Title : DREAM
Genre : Family, Brothership, Friendship
Rating : Fiction T
Main Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Park Jung Soo / Leeteuk, Lee Donghae, dan temukan sendiri yang lain ne XD
WARNING : TYPO(s), BAD PLOT, bored, OOC, if u don't like it don't bash please. NGEBOSENIN KUADRAT!
Disclaimer : All cast belong to God and themselves, I just own this story plot!
Summary : Kyuhyun terpisah dari saudara-saudaranya dan mengalami cidera. Apa yang terjadi dengan impian mereka semua? Akankah mereka akan bisa mewujudkan impian mereka?
.
Enjoy Reading
.
Tuan Cho menatap sebuah rumah didepannya, sehari sebelumnya ia mendapat kabar keberadaan Kyuhyun dari anak buahnya yang diperintahkan untuk mencari putra bungsunya. Membuatnya segera mengambil penerbangan pertama dari Canada menuju Jepang dan disinilah ia sekarang di depan kediaman keluarga Kim.
Sambil menunggu seseorang membukakan pintu rumah itu, pikirannya berkecamuk. Apa Kyuhyun akan memaafkannya? Mengingat semua perlakuan yang telah dilakukannya, membuatnya cukup khawatir. Memisahkan Kibum dari Kyuhyun dan Jung soo serta eomma mereka, membuat Kibum tidak mengetahui kematian sang eomma. Ia sudah mempersiapkan diri saat Kyuhyun tidak mau bertemu bahkan tidak mengacuhkan dan membencinya.
"Kau?" suara terkejut Nyonya Kim membuyarkan lamunan Tuan Cho. Ia membungkuk kecil pada istri sahabatnya itu.
"A-appa?!" Tuan Cho mengalihkan pandangannya, dilihatnya Heechul dan juga Kyuhyun menatap tak percaya ke arahnya.
Grepp
Tuan Cho sedikit mundur kebelakang saat seseorang, lebih tepatnya anaknya memeluknya secara tiba-tiba. Ia bergeming, lebih kepada terkejut karena semua perkiraannya meleset.
...
"Apa yang terjadi pada tanganmu Kyu?" nada Tuan Cho terdengar khawatir.
"Emmph ini...Gwaenchana, appa tidak perlu khawatir. Aku hanya mengalami cedera, tapi aku sudah menjalani operasi. Sebentar lagi juga akan sembuh," Kyuhyun tertawa kecil, tapi Tuan Cho bisa mendengar ada kegetiran dalam suara putranya.
"Kau tidak pernah pandai berbohong di depan appa, Kyu," Kyuhyun tersenyum kecil, itu memang benar, sang Appa selalu tahu ia sedang berbohong.
"Apa kau masih marah? Sehingga tidak mau mengatakannya pada appa Kyu?" tanya Tuan Cho. Kyuhyun menggeleng cepat. "Tentu saja tidak appa, hanya saja aku..."
"Kau tidak perlu mengatakannya, appa tidak akan memaksamu nak. Setidaknya appa tahu kau memaafkan appamu yang bodoh ini," ucap tuan Cho seraya tersenyum sambil mengelus surai Kyuhyun yang saat ini memandangnya.
"Aku akan mengatakannya padamu appa," putus Kyuhyun kemudian. Ia menghembuskan napas pelan dengan pandangan menerawang. "Mungkin... aku tidak akan bisa lagi bermain biola setelah ini," Kyuhyun tertawa getir. Entah apa yang ditertawakannya.
Tuan Cho sudah akan mengatakan sesuatu tapi diurungkannya saat kalimat Kyuhyun selanjutnya menghentikannya. " Dan bisakah appa tidak memberitahukan keberadaanku pada Kibum? Aku tidak ingin dia tahu," Tuan Cho terkesiap.
"Kenapa Kyu? Bukankah kau merindukannya? Kibum-ie mencarimu."
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja aku tidak ingin bertemu dengan keadaanku sekarang,"
"Nak, dia saudaramu. Apa yang salah dengan dia mengetahui keadaanmu, dia pasti akan membantumu melewati semuanya," Kyuhyun menggeleng keras, air mata sudah mengalir di pipinya.
"Tidak appa, tolong jangan paksa aku. Kumohon...Menghadapi diri sendiri saja terasa menyesakkan appa, aku belum siap," Tuan Cho tidak ingin memaksa lagi, terakhir kali ia memaksakan kehendaknya pada putra-putranya segala hal buruk terjadi. Ia juga mengerti Kyuhyun membutuhkan waktu, ia yakin hal ini cukup sulit untuk Kyuhyun.
Tuan Cho memeluk Kyuhyun, mencium pucuk kepalanya dan mengusap punggungnya. Kyuhyun tersenyum senang, sudah sangat lama ia ingin memeluk ayahnya seperti ini. Walaupun selama ini appa Kim juga memberikan kasih sayangnya yang tak kalah besar, tapi bagaimanapun juga Tuan Cho adalah ayah kandungnya.
"Appa, Jung soo hyung..."
"Ssstt, appa sudah tahu. Kau tenang saja, hyungmu baik-baik saja. Appa akan berusaha menemukan hyungmu," Tuan Cho mengusap surai putranya itu.
...
1 bulan kemudian
Kyuhyun mengedarkan pandangan keseluruh penjuru gedung pertunjukan. Ia menghela napas kecil. Jika saja ia tak mengalami cedera, saat ini pasti ia sedang bersiap-siap dibelakang panggung bersama yang lain.
