Chapter 4
"PERASAAN TERBUANG"
Takdir itu misteri, sejauh apapun kau berlari sekuat apapun kau menghindar. Ia akan selalu menghampirimu seperti udara. Tak berwujud tapi kau selalu membutuhkannya.
.
.
.
A fanfiction for Ichiruki
I love their characters
MANGA BLEACH
DISCLAIMER BY TITE KUBO
JUST FF NO MORE
by
Nicky
.
.
.
Ichigo tidak tahu, nalarnya belum bisa mencerna dan mengerti dengan jawaban Rukia tempo hari. Kenapa saat hatinya mempunyai perasaan ingin memiliki, rasa itu hilang tertelan ombak jauh terseret hingga jatuh tenggelam dalam jurang lautan yang gelap dan dalam. Tanpa ada cahaya ataupun pegangan di dasarnya, ia termenung dalam kesendiriannya selalu membayangkan raut wajah sang gadis saat memintanya untuk menjauh. Kalimat itu setiap waktu terngiang, seperti melodi yang menemani langkah kehidupannya.
' Aku harap kita tidak bertemu lagi'
Angin semilir meniup lembut belaian rambut sang pria yang berwarna langit sore itu. Ichigo terduduk di rumput taman belakang gedung Laboratorium Anatomi fakultas kedokteran kampus Tokyo, ia hanya memandang lembut sederetan bunga lili putih yang sesekali tergoyang angin dan sesekali matanya menatap putihnya awan.
Hari itu cuaca tidak terlalu panas, angina semilir membuat udara menjadi sejuk karena angin selalu menyapa setiap detiknya.
" Kaa-san, bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu …" ucap Ichigo lirih
" Kenapa dia tidak mau menerima ajakan pertemananku? Aaargh … kenapa aku penasaran dengan dirinya? Ini apa?"
Jantungnya berdesir saat bibirnya menggumam satu nama, ia letakkan telapak tangan yang kekar itu tepat di jantung yang sekarang bergerak dengan irama yang tidak pasti. Ia merindukan sosok sang gadis yang hampir sebulan ini menyita perhatiaannya. Andai saja Rukia tahu betapa dalamnya rasa ingin seorang Kurosaki Ichigo untuk dapat menjalin ikatan persahabatan dengannya, tapi gadis itu menolaknya.
Pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan kepada dirinya sendiri. Dadanya menghangat saat ia bertanya kepada dirinya sendiri tentang perasaan yang tumbuh perlahan menghiasi relung hatinya yang lama ia tutup sejak ibunya jauh dari dirinya.
Kenapa seseorang yang menjadi model popular syndrome bisa stress berat hanya gara-gara penolakan. Ichigo bukanlah tipikal pria playboy, dia belum pernah pacaran atau bilang suka ke wanita manapun. Dia memang sedikit berandalan, bilang saja pernah ikut balap liar, berantem, bolos, dan segudang prestasi yang disematkan oleh guru kedisiplinan saat sekolah menengah dulu. Itu dulu, saat iya masih remaja. Sekarang ia sudah berumur dua puluh dua tahun, bukan bocah ingusan lagi yang tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Tapi satu hal yang tidak bisa Ichigo lepaskan dari sifat berandalannya, ia pernah mencoba untuk berhenti tapi ia tidak kuat sendiri. Menjauh dari hal itu bisa membuat dunianya seakan runtuh, ia sangat membutuhkan hal itu.
" Sudah dapat barangnya?" Tanya Ichigo kepada seseorang di saluran handphone
" Belum, maaf Senpai barang yang senpai minta agak sulit untuk didapatkan" jawab seseorang diseberang
" Kau tahu, aku sudah memesan barang itu sejak satu minggu yang lalu. Aku sangat memerlukannya. Tolong." pinta Ichigo lirih
" Baiklah …. Baiklah, tapi harganya berbeda ya Senpai. Ini kualitas bagus, aku mendapatkannya dengan susah payah. Senpai mau?"
" Aku siap membayar barang itu dengan harga berapapun. Kirim ke apartemenku nanti malam jam sepuluh. Ingat! Lewat tangga darurat, kau tahu apartemenku kan?" Tanya Ichigo
" Tentu aku tahu, baiklah Senpai aku sendiri nanti yang akan mengantarkannya. Terima kasih, maaf harus menunggu lama"
" Hm" balas Ichigo
Pip pip pip
.
