Haii, kalian yang udah mereview, muncul lagi yah XD !

Maaf aku bales reviewnya duluan daripada cerita hihi XD

Makasih reviewnya yaa .

firdacha: apa iya nih? Duhh saya malah gak tau kalo bulan ini jarang ada yang nulis SasuIno (apalah daya, Sasu udh merit sama Saku). Makasih ya reviewnya :D

silverqueen98: akhirnya muncul juga aaaaaa hihi *sujud syukur/?* Ini udah lanjut yaa say ^^

hana109710 Yamanaka: waduh 2rb words kurang panjang? Nanti kalo saya ngetik sampe 5rb words takut sakit mata hehe. Kalau masalah masa lalu Ino, nanti ada chap yg menceritakan kok, tunggu aja ya ^^. Gapapa fangirling bareng aku~ XD Aaaa. Ini akun tdk login yg Hana bukan sih? XD

Erica719: Apa iyaa? Serius? Beneran nih masih percaya? XD /plak/. Ada jawabannya kok nanti di chap yg entah ke berapa XD tunggu aja deh yaa

Aprilia Putri: It's okay, nanti aku ganti XD

pinkkeu: ini udh lanjut yaaa hihi thanks lho udh mau nonggol~ *kecup2*

Nor wahdah: ahh akhirnya muncul jg kamu yahh *tebar bunga 7 rupa* ini udh lanjutt yahh XD

.

.

.

Dope : 1 sl. obat bius seperti morfin, candu dsb. 2 sl. si tolol.

3 pernis. 4 sl. keterangan. –kkt. 1 mengobati. 2 memberi obat.

(cr: kamuslengkap)

*Anggap aja artinya seperti yang diatas/plakk*

Summary : Aku selalu dinilai sebagai orang yang 'tolol'. Aku selalu diremehkan dalam masalah percintaan. Hingga hari itu, aku dicap oleh temanku kalau aku 'pecandu cinta' yang mengejar pujaan hati. Akhirnya, hatiku seperti terbelah. Perih. Suatu hari, ia datang menghampiriku dengan pesonanya. Membuatku merasakan hal yang janggal, yaitu Cinta dan Kesakitan.

.

.

.

4) Who is he?

Hinata melangkah masuk ke dalam ruangan putih polos yang penuh dengan wewangian kayu manis, lebih tepatnya UKS utama Konoha International University. Objek yang pertama ia tangkap adalah lelaki berambut biru malam, dan perempuan berperawakan manis sedang tertidur dikasur UKS.

Hinata berjalan pelan menuju bilik kedua tersebut, ia menduduki kursi yang ada di sebelah kiri kasur pasien. Hinata mengelus kening Ino pelan. Ia tidak ingin temannya terbaring lemas diruangan yang merupakan ruangan 60% bau obat. Jujur saja, Hinata tidak mau berlama-lama disini.

Lelaki berambut biru malam itu mendongak, matanya menatap tajam perempuan berkulit putih pucat. Pertama kali, ia kira perempuan itu hantu sadako* yang numpang lewat karena ingin menakuti perawat yang bertugas.

"Siapa?" tanyanya dengan nada sarkastik.

Hinata yakin, lelaki ini adalah seorang pemuda stoic* yang menghabiskan hidupnya dengan memasang wajah datar, seolah-olah tidak ada hiburan yang mengisi kehidupannya.

"Hinata Hyuuga," ucapku lirih.

Lelaki itu hanya menatap Hinata tanpa ekspresi, kemudian memicingkan matanya. Hinata berpaku ditempat, ia menunduk lesu karena tatapannya sangat menyeramkan. Lebih seram dibanding hantu yang termasuk urban legend maupun creepypasta.

"Uchiha Sasuke."

Hinata terkejut, ia segera melihat lelaki yang ada di depannya. "Namamu?" ia balik bertanya.

Lelaki yang bernama Sasuke itu mengganguk sekali.

"Oh, maaf, Baiklah."

Lelaki itu tidak menggubris ucapan Hinata, ia sibuk dengan acara memandang wajah perempuan berambut pirang –Ino Yamanaka. Hinata melirik lelaki itu sekilas, lalu menyentuh dahi Ino. Hangat. Hinata mengambil tas jinjingnya, dan mengeluarkan benda mungil. Ternyata, minyak kayu putih.

