Chapter 7
"THE HARD RELATIONSHIP"
Takdir itu misteri, sejauh apapun kau berlari sekuat apapun kau menghindar. Ia akan selalu menghampirimu seperti udara. Tak berwujud tapi kau selalu membutuhkannya.
.
.
.
A fanfiction for Ichiruki
I love their characters
MANGA BLEACH
DISCLAIMER BY TITE KUBO
JUST FF NO MORE
by
Nicky
.
.
.
" Jangan pergi … "
" Lepaskan aku … "
" Jangan tinggalkan aku … "
" Aku harap kita tidak akan bertemu lagi … "
" Tidak … Ku mohon … Tolong, jangan pergi dariku … "
Suara itu semakin lirih, mengiba dan terus meminta seseorang yang sangat ia kasihi itu agar terus berada disampingnya. Tapi entah sepertinya seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya itu berlalu pergi dengan senyuman.
"Kita tidak punya hubungan apa-apa."
Kalimat yang selalunya membuat sang peminta memaksa untuk diterima.
Lagi, sang peminta memeluk erat tubuh seseorang yang sangat ia butuhkan dalam hidupnya. Ia butuh ini. Kehangatan yang lama ia tidak pernah dapatkan.
"Aku pelacur … "
Seketika pelukan itu terlepas. Sesaat setelah seseorang itu mengucapkan hal yang sangat dibenci oleh sang peminta. Sang peminta mundur beberapa langkah sembari menggeleng perlahan.
Ia benci dan takut dengan sebuah kenyataan ini. Pahit. Sakit rasanya. Sesuatu hal yang sangat ia benci dalam hidupnya ada dalam seseorang itu.
Ia menjauh. Berjalan menjauhi sebuah pelukan hangat yang sangat ia inginkan. Ya, seseorang itu juga menginginkan tetap terus berada dalam perlindungan hangat ini. Seperti sebuah kebutuhan.
.
.
.
.
Mata sang pria orange terbuka perlahan. Mencoba beradaptasi dengan cahaya yang menghalangi penglihatannya.
" Sudah bangun?" Tanya Grimmjov. Sahabat sekaligus bisa dibilang sebagai seorang kakak yang sedari tadi tepatnya empat jam yang lalu duduk disamping ranjang Ichigo. Terus mengamati alunan nafas teratur dari tubuh Ichigo.
" Berapa lama aku tertidur?" Tanya Ichigo dengan suara seraknya. Mencoba mencari nada yang pas agar kesadarannya pulih sempurna.
" Lima belas jam. Dan sekarang sudah jam makan siang. Ah, pegal rasanya dari tadi duduk disini menunggu matamu terbuka. Kalau bukan karena Nell yang telepon jam tiga dini hari untuk menyuruhku pulang pasti aku sekarang sudah berada di Hawaii untuk ikut peresmian cabang disana." Si rambut biru terus saja membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin ia keluarkan.
" Bukankah kau sudah pulang dua hari yang lalu? Nell memberitahuku kemarin." Ichigo mencoba untuk masuk ke perbincangan padahal sebenarnya bukan hal itu yang ingin dia tanyakan.
" Ah, ada sedikit pekerjaan di Karakura dan aku seharusnya pagi ini pergi ke Hawaii untuk acara itu. Mampir ke Tokyo untuk bertemu Nell dan ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan." Jelas sang pria biru sembari tangan kanannya meneliti obat-obatan yang terletak di meja samping ranjang Ichigo.
Ichigo mencoba untuk duduk. Jarum infus di punggung tangan kanannya ia lepas paksa begitu saja.
Ia menggerakkan kedua kakinya untuk turun dari ranjang. Ingin lari dari tempat terkutuk ini.
" Kau mau kemana?" Perhatian sang pria biru teralih. Mencoba bersikap tenang dengan tindakan mendadak adiknya.
Yang ditanya hanya diam dan mulai menggerakan kakinya turun dari ranjang perlahan untuk menyentuh lantai rumah sakit yang dingin. Ia masih terduduk. Karena tinggi badannya.
