Chapter 2
"APEL DAN VIOLET"
Takdir itu misteri, sejauh apapun kau berlari sekuat apapun kau menghindar. Ia akan selalu menghampirimu seperti udara. Tak berwujud tapi kau selalu membutuhkannya.
.
.
.
A fanfiction for Ichiruki
I love their characters
MANGA BLEACH
DISCLAIMER BY TITE KUBO
JUST FF NO MORE
BY
NICKY
.
.
.
" Rukia, bisa kau ambilkan sekotak apel yang ada di belakang?"
Rukia bekerja di sebuah minimarket milik Urahara Kisuke. Meski hanya bekerja selama empat jam setiap harinya, setelah kuliah dari jam tiga sampai jam tujuh dan tentunya itu bukan jam kerja yang normal tapi ternyata sang pemilik minimarket menerima part time dari sang mahasiswa. Kasihan, mungkin itu pikiran pertama kali dari sang pemilik saat Rukia ingin bekerja disini.
" Oh, iya Urahara-san, akan saya ambilkan, sebentar."
Rukia berjalan melewati beberapa tangga untuk mengambil sekotak apel segar yang diletakkan oleh penyetor di belakang gudang minimarket. Ia membawanya dengan hati-hati, lumayan agak berat tapi Rukia kuat juga.
Ia meletakkan apel-apel tersebut di stand yang sudah disediakan, ia susun serapi mungkin agar bisa menarik pelanggan.
" Apel baru?" Tanya seorang pelanggan minimarket
" Oh, iya silahkan memilih Tuan, ini masih baru dan baru dikirim siang tadi?" Jawab Rukia yang masih sibuk menata apel-apelnya tanpa melihat pelanggannya.
Iya hanya bisa melihat dua tangan sang pelanggan minimarket yang sedang memilih apel. Ia masih sibuk dengan beberapa buah apel yang sebentar lagi siap untuk ditata.
" Silahkan memilih Tuan, maaf saya permisi dulu."
Kata Rukia sambil membungkukkan tubuhnya dan membalik tubuhnya tanpa melihat sang pelanggan. Dia memang jarang melihat secara langsung pelanggan-pelanggan minimarket ini karena pernah suatu ketika ia melihat lihat keadaan sang pelanggan ia malah terkena amukan dari sang pelanggan, sejak saat itu ia hanya menatap kaki atau tangan sang pelanggan kecuali saat ia menjadi kasir ia akan bersikap lain.
" Tunggu,"
" Ya …" jawab Rukia sambil membalikkan tubuhnya yang sudah beberapa langkah dari tempat stand apel." Ada yang bisa saya bantu Tuan? Anda butuh sesuatu?" Tanya Rukia kepada sang pelanggan.
" Boleh saya ambil kembali payung saya?" Tanya sang pelanggan
" Payung?" Tanya Rukia heran
" Payung yang dua hari lalu saya pinjamkan ke Anda saat kita berteduh di halte kampus Tokyo."
Rukia sedang mengingat ingat kejadian tersebut, ya dia memang mendapatkan rejeki sebuah payung saat hujan, tapi dia memang tidak melihat siapa yang memberinya payung.
" Jadi, Anda yang memberikan payung? Maaf, saya benar benar tidak melihat seseorang yang memberikan payung itu untuk saya. Tapi maaf, hari ini payung itu tidak saya bawa, saya benar-benar minta maaf,"
Sang pelanggan tersebut hanya menatap sambil mendengarkan. Ia foKus melihat sepasang iris mata seseorang yang didepannya, violet dan bukan kontak lensa. Mata itu asli dan terlihat teduh. Mata Rukia menghentikan pergerakan jantung sang pelanggan itu sekejap, ia merasakan getaran lain di sisi jantungnya yang bergerak lebih cepat.
" Matamu indah…" Kata sang pelanggan
" Terima kasih, tapi maaf. Bisakah payung anda saya kembalikan besok?" Tanya Rukia yang berusaha mengganti topiK pembicaraan. Ia tidak terlalu suka membicarakan dirinya sendiri.
