Chapter 6
"THE TRUTH"
Takdir itu misteri, sejauh apapun kau berlari sekuat apapun kau menghindar. Ia akan selalu menghampirimu seperti udara. Tak berwujud tapi kau selalu membutuhkannya.
.
.
.
A fanfiction for Ichiruki
I love their characters
MANGA BLEACH
DISCLAIMER BY TITE KUBO
JUST FF NO MORE
by
Nicky
.
.
.
Pria orange itu terbangun, ini sudah hari ke lima ia berbaring di tempat tidurnya. Enggan untuk menapak bumi, karena ia tahu kehidupan di dunia yang ia lihat sekarang penuh dengan kebohongan.
" Ichi mau tahu, kenapa Kaa-san memberi nama anak pertama Kaa-san dengan nama Ichigo?"
Suara seseorang yang ia rindukan selama tujuh tahun ini halus memasuki alam sadarnya.
" Artinya pelindung, Kaa-san." Ucap Ichigo lirih, mengulang jawaban yang sama seperti tujuh tahun yang lalu.
'' Ichigo, kamu tahu Kaa-san dulu sangat bahagia saat hamil pertama kali. Walaupun Otou-san mu sering tidak pulang ke rumah karena sibuk dengan pekerjaannya tapi dia selalu bertanya kabar tentang dirimu. Otou-san mu sangat menyayangimu…"
Tersenyum kecut, kata-kata dari sang ibu delapan tahun yang lalu sungguh sangat tidak berarti untuk sekarang. Ia menangis, apa salahnya sehingga seseorang yang melahirkannya dan bilang bahwa ia sangat senang saat mengandungnya tega mengacuhkan dirinya selama tujuh tahun. Ia tahu, ia salah saat itu. Hampir membunuh ayah kandung sendiri saat tahu bahwa Otou-san nya tega menduakan cinta dari sang ibunda. Sang ayah yang dengan segala kebodohannya berani membawa pulang wanita pelacur itu ke rumah keluarganya.
Wanita pelacur itu hamil, dan ayah Ichigo mengakui bahwa itu adalah anaknya. Karin dan Yuzu saat itu masih kecil. Ibu Ichigo yang memang memiliki fisik lemah sejak kecil mendadak keadaannya semakin parah. Ichigo bingung, di sisi lain ia ingin kebahagiaan ibunya kembali tapi disatu sisi yang lain ia sungguh tidak ingin tahu tentang apapun mengenai ayahnya.
Hari itu ia kalap, kejadian yang membuat ibunya membenci Ichigo sampai sekarang. Ichigo hampir membunuh Yuzu, adik kandung Ichigo. Saat itu Ichigo sedang mabuk berat, yang ada di kepalanya hanyalah dendam kepada ayahnya Kurosaki Isshin. Malam itu rumah sepi, sekitar jam sebelas malam, Ichigo duduk di depan pintu depan rumah dan memang berniat menunggu sang ayah pulang. Tentu bukan untuk menyambutnya, dia punya niat lain.
Membunuh Kurosaki Isshin,
Ayahnya lah penyebab sang ibu menderita, hidup bersama selama empat belas tahun dan sang ayah tega menduakan ibunya. Sungguh, hanya dendam yang Ichigo punya saat itu. Akhirnya sang ayah kembali, kepulangan sang ayah disambut Ichigo dengan makian dan perbincangan yang tidak penting. Isshin tahu kalau Ichigo memang sedang mabuk dan membenci dirinya. Tapi itu bukan masalah yang besar bagi seorang klan Shiba. Dia berkuasa, meskipun harus membuat anak kandung sendiri menderita demi kepuasannya itu bukan masalah. Gampang dan halal bagi Ishhin.
Ichigo berniat membunuh ayahnya, Isshin. Ichigo sudah membawa pisau kecil untuk mendukung rencananya, biarkan sang ayah mati dan kehidupan ibu yang ia cintai menjadi bahagia kembali. Tapi disaat terakhir ketika ujung pisau itu hampir mengenai perut Isshin, seseorang datang dan menerima tusukan pisau itu.