.
.
.
.
.
Lorong-lorong kelas fakultas kedokteran kampus Tokyo ini akan lenggang saat jam menunjukkan pukul dua. Biasanya mereka ada kelas praktek, sepi bahkan bisa dihitung menggunakan jari tangan jumlah mahasiswa yang berjalan di koridor sepi ini.
" Ishida, ini undangan untukmu." ucap Nel, gadis ah ralat dia bukan gadis lagi tapi seorang wanita berambut hijau tosca itu dengan menyerahkan sebuah undangan.
" Wellcome Party? Siapa yang datang?" Tanya Ishida, cowok jenius se fakultas kedokteran dengan ciri khas bermata empat, memakai kaca mata." Sepertinya aku mencium keganjilan disini." keluh Ishida
" Tenang Ishida-kun, selalu sesuai apa yang ada dalam pikiranmu. Tapi maaf, Nel tidak bisa memberi tahu special guest acara ini. Pokoknya datang dan satu lagi seret itu manusia berkepala labu untuk datang sudah beberapa hari ini mukanya kusut dan ditekuk. Aku bosan melihatnya." ujar Nel
" Hm" balas Ishida sambil berlalu pergi
.
.
.
.
"Pesta penyambutan? Tamu sepenting apa sampai harus diadakan acara party seperti ini? Dan lagi kenapa harus di karaoke tempatnya. Awas kau Nel! Kalau mau buat acara ditempat yang lebih nyaman kenapa. Karaoke? Maaf, aku tidak akan ikut." ujar Ichigo geram
" Dengan segala hormat tuan Kurosaki, wanita itu memintaku untuk menyeretmu supaya datang. Dia mengkhawatirkanmu, beberapa hari ini aku lihat keadaanmu sungguh memprihatinkan. Bad mood mu semakin tinggi kadarnya, dan satu lagi kerutan di jidatmu tambah menumpuk. Apa ada yang mengganggu? Masih tentang gadis violet itu?" Tanya Ishida dengan nada yang hati-hati
Ichigo hanya menunduk setelah temannya si kaca mata empat menyinggung tentang gadis yang kini berseliweran di pikirannya sepanjang hari.
Ia sebenarnya bingung, si gadis violet ini membangun tembok tinggi untuk orang-orang yang ingin mengenalnya. Setiap pagi dan siang hari si sulung Kurosaki ini akan duduk di taman kampus yang letaknya diantara dua gedung kelas fakultas kedokteran dan psikologi.
Tempat yang strategis untuk mengobati rindu melihat gadis yang diberi julukan oleh Ishida dengan 'gadis violet' itu.
Setiap hari, Ichigo akan duduk di bangku sama. Melihat seluruh aktifitas mahasiswa dua jurusan tersebut. Ia selalu melihat Rukia setiap pagi datang dari arah yang sama dengan sedikit berlari dan sesekali melirik jam tangan yang ia kenakan. Sungguh manis menurutnya, melihat ekspresi sang gadis violet yang sedang terburu-buru, ingin sekali ia ikut berlari dan menggenggam tangan mungil sang gadis agar cepat sampai kelas.
Siang harinya, Ichigo duduk di tempat sang sama dan melihat beragam ekspresi wajah dari si gadis violet yang bisa membuat bibir tipis si pemilik surai jingga ini ikut tersenyum. Ichigo hanya berani menatapnya dari jauh, merekam semua hal yang gadis itu lakukan. Itu cara Ichigo mengenal Rukia, walaupun memang membuat ia tersenyum miris. Mencintai sang gadis tanpa ikatan perkenalan. Konyol menurutnya, ingin menertawai diri sendiri karena kebodohannya.
Satu hal yang Ichigo dapat dari mengenal Rukia secara jauh. Rukia hanya berbicara dengan Momo, lain dari itu ia akan sibuk membaca buku. Bukankah ia seperti tidak punya teman?
R
U
K
I
A
Mobil Ferrari hitam meluncur dengan kecepatan sedang melintasi area pembangunan apartemen kelas menengah ke bawah. Kawasan yang cukup padat, toko dan beberapa tempat hiburan berjejer rapi sekaligus ramai pengunjung. Maklum akhir pekan, waktunya menikmati hingar bingar dunia malam. Duo mahasiswa Tokyo University yang sedang duduk di bagian depan mobil tersebut tengah asyik berbincang masalah pertandingan bola yang akan tayang tengah malam nanti.
