Chapter 7

Title : DREAM

Genre : Family, Brothership, Friendship

Rating : Fiction T

Main Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Park Jung Soo / Leeteuk, Lee Donghae, dan temukan sendiri yang lain ne XD

Warning : Typo(s), bad plot, bored, OOC, if u don't like it don't bash please. Give me some comments or critics, it's Ok for me ;)

Disclaimer : All cast belong to God and themselves, I just own this story plot!

Summary : Kyuhyun terpisah dari saudara-saudaranya dan mengalami cidera. Apa yang terjadi dengan impian mereka semua? Akankah mereka akan bisa mewujudkan impian mereka?

.

Happy Reading!

.

.

Terlihat seorang murid yang sedang memainkan sebuah biola di ruang musik sekolah saat jam istiharat tiba. Dia terlihat sangat menikmati permainannya, itulah kebiasaanya selain bermain game saat jam istirahat. Ruang musik sangat sepi, hanya dia yang ada disana,. Biasanya dia akan bersama Changmin, tapi saat ini sahabatnya itu tidak sedang bersamanya.

Kyuhyun yang kini telah berumur 13 tahun bersekolah di Kyunghee Junior High School kelas dua. Kyuhyun tumbuh menjadi seorang violinis muda berbakat, memiliki kemampuan mendengar sempurna yaitu kemampuan untuk mengetahui nada hanya dengan mendengarnya tanpa melihat serta dia sudah mulai belajar menjadi seorang komposer secara serius sejak duduk di bangku Junior High School.

Saat bel masuk berbunyi dia segera mengembalikan biola beserta busur yang dipinjamnya di ruang musik ketempat semula dan bergegas kembali ke kelasnya. Dia memang tidak membawa biola kesayangannya ke sekolah jadi dia meminjam sebuah biola di ruang musik untuk dimainkan. Dia berjalan santai menuju kelasnya, walaupun dia tahu pasti akan mendapat omelan dari sahabatnya karena tiba-tiba menghilang saat bel jam istirahat.

"Ya Kyuhyun-ah kenapa kau tak mengajakku? Ish, kau ini!" Changmin segera memberondong Kyuhyun dengan omelannya sesaat setelah dia menginjakkan kakinya di kelas.

Kyuhyun dengan cuek langsung duduk di bangkunya di sebelah Changmin dan langsung mengeluarkan buku pelajarannya.

"Kalau aku menunggumu, aku hanya memiliki sedikit waktu untuk bermain nanti. Lagi pula kau bisa menyusulku bukan"

"Ya Kyuhyun-ah~"

"Sudahlah Changmin-ah, kau kan tadi diminta Kim Songsaengnim untuk membantunya"

.

.

Saat bel istirahat kedua Changmin dan Kyuhyun memutuskan untuk pergi ke kantin. "Hei Kyu, kau dicari Lee Songsaengnim di ruang guru" Tiba-tiba salah satu teman sekelas mereka memberitahu pesan salah satu guru musik mereka.

"Thanks Jong" Kyuhyun berterima kasih pada teman sekelasnya itu sebelum Jonghyun berlalu menuju kantin. Kyuhyun dan Changmin saling berpandangan heran.

"Menurutmu apa yang membuat Lee Songsaengnim mencarimu?"

"Mana kutahu! Sebaiknya aku segera kesana. Kau ke kantinlah dulu aku akan menyusul nanti"

"Baiklah kalau begitu. Ceritakan padaku nanti"

Kyuhyun mengangguk dan berbalik arah menuju keruang guru. Setelah dia sampai didepan pintu ruang Lee Songsaengnim, dia segera mengetuk pintu dan masuk setelah mendengar suara gurunya memintanya masuk.

"Kemarilah Kyu, duduklah. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu" Lee Junhoo merupakan guru musik di sekolah Kyuhyun. Pria berusia 35 tahun yang ramah dan sangat disenangi semua murid. Apalagi dia sangat pandai bermain berbagai alat musik. Kyuhyun banyak mendapat saran darinya.

