Title : DREAM
Genre : Family, Brothership, Friendship
Rating : Fiction T
Main Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Park Jung Soo / Leeteuk, Lee Donghae, dan temukan sendiri yang lain ne XD
WARNING : TYPO(s), BAD PLOT, bored, OOC, if u don't like it don't bash please.
Disclaimer : All cast belong to God and themselves, I just own this story plot!
Summary : Kyuhyun terpisah dari saudara-saudaranya dan mengalami cidera. Apa yang terjadi dengan impian mereka semua? Akankah mereka akan bisa mewujudkan impian mereka?
.
Enjoy Reading
.
"Kemana anak itu?" Jung soo mengedarkan pandangannya ke arah pintu keluar gedung tempat para peserta berlatih untuk babak seleksi selanjutnya, dia menunggu Donghae yang meminta dirinya untuk menjemput. Tapi justru anak itu tak kunjung terlihat. Padahal banyak peserta lain telah berada disekitar tempat itu menunggu jemputan mereka ataupun mengobrol dengan peserta yang lain.
"Ya! Kyuhyun-ah! Kau tega sekali padaku," seruan itu membuah Jung soo menolehkan kepalanya ke asal suara. Terlihat dua orang anak yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Salah satu dari mereka membawa tas biola, yang diyakininya sebagai salah satu peserta.
Jung soo tersenyum melihat percekcokan kecil mereka, entah mengapa hatinya diliputi kerinduan akan sesuatu saat melihat dua anak itu. Merasa diperhatikan, Kyuhyun menolehkan kepalanya, menyebabkan pandangan mereka bertemu.
Deg
Jung soo segera mengalihkan pandangannya. Hatinya bergumuruh, saat tatapan mata itu masih terasa menghujamnya. Walaupun sebenarnya Kyuhyun tidak akan menyadari pandangannya karena ia mengenakan kaca mata hitam dan juga topi.
"Hyung! Apa sudah lama menungguku?" Jung soo terkejut mendapati Donghae tiba-tiba saja sudah berada disampingnya.
"Ouchh... Kenapa hyung memukulku?" Donghae mempoutkan bibirnya lucu.
"Kau mengagetkanku, Hae,"Jung soo menggelengkan kepalanya mendapati adiknya tersenyum lebar seperti itu. "Apa sudah selesai Hae?" Donghae mengangguk senang. Dia mengedarkan pandangannya dan mendapati Kyuhyun bersama dengan Changmin.
"Kyuhyun-ah!" serunya. "Sampai jumpa, aku pulang lebih dulu ne," anak yang diperhatikan Jung soo tadi melambaikan tangannya pada Donghae. Sekali lagi tatapan mata itu menghujam Jung soo yang tidak mengerti akan apa sebenarnya yang dirasakannya terhadap sosok anak yang menatapnya itu.
"Leeteuk Hyung!" Jung soo menolehkan kepalanya, Donghae tampak memandang cemas ke arahnya.
"Ada apa hemmp?"
"Kau melamun sejak tadi, aku sudah memanggilmu berulang kali," Jung soo tersenyum melihat Donghae yang menggembungkan pipinya.
"Mianhe, Hae,"
"Aishhh... Hentikan hyung, jangan menarik pipiku," Jung soo mengucak gemas rambut adik childish-nya itu. Membuatnya kembali mengingat kebiasaan Kyuhyun yang merajuk padanya atau pada Kibum. Haahh... Dia menjadi sangat merindukan kedua adik kembarnya itu. Membuatnya merasa sesak karena tidak bisa menjaga mereka tetap bersama.
"Hyung! Jangan melamun lagi. Apa yang hyung pikirkan? Hyung bisa bercerita padaku," Jung soo kembali mengucak rambut Donghae. "Pasti tentang Kyuhyunie bukan?" lanjutnya. Jung soo tersenyum kecil membuat Donghae berdecak melihatnya.
"Bukan hanya Kyuhyun-ie tapi juga adikku yang lain, Kibum,"
"Eoh? Kau memiliki adik lagi? Dua adik? Berarti kalau hyung memiliki dua adik, aku juga memiliki dua adik. Huwaah senangnya~ pasti menyenangkan jika bertemu nanti~"
"Tentu saja, apalagi mereka kembar."
"Aigooo... mereka kembar? Apa mereka memiliki wajah yang sama? Aigoo...Bagaimana caraku membedakan mereka kalau mereka saat mereka berdua berjajar? Pasti sangat sulit membedakannya," Jung soo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat bagaimana antusiasnnya Donghae terhadap kedua adiknya.
"Mereka tidak identik, jadi kau tidak perlu khawatir tidak bisa membedakan mereka," Donghae menghela napas lega mendengarnya tapi dia tak juga berhenti berceloteh tentang bagaimana jika ia bertemu mereka.
"Hae? Kau mau mendengarkanku menceritakan tentang mereka tidak?"
"Hehehehe... tentu saja hyung. Mianhe," ucap Donghae salah tingkah. Ia menarik napas panjang untuk bersiap mendengarkan cerita Jung soo tentang adik-adiknya. Jung soo juga menceritakan bagaimana dia mengalami kecelakaan itu.
"Bagaimana bisa hyung meninggalkan Kyuhyun-ie serta tidak mengenalinya saat menjemputmu saat itu," pandangannya tampak menerawang, helaan napasnya terdengar berat. Membuat Donghae yang sejak tadi memperhatikannya merasa sedih.
"Jangan katakan itu, lagi pula bukan keinginanmu kecelakaan itu terjadi yang menyebabkanmu terpisah dari Kyuhyun-ie."
"Jika saja aku tahu dia adalah dongsaeng-mu, aku akan mempertemukanmu dengannya sejak pertama kali bertemu. Tenang saja hyung, kita pasti akan menemukannya," Jung soo tersenyum dan melingkarkan tangannya disekiling pundaknya seraya mengusapnya. Ia beruntung bertemu dengan Donghae dan pamannya. Merawatnya serta menganggapnya sebagai keluarga.