" Sudah cukup kalian mengasihaniku. Biarkan aku sakit dan mati. Sudah cukup kalian memperlakukanku seperti seseorang yang selalu meminta belas kasihan." Ichigo mencoba berjalan dengan tangan kanan sebagai tumpuan di meja dekat ranjang tidurnya.
" Kau sungguh mencintai Rukia? Gadis violet itu." Tanya Grimm tegas seketika yang membuat seseorang yang ia tanya berhenti bergerak.
Hanya dengan mendengar nama dari gadis violet itu seketika hatinya goyah. Tidak mau menerima kenyataan berarti menyakiti diri sendiri dengan kesendirian.
" Ini alasan kau ke sini? Memberitahu keadaanku kepada Rukia dan meminta dia untuk menerimaku. Heh, sudah cukup kau mencampuri urusanku Grimm. Kau dan Ishida sama saja. Dia pelacur. Meskipun aku mencintainya aku tidak akan pernah mau memilikinya." Ujar Ichigo lirih dan ia berjalan lagi menuju pintu ruang inap VVIP itu.
" Kau yakin kalau dia seorang pelacur? Apa kau akan percaya kalau aku bilang dia bukan pelacur? Diluar ada empat penjaga, kau tidak akan bisa keluar dari ruangan ini tanpa perintah dari si Kambing Tua. Aku dan Ishida akan bergantian menjagamu disini." Grimm mencoba bersikap tenang dengan sikap yang selalu berubah-ubah setiap menitnya dari Ichigo.
" Aku bilang CUKUP, Grimm." Ia berteriak dan mulai kesal dengan perbincangan yang selalu membahas hal yang sangat ia benci." Keluarlah .. " lagi-lagi ia berusaha untuk menekan dan menyembunyikan emosinya dengan kesendirian. " Aku ingin istirahat."
Ichigo berbalik. Berjalan lurus menjauhi pintu menuju ranjang rumah sakit. Lelah. Setiap membahas masalah itu sakit dan nyeri di dalam dadanya semakin terasa.
Grimm hanya bisa memandang. Lucu bukan. Jika kau mencintai seseorang dan ingin memilikinya kenapa harus mempermasalahkan siapa dia. Grimm mencintai Nell. Nell lah yang telah berhasil menyelamatkan dia dari hitamnya dunia narkoba. Grimmjov mengenal pertama kali obat-obatan haram itu saat ia masuk SMA. Tiga tahun ia menyelami nikmatnya dunia itu. Sampai ia bertemu dengan Nell saat masuk kuliah. Gadis yang menerima Grimm yang saat itu hancur dan pecandu. Nell dua tahun lebih tua dari Grimm. Sosok yang bisa menjauhkan Grimm dari dunia candunya.
.
.
.
.
" Benar-benar tidak apa-apa jika aku tinggal, Ru?" Momo mencoba untuk membujuk sahabatnya agar rehat sementara dirumah dan ijin dari kelas.
" Aku tidak apa-apa, Momo. Kalau aku tidak bisa menulis setidaknya aku hadir dan mendengarkan. yang sakit kan hanya tanganku. Kau jangan khawatir, aku sudah tiga hari absen kelas. Ingat, aku ingin lulus cepat dan cumclaude. Nanti aku bisa minta bantuan orang lain kalau aku tidak bisa."
Momo menemani Rukia untuk ke kampus dan sekarang berdiri di depan gedung fakultas. Sebenarnya Momo enggan untuk pergi. Tapi Tou-san nya meminta Momo untuk hadir di acara keluarganya. Sekedar menampakkan muka.
" Ini bekal makan siangmu nanti. Jangan sampai tangan kananmu tersenggol atau sengaja kau gunakan. Jahitannya belum tertutup sempurna. Ingat, jari-jarimu jangan kau gunakan dulu. Bahkan untuk memegang sendok." Momo memberi nasehat panjang lebar dan hanya mendapat hadiah gelengan kepala serta senyuman dari sang sahabat.
" Aku tahu. Dan jangan khawatir. Aku bisa minta tolong seseorang nanti untuk menyuapiku."
" Siapa?" Tanya Momo heran.