Setelah Kyuhyun duduk di depan gurunya itu, pria itu memberikan sebuah kertas dan ternyata sebuah brosur. Kyuhyun mengernyitkan dahinya lantas membaca brosur itu.

"Ini sebuah kompetisi musik internasional yang akan di adakan dua bulan lagi. Aku berecana untuk mengikutkan beberapa murid yang kupilih termasuk dirimu. Kau bersedia kan Kyu?" Setelah terdiam cukup lama, Kyuhyun memandang ke arah gurunya itu.

"Aku tidak tahu, ini merupakan sebuah kompetisi besar. Kenapa songsaengnim memilihku? Bukankah banyak yang memilik kemampuan lebih baik dariku?" Junhoo yang mendengarnya tersenyum, dia bisa menebak kalau anak di depannya ini akan mengatakan hal semacam ini.

"Aku tahu itu, tentu saja mereka juga akan ikut kompetisi ini. Kau tak perlu memikirkan hal itu. Kau memiliki bakat Kyu, bakat yang bahkan orang lain tidak tahu. Kau selalu menyembunyikan bakat itu dan aku sebagai gurumu tak ingin bakat itu terkubur. Selama ini kau selau menolak untuk mengikuti kompetisi musik. Tapi aku harap kali ini kau bersedia. Bagaimana?"

"Ada satu hal yang perlu kau tahu, beberapa kontestan terbaik akan dipilih untuk bisa tampil di sebuah Internasional Concert yang akan diadakan di Kanada. Yang akan dihadiri peserta-peserta dari negara-negara yang berbeda termasuk Kanada. Songsaengnim harap kau bisa memikirkannya."

" Baiklah...Aku akan memikirkannya, songsaengnim."

"Besok temui aku lagi untuk memberikan keputusanmu." Kyuhyun mengangguk kemudian dia pamit untuk kembali ke kelasnya. Saat telah berada di luar Kyuhyun menghela nafas, dan dia memutuskan menemui Changmin di kantin.

Kyuhyun duduk berhadapan dengan Changmin, saat ini mereka sedang menikmati makanan mereka.

"Apa yang Songsaengnim bicarakan padamu?"

"Emmph, dia ingin aku mengikuti sebuah kompetisi musik dua bulan lagi." Kyuhyun menceritakan apa yang disampaikan gurunya itu pada Changmin.

"Kenapa kau tak mengikutinya saja! Aku setuju dengan Songsaengnim sebaiknya kau ikut saja." Kyuhyun mengangkat bahunya. Dia masih ingin memikirkan hal ini.

.

.

Kibum saat ini sedang makan malam bersama sang appa. Mereka makan malam dalam diam. Kibum pun enggan membuka suaranya.

"Kibumie, appa akan mengajakmu ke korea selama 2 hari. Karena ada urusan bisnis yang harus appa selesaikan. Appa ingin memperkenalkanmu dengan relasi bisnis appa. Appa harap kau bersedia.

"Setelah sekian lama, kenapa appa baru mengajakku kesana walaupun hanya 2 hari? Tidakkah appa tahu aku sudah memintamu untuk kembali kesana sejak beberapa tahun ini."

"Appa mengajakmu kesana bukan untuk bertemu mereka Kibum. Jika kau tetap ingin kembali kesana, appa tak akan membiarkannya." Kibum yang mendengarnya pun menghela nafas panjang.

"Baiklah, aku ikut."

Setelah pembicaraan dengan ayahnya untuk pergi ke Korea, Kibum berharap dapat bertemu dengan saudara-saudaranya dan juga sang eomma.

Keesokan harinya mereka melakukan penerbangan menuju Korea. Kibum sudah merencanakan semuanya. Dia akan diam-diam kembali kerumahnya yang dulu, Kibum takut ayahnya akan menghalangi niatnya itu jadi dia memutuskan untuk tidak memberitahunya.

.

.

Setelah sang appa pergi untuk mengurus kepentingannya pagi ini, Kibum memutuskan untuk segera menjalankan rencananya bertemu saudara-saudaranya. Dan disinilah Kibum sekarang di depan sebuah rumah yang dulunya merupakan tempat tinggalnya. Dia memperhatikan sekitarnya, dia sungguh merindukan tempat ini. Kibum cukup lama berdiri di depan gerbang rumah itu sampai seseorang menyapanya.