Jung soo kembali mengingat saat pertemuannya secara tak sengaja saat itu. Dia mengingat kembali pandangan lekat dari mata adiknya. Seandainya saja saat itu ingatannya telah kembali, mungkin dia telah bersama dengan adiknya itu.
Apa yang dipikirkan Kyuhyun saat itu. Dia meninggalkannya sendirian saat adiknya tidak memiliki satu orangpun disisinya. Disaat setelah saudara kembarnya dan sang ayah meninggalkan mereka, sang ibu yang meninggalkan mereka selamanya, dan kemudian ia yang meninggalkannya sendirian. Waktu yang bahkan kurang dari satu tahun dengan berbagai perpisahan yang harus dilaluinya. Membayangkannya saat ini sangat menyesakkan.
Apakah adiknya menangis karena ia tak kunjung pulang? Bagaimana adiknya menjalani semuanya saat itu? Tapi melihat adiknya baik-baik saja membuatnya sedikit lega. Adiknya tumbuh dengan baik.
'Kyuhyunie~ Maafkan hyung~'
Saat ini mereka berada di dalam bis yang akan membawa merereka ke rumah keluarga Jung soo. Mereka akan mencari keberadaan Kyuhyun, sebab dua hari yang lalu saat kompetisi final berlangsung, Jung soo dan Donghae tak menemukan Kyuhyun dimanapun, bahkan tak ada ada yang tahu kemana perginya anak itu. Pihak penyelenggara pun tak tahu menahu akan hal itu, mereka juga kebingungan saat itu tidak mendapati salah satu kontestan berada di tempat.
Mereka berdua berencana untuk mencari alamat Kyuhyun sebagai salah satu peserta kepada pihak panitia penyelenggara. Tapi itu bukanlah hal yang mudah, mengingat mereka menjaga kerahasian data pribadi para peserta. Sehingga mereka diminta untuk menemui pimpinan acara terlebih dulu untuk mendapat izin, sayangnya mereka belum bisa menemuinya sampai beberapa hari kedepan karena beliau sedang berada di luar negeri. Mereka sudah mencoba membujuk panitia yang bertugas untuk bisa memberikan izin mengetahui data Kyuhyun, namun belum berhasil. Sehingga sekarang mereka berusaha mencari cara lain untuk bisa mendapatkan petunjuk keberadaan Kyuhyun.
"Teuki hyung~" Panggilan itu membuyarkan lamunan Jung soo. "Kajja, kita sudah sampai," Jung soo mengangguk dan segera turun bersama Donghae disampingnya.
...
Canada
Puk
Tepukan di bahunya membuatnya mengangkat kepalanya dari buku bacaan yang sedari tadi dibacanya. Namun sedetik kemudian dia kembali menekuri bukunya, membuat seseorang yang tidak dihiraukannya berdecak.
"Aishh... Anak ini benar-benar." Choi Siwon, namja yang tidak diacuhkan seorang Cho Kibum hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap temannya itu.
"Ada apa hyung?" tanya Kibum sambil melirik sekilas ke arah temannya itu yang sedang duduk di depannya. Siwon yang hanya terpaut 2 tahun dengan Kibum hanya menyodorkan sebuah kaleng minuman ke arah Kibum.
"Ada apa ini? Kenapa hyung memberiku ini?" Siwon tersenyum senang karena akhirnya bocah dingin ini teralihkan dari buku bacaannya.
"Hadiahmu!" jawaban singkat itu membuat alis Kibum terangkat.
"Hadiah? Dalam rangka apa?" tanyanya heran.
"Itu untuk keberhasilanmu dalam kompetisi musik tempo hari,"
"Ck, kau tidak datang dan sekarang hyung hanya memberiku sekaleng jus," walaupun begitu Kibum membuka kaleng itu dan memimum isinya."Gomawo, hyung" Siwon tersenyum lebar.
"Tenang saja, aku akan mentraktirmu nanti untuk merayakannya, Bryan," Siwon kembali menepuk pundak anak itu sekilas dan berlalu pergi. Kibum menyanderkan tubuhnya dan melihat pemandangan taman dibelakang sekolahnya yang sudah tidak terlalu ramai.
"Kyuhyun-ie~ aku harap bisa bertemu denganmu saat itu," gumamnya pelan. Tangannya terangkat menyentuh dadanya untuk merasakan detakan jantungnya sendiri disana. Entah kenapa dia merasa—
—khawatir.
...
"Rumah hyung masih jauh tidak?"
"Tidak, rumah hyung ada di depan sana. Ayo..." Jung soo sekarang berjalan terlebih dahulu sedangkan Donghae berjalan di sampingnya. Tak lama mereka berhenti disebuah gerbang sebuah rumah yang tak lain adalah rumah keluarga Cho. Jung soo memegang pagar rumahnya, matanya menatap rindu ke arah rumahnya itu.
"Kenapa tidak masuk hyung?" Dong hae mengernyitkan dahinya karena hyung-nya itu hanya berdiri diam. Jung soo hanya menggeleng. Donghae menaikkan alisnya heran, dia ikut memperhatikan rumah itu. Jung soo beranjak dari sana menambah kebingungan Donghae. Tak ingin banyak bertanya, dia mengedikkan bahu dan mengikuti saja.
Saat sampai di depan sebuah rumah yang bersebrangan dengan rumah keluarga Cho, Jung soo menekan bel yang ada disana. Tak lama keluar seseorang yang dikenalnya. Jung soo tersenyum saat melihat seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Song Ahjumma yang menatapnya bingung.
"Anyeong Song ahjumma..." Jung soo membungkukkan badan dan diikuti Dong hae dibelakangnya. Wanita itu membuka pintu gerbangnya dan memandang lekat ke arah Jung soo, dia terlihat sedang berpikir keras. Saat mulai mengingatnya, matanya membulat menyadari siapa yang ada dihadapannya saat ini.
"Jung soo-ah! Benarkah ini kau nak?" nada terkejut terdengar jelas dari suranya. Jung soo tersenyum lebar dan mengangguk.