Mereka saat ini berada di gedung pertunjukan tempat International Concert berlangsung, walaupun ia tidak ikut tampil tapi Kyuhyun ingin menyaksikan penampilan Kibum dan Donghae. Tangannya memegang erat buku partitur bersampul biru pemberian Jung soo, membuka beberapa halaman dan berhenti pada salah satu halaman. Dipandanginnya sejenak deretan not-not balok disana, jika saja ia masih mengikuti konser ini ia ingin menampilkan salah satu partitur yang ada disana.
"Kau benar-benar tidak mau ke belakang panggung?" tanya Heechul yang duduk disebelahnya.
"Mereka pasti sibuk bersiap-siap hyung. Sebaiknya nanti saja."
"Terserah kau saja."
Kyuhyun tak pernah melepaskan senyuman diwajahnya, setelah berpikir selama sebulan penuh dan beberapa kali diberi wejangan oleh Heechul akhirnya ia memutuskan mau bertemu Kibum. Ia sebenarnya juga sudah sangat merindukan saudara kembarnya itu dan juga Donghae. Tapi Kyuhyun tidak ingin Tuan Cho memberi tahu Kibum, ia ingin memberi kejutan.
Dipandangnya tangan kirinya yang masih dibebat walaupun ia sudah tidak menggunakan arm sling. Sesaat ia tersenyum getir mengetahui kenyataan ia tak bisa menggerakkan jarinya selues sebelumnya. Jari-jarinya terasa sangat kaku. Mungkin beberapa bulan lagi dia akan bisa menggunakan jari-jarinya itu. Lagipula dokter bilang jika operasinya berhasil, kemungkinan dia bisa bermain biola lagi itu masih sangat mungkin. Walaupun kehilangan indera peraba pada tangannya itu juga kemungkinan lain yang bisa saja terjadi. Tapi Kyuhyun tidak ingin memikirkan hal itu, dia yakin bisa sembuh.
"Tuan Cho akan datang bukan?" tanya Heechul setelah beberapa saat terdiam. Kyuhyun mengangguk.
"Appa dalam perjalanan," beberapa saat kemudian Tuan Cho datang tepat sebelum pertunjukan dimulai.
Pandangan Kyuhyun tak pernah lepas dari Kibum. Ia tahu Kibum tidak terbiasa berada di panggung besar, Kyuhyun masih ingat saudara kembarnya itu selalu demam panggung. Bahkan Kibum pernah menangis karena terlalu takut, tentu saja itu saat mereka masih anak-anak.
"Kau bisa melakukannya Bum hyung, karena aku selalu bersamamu," ucap Kyuhyun lirih. Kata-kata yang selalu diucapkannya setiap kali mereka akan tampil pada pertunjukan. Entah bagaimana, tapi itu bagaikan mantra yang membuat Kibum melupakan kegugupannya. Kyuhyun tersenyum senang saat melihat Kibum yang tampak lebih tenang dari sebelumnya setelah ia mengatakan kata-kata itu.
Tepukan riuh penonton menandai berakhirnya pertunjukkan malam itu. Kibum, Donghae dan yang lain saling menautkan tangan dan membungkuk ke arah penonton yang hadir. Mereka semua berdiri sambil bertepuk tangan.
"Aku tahu kau bisa melakukannya," ucap Kyuhyun lirih.
"Hyung...Appa... aku tidak ingin bertemu Kibum sekarang," ucap Kyuhyun pada dua orang disampingnya. Ia menolehkan kepalanya bergantian ke arah keduanya yang tampak terkejut dengan keputusannya. Diambilnya buku birunya dan tersenyum sejenak
"Yak evil! Kepalamu terbentur?" tanya Heechul kesal. Bahkan ia tak peduli disana ada Tuan Cho.
"Hyung...appa... aku tidak ingin kalah dari Bumbum, Dia bisa mengatasi demam panggungnya itu. Aku kan juga ingin seperti dia, mana mau aku kalah diri dia,"
"Sejak kapan kau demam panggung?"
"Aish bukan seperti itu hyung, sudahlah. Yang penting, aku tidak mau bertemu Kibum sekarang. Oke? Ayolah... Kumohon, aku akan menjelaskannya nanti. Baiklah, tunggu disini aku akan segera kembali." Kyuhyun berlari cepat meninggalkan Heechul dan Tuan Cho yang kebingungan dengan tingkah anak itu.
...
Kyuhyun menghela napas untuk kesekian kalinya, ditangannya terdapat sebuah bungkusan berisi bukunya. Dia ingin memberikannya pada Kibum, tapi bagaimana caranya? Dia kan tidak mau bertemu saudara kembarnya itu.
"Emmph... Maaf bisakah aku meminta bantuanmu tuan?" tanyanya pada salah seorang staff yang lewat didepannya.
"Tentu saja, apa yang bisa kubantu?"
"Tolong berikan ini pada salah satu peserta bernama Kim Kibum, emph... Bryan Trevor," pria itu memandang bungkusan ditangannya.
"Bagaimana kalau kau memberikannya sendiri? Aku bisa mengantarmu," tawarnya.
"Aku ingin sekali, tapi aku tidak bisa," akhirnya pria itu mengiyakan permintaan Kyuhyun. Setelah berterima kasih dia beranjak dari sana. Langkahnya terhenti saat samar dia mendengar suara Kibum memanggil namanya, Kyuhyun segera berbalik dan menyembunyikan tubuhnya.
Kyuhyun memilih bersembunyi dibalik dinding tak jauh dari tempat Kibum berteriak mencarinya.
"Kyu? Aku tahu kau ada disini Kyu?"
"Kyuhyun-ie!"
"Kyuhyun-ie~ keluarlah! Ayolah Kyu, aku tahu kau sangat menyukai petak umpet. Tapi aku sedang tidak ingin bermain Kyu!"