"Nak, ada yang bisa ahjumma bantu?" Suara seorang wanita paruh baya membuyarkan lamunan Kibum. Kibum menoleh dan memperhatikan wanita itu. Dia berpikir, sepertinya dia mengenal wanita ini, dan seketika dia tersenyum saat dia bisa mengingat siapa wanita yang menyapanya ini.

"Song Ahjumma... ahjumma masih ingat denganku? Aku Cho Kibum." Mendengar penuturan anak berumur 13 tahun di depannya, Song i pun terkejut.

"Ini benar-benar dirimu Kibumie?" Kibum mengangguk. Melihat hal itu mata Song ahjumma berkaca-kaca, dia cukup dekat dengan keluarga Cho termasuk dengan tiga bersaudara itu. Sedikit banyak dia mengetahui masalah yang terjadi di keluarga itu.

"Sebaiknya, Kibum ikut ahjumma ke rumah. Ahjumma ingin menceritakan sesuatu padamu. Ahjumma yakin kau ingin bertemu keluargamu bukan?" Kibum sangat penasaran apa yang ingin diceritakan wanita paruh baya itu padanya. Jadi dia mengikuti Song ahjumma kerumahnya.

"Nak, sebelumnya ahjumma ingin tahu kemana appa-mu membawamu?"

"Appa membawaku ke Kanada, ahjumma." Mendengarnya Song ahjumma pun menghela nafas.

"Apa kau tidak tahu sama sekali kabar tentang eomma dan saudara-saudaramu hemmph?" Kibum menggeleng. Perasaan tidak enak mulai mengerjapnya, dia mulai merasa takut akan apa yang didengarnya kemudian. Keheningan melanda mereka. Tak ada yang berniat untuk memecah keheningan itu. Song ahjumma tampak berpikir bagaimana dia menjelaskan semua yang telah terjadi. Setelah berkecamuk dengan pikirannya, dengan berat hati dia mengatakannya.

"Eomma-mu... telah pergi meninggalkan kita untuk selamanya Kibumie."

Deg

Suara itu terdengar sangat lirih, namun karena hanya ada mereka berdua dan keheningan yang menyelimuti, suara itu dapat terdengar sangat jelas di telinga Kibum. Kibum merasa jantungnya berdetak sangat cepat saat ini. Dia tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

"Eomma-mu meninggal pada sebuah kecelakan sebulan setelah kepergian kalian." Suara Song ahjumma bergetar sesungguhnya dia tidak tega menceritakan kenyataan ini pada anak didepannya. Tapi dia tetap harus memberitahunya.

Kibum menahan nafas. Bukan ini yang ingin didengarnya saat dia kembali kemari. Dia hanya ingin bertemu mereka dalam keadaan baik-baik saja.

"Kyuhyun dan Jung soo meninggalkan rumah itu dan menitipkannya pada ahjumma seminggu kemudian. Jung soo juga menjual pianonya dan yang ahjumma tahu mereka tinggal di sebuah rumah sewaan. Terkadang mereka datang kemari untuk melihat rumah kalian. Tapi beberapa lama tak ada kabar dari mereka lagi. Dan ternyata Jung soo terlibat dalam sebuah kecelakaan bis tepat seminggu setelah ulang tahunnya dan sampai sekarang tidak ada yang tahu bagaimana keadaannya."

Song ahjumma menghapus air matanya yang mengalir. Kibum bingung harus berekspresi seperti apa sehingga dia hanya diam. Matanya sudah sangat merah menandakan dia sedang menahan tangis. Hatinya sakit mendengar itu semua.

"Dan ahjumma tidak tahu keberadaan saudara kembarmu setelah itu." Air mata itu akhirnya mengalir, perasaan sesak yang menghimpit dadanya sudah tak bisa di tahannya.

.

.

