Chapter 3

"MAAF DAN PERTEMANAN"

Takdir itu misteri, sejauh apapun kau berlari sekuat apapun kau menghindar. Ia akan selalu menghampirimu seperti udara. Tak berwujud tapi kau selalu membutuhkannya.

.

.

.

A fanfiction for Ichiruki

I love their characters

MANGA BLEACH

DISCLAIMER BY TITE KUBO

JUST FF NO MORE

by

Nicky

.

.

.

Flashback at Halte Tokyo University

" Maaf, saya terlambat. Bis yang saya tumpangi ada sedikit gangguan teknis." Ujar gadis bermahkota hitam sebahu tersebut

" Ah, iya. Saya juga baru saja sampai. Oh iya, kenalkan saya Kurosaki Ichigo. Panggil saja Ichigo, mahasiswa kampus sini.'' Balas sang pemilik rambut senja itu dengan penutup senyuman yang manis.

" Saya Rukia, juga mahasiswa kampus sini. Semester empat, salam kenal dan terima kasih untuk payungnya." Ucap Rukia sambil menyerahkan sebuah payung ke pria tersebut

Diambilnya payung yang digenggam oleh sang Gadis.

" Ternyata payung anda ada inisialnya,"kata Rukia

" Iya, singkatan dari nama saya sendiri. Anda bilang tadi anda kuliah disini dan menginjak semester empat, anda mengambil urusan apa?" Tanya Ichigo hati-hati

" Psikologi" Jawab Rukia cepat. " Anda?" Tanya Rukia

" Saya kedokteran dan sudah menginjak semester enam. Ah iya, senang berkenalan denganmu Rukia, besok kalau kita bertemu di kampus jangan sungkan untuk menyapaku dan satu lagi panggil aku dengan namaku Ichigo, jangan pakai senpai, aku bosan mendengarnya." Jelas sang pria berambut orange tersebut.

" Ah, iya. Akan saya ingat senpai … " Ucap Rukia spontan

" Nah, jangan panggil aku dengan label senpai. Aku ada kelas sebentar lagi, terima kasih untuk payung yang sudah kau kembalikan. Jangan terlalu formal bicara padaku, aku bosan mendengarnya. Aku pergi ke kelas dulu, sampai jumpa lagi Rukia.'' Pamit Ichigo sambil berlari ke ruang kelas.

"Terima kasih Ichigo, untuk payungnya."ucap sang pemilik mata violet itu lirih.

.

.

.


.

.

.

Hening, tak ada kata terucap kecuali sapaan singkat dari kedua insan yang sedang duduk bersampingan di ruang perpustakaan ini. Sang gadis hanya diam menunduk dan sesekali melirik pria berambut orange yang duduk disampingnya dengan beribu pertanyaan.

Sedangkan sang pria yaitu Kurosaki Ichigo, masih memejamkan matanya dengan kaki yang ia luruskan dibawah meja baca karena lelah berlari. Nafasnya sesekali tertarik panjang untuk menetralkan detak jantungnya.

" Senpai … kenapa anda bisa disini?" Tanya Rukia

Masih memejamkan mata, tak sedikitpun ada niat menggerakkan kedua bibir tipisnya untuk merangkai kata.

" Ichigo, kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Rukia lirih

" Mencarimu, dan menanyaimu dengan segudang pertanyaan." Jawab Ichigo asal dan masih memejamkan mata.

Rukia hanya menggumam dengan kata-kata yang bisa diartikan 'kenapa dengan orang ini'.

" Kau siapa?" Tanya Ichigo dengan membuka matanya dan menyenderkan punggungnya ke kursi.

" Siapa? Aku … bukankah kita sudah saling kenal kemarin."

" Lucia … kenapa para mahasiswa satu kelasmu tahu dirimu dengan nama itu?"

" Oh itu, ada seorang assisten dosen saat aku masih semester dua dan memberiku julukan nama dengan nama Lucia, katanya artinya sama dengan namaku yaitu cahaya, dan sejak saat itu mereka tahunya namaku Lucia. Kenapa senpai bertanya hal itu?"

" Tidak ada. Hanya ingin mengenalmu saja. Kau terlalu misterius bagiku."

Misterius. Hal yang paling Rukia benci, kenapa semua orang selalu ingin mencari sisi 'misterius' dari Rukia.

" Maaf, senpai. Saya bukan orang yang tepat untuk anda tanyai tentang arti misterius itu. Dan .."