Yuzu,
Perut bagian kirinya mengeluarkan cairan berwarna merah. Kedua tangan kecil Yuzu memegangi pisau yang menancap di perut bagian kirinya. Ichigo hanya diam berdiri membatu. Sang ayah langsung menangkap tubuh Yuzu ketika Yuzu menahan sakit dibagian perutnya. Masaki berlari dan langsung memeluk tubuh putrinya yang berlumuran darah. Ichigo masih terdiam dan menatap tubuh Yuzu. Yuzu menggumam kata maaf pelan, Ichigo hampir tidak percaya dia hampir membunuh adik yang ia cintai Yuzu.
Sejak saat itu, Masaki tidak berbicara sama sekali dengan Ichigo. Yuzu mengalami pendarahan yang hebat dan perlu tiga kantong darah saat operasi. Ichigo hanya berani berdiri di depan kamar inap Yuzu, sama sekali tidak ada keberanian untuk masuk dan melihat keadaan adiknya. Sang ibu yang juga tidak menanyakan keadaannya, makin menambah rasa ketakutan yang ia alami karena perbuatannya.
Yuzu koma selama satu minggu, dan disaat itulah ibunya memutuskan untuk pindah ke Jerman dan meninggalkan Ichigo sendiri di Jepang.
Selama tujuh tahun ini, Masaki tidak pernah menanyakan kabar atau menyapa Ichigo. Walaupun tiga bulan sekali Ichigo selalu datang ke Jerman untuk menemui mereka. Kedua adik Ichigo senang jika kakak laki-laki mereka datang menjenguk meskipun Yuzu masih sedikit merasa takut.
.
.
.
The
Truth
.
.
.
Keadaan kampus sepi. Hanya beberapa mahasiswa yang masih berkeliaran di luar kelas sedangkan kebanyakan mahasiswa sedang megambil kelas mereka. Ichigo berlari cepat, dia sudah absen lima hari dan tanpa keterangan. Tugas yang menumpuk dan materi yang tidak ia dapatkan bisa menjadi penyebab tertundanya jadwal skripsi nanti. Ia ingin lulus cepat, agar ia terbebas dari semua ini.
" Sudah merasa lebih baik?"
Ishida berusaha mencairkan keadaan yang terlihat tegang dengan membuka percakapan dengan si pria orange. Tapi menoleh pun tidak, pria orange ini sedang asyik dengan pekerjaannya. Ichigo duduk dengan menyalin beberapa materi kuliah yang ia tidak ikuti.
" Lumayan, meskipun masih sedikit pusing." Jelas Ichigo
Setelah adegan mengamuk beberapa hari yang lalu. Ichigo tak sadarkan diri selama sehari semalam. Ia terbangun dan hanya mau minum air putih atau meminum suplemen yang sudah diresepkan dokter padanya. Selama lima hari itu tak satupun bulir nasi masuk ke perutnya. Itulah kenapa Ishida merasa agak khawatir.
" Ayolah, buang muka khawatirmu itu. Aku baik-baik saja Ishida. Raut mukamu tidak pernah cocok dipakai untuk mengkhawatirkan seseorang." Jelas Ichigo yang sedang berupaya untuk membela dirinya.
" Aku hanya tidak ingin kau masuk rumah sakit lagi. Kambing tua itu akan memakanku hidup-hidup jika sampai tahu." Ucap Ishida
" Kambing tua itu hanya tidak ingin aku meninggal untuk saat ini. Dia akan membunuhku suatu saat nanti jika sudah waktunya." Ucap Ichigo datar dan tegas.
Ichigo masih sibuk menulis dan menyalin, mencoba meringkas materi kuliah yang ketinggalan agar mudah dipahami.
" Siapa Rukia?"
Bolpoin yang ia pegang tiba-tiba menghentikan aktifitasnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat ketika ia mendengar nama seseorang itu. Ia sepertinya tidak pernah menceritakan kepada siapapun tentang nama gadis itu. Lalu kenapa Ishida bisa tahu.
Dia menyadarkan dirinya sendiri dengan melanjutkan membaca rangkaian tugas yang harus ia kerjakan dua minggu ke depan. Ishida masih sibuk mengamati raut muka si pria orange ini yang tadi terlihat kaget ketika Ishida menanyakan tentang sosok gadis itu.