Suara Kibum yang meneriakkan namanya, membuat Kyuhyun gusar. Ia ingin bertemu dengan Kibum dan melihat Kibum seperti itu tentu saja membuatnya tidak tenang. Tapi ia berusaha menahan diri untuk tidak langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Ia melihat Donghae yang mengejar Kibum.
"Kibum, dengankan aku! Kyuhyun tidak ada disini!"
"Hyung! Kyuhyun ada disini! Lihat ini. Buku ini miliknya hyung, namanya tertera disini, aku yakin dia ada disini hyung,"
Kibum terus mencarinya dan meneriakkan namanya, mengundang rasa ingin tahu orang-orang yang disana.
"Aduch Bumbum, jangan seperti ini kumohon," lirihnya. Tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya.
Kyuhyun memandang tangan kirinya, apa keputusan yang dibuatnya tiba-tiba ini benar? Ia bukan tanpa alasan membatalkan untuk bertemu Kibum, tapi ia hanya ingin menundanya. Tapi melihat Kibum yang begitu kalut, menggoyahkan keputusannya. Ia sudah akan keluar dari tempatnya bersembunyi saat ia melihat seseorang memeluk Kibum.
'Leeteuk hyung!"
...
Kyuhyun tersenyum melihat kedua saudaranya bertemu, air matanya sudah mengalir. Mengetahui Jung soo hyungnya masih hidup dan baik-baik saja, itu membuatnya senang dan lega.
"Aku tahu kau pasti baik-baik saja hyung," ucapnya lirih.
Seseorang menepuk pundaknya, saat Kyuhyun menoleh ternyata appa dan Heechul berdiri disampingnya dan ikut menyaksikan kedua saudara itu bertemu.
"Kau sungguh tidak ingin bergabung dengan mereka Kyu?" tanya Heechul.
"Aniyo hyung, tidak saat ini," ucap Kyuhyun.
"Aishh dasar kepala," Kyuhyun tersenyum kecil mendengar gerutuan itu. Kyuhyun menolehkan kepalanya ke arah Tuan Cho yang berdiri disamping kirinya.
"Appa, maafkan aku," Tuan Cho tersenyum dan mengangguk. Ia berusaha memahami keinginan Kyuhyun, walaupun sebenarnya ia sangat ingin ketiga putranya berkumpul saat ini.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini nak?" tanya Tuan Cho.
"Menyatukan impian kami menjadi satu appa," ucapnya yakin. "Tapi sebelum itu aku harus bisa bermain biola sekali lagi."
Tuan Cho melihat kesungguhan di mata anaknya, entah apa yang direncanakan Kyuhyun, tapi ia mempercayai putra bungsunya itu.
...
Seoul, Korea Selatan
Kibum melemparkan pensil dan partiturnya begitu saja di kasurnya. Sudah satu jam ia berkutat dengan partitur-partitur itu tapi otaknya terasa buntu. Kibum menghela napas pelan melihat pemandangan di depan kamarnya. Musim gugur ke tiga sejak International Concert tiga tahun lalu. Saat ini dia bersama Jung soo dan Donghae tinggal di kediaman keluarga Cho yang dulu ditinggalinya bersama sang eomma. Mereka memutuskan kembali ke Korea untuk mencari Kyuhyun, tapi sampai sekarang belum juga membuahkan hasil.
Sedang Tuan Cho sudah bersikap jauh lebih baik sekarang. Memperhatikan anak-anaknya dan juga Donghae yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri dengan sangat baik. Tuan Cho juga kembali tinggal di rumah itu. Kibum sudah meminta Tuan Cho untuk mencari Kyuhyun, tapi appa-nya bilang belum menemukan petunjuk. Sebenarnya Kibum sedikit sangsi akan hal itu, tidak mungkin sang appa belum menemukan petunjuk apapun. Tapi Tuan Cho selalu meyakinkan mereka, Kyuhyun akan segera kembali. Hatinya mengatakan Tuan Cho tahu keberadaan adiknya, tapi dia menyembunyikannya. Entah apa alasannya. Dia pernah memaksa ayahnya mengatakannya, tapi tetap saja dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Aishh..." Ia mengacak rambutnya kesal.
"Ada apa Kibum-ie?" Jung soo yang tidak sengaja lewat didepan kamar Kibum yang terbuka menatap khawatir ke adiknya itu. Kibum menggelengkan kepalanya pelan.
"Gwaenchana hyung," tentu saja Jung soo tak mempercayai jawaban itu sepenuhnya.
"Memikirkan Kyuhyun-ie?" Kibum terdiam dan Jung soo tersenyum kecil, tampaknya tebakannya benar.
"Kau tenang saja. Kyuhyun baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir," ujarnya seraya tersenyum dan duduk di depan Kibum ditepi ranjang.
"Eoh?" Jung soo tersenyum kecil melihat ekspresi Kibum. "Bagaimana hyung tahu?"
"Semuanya tercetak jelas diwajahmu, Bum-ie," kepala Kibum memalingkan wajahnya karena merasa malu.
Aishh, sejak kapan aku mudah sekali tertebak? Batinnya.
"Ini gara-gara kau, Hyun. Aku tidak menyangka akan sejelas itu," Jung soo terkekeh mendengar gerutuan lirih itu.
"Hei, hyung juga merindukannya. Tapi hyung yakin dia baik-baik saja bersama Heechul. Hyung sedang berusaha mencari tahu keberadaan mereka dan saat kita mendapatkan petunjuk, kita bisa bertemu Kyuhyun-ie," Kibum tersenyum dan mengangguk. Tangan Jung soo menepuk punggung tangan Kibum yang ada di pangkuannya.
"Bagaimana dengan lagu yang akan kau ajukan untuk pertunjukkan musim gugur dua bulan lagi? Apa kau sudah mempersiapkannya?"