"Sebentar," gumam Hinata. "Aku ingin memberikan minyak kayu putih ditubuhnya, bisakah kau keluar?"

Sasuke mematuhi Hinata, melenggang pergi begitu saja. Hinata menyibakkan gorden kain yang menutupi setiap bilik. Hinata mengoleskan minyak aroma terapi, terutama dileher, dahi, dan perut yang menjadi titik utama.

Setelah selesai, Hinata memasukkan botol minyaknya ke dalam tasnya. Tiba-tiba, seorang perawat datang menghampirinya.

"Sudah lama?" tanya perawat tersebut.

Hinata menggeleng, lalu tersenyum. "Tidak juga," ia bangkit dari kursinya. "Tolong buatkan dia teh hijau hangat ya, tubuhnya masih lemas."

Perawat yang bername tag 'Hazuki Ayasha(OC)' itu mengangguk patuh.

"Aku harus mengumpulkan proposalku pada dosen, setelah itu aku akan kembali kesini." Hinata pergi meninggalkan ruang UKS, dan menuju gedung berlantai dua berada di seberang UKS.

.

.

.

Ino terbangun, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia mencoba berdiri, tetapi badannya masih susah untuk digerakkan dan susah mengikuti perintah otaknya. Ino melihat dirinya yang mungkin masih berusia belasan tahun, Ino kecil itu masih menggunakan seragam sekolahnya. Ino dengan susah payah menggapai Ino kecil, namun usahanya nihil.

Ino kecil tampak tersenyum memandang sebuket bunga mawar berwarna merah, ia sempat melompat senang. Ino semakin bingung dibuatnya. Tidak berhenti disitu, apalagi saat pemuda muncul di depan Ino kecil dengan membawa segengam bunga lavender ditangannya.

"Hai, maaf lama baby. Aku tadi ke kebun pamanku dulu untuk mengambil bunga ini." ujar pemuda tersebut, ia masih menggenakan seragam sekolah yang sama seperti Ino kecil.

"Whoa, aku suka bunga lavender!" pekik Ino kecil bahagia.

"Benarkah? Wah, berarti usahaku tidak sia-sia ya?" pemuda itu terkekeh pelan sembari menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.

"Ih, kamu ini. Ya sudah, kita jadi ke taman balon kan?"

"Iya, ayo!" pemuda itu kemudian menggandeng Ino kecil.

Ino mengernyitkan dahi, sekarang background sudah terganti menjadi taman yang penuh dengan balon-balon. Ia lumayan hapal, ini adalah taman kota yang kini sudah digusur menjadi toko buku terkenal.

Ino kecil terlihat lagi, bersama dengan pemuda yang entah siapa itu. Wajah Ino kecil sangatlah bahagia, karena ia bisa bersama pemuda misterius itu. Ino berjalan mendekat kearah mereka berdua, ia menajamkan penglihatannya. Semakin dekat, semakin dekat, dan Ino bisa melihat mereka dengan penuh.

Pemuda yang memiliki tinggi seperti atletis, memiliki kulit yang putih bisa-bisa para kaum hawa iri dibuatnya, lalu bola mata hitam elang.

Mata hitam?

Jantung Ino berdegup kencang, kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Ia tetap memaksakan diri untuk berlari ke kedua sejoli tersebut. Sebelum ia menggapai tangan Ino kecil, Ino sudah terjatuh ke bawah hilang ditelan tanah.

"HAAHHHHH?"

Perawat yang menjaga Ino dikejutkan karena teriakan Ino yang terdengar melengking. Tiga perawat buru-buru menghampiri Ino dan membawakan kain, camilan, dan teh hijau hangat. Perawat Hazuki menyambar lengan Ino, dan menahannya agar Ino tidak kelepasan.

"APA ITU TADI? HAH?!" Teriakan Ino semakin mengelegar.

Perawat Hazuki yang kewalahan menahan Ino, langsung saja ia menenangkannya. "Tenang Ino, tenang. Itu hanya mimpi." katanya sambil menepuk-nepuk pundak Ino.

Perlahan tapi pasti, Ino mulai menstabilkan detak jantungnya. "Itu… mimpi?" Ino bertanya kepada dirinya sendiri.