" Oi Kurosaki, cepatlah turun. Acara akan dimulai sebentar lagi. Aku bisa dibunuh sama wanita itu jika datang terlambat. Kau dengar tidak Kurosaki?" teriak Ishida geram saat keluar dari mobilnya
" Tidak perlu berteriak Ishida. Aku sudah tahu" ucap Ichigo lirih
" Eh … " Ishida kaget " Aku minta maaf kalau membuat mood mu kambuh. Turunlah, ayo temui teman-teman dan sedikit tersenyum. Mungkin suasana hatimu bisa sedikit membaik, kita sudah lama tidak berkumpul seperti ini. Bermain, bercanda dan minum sampai puas pulang tidur dan besok berangkat ke kampus." Ujar Ishida terkekeh
" Kita bukan bocah ingusan lagi Ishida. Mungkin saranmu kali ini bisa aku langsung praktekkan. Ayo turun!" Ajak Ichigo sambil membuka pintu mobil Ishida
Minimalis, simple dan interested. Orang mana yang begitu bodohnya membangun tempat usaha di daerah yang seperti ini, pikir Ichigo. Sebenarnya Ichigo bukan anti dengan kalangan menengah ke bawah hanya saja Si bodoh yang membangun tempat hiburan ini sepertinya kelebihan uang sehingga rela membangun tempat hiburan untuk menghibur kelelahan hidup yang mereka jalani.
" Tuh mereka, VVIP Room nomor delapan kan?" tanya Ichigo
" Ah iya" jawab Ishida cepat " Halo semuanya, ayo berpesta sampai pagi. Neelll, siapkan beer terbaik yang kau punya." pinta Ishida cepat
" Tentu, untuk jamuannya pasti aku akan memberi pelayanan utama. Sedang disiapkan, special guest akan tiba tiga puluh menit lagi. Ada yang mau nyanyi?" Tanya Nell
Chad, Keigo, Mizuro dan beberapa orang lainnya hanya bersorak yang tidak jelas. Mereka bernyanyi, bergoyang ada pula yang tanding minum. Ichigo merasa tidak menikmati acara Wellcome Party malam ini. Ia butuh ketenangan, pikirannya kalut. Ia ingin sendiri,
" Melamun lagi, Tuan Labu?" Tanya gadis berambut tosca sambil memberikan sebotol minuman pada Ichigo
" Ah, kau Nell. Sedikit, aku sedang tidak ingin bersorak riang seperti mereka."ucap Ichigo sambil menunjuk teman-temannya yang sedang menikmati pesta dengan dagunya dan meminum minuman yang Nell berikan tadi." Cukup dengan menenggak minuman ini dan diam sampai aku tertidur mungkin lebih baik."
" Tidak mau cerita, Ichigo-kun?" tanya Nell
" Berhentilah memanggilku dengan sapaan itu. Coba pikir, orang satu kampus mengira kita pacaran. Kalau si biru itu tahu aku bisa dicincang habis tidak bersisa." Ujar aichigo
" Kau sangat takut dengan dia, Ichigo" Canda Nell
" Bukan takut tapi solid. Dia sahabatku." Jawab Ichigo asal
" Aku perlu tahu sesuatu, Ichigo ... Nell?" Tanya sang pemuda pemilik rambut biru langit tersebut
" Grimm... " Kaget mereka serentak
.
.
B
R
E
A
K
.
.
" Ternyata ini acara penyambutanmu, kalau aku tahu aku tidak akan mau datang." Ucap Ichigo jengkel
" Eh, kau tidak rindu padaku … Ichigo-kun?" Jawab Grimm dengan entengnya
" Maaf, aku masih menyukai perempuan …" Ujar Ichigo sambil terus meminum sake.
" Ku dengar kau sedang ada masalah beberapa hari ini. Mau cerita? Nell sangat mengkhawatirkanmu." Ujar Grimm cemas
" Bukan masalah yang besar, aku sedang bad mood."