"Ya, tapi ternyata tidak semudah yang kubayangkan hyung,"
"Hyung yakin kau bisa," Kibum mengangguk. Jung soo beranjak setelah sebelumnya mengacak rambut Kibum pelan.
Kibum membaringkan tubuhnya dan menatap ke langit-langit kamar yang entah kenapa tampak menarik. Bayangan wajah Kyuhyun kecil muncul didepan matanya.
"Saat aku menemukannmu nanti, akan kau pukul kau, Hyun. 5 tahun kita tidak bertemu, dan kau menambahinya lagi dengan seenaknya memberikan bukumu padaku tanpa pesan apapun. Bahkan sekarang sudah 8 tahun kita terpisah Kyu. Kau dimana eoh?" monolognya.
...
"Bumbum, lihat ini" Kyuhyun kecil berlari dan menghampiri Kibum yang ada di ruang tengah sambil membawa sebuah kertas yang diyakininya sebagai sebuah partitur.
"Apa itu?" tanya Kibum heran.
"Ini untuk nanti kita mainkan bertiga di atas panggung ne, kita bertiga di atas panggung yang sama memamainkannya. Otte? Keren kan?" Kibum mengangguk.
"Coba mainkan dengan biolamu, ayo!"
"Tapi aku masih mengerjakan tugas, Kyu. Nanti saja!" Kyuhyun menggembungkan pipinya.
"Sebentar saja, mainkan Bum-ie~" Kyuhyun menusukkan jari telunjuknya berulang kali ke lengan Kibum. Adiknya tidak berhenti sampai ia menuruti keinginannya. Ia akhirnya mengalah dan membaca partitur dengan tulisan khas anak-anak milik Kyuhyun.
Kyuhyun tersenyum lebar, ia menyodorkan biola milik Kibum. Kibum mulai memainkan lagu yang dibuat Kyuhyun di partitur itu. Tidak panjang, karena memang belum selesai.
"Bagaimana Bum-ie? Bagus tidak?" tanya Kyuhyun setelah Kibum selesai.
"Bagus," jawaban singkat Kibum membuat Kyuhyun mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa hanya seperti itu komentarnya? Bumbum tidak asik," Kyuhyun mengambil kembali partiturnya dan pergi begitu saja dengan bibir yang mengerucut dan pipi menggembung. Terdengar gerutuan kecil yang masih bisa didengar Kibum dari tempatnya.
Kibum terkekeh karena berhasil menggoda adiknya. "Itu sangat indah Kyu," ucapnya lirih.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Kibum yang akan menuju kamar berhenti di depan kamar Jung soo. Dilihatnya Kyuhyun dan hyung-nya sedang mendiskusikan sesuatu.
"Apa yang sedang kalian diskusikan?" Kyuhyun yang melihat kedatangan Kibum segera membereskan kertas-kertas itu dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.
"Kau tidak boleh melihat!" ucapnya.
"Kenapa tidak?" tanya Kibum heran sedang Jung soo menggelengkan kepalanya. Kyuhyun turun dari kasur Jung soo dengan tetap menyembunyikan kertas-kertas yang diketahui Kibum sebagai partitur itu.
"Karena ini adalah top secret,"
"Tapi kau bahkan sudah memperlihatkannya padaku tadi, Kyu,"Kyuhyun berpikir sejenak.
"Emmph, ini berbeda. Kau tidak boleh melihat sampai bagianku dan Jung soo hyung selesai. Arraci?!" setelah mengatakan hal itu ia berlari keluar kamar Jung soo. Jung soo mengucak rambut Kibum pelan dan tersenyum kecil.
Kibum terkesiap, ia segera mengambil buku biru milik Kyuhyun. Membukanya dengan cepat. Membacanya sekilas pada halaman yang dicarinya, semenit kemudian senyuman tipis terukir di bibirnya. Akhirnya ia tahu maksud Kyuhyun memberikan buku itu padanya.
...
Kibum menghampiri Jung soo yang berada di ruang tengah, sedang Donghae nampak bermain dengan ikan-ikannya yang ada di akuarium.
"Teuki hyung, lihat ini. Kau masih mengingatnya bukan?" tanya Kibum pada Leeteuk atau Jung soo sambil menyerahkan buku partitur milik Kyuhyun.
"Ne, aku ingat ini. Kyuhyun membuatnya dan meminta kita ikut menyempurnakannya juga," sahutnya sambil mengingat-ingat. Kibum mengangguk senang.
"Kau ingat apa yang dikatakannya hyung? Tentang alasan kenapa dia membuatnya saat itu," Jung soo mengerutkan kening. Setelah beberapa saat terdiam.
"Kita akan memainkannya bertiga diatas panggung yang sama," ucap mereka bersamaan.
"Ne itu benar, dan aku ingin ini yang akan menjadi lagu utama di pertunjukan hyung. Jika mungkin, aku ingin kita bertiga menunjukannya ke semua orang hyung. Apa menurutmu itu mungkin?" tanyanya tak yakin.
"Pasti!" ucap Jungsoo yakin. "Tentu saja kita akan mepertunjukannya bersama-sama, suatu hari nanti!"
"Baiklah hyung, kita akan menyempurnakannya. Aku harap saat itu dia mendengarnya hyung, dan segera pulang." ucap Kibum sambil mengusap lembaran partitur itu.
Jung soo mengusap kepala Kibum. "Ne, dia akan mendengarnya. Aku yakin itu."
"Jadi? Kurasa Kibum sudah menentukan lagu untuk pertunjukannya bukan?" suara Donghae memecahkan keheningan mereka. Sedari tadi dia hanya diam memperhatikan keduanya berdiskusi.