"Ne ahjumma, ini Jung soo."
...
Kyuhyun duduk bersandar dikepala ranjang yang sejak dua hari lalu ditempatinya. Tak ada ekspresi di wajah anak itu. Tangan kirinya kini dibebat setelah ia menjalani operasi sehari sebelumnya akibat kerusakan pada pergelangan tangan yang dialaminya. Dia mengingat dengan jelas penjelasan yang Heechul katakan padanya setelah dia memaksa hyung-nya itu untuk menceritakan tentang keadaan tangannnya.
"Kau mengalami kerusakan pada pergelangan tanganmu akibat benturan keras. Menyebabkan terjadi kerusakan pada saraf median yang ada dibawah ligamen. Aishh...aku tidak sebegitu mengerti. Tapi uisa mengatakan kau harus menjalani operasi, Kyu," suara Heechul terdengar tercekat saat mengatakannya. Kyuhyun yang mendengar hal itu saat itu hanya bisa menghela napas lelah, dia sudah menduga hal ini sebelumnya. Tapi ia tidak menyangka akan seburuk ini.
"Apa setelah itu aku bisa sembuh hyung? Aku bisa bermain biola lagi kan?" suaranya terdengar bergetar.
"Tentu saja kau bisa sembuh," sergah Heechul cepat. "Kau akan bisa bermain biola lagi, bagaimanapun caranya kau akan bisa memainkannya lagi," entah Heechul berusaha meyakinkan siapa disini. Kyuhyun atau dirinya sendiri. Karena sesungguhnya dia juga merasa takut. Tidak pernah dibayangkan sebelumnya, seseorang yang sudah dianggapnya adik akan menghadapi hal ini.
Kyuhyun menghembuskan napas panjang berusaha menghalau perasaan sesak yang memenuhi dadanya saat ini. Membuatnya seakan sangat sulit memasok oksigen ke dalam paru-parunya. Ia ingin menyangkal apa yang terjadi padanya saat ini, berharap bahwa ini semua adalah mimpi. Tapi kenyataan itu menghantamnya dengan keras, membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Dia kembali mengingat saat keluarganya segera membawanya ke rumah sakit saat melihatnya kesakitan saat itu. Pihak penyelenggara kompetisi berulang kali menghubungi orang tuanya, tapi dia meminta mereka merahasiakan keadaannya. Walaupun ia yakin saat ini mereka sudah tahu keadaannya saat ini.
Heechul berulang kali meyakinkannya dia akan sembuh, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak yakin akan hal itu, ia merasa ada yang disembunyikan Heechul dan kedua orang tuanya. Dan hal itu benar adanya, dan ia mendapat jawaban atas apa yang disembunyikan Heechul saat dia bertanya langsung ke dokter yang menanganinya. Bahwa kemungkinan ia akan kehilangan indera peraba pada tangan kirinya.
Mengingat itu semua membuat dadanya semakin sesak. Membuat pandangan matanya perlahan mengabur. Ia segera menghapus air matanya yang menetes saat pintu ruang rawatnya terbuka. Heechul berjalan mendekat dengan membawa bungkusan berisi makanan yang baru dibelinya.
"Kenapa lama sekali sich, hyung?" gerutu anak itu. Mulutnya mencebik dengan pipi yang menggembung. Tak ada lagi raut wajah sedih yang beberapa saat lalu bertengger di wajah itu. Heechul mendengus melihat ekspresi merajuk yang selalu ditunjukkannya.
"Kau tampak menyebalkan pura-pura ceria seperti itu," ucapnya sarkastik sambil mendudukkan tubuhnya disamping ranjang. Kyuhyun hanya mengedikkan bahu menanggapi ucapan Heechul.
"Hyung sok tahu,"
"Apa kau bilang bocah?"
"Ouch! Kenapa hyung memukulku~ Aishh, aku kan sedang sakit," Kyuhyun mengusap kepalanya yang mendapat jintakan sayang dari Heechul.
"Yang sakit itu tanganmu, bukan kepalamu, Kyu," Kyuhyun menggurutu panjang pendek mendengarnya. Dibalikkan tubuhnya memunggungi Heechul.
"Hyung, mereka sudah tahu pengunduran diriku bukan?"
"Hemph, aku bersama appa dan eomma sudah mengatakannya pada mereka," jawaban itu sudah dapat diduganya namun tak urung tetap membuatnya terkejut. Heechul bergeming melihat reaksi yang ditunjukkan Kyuhyun.
"Apa hyung mengetahui keadaanku yang sesungguhnya?"
Terdengar helaan napas panjang sebelum Heechul menjawab. "Sangat sulit meyakinkan mereka untuk menerima pengunduran dirimu karena kau sebagai peserta terbaik mereka. Dibutuhkan alasan kuat kenapa kau tiba-tiba mengundurkan diri. Aku terpaksa mengatakan yang sebenarnya," Heechul menghembuskan napas kasar. "Aku sudah meminta mereka untuk merahasiakannya jika ada yang bertanya, kau tidak perlu khawatirkan masalah itu,"
"Tak apa hyung, terima kasih." Kyuhyun tersenyum tulus pada Heechul yang sudah banyak membantunya. Heechul mengucak surai anak itu pelan dan membawa anak itu ke dalam pelukannya.
"Aku tahu ini tidak mudah untukmu Kyu. Kau tahu, kita bisa saja ke Canada untuk mencari Kibum jika kau mau, aku yakin appa dan eomma akan mengizinkan," Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menggeleng pelan.
"Tidak hyung, bagaimana dengan sekolahmu eoh? Tapi...bisakah kita mempercepat kepindahan kita hyung?"
"Aku akan membicarakannya pada appa dan eomma," Heechul mengucak surai anak itu pelan. "Istirahatlah Kyu, tiang listrik akan datang nanti," Kyuhyun hanya terkekeh pelan mendengarnya.
...