" Ada. Nanti pasti dia datang dan menyuapiku." Rukia tersenyum menandakan dengan yakin bahwa seseorang itu akan datang dan menyuapinya.
Rukia berjalan pelan. Jaket yang ia pakai agak sedikit kebesaran atau memang terlalu besar. Jaket model jumper berwarna biru gelap itu memang bukan miliknya. Milik manajer di tempat ia bekerja saat akhir pekan. Hisagi.
.
.
.
.
Putra sulung dari keluarga Kurosaki ini berlari. Setelah Ishida memberi tahu apa yang terjadi pada gadis yang sudah mengisi penuh otaknya selama ini. Ia hanya mengingat saat itu ia mendekap erat tubuh gadis violet itu sampai ia tertidur. Ia terbangun di ranjang rumah sakit dan tidak ingin tepatnya menghindari bertemu dengan gadis violet itu.
Ishida memberi tahu hanya secara garis besar saja. Tangan kanan Rukia terluka karena kejadian malam itu. Mendapat sepuluh jahitan di sepanjang lengan sampai punggung tangannya dan beberapa luka gores yang cukup dalam di kelima jemari tangan kanannya. Dan tebak, Ichigo langsung berlari turun dari ranjang rumah sakit menuju kampus. Untuk melihat sendiri, luka yang ia berikan ke gadis violet itu. Selalunya hanya luka,
.
.
.
.
Rukia duduk di bangku tengah taman Fakultas Kedokteran ini. Mengingat kembali dulu seseorang akan selalu duduk di tempat yang ia duduki sekarang sambil mengamati dirinya yang berada di seberang sana.
Kelas masih akan dimulai satu setengah jam lagi. Perut sudah berteriak meminta asupan karena sejak kemarin sore ia tidak sempat makan. Bekal yang Momo berikan tadi sekiranya cukup membuat mood makan Rukia sedikit muncul. Dari kemarin Rukia sibuk memikirkan bagaimana keadaan pria orange nya. Karena selama dirumah sakit hanya pria rambut biru dan Ishida saja yang boleh menjenguknya.
Kotak bekal makan siang itu ia letakkan di pangkuannya. Mengingat kembali bagaimana ia bisa mendapat luka di tangan kanannya.
.
.
.
.
Flashback
" Kau Rukia?" Pria berambut biru itu bertanya seakan-akan seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi tersangka.
Sedang yang ditanya hanya bingung dan merasa takut. Semakin banyak orang yang mengenalnya semakin akan banyak luka yang nanti akan dia terima.
" Kau menakuti dia, Grimm!" Peran Ishida mengambil alih karena orang yang dimintai jawaban hanya bingung dan kaget.
" Kau mengenaliku?" Tanya Ishida dengan lembut dan tenang.
Yang ditanya mengangguk pelan sambil mengiyakan.
" Ichigo pernah bertemu denganmu?" Lagi sip ria berambut biru Grimmjov mulai tidak sabar menghadapi situasi basa-basi ini.
Sekali lagi, yang ditanya mengangguk pelan,
" Bisa kita bicara di tempat lain? Kami akan menunggumu sampai pekerjaanmu selesai." Ucap Ishida lirih. " Aku tunggu di kafe sebelah, ini tentang Ichigo. Aku benar-benar butuh bantuanmu."
Dua lelaki itu keluar dari minimarket tempat Rukia bekerja. Masalah ini harus segera selesai piker Grimmjov. Sesuai janjinya ia akan melakukan apapun demi Ichigo.
Rukia kaget saat mengetahui bahwa dua laki-laki tadi meminta bantuannya untuk dekat dengan Ichigo. Setelah Ichigo menciumnya dengan kasar dan membentaknya. Mereka meminta Rukia untuk mau menerima Ichigo.
" Dia menyebutku sebagai pelacur. Dan aku bisa menyimpulkan disini bahwa dia sangat membenciku karena dia sudah menganggapku sebagai pelacur."
" Apa kau seorang pelacur?" Tanya Grimm lirih dan pelan.
" Anda melihatku sebagai seorang pelacur?" Tanya Rukia balik.