"Tunggu apa lagi, ayo kita beritahu Lee seongsaengnim sekarang juga," serunya kemudian.
Kedatangan mereka bertiga ke agensi musik tempat mereka bernaung mengundang perhatian orang-orang disana. Tentu saja mereka mengetahui tentang ketiganya.
Agensi ini yang menaungi International Concert yang diadakan tiga tahun lalu. Kibum dan Donghae yang ikut serta dalam ajang itupun secara otomatis akan menjadi anggotanya juga. Jung soo tentu saja tidak ingin ketinggalan, jadi ia mengikuti audisi dan berhasil lolos.
"Hyung, lepaskan tanganmu dari pundakku. Jangan menggangguku hyung," Kibum berusaha menghentikan aksi Donghae yang sedari tadi terus merecokinya dengan berbagai cara sejak mereka berangkat dari rumah. Ia yang awalnya mengacuhkannya lama-lama kesal juga.
"Ya Kibum-ie, biarkan seperti ini nde," ujar Donghae ceria.
Donghae merangkulkan tangannya disekeliling leher Kibum, membuat mereka menjadi pusat perhatian beberapa orang yang lewat disekitar mereka. Kibum yang sudah lelah, hanya bisa menghela napas pasrah dan berusaha mengabaikan tatapan geli orang-orang yang melihatnya. Jung soo yang melihat keduanya berjalan didepannya hanya menggelengkan kepala.
"Donghae-ah, jangan ganggu Kibum-ie lagi," Jung soo akhirnya menghentikan aksi Donghae karena saat ini mereka sudah sampai ditempat yang mereka tuju. Salah satu tempat latihan yang sering digunakan artis-artis dari agensi itu untuk berlatih.
...
Tokyo, Jepang
Heechul mendengus sebal saat mendengar permainan piano yang dimainkan asal-asalan. Ia tidak perlu menggunakan otak pintarnya untuk menebak kalau yang memainkan piano milik sahabatnya itu adalah adiknya, Kyuhyun. Anak itu pasti sedang dalam mode ngambek sampai-sampai mengganggu seisi rumah dengan permainan piano yang terdengar jauh dari kata merdu, justru membuat sakit kepala.
"Yak Kim Kyuhyun! Hentikan itu!" teriaknya geram. Kyuhyun memberikan tatapan tajamnya dengan pipi menggembung mendapati Heechul berkacak pinggang setelah memukul ujung kepalanya.
"Yak Hyung! Itu sakit," tidak mempedulikan protesan Kyuhyun, Heechul menarik pelan pergelangan tangan anak itu dan membawanya duduk di sofa. Kyuhyun yang masih dalam mode ngambeknya diam saja mengikuti apapun yang dilakukan hyung-nya itu.
"Kau kenapa lagi, eoh? Memainkan piano Jung soo seperti itu, membuat semua orang sakit telinga," ucap Heechul tajam. Kyuhyun memainkan jari-jarinya, enggan menatap Heechul yang menanti jawabannya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Kyuhyun pada akhirnya. Namun jawaban itu membuat Heechul mengerutkan kening. Tidak mungkin adiknya itu uring-uringan begitu saja tanpa ada sebabnya. Tapi Heechul tidak akan memaksa anak itu, karena percuma saja. Kyuhyun itu keras kepala.
Heechul menghela napas pelan. "Temui saja mereka jika memang kau merindukan mereka pabo!" ucapan itu sontak membuat Kyuhyun mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Heechul menyeringai puas melihat respon itu, Kyuhyun mudah sekali ditebak olehnya.
"Apa? Itu benar kan? Setiap kali kau uring-uringan itu karena kau merindukan mereka, tapi karena kau keras kepala membuatmu tersiksa sendiri," Kyuhyun bergeming. Semua yang dikatakan Heechul itu benar, percuma saja menyangkalnya.
"Kyuhyun-ah dengarkan aku, Jung soo maupun Kibum tidak akan mempermasalahkan sama sekali kau bisa bermain biola atau tidak. Kau adik mereka dan mereka merindukanmu. Kau hanya perlu bertemu kembali dengan mereka dan berkumpul dengan mereka. Itu sudah lebih dari cukup Kyu," Kyuhyun menggembungkan pipinya, akhirnya ia menggangguk kecil.
"Lagipula kau kan sudah bisa bermain biola lagi, lalu apa lagi masalahnya?" Heechul menjitak kepala Kyuhyun pelan setelah itu beranjak dari sana.
Kyuhyun menatap langit-langit rumahnya, yang dikatakan Heechul itu benar. Apa lagi masalahnya? Dia kan sudah bisa bermain biola, yach walaupun tidak sama seperti sebelumnya. Tapi bagaimanapun juga dia sudah bisa memainkannya, tidak peduli bagaimana dia memainkannya. Yang penting dia sudah bisa. Dia tidak kembali kepada hyungdeulnya kan juga karena dia tidak ingin membuat mereka khawatir selain itu juga dia ingin bisa kembali bermain biola lagi, dan sekarang dia sudah bisa bukan?
Kyuhyun tersenyum, aku akan segera kembali hyung. Pada akhirnya anak itu tertidur di sofa karena terlalu lelah berpikir.
...
Kibum, Jung soo, dan Donghae, mereka bertiga duduk dilantai ruang latihan bersama Lee Seunghwan yang duduk didepan ketiganya.
Kibum menatap cemas ke arah pelatih mereka yang saat ini tengah membaca partitur yang diberikannya. Setelah meminta Kibum dan Jung soo untuk menunjukkannya dengan biola dan piano, Lee seongsaengnim sejak tadi terdiam, tangannya yang satu bersedekap dan tangannya yang lainnya mengusap dagunya.