Jung soo dan Donghae saling berpandangan saat mendengar cerita Song ahjumma saat beberapa saat lalu bertemu dengan Kibum dan Kyuhyun.
"Kibum ada di Canada, dia sudah mengetahui perihal apa yang terjadi padamu dan Kyuhyun-ie. Juga apa yang terjadi pada eomma kalian. Beberapa saat setelahnya Kyuhyun datang. Ahjumma tidak berbicara banyak dengannya, dia langsung pergi saat aku memberitahunya Kibum baru saja pergi. Dia belum pernah kembali lagi setelah itu," raut sedih itu nampak jelas di wajah Song ahjumma.
"Jung soo, ahjumaa minta maaf karena tidak bisa membantu banyak menemukan adikmu," Song ahjumma tampak sangat menyesal.
"Tidak apa ahjumma, ini bukan salahmu," Jung soo tersenyum menenangkan. Donghae disampingnya meremas tangan Jung soo berusaha untuk menenangkannya. Ia tahu hyung-nya pasti sedikit banyak merasa kecewa karena tidak mendapatkan petunjuk keberadaan Kyuhyun.
"Tapi..." suara Song ahjumma itu membuat Jung soo mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk.
"Kibum pernah mengatakan dia berada di Canada, Jung soo. Appa kalian membawanya kesana," ucapan itu membuat Jung soo dan Donghae tidak bisa menyembunyikan senyuman mereka.
"Ahjumma, benarkah itu? Bahwa Kibum ada di Canada?" pertanyaan Donghae dijawab dengan anggukan wanita paruh baya itu. "Teuki hyung, itu berarti..." Donghae dan Jung soo berpandangan penuh arti, sepertinya mereka memikirkan hal yang sama.
"Ahjumma, aku akan pergi ke Canada dalam waktu dekat untuk berpartisipasi dalam International Concert dan Kibum berada di negara yang sama," Donghae mengucapkannya dengan antusias.
"Hyung, dari ceritamu tentang Kibum yang juga sangat menyukai musik ada kemungkinan Kibum juga akan mengikuti kompetisi yang sama dan jika dia salah satu yang berhasil memenangkannya dia akan berada di concert itu juga," penjelasan Donghae membuat Song ahjumma tersenyum senang. Jung soo menganggukkan kepalanya, pemikirannya sama dengan Donghae. Ia harap semua itu benar-benar terjadi.
Mereka berusaha untuk berpikir positif, walaupun mereka belum mendapat petunjuk keberadaan Kyuhyun, tapi setidaknya mereka mendapat petunjuk keberadaan Kibum.
...
Kyuhyun menuliskan sesuatu di buku partitur bersampul birunya saat seseorang memasuki kamar rawatnya. Ia sangat serius sampai tidak menyadari seseorang yang kini tengah berdiri disamping ranjangnya.
"Kau serius sekali, Kyuhyun-ah?!" Kyuhyun terkejut mendengar suara yang sangat dikenalnya itu.
"Eoh? Se-seonsaengmin?" Lee Junhoo tersenyum melihat keterkejutan salah satu anak didiknya itu. Kyuhyun membungkukkan badannya sedikit pada gurunya itu. Dia masih cukup terkejut dengan kehadiran guru musiknya itu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya sambil meletakkan bungkusan berisi beberapa buah dan mendudukkan tubuhnya di kursi di samping ranjang.
"B-baik Seonsaengnim," Kyuhyun tersenyum kecil. Junhoo memandang ke arah tangan kiri Kyuhyun. Dia menghela napas kecil dan berusaha tersenyum.
"Kyu—"
"Seongsaengnim, saya minta maaf karena tidak bisa melanjutkan kompetisi itu," ucapan Junhoo terpotong saat mendengar Kyuhyun meminta maaf padanya dengan kepala tertunduk.
"Jangan khawatirkan itu, aku sama sekali tidak marah ataupun kecewa padamu, justru aku merasa bangga padamu karena berhasil sejauh ini," Junhoo beranjak berdiri dan mengusap lengan Kyuhyun.
"Tapi seonsaengnim, Anda sudah melatih dan membimbing saya. Tidak mungkin Anda tidak kecewa dan—"
"Lalu? Bagaimana denganmu eoh? Aku tahu kau jauh lebih kecewa. Aku tahu bagaimana rasa cintamu pada musik, pada biola, dan semua ini terjadi. Dibandingkan denganku, hal itu tidak ada apa-apanya. Kau merasakan kekecewaan yang jauh lebih besar," kepala Kyuhyun semakin terdunduk. Junhoo dapat melihat tangan kanan Kyuhyun terkepal kuat dan terdapat tetesan air mata disana. Kyuhyun menangis.
Junhoo yang tak kuasa melihatnya membawa anak itu kedalam pelukannya. Tangannya mengusap bahu Kyuhyun yang bergetar. Setelah merasa Kyuhyun jauh lebih tenang dia melepaskan pelukannya.
"Kyuhyun-ah, aku sudah tahu mengenai keadaan tanganmu. Mungkin ini akan sulit, tapi ketahuilah kau masih bisa memainkan biolamu. Kau anak yang pantang menyerah, Kyu. Kau akan menemukan cara untuk kembali memainkannya," Kyuhyun mengangguk. Ia berusaha tersenyum kecil pada gurunya itu. Junhoo mengucak surai anak itu sekilas.
"Aku akan sangat merindukanmu anak nakal, apalagi sahabatmu itu, Changmin," Kyuhyun terkekeh kecil. Junhoo memang sudah mendengar rencana kepindahan Kyuhyun, dia bahkan barusaja bertemu dengan Tuan dan Nyonya Kim sebelum dia datang kemari tentang keinginan Kyuhyun untuk mempercepat kepindahannya.
"Kutitipkan Changmin pada Anda, seonsaengnim. Jika dia berulah, pukul saja," ujurnya bersemangat. Junhoo terkekeh kecil mendengarnya.
"Baiklah aku mengerti,"
"Dan juga tolong rahasiakan keadaanku," Junhoo mengangguk.