Setelah pulang sekolah, Kyuhyun sudah berencana mengunjungi rumah lamanya. Yaitu rumah keluarganya, sejak dia tinggal bersama dengan keluarga Kim dia belum pernah mengunjungi rumah itu lagi. Rumah itu mengingatkannya akan banyak kenangan manis dan juga pahit. Namun saat ini dia sangat ingin mengunjungi rumah itu. Dia tidak tahu mengapa, tapi yang diinginkan saat ini adalah pergi kesana secepatnya.

Kyuhyun menggunakan bis untuk bisa sampai ke rumahnya itu, karena jarak yang ditempuh cukup jauh. Setelah dari halte bis, Kyuhyun berjalan menuju ke tempat tujuannya.

Saat sudah sampai, Kyuhyun berdiri di depan gerbang rumahnya itu. Dia berdiri disana memperhatikan, menyentuh pagar rumah itu. Kyuhyun tersenyum mengingat semua kenangan manis yang terjadi. Tepukan dibahunya membuatnya menoleh, dan yang dilihatnya adalah seorang wanita paruh baya.

.

.

Kyuhyun berlari, dia tidak mempedulikan peluh yang saat ini membanjiri wajahnya. Yang dia pedulikan hanyalah dia harus segera kesana. Ke tempat dimana sang eomma dimakamkan.

"Kyuhyunie, saudara kembarmu Kibum beberapa jam lalu berada disini, dia mencari kalian."

"Ahjumma sudah menceritakan apa yang terjadi pada kalian."

"Ahjumma bersyukur kau baik-baik saja Kyu. Seandainya kau datang lebih cepat."

"Ahjumma memberitahu tempat makam eommamu pada Kibum. Cepatlah kau pergi, carilah dia disana, ahjumma harap kalian bisa bertemu."

Sekelebat kata-kata yang dikatakan Song ahjumma berputar di kepalanya. Saudara kembarnya datang, dia tidak bisa berbicara banyak pada Song ahjumma. Yang dipikirkannya sekarang adalah Kibum. Dia benar-benar berharap dia bisa bertemu saudara kembarnya itu.

Mungkin inilah yang membuatnya sangat ingin kembali ke rumah lamanya. Kehadiran Kibum, yang menuntunnya untuk mengunjungi rumah itu.

Langit mulai mendung dan rintik-rintik hujan mulai turun. Kyuhyun tak mempedulikannya, dia terus berlari. Rasa senang karena dia sudah sangat dekat dengan saudaranya. Dari kejauhan dia bisa melihat kompleks pemakaman dimana makam sang eomma berada.

Makam eomma mereka berada di atas bukit pemakaman itu. Kyuhyun mendaki anak tangga yang ada disana untuk bisa sampai ke puncak, dia sudah kelelahan sebenarnya. Tapi dia tidak mau berhenti, sebelum dia bisa bertemu Kibum. Sedikit lagi dia sampai. Kyuhyun menumpukan tangannya pada kedua lututnya.

"Kibumie? Kau ada disini? Kibumie ini aku Kyuhyun. Kibumie aku mohon keluarlah!" Kyuhyun mencarinya, dia mengelilingi tempat itu berusaha untuk menemukan dia. Kyuhyun kembali berlari dan dia terus mencari tanpa tahu Kibum telah berada di gerbang pemakaman itu.

Kibum memutuskan pergi darisana setelah hanya memandangi makam itu serta menumpahkan apa yang ingin dikatakannya didepan makam sang eomma. Sesaat sebelum dia masuk kedalam taksi yang berhenti didepannya, Kibum kembali melihat ke atas bukit itu. Seandainya Kibum menunggu lebih lama, seandainya Kyuhyun datang lebih cepat. Mereka akan bertemu, namun ternyata saat ini bukanlah waktu mereka untuk dipertemukan.

Kyuhyun sudah lelah, dia sudah mencarinya tapi tidak bisa menemukan keberadaan Kibum. Dia terlambat, Kibum sudah pergi. Dia tidak tahu harus mencari kemana, Song ahjumma juga tidak tahu dimana Kibum tinggal saat ini. Yang dia tahu, Kibum bersama sang appa tinggal di Kanada.