"Ini sangat menarik Kibum-ah, tapi aku merasakan ada sesuatu yang kurang disini,"
"Memang belum sempurna saem, kami akan menyempurnakannya," ucap Kibum.
Seunghwan berpikir sejenak. "Baiklah, jika kalian membutuhkan bantuan. Tanyakan saja padaku, aku siap membantu kalian." Jungsoo dan Kibum mengangguk senang.
Seunghwan beralih pada Donghae. "Donghae-ya, kau sudah menyelesaikan koreografi untuk pertunjukan dancemu?" tanyanya pada Donghae yang sedari tadi menggambar dengan jarinya di lantai.
"Eoh? Emmph... Ne, sedikit lagi saem," jawabnya ragu dengan cengiran khasnya. Seunghwan hanya bisa menghela napas. "Apa yang menghambatmu eoh?"
Donghae mengusap tengkuknya salah tingkah. "Bisakah aku mengajak temanku saem? Dia sangat hebat, aku yakin Anda akan puas dengannya, Anda bisa mengujinya saem."
"Tapi waktu kita sangat singkat,"
"Dia bahkan yang mengajariku saem, dia juga membantuku membuat koreografinya," ucap Donghae cepat. Pandangan matanya memohon.
"Baiklah, aku akan mengujinya. Bawa dia kepadaku," akhirnya dia menyerah. Dihadapkan anak-anak penuh semangat seperti ini, dia sangat sulit untuk menolak. Lagi pula tidak ada salahnya bukan?
"Aku akan membicarakan ini dengan yang lain, kita punya latihan besok. Dan kalian bertiga, persiapkan yang harus kalian siapkan, aku menunggu hasilnya secepatnya."
"Kami mengerti seongsaengnim."
...
Changmin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru bandara, mencari seseorang yang akan menjemputnya. Ia berdecak, karena orang yang ditunggunya tak kunjung datang.
"Aishh, aku sudah hampir lumutan disini, kenapa Eunhyuk hyung belum datang juga?" saat itu juga sebuah tepukan mengejutkannya.
"Menunggu lama Min?" Changmin memutar bola matanya malas melihat Eunhyuk tersenyum lebar tak berdosa.
"Yak hyung, aku sudah sangat kelaparan menunggumu,"
"Ya ya ya, sudahlah ayo pergi," Changmin mengikuti namja yang dua tahun lebih tua darinya itu dengan gerutuan.
Eunhyuk tak habis pikir, ia tahu julukan food mosnter yang disematkan untuk sepupunya itu. Tapi ia tetap saja takjub melihat porsi makanan sepupunya itu. Mereka saat ini berada di salah satu restoran tidak jauh dari bandara,
"Min, kau seperti tidak makan selama tiga hari?! Aku saja kenyang hanya melihatmu makan," Eunhyuk menggelengkan kepalanya. Changmin hanya menyengir lebar, mulutnya penuh dengan makanan.
"Hyung, aku kelaparan karena menunggumu, jadi jangan salahkan aku makan banyak," jawabnya sambil terus memakan hidangan didepannya. Eunhyuk pergi untuk membayar pesanan mereka, ia menatap miris dompetnya yang menipis. Lain kali ia tidak akan mentraktir sepupunya lagi.
Changmin menatap jalanan, mengamati para pejalan kaki yang berlalu lalang. Beberapa saat kemudian matanya melebar.
"Eoh? Kyuhyun!"
"Ya Changmin-ah kau mau kemana?" teriak Eunhyuk melihat Changmin bergegas keluar restoran begitu saja.
Changmin berlari, menerobos para pejalan kaki yang berlalu lalang, mengedarkan pandangan, mencari sosok mirip Kyuhyun yang tadi dilihatnya.
"Aishh, aku kehilangan jejak!" decaknya kesal.
Plak!
"Akh sakit! Hyung kenapa kau memukulku eoh?" sungut Changmin sebal pada Eunhyuk yang telah mengejarnya dan menjitak kepalanya 'sayang'.
"Kau yang tiba-tiba meninggalkanku seenaknya baka. Siapa yang kau cari eoh?" tanya Eunhyuk heran. Changmin menggeleng sambil mengusap tengkuknya, "Kupikir aku melihat temanku hyung, tapi mungkin hanya khayalanku saja."
...
"Hyung, kenapa ramai sekali disana?" Eunhyuk melihat kearah Changmin menunjuk.
"Itu pasti stree live performance," jawabnya Eunhyuk lemas. Bagaimana tidak, Changmin seharian ini menariknya kesana-kemari, ia sampai heran Changmin masih memiliki energi sebesar itu. Sudah tiga hari dia menemani sepupunya itu berkeliling Tokyo dan anak itu tidak tampak lelah sama sekali.
Eunhyuk melangkah perlahan ke arah kerumunan orang-orang itu dimana Changmin tengah berusaha menerobos kerumunan orang yang menonton pertunjukan para musisi jalanan itu, walaupun tubuhnya tinggi tapi tetap saja melihat dari dekat akan lebih menarik. Tapi langkahnya terhenti saat merasakan Smartphone miliknya bergetar pelan. Melihat ke arah Changmin sejenak sebelum mengangkat panggilan itu.
Para musisi jalanan itu ternyata masih sangat muda, terdiri dari empat remaja yang sepertinya seumuran Changmin. Masing-masing dari mereka menggunakan alat musik yang berbeda, dari gitar, sexopon, biola, dan juga harmonika. Pandangan Changmin terhenti pada anak yang memainkan harmonika, mengingatkannya pada Kyuhyun. Mereka berempat menggunakan topeng yang menutupi sebagian wajah mereka. Sehingga Changmin tidak bisa melihat wajah mereka. Tepuk tangan riuh penonton menyadarkan Changmin dari keterpakuan pada si pemain harmonika.
