Chapter 5
"HEROIN"
Takdir itu misteri, sejauh apapun kau berlari sekuat apapun kau menghindar. Ia akan selalu menghampirimu seperti udara. Tak berwujud tapi kau selalu membutuhkannya.
.
.
.
A fanfiction for Ichiruki
I love their characters
MANGA BLEACH
DISCLAIMER BY TITE KUBO
JUST FF NO MORE
by
Nicky
.
.
.
Jika hati bisa berteriak sendiri tanpa harus diucapkan lewat mulut mungkin perasaan Ichigo tidak akan seperti ini. Entah, apa yang pria orange itu rasakan. Ia hanya ingin melupakan perasaannya, ini lebih menyakitkan daripada kata penolakannya saat itu. Sulit untuk menerima bahwa gadis yang ingin dia miliki ternyata adalah seorang pelacur.
Wanita malam yang selalu sibuk merayu para lelaki,
Wanita malam yang bisa dengan mudah bercumbu mesra dengan setiap laki-laki,
' Bangsat'
Ia mengumpat dalam hati. Hatinya berdenyut sakit ketika ia mengingat wajah gadis yang ia cium beberapa hari yang lalu. Bukankah ia seharusnya membenci sang gadis dengan semua hal yang ada pada diri sang gadis tetapi kenapa perasaan Ichigo seperti enggan untuk menerima kenyataan ini. Muak, ini sungguh memuakkan.
Beberapa botol minuman keras dengan berbagai merk asyik bergelimpangan di seluruh ruangan apartemen Ichigo. Botol-botol itu kosong, seluruh cairan memabukkan yang ada didalamnya sudah ia tenggak dalam beberapa hari ini.
Ia duduk di sudut ruangan kamarnya dengan lengan dan kaki sebagai tumpuan kepalanya. Masih dengan beberapa jarum suntik yang tergeletak disamping tubuhnya. Dan beberapa botol-botol kecil yang sebagian isinya sudah dipakai oleh pria ini. Di lengan tangan kirinya masih tertancap satu jarum suntik yang masih ada beberapa mili cairan haram itu. Ia sudah tak sadarkan diri dengan menikmati semua jenis cairan yang sibuk membuat pikirannya melayang jauh dan bermimpi.
Ya, dia bermimpi gadis itu.
Tersenyum lembut dengan mata violetnya, yang membuat bibir sang pria ikut tersenyum saat melihatnya.
.
.
.
.
.
.
" Berapa password nya Grimm?" Tanya Ishida
" Coba dengan tanggal lahirnya.." jawab si pria rambut biru ini
" Sudah aku coba dan gagal, cepatlah. Kau tidak ingin melihat dia mati kan?"
" Tenanglah dulu, terakhir aku ke sini bulan lalu. Ah, tanggal lahir bibi Masaki. Enam digit." Jawab Grimm
Dan yang benar saja, pintu itu terbuka saat si mata empat ini sibuk menggerutu karena si rambut biru lama mengingat nomor password apartemen si rambut orange.
Dari depan pintu apartemen, dua orang ini hanya diam dan melihat seluruh ruangan.
Berantakan dan hancur.
Botol-botol minuman keras terhambur di seluruh ruangan ini.
Semua barang-barang di apartemen ini berlarian dan enggan untuk kembali ke tempatnya.
" Dimana dia?" Tanya Ishida
" Mungkin di pojok kamar, cepatlah!" desak Grimm " Jangan kaget dengan aksinya, simpan itu nanti karena kita akan sibuk dengan si kepala orange. Ya Tuhan, apa yang terjadi dengannya." Teriak pria rambut biru.
.
.
.
I
C
H
I
G
O
.
.
.
Dan yang benar saja, orang yang mereka cari meringkuk di sudut kamar yang gelap tersebut dengan semua benda haram yang menemaninya.
" Astaga Kurosaki," Ishida berlari
Ia terkejut melihat sahabat baiknya duduk terdiam dan menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.
Ia sedang berkhayal. Pria orange itu sedang asyik dengan dunia yang ia buat sendiri.
Grimm mulai membersihkan semua bekas jarum suntik dan botol-botol kecil berisi barang haram itu lalu membakarnya sedangkan Ishida sibuk menepuk nepuk ringan pipi sang Kurosaki agar tersadar dari dunianya.
Grimm hanya menatap sendu ke arah muka sang pria orange, pria berambut biru itu menyesal telah membuat sahabat baiknya yang sudah ia anggap sebagai adiknya ini terjerumus dan asyik dengan barang-barang haram itu.
Heroin,
Obat terkutuk itulah yang menemani hari-hari milik Kurosaki Ichigo ketika ia butuh kesenangan didunianya ketika dunia yang ia hadapi terus menyakitinya.
Pria itu sudah sembuh dari rasa ketergantungannya tapi tidak untuk Ichigo.
Ichigo terlena, pria itu sadar dunia yang dihadapi Ichigo selama ini memang terlalu berat untuknya.