" Dia gadis violet itu? Kau terus memanggil namanya saat kau tertidur kemarin. Kau ingin bercerita atau Grimm harus pulang ke Jepang untuk memaksamu bercerita?" ujar Ishida
Ichigo masih sibuk membaca, hanya matanya saja yang Nampak memandang deretan huruf-huruf itu. Pikirannya sedang membentuk sebuah sosok, yang ingin sekali ia peluk sekarang. Ingin ia ajak bicara. Ingin ia ajak tertawa bersama. Rukia, nama itu terus terngiang di otaknya walaupun ia ingin sekali membuang semua hal tentang gadis itu. Senyumannya, cara ia memandang Ichigo, bibirnya saat berbicara, gerakan lincah kakinya saat berlarian di koridor kampus, dan juga sinar matanya ketika ia menangis.
Ichigo mendesah pelan. Ia belum merampungkan menyalin tapi suasana sudah berubah tidak mengenakkan.
" Kau mau kemana?" Tanya Ishida jengkel karena pertanyaannya ternyata diacuhkan oleh Ichigo
" Pulang dan tidur. Aku sudah bilang aku sedikit pusing."
" Jawab pertanyaanku dulu Kurosaki. Bagaimana aku bisa membantumu kalau kau tidak mau bercerita tentang gadis violet itu. Aku mengenalmu lebih dari dirimu sendiri. Hanya bibi Masaki yang selalu datang dalam halusinasimu. Dan sekarang Rukia. Siapa gadis itu? Kau ingin aku memukulmu atau mengoperasi otakmu itu." Bentak Ishida yang memang sudah melewati ambang sabarnya dalam menghadapi Ichigo.
" Ya, dia gadis violet itu. Jangan tanyakan apapun tentang dia lagi dan jangan ungkit nama itu didepanku lagi."
" Jadi maksudmu, Rukia sang gadis violet itu adalah pe la cur?" Tanya Ishida hati-hati
Ichigo langsung beranjak pergi sesaat setelah mendengar pertanyaan dari Ishida. Cukup, dirinya tidak ingin merasakan perasaan itu lagi.
Sakit,
Bahkan gemuruh didalam hatinya semakin membara ketika ia mengingat gadis violet itu. Kenapa harus pelacur, dan kenapa harus dirinya yang terjerat cinta gadis violet itu.
Semua bayangan manis dan indah yang pernah ia rencanakan dulu jika berhasil menjalin sebuah hubungan dengan Rukia hancur bersama dengan masa lalunya. Sungguh ia butuh sosok yang tegar, seseorang yang siap meruntuhkan beban yang selama ini ia pikul sendiri. Dan dia melihat semua itu ada dalam sosok gadid violetnya. Hangat, tegar dan kuat.
.
.
.
MEMORY
MYSTERY
.
.
.
Sesampainya di apartemen miliknya. Ichigo mengobrak-abrik hampir seluruh perabotan yang ada dalam ruangan itu. Laci, almari, kursi dan semua tempat yang mungkin dulu dipakainya untuk menyimpan barang itu. Ishida dan Grimm sering membuang stok barang haram itu jika ketahuan Ichigo menyimpannya. Dan Ichigo selalu menyimpan barang itu ditempat yang tersembunyi.
Jam bergerak menuju angka sebelas. Ichigo terbangun dan tiba-tiba nyeri sakit menyerang di dadanya. Sesak dan sakit. Ia butuh obat itu untuk menghilangkan rasa sakit ini. Cukup dengan menyuntikkan beberapa mili cairan itu ke tubuhnya dan dia akan merasa tenang kembali. Tapi setelah hampir seluruh tempat ia geledah. Tidak ada satupun barang yang tersimpan di dalam rumah itu.
'Sial'
Ia berlari keluar dan menuju tempat itu.
.
.
.
.
Screen layar datar di depannya menampilkan gambaran-gambaran tentang manisnya sebuah ikatan. Mereka bernyanyi bersama sambil menyuarakan isi hati masing-masing. Tempat karaoke VVIP itu terlalu luas untuk dirinya seorang. Semua botol kosong berhamburan, lagi-lagi Ichigo mencoba mengaburkan bayangan si gadis violet ini dengan minuman memabukkan itu. Matanya sudah tertutup redup setengah dan badannya sudah terasa lemas tapi lagi-lagi kelima jari tangan kirinya masih sibuk memasukkan cairan yang ada dalam botol itu ke dalam mulutnya.