...
"Mwo? Kau tidak bercanda Kyu?"
"Tidak~" jawaban Kyuhyun justru menambah Changmin frustrasi, pasalnya Kyuhyun mengatakan bahwa dia dan keluarga Kim akan pindah, tapi anak itu tetap tidak mengatakan akan pergi kemana. Sebenarnya Changmin sudah mengetahui perihal kepindahan ini sudah sejak lama, tapi ia tidak menyangka akan terjadi secepat ini. Rencana ini memang sudah cukup lama, mereka akan pindah setelah kompetisi selesai.
"Aish... kau akan meninggalkanku sendiri eoh?" Changmin mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan.
"Yappps"
"Sungguh kejam dirimu Kyuhyun-ah,"
"Jangan mendramatisir begitu Chwang"
"Ta-tapi kan—"
"Appa dan eomma juga sudah setuju untuk mempercepatnya, Heechul hyung sudah menanyakannya sebelum kau datang. Mereka sudah menyetujuinya, semua juga sudah dipersiapkan sejak lama. Aku sudah mengatakannya padamu bukan?" Kyuhyun menghela napas pelan melihat Changmin yang masih sangat sulit menerima keputusan ini. Tapi ini juga sulit untuknya, Changmin sudah menjadi sahabat terdekatnya. Tidak juga mendapat respon ia melanjutkan.
"Aku juga sedang berusaha mencari cara untuk kembali Min," Changmin bergeming mendengar penuturan itu, pada akhirnya dia hanya bisa menghela napas menyerah. Dialihkannya pandangannya ke arah lain, tak membiarkan sahabatnya melihat matanya memerah menahan tangis.
"Hei, kau marah padaku Chwang?"
"Tidak!" Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan senyumannya saat mendengar suara Changmin yang bergetar.
"Kau marah padaku, buktinya kau tidak mau melihatku," anak itu justru menggoda Changmin.
"Sudah kubilang aku tidak marah padamu!" Changmin tertegun sendiri mendengar intonasi suaranya yang meninggi, tapi Kyuhyun bukannnya marah justru tengah mengukir evil-smirk nya.
"Sudah lega sekarang?"
"Aishh... kau selalu berhasil membuatku kehabisan kata-kata Kyu,"
"Kau akan merasa sesak jika tidak meluapkannya, jadi kupancing saja,"
"Ck, kau kira aku ikan," Changmin menggerutu panjang pendek dijahili oleh Kyuhyun. Dia pasti akan sangat merindukan anak itu. Kyuhyun memeluk sahabatnya itu dengan sebelah tangannya. Dapat dirasakannya bahu Changmin yang bergetar dalam pelukannya.
"Kau ini cengeng sekali, Chwang," Kyuhyun terkekeh kecil mendengar sahabatnya menggerutu.
"Kau juga sama saja, Kyu," Changmin melepaskan pelukan mereka dan menghapus air matanya. Kyuhyun juga menghapus air matanya yang mengalir.
Setelahnya Changmin mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menyodorkannya ke Kyuhyun.
"Kenapa kau memberikannya padaku?" Kyuhyun tentu saja merasa heran, benda yang diberikan Changmin ini ia tahu sebagai benda kesayangannya, bahkan Changmin selalu membawanya kemanapun tapi justru benda itu diberikannya kepadanya.
"Yach, benda ini bisa menemanimu saat kau rindu bermain musik. Setidaknya kau tidak perlu memforsir tanganmu saat memainkannya, dan juga aku ingin kau selalu mengingatku sebagai sahabatmu," Kyuhyun tersenyum kecil mendengar penuturan Changmin yang di ucapkan tanpa memandang ke arahnya.
"Terima kasih,"
"Tapi aku tidak memberikannya lho, aku hanya meminjamkannya. Kau harus kembali suatu hari nanti dan memberikannya kembali padaku," ucapanya menekankan kata 'meminjamkan'. Kyuhyun yang mendengarnya tersenyum kecil namun tak urung dia mengangguk.
...
Seminggu kemudian...
Langkah Jung soo terhenti saat kembali membaca alamat Kyuhyun yang didapatkannya dari pimpinan acara kompetisi musik yang diikuti Donghae dan juga Kyuhyun. Dahinya mengernyit berusaha mengingat sesuatu.
"Ada apa, hyung?" Donghae ikut membaca alamat itu. Tak menemukan keanehan dissana, dia memandang Jung soo penuh tanya.
"Ini... Aku mengenali alamat ini, Hae. Alamat ini adalah tempat dimana sahabatku tinggal,"
"Bukankah itu bagus, ayo kita segera kesana hyung," Donghae segera menarik tangan Jungsoo dan menuju ke alamat itu.
Dan disinilah mereka sekarang, di depan sebuah rumah yang masih tidak banyak berubah. Hanya warna cat yang lebih cerah dari terakhir Jung soo mendatanginya beberapa tahun silam. Donghae mendekati rumah itu, tapi dahinya mengernyit mendapati rumah itu tampak kosong.
"Rumah ini kosong hyung," Jung soo ikut mendekati rumah itu dan mendapati gerbang rumah itu terkunci.
"Kau benar Hae," Jung soo menghela napas kecewa.
"Jangan khawatir hyung, mungkin sebentar lagi mereka akan pulang," Donghae berusaha menghibur Jung soo, walaupun dia tidak yakin akan hal itu.
"Mereka tidak akan datang," suara itu menginterupsi mereka. Changmin berdiri di depan mereka masih dengan seragam sekolahnya. Ia baru saja pulang dari sekolah saat mendapati dua orang berdiri di depan rumah sahabatnya.
"Bisakah kau memberitahu kami kemana mereka? Emmph..."
"Changmin, namaku Shim Changmin," Changmin mengulurkan tangannya ke arah mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga berada di taman tidak jauh dari rumah Changmin. Setelah saling mengenalkan diri, Jung soo dan Donghae menceritakan tujuan mereka dan siapa yang mereka cari. Setelah mendengar cerita Jung soo, Changmin nampak menghela napas sedih.