Keluarga yang hancur karena perselingkuhan,
Sang ayah, Kurosaki Isshin yang lebih memilih seorang pelacur untuk menemani hari-harinya.
Dan sang ibu Kurosaki Masaki yang lebih memilih meninggalkan Ichigo dan tidak ingin berbicara dengan anak sulungnya sampai sekarang.
Apa sebenarnya salah Ichigo disini?
Dia hanya remaja ingusan berumur lima belas tahun saat itu.
Dia membenci semua kenyataan yang telah terbuka. Sang ayah yang selingkuh dan rela menduakan istri yang telah memberikan tiga anak untuknya.
Dia membenci sikap ibunya yang meninggalkan dirinya sendiri di dunia kejam ini dan enggan untuk berbicara dengannya selama tujuh tahun ini meskipun hanya untuk menanyakan kabar.
Sungguh jika bisa Grimm ingin menunjukkan kepada dua orang yang sudah ia anggap sebagai paman dan bibinya ini betapa hancurnya kehidupan anak sulung mereka.
Ichigo memang terlihat tegar, hanya dari luarnya.
Ia sangat rapuh, dan bisa hancur kapan saja.
Pria berambut biru itu tahu kenapa sang ibu meninggalkan putra sulungnya dan lebih memilih tinggal di Jerman dengan kedua putri kembarnya.
Karena Ichigo adalah pewaris tunggal dikeluarga Shiba, ayah Ichigo Kurosaki Isshin. Yang merupakan putra tunggal di keluarga Shiba.
Ichigo harus menerima kenyataan pahit bahwa ibunya lebih suka membuang dirinya.
Kurosaki Isshin dan Kurosaki Masaki belum bercerai. Keluarga besar Kurosaki-dari sang Ibu memberi syarat bahwa jika ada perceraian maka seluruh harta bersama mereka akan berakhir menjadi harta yayasan.
Untuk itu sang Ibu, Kurosaki Masaki memilih menerima tawaran dari keluarga besarnya untuk mengurusi perusahaan yang ada di Jerman dan menetap disana.
Dan sang ayah, Kurosaki Isshin pewaris tunggal keluarga Shiba. Pemilik tunggal Rumah Sakit Tokyo juga meminta hak yang adil. Sang Ayah-Isshin meminta untuk putra tunggalnya- Kurosaki Ichigo tinggal di Jepang dan belajar di Kedokteran untuk persiapan sebagai pewaris tunggal sebuah Rumah Sakit elit.
Dengan terpaksa sang Ibu merelakan putra tercintanya untuk tinggal bersama dengan pria yang telah membuat kehidupannya hancur.
.
.
.
.
.
.
" Bagaimana keadaannya?" tanya Grimm cemas
Ishida sudah membaringkan tubuh lemas sang pria orange ini di tempat tidurnya.
Ada cairan infus yang menemani dan menempel di nadi punggung tangan kanan sang pria orange.
" Detak nadi dan jantungnya sudah stabil, dia hanya sedikit demam dan lemas. Mungkin karena ia hanya minum dan makan apapun secara asal. Apa yang terjadi Grimm? Dari tadi ia hanya memanggil bibi Masaki, bukankah ia sudah mengunjungi mereka dua bulan lalu?" tanya Ishida.
" Sudah dan seperti biasa bibi Masaki belum mau bicara dengan Ichigo. Aku tidak tahu masalahnya Ishida, kau tahu sendiri jika Ichigo jarang berbagi masalahnya dengan kita. Dia lebih asyik menyimpannya."
" Masih belum mau bicara ya?" Ucap Ishida lirih.
Ishida tahu apa penyebab bibi Masaki enggan untuk berbicara dengan putra sulungnya.
Ya, karena satu hal itu.
.
.
.
.
Semua botol dan barang-barang yang berserakan sudah mereka bersihkan.
Aparteman Ichigo sudah lumayan kelihatan bersih daripada saat mereka pertama datang tadi.
" Apa mungkin ini karena gadis violet itu?" Gumam Ishida dan mendapat lirikan pertanyaan dari Grimm.
" Gadis violet?" Selidik Grimm
" Beberapa hari lalu Kurosaki sedikit bersikap aneh, tentu saat dia bilang kalau dia sedang bad mood. Dan memang sebulan belakangan ini dia terus bersikap aneh, kau tahu setiap hari ia akan duduk di taman kampus dan memandangi seseorang. Aku tak yakin siapa gadis yang ia lihat setiap hari itu tapi aku yakin gadis itu anak psikologi." jelas Ishida
" Kau yakin Ishida?" Tanya Grimm menuntut
" Aku sangat yakin Grimm. Kurosaki tidak pernah seperti ini sebelumnya. Jika hanya gara-gara bibi Masaki dia tidak akan memakai barang haram itu lebih dari tiga botol dalam seminggu. Kau tahu, dia sudah menghabiskan enam botol dalam seminggu ini. Aku khawatir dengan tubuhnya, sudah hampir enam tahun ia memakai barang itu. Dan kau pasti tahu usaha apa saja yang sudah kita lakukan agar ia sembuh tapi selalu gagal."