" Oh, bisa Anda besok pagi jam delapan datang ke Halte kampus Tokyo, saya akan ada dikampus sekitar jam tujuh, saya ada kelas sekitar jam itu.'' Jawab sang pelanggan yang berusaha sedang meredam getaran di jantungnya.
" Oh, baiklah… maaf sudah merepotkan anda. Saya akan kesana … saya permisi dulu silahkan memilih Tuan.." Ucap sang pemilik mata Violet sambil berlalu pergi.
' Kaa san, ia memiliki sorot mata sepertimu …' Batin sang pelanggan.
.
.
.
.
.
.
" Momo, buka pintunya… aku lupa membawa kunci."
Rukia pulang ke flat kecilnya sekitar jam dua pagi. Tentu teman satu kamarnya, Momo sudah berpindah dimensi ke alam lain. Apa yang dilakukan sang mahasiswa psikologi ini semalaman sampai jam dua pagi baru pulang. Apakah pekerjaan sampingnya seperti itu, bukan pekerjaan 'kotor' seperti itu yang ia akan ambil ia masih sangat waras dengan kehidupannya.
Senin sampai jum'at ia mengambil kelas sampai jam setengah tiga. Jam tiga atau setengah empat ia akan bekerja di minimarket milik Urahara san sampai jam tujuh, jam delapan sampai jam sebelas malam ia akan bekerja sebagai waitress atau pelayan minuman atau makanan di karaoke belakang flat kecilnya yang hanya berjarak beberapa bangunan dari flatnya. Tentu bukan dengan pakaian aduhai itu, perlu di garis bawahi Rukia gadis berpendidikan dan tentunya dia tahu resiko atas pilihan yang dia ambil.
Kenapa dia mau mengambil pekerjaan sebagai waitress di tempat karaoke pasti sudah tentu karena uang yang ia bisa dapat dalam empat bulan bisa untuk membayar uang semesteran kuliahnya.
Setelah pertemuan di halte depan kampus Tokyo tersebut, Ichigo berusaha untuk mengenal dekat gadis yang ia pinjami payung itu. Tapi entah, apa sang gadis yang memang tidak pernah dikenal oleh mahasiswa mahasiswi lain atau gadis itu memang bukan mahasiswi kampus Tokyo. Tapi gadis itu yang bilang sendiri kalau ia kuliah di tempat yang sama dengan Ichigo jadi kenapa mahasiswi jurusan psikologi pun tidak mengenal sosok seorang Rukia.
" Ichigo-senpai, cari siapa?"
Tanya Momo untuk lebih menyakinkan sebuah pertanyaan yang diajukan oleh sang pemilik coklat madu tersebut.
" kau kenal Rukia ?"
Momo hanya bisa bergumam, darimana seniornya ini tahu tentang Rukia dan bertanya lebih lanjut tentang siapa Rukia. Momo sangat paham bagaimana Rukia. Pendiam, anti sosial, jarang berkomunikasi selama dikampus kecuali dengan Momo dan beberapa asisten dosen serta dosen.
Didunia ini, Rukia hanya mengenal tiga kegiatan, kerja, kuliah dan istirahat. Jadi bagaimana sekarang untuk yang pertama kalinya ada seseorang yang bertanya tentang kehadiran Rukia di dunia ini. Rukia selalu menganggap kehadiran dirinya yang terlahir didunia ini sebagai sebuah kesalahan.
" Kenapa senpai bertanya tentang Rukia? Apa dia berbuat sesuatu ke senpai?"
Tanya Momo yang tak menghiraukan pertanyaan dari Ichigo.