Hujan mulai turun, Kyuhyun duduk berlutut di depan makam sang eomma. Di makam itu terdapat bunga Lily yang sangat indah kesukaan sang eomma. Dia yakin Kibum memang kesana. Dia tak peduli hujan yang membuatnya basah kuyup. "Eomma, kumohon bantu kami bertemu kembali." Kyuhyun tertunduk.

Beberapa saat kemudian, dia ingat. Kompetsisi musik itu, kompetisi itu akan membawanya ke Kanada. Kompetisi itu akan membawanya kepada saudara kembarnya. Tidak menutup kemungkinan Kibum juga akan mengikuti kompetisi itu. Mereka sudah berjanji untuk terus bermain musik. Apakah kali ini benar-benar kesempatannya untuk mereka bertemu? Dia tidak tahu, tapi Kyuhyun akan tahu jika dia berhasil. Kyuhyun sudah memutuskan dia akan mengikuti kompetisi itu.

.

.

Kibum kembali ke apartemen yang ditempatinya bersama sang appa. Malam ini dia akan ikut tuan Cho bertemu relasi bisnisnya. Dia ingin mengatakan apa yang terjadi pada saudara-saudaranya dan juga sang eomma. Ayahnya itu harus tahu, berharap setelah mengetahui semuanya sang appa akan luluh sehingga membiarkannya kembali tinggal di Korea untuk menemukan saudara kembarnya bahkan jika mungkin mengetahui keadaan Jung soo hyungnya.

Setelah pulang dari pertemuan membosankan itu. Kibum berusaha mendekati ayahnya dan berbicara.

"Appa ada yang ingin Kibum bicarakan."

"Appa sudah sangat lelah Kibum, sebaiknya kita bicarakan apa yang ingin kau katakan itu besok ne." Tuan Cho berlalu melewati Kibum.

"Eomma sudah meninggal, appa." Kata-kata meluncur begitu saja. Mendengar hal itu tuan Cho menghentikan langkahnya. Kibum menunggu reaksi ayahnya itu.

"Eomma meninggalkan kami sebulan setelah appa membawaku pergi eomma pergi untuk selamanya, Jung soo hyung terlibat dalam kecelakaan seminggu setelah ulang tahunnya dan belum ditemukan. Dan Kyuhyunie..." Kibum melanjutkan dia harus segera memberitahu ayahnya. Tidak adanya respon dari sang ayah tak menyurutkan niatnya untuk memberitahu hal ini.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya." Diam. Tuan Cho hanya diam, setelah beberapa saat dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Kibum. Kibum kecewa, dia hanya memperhatikan punggung ayahnya yang menghilang di balik pintu kamarnya.

Kibum berjalan meneju cendela besar yang ada di apartemen yang ditempatinya itu. Memperhatikan langit kota Seoul yang mendung, hujan masih belum berhenti. Tangannya menyentuh kaca cendela yang dingin, menghela nafas panjang dan memejamkan matanya.

"Kyuhyunie~ aku harap kita akan segera bertemu."

.

.

"Kenapa kau suka sekali hujan-hujanan! Hyung tak habis pikir denganmu Kyu!"

"Diamlah hyung, kau sungguh cerewet. Kepala Kyu pusing!" Kyuhyun memilih memejamkan matanya karena memang saat ini kepalanya terasa pusing setelah tadi sore dia pulang dari makam sang eomma dalam keadaan basah kuyup. Dia juga sedikit demam, walaupun tidak terlalu tinggi.

"Aisshh... anak ini." Heechul sudah sangat ingin menjitak kepala anak itu karena bicara tak sopan padanya. Tapi dia mengurungkannya. Heechul tak habis pikir dengan adik angkatnya ini, dalam keadaan sakit pun dia masih sempat-sempatnya mencari gara-gara denga Heechul. Tapi Heechul pikir itu lebih baik daripada tidak, karena jika Kyuhyun bersikap manis itu artinya tidak beres.

Sore tadi, Heechul yang tahu adiknya itu pulang dalam keadaan basah kuyup sontak menceramahinya. Dia tidak tahu kemana perginya adiknya itu, karena Kyuhyun hanya bilang dia akan keluar ke suatu tempat.