"Aku yakin itu hanya mimpi, Ino." Perawat Hazuki menyuruh kedua temannya menyuapi Ino dengan camilan berupa dessert.

"Au rasha ithu bukhan mimphi (aku rasa itu bukan mimpi)," Ino berbicara sambil mengunyah makanannya. Ino menghabiskan sisa makanannya, dan berkata lagi. "Aku seperti hidup dimimpi itu, yah… seperti kenyataan masa lalu yang masih menghantuiku."

Perawat Hazuki meneguk ludahnya susah. Ia bingung ingin menjelaskan apa. "Ah, sebentar ya Ino, aku akan menelepon Hinata dulu." Perawat Hazuki baru ingat jika Hinata meninggalkan kertas yang berisi nomor teleponnya.

"Moshi-moshi, Hinata? Situasi darurat mengenai Ino, sebaiknya kau harus ke UKS secepatnya! Ah? Ia baik-baik saja, tetapi masalahnya ia terus bertanya-tanya. Baiklah, kutunggu!"

Perawat Hazuki menyeka keringat dingin yang turun dipelipisnya. Pikirannya semakin kacau jika Ino mempunyai penyakit jiwa jika dia tertekan dengan masa lalunya.

"Ino, kamu kenapa?!" suara Hinata mulai terdengar, membuat perawat Hazuki menoleh.

Ino langsung memeluk Hinata ketika ia sampai di sebelah kasur rawatnya.

"Aku… mimpi buruk, tetapi seperti kenyataan. Apa kamu tau, Hinata?" Ino segera bertanya apa yang dia rasakan.

Hinata termenung, ia menatap wajah Ino tak yakin.

"Hinata, kita perlu bicara." Perawat Hazuki menarik lengan Hinata, dan membawanya keluar dari ruang UKS.

Sesampainya diluar ruangan, Hinata langsung meremas tangan perawat yang bertubuh tinggi tersebut. "Apa yang harus kulakukan?"

Perawat Hazuki, ia dikenal sebagai perawat perempuan yang mendapatkan julukan The Queen dalam pemilihan perawat-perawat terbaik di Konoha International University.

"Aku pikir kau harus membawanya ke psikolog, agar dia melepaskan semua uneg-uneg yang memenuhi pikirannya. Kau tahu kan psikolog yang handal di kampus ini?"

'psikolog Karin!' batin Hinata.

"Mungkin dia bisa sedikit membantu." Perawat Hazuki tersenyum.

"Dia ada dimana?"

"Siang-siang seperti ini, dia lebih menghabiskan waktunya diruang komputer untuk mengetik jurnalnya."

"Terima kasih." Hinata langsung menhubungi seseorang lewat ponselnya. "Ten, aku butuh bantuanmu. Segeralah ke UKS utama yang ada di depan kantor dosen."

.

.

.

"Apa yang kau pikirkan saat ini?"

Ino menggeleng kaku, ia agak ketakutan melihat psikolog yang sedang tersenyum maklum padanya. Ia sedang terbaring di sofa ruang komputer, dan ia tidak sendirian. Ada Tenten dan Hinata yang memandangnya cemas disofa seberang.

"Katakan saja, keluarkan semua yang merasuki pikiranmu."

Ino mengangguk pelan. "Aku merasa ada sesuatu yang tengah menghantuiku setelah aku melihat mata hitam seseorang yang mirip sekali dengan pemuda yang waktu itu pernah berhubungan denganku saat aku masih remaja."

"Lalu?"

Ino memejamkan matanya sebelum melanjutkan ceritanya. "Aku… aku yakin jika dia itu masih ada disini, aku yakin sekali. Aku… pernah melihatnya, tetapi aku lupa…"

Psikolog yang bernama Karin itu mengangguk paham, dan menuliskan sesuatu dibuku catatannya. "Kau yakin?"

"Ya, aku sangat yakin. Aku bisa merasakannya." Mata kejujuran Ino terpancar.

Karin tidak bisa menutupi fakta kalau dirinya takjub dengan Ino. Jiwa kejujuran yang ada di dalam dirinya sangat besar. "Wah, kamu mempunyai tali yang erat sekali padanya, sampai-sampai kau bisa merasakan jika ia masih ada disekelilingmu." komentar Karin.