Mereka mendesah pelan bersamaan. Mereka, dua orang ini yang bersahabat dan masih kerabat dengan Ichigo pernah beberapa kali meminta pria orange ini untuk rehabilitasi tapi selalunya ditolak.
Tidak pernah berhasil karena mereka selalu tidak tega.
Karena mereka tahu, didunia saat Ichigo memakai barang itu.
Dia akan berbicara dan bermanja sayang dengan sang ibu, Masaki.
" Kau tahu siapa gadis violet itu?"tanya Grimm serius
" Sama sekali tidak tahu, bahkan nama aslinya pun aku tidak tahu. Tapi ..."
Ucapan Ishida terpotong karena mendengar suara barang-barang terlempar dari kamar Ichigo. Mereka langsung berlari menuju ruangan itu.
" Kurosaki, hentikan!" Ishida segera mengunci tangan sang pria orange ke belakang tubuhnya agar tidak melempar barang lagi.
" Ichigo, cukup!" bentak Grimm
Terdiam, tubuh Ichigo perlahan merosot dan terduduk serta kedua tangan yang masih terkunci oleh Ishida di belakang tubuhnya.
Ia menatap lurus lukisan bunga kecil yang tergambar di lantai kamar tidurnya. Ia tersenyum kecut, tersadar dari dunia khayalan yang sangat ia sukai dan kembali ke dunia yang sangat ia benci.
" Dia pelacur..." lirih Ichigo
Dan dua sahabatnya ini hanya terdiam dan mendengarkan.
" Pelacur yang sudah menghancurkan hidupku.." sekali lagi Ichigo berucap pelan
" Dia pelacur Ishida, bahkan aku sudah mencintainya."
.
.
.
.
.
.
Dua sahabat ini hanya menatap sendu pada ucapan yang terlontar dari mulut Ichigo.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Muka Ichigo pucat, lengan kiri bekas beberapa suntikan terlihat merah menganga. Punggung tangan kanannya mengeluarkan darah karena ia mencabut paksa selang infusnya. Mata sayu dan pandangan yang terlihat enggan hidup.
" Maksudmu ... gadis violet itu?" Tanya Ishida hati-hati
Ichigo tersenyum kecut. Ia masih pasrah tubuhnya dikunci oleh tangan Ishida.
" Kau tahu Ishida, dia seorang PELACUR!"
Ichigo mengamuk lagi. Dua sahabatnya ini dengan sigap mengunci pergerakan tangan dan kaki Ichigo agar berhenti melempar dan menendang.
Tubuh Ichigo terkunci oleh empat tangan besar milik dua sahabatnya. Ini lebih baik, daripada Ichigo terus menyakiti diri sendiri. Ishida mengambil tas yang berisi berbagai obat dengan kakinya. Tangan kanannya ia lepas dan mengambil sebuah jarum suntik yang berisi cairan bening.
" Istirahatlah dulu, Ichigo." Ujar Grimm lirih saat Ishida menyuntikkan obat penenang itu ke tubuh Ichigo.
Mata sendu Ichigo menutup perlahan. Tubuhnya perlahan melemas.
" Lebih baik kita cari tahu tentang gadis violet itu Grimm." Kata Ishida
" Aku akan mencobanya, demi dia Ishida. Aku akan melakukan apapun." jawab Grimm
Perlahan, ritme nafas teratur dari pria orange ini terlIhat. Ia sedang terlelap.
Bermimpi, bahwa sang gadis violetnya mendekap erat dirinya dalam kebisuan.
.
.
.
.
.
.
Maaf, lama update ...
Selalu dan selamanya butuh bimbingan dari kalian.
deathberris - Ya, Ichigo candu. Dia pengguna heroin. Soal pekerjaan Rukia, dbahas di next chapter ya. Aku masih pengen 'menyiksa' Ichigo dulu ( Gomene Ichi ) Salam kenal jg, thanks buat coretannya.
Baby niz 137 - Thanks buat coretannya, sabar ya. Kadang otak saya mbebel gak keluarin kata dalam pengetikan.
rin azuna - makasih buat reviewnya, aku memang sedikit suka nulis bagian Ichigo terluka. Memang sudah takdir dia. wkwkwkwkwk
rukichigo - Arigatou untuk saran dan kritiknya. wah, jangan terlalu deg-deg an ya ...
ichigo - Hallo juga ichigo-san.. he he ... maaf membuat dirimu hancur BGT dicerita ini. tuntutan imajinasi saya soalnya. klo tentang kiss emang asli dirimu kok. Thanks reviewnya
maaf, tidak bisa balas coretan kalian satu persatu.
makasih buat dukungannya.
Soal pekerjaan Rukia, dibahas chapter depan ya. Aku mau membuat penderitaan ichigo lebih terlihat dulu.
semoga ide terus mengalir, thanks dan happy reading