Kyuhyun membaringkan tubuhnya membelakangi Heechul. Dia menutup matanya sejenak, untuk meredakan pusing yang melandanya.

"Hyung!" Suara yang sangat lirih itu terdengar ditelinga Heechul. Dia yang tadinya akan beranjak meniggalkan kamar, akhirnya berhenti setelah mendengar panggilan itu. Karena tidak ada sahutan, Heechul berbalik dan menunggu apa yang ingin dikatakan Kyuhyun.

"Aku terlambat hyung~" Heechul mengernyitkan dahi tak mengerti. Apa maksudnya?

"Aku mengunjungi rumahku yang dulu, pada awalnya entah mengapa aku sudah tidak dapat membendung lagi untuk pergi kesana. Padahal selama ini aku tidak ingin kesana, karena terlalu takut untuk mengingat apa yang terjadi di masa lalu setelah kepergian Jung soo hyung." Suara itu masih sangat pelan, tapi Heechul masih bisa mendengarnya di tempatnya berdiri. Dia hanya diam tak menanggapi, tapi Kyuhyun tahu hyung-nya itu mendengarkannya.

"Ternyata Kibum datang kesana mencari kami." Heechul terkejut, tapi dia masih mendengarkan lanjutan cerita itu.

"Bumie sudah tahu tentang eomma dan Jung soo hyung dari Song ahjumma tetangga kami, Dia pergi ke makam eomma. Aku tahu karena bunga Lily ada di makam eomma. Tapi aku terlambat sampai disana. Kibum sudah pergi. Aku belum sempat bertemu dengannya. Dan ternyata Kibum tinggal di Kanada hyung." Kyuhyun membalik tubuhnya menghadap ke arah Heechul. Dia sudah menyelesaikan ceritanya. Mata Kyuhyun terlihat memerah, dia sedang berusaha untuk tidak menangis.

Heechul menghela nafas panjang dan kemudian dia tersenyum. "Kau akan bertemu dengannya, hyung yakin itu. Jadi kau memutuskan untuk mengikuti kompetisi itu kurasa?" Kyuhyun mengangguk, Kyuhyun memang sudah menceritakan perihal kompetisi itu sehingga Heechul mengetahuinya.

"Lakukan apa yang menurut hatimu benar Kyuhyunie~ Kau tahu aku selalu mendukungmu." Heechul mengacak rambut Kyuhyun dan pergi meniggalkan kamar adiknya.

.

.

Tuan Cho duduk diam di pinggir kasurnya, dia memikirkan kata-kata Kibum tentang anak-anaknya yang lain dan juga mantan istrinya. Dia tak menyangka semua itu terjadi pada mereka. Dia berpikir setelah dia pergi, mereka akan baik-baik saja tanpa dirinya. Dapat hidup dengan baik dan tak mengalami kesulitan. Tapi justru semua berbanding terbalik dari yang dia kira.

Tuan Cho mengusap wajahnya kasar, pandangan matanya kosong. Karena keegoisannya, anak-anaknya menjadi korban. Seharusnya anak-anaknya tak perlu mengalami hal seperti ini. Rasa marah yang menguasainya membutakan hati nuraninya sebagai seorang ayah. Membuatnya lupa hati anak-anaknya tersakiti.

"Apa yang telah kulakukan?" Tuan Cho menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tidak bisa berpikir sekarang. Apakah sekarang dia merasa menyesal? Dia berpikir seandainya waktu bisa diputar kembali. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak bisa mengubah apa yang terjadi di masa lalu. Tapi dia bisa mengubah masa depan menjadi lebih baik. Dia tak boleh lagi mengambil langkah yang salah yang hanya mementigkan egonya. Dia harus bisa memperbaiki semuanya.

.

TBC

Special thanks to:

sparkyuNee13/ dyayudya/ mifta cinya/ sfsclouds/ ELFhaRani/ Kiyuh/ Awaelfkyu13/ Desviana407

Jika ada namanya yg belum disebutin mianhe, silahkan protes :)

Terima kasih atas dukungannya, senang baca reviewnya

Gomawo untuk yang baca, review, favorite, dan follow *bow

^.^