" Ichigo … panggil aku Ichigo, Rukia. Aku hanya ingin menjadi temanmu, aku bosan setiap hari orang-orang bersikap hormat atau apalah namanya itu. Kau bisa bersikap normal padaku, aku hanya ingin berteman dengan banyak orang."

" Kenapa harus berteman denganku? Aku bukan tipe yang friendly, dan maaf sepertinya aku tidak bisa berteman dengan banyak orang." Singkat Rukia

" Kenapa?"

"Entah, aku hanya ingin sibuk dengan duniaku sendiri tanpa mengurusi atau mengikuti masalah orang lain" Jelas Rukia

" Kau tidak mengenalku, Rukia?" Tanya Ichigo hati-hati

" Sangat kenal, Kurosaki Ichigo. Mahasiswa popular se kampus Tokyo, aku dan temanku pernah menjadikanmu sebagai bahan tugas yang diberikan oleh dosen kami beberapa minggu yang lalu."

" Maksudmu Momo?" selidik Ichigo

" Kau kenal? Ya, maaf saat terakhir wawancara aku tidak bisa ikut karena ada pekerjaan." Jelas Rukia

" Itu bukan masalah dan Momo itu adik kelasku waktu SMP. Tapi Rukia …. "

"Maaf, aku ada kelas sepuluh menit lagi. Harus pergi, dan sekali lagi maaf aku tidak bisa menjadi temanmu Ichigo." Ucap Rukia dengan berdiri dan sedikit membungkukkan badannya sebagai salam."Aku harap kita tidak bertemu lagi." Rukia berlalu dari ruang baca perpustakaan.

Ichigo hanya diam dan kalimat terakhir yang Rukia ucapkan terekam jelas di otaknya.

'Aku harap kita tidak bertemu lagi'

Kalimat tersebut mampu menampar dirinya tepat dihatinya . Dadanya sesak dan rasanya ada sebongkah batu besar yang ia hantamkan keras dengan kepalanya sendiri. Berat dan terasa sakit. Apakah Rukia memang se misterius itu,

.

.

.


.

.

.

Beberapa hari setelah pertemuan Ichigo dengan Rukia di perpustakaan itu, tidak ada satupun kesempatan yang mereka ijinkan untuk saling bersua. Terutama Rukia, ia akan lari atau bersembunyi jika mendengar nama Ichigo atau sekedar melihat sosok pria berambut orange itu.

Saat Momo bertanya tentang apa ada masalah dengan senpai nya itu, Rukia hanya menjawab halus dan menolak bercerita. Momo tahu, jika semua hal dan cerita yang ada di dalam kehidupan Rukia hanya satu orang yang ia percaya untuk bercerita, Kuchiki Hisana mendiang ibu Rukia.

Pagi itu, akhir pekan di setiap bulannya Rukia akan mengosongkan satu hari dari kegiatan mencari uang untuk menjenguk seseorang. Letaknya agak jauh dari kampusnya dan perlu beberapa jam untuk tiba disini menggunakan bus dan berjalan beberapa meter untuk menyapa seseorang itu.

" Kaa-san, aku datang."

Ucap Rukia sambil mencium batu nisan yang ada dihadapannya sekarang,

Kuchiki Hisana

" Maaf, kedatanganku kali ini agak terlambat. Ada beberapa tugas kuliah dan pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan, jangan marah ya Kaa-san. Rukia janji bulan depan Rukia akan datang ditanggal yang sama"

Sambil menyapa mendiang ibunya, Rukia membersihkan rumput-rumput yang sangat asyik tumbuh menemani tempat istirahat terakhir sang pelipur laranya.

Rukia masih terus berbicara entah membahas apa mungkin sesuatu yang seharusnya tidak ia ceritakan ke batu nisan ini, bibirnya terus bergerak tanpa mau diam jika ia sudah berada di tempat ini. Ini adalah daerah nyamannya, tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri. Kuchiki Rukia.

Di batu nisan tersebut tidak ada ukiran tanggal lahir atau tanggal kematian yang disemayamkan disana. Bahkan sekedar kalimat rest in peace atau in memoriam pun tidak disematkan disana. Rukia yang memintanya, karena ia ingin Kaa-san nya hanya terbaring disana selama beberapa hari dan bangun lagi.

Itu pemikiran Rukia saat berumur tujuh belas tahun, kejadian itu peristiwa yang menyebabkan Rukia kehilangan sosok pelindung dalam dunianya. Empat tahun ia habiskan dengan memandang batu nisan Kaa-san nya, datang setiap bulan dengan tanggal yang sama dengan tanggal lahir ibunya tanggal sepuluh. Apa yang Rukia lakukan setiap bulan datang ke makam Kaa-san nya.