" Aku tahu siapa kau Rukia. Kau bukan pelacur, kau bekerja di tempat itu sebagai waitress. Dan Ichigo hanya salah paham disini. Meskipun kami yang menjelaskan padanya. Ia tidak akan mau percaya. Hanya dirimu yang bisa." Jelas Ishida
" Kenapa harus aku?" Rukia agak bingung dengan situasi ini." Dia hanya memintaku sebagai temannya. Dan aku menolaknya karena sesuatu hal yang tidak bisa aku jelaskan disini. Jika hanya masalah menjalin sebuah pertemanan maka aku tidak perlu melakukan hal ini bukankah …." Kalimatnya terputus.
" Dia menginginkan sebuah jalinan lebih dari seorang teman. Ichigo mencintaimu, Rukia."
Akhirnya, Grimmjov menyudahi basa-basi ini. Terlalu lama membahas sebuah masalah bukanlah gayanya.
Hati Rukia berdesir. Mendengar pernyataan secara tidak langsung dari orang berambut biru ini.
" Aku tahu situasi ini memang sulit untuk kau terima. Aku hargai apapun keputusan yang akan kau ambil. Tapi aku mohon kepadamu. Dia sangat mencintaimu. Ini pertama kalinya dia bisa mencintai seorang wanita selain ibunya. Aku akan melakukan apapun agar dia bahagia." Grimm berujar pelan. Pandangan matanya ia arahkan ke sebuah jendela yang berada di sisi kanan ruangan ini.
" Jika bisa, aku ingin dia tersenyum lagi. Dia selalu hanya mendapat luka. Semua luka itu tidak pernah kering. Semua luka itu selalu ia simpan sendiri. Meskipun aku tahu semua penyebab luka itu. Aku tidak bisa berbuat apapun. Dia selalu sendiri. Sampai saat ini."
Grimm teringat ketika ibu Ichigo meninggalkan Ichigo saat itu. Ichigo benar-benar ingin bunuh diri. Semua hal yang Ichigo lakukan saat itu hanya bertujuan agar ibunya kembali. Desakan dari Isshin agar Ichigo harus menuruti semua isi perjanjian itulah yang membuat Ichigo bertahan.
Ichigo harus hidup. Dan mewarisi semua kekayaan klan Shiba. Isi perjanjian yang mengharuskan Masaki harus menjauhi Ichigo. Ichigo sangat membenci ayahnya. Jika bisa dia ingin lari dan ikut Masaki.
Tapi apa daya, Isshin menggertak Ichigo dengan ancaman. Bahwa jika Ichigo lari maka nyawa Masaki dan kedua adiknya yang dipertaruhkan. Ishhin melakukan itu agar dia bisa lepas dari ikatan pewaris. Isshin dididik keras oleh Kakek Ichigo yang dipersiapkan untuk menjadi pewaris tunggal kekayaan Shiba.
Jadi, Isshin juga akan melakukan berbagai cara agar dia bisa berkelana bebas menikmati hidup yang ia jalani dalam kekangan didikan pewaris.
End of flashback
.
.
" Ru .. kia .."
Wajah gadis itu menengadah ke atas. Melihat seseorang dengan nafas tersengal dan wajah tersirat cemas. Pria itu memakai baju piyama rumah sakit dengan jaket hitam yang membalut tubuh jangkungnya. Ya Tuhan, dia hanya memakai alas kaki kamar rumah sakit yang tipis itu dan berlari ke sini. Kedua alisnya hampir bertemu. Apakah dia benar-benar Ichigo.
" Ichigo … " Ucap Rukia pelan. Ia masih terduduk dengan kotak bekal siang yang ada dipangkuannya.
Pria orange itu kembali diam. Hanya melihat tepat ke tangan kanan dari gadis violet yang ada dihadapannya sekarang. Tubuh Rukia masih terbalut dengan jaket yang kebesaran. Tapi Ichigo bisa melihat balutan kain kasa putih pada jemari-jemari kecil Rukia.
" Kau terluka?" Pertanyaan yang bodoh Ichigo. Seharusnya kau tahu siapa yang membuat semua luka ditangan gadis violetmu itu.