"Seandainya kalian datang lebih cepat hyung atau paling tidak seandainya Kyuhyun-ah menunda kepindahannya sehari lagi. Aku yakin kalian akan bertemu," Jung soo dan Donghae saling berpandangan mendengar penuturan itu.
"Mereke semua pindah rumah, baru kemarin mereka pergi," tutur Changmin menyesal
"Jadi begitu ya. Tidak apa Min, lalu apa kau tahu kemana mereka pindah?" Changmin menggelengkan kepalanya. Jung soo berusaha tenang. Dia kecewa tentu saja, harapannya untuk bertemu Kyuhyun belum juga bisa terwujud. . Jung soo mengusap surai Changmin perlahan.
"Aku minta maaf hyung, aku tidak bisa memberitahumu kemana anak itu pergi. Dia bahkan tidak mengatakan kemana mereka pindah atas permintaan Kyuhyun. Anak itu sok misterius, hyung," menyadari ia yang mangatai Kyuhyun membuat Changmin salah tingkah.
"Hyung, Maaf bukan maksudku mengatai si evil itu," Changmin segera menutup mulutnya saat dia mengatai Kyuhyun lagi.
"Mianhe hyung," Changmin tertunduk. Donghae yang melihat Changmin salah tingkah hanya tersenyum kecil.
"Hei, sepertinya kau sangat dekat dengan Kyuhyun-ie," Changmin mengangguk.
"Terima kasih karena telah menjadi sahabatnya, Changmin-ah," Jung soo menepuk pelan kepala Changmin.
"Kau tidak perlu minta maaf padaku. Kau tidak salah apapun. Mungkin memang belum saatnya kami untuk bertemu," Jung soo berusaha untuk tersenyum. Dia melihat ke arah Donghae yang menatap sedih ke arahnya.
"Apa kepindahannya ini yang membuatnya mengundurkan diri dari kompetisi, Min?" Pertanyaan itu membuat Changmin tidak bisa langsung menjawab. Haruskah dia mengatakan hal yang sebenarnya pada mereka? Tapi dia sudah berjanji pada Kyuhyun, tidak akan mengatakan hal yang sesungguhnya terjadi pada siapapun.
"Maaf hyung, aku tidak tahu alasan Kyuhyun mengundurkan diri," Changmin mengalihkan matanya saat mengucapkannya. Jawaban itu tentu saja bukan yang diharapkan Donghae atas pertanyaannnya. Dia sudah akan bertanya lagi, saat Jung soo menggelengkan kepalanya.
Jung soo menepuk pundak Changmin dan tersenyum padanya. Melihat itu Changmin merasa bersalah karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada Jung soo. Kepalanya tertunduk tidak berani memandang mata teduh Jung soo.
"Tidak apa, aku mengerti. Dia pasti memiliki alasan kenapa dia melakukannya. Ternyata dia tidak berubah, dia masih Kyuhyun yang sama seperti yang kuingat. Walaupun aku mengkhawatirkannya, tapi hyung yakin dia baik-baik saja, apalagi dia bersama Heechul. Dimanapun dia saat ini, hyung yakin kami bertemu suatu saat nanti,"
...
"Kyu~ Kyuhyun-ah!"
"Eoh? Ada apa hyung?" Kyuhyun menoleh ke arah Heechul yang ternyata sudah berdiri di sampingnya entah sejak kapan. Heechul yang melihat hal itu hanya menghela napas berat.
"Aishh... sudah kubilang, jangan melamun!"
"Ti-tidak."
"Aku tidak buta, kau tahu? Aku sudah memanggilmu dari tadi, tapi yang kau lakukan hanya diam seperti patung,"
"Benarkah?" Heechul mendengus sebal mendapat respon seperti itu. Dia mendudukkan tubuhnya disamping Kyuhyun yang saat ini sedang duduk di depan piano milik Jung soo. Anak itu tak memainkannya hanya diam memandanginya, tangan kirinya juga masih dibebat.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Heechul bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari piano di depannya.
"International Concert sudah tak bisa kuikuti dengan keadaan tangan yang seperti ini bukan?" Heechul diam tak menjawab.
"Tapi...Aku belum menyerah hyung, aku memiliki janji yang harus kutepati," Kyuhyun menoleh ke arah Heechul, anak itu tersenyum.
"Walaupun aku tak dapat mengikutinya, tapi aku masih tidak menyerah dengan bermain biola," Terdapat keyakinan di matanya. Hal itu membuat Heechul mengukir evil smirk-nya.
"Itu tak akan mudah, kau tahu?" Kyuhyun mengangguk.
"Mungkin sulit, tapi bukan hal yang tidak mungkin. Aku memiliki kalian yang mendukungku, Changmin dan juga Junhoo seongsaengnim. Aku yakin bisa melakukannya hyung."
"Itu baru Kim Kyuhyun," Heechul mengucak surai hitam Kyuhyun.
"Ya! Hyung! Hentikan itu~ Aishh..."
Ting Tong
Suara bel pintu menghentikan pergulatan mereka berdua.
"Kau?" suara terkejut Nyonya Kim yang membukakan pintu membuat Heechul ikut melihat siapa yang datang. Ekspresi terkejut juga tercetak jelas diwajahnya.
Kyuhyun terdiam ditempatnya berdiri. Menyadari siapa yang berdiri di depan pintu. Seseorang yang sangat dikenalnya.
"A-appa?!"
...
1 bulan kemudian
Canada
"Haah... Kyuhyun-ie~ sebenarnya kau kemana eoh? Aku benar-benar ingin bertemu denganmu," Donghae terpekur di tempat duduknya, dia kini sedang berisitirahat setelah sebelumnya berlatih bersama peserta lain, karena beberapa hari lagi Internatinal Concert akan segera diadakan.