" Sudah ku bilang, aku pesan beer bukan jus. Apa kau tidak dengar?"
Ichigo setengah berteriak karena keinginannya tidak terpenuhi. Matanya masih tertutup setengah sambil menikmati alunan nyanyian yang disuguhkan oleh screen layar datar didepannya.
" Maaf tuan, anda sudah menghabiskan minuman terlalu banyak. Dan waktu sewa anda sudah berakhir setengah jam yang lalu. Mohon untuk dimengerti tuan, kami sudah memesankan taksi untuk anda."
Mata Ichigo terbuka dengan sempurna. Telinganya masih awas dengan suara ini. Suara yang sangat ia rindukan beberapa minggu ini. Suara yang selalu ingin ia hindari tapi selalunya malah menjadi nyanyian hening disetiap detik ia bernafas.
Matanya sibuk mencari sosok yang memiliki suara ini. Menoleh dengan lambat ke arah sebelah kanannya. Sosok itu berdiri tegap dan memakai pakaian casual tidak berseragam.
" Kau mau melayaniku?" ucap Ichigo dengan nada jijik
Sungguh Rukia ingin memukul kepala pria ini dengan kedua tangannya yang kosong. Telinganya gatal setiap mendengar pria ini menanyakan hal yang sama. Dia memang bekerja di tempat karaoke ini. Tapi coba lihatlah apakah ada pelacur yang ber make up polos seperti dia.
Sebenarnya dia sudah mau bersiap pulang tapi sang wakil manajer tempatnya bekerja menyuruhnya untuk datang ke sini karena pria ini terus menerus menelepon meminta minuman dan berceloteh ria memanggil nama Rukia. Awalnya Rukia tidak mau, tapi setelah dia masuk dan melihat siapa yang terus menerus memanggil namanya ia pun merasa bersalah. Hanya sedikit, karena sebenarnya dia ingin menjelaskan kejadian tempo hari. Dan menerangkan apa pekerjaannya.
Rukia mendesah pelan. Ditariknya lengan kanan sang pria orange untuk berdiri. Ichigo hanya menurut dan matanya tertuju pada sosok didepannya karena ia sungguh rindu dengan tatapan hangat ini.
" Lepaskan aku pelacur!" Hardik Ichigo yang segera menyentakkan tangan kanannya ke udara karena dia jijik dengan sentuhan itu. Hatinya berbisik jangan tapi tubuhnya berkata lain.
" Aku antar sampai ke taksi, aku tidak mau dianggap perempuan tidak punya hati jika meninggalkanmu seperti ini."
" Pergi, aku tidak butuh." Jawab Ichigo yang berjalan sempoyongan menuju pintu ruangan VVIP itu.
Ia menggeleng pelan. Matanya berkunang-kunang dan nyeri di kepala dan dadanya kembali menyerang. Minuman ini hanya bisa membuatnya tertidur tapi tidak pernah manjur untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya.
Ia menyusuri lorong sepi itu dengan tangan kanan yang bertumpu pada dinding. Kakinya sungguh sudah teras berat untuk menahan tubuhnya sendiri. Di belakangnya sosok gadis violet itu asyik mengikutinya dan sesekali merasa cemas karena pria didepannya berjalan dengan sempoyongan.
Langkah Ichigo berhenti mendadak. Matanya kembali membulat tajam dengan apa yang dia lihat sekarang. Dia meremas pelan botol minuman yang ia genggam di jemari kirinya. Menahan rasa perihnya sebentar karena sebentar lagi ia akan memuntahkan semua rasa itu pada orang ini.
" Lama tidak bertemu Kambing tua." Ucap Ichigo dengan nada mengejeknya
Meskipun lirih tapi Rukia masih bisa mendengar sapaan Ichigo kepada seorang bapak tua di depannya.
" Apa yang kau lakukan disini Ichigo?"
" Mencari kehangatan, memang apa lagi." Jawab Ichigo datar
Laki-laki yang disebut kambing tua itu sedang bergelayut manja dengan seorang wanita yang menggunakan pakaian super minim. Keduanya terlihat sudah mabuk.
" Kau lupa dengan janjimu?"