" Duduklah. Aku perlu seseorang untuk menyuapiku makan. Momo seharusnya memberi sendok tapi dia memberiku sumpit. Terlalu sulit jika memakai sumpit dengan tangan kiri."
Rukia mengoceh tidak jelas. Ichigo beringsut duduk disamping Rukia. Matanya hanya awas melihat bibir dari gadis violetnya. Nafasnya sudah kembali normal. Ia duduk tepat di samping kiri tempat duduk Rukia.
" Tolong geser ke sana sedikit. Aku perlu tempat untuk meletakkan kotak bekal ini."
Ujar Rukia sambil mengangkat kotak bekal makannya dengan tangan kiri.
" Kau sudah makan?" Tanya Rukia yang sedikit gemas karena pria orange ini hanya diam dari tadi. Rukia mulai membuka kotak bekalnya. Tubuhnya ia gerakkan ke kiri dan berhadapan dengan tubuh jangkung milik Ichigo.
" Belum." Jawaban singkat karena Ichigo masih penasaran dengan luka yang ia buat ke Rukia.
" Kau mau menyuapiku?" Tanya Rukia lagi.
" Boleh aku melihat luka ditanganmu?" Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan. Ichigo seharusnya kau bisa menjawab pertanyaan dari Rukia tadi.
" Suapi aku dulu. Aku lapar. Dan selama makan jangan bahas luka di tangan kananku." Ucap Rukia ketus. Perutnya sudah keroncongan dari tadi dan pria yang dimintai untuk meyuapi hanya diam dan matanya menatap tajam pada dirinya.
" Aku baik-baik saja. Suapi aku. Aku benar-benar lapar." Bujuk Rukia lirih.
Inilah keputusan yang diambil oleh Rukia. Mencoba untuk mengenal Ichigo dan menerimanya. Grimm tidak menceritakan lebih lanjut tentang penyebab luka yang selama ini Ichigo terima. Lagipula Rukia ingin mengetahui sendiri dari Ichigo.
Acara makan siang itu hanya berlangsung dengan bisunya mulut sang pewaris tunggal klan Shiba. Ichigo hanya memandang dan mendengarkan semua ocehan yang terlontar dari mulut sang gadis violet, entah apa yang gadis itu ceritakan. Sekali-kali ia tersenyum lebar lalu bibirnya mengerucut ke depan dan terlihat manis. Terkadang matanya memandang ke arah Ichigo yang sedang sibuk menatap dirinya.
Sungguh ini adalah momen yang seharusnya ia ambil dari dulu. Tidak harus mengalami kejadian berdarah ini hanya agar dirinya bisa mengenal Ichigo.
Ichigo pun sama. Seberapa besar usaha dia untuk jauh dari Rukia hanya berujung dengan menyakiti diri sendiri. Ia ingin memandang Rukia setiap hari. Memeluknya erat ketika sakit itu menyerangnya. Menceritakan semua hal yang ia rasakan dan berbagi semua momen yang terjadi dalam hidupnya.
Perasaan ini dulu tidak pernah muncul. Perasaan ingin memiliki seseorang yang sangat berharga di dalam hidupmu.
" A … Ichigo … a …."
Bibir Rukia membuka. Meminta suapan nasi lebih kepada seseorang yang menyuapinya.
" Maaf .. " Ucap Ichigo lirih dan menggerakkan tangan kanannya yang memegang sumpit untuk mengambil nasi dan mengarahkannya ke mulut sang Gadis.
" Kau juga belum makan kan?" Tanya Rukia lagi sambil mengunyah dan hanya mendapat jawaban dengan gelengan kepala dari seseorang yang berada dihadapannya.
" Apa Grimm memintamu untuk menerimaku?" Tanya Ichigo lekas karena dia agak merasa sulit menerima perlakuan terbuka dari Rukia.
" Kau masih menganggapku seorang pelacur?" Kenapa dari tadi pertanyaan selalu dibalas dengan pertanyaan. Rukia mencoba untuk ke inti permasalahan.
Pria yang dihadapannya hanya terdiam dan wajahnya tertunduk.
" Aku bingung dan aku …"
" Aku bukan pelacur. Entah kau percaya atau tidak. Aku hanya ingin menjelaskan situasi yang selama ini terjadi karena salah paham."