" Grimm … sayang …. Ayo …" Ujar Nell manja
Dan yang benar saja, semua sudah berpasangan. Bahkan si mata empat tengah asyik bercumbu mesra dengan seorang wanita yang memakai pakaian mini.
Wanita pelacur,
Hanya Ichigo sendiri yang masih waras, dia masih bisa mencari kehangatan tubuh seorang wanita dari wanita baik-baik. Seumur hidup bagi Ichigo yang namanya PELACUR, adalah kotoran. Jangan harap Ichigo akan melirik, menyebut sebutannya pun pantang.
Wanita pelacur, seseorang yang menghancurkan kehidupan indah remaja Ichigo dan keluarganya.
Seorang pelacur yang berani memporak-porandakan keutuhan cinta di tengah keluarganya.
Sampai mati pun jangan harap, seorang pelacur bisa menyentuh kulit Ichigo.
Mereka, para pelacur itu seharusnya enyah dari bumi. Pikir Ichigo
" Sial." umpat Ichigo
Semua teman Ichigo tengah bercumbu panas dalam ruangan itu, hanya Ichigo sendiri yang masih sadar. Memang sedikit agak mabuk tapi dia masih waras untuk melakukan itu.
Ichigo memilih keluar dari ruangan itu, muak dan muntah melihat aksi para pelacur dalam melakukan pekerjaannya. Sungguh, mereka seperti tidak punya harga diri. Bukankah masih ada sejuta pekerjaan yang layak yang bisa mereka ambil.
.
.
.
Agak sempoyongan saat Ichigo berusaha keluar dari ruangan VVIP tersebut. Dia masih setengah sadar, dilangkahkan kakinya menuju pintu utama karaoke ini. Ia ingin pulang, memejamkan mata sejenak agar pusingnya berkurang.
Tapi baru beberapa langkah saat melewati sebuah ruangan VVIP yang lain, Ichigo terbelalak. Seseorang yang selama ini selalu ia perhatikan dari jauh keluar dari ruangan itu dengan baju yang sama yang dipakai oleh para pelacur itu.
Ia tidak yakin. Dia tidak ingin percaya. Tapi matanya masih awas dengan apa yang dia lihat.
Ia tersenyum miris. Gadis yang sudah membuat hari-harinya kalang kabut karena penolakannya ternyata seorang ..
PELACUR
" Lucia … Hm" lirih Ichigo pelan kepada dirinya sendiri
Dilangkahkan kakinya dengan lebar agar bisa menemui gadis itu. Dicengkeramnya lengan gadis itu dengan sangat kasar dan mengunci tubuh mungil sang gadis itu antara tembok dan dirinya.
Rukia kaget. Seseorang menarik kasar tubuhnya dan membenturkan punggung mungilnya ke tembok. Saat ini sudah jam satu malam. Semua pelanggan sedang tengah asyik-asyiknya menikmati hiburan.
Mata Rukia membulat tajam. Bagaimana dia bisa bertemu Ichigo disini.
" Lucia .. hm?" Tanya Ichigo dengan tatapan jijik
" Apa yang sedang senpai lakukan disini?" Tanya Rukia dengan nada sopan.
" Mencari kehangatan dan hiburan. Ah, bukankah kau salah satu dari mereka. Bagaimana kalau aku minta pelayananmu untuk beberapa jam ke depan? Sepertinya pelayananmu juga tidak akan terlalu buruk, mau pilih dihotel atau salah satu ruangan disini? Hm." Ujar Ichigo jijik
" Apa maksud senpai?"
" Jangan pura-pura bodoh Lucia. Gadis polos dan lugu sepertimu ternyata seorang PELACUR!" teriak Ichigo
Mata Rukia membulat sekali lagi. Dia sungguh terluka, seseorang yang berhasil membuat hatinya kembali diterangi cahaya menyebutnya sebagai seorang pe ..la .. cur.
" Ada yang salah dengan pekerjaanku? Aku hanya butuh uang untuk kuliahku, tidak ada hubungannya denganmu kan ICHIGO?" Rukia berhasil menata kembali serpihan-serpihan kesadarannya untuk pria yang sudah mengunci tubuh mungilnya dengan cengkeraman kedua tangan kekar sang pria.
" Berapa harga tubuhmu?"
Mata sang pria menajam. Menunjukkan bahwa amarahnya sudah berada di puncak.