Tenten bangkit dari sofanya, lalu berjalan menggandeng Ino. "Kita beli minum yang hangat, yuk!" ajak Tenten pada Ino. Ino langsung mengangguk, dan mengikuti Tenten dari belakang.

"Ehem, Karin, aku khawatir dia mempunyai kelainan jiwa karena terlalu frustasi dengan masa lalunya," ucap Hinata lirih. "Yah, dia selalu bermimpi masa lalunya akhir-akhir ini. Aku tidak tahu siapa yang menyebabkan dia dikelabui mimpi 'buruk' itu." keluh Hinata dengan mimic wajah sedih.

"Aku… tidak tau siapa yang membuatnya seperti itu." Kini, Karin terdiam memandang catatannya. Matanya terfokus pada deretan kalimat.

"Ah, ya. Aku baru ingat, apa kau kenal pemuda yang bernama Uchiha Sasuke?" tanya Hinata.

Karin berjenggit. "Uchiha? Aku hanya kenal dengan Uchiha Shisui." sebutnya.

Hinata menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa aku harus menjadi stalker dulu ya? Aku harus mencari akun sosial medianya."

Karin tersenyum. "Kau seperti seorang perempuan yang masih mengharapkan mantan dengan cara melihat-lihat akunnya. Tapi, idemu boleh juga."

"Baik," Hinata segera mengeluarkan ponselnya, dan mencari akun pemuda yang bernama Uchiha Sasuke.

Tidak, bukannya Hinata ingin tahu tentang pemuda tersebut. Ia hanya memastikan jika pemuda itu tidak ada hubungannya dengan Ino, atau sebaliknya. Dilihat dari tatapan rasa salahnya saja Hinata sudah 70% yakin jika dia pernah melukai Ino, atau apalah itu.

Hinata mencari nama Uchiha Sasuke diakun fac*ebo*ok, namun ada tujuh akun yang berfoto profil sama, yaitu foto 'Unknown'. (itu yang siluet laki-laki warna biru).

"Gagal."

"Kenapa?" Karin menatap bingung kearahnya.

"Aku tidak berhasil menemukannya, semua timeline kosong, hanya riwayat tahun dibuatnya akun tersebut."

"Ah, begitu." Karin mengigit bibir bawahnya.

"HAHHH! Who is he? Aku hampir mati kalau seperti ini terus, kenapa tidak ada yang kenal dia itu siapa?" teriakan Hinata mengagetkan Karin.

"Mungkin dia orang yang tertutup."

.

.

.

"Ino, ayo!" seru Tenten saat ia berlari cepat, Ino ada dibelakangnya.

Ino yang masih membawa satu kotak makan, dan minuman botol harus lari karena Tenten memang tidak mengerti apa itu artinya 'Sabar'. Ia selalu menyuruh orang cepat, padahal ia sendiri sering malas.

"Sebentar, Tenten!"

Saat Ino sampai di pertigaan koridor, ia menabrak seseorang.

"AUW!" pekik Ino. Ia melihat kearah makanan dan minumannya yang jatuh tepat di depannya. "Oh, tidak!" Ino memungut kembali makanan dan minumannya, lalu berlari kembali menyusul Tenten yang menunggunya di depan gedung Sastra.

Seseorang yang ia tabrak itu mencengat lengannya.

Ino menoleh. "Eh?"

Lelaki itu menatapnya datar. "Kau sudah menabrak orang, dan tidak minta maaf." Ucapnya sarkastik.

Ino mengernyit. "Halo? Bukannya kamu yang nabrak? Enak banget nyalahin orang!" Ino memandang bola mata milik pemuda itu, Ino merasa dirinya pernah melihat bola mata hitam itu.

Pemuda itu berlalu meninggalkan Ino, namun Ino menahannya. Pemuda itu menengok ke belakang, ia bisa melihat raut wajah bingung milik perempuan yang ada di depannya. "Apa?"

"Kau… apa kita pernah bertemu?"

Pemuda itu menepis tangan Ino. "Ya, kau seorang pelayan cafe. Aku benar kan?"

Ino mengingat sesuatu. "Ah, kau pacarnya perempuan bar-bar?"

Pemuda itu mengangguk sekilas.

Tidak, bukan jawaban itu yang Ino inginkan.

"Tapi, sebelum kau ke cafe. Apa kita pernah bertemu?"