"Kembalikan Kaa-san kepadaku brengsek, janjimu itu hanya omong kosong." Jawab Ichigo geram
" Kau tahu perjanjiannya Ichigo. Tidak akan ada yang berubah. Jadilah seorang dokter dan menggantikan diriku di rumah sakit. Aku juga ingin menikmati hidup sebagai seorang laki-laki bebas tanpa ikatan."
" Persetan dengan semua itu, kau membuat Kaa-san hancur."
Ichigo terpancing emosi. Sesuatu hal tentang ibunya memang selalu membuat darahnya menididih. Botol yang digenggamnya ia ayunkan ke tembok disampingnya. Setengah dari kaca berbentuk botol itu berhamburan pecah disamping kaki sang pria orange. Isi minuman itu mengotori lantai yang berwarna merah maroon. Ichigo bersiap melangkahkan kakinya dengan sebuah botol pecah di tangan kirinya. Tapi sebelum kakinya melangkah lengan tangan kirinya digenggam erat oleh jari-jari mungil. Reflek Ichigo menoleh ke kiri belakang. Gadis itu seperti sedang menahan air mata yang harusnya keluar. Spontan Rukia memohon sesuatu kepada ichigo.
" Jangan …. Jangan …." Pinta Rukia
Ichigo menyentakkan genggaman jari-jari mungil milik gadis itu dengan kasar. Sehingga Rukia terpeleset dan menindih serpihan-serpihan kaca kecil yang berhamburan di lantai. Bahu dan sepanjang lengan kanan tangannya serta jari-jari di tangan kanannya tertancap pecahan-pecahan kaca tersebut. Ia mengerang tertahan. Dan melihat Ichigo melangkahkan kaki besarnya perlahan menuju tempat berdirinya bapak tua itu.
Potongan-potongan kejadian itu muncul kembali. Pertengkaran, Otou-san, Kaa-san dan Nii-san asyik masuk tanpa permisi. Potongan-potongan memory itu hadir kembali seperti adegan yang terputar ulang. Rukia bangkit, ia tidak ingin kehilangan seseorang yang berharga lagi.
Ichigo melangkahkan kakinya ke arah Isshin, ayahnya. Matanya tajam membunuh semua aturan yang telah ia sepakati bersama. Ia tidak akan membunuh Isshin. Tapi siapa yang sanggup hidup tanpa ada seseorang yang ia sangat cintai disisinya.
Tinggal beberapa langkah lagi tapi tiba-tiba seseorang bertubuh mungil menghadang jalannya. Air matanya jatuh perlahan di kedua pipi putihnya. Kedua tangan gadis itu dengan cepat menyentuh kedua bahu milik Ichigo dan menariknya turun untuk mendekat ke wajahnya. Mata violetnya terpejam.
" Jangan lakukan."
Bisikan halus keluar dari bibir mungilnya bersamaan dengan sentuhan hangat dengan bertemunya kedua bibir milik Ichigo dan Rukia. Tubuh Ichigo menegang. Menerima sentuhan ini dengan kaget dan nyaman.
Botol yang digenggam Ichigo jatuh dan menghasilkan bunyi kaca pecah. Kedua insan yang sedang berusaha mencairkan emosi masing-masing ini tidak terganggu dengan suara apapun. Tangan kiri Ichigo merengkuh pinggang milik sang gadis agar lebih mendekat ke tubuhnya. Jari-jari tangan kanannya ia letakkan di sekitar tengkuk tubuh sang gadis agar perasaannya tersalurkan.
Ichigo mengecup perlahan. Matanya tertutup menikmati sentuhan yang sangat ia rindukan ini. Bibirnya terus berusaha mengecap rasa kerinduan yang mendalam agar pikirannya tenang. Bibir sang gadis masih diam dan hanya menerima rangsangan dari amukan emosi si pria. Setelah beberapa kecupan yang hampir mengisi di setiap sudut bibir dan saraf lembut dibibirnya akhirnya Rukia berani membuka sedikit mulutnya. Beruntung bagi Ichigo, perasaannya tersambut. Dengan segera ia memagut kedua bibir mungi itu dengan rakus. Lidah bertemu lidah. Hanya bibir yang mampu mengekspresikan betapa butuhnya Ichigo pada sosok Rukia. Sentuhannya menenangkan dan nyaman.