Plak
Tangan mungil itu menampar pipi kiri sang pria dengan keras.
" Oh, kau ingin bermain kasar rupanya. Rupanya gadis rendahan sepertimu memiliki keberanian untuk menyentuhku." Ujar Ichigo dengan amarah yang sudah meledak
" Lepaskan aku," pinta sang gadis
Diam, ia masih diam.
" Lepaskan tanganmu," pekik Rukia
Ia masih diam dan menunduk tajam ke lantai.
" KENAPA KAU HARUS MELAKUKAN INI KEPADAKU?"
Rukia terlonjak. Ichigo berteriak keras dihadapannya dengan tatapan marah. Ia terlihat terluka,
" Kau, seorang pelacur yang sudah berani memporak-porandakan kehidupanku dan sekarang bertanya apa hubungannya?" Lirih Ichigo dengan memekik
Rukia terdiam. Ia tahu bahwa perasaan Ichigo sedang kalut sekarang.
" Kita tidak punya hubungan apa-apa." Jawab Rukia datar
Rukia pergi setelah cengkeraman di kedua lengan mungilnya melonggar. Ichigo nampak terkaget mendengar kalimat terakhir yang Rukia ucapkan. Ya, dia tidak punya hubungan apa-apa dengan Rukia. Kenapa dia harus marah, tapi ia harus memastikan.
Ditariknya lengan mungil itu sekali lagi. Ichigo menarik kasar dagu sang gadis agar menghadapnya dan mengunci wajah mungil itu dengan kedua telapak tangannya.
Menutup keterkejutan wajah Rukia dengan sebuah ciuman. Diciumnya dengan kasar bibir mungil Rukia. Rukia memberontak, dipukulnya dada sang pria dengan kepalan kedua tangannya. Kakinya terasa lemas, ia sungguh tidak sanggup melawan tubuh pria ini.
Percuma, pertahanan sang pria berlipat-lipat lebih besar dari pukulan tangannya.
Ia menangis. Pria senja ini mencuri ciuman dari sang gadis dengan kasar.
Ichigo semakin memperdalam aksinya. Ia hanya ingin memastikan, perasaan apa yang akan muncul saat ia melakukan ini.
Tes
Tes
Tes
Ia menggigit bibir bawah sang gadis dengan kasar. Lidah dan bibir dari sang pria setengah mabuk ini terus masuk ke mulut sang gadis tanpa memperhatikan rupa wajah gadis yang tengah ia paksa berciuman.
Ichigo merasakan resapan cairan bening masuk ke mulutnya, asin.
Kedua tangan mungil sang gadis masih terus mencoba memukul-mukul dada sang pria senja ini agar tersadar dari apa yang dilakukan.
Persetan, pikir Ichigo. Bukankah gadis ini pelacur. Sudah berapa ratus pria yang mencicipi bibir ini. Kenapa dia menangis. Ah, persetan.
Semakin larut, ia melepaskan bibir tipisnya sejenak dan mendekatkan lagi wajahnya.
Diraupnya bibir mungil itu dengan cepat, nafas berburu. Ia tak peduli jika nafas sang gadis menghilang.
BUAGH
Tubuh Ichigo terkapar di lantai. Darah mengalir di ujung kiri bibir tipisnya.
" Bangsat kau!" teriak lelaki yang memukul Ichigo
Ichigo hanya diam. Duduk terkapar dan sesekali mengusap cairan merah yang keluar dari mulutnya.
Tubuh Rukia jatuh melorot. Nafasnya berburu, air matanya masih sibuk ingin jatuh dari kedua irisnya. Ia lemas,
" Rukia … Rukia …?"
Yang dipanggil hanya diam,
" Laki-laki bangsat, apa yang kau lakukan ha?"
Ichigo hanya terdiam. Matanya melirik tajam sosok gadis yang jatuh bersandar tembok disampingnya.
" Pelanggan, huh" ucap Ichigo yang menyandarkan kedua sikunya pada lutut kakinya " Maaf, aku pinjam sebentar bibirnya untuk memuaskanku. Ha ha" ia tertawa " Tidak terlalu buruk, aku harap kau berhasil merobeknya nanti"
BUAGH
BUAGH
BUAGH
"Bajingan"
Kalap, pria yang menolong Rukia tadi gelap mata. Wajah tampan sang pria senja dipukul tak kenal ampun. Dan yang dipukul, hanya diam.
