah terlihat gerbang kampus, satpam yang bertugas suda berjaga-jaga sejak jam lima pagi. Aku menyunggingkan senyumku, satpam itupun membalasku dengan lambaian tangan.
Satpam yang memakai topi kain yang duduk di pos penjaga meneriaki namaku.
"Ino! Hoi, Ino!"
Aku menoleh malas. "Apa?"
Satpam yang bernama Genma Shiranui tersebut tersenyum menggelikan. "Kau sudah melihat berita baru?"
Aku menggeleng.
"Ada artis JAV terbaru! Yeay! Dia lebih cantik daripada senior JAV lainnya. Kau tau? Badannya sangat seksi dibanding Yui Kiramui(OC)!"
"Ahaha, benarkah? Siapa namanya?" tanyaku menahan tawa.
"Entahlah, namanya masih dirahasiakan, karena ia baru debut sebagai artis JAV."
"Kalau ada berita tentang artis JAV terbaru itu, kasih tau aku ya!" ucapku.
"AYE CAPTAIN!" pekiknya yang membuat orang-orang yang mendengarnya akan masuk ke poli THT.
Aku mengernyitkan dahi, ia masih menyukai film JAV? Bahkan, ia pernah menonton film laknat tersebut tepat saat ia di sebelah pacarnya. How funny.
Aku merasakan ada tepukan ringan yang mendarat dibahuku. Aku buru-buru melihat orang yang hampir membuatku jantungan.
Seorang lelaki berkulit putih pucat, rambut biru malam, hidung mancung, dan mata tajam. Sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi, dimana?
Oh ya, diakan pacarnya perempuan bar-bar kemarin.
Eh?
1
2
3
WHAT?! PACARNYA PEREMPUAN BAR-BAR!?
"E-eh, ada perlu apa?" tanyaku to the point.
Ia sempat ingin menyampaikan sesuatu, tetapi ia mengatupkan bibirnya begitu saja.
"Ng…" aku tau ini situasi canggung. Kenapa? Aku tidak kenal.
"Aku –ehem," lelaki tampan ini berdehem, lalu meninggalkanku.
Hei, apa-apaan itu?
"Hih, orang aneh kok masi ada gitu ya?" gumamku kesal.
.
.
.
Akhirnya, setelah mendengarkan cuap-cuap yang diberikan Iruka-sensei, aku bisa merasakan kemenangan(baca: istirahat). Tapi, ada satu halangan yang membuatku sedih. Ya, tentu saja tugas menumpuk yang ia berikan. Huh, menyebalkan.
Aku langsung memasuki ruang musik yang kosong, kemudian mengambil gitar akustik yang tersimpan di lemari kayu. Setelah itu, aku duduk dikursi sofa yang disediakan anak-anak band. Ruangan ini termasuk dalam kategori ruangan umum, jadi semua orang bisa memasuki ruangan musik ini.
Aku memainkan jariku diatas senar-senar gitar, dan menyanyikan lagu.
* This vacant soul, is pale and blue, in empty gaze, his crow's feet are
A vision of defeat sick and tired of the meaninglessness
The irrationale he's desensitized, his every need and emotion
A cup half empty, but full of euphoria he's,
Searching for the light switch in the dark, to switch his routine
To find a reason, to find faith and piece of mind
When one too many beliefs die, it's tough to see through these black eyes
Everyone forgives everyone forgets
Everyone is true and no one here will lie to you
Aku memandang gitar itu, pikiranku melayang. Sekelebat bayangan dan mata hitam memenuhi otakku.
"Kau suka kalung ini? Aku sengaja membeli dua untuk kita,"
"Benarkah? Wah, terima kasih!"
"Tentu, demi untukmu. Aku boleh memakaikannya dilehermu?"
"Araa~ tentu saja boleh,"
Apa ini? Kenapa ada suara dan wajahku? Dan, setelah kuteliti, selain ada diriku ternyata ada wajah seorang lelaki bermata hitam elang sedang tersenyum tulus padaku. Siapa sih dia?
Aku memijat pelipisku. Aku tidak bisa menahan rasa pusing yang menghantuiku. Memori berputar lagi. Kini aku dan seseorang berdiri di depan balon bertuliskan 'Will you be my girlfriend?'. Setahuku, orang manapun tidak akan sanggup membuat tulisan dari balon alphabet dengan rapi seperti itu.
"Kau… serius?"
"Tentu saja,"
"Kenapa?"
"Karena aku sudah lama menyukaimu, kau perempuan yang berbeda daripada perempuan lain."
"Kata-katamu tidak romantis."
"Aku memang tidak romantis, tetapi aku sudah mati-matian menyusun acara penembakanmu dengan matang. Dan beginilah jadinya, maaf jika tidak berkesan menurutmu."
"Aku…"
"Aku tau kau sama sekali tidak pernah melirikku, tetapi entah rasa ini muncul dengan sendirinya."
"Hahaha,"
"Ada yang lucu?"
"Tidak, bukan itu. Setahuku, kamu itu orang yang pendiam, tetapi kok kamu disini banyak bicara ya? Hahaha."