Kalimat Ichigo terhenti dengan penjelasan jawaban dari Rukia. Wajah Ichigo tajam memandang lurus ke arah wajah Rukia. Ya, tidak ada kebohongan di wajah itu. Bukankah selama ini kedua sahabat Ichigo juga sudah memberitahu hal ini kepada Ichigo.
Bahwa gadis yang ada dihadapan Ichigo sekarang adalah dunianya. Gadis yang selalu dia sebut namanya dalam dunia dunia yang dia ciptakan. Gadis yang selalu bisa menggetarkan sudut hatinya yang kosong selama ini. Gadis yang selalu terekam wajahnya di kedua kelopak mata Ichigo. Gadis yang selalu tersenyum saat Ichigo melihat sosoknya di dunianya.
Ichigo menggeleng pelan. Kenangan itu muncul perlahan. Ayahnya dan wanita pelacur itu. Tangisan ibunya. Teriakan Karin dan rintihan Yuzu menahan sakit di perutnya. Semua kenangan itu terputar jelas di kepalanya dan membawa rasa sakit itu kembali muncul di dadanya.
Ia terus menggeleng dan mencengkeram erat dada sebelah kiri untuk menahan rasa sakit itu. Rukia melihat Ichigo dengan cemas. Tangan kirinya terulur untuk menghentikan wajah Ichigo agar berhenti dari dunia yang ia alami.
" Lihat aku, Ichigo." Pinta Rukia
Gelengan itu terhenti sesaat setelah Ichigo merasakan sentuhan lembut di pipi sebelah kanannya. Jari-jari kecil itu menelungkup lembut dan cemas pipi Ichigo sebelah kanan. Raut wajah dari sang gadis terlihat cemas melihat mata Ichigo yang sedang gelisah dengan mulut yang gemetar menahan sakit.
Ichigo belum bisa kembali dari dunianya. Matanya masih melihat semua kepingan-kepingan luka itu. Sentuhan lembut di wajahnya perlahan memburamkan semua bayangan itu. Kini matanya erat memandang lekat sosok wajah dihadapannya. Wajah sang gadis yang cemas.
Kesepuluh jari Ichigo yang terkulai di bangku taman kembali tercengkeram erat. Ia membenci rasa sakit ini muncul kembali.
" Rukia .. a … aku."
Ichigo menggeleng pelan lagi. Tergagap, eratan di wajahnya semakin kuat. Selama ini Ichigo menghilangkan semua rasa sakit itu dengan obat terlarang itu. Semua memang hilang saat ia menggunakannya dan setelah itu dia akan menjadi seseorang dengan dunia hampanya.
" Kau bisa melihatku?" Tanya Rukia sekali lagi.
Ichigo mengangguk pelan. Memang kini dia sudah mulai bisa mengatur detak jantungnya yang tadi berdetak cepat.
Perlahan, Rukia membawa tangan kanan besar Ichigo untuk menyentuh pipi sebelah kirinya. Ia ingin menyakinkan Ichigo bahwa sekarang dirinya berjalan bersama dengannya. Rukia ingin agar Ichigo yakin bahwa Rukia sudah menerima sosok Ichigo untuk hadir menemani setiap langkah di kehidupannya.
" Aku disini untuk dirimu. Aku akan selalu berada di sisimu saat kau membutuhkanku. Kau bisa memelukku disaat rasa sakit itu datang. Kau bisa pelan-pelan membuang semua kenangan itu dengan berbagi denganku. Maaf, jika selama ini aku menolakmu."
Dengan cepat, tubuh mungil itu tergeser ke depan. Tangan kanan milik sang pria orange memegang erat pinggang kiri Rukia agar mendekat padanya. Bunyi kotak bekal jatuh dan berseraknya nasi serta lauk pauk tak dihiraukannya. Ichigo ingin menbawa gadis itu dalam pelukannya. Mendekap erat dan bisa merasakan bunyi jantungnya yang menenangkan.