"Hei Ken, kau akan pulang sekarang?" tanya salah satu pemuda berambut pirang yang memainkan gitar pada si pemain harmonika.
"Ne, hyungku akan sangat cerewet jika aku pulang terlambat,"
Changmin mengerutkan kening, sepertinya mereka orang Korea.
"Ah maafkan aku, aku tidak sengaja," pemuda itu segera berbalik dan sedikit membungkukkan kepalanya saat tanpa sengaja sedikit menyenggol Changmin.
"Tu-tunggu!"
"Yak Changmin-ah, tunggu aku!" langkahnya terhenti saat Eunhyuk menghentikannya mengejar pemuda yang di panggil Ken oleh teman-temannya itu.
"Aishh hyung, aku jadi kehilangan jejak!" gerutu Changmin masih menjulurkan kepalanya berusaha mencari keberadaan remaja yang menurutnya mirip dengan Kyuhyun.
Eunhyuk tak mempedulikan protesan sepupunya itu. Dia terlalu gembira dengan kabar yang didapatnya beberapa saat lalu.
"Hei Changmin-ah!" panggilnya pada Changmin yang masih melongokkan kepalanya berusaha mencari pemain harmonika tadi. "Aku akan ikut denganmu kembali ke Korea," lanjutnya.
Changmin menoleh cepat ke arah Eunhyuk. " Yang benar?" Eunhyuk mengangguk.
...
Alunan merdu piano masuk ke pendengaran Kyuhyun saat ia memasuki ruang musik sekolahnya.
"Anda memanggil saya sensei?" tanyanya saat gurunya itu sudah menyelesaikan permainannya dan tersenyum kearahnya.
Tanpa berkata apapun Arashi sensei memberikan sebuah amplop coklat. Kyuhyun mengerutkan kening heran saat mengeluarkan beberapa lembar kertas yang ternyata beberapa kertas partitur.
"Emmph, kenapa sensei memberikanku partitur ini?" tanyanya setelah beberapa saat membolak-balik kertas berisi not-not balok itu.
"Karena aku butuh bantuanmu," ucap guru muda itu tenang. "Mainkan partitur itu dengan biola, kau mau kan Kyu?" lanjutnya.
Kyuhyun menatap tak percaya pada gurunya itu. "Ta-tapi..."
Kyuhyun sudah akan mengatakan sesuatu saat gurunya itu menyerahkan sebuah biola yang memang tersedia disana. Dia memandang ragu biola itu. Perlahan, tangannya terangkat memegang biola itu. Arashi sensei tersenyum saat melihat salah satu muridnya tampak sangat tegang.
"Sensei..." Kyuhyun menghembuskan napas berat. "Saya tidak bisa memainkannya," ucapnya lirih. Kepalanya menunduk dalam.
"Apa itu karena cedera yang kau alami?" Kyuhyun tak menjawab.
"Jangan jadikan itu sebagai halanganmu. Aku tahu kau bisa memainkannya, hanya saja kau masih tidak mempercayai dirimu sendiri. Disini tidak ada orang lain selain aku, jadi maukah kau memainkannya?" Kyuhyun mengangguk ragu.
Dia meletakkan kertas-kertas partitur itu pada music stand, menggenggam biola itu di tangan kiri dan busur di tangan kanan. Dia sudah siap untuk menggesek biola itu, tapi jari-jari tangan kirinya terasa kaku dan sulit digerakkan. Selain itu dia tidak bisa merasakan sentuhan jari-jarinya pada senar-senar biola. Kyuhyun mengeratkan rahangnya, matanya tak pernah lepas dari jari-jari tangan kirinya.
Saat dia berpikir akan kembali bermain biola, dia tidak membayangkan sampai sejauh ini. Jangankan memainkannya, menggerakkan jari-jarinya saja dia kesulitan. Selain itu kenyataan bahwa dia tidak bisa merasakan sentuhan dengan jari-jarinya itu. Membuatnya semakin sulit untuk memainkan biolanya.
Kyuhyun memandang Arashi sensei yang masih memperhatikan dan menunggunya.
"Sensei?" ucapnya lirih.
"Ya?"
"Aku mengalami kesulitan dengan jari-jari tangan kiriku. Emm.. apa itu mungkin untukku memainkannya 'secara kidal'? Maksudku dengan menukar posisinya, biola di tangan kanan dan bow di tangan kiri," tanyanya takut-takut. Arashi sensei tidak memberikan komentar apapun, dia hanya bisa memberi isyarat untuk memainkannya.
Dia mengehela napas sejenak kemudian memindahkan biola di tangannya ke tangan kanan sedang bow-nya di tangan kiri. Arashi sensei hanya diam memperhatikan Kyuhyun. Dan alunan merdu biola itu pun mengalun, walaupun ia melakukannya dengan sangat lambat dan tersendat, alunan itu berhasil memenuhi ruang musik.
"Aku tahu kau bisa melakukannya Kyuhyun," Arashi menepuk pundak Kyuhyun sambil tersenyum lebar.
"Berbeda tidak membuat kita lebih buruk bukan, kau hanya perlu berlatih dengan tangan kananmu untuk memainkan biolamu. Tidak mudah memang karena bagaikan seorang kidal yang terbiasa menggunakan tangan kiri harus menggunakan tangan kanannya, tapi untukmu kasusnya terbalik. Kau yang sebenarnya pengguna tangan kanan, yang seharusnya menggunakan tangan kanan untuk memegang bow, tapi kau justru harus memegang bow di tangan kiri karena cedera itu. Itu bukan masalah Kyu, kau hanya harus berlatih. "
"Terimakasih sensei,"
Prok Prok Prok
Kyuhyun tersentak dari lamunannya mendengar tepuk tangan seseorang.