"Aku bahkan belum bertemu Kibum, apa benar dia tidak mengikuti kompetisi ini?" monolognya. Pandangannya jatuh pada seseorang yang sedang duduk tak jauh darinya. Seorang anak dengan surai hitam dan kulit putih, anak itu mengingatkannya pada Kyuhyun. Mereka memiliki pandangan mata yang sama. 'Dia mengingatkanku pada Kyuhyun-ie. Mungkinkah dia Kibum? Tapi, dia bernama Bryan.' Pikirannya berkecamuk.
"Bolehkah aku duduk disini Bryan?" Bryan yang tak lain adalah Kibum itu mendongak saat sebuah suara di dengarnya. Dia mendapati Donghae sedang tersenyum ke arahnya. Mereka berdua tentu saja saling mengenal sejak latihan pertama mereka sebulan yang lalu. Donghae mendudukkan tubuhnya di samping Kibum setelah mengdengar gumaman kecil dari anak itu.
Tak ada yang membuka suara terlebih dulu, Kibum juga terlihat lebih memilih memeriksa biolanya. Hal itu tak luput dari pandangan Donghae. Dia mengernyit saat memandangi biola itu lebih seksama, dia merasa sangat familiar dengan biola yang di pegang Kibum. Ukiran itu! Tunggu dulu, biola Kyuhyun juga memiliki ukiran yang sama. Dia memandang ke arah biola yang dipegang Kibum dan beralih ke wajah Kibum yang dikenalnya sebagai Bryan.
"Aku menemukanmu!" pekik Donghae girang.
"Aishh, kau mengagetkan ku hyung!" Kibum mendengus kesal karena kaget. Donghae tiba-tiba saja memekik kaget seraya menepuk kedua tangannya.
"Ah maafkan aku Bryan membuatmu kaget.. hehe," Donghae hanya tersenyum lebar ke arah Kibum. Kibum mendengus sebal.
"Emmph... Boleh aku tahu dimana kau mendapatkan biola itu?" Kibum manaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa hyung menyakan hal itu?" Donghae mengusap tengkuknya karena salah tingkah.
"Biola ini sepasang bukan? Dengan ukiran yang sama tapi berbeda warna. Yang satunya berwarna putih. Aku benar bukan?" Kibum mengerjapkan matanya memandang Donghae yang tampak sangat antusias.
"Bagaimana hyung bisa tahu?" walaupun bukan jawaban yang didapatkan Donghae atas pertanyaannya, tapi tak urung hal itu membuatnya terpekik girang.
"Kau benar-benar Cho Kibum~" Kibum sudah akan terjungkal kebelakang jika dia tidak menghindari Donghae yang menerjangnya ingin memeluknya.
Dukk
"Aau... Ya! Kenapa kau menghindar eoh?" Donghae mengusap kepalanya yang terantuk dinding.
"Apa kau pernah bertemu Kyuhyun-ie?" tanya Kibum tidak sabar.
"Um... Tentu saja," sahut Donghae mantap.
"Dan aku akan mempertemukanmu dengan seseorang Kibum-ah,"
...
International Concert
"Aigoo... aku gugup sekali... Ah, sebaiknya aku menelpon Leeteuk hyung" Donghae sudah akan mendial nomor Jung soo saat dia melihat Kibum tak jauh dari tempatnya duduk. Ia tersenyum senang melihat anak itu.
Kibum menoleh saat seseorang menepuk pundaknya. Ia tersenyum senang saat mengetahui itu adalah Donghae.
"Kau sudah sudah siap, Kibum-ah?"
"Sebenarnya aku sangat gugup,"
"Kita akan melakukannya dengan baik," Kibum tersenyum kecil. Dia menarik napas panjang guna menenangkan jantungnya yang bergemuruh. Dia memang tidak terbiasa berada di tempat yang terlalu ramai. Apalagi ini pertunjukan besar. Kompetisinya memang dihadiri banyak penonton tapi dia masih bisa mengatasinya. Sedang konser ini jauh lebih besar dari kompetisinya, membuatnya tidak tenang.
"Bumbum, jangan gugup. Kau bisa melakukannya. Aku akan selalu bersamamu,"
Suara Kyuhyun terngiang di telinganya. Ia ingat saudara kembarnya itu mengatakannya saat mereka harus tampil di sebuah pertunjukan saat mereka masih di taman kanak-kanak.
"Kibum-ah? Kau baik-baik saja bukan?"
"Tentu hyung, aku baik-baik saja," Donghae tahu Kibum memaksakan senyumnya. Donghae menatap punggung Kibum yang berjalan menjauh untuk mempersiapkan penampilan mereka.
"Jangan khawatir Bum-ah, sebentar lagi kau akan bertemu dengan Leeteuk hyung," ucapnya lirih.
Dia mengingat saat beberapa hari lalu dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Kyuhyun. Kyuhyun yang mengundurkan diri dari kompetisi. Dan keberadaannya yang tak diketahuinya. Tapi dia tidak menceritakan tentang Jungsoo, ia berpikir akan memberikan kejutan pada Kibum nanti.
Tepuk tangan riuh menyadarkan Donghae untuk segera bersiap untuk penampilan mereka. Diliriknya Kibum yang bersiap di sisi lain panggung. Ia mengangkat tangannya memberi semangat saat Kibum melihat ke arahnya. Dia tersenyum senang saat Kibum mengangguk.
Kibum mengeratkan pengangannya pada biolanya. Dia menarik napas panjang, dia sudah sejauh ini. Dan dia tidak ingin mengacaukannya karena ia yang terlalu gugup. Dia memantapkan hatinya dan bersiap menaiki panggung besar itu. teriakan riuh penonton memenuhi seluruh penjuru stadium tempat konser berlangsung. Kibum menutup matanya saat telah berdiri mantap di posisinya dan mulai memainkan biolanya.
"Kau bisa melakukannya Bum hyung, karena aku selalu bersamamu,"
Kibum dapat merasakan diantara ribuan penonton yang hadir, sebuah suara menenangkannya dan tanpa disadarinya air matanya menetes di sudut matanya.