Nafas mereka berhenti sesaat dan akhirnya menarik bibirnya masing-masing untuk menjauh. Si laki-laki tua tadi sudah pergi karena dia tahu anaknya hanya emosi sesaat. Ichigo masih menutup matanya. Dahinya ia letakkan bertubrukan dengan dahi milik sang gadis. Rukia juga sedang berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya karena adegan tadi. Sungguh, dia menginginkan pria ini untuk disampingnya.
" Rukia …" ucap Ichigo lirih " Jangan tinggalkan aku ….."
Saat itu pula, tubuh jangkung milik Ichigo jatuh perlahan ke pelukan sang gadis. Kepala pria orange bersandar pada bahu kiri milik sang gadis. Ichigo pingsan atau tepatnya tertidur setelah mendapatkan rasa nyamannya.
Perlahan, jari-jari mungil tangan kiri sang gadis menyusuri surai milik sang pria orange.
" Maaf,.." Ucapnya tertahan
Lengan, bahu dan jari jemari kanan Rukia berdenyut nyeri. Setelah beberapa menit pria yang ia peluk tertahan di tubuh mungilnya. Sang manajer Hisagi datang dengan membawa beberapa petugas keamanan. Kaget tentu saja,
Seorang pria dalam pelukan Rukia,
Pecahan botol berhamburan entah kemana,
Dan darah yang menetes perlahan melewati udara yang tak terlihat,
" Rukia, apa yang terjadi?"
Hisagi terheran. Pria yang ia hajar kemarin, yang menyebut Rukia dengan sebutan pelacur sekarang sedang memeluk Rukia erat.
" Dia tertidur dan tolong bawa kami ke rumah sakit. Akan kujelaskan nanti."
Jawab Rukia pelan dan tentu jawaban yang bisa menjawab semua pertanyaan penasaran milik manajernya.
.
.
.
.
.
.
N/A Balasan review :
Aizira-san : sabar ya, mohon ditunggu untuk chapter-chapter selanjutnya. Terima kasih sudah mau mampir
darries : makasih untuk coretannya. Masaki tidak pernah tahu tentang Ichigo yang kecanduan. Sudah terjawab di chapter ini ya, kenapa Masaki tidak mau berbicara dengan Ichigo, tapi masalahnya Masaki juga ada perjanjian tertulis dengan Isshin. tentang Ichigo yang harus hidup dengan ayahnya. Kerjaan Rukia, ayolah tebak sendiri. Isshin bisa jahat kok, dia amat sangat jahat disini.
ichigo : halo ichi, maaf skenario menuntutmu untuk seperti ini. Jangan takut Rukia akan siap menanggung tanggung jawab itu. he he he buang pikiran mesum mu Ichigo-san. Mungkin ichi memang kecanduan ma Rukia tapi bukan 'itu' nya ya. he he he DASAR MESUM
Yuiko Narahashi : berkat kalian, aku makin semangat memperbaiki tulisab ( meskipun terlihat jelek juga ). Udah aku panjangin dichap ini. thanks anyway
rin azuna : biar penasaran emang chap nya dibuat sedikit, tapi aku bayar dengan chap ini kok. yupz, ichigo emang punya kebutuhan khusus dengan rukia ( jangan berfikir mesum ). thanks coretannya
Naruzhea AiChi : udah update nih, selalu menerima semangat darimu
Azura Kuchiki : makasih, berkat kalian aku mendorong tulisanku agar lebih rapi. biar penasaran maka chapnya pendek ( ha ha ha dijitaki ma readers ) tuntutan skenario aku buat Ichi nelangsa dulu. he he he pikiran kalian mesum ( maaf ) sih makanya menganggap pekerjaan rukia seperti itu. She's a moon for Ichigo so...
deathberris : salam kenal balik juga ( aku panggil kamu apa ? ) yupz... he's junkies,, semua hal yang terjadi sama ichigo sekarang karena ulah ayahnya isshin,,, pekerjaan Rukia tetap mahasiswa tap punya kerjaan sampingan. makasih atas coretannya...
Sekali terus lagi :
Maaf untuk typo dan semua alur kata-kata yang kurang jelas. Semua murni kesalahan diri saya pribadi.
Terima kasih sudah mau membaca tulisan saya yang amburadul ini.
Saran, kritik dan ide alur cerita saya siap menampungnya.
Jaa-ne ...