Bercerita, ia ingin membagi cerita dunia yang ia jalani sekarang dengan Kaa-san nya. Sungguh miris, bukankah Rukia bisa bercerita kepada sosok yang hidup yang bisa menjawab atau paling tidak memberi komentar tentang indahnya kehidupan yang ia jalani.

" Kaa-san, aku bertemu dengan seseorang yang sangat tampan dan menggemaskan. Hampir sama dengan Kaien-nii, sifat dan rupanya tapi dia memiliki warna rambut yang sangat mencolok tapi menurutku dengan rambut yang seperti itu dia terlihat lebih tampan. Rambutnya asli Kaa-san, pasti Kaa-san tidak akan percaya. Mana ada manusia yang punya warna rambut orange, tapi memang ada lho Kaa-san."

Dengan wajah semu merona dan banyak ekspresi tergambar di wajahnya ia bercerita tentang sosok yang secara tiba-tiba datang dan mengganggu alur cerita di hidupnya menjadikan alurnya menjadi sedikit berbelok.

" Kaa-san tahu, kalau dia sedang marah atau cemberut kerutan didahinya akan bertambah tapi bukannya membuat ia terlihat jelek malah membuat aura yang ia pancarkan dari matanya terlihat semakin tampan. Entah apa yang ada di pikiranku selama beberapa minggu ini, dia selalu saja mengikuti ingatanku bahkan saat aku mau tidur."

Masih bercerita dengan duduk bersila dekat nisan Kaa-san nya.

" Kaa-san tahu, dia ingin berteman denganku. Aku kaget waktu ia memintaku untuk jadi temannya tapi Kaa-san ... aku menolaknya karena aku tahu, ikatan berupa teman hanya lah tipuan."

Gadis itu menunduk saat ia bercerita tentang penolakannya. Ada sebersit rasa menyesal karena sebenarnya ia juga ingin berteman dengan pria itu, Rukia tidak bisa membohongi dirinya sendiri saat percakapan di perpustakaan itu, waktu Ichigo dengan terang-terangan meminta Rukia untuk menjalin ikatan persahabatan, mata pria itu tidak bohong ada harapan besar yang terpendam di sinar matanya saat sang pria meminta ikatan itu terjalin.

Rukia tahu, pria itu serius, tapi sekali lagi ikatan yang ia yakini itu hanyalah ikatan semu tanpa bayangan. Rukia tidak ingin merubah alur cerita dalam kehidupannya, ia sudah tulis semua cerita dalam hidupnya dan ia akan menjalani skenario yang ia rancang untuk hidupnya.

Tapi, bukankah takdir itu mutlak milik Tuhan? Apa yang manusia bisa lakukan hanyalah berusaha dan menjalani takdir yang sudah Tuhan gariskan bahkan sebelum ia lahir. Takdir itu bukan skenario atau cerita di novel, itu adalah alur yang Tuhan buat untuk mengisi dunia yang telah Tuhan ciptakan agar dunia ini tetap seimbang. Kata orang kita bisa mengubah takdir, jika kita mau berusaha.

Tapi untuk Rukia, dia sudah melepaskan takdirnya dan menulis ulang skenario takdirnya dengan tangannya sendiri.

" Aku menyukainya Kaa-san ... bolehkan?"

Senyuman yang hanya Rukia perlihatkan kepada Kaa-san nya, senyum dengan sinar mata yang hidup yang menandakan bahwa ia bahagia.

" Kaa-san, aku merindukanmu ... "

.

.

.


.

.

.

Halo semua,

Terima kasih untuk reviewnya, maaf tidak bisa balas satu per satu tapi dengan sekuat tenaga saran dari kalian semua akan Nicky lakukan setahap demi setahap ( kalau langsung semua nanti aku nya pingsan )

Maaf, rate M tapi sampai chapter tiga belum ada 'itu" nya. Belum saatnya, Nicky tidak suka langsung tancap, pelan-pelan dulu mungkin chapter 5 nanti sudah sedikit ada. Mari berimajinasi atau membayangkan galaunya si rambut oranye itu saat berjuang. Masa lalu Rukia agak sedikit menyeramkan, saya buat karakter Byakuya dan Isshin di sini jadi antagonis.

Sekali lagi, bimbingannya guys ... maaf banyak misteri karena semua memori yang tersimpan itu selalu terselubungi dengan alur misteri,

Jaa naa ... Arigatou