Pemuda itu menatap Ino terkejut, kemudian menatapnya datar lagi. "Maaf?"

Ino menggelengkan kepalanya. "Ahaha, mungkin aku berhalusinasi saja." Ino mengepalkan tangannya. "Sampai jumpa. Kau bisa memesan makanan besok di cafeku, ada diskon akhir bulan."

Jawaban Ino sangat beda dengan jawabannya yang ada dilubuk hatinya. Ia yakin, pemuda itu adalah seseorang yang pernah berhubungan dengannya. Ino sempat melihat kalung yang tidak sengaja keluar dari dalam kerah bajunya. Kaling itu… kalung yang ia lihat sama persis dengan dua kalung yang diberikan seorang pemuda yang ada dimimpi 'buruk'nya.

"Hm." Pemuda itu menggumam lirih, mungkin suaranya tidak terdengar oleh Ino. Setelah Ino pergi, tatapan rasa bersalah mengembang lagi diwajah pemuda itu. "Maaf, bukannya aku tidak mau memberi tahumu, tapi aku tidak ingin kau terluka seperti dulu."

.

.

.

Angin yang tertiup malam itu membuat bulu kuduk siapapun naik. Sekarang, taman kota sedang ada acara festival. Perempuan blonde itu berjalan menyusuri ramainya orang-orang yang berlalu lalang disekitar stan toko.

Perempuan itu menempelkan ponselnya ke telinga. "Halo? Kamu disana? Iya, aku kesana sayang."

Dengan senyum merekah, perempuan itu berlari kecil ke pancuran air yang ada patung dua cupid ditengahnya.

Tetapi, larinya terhenti karena ia melihat pemuda yang bernotabene pacarnya sedang kedatangan 'tamu'. Perempuan yang ia tidak tahu siapa itu langsung menyambar pelukan ringan pada pemuda tinggi tersebut, dan juga perempuan misterius itu langsung mengecup pipi pemuda itu.

Sungguh pemandangan menyakitkan. Namun, tidak berhenti disitu, sang pemuda 'pacarnya' tersebut membalas kecupan, dan mendaratkankecupannya dikening sang perempuan misterius.

Perempuan blonde hanya bisa mematung melihat kedua sejoli sedang bermesra-ria. Ia meneriaki nama pacarnya, dan pemuda itu sangat terkejut akan datangnya pacarnya. Pemuda itu yakin, pacarnya melihatnya mencium kening perempuan lain.

Perempuan blonde tersebut membuang stik es krimnya, kemudian berlari kencang sambil menahan isak tangisnya. Tujuannya hanya satu, yaitu rumah dan kamarnya.

Ya, perempuan blonde itu Ino Yamanaka alias Azasi Kimura.

.

.

.

Hehe, hai semua~ Udah update kilat ya! Saya memanfaatkan waktu luang(baca: pulang sekolah cepat) karena dedek gemes(baca: adek kelas) pada ujian akhir semester(?) nihh ^^ Hurrayy /ujian atau ulangan sih?.w./

panggil Ren atau Tata aja ya, kalo author saya berasa gapunya nama /plak/ /candaa/

Kalian tau gak? Pas aku iseng-iseng ngegabungin chap 1 sampai 3 DOPE dengan margin, pt yang sama dengan novel ternyata 3 chap itu udah 33 halaman XD Awww *apa hubungannya*/ya cuman mau ngasih tau aja, kan aku juga terkejut gitu/ /halah ngeles/

Gimana? Ada yang masih bingung kah? Masih belum ada SasuIno scene ya? Maaf deh, chap depan ada kok tenang saja~

Dan saya juga bingung dengan diri sendiri, kok bisa ada scene ngebahas kelainan jiwa? XD padahal saya gak tau frustasi itu bisa menyebabkan kelainan atau nggak. Yah, ngasal gitu hehe

Udah panjang belum? 2ribu words ini lho~ /plak/

Siapa itu yaa yang dateng2 langsung meluk en kecup si pemuda nggak-tau-dia-siapa itu XD

Makasih ya dukungannya, review lagi dong~ *wink*

Yang masih silent readers muncul yah, kalo ada senior author juga harus muncul ya soalnya aku pemula dan butuh penjelasan/perbaikan lagi XD

Byeee~~ *naburin gula en permen lollipop*