Akhirnya security datang, jika tidak entah pria yang dipanggil Hisagi ini mungkin akan segera membunuh siapapun yang berani menyakiti Rukia.
" Hisagi-san, aku pamit pulang. Maaf atas insiden ini." kata Rukia cepat setelah ia berhasil mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
Ia berlari, meninggalkan sang manajer tempat ia bekerja dan pria yang telah melukai harga dirinya.
Kenapa?
.
.
.
.
.
.
Dengan diselingi tangisan, Rukia mengganti baju dan membersihkan muka yang masih tertempel riasan dengan cepat di ruang loker.
Sungguh, ini bukan hal yang ia sudah tuliskan dalam skenario hidupnya.
Ia butuh punggung tangan seseorang untuk menangis sekarang.
" Kaa-san … Kaa-san … Kaa-san"
Batinnya menjerit. Ia berlari menuju flat kecilnya. Bibirnya juga terluka, tapi ada yang lebih membuat hatinya tercabik.
Kurosaki Ichigo, seseorang yang berhasil menghidupkan kembali cahaya yang redup di hati Rukia.
Pria yang membuat hari-harinya indah karena ternyata sang pria tak pernah absen untuk menyapanya meski hanya dari jauh.
Pria yang selalu setia duduk setiap hari di bangku taman dan selalu memperhatikannya.
Pria yang dengan seiring berjalannya waktu membuat hujan deras di hatinya berhenti.
Pria yang selalu mencuri ekspresi setiap wajahnya saat berbicara.
Ini bukan cinta yang tiba-tiba muncul karena hanya menyukai ketampanannya. Tapi Rukia menyadari, sosok yang ia tolak itu juga butuh dirinya untuk menghentikan derasnya hujan yang sekarang masih terjadi di hati pria tersebut.
Mereka tidak pernah bertemu ataupunmengenal jauh kepribadian dan masa lalu masing-masing.
Mereka yang selalu mengamati satu sama lain dari jauh.
Perasaan yang konyol dan menggelikan bukan?
Jika hati bisa menjerit lepas keluar, mungkin situasi seperti ini tidak akan pernah terjadi.
.
.
.
.
.
.
Sebelumnya, yang pertama maaf untuk typo dan sebagainya.
Yang kedua, terima kasih sudah me review tulisan jelek ini.
Yang ketiga, saran dan kritik masih sangat diperlukan.
Waktunya balas review dari senpai semua
Lucya Namikaze - terima kasih sudah sudi membaca dan memberi salam hangat di FF saya. Do'akan semoga otak saya keep going saat menyentuh keypad
Ella Maby-chan - heboh apa ya di FF? tentang penggambaran rate M ya? he he tenang saja, saya gak ahli dalam mengkhayal adegan seperti itu. Terima kasih .. saran dan kritik selalu mendukungku
LuciaKuchiki - terima kasih, sabar ya. Bulan september sudah masuk kuliah jadi maklum sendiri lah.
Azura Kuchiki - Chapter yang ketiga ya, butuh perjuangan ekstra ternyata he he Rukia punya kenangan buruk tentang keluarga besarnya. Yup... duo shinigami itu Isshin ma Byakuya jadi dalangnya. Byakun belum saatnya take scene he he thanks anyway buat coretan reviewnya
Yuiko Narahashi - terima kasih sarannya, first time masuk dunia FF ya gitu lah agak kagok. But saran dan kritik selalu mendorong diriku agar lebih baik.
fuuchi - terima kasih atas sarannya, chapter-chapter depan mohon bimbingannya
rukichigo - ya, saya pendatang baru. mohon bimbingannya ... Soal tanda ini saya masih belajar dan diusahakan di next chapter bisa lebih baik. Terima kasih atas saran dan coretan di review. Untuk kata-kata memang saya buat sedikit-sedikit terus bertambah seiring berjalannya chapter. biar tambah me'misteri'kan alur. Ending dah dapet kok. Tetap happy ending tapi di tengah banyak konflik yang menjadikan mereka semakin menderita.
Wah, terima kasih untuk semuanya.
Do'akan FF first time saya ini laku dibaca ...
Pamit dulu, next chapter menyusul ...