"Aku tidak bercanda, baby."
Baby? Oh tidak, aku bukan bayi! Siapa sih yang berani memanggilku baby?
Banyak pertanyaan yang mengumpal diotakku, aku terlalu pusing untuk memikirkan ini. Aku harus mencari tau, siapa orang yang dulu sempat berhubungan denganku.
Aku teringat sesuatu, dia memberiku kalung saat musim salju pertama kali ditahun yang entah aku tidak tau itu. Kalung? Aku harus mencari kalung itu!
Aku masih bertanya-tanya apakah aku ini masih menjadi kekasihnya atau sudah putus hubungan. Aku lupa semua tentangku! Aku… aku merasa tubuhku mendadak lemas. Mataku berkunang-kunang, dan aku merasakan tubuhku membentur benda.
"Oh astaga! Tolong dia!"
Hanya suara teriakan perempuan itulah yang kudengar, setelah itu aku tidak tahu apa yang akan menimpaku.
.
.
.
Hinata POV
"Hinata~ Don't forget to help me!" kata temanku yang bernama Irene(OC). Ia mahasiswi baru, dan pindahan dari kota Berlin. Ia mengingatkan aku untuk membantunya menyelesaikan skripsi.
Aku masih kaku bicara padanya, karena aku tidak begitu bisa bahasa inggris. "Okay, Irene. I'll not forget it."
"Thank you, Hinata. Good bye!"
Aku melambaikan tanganku. Hmm, setelah ini aku memilih pergi ke kantin saja.
"Huh, mana ya ponselku?" aku mencari-cari benda mungil itu, dan menemukan di kotak pensilku. "Halo? Sasame? Kau dimana? Ah, kantin? Baiklah."
Aku mempercepat jalanku, aku melihat pintu ruang musik terbuka lebar. Aku mengernyit bingung. Langsung saja kuhampiri.
BRUK
"Eh?" aku terkejut karena suara yang ada di ruangan itu, aku langsung berlari kencang.
Seorang perempuan berambut pirang terjatuh dengan gitar yang menimpanya. Aku berteriak kencang. "Oh astaga! Tolong dia!"
Semua orang yang melewati koridor ini menoleh cepat, dan menghampiriku.
Aku segera menunjuk perempuan pirang itu yang kukenal bernama Ino, dia teman baik Tenten yang ada di jurusan Sastra Jepang. "Tolong dia, kalau bisa bawa ke UKS ya? Ada perawat yang bertugas kan?" Entah kenapa aku menjadi cerewet seperti ini.
Yah, walaupun tidak terlalu kenal tapi dia juga temanku.
Tiba-tiba, seorang lelaki berambut aneh yang berwarna biru malam merebut perempuan pirang itu yang sudah ada di gendongan salah satu mahasiswa jurusan ekonomi.
"Biar aku saja!" kilatan matanya menakuti mahasiswa itu, otomatis ia memberikan Ino pada dekapan lelaki berambut malam ini.
Ia tergesa-gesa menuju UKS yang ada diujung koridor dengan Ino yang ada didalam dekapan lelaki yang masuk dalam golongan tampan itu.
Aku mengikutinya, takutnya saja nanti Ino bangun dan masih terasa pusing. Untung saja, aku membawa obat penenang.
Sebenarnya, siapa lelaki itu? Kenapa dia sangat cemas terhadap Ino? Wajahnya menyiratkan rasa bersalah. Semua orang bisa menebak tatapan yang ia berikan pada Ino.
.
.
.
*4328 Yen = kurang lebih 500,000 ribu rupiah.
*Lagu Lagwagon – Black Eyes
Yeayy 2 ribu words *tebar confetti*
Hai, ah akhirnya selesai juga chap 3 ini. Maap lama huwaa soalnya saya lagi fokus sekolah dan fokus dengan updatean terbaru BTS terutama suami saya Suga XD *apahubungannya*
Apakah ada typo? Maaf ya itu manusiawi hihi.
Apakah cerita ini gaje? Menurut saya IYA.
Ada yang nunggu lama? Maaf lagi(?), saya sedang ada di masa-masa menentukan kelulusan, sebut saja detik-detik menjelang ujian nasional (walaopun masi berapa bulan lagi) hehe.
Informasi untuk reader HIYM, maaf yang sebesar-besarnya saya lagi stuck untuk melanjutkan cerita itu, saya sudah ada daftar chap HIYM dan kalian tau nggak? Chapnya ada 30-an huwaa T.T apalagi HIYM di wattpad saya sudah saya unpublish huwaa T.T
Terima kasih sebanyak-banyaknya kepada =
hime yamanaka – ernykim – Noor wahdah – Hana (aduh kayaknya kalian readers yang sering mampir diakunku XD *plak *cium peluk).
HAII PARA SIDERS(SILENT READERS), MOHON REVIEW DAN TUNJUKKAN KALAU KALIAN ITU HIDUP HEHEHE (review dari kalian sangat bermanfaat untuk membangun semangat para penulis, okay?) nanti kalo gak review saya cipok lho XD