Kibum dan Donghae melakukan penampilan mereka dengan sangat baik. Begitupun dengan peserta yang lain. Sebelum meninggalkan panggung, semua peserta tampak bergandengan tangan dan mengangkatnya bersama-sama lalu mereka membungkukkan badan menandakan berakhirnya konser malam itu.
Sementara itu, seorang namja berdiri dari bangku penonton yang di tempatinya. Dia tampak tersenyum senang melihat salah seseorang yang berdiri di atas panggung sana. Dia beranjak pergi tepat saat pertunjukan berakhir.
"Aku tahu kau bisa melakukannya," monolognya.
...
Kibum mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa yang ada diruang ganti. Di tangannya terdapat sebuah bungkusan yang diberikan oleh salah seorang staff tepat saat ia baru saja turun dari panggung. Staff itu tidak tahu menahu tentang identitas sang pemberi.
"Sepertinya dia seumuran denganmu, nak," Kibum mengeryitkan dahi mendengar hal itu.
Kibum melihat benda yang kini yang berada ditangannya itu dengan seksama. Tangannya membuka bungkusan itu perlahan, dia tidak bisa menduga siapa yang mengirimnnya. Matanya melebar saat menyadari benda yang sangat dikenalinya itu, tangannya bergetar memegang benda itu. Dia sangat tahu benda ini.
Dia membuka halaman pertama buku partitur itu. Dan ia tidak bisa membendung air matanya untuk menyeruak keluar. Ini, buku yang sama seperti miliknya. Dan ini milik 'dia', seseorang yang sangat dirindukannya. Adiknya, Kyuhyun. Ini milikinya. Nama itu tertulis indah disana, lalu dia menyadari sesuatu. Ini milik adiknya, dan staff yang memberikan ini mengatakan, seseorang yang seumuran dengan dirinya memberikannya.
Kibum segera berlari keluar ruangan, buku itu masih dipegangganya.
"KIBUM-AH!" Donghae yang melihat Kibum segera mengejarnya.
Kyu, ini milikmu. Kau ada disini? Tapi jika memang ini kau, kenapa kau tak langsung menemuiku. Dan justru memberikan buku ini padaku?
Kibum sudah mencapai lobi depan gedung pertunjukan itu. Banyak orang berlalu lalang disana, pandangannya mengedar keseluruh penjuru. Mencari keberadaan Kyuhyun. Dia harap dia bisa menemukannya. Dimana? Dimana kau Kyuhyun-ie?
"Kyu? Aku tahu kau ada disini Kyu?" Donghae yang mengejar Kibum berusaha menetralkan napasnya yang memburu. Tampak orang-orang disekitar mereka memperhatikan dengan bingung dan penasaran.
"Kyuhyun-ie!" Donghae mengeryitkan dahi mendengar panggilan itu. Apa Kyuhyun ada disini? Pandangan matanya menelusuri tempat itu, tapi tak didapatinya sosok yang dicarinya. Sedang ia melihat Kibum berlari kesana kemari seraya memanggil nama itu berulang kali.
"Kyuhyun-ie~ keluarlah! Ayolah Kyu, aku tahu kau sangat menyukai petak umpet. Tapi aku sedang tidak ingin bermain Kyu!"
Grep
Donghae berusaha menghentikan Kibum yang terus saja memanggil nama Kyuhyun dengan mencekal tangannya.
"Kibum, dengankan aku! Kyuhyun tidak ada disini!"
"Hyung! Dia ada disini! Lihat ini. Buku ini miliknya hyung, namanya tertera disini, aku yakin dia ada disini hyung," Donghae tertegun. Pandagannya jatuh pada buku itu. Ya, dia pernah melihat benda itu, Kyuhyun memang pernah membawanya.
Kibum kembali mengedarkan pandangannya, berharap sosok adiknya tiba-tiba muncul. Kibum tidak mendengarkan seruan Donghae, dia yakin adiknya masih ada disana. Buku partitur yang masih digenggamnya erat itu, menunjukkan adiknya pasti ada disana sebelumnya, dia pasti bersenyunyi disuatu tempat.
"CHO KYUHYUN!"
Grepp
Kibum membeku, dia mengenali siapa yang memeluknya saat ini. Waktu yang memisahkan mereka tidak akan bisa menghapus memorinya terhadap kehangatan pelukan ini. Perlahan Kibum mengangkat tangannya membalas pelukan sosok itu. Sedang Donghae bergeming di tempatnya, ia menghapus air matanya yang mengalir melihat pemandangan di depannya.
"J-Jungsoo hyung...Aku...merindukanmu..."
.
TBC
.
Ayo maen tebak-tebakan XD Benda yang dikasih Changmin itu apa hayo? Kemana Kyuhyun pergi? Bagaimana cara Kyuhyun memainkan biolanya? Bisakah? #tunggudichapterselanjutnya :P
Mianhe ngaret bgt updatenya XD Siapa yang lumutan nungguin? #plak Pada nungguin mereka bertiga ketemu ya, ntar juga ketemu kok. Tapi... Kyuhyun nggak mau ketemu... #nah lho #spoiler #evilsmirk :D
.
Special Thanks to:
Emon204/ Dindaa/ ilmah/ HamyAlice/ cezablenk77/ nn/ ningKyu/ hyunchiki/ doikyu/ chos/ sparkyuNee13/ Guest/ wahda.nia.161/ ELFhaRani/ imania.safitri/ Rinrin/ aya / chairun/ Guest/ septi/ Guest/ vha Chandra/ leriana / chocosnow/ babykyupa/ Retnoelf/ oracle88/ vicya merry/ yolanda.anggita2/ geelovekorea/ diahretno/ kyuli 99/ mifta cinya/ Teuki-Angel/ DinggoChan/ Guest/ meimeimayra/ Kuroi Ilna/ gyu1315/ monicaulina/ dewiangel/ cuttiekyu/ xelo/ Sparkyubum/ Desviana407/ Awaelfkyu13/
all readers, viewers, visitors, and followers
^.^