" Jangan pernah tinggalkan aku …. "
Lirih ucap Ichigo yang sekarang merengkuh erat tubuh sang gadis dalam dekapannya. Ia membenamkan seluruh wajahnya di bahu sang kekasih yang siap menerimanya.
" Ichi … "
Ichigo tidak memperdulikan lagi bagaimana Grimmjov bisa meminta Rukia untuk menerimanya. Ia tidak peduli siapa Rukia sekarang. Ia hanya ingin gadis ini berada dalam dekapannya. Memeluknya erat dan berbagi kebersamaan.
" Se … sak Ichigo." Ucap Rukia terputus-putus karena dekapannya memang sangat erat.
Pelukan itu terlepas pelan. Mata coklat sang pria orange itu terlihat tenang sekarang. Tangan kanannya ia bawa untuk mengelus pelan pipi sang gadis yang bersemu merah karena menahan nafas sesak.
" Maaf … "
Ichigo menutup mata. Mendekatkan wajahnya untuk mengecup lembut bibir yang masih terbuka karena terengah itu untuk tertutup dengan bibirnya. Sapuan kali ini bukan untuk mendapatkan jawaban. Tapi keyakinan bahwa perasaan ini memang terbalaskan sekarang.
Ichigo semakin mengeratkan tubuh sang gadis agar tetap di dekatnya dengan tangan kanannya. Jemari tangan kirinya ia dekatkan perlahan ke jemari tangan kanan sang gadis dan menggenggamnya lembut. Bibir Rukia meringis dalam ciuman itu karena genggaman tangan Ichigo di jemarinya yang terluka.
Ichigo masih menyesap lembut seluruh kehangatan ini. Ia ingin tetap terus memilikinya dan tidak akan pernah melepaskannya.
Tangan kiri Rukia merangkak menyentuh dada Ichigo. Ia bisa merasakan ritme jantung yang sedang berpacu didadanya. Yang sama dengan yang dia alami sekarang. Ia mencengkeram erat baju atasan piyama rumah sakit yang Ichigo kenakan. Sapuan dibibirnya semakin dalam. Membuat diri Rukia harus menahan nafas yang sudah terlalu lama.
Bibir Ichigo menjauh. Melihat wajah sang gadis yang terengah lagi karena perbuatannya. Ia mengecup kening wajah Rukia lama. Berharap bahwa sampai hayat ia akan terus memiliki gadis ini.
.
.
.
Di lorong itu. Grimmjov dan Ishida tersenyum lirih. Grimm merasa bahagia sekarang. Ia berhasil membuat Ichigo hidup kembali.
" Kau tahu Grimm, jika kambing tua itu tahu. Mereka berdua akan terluka." Ucap Ishida yang tanpa sengaja mengingatkan kembali Grimmjov untuk berhati-hati
" Aku tahu. Dan sebaiknya aku bersiap dari sekarang." Jawab Grimm lirih sambil tetap memandang kebahagiaan adik tercintanya
" Setidaknya sekarang ada orang yang menjaganya selain kita. Aku bahkan lupa bagaimana rupa dia tersenyum." Grimm mengarahkan sudut dagunya ke Ichigo. Matanya memandang Ishida dan seakan-akan menyakinkan Ishida untuk tidak takut.
" Jangan terlalu berani. Kita tahu siapa itu Isshin." Ucap Ishida mengingatkan.
" Bagaimana kalau kita minta si jeruk itu untuk membuat pesta kecil-kecilan di apartemennya. Lumayan buat menyambut status dia yang baru." Ujar Grimm tersenyum kecil.
" Lagi-lagi mengalihkan pembicaraan. Baiklah … nanti akan aku lakukan." Jawab Ishida pasrah.
.
.
.
.
.
.
N/A
Maaf untuk wrong typo, OOC dan penggambaran yang kurang pas.
Saya harus melihat lagi Bleach Movie 3 Fade To Black dan beberapa scene ichiruki di animenya untuk memunculkan feeling writing. Sungguh sulit dan butuh mood yang bagus untuk menuliskan adegan demi adegan. Butuh banyak ilmu lebih dari Author-san di sini. Thanks sudah mampir dan membaca FF abal-abal ini.
Saran dan kritik sangat membantu minna-san ...