" Aku bertanya kau kenal Rukia atau tidak, Momo. Kenapa malah bertanya balik padaku, aku sudah bertanya seharian ini ke kelas psikologi baik siang atau malam, tidak ada satupun mahasiswa yang mengenal Rukia sebenarnya dia itu siapa dan kenapa orang satu kelas pun tidak mengenalnya, ayolah Momo aku hanya ingin mengenal Rukia…"
Momo hanya terbengong mendengar penjelasan dari sang Senpai. Si Kurosaki Ichigo ingin mengenal lebih tentang sosok Rukia,
" Bagaimana senpai bisa kenal dengan Rukia?" Tanya Momo
" Perlu ku ceritakan? Butuh waktu sehari semalam untuk menceritakan, kau mau diam dan mendengarkan!" Jawab Ichigo dengan aura bosan
" Bukan begitu senpai, maaf tapi saya tidak berhak bercerita lebih lanjut tentang Rukia. Anda bisa bertemu langsung dengannya. Memang dia jarang dikenal oleh mahasiswa psikologi ini, hanya beberapa saja. Mahasiswa lain mengenal Rukia dengan nama Lucia, jadi tentu teman teman satu kelas kami tidak tahu menahu tentang sosok dengan nama Rukia. Rukia selalu ada dikampus sampai jam tiga, dan dia selalu berada di perpustakaan fakultas kedokteran saat tidak ada kelas atau istirahat, jadi senpai bisa bertemu dengannya. Ini baru pertama kalinya untuk Rukia ada seseorang yang mau berkenalan dengan Rukia, jadi maaf tadi saya agak kaget."
" Dan kenapa bicaramu formal, Momo. Aku sudah bilang bersikaplah biasa padaku, kita pernah satu sekolah saat SMP. Aku bosan setiap hari orang-orang berakting sopan kepadaku."
" Siapa yang berakting? ini namanya attitude Senpai, sudah seharusnya aku menghormati kakak kelas. Ya sudah, aku ada kelas sekarang, mungkin Rukia ada di perpustakaan. Aku pergi dulu Senpai."
" Ya, terima kasih untuk informasinya …"
Beribu pertanyaan bersarang di kepala sang calon dokter itu. Siapa Rukia dan kenapa dia memiliki sisi misterius, lebih baik Ichigo tanyakan langsung ke orangnya dari pada semua pertanyaan itu meledak di kepalanya. Sedikit berlari, Ichigo mencari gadis pemilik mata amethyst itu.
Dilihatnya lorong rak buku satu persatu, nihil tidak ada sosok yang ia cari. Semua meja baca juga sudah ia cek satu persatu, tidak ada sosok yang sangat ia ingin temui hari ini, tiga hari Ichigo mencari keberadaan Rukia selama tiga hari.
Bertanya kepada seluruh mahasiswa kelas psikologi yang satu angkatan dengan Rukia, tidak ada petunjuk atau pun jawaban yang bisa menenangkan pikiran sang pemilik mata coklat madu ini.
" Oh Tuhan, sungguh… butuh waktu berapa lama aku harus mencari dia?"
Ichigo bergumam dengan dirinya sendiri, lelah mencari sesuatu yang sosoknya tidak disadari oleh semua orang.
" Ternyata kau disini, Rukia.."
Ucap Ichigo sambil menarik sebuah bangku untuk istirahat sejenak menyandarkan punggungnya ke kursi sambil meluruskan kakinya dibawah meja baca perpustakaan.
Gadis yang berada disamping tempat duduknya hanya menoleh dan kaget karena namanya dipanggil.
" Senpai …"
Rukia kaget,
" Tetaplah disini dan tunggu aku istirahat sebentar. Aku sangat lelah."
Ujar Ichigo kepada gadis pemilik surai hitam sebahu itu sambil memejamkan mata. Kenapa Ichigo sangat lelah, bukankah ia hanya mencari seorang gadis.
Ini untuk pertama kalinya seorang Ichigo mencari tahu lebih sosok seorang gadis, selalunya atau yang biasanya Ichigo lah yang selalu dicari atau dikejar – kejar. Ichigo sangat ingin mengenal gadis yang memiliki mahkota hitam sebahu ini lebih dekat, entah perasaannya tidak bisa ia kendalikan jika ia tidak bertemu dengan gadis ini meski hanya sehari saja.
Padahal belum ada seminggu yang lalu mereka bertemu. Apa cinta pada pandangan pertama, Ichigo yakin bukan, dia bukan termasuk penganut paham love at first sight.
.
.
.
Mohon reviewnya, sangat membantu kok ^-^
Arigatou