"Wah wah wah, kau semakin mahir Kyu, ah sepertinya aku harus memanggilmu dengan Ken? Kau lebih populer dengan panggilan itu kan?" Kyuhyun terkekeh.
"Anda membuatku kaget sensei," decaknya sebal. Arashi menyentil dahi muridnya itu.
"Apa yang yang kau pikirkan hemp?" tanyanya. Kyuhyun meringis lebar.
"Hanya tiba-tiba teringat saat pertama kali aku memainkan biola di depan Anda, sensei."
Arashi menanggukkan kepalanya. "Ah, sudah 2 tahun berlalu sejak saat itu bukan?" Kyuhyun mengangguk.
Kyuhyun memandang biola yang beberapa saat lalu dimainkannya, dua tahun dia berlatih dengan tangan kanannya. Walaupun dia masih sering kali mengalami kesulitan karena memang dia memainkan biola itu dengan 'cara kidal', tapi seiring berjalannya waktu dia bisa mengatasinya.
Dua tahun lalu, Arashi sensei mengatakan padanya kalau perasaan ganjil memainkan biola dengan memegangnya di tangan kanan dan bow di tangan kiri, itu sama seperti mereka yang terbiasa kidal harus memainkan biola mereka seperti orang-orang pada umumnya yaitu biola di tangan kiri dan bow di tangan kanan padahal mereka lebih nyaman dengan biola di tangan kanan. Mereka merasa itu cukup sulit, karena mereka memang tidak terbiasa. Karena sebagian orang masih berpikir, bermain secara kidal merupakan sesuatu yang salah. Orang-orang kidal dianggap harus memainkannya sebagaimana orang kebanyakan. Apalagi sangat sulit menemukan biola yang dikhususkan untuk orang-orang kidal yang memegang biolanya ditangan kanan, sehingga mereka memang harus memainkannya sama seperti yang lain.
Kyuhyun tidak perlu memedulikan apa yang orang lain katakan, walaupun cukup sulit untuknya karena dia tetap menggunakan biola yang diperuntukkan untuk orang-orang yang menggunakan biola di tangan kiri, sedangkan sekarang dia harus memainkannya terbalik dengan tangan kanan. Namun anak itu bisa cepat beradaptasi, dan kini dia bisa melakukannya dengan cukup baik.
"Kau masih sering melakukan street live performance?"
Kyuhyun memandang gurunya sejenak dan tersenyum kecil, "Apa Anda akan menghukumku sensei?" Arashi terkekeh.
"Bisa saja aku melakukannya, tapi aku tidak melakukannya. Tapi kau harus berjanji untuk berhenti anak nakal!"
"Tapi itu menyenangkan sensei, melihat mereka yang menonton bahagia rasanya sangat menyenangkan," Arashi hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kyuhyun, ada yang ingin kukatakan padamu," ucap Arashi tiba-tiba memecahkan keheningan.
"Ada apa sensei?" tanya Kyuhyun heran.
"Kembalilah ke Korea!"
...
TBC
Oya, mau ngasih tambahan, sepertinya penjelasanku membingungkan ya. Maaf chingudeul.
Kyu itu TIDAK kidal, cuman karena cidera tangan kirinya itu, dia harus memainkan biolanya 'SECARA KIDAL'. Coba bayangkan bagaimana orang biasanya memainkan biolanya. Mereka harus memegang biolanya di tangan kiri dan bow di tangan kanan. Sama seperti gitar, yang memegang leher gitar di tangan kiri.
Nah karena jari-jari tangan kiri Kyuhyun kehilangan indera perabanya, nyebapin dia nggk bisa merasakan senar-senar biola itu. Jadi, dia memainkannya 'secara kidal', artinya berbeda dari orang biasanya memainkannya. Karena dia harus memegang biola di tangan KANAN (yang seharusnya di kiri) dan bow nya di tangan KIRI (biasanya kanan).
Jika ada yang dibingungkan silahkan ditanyakan
...
Sebenernya mau ditamatin di chapter ini, tapi ternyata bakal jadi lumayan panjang lho dan belum selesai, sedang zi udah pingin update
Gimana? Banyak kekurangannya ya? Bilang aja kurangnya dimana, kecepeten alurnya kah atau kurang jelas? Tolong pakai bahasa yang sopan ne, kan sama-sama belajar. Oke? Sip! Ntar tak tambahin jika memungkinkan dan juga kalo dapet ide. hehe
Dan jika ada kesalahan, tolong diberi tahu, karena jujur saja, zi sama sekali nggk ahli bidang ginian, hehe
Ini sudah diperbaiki, jika masih ada typos mohon di beri tahu dimana letakknya. (Jika bersedia saja ya ^^)
Big thanks to:
entik hale/ KimRaf/ kyunoi/ Rini723/ tary sa/ wahda. nia. 161/ hyunchiki/ lee sabil/ Shin Ririn1013/ gyu/ siska/ angel sparkyu/ ilmah/ diahretno/ loeloe07/ EkaOkta3424/ / chairun/ ckhevl9806/ SNCKS/ dewidossantosleite/ Desviana407/ OnedayELF/ / Retnoelf/ Cho Kyunhae/ Kuroi Ilna/ Sparkyubum/ phn19/ dewiangel/ angel/ chocosnow/ aya/ lydiasimatupang2301/ oracle88/ Awaelfkyu13/ mmzzaa/ cupidd. cipudd/ cinya/ Choding/ Guest/ ericomizaki13/ / kyuli 99/ Shofie Kim/ kadek/
apa ada yang ketinggalan? Mianhe
Bow
^.^
